Arsip

Posts Tagged ‘Song Kang-ho’

The Age of Shadows

Berlatar tahun 20an, ketika Korea masih di bawah penjajahan Jepang. Lee Jung-Chool () adalah mantan pejuang kemerdekaan, tapi sekarang justru bekerja sebagai polisi Jepang. Ia ditugaskan untuk menggagalkan aksi sebuah kelompok pejuang kemerdekaan di bawah pimpinan Kim Woo-jin ().
The Age of Shadows_1

The Age of Shadows_5
Dengan menyembunyikan identitas masing-masing, tapi sebenarnya juga mengetahui identitas masing-masing, Jung-chool dan Woo-jin kemudian menjalin ‘persahabatan.’ Jung-chool yang secara nurani masih bersimpati pada perjuangan, kemudian membantu Woo-jin dan kelompoknya. Namun ada rekannya, Hashimoto, yang menaruh curiga dan terobsesi untuk menangkap Kim Woo-jin.
The Age of Shadows_2

The Age of Shadows_4
Setelah era gangster dan crime, agaknya film bertema kolonialisme Jepang sedang menjadi tren perfilman Korea. Mungkin ini  menyusul film bertema serupa yang sangat sukses sebelumnya, . Dan sekilas, memang napas film ini sedikit mirip dengan . Demikian juga dengan sinematografinya. Jujur sih, mungkin karena saya bukan orang Korea, dan film ini agak berbau nasionalisme, sehingga rasanya tidak punya keterikatan khusus pada ceritanya. Saya menonton film ini lebih karena jajaran cast-nya, terutama yang seolah selalu menjadi jaminan film bagus. Apalagi kemudian untuk film ini, dia diganjar sebagai aktor terbaik (haha, aneh rasanya karena sepertinya setiap tahun dia mendapat penghargaan serupa).

Selain itu, juga ada nama-nama yang cukup familiar seperti , , dan . Dan memang harus diakui sih, Song memang bermain bagus (selalu sih) di sini. Ia mampu menampilkan sosok Lee Jung-chool yang terkesan pengecut tapi juga penuh dilema. Sementara untuk , bermain bagus juga, hanya saja, entah kenapa, kurang karismatis. Bahkan rasanya jauh lebih karismatis dengan sosok yang diperankan dan yang secara peran di sini, sebenarnya mendapat porsi lebih kecil. Saya nggak tahu, tapi sepertinya karakter-karakter serius tidak terlalu membuat akting bersinar (saya sudah melihat akting yang sama di film-filmnya yang lain). Berbeda ketika dia berperan dalam film atau drama romantis. Sementara , biasa saja seperti biasa, he. Akting lainnya yang cukup mencuri scene adalah Um Tae-goo, sebagai Hashimoto yang ambisius.

Cast:
– Lee Jung-Chool
– Kim Woo-Jin
– Yun Gye-Soon
Um Tae-Goo –  Hashimoto
Shingo Tsurumi – Higashi
– Jung Chae-san
– Jo Hwe-ryung
Heo Sung-Tae – Ha Il-soo
Kim Dong-Young – Heo Chul-joo
– Joo Dong-sung
– Kim Ja-ok
Go Joon – Shim Sang-do
Kwon Soo-Hyun – Sun-gil
Choi Yu-Hwa – Kim Sa-hee
Foster Burden – Ludvik

Judul:The Age of Shadows / Secret Agent / Miljung (밀정)
Sutradara: Kim Jee-Woon
Penulis: Lee Ji-Min, Park Jong-Dae, Kim Jee-Woon
Produser: Kim Jee-Woon, Choi Jae-Won, Choi Jung-Hwa
Sinematografi: Kim Ji-Yong, Kim Jae-Hong
Rilis: 7 September  2016
Durasi: 140 menit
Distributor: Warner Bros.
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 Awards
– Daejong Film Awards 2016: Best Supporting Actor (Um Tae-Goo), Best Art Design (Jo Hwa-Sung)
– BaekSang Arts Awards  2017: – Best Director (Kim Jee-Woon), Best Actor ()

Iklan

The Throne

April 4, 2016 Tinggalkan komentar

Kisah tragis Putra Mahkota Sado yang mati di tangan ayahnya sendiri, Raja Yeongjo, sudah sering sekali diadaptasi oleh para sineas Korea ke dalam tontonan visual, baik itu dalam bentuk drama TV maupun film layar lebar. Dan di sinilah, kemampuan membangun plot atau alur cerita, yang menjadi pembeda. Kali ini, salah satu sutradara Korea, Lee Jon-ik yang terkenal menelurkan film-film berkualitas, menuangkan cerita ini dalam film yang berjudul, The Throne/Sado. Meski ceritanya sudah ketebak, tapi hal yang membuat saya cukup mengantisipasi film ini adalah karena pemain utamanya , yang agakya layak disebut sebagai salah satu aktor terbaik Korea saat ini, dan juga aktor muda yang cukup saya favoritin, dan .

tth

Song Kang-ho, yang selalu the best

Salah satu yang unik dalam film ini adalah penceritaannya yang mengambil jangka waktu 7 hari, dari awal penyiksaan Sado hingga hari kematiannya. Di masa-masa ini, cerita flashback diputar, mengisahkan bagaimana hubungan Sado dan ayahnya sejak kecil.

tth32

Hubungan ayah-anak yang emosional dan rumit

Raja Yeongjo (), lahir dari selir kasta rendah dan naik tahta untuk menggantikan kakaknya, Putra Mahkota, yang mati terbunuh dan ditengah desas-desus bahwa dialah yang membunuhnya. Ia merasa tak cukup mampu jadi raja, tapi harus menjadi raja. Dan ia pun harus mempertahankan posisinya yang rentan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

tth4

Yoo Ah-in yang main bagus jadi Sado

Sado (), sang putra mahkota lahir ketika Yeongjo sudah cukup tua dan menjadi penerus tahta satu-satunya yang lahir dari seorang selir. Sado kecil adalah anak yang cerdas, namun memiliki kecenderungan lebih senang bermain-main daripada belajar. Ia lebih suka melukis dan bersenang-senang daripada menghafalkan buku-buku. Ia lebih mendambakan Yeongjo sebagai ayah daripada seorang raja. Raja yang menggadang Sado sebagai penerus tahta pun dilanda perasaan tidak puas dengan sikap Sado yang cenderung semaunya sendiri. Perasaan tidak puas ini semakin kuat semakin Sado dewasa. Sado yang kemudian merasa tertekan dengan sikap ayahnya, frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk membangkang. Puncaknya adalah kematian sang nenek, yang jatuh sakit melihat pertengkaran ayah dan anak. Sado merasa terpukul dan mengalami gangguan mental. Perseteruan ayah anak ini pun semakin meruncing ketika Sado tanpa sengaja membunuh seorang pengawal dan bahkan inign membunuh ayahnya. Sang Ayah yang merasa malu dan kecewa, akhirnya menghukum Sado dengan mengurungnya hingga tewas.

tth65

Akting apik dari pemain senior, Kim Hae-sook

Tragis dan miris? Yah, begitulah. Dan menjadi semakin miris karena ini adalah sebuah cerita sejarah yang memang berdasarkan kisah nyata. Tapi ya bisa dipahami bagaimana kehidupan politik di masa lalu yang memang keras dan cenderung feodal. Film ini, sepertinya dimaksudkan untuk memperlihatkan sisi dimensional dari peristiwa tragis ini dengan memperlihatkan konflik-konflik psikologis tokoh utamanya. Dan saya pikir, tersampaikan dengan cukup baik.

tth0

Akting yang lumayan dari Moon Geun-young

Sudah beberapa kali saya menonton film atau drama Korea tentang konflik-konflik kerajaan dan seringkali saya agak kesulitan mengikutinya karena tidak terlalu memahami sejarah Korea, tapi di film ini cukup mudah saya ikuti karena ceritanya terasa gamblang dan runut.

tth56

Ada So Ji-sub juga lho 😛

Meski tetap saja terasa kejam, tapi dengan melihat latar belakang psikologis masing-masing karakter utamanya (Yeongjo dan Sado), kejadian tragis itu rasanya cukup bisa dipahami. Yeongjo dengan konflik psikologisnya seabgai seorang raja yang merasa tidak aman dengan posisinya dan dihinggapi semacam power syndrome yang wajar dimiliki seorang raja di masalalu, dan juga seorang ayah yang menyimpan banyak harapan untuk anaknya yang ternyata tak seperti yang diharapkan. Di sisi lain, Sado, sang anak, adalah Putra Mahkota yang dituntut terlalu banyak dan tak diijinkan memiliki pilihan sendiri… Seorang anak yang frutrasi karena mendambakan kelembutan dan pengakuan dari seorang ayah.

tth5

Dan semua itu diperankan dengan sangat baik oleh kedua aktor utamanya, dan . Untuk ke sekian kalinya, saya harus mengatakan ‘wow’ untuk akting yang seperti selalu effortless memerankan karakter apapun. Mau karakter serius atau komedik, om-om satu ini selalu berakting prima. Sementara ? Sejak menontonnya pertama kali di Sungkyuwan Scandal, saya jatuh cinta dengan aktingnya, tapi selama seberapa waktu saya sedikit bosan dengan pilihan proyeknya setelah Punch. Untunglah, kali ini, agaknya ia kembali berhasil memilih film yang berkualitas dan menunjukkan kemampuan aktingnya sebagai sosok Sado yang frustratif. Ohya, selain itu, juga ada nama , yang memerankan istri Sado yang tidak bisa berbuat banyak, karena memang begitulah mungkin posisi perempuan pada masa itu. Saya pikir, di sini dia juga bermain bagus meski karakternya tidak menjadi fokus di sini. Aktor pendukung lain yang juga bermain bagus adalah aktris veteran yang menjadi ibu suri dan dua aktris pendatang baru, Seo Yo-ji dan Park So-dam. Akting keudanya cukup mencuri scene meski sepertinya memang tak ada tempat untuk eksplorasi karakter mereka. Eh, juga ada ding, meski karakternya menurut saya tidak terlalu penting untuk aktor sekelas dia, tapi juga bermain dengan baik. Sedikit mengusik ‘kesempurnaan’ film, menurut saya justru bagian akhirnya yang agak terkesan berlama-lama. Meski begitu, adalah hal yang bisa dimaafkan dan di atas semua itu, it’s good movie. Recommended.
Cast:
– Raja Yeongjo
– Sado
 –  Hyegyeong Hong
Jeon Hye-Jin – Youngbin Lee (ibunya Sado)
– Ratu Inwon
Park Won-sang – Hong Bong-han
– Putri Hwawan
Seo Ye-ji – Permaisuri Jungsoon
– Moon So-won (selir)
Uhm Ji-sung – Sado kecil
Lee Hyo-je – Raja Jeongjo kecil
– Raja Jeongjo

Judul: The Throne/ Sado (사도)
Sutradara:
Penulis: Jo Chul-Hyun, Oh Seung-Hyun, Lee Song-Won
Produser: Oh Seung-Hyun, Sung Chang-Yun
Sinematografi: Kim Tae-Kyoung
Rilis: 16 September 2015
Durasi: 125 menit
Distributor: Showbox/Mediaplex
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Korean Association of Film Critics Awards 2015:
– Best Film, Best Screenplay, Best Music

Daejong Film Awards 2015:
– Best Supporting Actress ()
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Actor,

Blue Dragon Film Awards – 2015:
– Best Actor (), Best Supporting Actress (Jeon Hye-Jin), Best Cinematography & Lighting, Best Music, Best Technical Award
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Screenplay, Best Art Design, Best Film Editing,

Hindsight

Doo-hun () adalah bos mafia yang memutuskan untuk berhenti. Impiannya ingin membuka restoran dan ia pun mulai dengan belajar di kelas memasak. Di tempat ini, ia bertemu Se-bin (), seorang gadis muda yang kemudian menjalin persahabatan.
hs3
Se-bin adalah mantan atlit tembak dan sebenarnya adalah mata-mata dari geng mafia pimpinan Madame Kang dan ditugaskan untuk membunuh Doo-hun. Namun, semakin Se-bin mengenal Doo-hun, semakin ia sadar bahwa Doo-hun adalah lelaki yang baik dan bahkan tulus terhadapnya. Di sisi lain, hidupnya terancam jika ia tak segera menghabisi Doo-hun.

Sin Se-kyung yang jadi mata-mata. Belum ada perkembangan akting yang berarti :(

Sin Se-kyung yang jadi mata-mata. Belum ada perkembangan akting yang berarti 😦

Ketika membaca cast utamanya adalah dan  saya langsung merasa penasaran dengan film ini. Pertama, nama  adalah semacam jaminan kualitas film Korea. Saya pikir, dia adalah semacam godfather-nya aktor film Korea saat ini. Tapi Shin ? Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya di film/drama yang ia bintangi, meski entah bagaimana seolah beruntung mendapatkan peran utama, tapi kualitas aktingnya jauh dari memuaskan.

Karenanya, kenyataan bahwa dia dipasangkan dengan aktor sekelas  benar-benar membuat saya penasaran. Berusaha menyingkirkan ke-underestimate-an saya selama ini, saya mencoba untuk positive thinking, bahwa mungkin dia akan mampu menunjukkan kualitas aktingnya di sini.
hs22
Dan yah… pada akhirnya saya  harus mencabut harapan saya itu. Sebenarnya pada beberapa bagian, dia terlihat cukup berhasil (saya pikir hal ini juga karena didukung dengan make-up nya yang membuatnya terlihat agak berbeda), tapi pada bagian-bagian yang membutuhkan eksplorasi emosi, dia benar-benar terlihat kesulitan. Ekspresinya terasa permukaan dan kurang meyakinkan.

Casting para senior yang terasa mubazir :(

Casting para senior yang terasa mubazir 😦

Sementara ? Saya pikir, dia satu-satunya hal yang worthed dari film ini (juga gambarnya yang jernih), karena aktingnya yang memang selalu maksimal. Sementara karakter-karakter lain, meski melibatkan nama-nama besar (, , ), tapi terasa tak penting. Bukan karena akting mereka, tapi lebih pada porsi cerita untuk mereka. Dan dari segi cerita sendiri, juga terasa mengecewakan karena pada akhirnya jadi terasa terlalu cheesy. Hal yang lagi-lagi membuat saya cukup heran: kenapa para aktor papan atas mau bermain di film semacam ini? Saya nggak tahu, tapi dugaan saya, mungkin ada semacam pertemanan di balik layar. Hihi, siapa tahu.

Kind of cheesy scene :(

Kind of cheesy scene 😦

Note:
Sang sutradara, adalah sutradara film yang sebenarnya cukup notable, ..Tapi mungkin karena ia biasa menyutradarai film bergenre drama romantis, sehingga mungkin kurang bisa memberi ramuan yang pas ketika hendak mencampurkan action dan romance.

Cast:
 – Doo-hun
 – Se-bin
 – Ae–gu
Lee Jong-Hyuk – Kyung-min
Kim Min-jun – K
 – Madame Kang
Kim Roe-ha – Ki-chul
– Guru Yook
Esom – Eun-jung
 – Bos Baek
 – Instruktur Masak

Judul: Hindsight  / Blue Salt/ Pureun Sogeum (푸른소금 / 푸른 소금)
Sutradara/ Penulis:
Produser: , Ahn Soo-Hyun, Kim Sung-Min
Sinematografi: Kim Byeong-Seo
Rilis: 31 Agustus 2011
Durasi: 125 menit
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

Film Festivals:
– Busan International Film Festival 2011 – Korean Cinema Today: Panorama
– Berlin International Film Festival 2012 – Culinary Cinema *European Premiere
– New York Korean Film Festival  2012
– Osaka Asian Film Festival 2012 – Special Screenings
– Brussels International Fantastic Film Festival  2012 – Thriller Competition

Memories of Murder

Desember 6, 2014 Tinggalkan komentar

Sudah lama pengin nonton film ini karena namanya sering muncul di ulasan-ulasan film Korea.
mmrs
Yups, seperti judulnya yang melibatkan kata “Murder”, ini memanglah film tentang pembunuhan. Berlatar sebuah daerah pinggiran di Korea pada tahun ’86. Sebuah kasus pembunuhan sekaligus perkosaan membuat resah. Detektif Park (), seorang detektif yang sering gegabah dalam membuat kesimpulan, yang bertugas menangani masalah ini pun dibuat pusing kesulitan mencari siapa sebenarnya si pelaku karena tidak ada jejak yang jelas. Satu per satu tersangka diinterogasi, tapi tak ada yang cukup punya bukti.
mmnn
Untuk tambahan tim, didatangkan Detektif Seo (), detektif muda dari Seoul yang terlihat cukup pintar. Tapi itu tak juga mampu membuahkan hasil. Korban-korban terus berjatuhan.Titik terang muncul ketika sosok pelaku mulai bisa diidentifikasi berdasarkan keterangan beberapa saksi. Terduga adalah Park Hyeon-gyu () seorang pegawai pabrik yang tampak “biasa saja.” Namun, tentu saja diperlukan bukti-bukti yang lebih kuat untuk membuktikan kalau memang dialah pelakunya.

Detektif Seo yang didatangkan dari Seoul

Detektif Seo yang didatangkan dari Seoul

Yeah, salah satu jenis film yang sangat Korea. Dan bagaimanapun seringnya Korea mengangat cerita film jenis ini, masih saja selalu menarik. Apalagi film ini disutradarai salah satu sineas papan atas Korea Selatan,   dan dibintangi aktor papan atas pula: , , dan memainkan karkater antiheronya dengan baik seperti biasa,  sebagai detektif pintar yang cool dan , meski hanya mengambil beberapa scene tapi mampu meninggalkan kesan mendalam dengan wajah dan tatapannya yang bisa dibilang, mewakili tema besar film ini.

Park Hae-il yang jadi misterious man

Park Hae-il yang jadi misterious man

Dengan cerita yang terasa solid dan gambar-gambar tidak membosankan dan tentu saja, meninggalkan perenungan mendalam setelah menontonnya. Atau bisa juga sebentuk rasa frustrasi atas sebuah ketidakpastian. Apalagi film ini konon didasarkan pada sebuah kisah nyata. Yup, ketidakpastian. Itulah tema besar film ini. Frustratif bukan? Hihi…

Cast;
 – Detektif Park Doo-man
 – Detektif Seo Tae-yoon
 – Park Hyeon-gyu
Kim Roi-ha – Detektif  Cho Yong-koo
Song Jae-ho – Sersan Shin Dong-chul
Byun Hee-bong – Sersan Koo Hee-bong
Go Seo-hee – Kwon Kwi-ok
Park No-shik – Baek Kwang-ho
 – Kwok Seol-yung (istri Park)

Judul: Memories of Murder/ Sarinui Chueok
Sutradara: 
Produser: Cha Seung-jae
Penulis: , Shim Sung-bo (berdasar “Memories of Murder” nya Kim Kwang-rim)
Musik: Taro Iwashiro
Sinematografi: Kim Hyung-ku
Produksi: CJ Entertainment, Sidus Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Rilis: 2 Mei 2003
Durasi : 127 menit
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:

Chunsa Film Art Awards 2003:
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Supporting Actor – Park No-shik
– Best Screenplay –  Shim Sung-bo
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku
– Best Editing – Kim Sun-min

Pusan Film Critics Awards:
– Best Director –  
– Best Screenplay –  

Grand Bell Awards 2003
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –

Tokyo International Film Festival 2003
– Best Asian Film

Blue Dragon Film Awards 2003:
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku

Korean Film Awards 2003:
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Screenplay –  Shim Sung-bo
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku
– Best Editing – Kim Sun-min

Director’s Cut Awards 2003:
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Producer – Cha Seung-jae

sumber; wikipedia.org

The Secret Reunion

November 16, 2014 Tinggalkan komentar

Han-kyu (), seorang lelaki yang bekerja di badan intelejen Korsel. Ji-won () adalah mata-mata Korut. Suatu hari, ketika Ji-won bersama bosnya sedang melakukan operasi, Han-kyu dan timnya datang. Ji-won berhasil kabur dan kemudian menjadi pelarian. Han-kyu pun kehilangan pekerjaannya sebagai agen.
secret reunion3
Enam tahun kemudian, Han-kyu bekerja sebagai pencari keluarga para imigran yang bermasalah. Ji-won dalam pelariannya, bekerja sebagai buruh bangunan. Ketika sedang mencari kliennya, Han-kyu bertemu Ji-won. Ia masih bisa mengingat wajah Ji-won dan berpikir bahwa Ji-won masihlah mata-mata. Pura-pura tak mengenal Ji-won, Han-kyu mengajak Ji-won bekerja di tempatnya dengan harapan bisa menyerahkan Ji-won dan mendapatkan posisinya lagi.
secret reunion4
Di sisi lain, Ji-won juga pura-pura tak tahu masalalu Han-kyu. Dua orang yang saling pura-pura ini pun kemudian menjadi tim. Dan perlahan, saling memahami satu sama lain dan menyadari bahwa prasangka-prasangka mereka sebelumnya salah. Han-kyu jatuh iba pada Ji-won yang ternyata berhati lembut dan sudah ‘dicampakkan’. Ji-won mendapati bahwa Han-kyu tak lebih dari seorang pria kesepian yang hidup sendiri karena ditinggal anak istrinya.
secret reunion5
Namun, ketika dua orang ini sudah membangun ikatan ‘persaudaraan’,muncul pihak ketiga yang siap menghancurkannya karena mereka berasal dari dua negara yang berbeda dan notabene sedang berseteru, tentu saja.

Film yang bagus. Lagi-lagi tema Korsel-Korut. Bersatunya dua Korea ini mungkin meamng jadi impian banyak orang disana. Ironis memang bahwa sebuah bangsa pada akhirnya pecah karena sebuah ideologi politik dan bahkan kemudian jadi musuh bebuyutan. Hmm, politik memang kadang mengerikan ya?

Cast;
 – Lee Han-kyu
 – Song Ji-won
Jeon Kuk-Hwan – Shadow
Park Hyeok-kwon – Ko Kyeong-nam
Yoon Hee-seok – Son Tae-soon
Ko Chang-seok – Bos Vietnam

Judul: The Secret Reunion/ Uihyeongjae (의형제)
Sutradara:
Assisten: Park Hong-Soo
Penulis: Jang Min-Suk
Produser: Kim Joo-Ho, , Choi Kwan-Young
Sinematografi: Lee Mo-Gae
Rilis: 4 Februari 2010
Durasi: 116 menit
Distributor: Showbox/Mediaplex
Bahasa/Negara:Korea/ Korea Selatan

 Film Festivals
– Udine Far East Film 2010 *International Festival Premiere
– New York Asian Film Festival 2010
– Fantasia Film Festival 2010 *Canadian Premiere
– Pusan International Film Festival 2010- Korean Cinema Today: Panorama
– Hong Kong Asian Film Festival 2010 – Cineaste Delights
– The London Korean Film Festival 2010
– Korean Film Festival in Australia  2011
– Singapore International Film Festival 2011 – Wham! Bam! Pow!

Awards
– Critics Choice Awards 2010 :  Best Director, Best Actor ()
– Blue Dragon Film Awards 2010: Best Director , Best Cinematography
– PaekSang Arts Awards 2010:  Best Director

Secret Sunshine

November 14, 2014 Tinggalkan komentar

Setelah kematian suaminya, Shin-ae () bersama putranya yang masih kecil, Jun, memutuskan untuk pindah ke Miryang, kampung halaman almarhum suaminya. Miryang artinya adalah “Secret Sunshine” tempat ia akan memulai hidupnya yang baru. Meski terlihat tabah, tapi Shin-ae tak bisa menyembunyikan kesedihannya, apalagi ternyata suaminya meninggal setelah berselingkuh.

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Di Miryang, ia membuka tempat les piano dan berkenalan dengan para tetangga. Ada Jong-chan (), lelaki pemilik sebuah bengkel kecil yang masih melajang di usianya yang 39 tahun dan dianggap looser oleh ibunya. Ada Kim, sopir sekolah Jun, lelaki dengan seorang putri remaja. Ada perempuan pemilik toko pakaian, suami istri pemilik apotik yang rajin ke gereja… Kenyataan bahwa Shin-ae seorang janda mengundang simpati sekaligus gosip di belakang punggungnya. Shin-ae yang tak ingin terlihat menyedihkan, mengatakan bahwa ia akan membeli lahan di Miryang dan berinvestasi.

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan :)

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan 🙂

Omongan yang kemudian justru mengundang malapetaka. Dikira kaya raya, anaknya diculik untuk memerasnya. Penculikan yang berujung pada…kematian anaknya. Ufth! Sampai pada titik ini saya menarik napas. Apakah ini film tragedi dengan tokoh utama yang mengalami penderitaan bertubi-tubi yang menguras air mata ala sinetron? Well, untunglah, sejak awal saya tahu bahwa ini adalah sebuah film garapan sineas besar Korea, dan bahkan sudah mendapatkan pengharggan di salah satu ajang film paling bergengsi di dunia: Cannes Film Festival. Dan karenanya, saya yakin tidak akan jatuh jadi sebuah film yang hanya mengumbar kecengengan.

Benar, ini adalah  film tentang tragedi. Tapi ceritanya tidak akan menceritakan hal-hal yang “dramatis.” Tragedi hanyalah sebagai titik mula. Karena cerita kemudian akan lebih fokus pada reaksi terhadap tragedi. Yah, bisa dibilang ini adalah film psikologis.  Film kemudian akan coba mengeksplore, bagaimana seorang manusia berusaha bersikap ketika berhadapan dengan hal paling menyakitkan dalam hidupnya.
ssn3
Melalui sosok Shin-ae yang ditimpa tragedi bertubi-tubi, diperlihatkan bagaimana seorang manusia berusaha mencari jawab dari rasa sakit dan juga berusaha membebaskan diri dari rasa sakit itu. Hal yang selalu diharapkan adalah “keadilan” dan “keadilan” seringkali dimaknai sebagai “balas dendam” atau harapan agar orang yang membuat sakit merasakan sakit yang sama atau mendapat balasan yang setimpal. Karena batasan kemampuan manusia untuk melakukan pembalasan yang setimpal itu, pelarian yang paling memungkinkan adalah pada “Ia Yang Berkuasa.” Dalam hal ini, ketuhanan. Shin-ae yang semula tak percaya pada Tuhan, kemudian memutuskan untuk lari pada “Tuhan” demi berharap bahwa Tuhan memberi keadilan.

Tapi “keadilan” Tuhan mungkin memang tak selalu bisa dipahami manusia. Shin-ae pada akhirnya merasa kecewa ketika Tuhan ternyata juga milik si pendosa, yang merasa “Tuhan telah mengampuninya.” Shin-ae pun kemudian sampai pada titik rasa sakit yang tak tertahankan, rasa sakit yang paling absurd dan membuatnya ‘melewati batas’, hal yang justru akan semakin menghancurkannya.
ssnj
Tapi tenanglah, film ini tak hendak bermain-main dengan nihilisme. Pada akhirnya, hanya manusia sendirilah yang bisa membebaskan dirinya dari rasa sakit. Bukan dengan berharap adanya sebuah “pembalasan yang adil” pada orang yang menyebabkan rasa sakit tersebut, tapi lebih pada “menerima” dan “merelakan” . Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi dan yang kita, manusia, bisa lakukan hanyalah melanjutkan hidup. Kita punya pilihan, membiarkan diri terperangkap dalam rasa sakit demi berharap adanya “pembalasan yang setimpal” atau terus bergerak ke depan, meninggalkan semua kepahitan menyongsong masa depan dengan segala kemungkinan.

Well, sebuah film yang terasa sangat “berat.” Tapi juga terasa sangat solid. Dan meskipun menyesakkan,  tapi tidak jatuh menjadi sesuatu yang depresif. Alih-alih, film ini merupakan perenungan yang mendalam dengan ending yang terasa optimis.
ssnm
Soal akting?  mampu masuk ke dalam karakter Shin-ae yang “penuh luka” dengan sangat baik, dan sepertinya memang layak membuatnya diganjar sebagai aktris terbaik di Cannes. Lalu sosok Jong-chan yang dimainkan  dengan peran “badut”nya, saya pikir adalah pilihan yang pas sebagai “pemecah” dan “penyeimbang” karakter muram Shin-ae. Juga para aktor pendukung dengan segala kerealistisannya.
It’s great story !  

Cast:
 – Shin-ae
 – Jong-chan
Jo Young-jin – Park Do-seop
Kim Young-jae – Min-ki (adik Shin-ae)
Seong Jeong-yeop – Jun
Song Mi-rim – Jung-a (anak Do-seop)
Kim Mi-hyang – Kim
Kim Mi Kyung-pemilik toko
Oh Man seok – pastor

Judul: Secret Sunshine/ Milyang (밀양)
Sutradara/ Penulis:
Asisten: Lee Jung-Hwa
Produser:
Sinematografer: Cho Yong-Kyu
Rilis: 23 Mei 2007
Durasi: 142 menit
Distributor: Cinema Service
Negara/ Bahasa: Korea/ Korea Selatan

Awards;
Asia Pacific Screen Awards 2007
– Best Film
– Best Performance by an Actress ()
– Nominasi: Best Screenplay,

Asian Film Awards 2008
– Best Actress ()
– Best Director
– Best Film
– Nominasi: Best Actor ()

Baek Sang Art Awards 2008
– Best Director

Blue Dragon Awards 2007
– Best Actress ()

Cannes Film Festival 2007
– Best Actress ()
– Nominasi: Palme d’Or

Grand Bell Awards, South Korea 2007
– Special Award  ()

etc (sumber: Imdb)

Thirst

Oktober 25, 2014 Tinggalkan komentar

Sang-hyun () adalah seorang pendeta. Suatu hari ia memutuskan untuk menjadi relawan uji coba virus penyakit yang mematikan . Ajaib, di antara 500 relawan uji coba, Sang-hyun satu-satunya yang masih hidup. Ketika ia kembali, ia pun dipuja-puja dan dianggap memiliki kekuatan penyembuh. Termasuk oleh teman lamanya, Kang-woo ( ) yang menderita kanker.
thrist7
Karena dianggap begitu berjasa, Sang-hyun sering diundang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga Kang-woo. Kang-woo tinggal bersama ibunya yang protektif () dan istrinya, Tae-ju (), yang tak bahagia. Tae-ju merasa hidupnya terjebak di tengah mertua yang membosankan dan suami penyakitan yang kolokan. Sang-hyun mencium ketidak bahagiaan ini dan dan diam-diam menyukai Hyun. Diam-diam, mereka pun melakukan perselingkuhan.

Di sisi lain, Sang-hyun mengalami perubahan pada dirinya. Pada waktu-waktu tertentu, tubuhnya akan ditumbuhi bintik-bintik mengerikan dan ia menjadi begitu kehausan. Masalahnya, rasa hausnya tidak bisa dipuaskan sembarangan, tapi harus dengan…darah manusia! Yah, suntikan virus telah merubah Sang-hyun menjadi vampire!
thirst
Meski begitu, Sang-hyun berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih ‘bermoral’, yakni tidak sampai membunuh orang. Dia mengambil darah dari para pasien di rumah sakit yang dengan menggunakan selang infus. Masalah muncul ketika Tae-ju mengetahui siapa dirinya dan juga ingin menjadi vampire untuk melampiaskan ketidakbahagiaannya.
thirst3
Twilight versi Korea? Haha, sedikit mengingatkan dengan film itu memang, tapi tentu saja dikemas dengan ‘lebih serius’ dan ‘lebih horor’. Apalagi, film ini disutradarai oleh Park Chan-wook, yang sepertinya memang spesialis sutradara film-film gelap dan tak perlu lagi diragukan kualitas penyutradaraannya. Bagaiamanapun dia adalah sutradara Korea yang sudah mendapat apresisasi secara internasional. Ditambah lagi jajaran pemain utamanya yang juga para aktor kawakan: , , Kim Ok-vin, Kim Hae-suk…
thirst5
Meski begitu, ketika menonton film, seringkali saya mengharapkan sebuah ‘pesan moral’ di dalamnya. Apalagi, film ini juga mendapat penghargaan di Cannes FF. Tapi setelah menonton film ini, saya terus bertanya-tanya: pesan moralnya apa ya? Karena saya justru merasa, film ini tak lebih dari sebuah film horor-erotis dan yah, psikologis (latar Sanghyun yang pendeta). Atau mungkin  film ini memang dibuat hanya ‘sekadar sebagai film’ saja?  Hmm, entahlah. Mungkin juga saya yang terlalu awam sehingga tak memahaminya. Hihi. Bagi yang tak keberatan dengan cerita semacam itu, silahkan menonton. Apalagi, para pemainnya juga bermain dengan ‘total’ di sini.

Note:
– Konon film ini adalah film Korsel pertama yang diproduksi dengan kerjasama dengan Hollywood.
– Park  membuat film ini konon terinspirasi sama novelnya Emile ZolaThereseRaquin
(sumber:asianwiki.com)

Warning: film ini memiliki adegan “dewasa” yang agak berlebihan!

Cast:
 – Sang-hyun
– Tae-ju
 – Kang-woo
 – Mrs. Ra
Park In-Hwan – Pendeta tua
Song Young-Chang – Seung-Dae
 – Young-Du
Mercedes Cabral – Evelyn

Judul: Thirst/ Bakjwi (박쥐)
Sutradara:
Penulis: Jung Seo-Kyoung,
Produser: Ahn Soo-Hyun
Sinematografi: Chung Chung-Hoon
Rilis: 30 April 2009
Durasi: 133 menit
Studio: Moho Films, Universal Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

 Awards
– Cannes Film Festival 2009:  “Prix du Jury – Jury Prize”
– Fantasia Film Festival  2009: “Best Asian Film (Silver)”
– Sitges Film Festival 2009: “Best Actress” () -09
– Blue Dragon Film Awards 2009:”Best Supporting Actress” () , “Best Music”
– KOFRA Film Awards Ceremony 2009: “Best Actor” (““)

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar