Arsip

Posts Tagged ‘Park Hae-il’

The Last Princess

Desember 3, 2016 Tinggalkan komentar

Kekaisaran Korea yang sedang diambang keruntuhan ketika Jepang menginvasi Korea. Raja diracun dan keluarga kerajaan sebagian dikirim ke Jepang, termasuk  Putri Dok-hye (/ ). Putri Dok-hye adalah seorang yang nasionalis, tapi tak bisa melawan perintah itu. Pun ketika kemudian dia berada di Jepang dan tak pernah bisa kembali ke Korea.
the-last-princess1
Ia kemudian bertemu Kim Jang-han (), yang menjadi pengawalnya. Jang-han sebenarnya adalah lelaki yang ditunangkan kepadanya semasa di Korea dulu, namun karena keadaan politik yang tak menentu, mereka tak pernah jadi menikah. Kim sebenarnya adalah pejuang kemerdekaan yang menyamar sebagai tentara Jepang. Bersama teman-temannya sesama pejuang, mereka membangun gerakan pemberontakan bawah tanah. Dok-hye yang mengetahu hal ini, kemudian melibatkan diri.
the-last-princess3
Sayang, ketika pemberontakan akhirnya diletuskan, mereka gagal. Putri Dok-hye dan keluarganya yang sedianya akan dibawa ke Shanghai, tertangkap di perjalanan. Ia kemudian terpaksa menikah dengan lelaki Jepang yang dijodohkan untuknya, tapi tetap selalu menyimpan harapan untuk kembali ke tanah air.
the-last-princess7

the-last-princess5
Tahun 1945, Perang Dunia 2 berakhir dan Jepang menyerah. Dok-hye berniat kembali ke Korea. Tapi karena alasan pemulihan politik, ia dilarang masuk ke Korea. Setelah itu, kabar berita tentang Dok-hye pun ‘menghilang.’
the-last-princess10
Tahun ’61, Jang-han yang telah menjadi jurnalis dan terus mencari jejak keberadaan Dok-hye akhirnya menemukannya. Ia pun menjemput Deokhye diJepang dan kemudian memulihkan kewarganegaraannya. Setelah 30 tahun, sang putri akhirnya bisa kembali ke tanah airnya.
the-last-princess13

the-last-princess14
Dari judulnya, saya tadinya mengira ini adalah sejenis film romance. Meski saya yakin, bukan romance sembarangan karena cast utamanya adalah yang bisa dibilang nyaris selalu main di film serius. Yah, bisa dibilang juga sih film ini berbau romance, tapi bukan disitu cerita besarnya, yang lebih mengangkat isu nasionalisme. Apalagi, konon cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata. Cerita dan alurnya enak diikuti dan castnya juga bermain dengan bagus. Mungkin tidak sesolid , tapi worthed to watch lah.

Cast:
– Putri Deokhye
– Kim Jang-han
Yoon Je-Moon – Han Taek-soo
– Bok-soon
Jung Sang-Hoon – Bok-dong
Park Ju-mi – Selir Gwin Yang (ibunya Deokhye)
Park Soo-young – Kim Young-chin
– Kim Hwang-jin
– Takeyuki
– Raja Gojong
– Lee Woo
– Kim Bong-guk
Lee Chae-Eun – Jung-hye
– Princess Deokhye (muda)
Shin Rin-Ah – Princess Deokhye (anak-anak
Yeo Hoi-Hyeon – Kim Jang Han (muda)
Lee Hyo-Je – Kim Jang Han (anak-anak)

Judu: The Last Princess  / Princess Deokhye/ Deokhyeongjoo (덕혜옹주)
Sutradara:
Penulis: Kwon Bi-Young (novel)
Rilis: 3Agustus 2016
Durasi: 127 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea-Jepang

Iklan

My Dictator

September 29, 2016 Tinggalkan komentar

Korea Selatan, berlatar tahun 1972. Kim Sung-geun () adalah pemain teater yang buruk. Ia tidak pernah punya kepercayaan diri ketika tampil di panggung. Padahal, teater adalah satu-satunya tempat ia mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya.

my-dictator_poster

Suatu hari, ia mendapat undangan casting dari orang yang mengaku sebagai profesor Huh. Usai casting, ia justru dipukuli hingga babak belur dan dipaksa untuk mengaku sebagai komunis. Karena tak punya pilihan, ia pun akhirnya terpaksa membuat pengakuan. Dan ia pun dinyatakan lulus casting.

my-dictator2

Di bawah pengawasan agen mata-mata, ia disuruh berlatih untuk memerankan tokoh Korea Utara, Kim Il-sung. Bersama dengannya adalah Profesor Huh sang sutradara dan seorang pemuda yang bertindak sebagai penulis. Selama pelatihan, Kim diminta mempelajari paham-paham komunis dan kehidupan Kim Il-sung. Tidak hanya itu, agar perannya benar-benar seperti Kim Il-sung, ia diminta merubah penampilan dan menambah berat badan. Perlahan, Kim pun mulai kesulitan membedakan antara akting dan realita. Ia mulai benar-benar merasa bahwa dirinya Kim Il-sung. Sayangnya, pentas yang dijannjikan batal dan Kim dilepas begitu saja. Frustrasi, Kim pun menenggelamkan diri dalam dunia Kim Il-sung yang dibangunnya. Sosoknya yang semula adalah seorang ayah penyayang, berubah menjadi keras ala diktator.
my-dictator4
Tahun 1994, Kim Tae-shik ( ) adalah putra Kim yang sudah dewasa. Karena tak tahan dengan kegilaan ayahnya, ia sudah lama meninggalkan ayahnya yang sekarang sakit-sakitan. Usahanya sebagai penjual MLM sedang dikejar-kejar hutang. Untuk melunasi hutangnya, ia berniat menjual rumah milik ayahnya yang sedang diincar pengusaha properti. Demi untuk mendapatkan segel ayahnya, Tae-sik pun kemudian merawat ayahnya. Tapi itu adalah hal yang sulit karena ayahnya masih saja hidup dalam dunia Kim Il-sung yang dibangunnya.
my-dictator8
Berhubung saya tidak punya korelasi sejarah dengan cerita film ini, jujur saya agak bingung dengan maksud cerita film ini. Bahwa Sung-geun adalah sebagai korban dari diktatorisme yang berbeda? Ceritanya menurut saya terlalu personal dan membuat saya bertanya-tanya apa ini terinspirasi dari kisah nyata?
my-dictator3
Terlepas dari kebingungan itu, film sendiri digarap dengan bagus dengan jajaran cast yang bagus pula. Sebagai pemeran utama ada sebagai Kim Sung-geun yang ‘kerasukan’ Kim Il-sung, dan terlihat effortless sebagai Tae-sik. Patut diacungi jempol juga akting aktris pendatang baru, sebagai Ye-jung, yang menurut saya terlihat percaya diri beradu akting dengan aktor sekelas Park Hae-il.

Cast:
– Kim Sung-geun
– Kim Tae-sik
Yoon Je-Moon – Kepala Seksi Oh
Lee Byung-Joon – Profesor Heo
– Yeo-jung
– Penagih Utang Baek
– aktor
Lee Kyu-Hyung – Chul-Joo
Son Sang-Gyeong – Deongchi (big man)
Lee Joon-Hyuk – Ki-Chul
Son Young-Soon – ibunya Sung-Geun

Judul: My Dictator/ Naui Dogjaeja (나의 독재자)
Sutradara: Lee Hae-Jun
Penulis: Lee Hae-Jun, Park Chul-Hyun
Produser: Jung Doo-Hwan, Kim Moo-Ryung
Sinematografi: Kim Byung-Seo
Rilis: 30 Oktober 2014
Durasi: 128 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Moss

Agustus 9, 2015 Tinggalkan komentar

Cerita berawal pada tahun 70-an. Di sebuah desa, ada seorang lelaki bernama Ryu Mok-hyeon, yang membawa aliran religius. Melalui ajaran-ajarannya, ia mampu merebut hati warga desa. Hal ini membuat Cheon Yang-deok, seorang detektif di kepolisian, merasa gusar. Ketika ia menangkap Ryu, akhirnya ia tahu ‘rahasia’ Ryu dan memanfaatkannya.

mss86Beberapa tahun kemudian. Mok-hyeon tiba-tiba meninggal. Yang-deok telah menjadi kepala desa dibantu beberapa anak buahnya, para berandal yang sudah tobat: Deok-chun, Seok-man dan Seong-kyu, serta seorang perempuan pemilik toko, Young-ji.

mssd
Ryu Hae-guk adalah anak Mok-hyeon. Ia datang dari Seoul untuk menguburkan ayahnya. Ketika ia berniat menyelidiki kematian ayahnya, Yong-deok  tampak gusar dan enggan menerimanya. Hae-guk pun penasaran dan berusaha melakukan penyelidikan sendiri dengan dukungan rekannya, Min-wook, seorang hakim terkenal.
msse
Dari sini, teka-teki pun dimulai. Siapa sebenarnya ayahnya? Benarkah ayahnya dibunuh? Kenapa orang-orang di bawah Yong-deok  begitu misterius? Teka-teki yang akan menjadi nyawa utama film ini.

Berbeda dari film-film bertema misteri,sekilas film ini terasa ‘wajar’ saja dengan adegan-adegan yang terasa ‘tidak misterius.’ Dan mungkin di sinilah letak menariknya film ini, karena hal seperti itulah yang membuat penonton semakin penasaran. Meski begitu, menurut saya ada beberapa bagian yang terasa terlalu verbal dan terkesan terlalu berlama-lama. Tapi tenang saja, karena ada twist yang cukup mengejutkan di penghujung cerita.

Cast:
Park Hae-Il – Ryu Hae-guk
Jung Jae-Young – Cheon Yong-deok (Kepala Desa)
Yu Jun-Sang – Park Min-wook (pengacara)
Yoo-Sun    – Lee Young-ji (pemilik toko)
Yu Hae-Jin – Kim Deok-chun (si bodoh, kaki tangannya Yang-deok)
Kim Sang-Ho – Jeon Seok-man
Kim Jun-Bae – Ha Seong-kyu
Heo Jun-Ho – Ryu Mok-Hyeon (ayahnya Hae-guk)

Judul: Moss/ Iggi (이끼)
Sutradara: Kang Woo-Suk
Penulis: Ji Woo Chung
Produser: Jung Sun-Young
Sinematografi: Kim Sung-Bok, Kim Yong Hong
Rilis: 15 Juli 2010
Durasi: 163 menit
Produksi: Cinema Service
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Daejong Film Awards 2010:
– Best Director
– Best Cinematography
– Best Art Design (Jo Sung-Won)
– Best Sound Effects (Oh Se-Jin, Kim Suk-Jin)

Korean Film Awards 2010:
– Best Supporting Actor (Yu Hae-Jin)

Blue Dragon Film Awards 2010:
– Best Director
– Best Actor (Jeong Jae-Yeong)
– Best Supporting Actor (Yu Hae-Jin)

Film Festival:
– Pusan International Film Festival 2010: Korean Cinema Today: Panorama
– Tokyo International Film Festival 2010 – Film Panorama of Middle Asia-East *International Premiere
– The London Korean Film Festival 2012 (10th) New York Korean Film Festival – February 24-26, 2012

Eungyo

Juni 25, 2015 1 komentar

Lee Juk-yo () adalah penyair kawakan dan juga profesor universitas. Di usianya yang sudah 70 tahun, ia tinggal sendiri di rumahnya yang tenang dan nyaman sembari merenungi usia tuanya. Seorang muridnya yang sangat memujanya, Seo Ji-woo (), sesekali datang berkunjung.
ms
Suatu hari, Ji-woo menawarkan pada Juk-yo seorang gadis muda untuk bantu-bantu membersihkan rumah. Gadis itu adalah Eun-gyo ( ), 17 tahun, masih anak sekolahan. Tidak digambarkan dengan jelas latar belakang Eun-gyo, tapi ada kesan ia memiliki masalah keluarga. Meski begitu, sebagai umumnya gadis remaja, ia memiliki karakter ceria dan sedikit genit.
ms34
Juk-yo menemukan kehangatan yang menyenangkan dalam diri Eun-gyo . Dan tidak hanya itu, karena hasrat lelakinya yang seolah terbenam oleh usia tua, tibatiba bangkit kembali melihat kemudaan Juk-yo. Namun, tentu saja hal itu adalah hal yang mustahil. Juk-yo menyadari perbedaan yang tidak mungkin dan Eun-gyo juga hanya menganggapnya sebagai seorang kakek. Karenanya, Juk-yo kemudian menuangkan pikiran dan hasrat-hasratnya dalam puisi yang begitu indah. Masalah menjadi rumit ketika Ji-woo, yang selama ini menjadi penulis di bawah bayang-bayang Juk-yo, mulai ikut campur.
ms56
Membaca judulnya, tadinya saya berpikir ini adalah film tentang “muse” semacam dewi inspiratif bagi para penulis. Memang bisa dibilang begitu, tapi inti ceritanya sendiri sebenarnya lebih tentang soal “menjadi tua.” Tentang hasrat dan keinginan yang sangat manusiawi, juga tentang ketidakberdayaan manusia menolak “takdir” menjadi tua. Hmm, it’s sad 😦
ms09
Sedikit mengganggu adalah adegan dewasa yang menurut saya agak terlalu terbuka. Hal yang kadang membuat saya tak habis pikir, karena ada kecenderungan dalam dunia film (terutama film Korea) bahwa film ‘bagus’ kelas festival/penghargaan hampir selalu diselipi adegan dewasa yang kadang terlalu “vulgar” sehingga ada kesan semacam bf terselubung. Padahal, tanpa adegan semacam itu pun film tetap akan menarik atau setidaknya bisa dibuat lebih soft. Hmm, entahlah. Mungkin adegan semacam itu juga ingin menunjukkan bahwa hal semacam itu juga manusiawi?
a muse
Whatever, film ini tetap menarik untuk ditonton karena meninggalkan sebentuk perenungan tentang menjadi tua. Didukung akting yang bagus dari dan juga aktris muda yang menurut saya sangat berani, (saya baru lihat dia pertama di sini dan dia dapat award untuk perannya di sini).

Quote:
Juk-yo: “Roethke referred to getting old…as wearing the leaden weight of what I did not do. Just as your youth is not a prize for your efforts, my agedness is not a penalty for my faults.

Eungyo
I could easily wrap my fingers around Eungyo’s ankle.
Her heel slipped between my fingers.
And she giggled.
Her fragrant head rested below my chin.
And my lips were already buried in her hair.
She sighed.
Whir, whir.
Like a pair of bellows.
I held you close in my arms.
I caressed your hair, your shoulders, your waist.
And I put my ear to your chest listening to your heart beating.

Cast:
– Lee Juk-yo
– Han Eun-gyo
– Seo Ji-woo

Judul: Eungyo/ A Muse/ Eun Gyo (은교)
Sutradara: Chung Ji Woo
Penulis: Park Bum-Shin (novel), Chung Ji Woo
Produser: Ahn Eun-Mi, Lee Sang-Hyun, Jung Ji-Woo
Sinematografi: Kim Tae-Kyung
Rilis: 25 April 2012
Durasi: 129 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Award:
– Daejong Film Awards 2012: Best New Actress ( )
– Korean Association of Film Critics Awards 2012: Best New Actress ( )
– Blue Dragon Film Awards 2012: Best New Actress (Kim Go-Eun), Best Cinematography, Best Lighting
– KOFRA Film Awards Ceremony: Best New Actress ( )

Film Festival:
– Busan International Film Festival 2012 – Korean Cinema Today – Panorama
– Hawaii International Film Festival 2012 – Spotlight on Korea *Hawaii Premiere
– Udine Far East Film 2013 *European Premiere
– New York Asian Film Festival  2013 *New York Premiere
– Korean Film Festival In Paris  2013 – Landscape

Gyeongju

April 1, 2015 Tinggalkan komentar

Choi Hyeon (), yang sudah lama tinggal di Beijing, kembali ke Korea untuk menghadiri pemakaman teman baiknya. Dari obrolan dengan temannya yang lain, diketahui kalau mereka sudah lama saling tak berkomunikasi dan diketahui juga kalau sang teman ini, ternyata meninggal karena bunuh diri dengan alasan yang religius.
gy5
Usai pemakaman, Hyeon kemudian memutuskan untuk pergi ke Gyeongju. Tempat yang dikunjunginya 7 tahun lalu bersama sahabatnya. Sesampai di Gyeongju, ia menghubungi temannya, Yeo-jung yang kemudian segera datang. Tersirat dari bahasa tubuh mereka, di masalalu mereka pernah dekat. Namun Yeo-jung sepertinya menyimpan kesal pada Hyeon. Yeo-jung kemudian mengatakan kalau ia pernah hamil setelah mabuk dan bermalam di tempat Hyeon.  Hyeon merasa terkejut dengan cerita itu.
Ketika Yeo-jung kembali ke Seoul, Hyeon mondar-mandir sendirian.
gy0
Ia kemudian menyinggahi rumah teh yang pernah dikunjunginya 7 tahun lalu, dan bertemu sang tuan rumah, Gong Yoon-hee (). Ketika ia menanyakan gambar jorok yang dulu terpajang di dinding, Yoon-hee mengira dirinya seorang pervert. Meski begitu, kemudian terjalin komunikasi yang cukup hangat di antara mereka. Hyeon kemudian diajak minum-minum bersama teman-teman Yoon-hee. Seorang professor studi Korea Utara, seorang pemilik toko bunga dan seorang polisi yang sepertinya naksir Yoon-hee. Diketahui juga kalau ternyata Yoon-hee masih berduka karena kematian suaminya dan suaminya itu mirip dengan Hyeon.
gy7
Alasan utama saya menonton film ini adalah karena dua aktor utamanya,  dan , ditambah lagi posternya yang manis, saya berpikir ini adalah semacam film drama romantis. Meski saya tidak terlalu berharap drama romantis yang biasa saja karena ada aktor sekelas  disana. Dan ternyata… yeah, it’s not kind of romantic story. Tapi juga tidak mengecewakan.
gy5j
Film sendiri mengalir lamban tapi terasa sophisticated dengan latar rumah teh dan beberapa sudut Gyeongju yang hijau. Ini adalah jenis film serius yang tidak memiliki konflik tajam, dialog yang alakadarnya dan adegan yang bergerak lambat. Meski begitu, emosinya sendiri tertangkap cukup nyata dari ekspresi dan bahasa tubuh para pemerannya (terutama Hyeon & Yoon-hee tentu saja) dan juga sudut-sudut pengambilan gambar yang terasa pas membalut cerita. Mungkin agak sedikit bikin ngantuk di awal-awal, tapi jika sudah mendapatkan ‘feel’nya, rasanya cukup menyenangkan untuk diikuti.

Cast:
– Choi Hyeon
 – Gong Yoon-hee
Yoon Jin-Seo – Yeo-jung
– Det. Young-min
Shin So-Yul – Do-yeon (temannya Yoon-hee)
Baek Hyun-Jin – Prof. Park
 – florist
Kim Soo-ahn – gadis kecil
Kwak Ja-hyoung – Choon-won (teman di pemakaman)
Lee Eun-woo – istrinya Chang-hee
Jung In-sun – gadis di turis centre

Judul: Gyeongju/ 경주
Sutradara/ Penulis: Lu Zhang
Produser: Choi Ji-Yeon, Yoo Byoung-Ok, Kim Dong-Hyun, Lu Zhang
Sinematografi: Jo Young-Jik
Rilis: 12 Juni 2014
Durasi: 145 menit
Distributor: Invent D
Bahasa/Negara: Korea/ Korea Selatan

Awards:
– Korean Association of Film Critics Awards 2014: Best Director

Film Festivals
– Locarno International Film Festival 2014 – Concorso internazionale *International Premiere
– Toronto International Film Festival  2014 – City to City *North American Premiere
– Busan International Film Festival  2014 – Korean Cinema Today: Panorama

Whistle Blower

Desember 28, 2014 Tinggalkan komentar

Yoon Min-Cheol ()adalah seorang PD acara TV untuk program investigasi, yang selalu penuh semangat dan dedikasi pada pekerjaannya untuk mengungkap kebenaran.

Park Hae-il sebagai Yoon Min-Cheol, si jurnalis TV yang penuh dedikasi

Park Hae-il sebagai Yoon Min-Cheol, si jurnalis TV yang penuh dedikasi

Suatu hari ia mendapat laporan dari seorang yang bernama Shim Min-ho (), tentang proyek penelitian palsu yang dilakukan salah seorang ilmuwan terkenal, Prof. Lee Jang-hwan ( ). Shim dulunya adalah dokter yang bekerja di tempat Prof. Lee, namun kemudian memutuskan keluar karena tak tahan bertentangan dengan hari nuraninya. Meskipun menyaksikan semua kebohongan dengan mata kepala sendiri, namun Shim tak punya banyak bukti. Apalagi, istrinya juga bekerja di tempat Prof Lee dan anaknya sakit parah.

Yoo Yoen-suk sebagai ilmuwan Shim Min-ho. Not bad :)

Yoo Yeon-suk sebagai ilmuwan Shim Min-ho. Not bad 🙂

Yoon,dibantu kameramen muda yang enerjik, Yi-seul ( , dia yang jadi Kim Byeol di film ), pun berusaha menelusuri kebohongan itu sembari mencari bukti-bukti. Tapi masalah menjadi rumit, karena Prof Lee adalah sosok populer yang hipokrit sehingga menarik banyak simpati publik. Alih-alih mendapat dukungan karena berusaha mengungkap kebenaran, Yoon dan teman-temannya di Tv malah diduga melakukan fitnah.

Cerita yang seru? Tentu saja. Apalagi, konon cerita film ini didasarkan pada kisah nyata yang menimpa salah seorang ilmuwan terkemuka Korea Selatan, lho. Ngeri ya? Tapi mungkin memang banyak ilmuwan, politikus atau orang-orang terkenal yang demi popularitas, rela melakukan tindakan-tindakan curang dan munafik seperti itu. Menjijikkan memang. Meski begitu, fokus film ini sebenarnya bukan pada kejahatan yang dilakukan si ilmuwan, tapi lebih pada sosok Yoon, jurnalis TV yang tanpa mengenal takut berusaha membeberkan kebenaran, cerita yang mengingatkan saya pada sebuah film Amerika yang menjadi tontonan wajib bagi para calon jurnalis: All the President Man.
wbrs
Yah, saya pikir seharusnya seperti itulah tugas seorang jurnalis sejati. Berusaha sebisa mungkin membeberkan kebenaran, bukannya malah menjadi alatnya para penguasa untuk melakukan propaganda. Hal itu yang kemudian mengingatkan saya pada banyak media (terutama TV) belakangan ini.

Untuk soal akting, tak usah khawatir karena film ini memasang 3 nama besar di sini: , dan yang memang sedang berada di puncak karirnya belakangan ini, menunjukkan akting yang tak pernah mengecewakan sebagai PD Yoon, jurnalis yang seolah tak pernah kehabisan energi.

Lee Kyoung-young yang selalu main keren

Lee Kyoung-young yang selalu main keren

Demikian juga dengan . Wah, saya benar-benar mulai ‘jatuh cinta’ dengan kemampuan akting aktor gaek satu ini. Meski sudah uzur tapi ia selalu menunjukkan performa terbaiknya. Beberapa waktu lalu saya baru melihatnya di  dan . Di , dia berperan sebagai lelaki tua yang gentle dan dandy, sementara di , sebagai bajak laut yang bengisnya minta ampun. Sungguh dua karakter yang begitu berbeda tapi berhasil dimainkannya dengan begitu gemilang. Dan di sini, dia memerankan sosok profesor munafik dengan begitu meyakinkan. Wah, pokoknya two thumbs up deh untuk kakek satu ini!

Terakhir, adalah , Chilbongi di  ,  yang menjadi ilmuwan jujur, Shim Min-ho dan saya pikir juga berhasil memainkan perannya dengan baik. Meski jam terbangnya belum bisa disejajarkan dengan dua aktor seniornya di atas, saya pikir ia juga sedang menaiki tangga kesuksesan dan popularitas dalam karir beraktingnya (semoga saja dia terus selektif memilih peran).
whistle blower
Ada beberapa hal yang sedikit mengganggu pada ceritanya. Ketika Yoon dan TV tempatnya bekerja di-bully dan bahkan oleh para rekan media dan mereka seolah menjadi satu-satunya media yang berpegang pada kebenaran. Saya nggak tahu apa seperti itu kenyataan di dunia media ya? Setahu saya, biasanya rekan-rekan di media itu punya semacam solidaritas dan akan saling dukung terutama jika menyangkut ‘melawan kekuasan’, tentu saja akan ada banyak media yang didekengi para penguasa, tapi biasanya dari sekian banyak media, ada saja media yang memiliki solidaritas semacam itu. Entahlah. saya juga nggak paham dunia media, sih, lagipula, ini juga hanya film yang mungkin sengaja untuk memberi efek dramatisasi 🙂

Note:
-Film ini konon berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh ilmuwan Korea, Dr. Hwang Woo-Suk.

Cast:
 – Yoon Min-Cheol
 – Lee Jang-Hwan
 – Shim Min-Ho
Park Won-Sang – Lee Sung-Ho
Ryoo Hyoun-Kyoung – Kim Mi-Hyun
 – Kim Yi-Seul

Judul: Whistle Blower/Jeboja (제보자)
Sutradara: Yim Soonrye
Rilis: 2 Oktober 2014
Distributor: Megabox Plus M
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Memories of Murder

Desember 6, 2014 Tinggalkan komentar

Sudah lama pengin nonton film ini karena namanya sering muncul di ulasan-ulasan film Korea.
mmrs
Yups, seperti judulnya yang melibatkan kata “Murder”, ini memanglah film tentang pembunuhan. Berlatar sebuah daerah pinggiran di Korea pada tahun ’86. Sebuah kasus pembunuhan sekaligus perkosaan membuat resah. Detektif Park (), seorang detektif yang sering gegabah dalam membuat kesimpulan, yang bertugas menangani masalah ini pun dibuat pusing kesulitan mencari siapa sebenarnya si pelaku karena tidak ada jejak yang jelas. Satu per satu tersangka diinterogasi, tapi tak ada yang cukup punya bukti.
mmnn
Untuk tambahan tim, didatangkan Detektif Seo (), detektif muda dari Seoul yang terlihat cukup pintar. Tapi itu tak juga mampu membuahkan hasil. Korban-korban terus berjatuhan.Titik terang muncul ketika sosok pelaku mulai bisa diidentifikasi berdasarkan keterangan beberapa saksi. Terduga adalah Park Hyeon-gyu () seorang pegawai pabrik yang tampak “biasa saja.” Namun, tentu saja diperlukan bukti-bukti yang lebih kuat untuk membuktikan kalau memang dialah pelakunya.

Detektif Seo yang didatangkan dari Seoul

Detektif Seo yang didatangkan dari Seoul

Yeah, salah satu jenis film yang sangat Korea. Dan bagaimanapun seringnya Korea mengangat cerita film jenis ini, masih saja selalu menarik. Apalagi film ini disutradarai salah satu sineas papan atas Korea Selatan,   dan dibintangi aktor papan atas pula: , , dan memainkan karkater antiheronya dengan baik seperti biasa,  sebagai detektif pintar yang cool dan , meski hanya mengambil beberapa scene tapi mampu meninggalkan kesan mendalam dengan wajah dan tatapannya yang bisa dibilang, mewakili tema besar film ini.

Park Hae-il yang jadi misterious man

Park Hae-il yang jadi misterious man

Dengan cerita yang terasa solid dan gambar-gambar tidak membosankan dan tentu saja, meninggalkan perenungan mendalam setelah menontonnya. Atau bisa juga sebentuk rasa frustrasi atas sebuah ketidakpastian. Apalagi film ini konon didasarkan pada sebuah kisah nyata. Yup, ketidakpastian. Itulah tema besar film ini. Frustratif bukan? Hihi…

Cast;
 – Detektif Park Doo-man
 – Detektif Seo Tae-yoon
 – Park Hyeon-gyu
Kim Roi-ha – Detektif  Cho Yong-koo
Song Jae-ho – Sersan Shin Dong-chul
Byun Hee-bong – Sersan Koo Hee-bong
Go Seo-hee – Kwon Kwi-ok
Park No-shik – Baek Kwang-ho
 – Kwok Seol-yung (istri Park)

Judul: Memories of Murder/ Sarinui Chueok
Sutradara: 
Produser: Cha Seung-jae
Penulis: , Shim Sung-bo (berdasar “Memories of Murder” nya Kim Kwang-rim)
Musik: Taro Iwashiro
Sinematografi: Kim Hyung-ku
Produksi: CJ Entertainment, Sidus Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Rilis: 2 Mei 2003
Durasi : 127 menit
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:

Chunsa Film Art Awards 2003:
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Supporting Actor – Park No-shik
– Best Screenplay –  Shim Sung-bo
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku
– Best Editing – Kim Sun-min

Pusan Film Critics Awards:
– Best Director –  
– Best Screenplay –  

Grand Bell Awards 2003
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –

Tokyo International Film Festival 2003
– Best Asian Film

Blue Dragon Film Awards 2003:
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku

Korean Film Awards 2003:
– Best Film
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Screenplay –  Shim Sung-bo
– Best Cinematography – Kim Hyung-ku
– Best Editing – Kim Sun-min

Director’s Cut Awards 2003:
– Best Director –  
– Best Actor –
– Best Producer – Cha Seung-jae

sumber; wikipedia.org

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar