Arsip

Posts Tagged ‘Jin Goo’

Film-Film Yang Kurang Berkesan

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Sering saya penasaran dengan film-film lama yang dibintangi aktor/aktris yang sekarang sudah jadi bintang papan atas, karenanya kemudian saya tonton. Tapi ternyata beberapa film-filmnya tidak terlalu mengesankan, sehingga saya agak malas mengulasnya, jadi saya rangkum saja di sini.

1. The Legend of Seven Cutter ( Korea Selatan, 2006).  Penasaran sama film ini karena nama . Sejak melihatnya di , sebagai si tomboy Eun-chan, saya berkesimpulan bahwa Yoon adalah aktris yang tidak hanya cantik, tapi juga berbakat. Sayang, belakangan karirnya cenderung meredup, dan drama-drama yang dibintanginya juga banyak yang kurang bagus. Yoon memang lebih dikenal sebagai pemain drama, tapi ada  juga beberapa filmnya, salah satunya film ini, dimana ia berperan sebagai Han Min-joo (), cewek tomboy (lagi!) di sekolah yang kemudian jatuh cinta sama cowok culun, Jung Han-soo. Dan sebenarnya, tokoh utama di film ini adalah Han-soo (diperankan oleh aktor Ahn Jae-mo).

the-legend-of-7-cutter

the_legend_of_seven_cutter-avi_000971663

Han-soo ini murid pindahan dan rumor beredar bahwa Han-soo ini adalah si legendaris ‘seven cutter’ preman sekolah yang meninggalkan 7 sayatan cutter ke korbannya. Desas-desus ini pun menimbulkan rasa penasaran dan gentar di kalangan murid-murid lain, termasuk si preman sekolah, Baek Seung-gi dan juga pemimpin geng cewek, Han Min-joo. Dan hal yang aneh adalah bahwa sehari-hari, Han-soo adalah cowok yang selalu terlihat culun. Dan rumor-rumor tentang dirinya, kemudian menyelamatkan dirinya untuk ‘survive’ di lngkungan baru, termasuk mendapat pacar, tentunya. Ehm, sejujurnya saya tak bisa mengikuti film ini secara penuh, beberapa adegan saya skip karena terasa membosankan. Garis besar ceritanya lumayan, tapi plotnya terkesan tidak konsisten. Yoon bermain bagus sebagai si tomboy Min-joo, tapi saya tidak bisa menyukai karakter Jung Han-soo, yang menurut saya terlalu ‘beruntung’. Karakter-karakter lain juga terasa tidak terlalu berarti.

2. Last Present (Korea Selatan, 2001)
Dua pemainnya adalah bintang favorit saya, dan . saat ini adalah salah satu  nama besar di dunia perfilman Korea. Film-filmnya nyaris selalu ngehits. Sementara , meski tidak terlalu produktif, tapi juga film maupun dramanya juga bagus-bagus. Tapi film ini dibuat ketika keduanya masih cukup muda, dan belum setenar sekarang.

the-last-present-2001-dvdrip-xvid-avi_002743675

Cerita film ini adalah tentang suami istri Yong-gi ( ) dan Jung-yeon (). Hubungan mereka buruk setelah kematian anak mereka. Yong-gi yang bekerja sebagai komedian, karirnya sedang terseok-seok. Di sisi lain, Jung-yeon ternyata mengidap penyakit mematikan. Dan demi cintanya pada Yong-gi merahasiakan sakitnya dan atas nama cinta juga, selalu marah-marah pada Yong-gi. Oke, well. Pada titik ini, saya mulai skip-skip. Di awal-awal saya cukup bisa menerima pertengkaran antara Yong-gi dan Jung-yeon, karena berpikir bahwa mereka depresi setelah kematian anaknya. Tapi semakin kesini, menjadi terlalu melelahkan dan alasan kemarahan Jung-yeon pada Yong-gi menjadi terasa bodoh. Demi cinta, pura-pura benci, terus marah-marah, dan merahasiakan bahwa dirinya sekarat? Bagi saya, hal seperti itu benar-benar terasa bodoh. Bukannya kalau cinta justru harus saling berbagi ya? Tidak ada yang salah dengan akting dua Lee, tapi ya itu, ceritanya terkesan bodoh dengan ending yang juga bisa ditebak.

3. The Letter (Korea Selatan, 1997).

the-letter-1997-dvdrip-xvid-avi_000485384

Tak sengaja nemu film ini dari koleksi lama. Ketika lihat ada nama , memutuskan untuk menonton. Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan Park, tapi selama ini cukup familiar dengan namanya. The Letter berkisah tentang seorang laki-laki  (diperankan oleh Park, saya lupa siapa namanya di sini) yang jatuh cinta dengan seorang dosen muda (Choi Jin-sil). Setelah beberapa kejadian romantis, mereka akhirnya menikah. Tapi kemudian si suami divonis sakit parah dan umurnya tak lama lagi. Dan sebagai umumnya film bergenre melodrama romantis, si istri kemudian akan merawat si suami dengan penuh cinta hingga meninggal. Filmnya sendiri sebenarnya tidak buruk dengan adegan-adegan mannis yang terasa klasik dan romantis. Tapi karena cerita utamanya adalah cerita yang sudah ada dalam 1001 film/drama Korea, saya pun ogah-ogahan menonton film ini.

4. ESP Couple (Korea Selatan, 2008).

Belakangan, saya memfavoritkan aktris . Menurut saya dia adalah salah satu aktris muda Korea yang sangat berbakat dan hebat. Sejak usianya masih sangat muda, ia sudah wara-wiri jadi tokoh utama di film. Dan di usianya yang masih muda sekarang, ia sudah menyejajarkan diri dengan bintang-bintang besar dalam perfilman Korea. Ia seolah tak pernah ‘gentar’ beradu akting dan selalu berhasil membangun chemistry dengan aktor-aktor besar yang bahkan usianya seringkali terpaut jauh dengannya. Harus saya, akui, tak semua film-film yang dibintangi Park bagus, tapi tetap saja saya penasaran dengna fim ini. Apalagi di film ini, lawan mainnya adalah , yang saya ketahui, juga aktor yang bagus.

sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_000724235
Filmnya berkisah tentang Su-min (), mahasiswa kuper yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang. Tapi karena takut dianggap aneh, ia tak pernah menggunakan kemampuannya ini. Suatu hari, ketika ada kasus kriminal, tibatiba ia didatangi cewek SMA ceriwis, Hyun-jin () yang selalu  mengikutinya kemana-mana. Tidak hanya itu, karena Hyun-jin juga memintanya untuk kembali mengasah kemampuannya membaca pikiran orang.
sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_001149232
Premis ceritanya sebenarnya lumayan, tapi plotnya terasa membosankan dan digarap ogah-ogahan. Bagaimana tidak, kalau 80% bagian film ini isinya cuma latihan membaca pikiran dan nyaris tak ada kejadian penting apa-apa. Latarnya juga minimalis. Menurut saya,  satu-satunya hal yang membuat film ini agak bernyawa adalah akting , sebagai si gadis SMA yang enerjik dan yah, juga lumayan meski karakternya memang sedemikian rupa. Setelah menonton film ini, saya pun paham kenapa film ini seperti terlupakan.

5.  Don’t Click (Korea Selatan, 2012)
Lagi-lagi karena saya penasaran sama film ini. Mengabaikan ketidaksukaan saya sama film horror. Film ini bercerita tentang Se-hee (), seorang pramuniaga toko yang tinggal bersama adiknya yang masih SMA, Jeon-mi. Se-hee punya pacar seorang mahasiswa komputer, Joon-hyuk (,). Se-hee selalu merasa dirinya diawasi, dan membuatnya tak nyaman. Di sisi lain, Jeon-mi sangat suka membuat video pribadi dan menguploadnya ke youtube. Ia juga sangat senang menonton video-video di internet. Suatu hari, ia minta Joon-hyuk untuk memberinya kopian film-film yang diblokir internet. Ia mendapat kopian berisi rekaman kekerasan dan ternyata video itu… berhantu. Jadi kalau selama ini film hantu biasanya mengetengahkan hantu yangkemampuannya menghilang atau terbang-terbang, di sini hantunya bisa internetan dan upload video. Canggih kan?

 

dont-click-4
Well, oke. Sudah. Cukup sampai di situ saya menyerah.  Sekuat apapun saya memaksakan diri untuk melanjutkan menonton, saya benar-benar tak bisa menikmatinya. Logikanya nggak masuk ke kepala saya. Memang sih, dalam film hantu, semua kemungkinan bisa saja terjadi, tapi saya tetsp sulit menerima kemungkinan itu. Saya sendiri tak habis pikir kenapa aktris sekelas dan juga ,, mau main di film seperti ini. Ehm, tapi itu subyektif saya yang nggak suka film horor sih, bagi yang suka mungkin punya pendapat lain.

Film lainnya…

The Stolen Years (2013, China). Film ini berkisah tentang seroang perempuan cantik Hei Man (diperankan oleh Bai Baihe), yang baru tersadar dari komanya selama sebulan karena kecelakaan. Namun ia mengalami amnesia. Ia hanya mampu mengingat kejadian lima tahun yang lalu, ketika ia berbulan madu bersama suaminya (diperankan oleh ). Kenyataannya, sekarang ia dan suaminya sudah bercerai. Karena perasaannya masih perasaan 5 tahun lalu yang sangat mencintai suaminya, ia pun kemudian menelusuri kembali kejadian-kejadian lima tahun yang terlupakan, termasuk alasan perceraiannya dengan sang suami.
the-stolen-years-2013-hdtv-720p-x264-aac-phd-mp4_000310182
Sebenarnya, tak berekspektasi apa-apa ketika memutuskan untuk nonton film ini. Dan semata karena melihat posternya yang menarik dan ingin membuat variasi tontonan saja. Dan seperti posternya, pada bagian-bagian awal, ceritanya terasa segar dan membuat penasaran didukung gambar yang begitu resik. Tapi ternyata semakin ke belakang, ceritanya menjadi semakin mellow. Spoiler: ini adalah tentang penyakit alzheimer. Tidak buruk, tapi saya sudah cukup banyak menonton film dengan tema alzheimer, karenanya, saya jadi tak bisa menikmati film ini.

Girl in Pinafore (.Singapura, 2015) Saya tak terlalu familiar dengan film-film Asia Tenggara, kecuali Thailand, yang tak terlalu saya gemari. Saya iseng saja sih nonton film ini, ingin coba melongok perfilman negara tetangga. Film ini berkisah tentang  geng remaja SMA cowok.

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_000358961

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_001994314

Mereka adalah murid-murid sekolah yang biasa saja, berasal dari keluarga biasa saja. Lalu suatu hari mereka ikut audisi band, lalu ketemu sama cewek yang pintar main musik dan nyanyi dan band mereka sukses… Yah, ceritanya sangat khas film remaja dan sayangnya tak ada yang baru. Ceritanya terasa sangat standar. Tentang geng murid-murid culun, lalu jadi keren karena main band, terus dapat cewek… terlalu mirip dengan film yang sudah-sudah, seperti campuran , American Pie, dan entah apa lagi 😦

Iklan

Descendants of the Sun

Juni 1, 2016 4 komentar

Yoo Shi-jin) adalah seorang kapten tentara pasukan khusus. Ia terbiasa dengan tugas-tugas negara yang sulit dan berbahaya sekaligus rahasia. Sementara Kang Mo-yeon () adalah seorang dokter bedah di sebuah rumah sakit. Sebuah ‘kebetulan’ mempertemukan mereka dan dalam waktu singkat, saling jatuh cinta (meski saya tak suka dengan ide jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi di sini cukup masuk akal karena Kang Mo-yeon yang cantik dan Shi-jin yang menarik).

descendant7

The lovable Song Joong-ki

Ketika keduanya sepakat untuk mulai menjalin hubungan, masalah mulai muncul terkait dengan profesi Shi-jin.  Sebagai tentara pasukan khusus, ia harus siap pergi setiap saat untuk menjalankan tugasnya dan tidak bisa berterus terang tentang misi-misinya pada Mo-yeon. Selain itu, profesi mereka juga bertolak belakang: Mo-yeon sebagai dokter yang bertugas menyelamatkan orang sedangkan Shi-jin adalah tentara yang kadang harus membunuh orang.
descendant2
Namun cinta di antara keduanya semakin kuat ketika mereka sama-sama bertugas di sebuah negara pasca perang di Timur Tengah (negaranya fiktif). Mo-yeon memimpin relawan medis dan Shi-jin sebagai kapten pasukan penjaga perdamaian. Di tengah menjalankan tugas profesi mereka, mereka berdua pun berusaha untuk lebih saling memahami dan menerima satu sama lain.

Saya menyukai dua cast utamanya, dan  . Meski begitu, ketika mendengar kabar bahwa keduanya akan dipasangkan dalam satu drama, saya merasa cukup khawatir dan meragukan chemistry mereka. Meskipun tetap terlihat cantik dan awet muda dan usia keduanya tak terpaut terlalu jauh ( 34 dan   31), tapi   memiliki tampang yang cukup imut-imut. Di sisi lain, cerita drama ini juga terasa tidak terlalu kuat. Apalagi juga, saya baca kalau penulis drama ini adalah penulis yang sama dengan penulis drama , (yang menurut saya salah satu drama dengan cerita yang buruk) dan Secret Gardens (yang hanya sanggup saya tonton separuh-separuh). Meski begitu, saya tetap meanantikan drama ini dengan sedikit harap-harap cemas. Akan sangat disayangkan kalau dua bintang yang lovable ini ‘jatuh’ dalam drama yang buruk.
descendant4
Saya mengikuti resensi drama ini sejak episode pertama dan merasa lega, karena ternyata reviewnya begitu positif. Tak tanggung-tanggung, karena drama ini segera saja menjadi tren dan meraih rating tertinggi di masa penayangannya di negara Korea sono. Saya tak tahu, apa itu karena nama besar dua pemeran utamanya, dan   atau memang karena ceritanya yang dianggap benar-benar menarik.

Saya pribadi, meski cukup senang dengan bagusnya penerimaan publik pada drama ini, tapi jujur, sebenarnya saya tidak terlalu menyukai cerita drama ini. Tokoh tentara dan latar perang, adalah hal yang cukup baru dalam drama Korea dan cerita drama ini juga berusaha mengetengahkan isu-isu kemanusiaan, namun entah bagaimana saya merasa eksekusinya terlalu cheesy. Sosok prajurit Yoo Si-jin digambarkan sebagai sosok superhero yang selalu terlibat dalam hal-hal penting dan mampu menyelesaikan masalah dengan sempurna.

descendant

Jin Goo, aktor yang cukup senior yang baru mendapat popularitas 🙂

Konflik-konfliknya juga terasa terlalu drama (si antagonis Argus) dan klise. Hal lain yang agak mengusik saya adalah chemistry antara dan  . Bagaimanapun mereka seperti berusaha keras untuk menunjukkan romance antara Yoo Si-jin dan Kang Mo-yeon, tapi saya masih merasa bahwa keduanya terasa kurang pas sebagai pasangan. Belum lagi eksekusi adegan-adegan romance di antara keduanya yang kadang juga terasa kurang elegan. Juga romance antara dan , yang begitu ramai dibicarakan oleh netizen, menurut saya juga biasa-biasa saja. Dan untuk hal ini, tentu yang bermasalah adalah script/penyutradaraaannya.

Khusus untuk , saya agak merasa lucu karena lewat drama ini tiba-tiba dia menjadi begitu populer. Sebagai penggemar sinema Korea saya sudah cukup familiar dengan , meskpipun selama ini dia bisa dibilang spesialis 2nd man, tapi kemampuan aktingnya tidak perlu diragukan dan dia sudah cukup lama wara-wiri berakting di film berkualitas ( . Justru di drama ini, menurut saya aktingnya biasa saja tapi disini  dia dipuja-puji. Sementara untuk , yah menurut saya dia berakting cukup bagus, meski saya kurang menyukai karakternya di drama ini.
descendant1
Meski begitu, di atas segala kekurangannya, sekali lagi saya cukup puas dengan popularitas drama ini dan puja-puji pada para cast-nya. Saya cukup menyukai dua karakter utamanya, Yoo Si-jin dan Kang Mo-yeon. Saya senang karena baik   maupun sama-sama mendapat peran utama dengan eksplorasi karakter yang berimbang. Dan saya senang bagaimana melihat bahwa bagi keduanya, tidak melulu hubungan cinta mereka yang utama, tapi profesi mereka sebagai prajurit dan dokter.  , menepis keraguan publik dengan tampang imutnya, mampu memerankan sosok Yoo Si-jin yang manly dan juga bermain baik sebagai seorang dokter yang dedicated sekaligus sosok cewek sassy. saya juga lega dengan jumlah episodenya yang standara, 16 episode, meskipun begitu populer. karena drama ini memang konon pre-produksi.

descendant6

Whatever, feeling happy for their high popularity

Yah, bagi penggemar drama Korea, drama ini tetap wajib tonton! 🙂

Cast:
– Yoo Shi-jin
– Kang Mo-yeon

– Seo Dae-young
– Yoon Myeong-joo

Kang Shin-Il – Jendral Yoon (ayah Myeong-joo)
Kim Byung-chul – Park Byung-soo (atasan Shi-jin)
Kim Min-suk – Kim Ki-bum
– Dr Song
Seo Jung-yeon – Ha Ja-ae
Onew – Lee Chi-hoon
Park Hwan-hee – Choi Min-ji
Hyun Jyu-ni – Pyo Ji-soo (dokter teman Mo-yeon)
Tae In-ho – Han Suk-won (kepala RS)
Park Ah-in – Kim Eun-jjji
Joo Woo-ri – Jang Hee-eun
Cho Tae-kwan – Danielle
Jeon Soo-jin – Ri Ye-hwa
David McInnis – Agus
– part-time worker (ep.1)
– Pegawai bank (episode 13)
Red Velvet (episode 16)

Park Hoon – Choi Woo Geun
Choi Woong – Kong Chul-ho
Ahn Bo-hyun – Im Gwang-nam

Judul: Descendants of the Sun / Taeyangui Hooye (태양의 후예)
Sutradara: Lee Eung-Bok
Penulis: Kim Eun-Sook, Kim Won-Suk
Tayang: KBS2 24 Februari – 14 April 2016
Episode: 16

 Awards:
Baeksang Art Awards 2016:
– Grand Prize
– Nominasi: Best Drama, Best Director, Best Actor (), Best Actress ( ), Best Screenplay
– Most Popular Actor & Actress ( , )
– iQiyi Global Star ( , )

Northern Limit Line

April 6, 2016 Tinggalkan komentar

NLL (Northern Limit Line) adalah garis batas laut yang memisahkan Korea Utara & Korea Selatan. Karenanya, garis iniselalu siaga dijaga oleh angkatan laut dari masing-masing pihak. Sebagai garis batas, tentu tempat ini merupakan tempat yang rawan bentrok. Dan film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di garis batas ini, bertetapan dengan berlangsungnya Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan di Korea Selatan.

nll

Film ini menceritakan sepasukan tentara AL yang bertugas di atas kapal untuk menjaga NLL. Ada si nakhoda kapal, Han Sang-kook ( ), staff medis yang masih ‘hijau’ Park Dong-hyeok ( ), serta kapten baru, Yoon Young-ha (). Kapten Yoon adalah kapten muda yang dingin dan kaku. Ayahnya juga seorang tentara elit yang kemudian diturunkan jabatannya karena tak sanggup menembak musuh. Sedangkan Han Sang-kook adalah nakhoda loyal yang hangat dan dicintai semua orang, tapi memiliki masalah pada tangan kanannya sehingga terancam dimutasi. Sementara Dong-hyeok adalah kapten muda lulusan kedokteran gigi, seorang anak manis dari seorang ibu tunawicara.

nllm

nll9

Di tengah gempita dan euforia Piala Dunia, suasana di garis batas ini mendadak menjadi menegangkan ketika terjadi serangan. Bentrok tak terelakkan. Para prajurit ini pun tak punya pilihan lain selain menjadi garda depan dalam peperangan kecil ini.

nllf

Hmm, selalu miris melihat perang yang terasa konyol. Tapi film ini sendiri menurut saya bukan sebagai film perang, tapi seperti sebuah film yang didedikisikan untuk para korban dalam serangan tersebut. Tentu saja, sebutan pahlawan adalah hal yang sangat relatif, tergantung dilihat dari pihak siapa. Tapi apapun, saya merasa salut dengan Korea Selatan yang menghormati pahlawannya melalui film ini.

Northern_Limit_Line-001

Untuk para pemainnya, seperti umumnya film perang, tak ada karakter yang menonjol, meski begitu tokoh-tokoh di sini tetap ditampilkan sebagai karakter yang memiliki banyak dimensi. Di sini ada , dan yang menurut saya bermain apik dan pas. Dan salut juga karena film ini sebagai sebuah karya sinematografi menurut saya juga digarap dengan baik dengan kualitas cerita, plot dan gambar yang mebuat film jauh dari kering.

Note:
Film ini didasarkan pada insiden “Second Battle of Yeonpyeong” yang terjadi pada 22 Juni 2002, ketika kapal patroli Korut melanggar batas dengan menyebarangi wilayah perairan Korsel, dan menyerang kapal Korsel, Chamsuri 357. Insiden ini terjadi pada malam final Piala Dunia. Enam prajurit terbunuh dan 18 terluka. (sumber: asianwiki.com)

Cast:
– Kapten Yoon Young-ha
– Sersan Han Sang-kook
– Park Dong-hyeok
Lee Wan – Mayor Lee Hee-wan
– Kapten Choi
Chun Min-hee – Ji-sun
Kim Hee-jung – ibunya Dong-hyeok
Judul: Northern Limit Line / Battle of Yeonpyeong/ Yeonpyeong Haejeon (연평해전)
Sutradara: Kim Hak-Soon
Penulis: Kim Hak-Soon
Produser: Kim Hak-Soon, Park Se-Hwan, Jung Moon-Gu
Sinematografi: Kim Byung-Il
Rilis: 24 Juni 2015
Durasi: 130 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

C’est si bon, Soundtrack

Maret 21, 2016 2 komentar

Seperti saya tulis di artikel sebelumnya, salah satu kekuatan film adalah musiknya yang keren dan yang menjadi makin keren adalah bahwa seluruh lagu yang menjadi soundtrack film ini dinyanyikan oleh para aktor pemerannya di film. Dan suara mereka tidak kalah keren dari para penyanyi sungguhan (atau justru malah lebih keren dari suara beberapa penyanyi sungguhan?). Lagu-lagu yang dibawakannya juga sangat asyik didengar, bernuansa folk akustik yang terasa nostalgis tapi juga tetap terasa everlasting didengar sekarang.
c'es si bon-poster
Yang menarik adalah bahwa hampir semua aktor utama yang main di sini sumbang suara, mulai dari , , , , , , dan . Dan hampir semuanya punya suara yang enak di dengar. Bisa dipahami sih karena ternyata beberapa aktor ini juga dikenal sebagai aktor ( , , , ),panggung musikal yang menuntut mereka untuk punya kemampuan menyanyi.

sb3

Twin Folio

Karena sebagian cerita film ini mengetengahkan cerita tentang Twin Folio, band Korea yang sungguhan ada, maka lagu-lagu yang menjadi ost film ini adalah lagu-lagu yang dulunya dinyanyikan oleh Twin Folio. Saya coba-coba browsing di internet, tapi tak banyak informasi dalam bahasa Inggris tentang siapa itu Twin Folio, selain bahwa mereka adalah duo yang beranggotakan Chang-Shik dan Yoon Hyong-Jo. Twin Folio populer pada tahun ’70an-’80an. Lagu-lagu yang mereka bawakan umumnya adalah lagu-lagu Barat populer pada masa itu yang kemudian digubah dalam versi Korea, seperti lagu Wedding Cake-nya Connie Francis dan White Handkerchief-nya Nana Mouskuri. Perpaduan instrumen akustik dan vokal keduanya yang unik menjadi kekuatan khasnya Twin Folio.

Meski hampir semua aktor ikut sumbang suara,namun dua  pemeran Twin Folio di film, dan , bisa dibilang sebagai pengisi utama soundtrack dan menurut saya adalah pilihan yang sangat tepat karena keduanya memang memiliki suara yang bagus.

Sejak penampilannya di drama yang juga mengetengahkan tentang musik, Monstar, saya tahu bahwa memang sungguhan bisa menyanyi dan main alat musik (terutama gitar). Kang memang mengawali karirnya di panggung musikal. Ia memiliki suara tipis yang khas. Di film ini dia cukup jor-joran menyumbang suara dan saya sama sekali tak keberatan karena dia selalu terlihat keren ketika mulai menyanyi dan main gitar. Dan kalau didengar-dengar, Kang ini memang memiliki suara dan penampilan yang mirip sama sosok yang diperankannya, Yoon Hyung-jo. Iseng saya browsing di internet dan menemukan upload-an di Youtube ketika ia (bersama dan ) dipertemukan dengan Yoon Hyun-jo di sebuah acara variety show (Hui Yool Sketchbook) dan Yoon memuji-muji vokal Kang.

csb9.jpg

Jo Bok-rae, si pendatang baru yang cukup mencuri scene

adalah nama baru bagi saya. Ketika melihat penampilannya di sini, saya terus bertanya-tanya, siapa dia? Dan ya, ternyata dia memang pendatang baru dalam dunia perfilman. Seperti Kang, Jo ini juga dikenal sebagai aktor panggung. Selain aktingnya yang cukup berhasil mencuri scene di film, ia juga memiliki suara tenor yang penuh dan powerfull.

Sementara untuk aktor lain, juga tak kalah keren. , cukup membuat saya terkejut karena saya tak menyangka kalau ahjussi berwajah serius ini punya suara bagus. Suaranya agak husky yang empuk dan enak didengar.

sb13

Kim Yun-seok yang ternyata punya vokal oke

Dua pemeran utamanya yang selama ini dikenal sebagai aktor populer, dan juga sumbang suara. Dan jujur, keduanya mewakili ketidaksukaan saya pada aktor yang menyanyi. Mereka tidak punya cukup kemampuan menyanyi tapi menyanyi. Jung Woo memiliki suara bariton yang berat tapi juga terdengar masih sangat mentah dan fals. Demikian juga  yang suaranya terasa sangat pas-pasan.

csb34

Twin Folio versi Kang Ha-neul dan Jo Bok-rae yang ternyata juga keren bingits 🙂

Well, di antara jajaran lagu bagus di film ini, favorit saya adalah duet dan di lagu White Handkerchief (hayan sonsugeon). Di lagu ini, suara tenor Jo yang powerful berpadu apik dengan suara tinggi Kang , plus petikan instrumen akustik yang kental, membuat lagu ini benar-benar terdengar indah. Menurut saya, dan adalah pasangan duet yang sangat pas. Mendengarkan lagu ini, membuat saya berharap bahwa suatu saat nanti keduanya benar-benar menelurkan lagu atau album berdua. Hehe.

csb00

Kim Hee-ae yang ternyata punya suara keren

Wedding Cake adalah lagu kedua yang saya suka. Lagu ini seolah menjadi lagu tema  film ini. Versi asli lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Amerika, Connie Francis. Di film, lagu ini dinyanyikan dalam dua versi, versi duet & Jang Hyun-sung dan versi . Menurut saya keduanya sama-sama bagus meski saya lebih suka versi , karena karakter vokal yang melengkapi nuansa oldies lagu ini.

Lagu berikutnya yang cukup saya sukai adalah When The Saints Go Marching In yang di sini dinyanyikan oleh Trio C’est si bon (versi asli lagu ini dinyanyikan Louis Amstrong). Vokal dan disini dilengkapi dengan vokal yang bariton dan memberi nuansa ‘jenaka’ pada lagu.

Berikut list lagu yang mengisi film ini:

1.When The Saints Go Marching In – Trio C’est si bon ( , , )
2.Wedding cake –  , Jang Hyun-sung vers.
3. White Handkerchief (hayan sonsugeon),
4.Daeege modu deulil
5. Wedding Cake .vers.
6.  Let’s Forget It (Ijen ijgilo haeyo)  –
7. jogaekkeobjil mukk-eo (Shells tie?) –  ft. Ukelele Picnic
8. sarnghaneun ma-eum (Loving Hearts/),
9. na geudaeege modu ?eulili  – ,
10. Daydream (Baek ilmong), ,
11.  It’s Love (Sarangiya) – Jo Bok-rae
12. It’s You (geugeon neo)  –
13. Delilah
14. na geudaeege modu deulili – ,
15. V.A – C’est si bon (뉴쎄시봉)
16. V.A – Call of Love/sarang-uijeonhwa (Ja-young theme)
17. V.A. – 충무에서 LA공항까지
18. V.A. – 슬픈 프로포즈
19. V.A. – 그때 그시절 (자영, 근태 테마)
20. V.A.  – 20년전 진실
21. V.A.  –  근태 테마
22. V.A. – 사랑하는 사람들은 늙지 않는다 (40대 테마)
23. V.A. – 데이트 (자영 테마)

Beberapa lagu yang juga muncul di film ini tapi tidak masuk ost list adalah:
1. My Bonnie Lies over the Ocean. Lagu ini adalah lagu pertama yang dibawakan oleh Yoon Hyung-ju (Kang Ha-neul) di kafe.Lagu ini aslinya adalah lagu folk Scotlandia dan sudah dinyayikan oleh banyak penyanyi.
2. You Mean Everything to Me. Lagu ini juga dinyanyika oleh Kang ketika berkompetisi dengan Chang-sik di kafe. Ini adalah lagu romantis klasik yang aslinya dinyanyikan oleh Neil Sedaka.

C’est si bon

Maret 20, 2016 Tinggalkan komentar

C’est si bon adalah sebuah kafe di daerah Mugyo-dong, Seoul, pada tahun ’60-an. Kafe ini membuat pertunjukan musik live dengan menampilkan musisi-musisi muda berbakat pada masa itu. Salah satu bintang panggung yang terkenal adalah Yoon Hyung-joo (, seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Yonsei. Karena desakan ayahnya untuk lebih konsen pada pendidikan, Hyung-joo kemudian memutuskan untuk berhenti manggung. Di saat bersamaan, muncul Song Cang-shik (, mahasiswa Universitas Hongik berpenampilan nyentrik dan memiliki karakter suara unik.
csb2

csbz
Merasa termotivasi oleh Cang-shik, Hyung-joo pun urung undur diri. Sang presiden kafe, Kim Choon-sik, yang mengagumi musikalitas keduanya, kemudian berkeinginan untuk membentuk duet. Namun karena karakter keduanya yang sulit disatukan, diputuskan untuk membuat trio saja, dimana orang ketiga berfungsi sebagai pelengkap karakter vokalnya. Lee Jang-hee (, si produser, secara tak sengaja sudah menemukan karakter suara yang pas.

csbo

Dia adalah Oh Gun-tae (, mahasiswa dari daerah yang nyambi sebagai petugas cleaning service. Berbeda dari kedua anggota yang memiliki pengetahuan musik bagus, modal pengetahuan musik Gun-tae hanyalah sebagai penyanyi gereja ketika kecil. Maka, kehadirannya pun sulit diterima oleh Yong-ju dan Cang-shik. Hingga kemudian muncul Min Ja-young (, gadis cantik pemain teater yang bermimpi untuk jadi aktris besar. Kehadiran Ja-young membuat ketiganya ingin menunjukkan kemampuan mereka dan mereka pun kemudian kompak dalam trio yang dinamai C’est Si Bon.
csbh

sb17
Meski masing-masing berusaha mendapatkan perhatian Ja-young, tapi ternyata Gun-tae yang lugu lah yang berhasil merebut hati Ja-young. Kisah cinta keduanya berjalan manis, seiring semakin populernya C’ets si bon yang kemudian siap membuat album debut. Sayang, semua itu hanya berlangsung sementara. Ja-young, demi mewujudkan mimpinya menjadi aktris besar, terpaksa menerima cinta seorang sutradara terkenal (dan meninggalkan Gun-tae. Gun-tae patah hati dan menghilang entah kemana.Si produser pun kemudian secara kilat mengganti trio menjadi duo yang kemudian dinamai Twin Folio. Karena memang anggotanya adalah dua orang yang sama berbakat, Twin Folio segera saja sukses. Sayang, hal ini pun juga tak bertahan lama. Kondisi politik masa itu yang begitu ketat dan kaku, melakukan sweeping dan menangkap mereka yang diduga pernah menghisap ganja, hal yang agaknya umum dilakukan oleh para seniman pada masa itu. Anggota Twin Folio bersama Jang-hee ditangkap. Kafe C’est si bon pun gulung tikar.
csbam

csbpn
Tapi cerita sendiri tidak akan berhenti di sini, karena cerita akan melompat ke masa 20 tahun kemudian dan cerita justru akan lebih fokus pada kisah cinta tak sampai antara Gun-tae ( dan Ja-young (yang dipertemukan kembali ketika keduanya berada di Amerika. Cerita yang justru membuat saya mengernyitkan kening. Film tentang musik yang terasa cukup solid di separoh cerita, tiba-tiba berubah menjadi cerita cinta yang terasa klise. Cerita musik pun kemudian hanya menjadi sampingan yang tak berarti. Karena saya sempat membaca sekilas kalau film ini terinspirasi dari kisah nyata, meski agak mengusik cerita, saya berusaha menikmatinya karena mungkin memang demikian ceritanya

csb1

sb12.

Tapi setelah saya baca-baca lagi ulasan di internet, ternyata kisah cinta Ja-young -Gun-tae itu fiktif dan yang kisah nyata justru adalah Twin Folio. Hal yang membuat saya tak habis pikir, kenapa sang sutradara justru lebih memfokuskan pada cerita fiktif daripada kisah nyata saja? Pun cerita fiktifnya juga terasa klise pula. Kenapa sih sutradaranya tidak fokus saja ke cerita tentang musik?  Sungguh sangat disayangkan karena menurut saya, film ini punya potensi menjadi film musik yang kuat.  Saya pikir jatuh bangun Twin Folio dan latar politik masa itu bisa menjadi fokus yang menarik. Karakter dua personelnya, Hyung-joo dan Chang-sik, cukup bisa dijadikan bahan yang kuat untuk mendukung cerita. Sayang sekali 😦
csb97
Meski begitu, sebenarnya ini juga bukan film yang buruk, kok. Apalagi cast-nya adalah jajaran aktor papan atas Korea, mulai dari , , , , , , , … yang menurut saya bermain dengan baik meski ya itu tadi, beberapa tokoh tidak ada ruang untuk eksplorasi karakter mereka dengan lebih mendalam. Selain itu, sebagaimana umumnya film tentang musik, film ini juga terasa cukup musikal, bertaburan lagu keren tahun 60-an yang bernuansa folk akustik. Dan menariknya lagi, lagu-lagunya dinyanyikan sendiri oleh para aktornya.

sb6

Biasanya, saya agak terganggu dengan aktor yang memerankan sosok musisi dan harus menyanyi karena seringkali suara mereka pas-pasan. Tapi tidak di sini, karena para aktor yang menyanyi di sini memang memiliki suara keren. Ya bisa dipahami, karena aktor-aktor yang main di film ini kebanyakan adalah aktor yang berlatar belakang sebagai aktor teater/ musikal yang memang dituntut untuk sungguhan bisa menyanyi. Mulai dari , , … Sedikit agak dipaksakan mungkin adalah dan yang juga ikut sumbang suara dan suara keduanya terdengar begitu alakadarnya, tapi masih tertutupi oleh suara yang lain kok.

Cast:
– Oh Gun-tae
– Oh Gun-tae (tua)
– Min Ja-young (muda)
– Min Ja-young (tua)

– Lee Jang-hee
Jang Hyun-Sung – Lee Jang-hee (tua)
– Yoon Hyeong-joo
– Song Chang-sik
Kwon Hae-Hyo – Kim Choon-sik
– Jo Young-nam
– sutradara
Ahn Jae-hong – Byung-chul

Judul: C’est si bon/ Sseshibong (쎄시봉)
Sutradara/Penulis: Kim Hyun-Seok
Produser: Lee Woo-Jung, Kang Myung-Chan
Sinematografi: Lee Mo-Gae
Rilis: 5 Februari 2015
Durasi: 122 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Baeksang Award 2015;
– Nominasi Best New Actor ()
Chunsa Film Award 2015:
– Nominasi Best Screenplay
Bucheon International Fantastic Film Festival 2015:
– Fantasia Award ()
Buil Film Awards 2015:
– Nominasi Best Music (Lee Byung-hoon) & Nominasi Best Supporting Actor ()
Grand Bell Awards 2015:
– Nominasi Best Music
(Sumber: wikipedia.org)

Falling for Innocence

September 13, 2015 Tinggalkan komentar

Kang Min-ho () adalah direktur perusahaan kosmetik. Sebenarnya ayahnya adalah pemilik perusahaan, namun setelah sebuah konflik dengan pamannya, jatuh bangkrut. Sekarang, Min-ho berniat membalas dendam pamannya dan mengambil alih perusahaan. Min-ho berkarakter pemarah dan kasar, tapi sebenarnya menyimpan kelaianan jantung yang membuatnya sering jatuh sakit.

Kang Min-ho yang angkuh

Kang Min-ho yang angkuh

Soon-jung ( ) adalah sekretaris perusahaan. Ia anak sekretaris ayahnya Min-ho dulu. Ia sudah bertunangan dengan kekasihnya, Ma Dong-wook, seorang detektif yang pemberani. Di sisi lain, ada Joon-hee temannya sejak di sekolah yang pintar dan sekarang menjadi teman sekantornya dengan karir cerah. Diam-diam, Joon-hee sebenarnya menyukai Soon-jung tapi tak pernah berani mengungkapkannya.

Kim So-yeon yang jadi Soon-jung

Kim So-yeon yang jadi Soon-jung

Karena berniat mengungkap sebuah kasus yang melibatkan Joon-hee, Dong-woo terbunuh setelah ditabrak secara misterius.Di hari yang sama, Min-ho kolaps dan jantung Dong-wook kemudian ditransplantasikan kepadanya.
PDVD_023
Ketika Min-ho kembali sehat, masalah lain muncul. Ternyata, perasaannya menjadi bercampur dengan perasaan Dong-wook, termasuk bahwa ia mencintai Soon-jung. Di tengah upaya merebut perusahaan, Min-ho pun kemudian harus mengatasi kebingungan atas perasaannya pada Soon-jung.
PDVD_014
Saya nonton drama ini dengan kepala sedikit blank, tanpa ekspektasi apa-apa. Tanpa membaca resensinya juga. Tapi setelah mengikutinya, ternyata lumayan juga. Ceritanya sendiri terasa sangat familiar dalam drama korea, dan seolah memadukan beberapa cerita yang sudah-sudah: konflik perusahaan, tokoh penyakitan, tukar jantung… klise? Bisa dibilang begitu. Tapi tenang saja, Korea selalu bisa memadupadankan sesuatu yang biasa menjadi tetap enak diikuti. Alur ceritanya, karakter-karakternya… paduan konflik dramatis dan unsur komediknya terasa cukup menghibur. Ditambah soundtracknya yang enak didengar.

Untuk para pemain utamanya, terasa tidak terlalu “wah” memang, tapi lumayanlah dan saya pikir mereka menunjukkan akting yang pas. Ada (saya tak terlalu punya referensi akting dia kecuali ), juga (, )… Tidak sangat mengesankan, tapi lumayan lah.

Cast:
– Kang Min-ho
– Kim Soon-jung
Yoon Hyun-Min – Lee Joon-hee
– Ma Dong-wook
Kong Hyun-Joo – Han Ji-hyun

Lee Si-Un – Oh Woo-sik
Park Young-Gyu – Kang Hyun-cheol
Ahn Seok-Hwan – Ma Tae-seok
Nam Myung-Ryul – Lee Jung-goo
Jo Eun-Ji – Na Ok-hyun
Kim Jung-Suk – Direktur Yoon
Lee Soo-Ji – Oh Mi-roo
Jung Yoo-Min – Yoo Yoo-mi

Judul: Falling for Innocence/ Fall in Love with Soon-Jung/ Soonjunge Banhada (순정에 반하다)
Sutradara: Ji Yeong-Su
Penulis: Yoo Hee-Gyeong
Tayang: JTBC, 3 April – 23 Mei 2015
Episodes: 16
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

26 Years

Oktober 23, 2014 Tinggalkan komentar

18 Mei 1980 merupakan hari yang menjadi sejarah kelam Korea Selatan. Ketika terjadi ‘Gwangju Democraziton Movement’ ribuan orang terbunuh. Beberapa korban adalah warga sipil yang terkena peluru nyasar. Di antara sekian banyak korban, ada tiga bocah yang menyaksikan anggota keluarganya terbunuh dengan tragis. Jung-hyuk melihat ‘nuna’nya yang sedang mengajaknya jalan-jalan terkena peluru nyasar dan tewas mengenaskan. Mi-jin, yang masih balita,  tiba-tiba ibunya yang tengah menggendongnya tertembak peluru yang masuk lewat jendela, juga tewas seketika. Sang ayah kemudian menjadi setengah gila. Anak yang lain, Jin-bae (), mendapati ayahnya tewas mengerikan di antara tumpukan mayat dan seumur hidup harus melihat ibunya yang trauma.
26
Dua puluh enam tahun berlalu dan anak-anak ini, yang telah tumbuh menjadi orang dewasa, belum bisa melupakan kejadian itu. Mereka tumbuh dalam kemarahan dan sakit hati. Apalagi melihat orang yang menjadi otak segala kekejian itu ternyata hidup tenang dan damai dan bahkan tak pernah meminta maaf.
26e
Suatu hari, seorang lelaki pemilik sebuah perusahaan tiba-tiba mendatangi mereka. Bersama sang ayah, yang ternyata bekas tentara yang terlibat penembakan dan karenanya merasa dihantui perasaan bersalah, mengajak mereka bertiga untuk melakukan sebuah aksi diam-diam, meminta sang diktator meminta maaf. Tapi, yah, tentu saja itu bukan hal yang mudah. Mereka hanyalah ‘orang-orang biasa’ yang harus melawan orang yang begitu berkuasa.
26h
Miris, tentu saja. Dan film ini juga tak hendak beromantis-romantis karena adegan-adegannya terasa cepat dan blak-blakkan. Mungkin bagi sebagian orang yang tak mengalami langsung kejadiannya, akan berpikir bahwa kemarahan dan aksi anarkis orang-orang itu agak berlebihan. Tapi saya pikir, kemarahan seperti itu bisa diterima. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil  tapi tak berdaya untuk melakukan apa-apa, apalagi yang harus dilakukan selain anarkisme?
26gh
Saya sendiri tak terlalu memahami sejarah Korsel dan apakah benar kondisinya seperti yang digambarkan di film ini. Tapi jika memang demikian, rasanya memang menyesakkan melihat ketidakadilan seperti itu (dan sayangnya kejadian seperti itu ternyata terjadi hampir di semua negara, termasuk Indonesia). Terlepas dari unsur-unsur teknis sinematografi bla-bla yang saya nggak paham, saya pikir ini adalah sebuah film yang cukup berani dan seolah menjadi kritik untuk melawan lupa.

26r

Note:
Gwangju Massacre atau Pembantaian Gwangju adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tangggal 18 Mei 1980.  Peristiwa ini dilatari dengan protes rakyat terhadap presiden Choi Ku-ah. Demonstrasi oleh pelajar dan mahasiswa terjadi dimana-mana. Protes menjadi memanas ketika pemerintahan diambil alih oleh Jendereal Chun Doo-hwan. Kim Dae-jung, kandidat presiden dari partai oposisi yang berasal dari Gwangju ditahan dan  membuat penduduk marah besar. Ribuan pelajar dan pekerja memenuhi jalan-jalan utama Gwangju. Bentrokan pun terjadi. Para pemuda dan rakyat menguasai Gwangju selama 9 hari. Jenderal yang merasa wibawanya terinjak, menerjunkan ribuan pasukan khusus lengkap dengan persenjataannya, siap menumpas para demonstran yang dianggap dibantu kaum Komunis dari Korut. Para tentara menyerbu rumah-rumah penduduk yang diduga sebagai tempat persembunyian demonstran. Ratusan orang tewas, tapi konon jumlah sebenarnya mencapai dua ribuan. Dan konon juga, peristiwa ini disokong oleh AS. Hmm, miris ya…:(

Ketika Kim Dae-jung terpilih jadi presiden, Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo yang dianggap bersalah atas pembantaian, diadili. Tapi mungkin seperti digambarkan dalam film ini: itu semua tidak akan pernah terasa cukup bagi korban yang telah kehilangan banyak hal. (dari berbagai sumber)

Cast:
 – Kwak Jin-bae
Han Hye-Jin – Shim Mi-jin
 – Kwon Jung-hyuk
 – Kim Joo-an
– Kim Kap-se
Jang Gwang – Chun Doo-hwan
Jo Duk-Je– Ma Sang-ryeo
Ahn Seok-Hwan – Ahn Soo-ho

Judul: 26 Years/ 26 Nyeon (26년)
Sutradara: Cho Keun-Hyun
Penulis: Kang Pool (comic), Cho Keun-Hyun
Produser: Mo Sung-Jin, Choi Yong-Bae
Sinematografi:Kim Tae-Kyung
Rilis: 29 November 2012
Durasi: 135 menit
Produksi: Chungeorahm Films
Distributor: Invent D, Chungeorahm Films
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar