Arsip

Posts Tagged ‘Park Jung-min’

Psychokinesis

Suk-hun ( ) adalah seorang lelaki looser yang meninggalkan anak-istrinya, karena merasa tak mampu menghidupi mereka. Sekarang, putrinya, Ru-mi (), sudah devasa dan hidup cukup mapan bersama ibunya dengan berjualan ayam goreng. Tapi ketenangan itu terusik karena tempat jualan mereka terancam digusur karena ada pengusaha serakah yang hendak mengubahnya jadi tempat wisata. Tak hanya itu, karena ibu Ru-mi juga kemudian meninggal. Suk-hun pun datang untuk melindungi Ru-mi. Apalagi, ia tiba-tiba punya kekuatan super usai minum air di pegunungan. Ia bisa menggerakkan benda-benda dengan hanya menggerakkan tangannya.

Physiconesis (2)

Physiconesis (1)

Dengan kemampuannya, Suk-hun pun kemudian berusaha membantu Ru-mi dan juga orang-orang yang hendak digusur mempertahankan tempat mereka. Hal yang sama sekali tak mudah karena lavannya adalah pengusaha yang berkuasa dan serakah.

Physiconesis (4)

Physiconesis (5)

Ini merupakan bagian terakhir dari triloginya sutradara , setelah dua film sebelumnya, Seoul Station dan . Secara cerita, sebenarnya tidak ada hubungannya sih dengan dua film sebelumnya, tapi secara tema, sama-sama mengangkat cerita hubungan ayah dan putrinya dan juga unsur fantasi yang jadi bumbu film. Dibandingnkan dua filmnya yang bisa dibilang murni fantasi, film ini lebih terasa ‘nyata’ karena mengangkat isu penggusuran. Setelah melihat film-film sutradara ini sebelumnya, tentu tak ada yang diragukan dari kemampuannya dengan gaya penyutradaraan yang unik dan khas. Terutama gayanya yang agak-agak satir. Berbeda dengan cerita tentang manusia super pada umumnya, sosok superhero dalam film ini tidak bisa dibilang hero-hero amat kalau tak mau dibilang antihero. Suk-hun digambarkan sebagai lelaki yang kalah, ayah yang payah dan bahkan sangat canggung memanfaatkan kekuatan supernya. Isu penggusurannya menurut saya agak terkesan ambisius apalagi ada ‘pertempuran’ dengan aparat segala macam, tapi karena sentuhan satir dan gaya main-mainnya sutradara Yeon dengan tokoh utamanya, hal itu menjadi cukup termaafkan. Dibandingkan atau , film ini mungkin terasa ‘lemah’, tapi menurut saya tetap layak diapresiasi.

Physiconesis (3)

Dari segi akting, saya menyukai semua castnya yang cukup solid. , tentu tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Sementara aktris, juga mampu mengimbanginya dengan baik. Beberapa waktu lalu, saya sempat dibuat meringis lihat akting dia yang menurut saya sangat annoying sebagai Nodome Cantabile versi Korea dan konon, ia sendiri juga menyadarinya dan sempat berpikir untuk berhenti dari dunia akting (ia sempat vakum dari dunia akting selama beberapa waktu). Untunglah, sepertinya ia sudah kembali menemukan ‘jalannya’. Meskipun aktingnya belum terlalu matang, tapi ia terlihat cukup smart dalam memilih proyek-proyek filmnya yang hampir selalu melibatkan sutradara dan aktor dengan nama besar. Dengan usianya yang realtif masih sangat muda, saya pikir ia punya masadepan cerah sebagai aktris besar dalam perfilman Korea. Cast lainnya, ada yang juga bermain dengan pas dan lovable. Kemudian juga yang juga cukup berhasil memerankan sosok antagonis. Overall, film yang lumayan.

Cast:
– Shin Suk-hun
– Shin Ru-mi
– Kim Jung-hyun
Kim Min-jae – CEO Min
– Direktur Hong
Yoo Seung-mook – Mr Kim
Lee Jung-eun – istrinya Mr Kim
Kim Young-sun – Ibunya Ru-mi

Judul: Psychokinesis/ Yemryuk
Sutradara & Penulis:
Rilis: 31 Januari 2018
Durasi:101 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea selatan/Korea

Iklan

The King’s Case Note

Agustus 24, 2017 1 komentar

Sejak dengar tentang berita pembuatan film ini, saya sudah menantikannya. Ceritanya terdengar lucu, tentang detektif di jaman kerajaan, dan pemain utamanya adalah . + komedi adalah sepaket yang terdengar menarik. Waktu itu, siapa yang akan menjadi lawan mainnya. Tapi ketika kemudian saya mendengar nama . saya pikir itu adalah cast yang tepat. Menjadi karakter ‘bego-bego’, ‘tertindas’ dan lucu adalah spesialisasinya Ahn (sama seperti karibnya, ). Karenanya, saya cukup berekspektasi ketika akhirnya film ini tayang. Sayang, setelah tayang, sepertinya film ini tak banyak dibahas dan ‘sepinya’ film dari omongan adalah salah satu tanda bahwa film tersebut kurang sukses. Meski begitu, saya tetap bertekad untuk menontonnya.

King Case_4

 

Film dimulai dengan hari pertama Yi-seo () yang dajak Raja Yejong () untuk menjadi ‘partner in crime’nya, berkat kemampuannya di bidang sejarah. Raja adalah seorang yang pintar dan sangat suka main detektif-detektifan. Alih-alih menyerahkan kasus kriminal pada bawahannya, ia lebih senang menyelidikinya sendiri. Dan kala itu, sedang terjadi sebuah kasus yang melibatkan perong-rongan kekuasaan terhadapnya yang tampak-tampaknya dikendalikan oleh salah seorang rivalnya, Kim Gun-hee.

King Case_3

King Case_1

Yi-seo nyaris menyerah karena Raja memberinya tugas-tugas sulit dan berbahaya. Meski begitu, raja juga adalah orang yang baik dan menyenangkan dan tak ada alasan bagi Yi-seo untuk tak setia kepadanya. Berdua, dengan segala keunikan dua orang ini, mereka kemudian menjadi duo detektif dan berusaha membongkar aktivitas makar di istana. Dan interaksi dua orang ini lah yang kemudian menjadi nyawa utama film ini, bahkan menurut saya jauh lebih menarik daripada ceritanya sendiri.

King Case_2

 

Cerita kriminalnya rasanya terlalu standar dalam film bergenre kerajaan. Twistnya juga tidak terlalu mengejutkan (siapa pelaku utamanya rasanya sudah bisa ditebak sejak awal). Dan saya pun memahami kenapa film ini kemudian kurang sukses di negaranya sono. Usai menonton film ini, saya hanya meringis: segitu doang? Saya yang menonton film  ini untuk melihat kelucuan dari duo detektif antik, merasa kurang terpuaskan. Menurut saya, justru akan lebih menarik kalau film ini lebih fokus pada cerita yang lebih mengeksplorasi aksi detektif-detektifan alih-alih kasus makar yang rasanya terlalu standar film jenis ini.

King Case_6

Seperti dugaaan saya, dan bermain apik dan effortless, chemistry keduanya juga terbangun sangat baik. Bahkan rasanya saya lebih senang kalau film ini isinya lebih banyak tentang interaksi dua orang ini dengan segala kekonyolannya. Hehe. Whatever, film ini tidak buruk-buruk amat kok. Dan hal terbaik dari film ini, selain bromancenya Raja & Yi-seong yang lucu, juga adalah suara super empuknya yang sangat-sangat enak didengar. Hmm, yah memang terkenal sebagai salah satu aktor dengan suara terbaik dan saya sangat setuju dengan hal itu. Dan di film ini, dengan aksen Raja-nya, suaranya benar-benar enak didengar 🙂

Note:
Berdasarkan komik dengan judul yang sama, ditulis oleh Heo Yoon-mi dan diterbitkan di majalah Wink dari tahun 2012-2013

Cast:
– Raja Yejong
– Yoon Yi-seo
– Nam Gun-hee
Jo Jin-mo – Jikjehak
Kyung Soo-jin – Sun-hwa
Jung Hae-in – Heuk-woon
Jang Young-nim – Soobin
Kim Hong-fa – Perdadna Menteri
Uhm Ji-sung – Pangeran Ja-sung
Kang Chan-hee – Raja (muda)
– Putra Mahkota Uikyung

Judul: The King’s Case Note/ Imgeumnimui Saguncoocheob
Sutradara: Moon Hyung-sung
Penulis: Heo Yoon-mi (komik)
Produser: Yoon Hong-joon, Choi A-rang
Sinematografi: Kim Dong-young
Rilis: 26 April 2017′
Durasi: 114 menit
Distributor: CJ Entertaintment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Dongju: The Portrait of a Poet

Akhirnya berhasil menonton film ini. Setelah berbulan-bulan saya menunggu sub Inggrisnya yang tak kunjung ada yang upload, akhirnya seorang teman dunia maya menyarankan saya menonton di kissasian dan thanks to her, saya akhirnya bisa menonton film ini.

Dongju

Ada cukup banyak alasan yang membuat saya penasaran berat sama film ini. Pertama, film ini disutradarai oleh , salah satu sutradara besar Korea yang film-filmnya sudah saya tonton dan bagus-bagus (, , ). Kedua, karena cast-nya adalah dan . Saya memfavoritkan keduanya, karena keduanya adalah dua aktor muda yang berbakat dan pilihan filmnya cukup ‘berkelas.’ Ketiga, premis ceritanya yang mengisahkan kehidupan seorang penyair dan diddasarkan pada kisah nyata pula. Saya selalu menyukai film biografi terutama dengan tokoh seniman. Keempat, ternyata film ini banyak mendapat penghargaan di beberapa ajang penghargaan film di Korea sono.

Dongju5

 

Format cerita film ini sendiri disajikan dalam cerita kilas balik. Dimulai dari Dongju yang dipenjara dan sedang diinterogasi oleh pihak Jepang, mengenai hubungannya dengan seorang pemberontak, Song Mong-gyu. Cerita berputar ke belakang. Dong-ju () dan Mong-gyu () adalah dua bersepupu yang tinggal serumah. Usia mereka sebaya dan selain bersaudara, keduanya juga sahabat kental dan sama-sama memiliki ketertarikan pada dunia tulis menulis. Hanya saja Mong-gyu lebih suka menulis esai sementara Dong-ju pada puisi.

Dongju1

Mong-gyu yang berkarakter keras dan pemberani, seolah mengambil peran sebagai kakak bagi Dong-ju. Ia lah yang banyak mempengaruhhi pikiran-pikiran Dong-ju, yang lebih kalem dan pendiam. Sebagaimana seorang pemuda pemberani yang banyak membaca, Mong-gyu merasa tertarik dengan ide-ide baru seperti komunisme hingga anti imperalisme. Ia pun kemudian ikut gerakan-gerakan anti penjajahan dan pernah dipenjara.

Dongju4

Setelah sama-sama menyelesaikan sekolah di Seoul, Mong-gyu kemudian mengajak Dong-ju melanjutkan kulaih ke Jepang, berpikir bahwa di sana mereka akan lebih banyak belajar hal-hal besar dan bagi Mong-gyu, tentunya bisa melebarkan sayap perjuangan dan kemudian terlibat dalam kelompok pejuang yang cukup radikal.

 

Di Jepang, mereka diterima di universitas yang berbeda. Dong-ju tetap menekuni puisi dan kemudian bertemu seorang profesor baikhati, Takamatsu dan juga keponakannya Kumi, yang kemduian memabntunya mempublikasikan puisi-puisinya. Ide-ide Mong-gyu tentang perjuangan dan juga hidup di tengah suasana penjajahan adalah hal-hal yang menginspirasi puisi-puisi Dong-ju, dan karenanya, kemudian ia dianggap subversif dan memiliki keterlibatan dalam pemberontakan yang dilakukan Mong-gyu.

Dongju6

Sebenarnya, selalu sulit bagi saya memberi penilaian pada sebuah film yang sejak awal sudah membuat saya banyak berekspektasi. Dan karena lamanya menunggu kesemaptan menonton film ini, saya juga cukup penasaran dengan membaca banyak artikel yang mengulas film ini, sehingga ketika menontonnya, kepala saya sudah tak lagi kosong. Dan sejujurnya, hal itu cukup mengurangi kenikmatan saya menonton film ini. Tapi secara umum, saya setuju kalau film ini adalah film yang bagus. Pesan film ini saya rasa tersampaikan dengan baik. Tentang bagaimana kekejaman dan ketidakadilan yang dilakukan Jepang, sampai-sampai seorang penyair ‘biasa’ saja ditangkap dan dipenjara.

Dongju3

Dari segi akting, bermain apik sebagai Dong-ju yang kalem dan puitis. Meski saya selalu membayangkan bahwa sosok seorang seniman adalah sosok yang ‘aneh’ tapi karena Dong-ju adalah sosok yang benar-benar pernah ada, tentu tak ada yang perlu diperdebatkan dari karakternya yang bisa dibilang ‘biasa-biasa saja.’ Kehidupan di seputar Dong-ju juga bisa dibilang jauh dari dramatis. Ia tumbuh di keluarga yang cukup berada dan berpendidikan. Proses hidupnya juga bisa dibilang lancar-lancar saja. Tapi yah, apa yang salah dari keadaan semacam itu? Kenyataannya memang banyak orang-orang besar yang lahir dari latar belakang yang ‘baik-baik’ saja.

Dongju2

Di sisi lain, juga tak kalah apik aktingnya sebagai Song Mong-gyu yang meledak-ledak. Karakter Mong-gyu justru adalah nyawa dari film ini. Dan Park membawakannya dengan sangat baik. Wajar jika kemudian dia diganjar penghargaan aktor pendatang baru terbaik untuk perannya di sini. Pada dasarnya, ia dan bermain sama baiknya, hanya saja, memang sosok Mong-gyu menang secara karakter sehingga lebih menarik.

Dongju8

Dongju7

Secara penceritaan sendiri, karena ini adalah film tentng penyair, tadinya saya berharap sesuatu yang lebih puitis dan kontemplatif, hanya saja, sepertinya memang bukan itu tujuan si sutradara sehingga plotnya juga lebih lugas dan cair. Overall, good movie.

Note:
Yoong Dong-ju adalah penyair Korea yang lahir pada tahun 1917. Secara garis besar, kehidupannya memang seperti yang diceritakan dalam film ini. Ia kemudian meninggal di dalam penjara Jepang pada tahun 1945 di usia 27 tahun, diduga karena disuntik obat tertentu yang membuatnya hingga meninggal. Tiga tahun setelah kematiannya, buku kumpulan puisinya diterbitkan yang diberi judul: Haneulgwa, Baramgwa, Byeolgwa Si (The Heavens and The Winds and The Stars and Poetry). Meski usianya pendek dan karyanya tak banyak, tapi Dong-ju merupakan salah satu penyair besar Korea yang karya-karyanya banyak dibaca dan dikaji.

Park Mong-gyu juga adalah karakter nyata.

Cast:
– Yoon Dong-ju
– Song Mong-gyu

Kim In-woo – Detektif
Choi Hong-il – Ayah Dongju
Choi Hee-soo – Kumi
Shin Yoon-joo – Lee Yeo-jin

Kim Jung-pal – ayah Mong-gyu
Moon Sung-ggeun – Jung Ji-young
Choi Jung-hun – Moon Ik-hwan

Judul: Dongju: The Portrait of a Poet
Sutradara:
Produser: Shin Young-shick, Kim Ji-hyung
Sinematografi: Choi Yong0jin
Rilis : 18 Februari 2016
Durasi: 110 menit
Distributor Megabox Plus M
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea-Jepang

Awards:
Baeksang Art Awards 2016: Grand Prize (), Best New Actor ()
Blue Dragon Awards 2016: Best New Actor (), Best Screenplay

Office

Juli 22, 2016 Tinggalkan komentar

Kim Byeong-gook adalah seorang kepala bagian dan pekerja keras. Suatu hari, sepulang dari kantor, tiba-tiba dia membunuh anak dan istrinya. Setelah itu ia kemudian menghilang.

offc2

Byeong-gook si pembunuh

Detektif Jong-hoon () adalah detektif yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu. Jong-hoon pun kemudian menginterogasi rekan-rekan kerja Byeong-gook. Ada Kim si atasan, Asisten Manejer Hong (), Jung , Ha-young, Won-suk () dan Lee Mi-rye ( )…

off6

Ko Ah-sung sebagai Lee Mi-rye

off8

Diketahui kemudian kalau Byeong-gook cenderung antisosial dan tidak disukai teman-temannya, kecuali Mi-rye. Mi-rye adalah pegawai magang.Ia memiliki kemiripan sifat dengan Byeong-gook. Ia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik, tapi sikapnya cenderung kaku sehingga menjadi omongan para seniornya. Mi-rye yang mengetahui hal itu, merasa tertekan. Apalagi kemudian muncul pegawai magang baru, Shin Da-mi yang cantik, pintar dan ramah. Mi-rye yang berharap segera diangkat sebagai pegawai tetap, merasa posisinya semakin terancam.
offc00
Sementara itu, Det. Jong-hoon, dari rekaman CCTV menemukan bahwa Byeong-gook ternyata kembali ke kantor setelah melakukan pembunuhan dan tak pernah terlihat keluar lagi.
Office_poster
Yah, lagi-lagi cerita bergenre thriller. Yang membuatnya agak terasa berbeda tentulah latar cerita dunia kerja perkantoran yang penuh tekanan dan membuat orang menjadi ‘gila.’ Bagi saya pribadi, ini bukan film yang istimewa, terutama bagian-bagian akhir yang menurut saya kurang greget. Meski begitu, cukup ‘mencekam’ untuk sebuah film thriller dan juga tidak kering karena ‘drama’nya juga digarap dengan baik, didukung pula jajaran cast. Ada aktris muda yang menunjukkan kualitas aktingnya yang lain. Jika selama ini ia biasa dengan peran-peran sebagai ‘gadis manis dan lembut’ di sini ia memerankan sosok Lee Mi-rye yang psycho dengan cukup baik. Selain itu juga ada aktor veteran Bae Sung-woo, , (dia dinominasikan sebagai pemeran pembantu terbaik di Baeksang untuk perannya di sini) juga dan Oh Dae-hwan,yang saya pikir juga bermain dengan pas.

Cast:
– Lee Mi-rye
– Det. Jong-hoon
Bae Sung-Woo – KIm Byeong-gook

Kim Eui-Sung – Direktu Kim Sang-gyu
– Hong Ji-sun
Lee Chae-eun – Eom Ha-young
Son Soo-hyun – Shin Da-mi
– Lee Won-suk
Oh Dae-hwan – Jung Jae-il

Judul: Office/Opiseu (오피스)
Sutradara: Hong Won-Chan
Penulis: Choi Yoon-Jin, Hong Won-Chan
Produser: Lee Sung-Jin, Choi Yoon-Jin
Sinematografi: Park Yong-Soo
Premiere: 19 Mei 2015 (Cannes Film Festival)
Rilis: 3 September 2015
Durasi: 111 menit
Distributor: Little Big Pictures
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival:
– Cannes Film Festival 2015 – Midnight Screenings *World Premiere
– Neuchâtel International Fantastic Film Festival  2015 – New Cinema From Asia
– Fantasia Film Festival 2015 *North American Premiere
– Busan International Film Festival – Oct. 1-10, 2015 – Korean Cinema Today: Panorama

Awards:
Baeksang Art Awards 2016:
– Nominasi: Best Supporting Actress (g), Best New Director

Bleak Night

November 12, 2014 Tinggalkan komentar

Cerita diawali dengan  seorang ayah yang berusaha mencaritahu sebab kematian anak lelakinya, Ki-tae (). Berdasarkan foto-foto, ia menemui teman-teman anaknya untuk, Hee-joon dan Dong-yoon. Tak ada informasi yang cukup memadai untuk sang ayah, karena teman-temannya memberi jawaban yang datar-datar saja. Meski begitu, cerita kemudian akan bergulir pada flashback ingatan teman-teman Ki-tae tentang Ki-tae.
bleak ni
Ki-tae bersahabat dengan Dong-yoon dan Hee-joon, yang sebenarnya memiliki sifat yang bertolak belakang. Hee-joon dan Dong-yoon adalah ‘anak-anak manis’ sementara Ki-tae adalah berandalan sekolah yang juga berteman dengan geng berandalan. Di satu sisi, Ki-tae sering nongkrong dan melakukan kenakalan-kenakalan dengan teman-teman gengnya, di sisi lain, ia juga sering menghabiskan waktu bersama Dong-yoon dan Hee-joon.
blkj
Tapi karena beberapa hal, hubungannya dengan Hee-joon dan Dong-yoon mulai renggang. Ki-tae kemudian berusaha menyelesaikan permasalahan dengan melakukan hal-hal intimidatif, yang alih-alih memperbaiki keadaan, tapi justru memperunyam. Bukan karena dia berniat jahat, saya pikir, tapi lebih karena dia tak tahu cara yang lebih baik. Bisa dipahami mungkin sikap menyebalkan Ki-tae ini sebagai anak yang tumbuh tanpa cukup kasih sayang dari orang tua. Dalam dialog sekilas disebutkan kalau Ki-tae tak punya ibu dan ayahnya juga sepertinya tak pernah cukup dekat dengannya. Hal itulah yang mungkin membentuk karakternya. Sepertinya ia mendapat pengakuan dalam geng berandalnya, tapi di sisi lain dia juga mendapatkan persahabatan yang tulus dari Hee-joon dan Dong-yoon. Sementara Hee-joon dan Dong-yoon yang ‘anak-anak normal’ tak cukup bisa memahami sikap kasar Ki-tae dan berusaha menjauhi Ki-tae.

Akting Lee Jee-hoon yang banyak dipuji

Akting Lee Jee-hoon yang banyak dipuji

Yeah, seperti judulnya yang melibatkan kata “bleak” film ini memang terasa muram. Bukan hanya sinematografinya tapi juga ceritanya. Ini adalah semacam coming age story. Saya pernah mengatakan kalau dunia anak-anak seringkali adalah dunia yang kejam, dan saya pikir demikian halnya dengan dunia remaja. Dan saya pikir, film ini mampu menggambarkannya dengan baik.
blkx
Plot dan alurnya bernuansa indie sehingga mungkin tidak akan terlalu mudah untuk mencernanya. Wajar mungkin karena konon film ini awalnya dibuat untuk tugas akhir sang sutradara di Korean Academy of Film Arts. Meski begitu, ceritanya sendiri cukup “gamblang” kok, apalagi emosinya juga terasa sangat intens. mampu menampilkan sosok Ki-tae yang complicated dengan baik. Wajar kalau dia dapat penghargaan untuk aktor terbaik di sini.

Cast:
 – Ki-tae
Seo Jun-Young – Dong-yoon
Park Jung-Min – Baek Hee-joon
Cho Seong-ha – ayahnya Ki-tae
Bae Je-ki – Jae-ho
Lee Cho-hee – Se-jung

Judul: Bleak Night/Pasuggun (파수꾼)
Sutradara/ Penulis: Yoon Sung-Hyun
Produser: Son Jin-Woo, Kim Seung-Joon, Lee Ji-Seung
Sinematografi: Byun Bong-Sun
Rilis: 3 Maret 2011
Durasi: 116 menit
Produksi: KAFA Films
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

 Awards
KOFRA Film Awards Ceremony 2012:
– Best New Actor ()
Blue Dragon Film Awards 2011:
– Best New Director
– Best New Actor ()
Daejong Film Awards 2011:
– Best New Director
– Best New Actor ()
Hong Kong International Film Festival 2011:
– FIPRESCI Prize
Pusan International Film Festival 2010:
– New Currents Award

Film Festival:
– Pusan International Film Festival 2010 – New Currents *World Premiere
– International Film Festival Rotterdam 2011 – Tiger Awards *International Premiere
– Hong Kong International Film Festival 2011 – Indie Power
– Taipei Film Festival  2011 – Panorama: Voices from Asia
– Fantasia Film Festival 2011 *North American Premiere
– Korean Film Festival In Paris 2011 – Portrait 2011 *French Premiere
– Toronto Reel Asian International Film Festival  2010 *Toronto Premiere
– Korean Film Festival in Australia  2012 – K-Mystery

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar