Arsip

Posts Tagged ‘Lee Joon-ik’

Park Yeol: Anarchist from Colony

Agustus 25, 2017 Tinggalkan komentar

Yeah, akhirnya berhasil menonton film ini, Park Yeol: Anarchist from Colony.
Sejak dengar kabar rilisnya, saya sudah menetapkan film ini dalam daftar utama film wajib tonton saya tahun ini, hehe. Agak was-was juga sih, karena meski bisa dibilang akses dunlut film-film Korea itu umumnya sangat mudah, tapi untuk film-film tertentu, kadang cukup sulit. Harus menunggu lama atau kadang tidak tersedia subtitle-nya. Apalagi untuk film-film dengan bintang yang kurang populer secara internasional. Dan meski belakangan sudah semakin populer pasca ““, tapi popularitasnya juga masih terbatas mengingat selama ini ia memang lebih konsen ke film daripada drama. Tapi untunglah, meski menunggu agak lama dari masa rilisnya, film ini sudah banyak tersedia di internet dengan subtitle Bahasa Inggris pula.

Park Yeol_14

Menantikan proyek dari aktor favorit selalu menghadirkan cemas. Bagaimana kalau jelek atau mengecewakan? Tapi sejak awal saya cukup optimis dengan film ini karena sutradaranya adalah salah satu sutradara besar Korea, , yang film-filmnya nyaris selalu sukses baik secara komersil maupun kualitas. Lalu saya semakin optimis ketika melihat promo film ini yang terkesan ‘sederhana’ tapi hangat dan akrab. Dan yah, ketika filmnya diputar bulan Juni lalu, saya lega mendengar bahwa film ini mendapat apresiasi yang bagus. Secara komersial juga cukup sukses karena selama sekitar seminggu masa penayanggannya menduduki peringkat pertama di box office.

Park Yeol_1

Park Yeol_0

Park Yeol yang belakangan diganti judulnya menjadi Anarchist from Colony, berkisah tentang suatu masa kehidupan seorang aktivis Korea, Park Yeol (). Meski bisa dibilang biografi, tapi film ini tidak banyak menceritakan pribadi seorang Park Yeol, tapi lebih pada masa ‘puncak’ perjuangan Park.

Park Yeol_4

Park adalah seorang pemuda penuh semangat dan dipenuhi jiwa pemberontakan. Sebagai orang Korea yang tinggal di Jepang, ia telah melihat bagaimana penderitaan yang dialami orang-orang Korea akibat perlakuan semena-mena Jepang. Di antara kesehariannya bekerja keras sebagai penarik rickshaw, ia membangun sebuah gerakan bersama teman-temannya sesama orang Korea. Sebuah gerakan kiri anarkis. Sebagai orang Korea yang tertindas, mereka memimpikan sebuah kesetaraan dengan Jepang. Dan sebagai umumnya orang ‘kiri’ mereka percaya bahwa hal itu bisa terwujud lewat semacam revolusi. Untuk mewujudkan itu, Park dan temannya berniat untuk meledakkan bom di hari ulang tahun putra mahkota.

Park Yeol_5

Sayang, sebelum rencana ini terwujud terjadi gempa bumi yang disusul dengan kekacauan tersebab terjadinya pembantaian orang-orang Korea oleh segerombolan anarkis Jepang yang membenci orang-orang Korea. Demi menyelamatkan muka, pemerintah Jepang kemudian menangkapi orang-orang Korea yang dianggap terlibat gerakan anarkis, menuduh bahwa merekalah biang keladi dari kerusuhan itu. Park dengan sukarela menyerahkan diri, berpikir bahwa penangkapan dan pengadilannya justru bisa ia jadikan senjata perlawanan.

Selain itu, juga ada Fumiko Kaneko, kekasihnya. Fumiko adalah orang Jepang tapi besar di Korea bersama neneknya setelah ia ‘dibuang’oleh orang tuanya. Fumiko membenci pemerintahan Jepang dan sama seperti Park, sama-sama mengamini ide anarkisme. Sama-sama berjiwa pemberontak dan ‘agak gila’, keduanya segera menyatakan diri sebagai kekasih sehidup semati. Fumiko pun kemudian mengikuti Park ke penjara dan berdua mereka berusaha melanjutkan perlawanan mereka dari balik jeruji penjara.

Park Yeol_8

Dan, yah film ini kemudian akan lebih banyak mengulas hari-hari Park dan Fumiko di penjara. Membosankan? Tunggu dulu. Tadinya saya sempat berpikir demikian, apalagi saya kemudian menemukan kemiripannya dengan film Lee Joon-ik sebelumnya, Dongju. Dan yah, wajar sih karena memang temanya mirip dan ditangani sutradara yang sama. Tapi sama sekali tidak membosankan dan cukup berbeda kok. Meski film ini lebih banyak mengetengahkan adegan tanya jawab di penjara, tapi sama sekali tidak kering. Dan hal ini saya pikir tak lepas dari kepiwaian Lee Joon-ik, sang sutradara dalam mengarahkan aktor-aktornya. Proses invesitagsi di penjara antara Park atau Fumiko dengan penyidiknya terasa hidup dan enak diikuti dan membangun jalinan cerita yang runtut dan rapi.

Park Yeol_10

Park Yeol_20

 

 

Hal ini juga tentunya tak lepas dari akting para aktornya patut diacungi jempol. Sejak awal, saya memang tak pernah meragukan seorang  . Ia telah membuktikan kemampuan aktingnya yang bisa bertransformasi menjadi siapa saja dengan ekspresi yang begitu kaya. Dan di sini, ia lagi-lagi menunjukkan sisi aktingnya yang lain sebagai seorang pemuda pemberontak dengan ide-ide ‘gila’nya. Demikian juga dengan Choi Hee-seo yang jadi Fumiko. Choi adalah nama baru. Sebelumnya ia bermain di film , Dongju, dan menurut saya aktingnya di sana tidak terlalu berkesan (lebih karena karakternya saya pikir). Tapi bahwa kemudian mengajaknya main film lagi sebagai pemeran utama pula, saya yakin ia punya ‘sesuatu.’ Dan yah di film ini, Choi membuktikan kemampuan aktingnya sebagai Fumiko, perempuan pemberani dan sama gilanya dengan Park.

Park Yeol_16

Park Yeol_11

Untuk karakter-karakter yang lain, juga dimainkand engan apik oleh para aktor. Sosok Tatemasu, penyidiknya Park dan Fumiko, misalnya, tampak effortless sebagai sosok yang lurus tapi juga simpatik. Teman-teman Park (terutama Hong Jin-yoo) juga menampilkan akting yang bagus. Semua karakternya saling mengisi dan melengkapi menjadikan film ini terasa utuh. Ceritanya juga terasa solid dari awal sampai akhir dan pesan moralnya juga tersampaikan dengan baik. Gambar-gambarnya, meski sebagian besar berlatar ruangan penjara, tapi tetap terasa sinematis dalam balutan warna-warna ‘jadul’ yang pas.

Park Yeol_17

Dan meski ceritanya sendiri tentang ‘penjara,’ tapi juga tidak muram atau depresif karena sentuhan humor yang diberikan melalui sosok Park dan Fumiko yang berakrakter unik. Semuanya terasa pas dan mampu mengaduk-aduk emosi. Ya lucu tapi juga mengharukan dan sedih. , sekali lagi menunjukkan kualitasnya sebagai seorang sutradara yang sudah matang dan berpengalaman. Dan salutnya untuk sutradara satu ini, selain bahwa film-filmnya selalu sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan, film-filmnya juga bisa dibilang sangat ‘bersih’ dari adegan-adegan dewasa yang nyaris selalu ada dalam film-film Korea yang sering dianggap ‘bagus.’ Sedikit spoiler, di film ini, meski mengetengahkan cerita tentang sepasang kekasih anarkis (yang biasanya digambarkan cenderung ‘bebas’) tapi tak ada adegan yang menampilkan Park dan Fumiko bermesra-mesraan. Tapi justru disitulah menurut saya kelebihan , karena tanpa adegan semacam itu, hubungan antara Park dan Fumiko sebagai sepasang kekasih tetap meyakinkan (meski sebagai penonton sebenarnya saya tak keberatan kalau ada bonus ‘kissing‘ atau semacamnya). Well, overall, film ini bagus dan keren. Sangat layak untuk ditonton. Meski ceritanya tentang perjuangan Korea, tapi menurut saya tema besarnya tetap terasa universal.

Catatan:
Park Yeol adalah tokoh nyata. Ia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyeongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Ia melannjutkan sekolah menengah di Seoul, tapi kemudian dikeluarkan karena terlibat gerakan yang dikenal sebagai Gerakan 1 Maret. Park kemudian pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyo inilah, Park bertemu teman-teman yang memiliki visi yang sama dan membentuk kelompok anarkis yang disebut “Futeisha”, termasuk di dalamnya adalah Fumiko Kaneko yang kemudian menjadi kekasihnya.

Park Yeol_15
Seperti di film, Park ditangkap pemerintah Jepang pada 2 September 1923, sehari setelah gempa Kento dan dituduh akan melakukan makar dengan meledakkan bom. Mereka sedianya dijatuhi hukuman mati, tapi karena kepentingan politik Jepang, kemudian diganti dengan hukuman seumur hidup. Setelah 22 tahun dipenjara, Park dibebaskan pada Oktober 1945 dan kembali ke Korea pada tahun 1949. Tahun 1950, Park ditangkap oleh tentara Korea Utara. Park meninggal di Korea Utara pada 17 Januari 1974.

Fumiko Kaneko lahir di Yokohama, Provinsi Kanagawa, Jepang pada 25 Jannuari 1925. Ayahnya seorang keturunan samurai, sementara ibunya anak seorang petani. Karena perbedaan status ini, orangtuanya tak pernah resmi menikah dan karenanya pula, Fumiko tak bisa didaftarkan sebagai anak oleh ibunya. Ia sempat mengalami masa kecil yang cukup bahagia ketika ayahnya masih bekerja di kepolisian. Tapi ketika berumur 8 tahun, ayahnya berhenti dan tenggelam sebagai penjudi-pemabuk serta sering melakukan kekerasan di rumah. Kehidupan rumah tangga orang tuanya berantakan. Ayahnya menikah dengan perempuan lain dan ibunya berganti-ganti pasangan dan pernah hendak menjual Fumiko ke rumah peluran. Karena tak terdaftar sebagai ‘anak” Fumiko juga tak bisa mengenyam bangku sekolah. Fumiko kemudian dibawa neneknya ke Korea. Di Korea, ia diperlakukan selayaknya pembantu. Meski begitu, ia diijinkan untuk sekolah, meski dilarang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Perlakuan buruk yang diterimanya, membuatnya merasa memiliki ‘kedekatan’ dengan orang-orang Korea yang juga diperlakukan buruk oleh orang-orang senegaranya.

Park Yeol_21

Pada tahun 1919, Fumiko dikirim kembali ke Jepang dan tinggal bersama ayahnya. Fumiko hendak dinikahkan dengan sepupunya tapi pernikahan itu batal karena Fumiko diduga sudah tidak perawan. Setelah mengalami perlakuan tak menyenangkan, Fumiko kemudian memutuskan pergi ke Tokyo dan mencari jalan hidupnya sendiri. Di Tokyo, ia sempat tinggal bersama keluarga pamannya, tapi kemudian mulai hidup mandiri dengan bekerja di sebuah surat kabar. Ia juga melanjutkan sekolahnya dan berkenalan dengan orang-orang dari Gerakan Pembebasan dan gerakan sosialis. Pertemuannya dengan Hatsuyo Niiyama pada tahun 1922, mengenalkannya dengan ide-ide anarkisme dan nihilisme. Di sinilah kemudian ia bertemu dengan Park Yeol dan berbagi ide yang sama. Bersama Park, ia mempublikasikan majalah yang berisikan permasalahan yang dihadapi orang-orang Korea dibawah penjajahan Jepang.

Bersama Park, ia kemudian ditangkap oleh pemerintah Jepang. Selama di penjara, Fumiko menulis memoarnya, yang kemudian menjadi dokumen penting tentang ide-ide dan kehidupannya. Tahun 1926, Fumiko meninggal, diduga karena bunuh diri (meski seperti dalam film, hal ini dipertanyakan).

sumber: wikipedia.org

Cast:
– Park Yeol
Choi Hee-seo – Fumiko Kaneko

Kim Joon-han – Tatemasu (penyidik)
Kim In-wo – Mizuno
Tasuku Yamanouchi – Tatshushi Fuse
Hiroki Yokouchi – Fujishita
Kim Soo-jin – Makino
Kwon Yul – Lee Suk
Min Jin-woong – Hong Jin-yoo (temannya Park dan Fumiko)
Baek Soo-jang – Choi Young-hwan (temannya Park)
Han Gun-tae – Kazuo (temannya Park)
Bae Je-ki – Chou Kyu-jong
Yoon Seul – Hasseuyo Nihiyama (kekasihnya Kazuo)
Choi Jung-hun – Jung Tae-sung

Judul: Anarchist From Colony/ Park Yeol
Sutradara:
Penulis: Hwang Sung-goo
Produser: Park Sung-joo
Rilis: 28 Juni 2017
Durasi: 129 menit
Distributor: Megabox M Plus
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea-Jepang

Iklan

Dongju: The Portrait of a Poet

Akhirnya berhasil menonton film ini. Setelah berbulan-bulan saya menunggu sub Inggrisnya yang tak kunjung ada yang upload, akhirnya seorang teman dunia maya menyarankan saya menonton di kissasian dan thanks to her, saya akhirnya bisa menonton film ini.

Dongju

Ada cukup banyak alasan yang membuat saya penasaran berat sama film ini. Pertama, film ini disutradarai oleh , salah satu sutradara besar Korea yang film-filmnya sudah saya tonton dan bagus-bagus (, , ). Kedua, karena cast-nya adalah dan . Saya memfavoritkan keduanya, karena keduanya adalah dua aktor muda yang berbakat dan pilihan filmnya cukup ‘berkelas.’ Ketiga, premis ceritanya yang mengisahkan kehidupan seorang penyair dan diddasarkan pada kisah nyata pula. Saya selalu menyukai film biografi terutama dengan tokoh seniman. Keempat, ternyata film ini banyak mendapat penghargaan di beberapa ajang penghargaan film di Korea sono.

Dongju5

 

Format cerita film ini sendiri disajikan dalam cerita kilas balik. Dimulai dari Dongju yang dipenjara dan sedang diinterogasi oleh pihak Jepang, mengenai hubungannya dengan seorang pemberontak, Song Mong-gyu. Cerita berputar ke belakang. Dong-ju () dan Mong-gyu () adalah dua bersepupu yang tinggal serumah. Usia mereka sebaya dan selain bersaudara, keduanya juga sahabat kental dan sama-sama memiliki ketertarikan pada dunia tulis menulis. Hanya saja Mong-gyu lebih suka menulis esai sementara Dong-ju pada puisi.

Dongju1

Mong-gyu yang berkarakter keras dan pemberani, seolah mengambil peran sebagai kakak bagi Dong-ju. Ia lah yang banyak mempengaruhhi pikiran-pikiran Dong-ju, yang lebih kalem dan pendiam. Sebagaimana seorang pemuda pemberani yang banyak membaca, Mong-gyu merasa tertarik dengan ide-ide baru seperti komunisme hingga anti imperalisme. Ia pun kemudian ikut gerakan-gerakan anti penjajahan dan pernah dipenjara.

Dongju4

Setelah sama-sama menyelesaikan sekolah di Seoul, Mong-gyu kemudian mengajak Dong-ju melanjutkan kulaih ke Jepang, berpikir bahwa di sana mereka akan lebih banyak belajar hal-hal besar dan bagi Mong-gyu, tentunya bisa melebarkan sayap perjuangan dan kemudian terlibat dalam kelompok pejuang yang cukup radikal.

 

Di Jepang, mereka diterima di universitas yang berbeda. Dong-ju tetap menekuni puisi dan kemudian bertemu seorang profesor baikhati, Takamatsu dan juga keponakannya Kumi, yang kemduian memabntunya mempublikasikan puisi-puisinya. Ide-ide Mong-gyu tentang perjuangan dan juga hidup di tengah suasana penjajahan adalah hal-hal yang menginspirasi puisi-puisi Dong-ju, dan karenanya, kemudian ia dianggap subversif dan memiliki keterlibatan dalam pemberontakan yang dilakukan Mong-gyu.

Dongju6

Sebenarnya, selalu sulit bagi saya memberi penilaian pada sebuah film yang sejak awal sudah membuat saya banyak berekspektasi. Dan karena lamanya menunggu kesemaptan menonton film ini, saya juga cukup penasaran dengan membaca banyak artikel yang mengulas film ini, sehingga ketika menontonnya, kepala saya sudah tak lagi kosong. Dan sejujurnya, hal itu cukup mengurangi kenikmatan saya menonton film ini. Tapi secara umum, saya setuju kalau film ini adalah film yang bagus. Pesan film ini saya rasa tersampaikan dengan baik. Tentang bagaimana kekejaman dan ketidakadilan yang dilakukan Jepang, sampai-sampai seorang penyair ‘biasa’ saja ditangkap dan dipenjara.

Dongju3

Dari segi akting, bermain apik sebagai Dong-ju yang kalem dan puitis. Meski saya selalu membayangkan bahwa sosok seorang seniman adalah sosok yang ‘aneh’ tapi karena Dong-ju adalah sosok yang benar-benar pernah ada, tentu tak ada yang perlu diperdebatkan dari karakternya yang bisa dibilang ‘biasa-biasa saja.’ Kehidupan di seputar Dong-ju juga bisa dibilang jauh dari dramatis. Ia tumbuh di keluarga yang cukup berada dan berpendidikan. Proses hidupnya juga bisa dibilang lancar-lancar saja. Tapi yah, apa yang salah dari keadaan semacam itu? Kenyataannya memang banyak orang-orang besar yang lahir dari latar belakang yang ‘baik-baik’ saja.

Dongju2

Di sisi lain, juga tak kalah apik aktingnya sebagai Song Mong-gyu yang meledak-ledak. Karakter Mong-gyu justru adalah nyawa dari film ini. Dan Park membawakannya dengan sangat baik. Wajar jika kemudian dia diganjar penghargaan aktor pendatang baru terbaik untuk perannya di sini. Pada dasarnya, ia dan bermain sama baiknya, hanya saja, memang sosok Mong-gyu menang secara karakter sehingga lebih menarik.

Dongju8

Dongju7

Secara penceritaan sendiri, karena ini adalah film tentng penyair, tadinya saya berharap sesuatu yang lebih puitis dan kontemplatif, hanya saja, sepertinya memang bukan itu tujuan si sutradara sehingga plotnya juga lebih lugas dan cair. Overall, good movie.

Note:
Yoong Dong-ju adalah penyair Korea yang lahir pada tahun 1917. Secara garis besar, kehidupannya memang seperti yang diceritakan dalam film ini. Ia kemudian meninggal di dalam penjara Jepang pada tahun 1945 di usia 27 tahun, diduga karena disuntik obat tertentu yang membuatnya hingga meninggal. Tiga tahun setelah kematiannya, buku kumpulan puisinya diterbitkan yang diberi judul: Haneulgwa, Baramgwa, Byeolgwa Si (The Heavens and The Winds and The Stars and Poetry). Meski usianya pendek dan karyanya tak banyak, tapi Dong-ju merupakan salah satu penyair besar Korea yang karya-karyanya banyak dibaca dan dikaji.

Park Mong-gyu juga adalah karakter nyata.

Cast:
– Yoon Dong-ju
– Song Mong-gyu

Kim In-woo – Detektif
Choi Hong-il – Ayah Dongju
Choi Hee-soo – Kumi
Shin Yoon-joo – Lee Yeo-jin

Kim Jung-pal – ayah Mong-gyu
Moon Sung-ggeun – Jung Ji-young
Choi Jung-hun – Moon Ik-hwan

Judul: Dongju: The Portrait of a Poet
Sutradara:
Produser: Shin Young-shick, Kim Ji-hyung
Sinematografi: Choi Yong0jin
Rilis : 18 Februari 2016
Durasi: 110 menit
Distributor Megabox Plus M
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea-Jepang

Awards:
Baeksang Art Awards 2016: Grand Prize (), Best New Actor ()
Blue Dragon Awards 2016: Best New Actor (), Best Screenplay

The Throne

April 4, 2016 Tinggalkan komentar

Kisah tragis Putra Mahkota Sado yang mati di tangan ayahnya sendiri, Raja Yeongjo, sudah sering sekali diadaptasi oleh para sineas Korea ke dalam tontonan visual, baik itu dalam bentuk drama TV maupun film layar lebar. Dan di sinilah, kemampuan membangun plot atau alur cerita, yang menjadi pembeda. Kali ini, salah satu sutradara Korea, Lee Jon-ik yang terkenal menelurkan film-film berkualitas, menuangkan cerita ini dalam film yang berjudul, The Throne/Sado. Meski ceritanya sudah ketebak, tapi hal yang membuat saya cukup mengantisipasi film ini adalah karena pemain utamanya , yang agakya layak disebut sebagai salah satu aktor terbaik Korea saat ini, dan juga aktor muda yang cukup saya favoritin, dan .

tth

Song Kang-ho, yang selalu the best

Salah satu yang unik dalam film ini adalah penceritaannya yang mengambil jangka waktu 7 hari, dari awal penyiksaan Sado hingga hari kematiannya. Di masa-masa ini, cerita flashback diputar, mengisahkan bagaimana hubungan Sado dan ayahnya sejak kecil.

tth32

Hubungan ayah-anak yang emosional dan rumit

Raja Yeongjo (), lahir dari selir kasta rendah dan naik tahta untuk menggantikan kakaknya, Putra Mahkota, yang mati terbunuh dan ditengah desas-desus bahwa dialah yang membunuhnya. Ia merasa tak cukup mampu jadi raja, tapi harus menjadi raja. Dan ia pun harus mempertahankan posisinya yang rentan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

tth4

Yoo Ah-in yang main bagus jadi Sado

Sado (), sang putra mahkota lahir ketika Yeongjo sudah cukup tua dan menjadi penerus tahta satu-satunya yang lahir dari seorang selir. Sado kecil adalah anak yang cerdas, namun memiliki kecenderungan lebih senang bermain-main daripada belajar. Ia lebih suka melukis dan bersenang-senang daripada menghafalkan buku-buku. Ia lebih mendambakan Yeongjo sebagai ayah daripada seorang raja. Raja yang menggadang Sado sebagai penerus tahta pun dilanda perasaan tidak puas dengan sikap Sado yang cenderung semaunya sendiri. Perasaan tidak puas ini semakin kuat semakin Sado dewasa. Sado yang kemudian merasa tertekan dengan sikap ayahnya, frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk membangkang. Puncaknya adalah kematian sang nenek, yang jatuh sakit melihat pertengkaran ayah dan anak. Sado merasa terpukul dan mengalami gangguan mental. Perseteruan ayah anak ini pun semakin meruncing ketika Sado tanpa sengaja membunuh seorang pengawal dan bahkan inign membunuh ayahnya. Sang Ayah yang merasa malu dan kecewa, akhirnya menghukum Sado dengan mengurungnya hingga tewas.

tth65

Akting apik dari pemain senior, Kim Hae-sook

Tragis dan miris? Yah, begitulah. Dan menjadi semakin miris karena ini adalah sebuah cerita sejarah yang memang berdasarkan kisah nyata. Tapi ya bisa dipahami bagaimana kehidupan politik di masa lalu yang memang keras dan cenderung feodal. Film ini, sepertinya dimaksudkan untuk memperlihatkan sisi dimensional dari peristiwa tragis ini dengan memperlihatkan konflik-konflik psikologis tokoh utamanya. Dan saya pikir, tersampaikan dengan cukup baik.

tth0

Akting yang lumayan dari Moon Geun-young

Sudah beberapa kali saya menonton film atau drama Korea tentang konflik-konflik kerajaan dan seringkali saya agak kesulitan mengikutinya karena tidak terlalu memahami sejarah Korea, tapi di film ini cukup mudah saya ikuti karena ceritanya terasa gamblang dan runut.

tth56

Ada So Ji-sub juga lho 😛

Meski tetap saja terasa kejam, tapi dengan melihat latar belakang psikologis masing-masing karakter utamanya (Yeongjo dan Sado), kejadian tragis itu rasanya cukup bisa dipahami. Yeongjo dengan konflik psikologisnya seabgai seorang raja yang merasa tidak aman dengan posisinya dan dihinggapi semacam power syndrome yang wajar dimiliki seorang raja di masalalu, dan juga seorang ayah yang menyimpan banyak harapan untuk anaknya yang ternyata tak seperti yang diharapkan. Di sisi lain, Sado, sang anak, adalah Putra Mahkota yang dituntut terlalu banyak dan tak diijinkan memiliki pilihan sendiri… Seorang anak yang frutrasi karena mendambakan kelembutan dan pengakuan dari seorang ayah.

tth5

Dan semua itu diperankan dengan sangat baik oleh kedua aktor utamanya, dan . Untuk ke sekian kalinya, saya harus mengatakan ‘wow’ untuk akting yang seperti selalu effortless memerankan karakter apapun. Mau karakter serius atau komedik, om-om satu ini selalu berakting prima. Sementara ? Sejak menontonnya pertama kali di Sungkyuwan Scandal, saya jatuh cinta dengan aktingnya, tapi selama seberapa waktu saya sedikit bosan dengan pilihan proyeknya setelah Punch. Untunglah, kali ini, agaknya ia kembali berhasil memilih film yang berkualitas dan menunjukkan kemampuan aktingnya sebagai sosok Sado yang frustratif. Ohya, selain itu, juga ada nama , yang memerankan istri Sado yang tidak bisa berbuat banyak, karena memang begitulah mungkin posisi perempuan pada masa itu. Saya pikir, di sini dia juga bermain bagus meski karakternya tidak menjadi fokus di sini. Aktor pendukung lain yang juga bermain bagus adalah aktris veteran yang menjadi ibu suri dan dua aktris pendatang baru, Seo Yo-ji dan Park So-dam. Akting keudanya cukup mencuri scene meski sepertinya memang tak ada tempat untuk eksplorasi karakter mereka. Eh, juga ada ding, meski karakternya menurut saya tidak terlalu penting untuk aktor sekelas dia, tapi juga bermain dengan baik. Sedikit mengusik ‘kesempurnaan’ film, menurut saya justru bagian akhirnya yang agak terkesan berlama-lama. Meski begitu, adalah hal yang bisa dimaafkan dan di atas semua itu, it’s good movie. Recommended.
Cast:
– Raja Yeongjo
– Sado
 –  Hyegyeong Hong
Jeon Hye-Jin – Youngbin Lee (ibunya Sado)
– Ratu Inwon
Park Won-sang – Hong Bong-han
– Putri Hwawan
Seo Ye-ji – Permaisuri Jungsoon
– Moon So-won (selir)
Uhm Ji-sung – Sado kecil
Lee Hyo-je – Raja Jeongjo kecil
– Raja Jeongjo

Judul: The Throne/ Sado (사도)
Sutradara:
Penulis: Jo Chul-Hyun, Oh Seung-Hyun, Lee Song-Won
Produser: Oh Seung-Hyun, Sung Chang-Yun
Sinematografi: Kim Tae-Kyoung
Rilis: 16 September 2015
Durasi: 125 menit
Distributor: Showbox/Mediaplex
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Korean Association of Film Critics Awards 2015:
– Best Film, Best Screenplay, Best Music

Daejong Film Awards 2015:
– Best Supporting Actress ()
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Actor,

Blue Dragon Film Awards – 2015:
– Best Actor (), Best Supporting Actress (Jeon Hye-Jin), Best Cinematography & Lighting, Best Music, Best Technical Award
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Screenplay, Best Art Design, Best Film Editing,

The Happy Life

September 29, 2014 Tinggalkan komentar

Ki-young, Hyuk-soo, dan Sung-woo semasa kuliah membentuk band rock bernama Active Volcano. Karena berpikir bahwa bermusik tidak menjanjikan masa depan, band pun bubar dan masing-masing tenggelam dengan khiudpan masing-masing. Kecuali Sang-woo sang leader yang masih setia bermusik.
Happy Life (2007)
Dua puluh tahun berlalu. Mereka sudah menjadi para orang tua dengan berbagai permasalahan keluarga. Ki-young baru saja dipecat dari kerjanya, dan frustrasi menjadi pengangguran. Hyuk-soo ditinggal istri dan anaknya bermigrasi ke Kanada, sedangkan Sung-wook bekerja serabutan untuk memenuhi keinginan istrinya yang memiliki banyak keinginan. Di tengah itu, terdengar kabar kematian Sang-woo. Dan mereka merasa bersalah karena selama ini bahkan tak pernah saling berkomunikasi.

Para Bapak yang jadi looser

Para Bapak yang jadi looser

Ki-young kemudian mencetuskan ide untuk mengatifkan kembali band mereka. Awalnya, teman-temannya merasa itu tidak realistis, tapi kemudian setuju dan mendapat semangat hidup kembali. Apalagi kemudian masuk Hyun-joon, anak Sang-woo () yang kemudian menjadi vokalis band. Active Volcano pun hidup kembali dan para anggotanya menemukan kebahagiaan dari mewujudkan mimpi-mimpi.

Eih, ada Jang Geun-seok!

Eih, ada Jang Geun-seok!

Yah, sebenarnya agak sulit membayangkan bagaimana sebuah band yang biasa-biasa saja begitu cepat mendapatkan popularitasnya. Tapi yah, ini kan sebuah film, jadi apa saja mungkin terjadi. Dan ya, memang kemungkinan seperti itu tetap saja ada dalam dunia nyata kan? Sebuah cerita yang cukup menghibur.

hpnb

Cast:
Jung Jin-Young – Ki-young
Kim Yun-Seok – Sung-wook
Kim Sang-Ho – Hyuk-soo
 – Hyun-joon
Kim Ho-Jung – Sun-mi
 – Joo-hee
Chu Kwi-Jung – Young-ae

Judul: The Happy Life/ Jeulgeowun Insaeng (즐거운 인생)
Sutradara: Lee Joon-Ik
Penulis: Choi Suk-Hwan
Produser: Jeong Seung-Hyeo, Jo Cheol-Hyeon
Sinematografi: Kim Yong-Cheol
Rilis: 13 September 2007
Durasi: 112 menit
Studio: Tiger Pictures, Achim Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/Negara: Korea/ Korea Selatan

Film Festival:
– Udine Far East Film 2008

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar