Arsip

Posts Tagged ‘Kim Nam-gil’

The Sound of a Flower

Juli 20, 2016 Tinggalkan komentar

Berlatar jaman dinasti Joseon. Chae-son (), adalah seorang bocah miskin piatu yang kemudian dititipkan di sebuah rumah gisaeng. Suatu hari, dalam keadaan sedih, ia bertemu Shin Jae-hyo () adalah seorang guru pansori ( kesenian tradisional Korea berupa pertunjukan musik yang digabung dengan cerita rakyat) dan melihat pertunjukan pansori yang membuatnya terhibur. Sejak itu, Chae-sun pun bermimpi untuk menjadi penyanyi pansori. Ia pun kemudian memohon-mohon pada Jae-hyo agar diajari pansori.

sf3

Bae Suzy sebagai Chae-sun. Hmm, not that bad

 

 

 

sf

Shin Jae-ho yang karismatik

Masalahnya, pertunjukan pansori adalah pertunjukan yang hanya dipentaskan oleh lelaki. Untuk mewujudkan keinginannya, Chae-sun pun menyamar menjadi lelaki. Melihat keinginan kuat Chae-sun dan juga bakat bernyanyinya hati Jae-hyo pun luluh.

sf00

Chae-sun yang terpaksa menyamar sebagai lelaki demi bisa belajar pansori

Ketika Daewangun (), ayah raja yang berkuasa mengadakan kompetisi pansori nasional, mereka pun ikut. Daewangun mengijinkan Chae-sun menyanyi sebagai pansori perempuan, tapi dengan syarat harus memenangkan kompetisi. Masalah menjadi rumit ketika Daewangun ternyata jatuh cinta pada Chae-sun sementara Chae-sun sebenarnya menyukai Jae-hyo.Nah…

sf56

Chae-sun yang konon adalah penyanyi pansori perempuan pertama

Saya penasaran sama film ini karena cast-nya: , dan . Meski jujur, nama yang terakhir membuat saya agak underestimate.Suzy lebih dikenal sebagai idol berwajah cantik dengan kemampuan akting yang tak terlalu menonjol.Tapi well, saya mencoba berpikir positif dan tak terlalu berekspektasi. Dan yah, menurut saya film ini meski tidak bisa dibilang mengesankan,tapi lumayanlah.
sf25
Meski menurut saya, film ini potensial untuk menjadi film yang sophisticated, apalagi konon ceritanya terinspirasi dari kisah nyata. Kelemahan film ini menurut saya lebih pada plotnya yang terasa kurang greget dan agak ‘kering’. Chemistry antar karakternya terasa terasa kurang maksimal. Saya pikir bukan karena akting, tapi lebih pada eksplorasi cerita. Romance antara Chae-son – Jae-hyo hingga interaksi Jae-hyo bersama murid-muridnya yang lain tak pernah diperlihatkan dengan jelas.
sf50
Dari segi akting menurut saya juga kurang maksimal. menurut saya bermain bagus sebagai Shin Jae-hyo yang karismatik, tapi ia seolah “bermain sendirian” terutama pada bagian-bagian awal. sepertinya berusaha keras untuk memerankan karakternya dengan baik, dan menurut saya tidak buruk, tapi entah bagaimana menurut saya masih terasa kurang ‘bernyawa.’

sf12

Dua ‘badut’ yang memang selalu lucu, tapi agak wasted of talent 😦

Sebenarnya, aktor lain yang potensial untuk bermain bagus tapi karakter-karakter mereka terasa kurang dieksplore dengan baik. Sebut saja Song Sae-byeok, yang sebenarnya main bagus sebagai si asisten setia Kim Se-jong, lalu juga ada nama dan sebagai murid setia Jae-hyo. Keduanya, meski masih dibilang pendatang baru,tapi adalah aktor yang berbakat dan rasanya agak wasted ketika mereka hanya diberi peran sebagai ‘badut’ di sini. Karakter sebagai si berkuasa Daewangun menurut saya juga tak jelas.

Sf_poster

Ditambah kemudian dengan eksekusi cerita akhir cerita yang menurut saya terasa plain dan kurang memuaskan.Whatever, tetap layak untuk ditonton kok.

Cast:
-Shin Jae-hyo
– Jin Chae-sun
Song Sae-Byeok – Kim Se-jong
– Daewongun
– Chil-sung
– Yong Bok
– Pejabat Oh

Judul: The Sound of a Flower / Dorihwaga (도리화가)
Sutradara/Penulis: Lee Jong-Pil
Produser: Kim Dae-Seung, Baek Yeon-Ja
Sinematografi: Kim Hyun-Seok
Rilis: 25 November  2015
Durasi: 109 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

The Shameless

Juni 30, 2016 Tinggalkan komentar

Jung Dae-gon ()adalah seorang detektif. Ia sedang bertugas untuk menangkap Park Joon-kil, yang melarikan diri setelah membunuh orang. Kim Hye-kung adalah kekasih Joon-kil yang juga tengah menunggu kedatangan kekasihnya. Dae-gon kemudian mendekati Hye-kung dengan menyamar sebagai kaki tangan di bar tempat Hye-kung bekerja. Hye-kung seorang perempuan yang terlihat tangguh tapi rapuh. Dae-gon yang sedang terlibat hubungan rumit dengan mantan istrinya, diam-diam jatuh cinta pada Hye-kung. Tapi ia sadar bahwa hubungannya dengan Hye-kung nyaris tidak mungkin.

shm

shm0

Saya penasaran sama film ini karena membaca bahwa film ini dinominasikan dalam beberapa ajang penghargaan, bahkan masuk seleksi di festival film Cannes pula. Ditambah lagi, pemain utamanya adalah , yang bisa dibilang, saat ini adalah salah satu aktris terbaik di Korea (dia pernah dapat penghargaan Best Actress di Cannes). Di dukung oleh beberapa aktor yang juga cukup bagus track recordnya,, Park Sung-woong, Kwak Do-won…

shm234

Tapi jujur, setelah menonton film ini, saya merasa bahwa film ini tak seperti ekpektasi saya. Sama sekali bukan film yang buruk sebenarnya karena sinematografi bla blabla film ini digarap dengan baik didukung pula dengan akting para pemainnya yang juga oke semua. Hanya saja, menurut ceritanya agak terlalu ‘cheesy’ dengan eksekusi ending yang juga terasa menyebalkan untuk sekelas film yang mendapat banyak nominasi penghargaan. Tapi well, mungkin itu hanyalah pandangan subyektif saya yang juga sangat awam terhadap dunia perfilman. Di atas semua itu, film ini tetap layak tonton.

shmbb

Cast:
– Kim Hye-kyung
– Jung Jae-gon
Park Sung-Woong – Park Joon-kil
– Moon Ki-bum
Kim Min-Jae – Min Young-ki

Judul: The Shameless / The Rogue/ Moorwehan (무뢰한)
Sutradara/Penulis: Oh Seung-Uk
Produser: Guk Soo-Ran, Han Jae-Duk
Sinematografi: Kang Guk-Hyun
Premier: Mei 2015 (Cannes Film Festival)
Rilis: 27 Mei 2015
Durasi: 118 menit
Production Company: Sanai Pictures
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival:
– Cannes Film Festival 2015 – Un Certain Regard
– Busan International Film Festival 2015 – Korean Cinema Today: Panorama

Award:
PaekSang Arts Awards 2016:
– Best Actress (Jeon Do-Yeon)
– Nominasi: Best Director,

Daejong Film Awards (Grand Bell Awards) 2015:
– Nominasi: Best Director,

Blue Dragon Awards 2015:
– Nominasi: Best Actress (Jeon Do-Yeon), Best Cinematography & Lighting,

The Pirates

Desember 21, 2014 Tinggalkan komentar

Jang Sa-jung (), seorang prajurit kerajaan yang suka bertindak semaunya. Tak setuju dengan kebijakan kerajaan, ia memutuskan membelot dan kemudian membentuk kelompok bandit di hutan. Anggotanya hanya beberapa orang, itupun dipenuhi orang-orang setengah ‘gila’, seperti dirinya. Ketika kerajaan mengadakan sayembara menangkap paus yang telah menelan stempel kerajaan, mereka pun melakukan segala cara untuk melakukannya.

Kim Nam-gil yang jadi penyamun yang sedikit sableng ala Jack Sparrow

Kim Nam-gil yang jadi penyamun yang sedikit sableng ala Jack Sparrow

So-ma () adalah pemimpin bajak laut, Black Crow. Ia adalah bajak laut yang kejam dan haus kekuasaan. Dalam hal ini, ia bertentangan pendapat dengan Yeo-wol (), bajak laut perempuan yang tak setuju dengan kekedan kemudian bersama pengikutnya, membentuk kelompok bajak laut tersendiri. Hal yang membuat So-ma berang dan berniat untuk menghancurkannya. Di sisi lain, Yeo-wol bersahabat dengan para paus.

Son Ye-jin, si kepala bajak laut perempuan. Hmm, boleh juga aktingnya

Son Ye-jin, si kepala bajak laut perempuan. Hmm, boleh juga aktingnya

Empat kelompok ini pun kemudian akan bertemu di lautan, saling serang dan berebut kekuasaan.

Lee Kyoung-young yang selalu total

Lee Kyoung-young yang selalu total

Pirates of the Carribean versi Korea? Hihi…yah,mungkin bisa dibilang begitu. Tidak bisa disamakan tentu saja, tapi karakter Sa-jung yang agak ‘gila’ adalah karakter yang mau tak mau mengingatkan saya pada si Kapten sableng, Jack Sparrow, meski tentu saja perbandingannya cukup jauuuh. Dan hal ini, terus terang agak mengganggu karena saya cukup mengidolakan Jack Sparrow 😦

Ada idol "Sulli" yang jadi pemanis

Ada idol “Sulli” yang jadi pemanis

Ceritanya sendiri begitu-begitu saja, dan sepertinya memang film ini lebih ingin menonjolkan kecanggihan sinematografi, visual effect bla-bla, yang menurut saya, cukup berhasil. Action dan adegan-adegan peperangan di lautan, terlihat cukup meyakinkan. Untuk kesekian kalinya, saya harus mengakui kalau industri perfilman Korea Selatan agaknya memang semakin digarap dengan serius. Tapi bagi yang mementingkan cerita, film ini terasa agak kering. Afterall, lumayanlah.
prt2
Cast:
 – Jang Sa-jung
– Yeo-wol
Yoo Hae-jin – Cheol-bong
 – So-ma
 – Han Sang-jil
 – Mo Heung-gap
Park Chul-min – Biksu
Jo Hee-bong -Oh Man-ho
 – Heuk-myo
 – Jeong Do-jeon

Judul: The Pirates/Haejeok: Badaro Gan Sanjeok (해적: 바다로 간 산적)
Sutradara: Lee Seok-hoon
Produser: Im Young-ho, Chun Sung-il
Penulis: Chun Sung-il, Choi Yi-young
Musik: Hwang Sang-jun
Sinematografi: Kim Young-ho
Distributor: Lotte Entertainment
Rilis: 6 Agustus 2014
Durasi: 130 menit
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Grand Bell Awards 2014:
– Best Actress (), )
– Best Supporting Actor (Yoo Hae-jin)
– Nominasi: Best Cinematography, Best Art Direction, Best Costume Design, Best Lightiing, Techincal Award

Busan Film Critics Awards 2014:
– Best Actor ()

A Potrait of Beauty

Januari 19, 2011 Tinggalkan komentar

Shin Han-pyong, pelukis utama di Dohwaseo akan segera pensiun. Yang digadang menjadi penggantinya adalah pelukis muda berbakat, Kim Hong-do. Han-pyong menginginkan bahwa putranya yang seharusnya jadi pengganti, Shin Yun-bok. Namun putranya ini tak cukup berbakat dan akhirnya bunuh diri. Han-pyong menyalahkan putrinya, Yun-jeong, sebagai sebab kematian Yun-bok. Yun-jeong yang memang berbakat melukis, kemudian dipaksa untuk menyamar sebagai laki-laki–pada jaman itu, perempuan dilarang melukis–dan belajar melukis di istana bersama Kim Hong-do. Ia pun kemudian dikenal sebagai Hye-won, nama pena dari Shin Yun-bok. Yun-bok adalah murid kesayangan Hong-do karena bakatnya yang mengagumkan.

Shin Yun-jeong yang menyamar sebagai Shin Yun-beok, demi memenuhi ambisi ayahnya untuk jadi pelukis istana

Shin Yun-jeong yang menyamar sebagai Shin Yun-beok, demi memenuhi ambisi ayahnya untuk jadi pelukis istana

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian muncul Kang-mu, seorang penjual cermin. Karena ada tugas melukis ‘kehidupan rakyat biasa’, Yun-bok minta ditemani Kang-mu untuk melihat kehidupan rakyat biasa, yang memang kehidupan sehari-hari Kang-mu.  Mulai dari tukang pandai besi, perempuan penenun, pesta rakyat…tapi yang paling membuat Yun-bok terinspirasi adalah para perempuan yang sedang mandi sambil bersenda gurau di sungai.

Kim Hong-do dan Yun-bok

Kim Hong-do dan Yun-bok

Melukis para perempuan dengan segala sensualitasnya, ia seolah menemukan penyaluran dari jiwa femininnya yang selama ini tersembunyi rapat. Jika selama ini ia melukis lebih banyak dipengaruhi gaya gurunya, setelah kejadian itu ia segera menemukan gayanya sendiri. Ia melihat dua perempuan terkikik-kikik melihat anjing bercinta dan melukisnya, ia pergi ke rumah melihat suasana tarian telanjang yang erotis dan melukisnya…ia menuangkan seksualitas dalam lukisan. Dan tentu saja, hal ini membuat berang para pelukis konservatif hipokrit yang menuduhnya telah membuat gambar-gambar cabul yang merendahkan istana.

Pemandangan yang menginspirasi lukisan Yun-bok

Pemandangan yang menginspirasi lukisan Yun-bok

Kim Hong-do sendiri, yang paham benar nilai seni dalam lukisan muridnya, tak mampu menahan cemburu melihat kedekatan Yun-bok dan Kang-mu. Apalagi ketika kemudian ia tahu kalau Yun-bok ternyata perempuan. Ia pun berusaha untuk memisahkan mereka.

Well, film bertema ‘seni erotis (dan karenanya) kontroversial’ tentu saja bukan tema baru. Saya ingat ada Quills, yang mengangkat kisah tentang penulis ‘cabul’ Marquis de Sade. Cabul atau tidaknya suatu karya seni memang masih menjadi perdebatan, bahkan hingga sekarang (ingat bagaimana bebarapa waktu lalu kita heboh soal definisi pornografi dalam seni). Porno tidak, cabul tidak, memang terkadang sangat relatif. (Tapi saya setuju ketika ada yang mengatakan kalau kecabulan itu seringkali lebih pada otak manusia daripada suatu karya, kalau memang otaknya sudah ngeres, cabul, ya karya biasa saja bisa dicap cabul).

 

Dari segi akting dan alur cerita, film ini sebenarnya biasa saja. Meski antara Yun-bok dan Hong-do terjalin hubungan yang (seharusnya) kuat antara guru dan murid, tapi saya tak melihat hubungan yang kuat itu di antara keduanya. Juga sosok Kang-mu, dia adalah sosok pemuda pecicilan yang biasa didapati di banyak film-film tentang cinta antara ‘rakyat jelata’ dan kaum bangsawan. Tapi dari segi visual, saya cukup dimanjakan dengan gambar-gambarnya yang indah dan warna-warni (adegan erotisnya menurut saya juga lebih bernilai ‘art’ daripada cabul). Saya pikir, judul ‘potrait of beauty’ cukup cocok untuk film ini.

Hubungan romantis Yun-bok & Kang-mu yang membuat Kim Hong-do cemburu

Hubungan romantis Yun-bok & Kang-mu yang membuat Kim Hong-do cemburu

Note:
Film ini juga pernah dibuat versi drama dengan judul ‘The Painter of Wind (2008), yang dibintangi Mon Geun-yeong sebagai Yun-bok dan Park Shi-yeon sebagai Kim Hong-do.

/ Kim Min-sun, Shin Yun-Bok / Shin Yun-Jeong
,  Kim Hong-Do
,  Kang-Mu
,  Sul-Hwa

Sutradara:
Penulis: Han Su-Ryeon, Kee Jung-myeong (novel)
Produser: David Cho
Sinematografi: Park Hee-Ju
Rilis: November, 2008
Durasi: 108 min.
Distributor: CJ Entertainment
Judul Asli: Miindo

Awards:
-Pemutaran di Fantasia Film Festival 2009
– Best Cinematography – 2009 (46th) Daejong Film Awards

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar