Arsip

Posts Tagged ‘Hwang Jung-min’

The Battleship Island

November 1, 2017 Tinggalkan komentar

Lee Kang-ok ()adalah seorang musisi yang biasa tampil bersama putrinya, So-hee. Karena sebuah isu skandal dengan istri seorang penting, ia kemudian pergi ke Jepang. Mereka naik kapal yang memberangkatkan mereka ke Jepang bersama ratusan warga Korea lainnya yang ingin mengadu nasib di Jepang. Termasuk dalam rombongan adalah Chil-sung (), seorang preman berangasan dan Mal-nyeon (), pelacur yang geram dengan aksi pecicilan Chil-sung.

tbi

Sesampainya di Jepang, alih-alih mendapat pekerjaan, orang-orang Korea ini termasuk Kang-uk, justru digiring dan dipaksa untuk bekerja di sebuah tambang batubara, sementara para perempuan dijadikan budak seks.

tbi-3

Di antara para pekerja tambang itu ada Yoon Hak-chul (), lelaki tua yang dihormati dan menjadi perantara dengan pihak Jepang. Yoon sebenarnya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Park Moo-young ( )adalah salah satu anggota pejuang kemerdekaan yang kemudian ditugasi untuk menjemput Yoon. Moo-young pun kemudian menyamar sebagai pekerja tambang sembari menyusun rencana pelarian. Ia kemudian minta bantuan Kang-ok, yang karena kemampuan bermusiknya dan kepandaiannya bermuka dua, memiliki kedekatan dengan para tentara Jepang. Kang-ok sendiri bersedia membantu, asalkan ia bisa ikut melarikan diri bersama putrinya. Namun, ketika rencana pelarian sudah di ujung mata, terkuak kenyataan yang membalikkan semuanya. Kenyataannya, Yoon bukanlah seorang pahlawan, tapi justru engkhianat oportunis bermuka dua.

tbi-5

 

Bersamaan dengan itu, Sekutu menjatuhkan bom di Jepang dan orang-orang Korea hendak dijadikan kambin hitam. Para penambang pun kemudian mengatur strategi untuk melarikan diri dengan menggunakan kapal minyak. Berhasilkah?

tbi-8

Sejak mendengar pembuatan film ini, saya sudah penasaran dan berpikir bahwa ini akan jadi film yang ‘WAH.’ Pertama adalah nama sutradaranya, yang terkenal dengan film-film yang tidak hanya bagus secara kualitas tapi juga hampir selalu jaminan box office. Dan yang kedua tentu saja cast-nya yang melibatkan tiga nama besar di sini: , dan . Meski dua nama terakhir membuat saya agak-agak underestimate. dan i adalah aktor yang cukup bagus, hanya saja selama ini mereka lebih dikenal karena popularitasnya sebagai aktor-aktor berwajah good looking dan lebih sering main drama daripada film. Terutama i yang ketika film ini dibuat, sedang berada di puncak popularitasnya berkat drama   (DOTS) yang dibintanginya. Sementara film-film selama ini setahu saya, lebih sering melibatkan aktor-aktor yang memang bisa dibilang spesialis film dan berwajah biasa-biasa saja. Saya kok agak curiga, jangan-jangan film ini lebih banyak melibatkan unsur komersialitas ya?

tbi-4

So Ji-sub yang berani tampil dengan wajah jelek. Sayangnya nggak terlalu ngaruh ke aktingnya

Dan ke-underestimate-an saya agaknya menjadi kenyataan. Ketika film ini akhirnya dirilis beberapa waktu lalu, ternyata didera banyak kritik. Meski secara penjualan cukup box office, tapi juga tak terlalu menggembirakan. Konon bahkan penjualan film ini melibatkan aksi monopoli bioskop di Korea sono, karena konon budget film ini memang gede banget sehingga mau nggak mau paling nggak harus balik modal lah. Kritik lain, konon pada ceritanya yang terlalu fiktif dan kemudian pada akting, terutama (wajar kalau ia banyak disorot karena memang sedang populer-populernya), yang aktingnya tak jauh beda dengan aktingnya di drama yang baru ia mainkan. Ya, mungkin wajar sih soalnya karakternya sama-sama sebagai tentara.

tbi-6

Song Jooong-ki yang mirip karakternya di drama

Dan yah, setelah nonton film ini, saya pun paham dengan kritik-kritik itu. Konflik ceritanya sebenarnya cukup seru, sinematografinya juga terasa sangat wah, bermain apik sebagai si antihero Kang-ok plus aktris cilik Kim Soo-ahn yang bisa membangun chemistry yang pas sebagai ayah anak. Hanya saja, ceritanya memang terasa terlalu standar, malah cenderung klise ala-ala film Hollywood yang mudah ditebak dan pasaran. Hal yang sangat disayangkan karena bagi saya, film Korea itu justru menarik ketika ia menyajikan cerita yang ‘sangat Korea’ dan agak kecewa juga, karena menurut saya selama ini adalah salah satu sutradara yang cukup punya ciri khas, sementara di film ini kok saya rasanya kehilangan kekhasan-nya Ryu. Dan wajar juga kalau orang Korea cukup kecewa dengan unsur fiktifnya, mengingat film ini sebenarnya berpijak pada sejarah nyata. Setting peristiwanya memang nyata, tapi tokoh-tokohnya terlalu fiktif. Seperti dugaan saya, film ini sepertinya lebih menonjolkan unsurt komersialitasnya, dan mungkin juga karena tuntutan pihak-pihak yang membiayainya, secara film ini memang dibuat untuk pangsa internasional. Sosok dan juga seperti hanya jadi ‘penambah nilai jual’ saja karena menurut saya, karakter mereka tak terlalu penting dan menarik. Bahkan menurut saya, film ini akan tetap ‘hidup’ jika hanya mengetengahkan cerita Kang-ok dan putrinya. Pun rasanya aktor dan Kim Soo-an saja juga sudah cukup untuk membawa beban cerita.

tbi-1

Menonton film ini, tak urung membuat saya sedikit membandingnya dengan film yang saya tonton sebelumnya, Park Yeol, karena temanya sama-sama tentang penjajahan Jepang. Dan menurut saya, meski lebih minimlais dan jauh dari kesan ‘wah’, tapi Park Yeol terasa lebih solid dan enak diikuti. Tidak buruk sih, tapi dengan kemegahan sinematografinya dan jajaran aktornya, rasanya sayang saja kalau film ini ternyata terasa biasa-biasa saja.

Cast:
– Lee Kang-ok
Kim Soo-ahn – Soo-hee

– Choi Chil-sung
– Park Moo-young
– Mal-nyeon
Kim In-woo – Daisuke Shimazaki
Kim Joong-hee – Yamada
– Yoon Hak-chul
Kim Min-jae – Song Jong-goo

Judul: The Battleship Island/ Goohamdo
Sutradara:
Penulis: , Shing Kyoung-il
Produser: Jo Sung-min, Kang Hye-jung
Sinematografi: Lee Mo-gae
Rilis: 26 Juli 2017
Durasi: 132 menit
Distributor: CJ Entertaintment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
The Seoul Awards 2017:
– Best Supproting Actress ()
– Special Actor/Actress: Kim Soo-an
– Nominasi: Best Film, Best Actor (),

 

 

Iklan

Asura: The City of Madness

Maret 26, 2017 Tinggalkan komentar

Han Do-kyung () adalah seorang detektif. Istrinya sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Dipaksa oleh keadaan, Do-kyung kemudian diam-diam membantu Park Sung-bae (), walikota berkuasa yang culas dan picik. Do-kyung berniat untuk menjadi pengawalnya Sung-bae dan mengundurkan diri dari kepolisian. Namun ketika melakukan sebuah ‘misi’, terjadi sebuah insiden yang membuat niatnya dicurigai atasannya.

Asura -2

Asura

Do-kyung pun kemudian terjebak pada situasi dilematis, ditekan oleh atasannya di kepolisian dan utang budi pada Sung-bae. Untuk itu, ia kemudian menyuruh juniornya yang setia, Mon Sun-mo (), untuk menggantikan posisinya sebagai kaki tangan Sung-bae. Tapi alih-alih, situasi menjadi semakin tak mengenakan baginya. Teman-temannya di kepolisian tak lagi mempercayainya dan memasangnya sebagai kartu ‘as’ untuk menjegal Sung-bae, di sisi lain Sung-bae yang licik, juga berusaha memanfaatkannya.

Asura -3

Asura -6

Sebenarnya, sudah agak bosan sih dengan film-film bertema crime dan gangster-gangsteran seperti ini. Tapi bagaiamana lagi, melihat jajaran castnya membuat saya penasaran, karena melibatkan aktor-aktor perfilman Korea ‘kelas berat’. Mulai dari yang memang belakangan sepertinya sedang benar-benar di puncak karirnya (dalam satu tahun filmnya bisa 2-3 film dan semuanya film berkualitas), lalu yang juga ‘konsisten’ dengan film-film ‘berat’, , Jeong Man-sik… juga (yang agaknya juga semakin ‘laris’ di film-film serius).. Karenanya, soal akting tak usah diragukan. Semuanya bermain dengan baik. Hanya saja, dari segi cerita, menurut saya ada yang terasa kurang, eksekusi endingnya terasa kurang memuaskan dan karakter-karakternya tidak cukup simpatik. Entah sih, mungkin karena pembuat film ini terobsesi dengan kata ‘madness’ di judulnya, hehe.

Asura -1

Cast:
– Han Do-kyung
– Park Sung-bae
– Moon Sun-mo
– Kim Cha-in
Jeong Man-Sik – Do Chang-hak
Yoon Ji-hye – Cha Seung-min
Kim Hae-gon – Tae Byung-jo
Kim Won-hae – Akeo
Oh Yeon-a – Jung Yoon-hee
Kim Jong-soo – Eun Choong-ho

Judul: Asura: The City of Madness / Asura (아수라)
Sutradara/Penulis: Kim Sung-Su
Produser: Kang Hyun, Han Jae-Duk
Sinematografi: Lee Mo-Gae
Rilis: 28 September 2016
Durasi: 132 menit
Produksi: Sanai Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
Blue Dragon Film Awards 2016:
– Best Cinematography & Lighting

The Wailing

November 18, 2016 Tinggalkan komentar

Suatu pagi berhujan,di sebuah desa yang terlihat tenang dan damai, tiba-tiba dihebohkan dengan berita kematian sebuah keluarga petani. Jon Goo (), seorang polisi sederhana yang hidup bersama ibu, istri dan anak perempuannya, Hyo-jin, datang ke lokasi. Kematian itu begitu aneh. Korban diawali dengan menderita penyakit kulit mengerikan, sebelum kemudian menjadi gila dan mati.
the-wailing0
Dan kejadian itu kemudian terjadi berturut-turut. Jong Goo dan rekan-rekannya kemudian sibuk melakukan penyelidikan. Kecurigaan tertuju pada seorang lelaki tua Jepang misterius yang tinggal menyendiri di tengah hutan. Rumor beredar, kalau lelaki itu adalah sejenis siluman mengerikan.
the-wailing4

the-wailing1
Jong-goo semakin panik ketika putrinya mendadak sakit dan menunjukkan gejala yang sama dengan para korban. Atas anjuran ibunya, ia kemudian mengundang seorang shaman terkenal, Il-kwang (). Il-kwang kemudian melakukan upacara pengusiran roh. Dan ketika keadaan putrinya tidak semakin membaik, Jong-goo nekad menghancurkan si Lelaki Jepang.
the-wailing2

the-wailing6
Tadinya, saya kira film ini akan menjadi film misteri pembunuhan ala atau , tapi ternyata tidak. Alih-alih, film ini malah mirip film ,  yang berbau supranatural, hanya saja dengan cerita lebih intens. Sebenarnya, saya tak suka cerita film jenis ini, tapi saya penasaran sama film ini karena sempat ikut dikompetisikan di Cannes, meski kemudian gagal. Dan saya pikir saya paham kenapa film ini bisa masuk seleksi ajang festival film bergengsi. Meski ceritanya ‘tidak masuk akal’ karena soal hantu dan cenayang, tapi film ini digarap sedemikian rupa sehingga terasa sophiscated dan ‘sukar dilupakan’. Misterinya tersusun rapi dibalut warna dan gambar-gambar daerah pedesaan yang tenang tapi terasa dingin dan misterius. Salut untuk sutradaranya, , yang brilian. Plus akting bagus dari para pemainnya.
Recommended untuk ditonton.

Cast:
– Jong-goo
– Il-kwang
Jun Kunimura – Lelaki Jepang
– Moo-myeong
Kim Hwan-Hee – Hyo-jin
Jang So-yeon – istri Jong-goo
Heo Jin – ibunya Jong-goo
Jo Han-chul – Detektif
Son Kang-Kuk – Oh Sung-bok
Kim Do-Yoon – Yang Yi-sam

Judul: The Wailing/ Goksung (곡성)
Sutradara/Film:
Produser: Lim Min-Sub, Seo Dong-Hyun, Kim Ho-Sung
Sinematografi: Hong Kyung-Pyo
Rilis: 12 Mei 2016
Durasi: 156 menit
Distributor: 20th Century Fox
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival;
– Cannes Film Festival 2016 – Out Of Competition

The Himalayas

Juli 23, 2016 Tinggalkan komentar

Uhm Hong-kil  ()adalah seorang pendaki gunung terkenal dan digelari Uhm Daejang (semacam pemimpin pendakian?). Ia sudah berhasil mendaki banyak puncak gunung tertinggi di dunia.

hmly

Uhm Hong-kil yang sudah mendaki banyak gunung

Suatu hari, dalam sebuah pendakian dia berhasil menyelamatkan dua orang pendaki ‘bodoh’, Park Moo-taek () dan Park Jung-book (). Ketika hendak melakukan ekspedisi selanjutnya, dua orang ini kemudian berkeras untuk bergabung dalam tim yang dipimpin Hong-kil. Meski awalnya skeptis, tapi keamauan keras keduanya membuat Hong-kil akhirnya mengijinkan mereka ikut. Tidak hanya itu, karena Hong-kil dan Moo-taek kemudian menjadi sahabat akrab layaknya saudara.

hmly35

Persaudaraaan dengan Moo-taek

Seiring waktu,  kondisi kesehatan Hong-kil memburuk karena ia mengalami cedera kaki yang membuatnya tak boleh lagi mendaki. Pun rekan-rekan Hong-kil yang sudah mulai menua dan berhenti mendaki.Di sisi lain,  kemampuan Moo-taek semakin bagus dan ia pun menjadi Daejang.


Suatu hari, Moo-taek bersama Jung-bok dan timnya melakukan pendakian ke Everest. Di tengah pendakian, Moo-taek mengalami kecelakaan. Cuaca buruk membuat tim penyelamat tak berani naik. Jung-bok nekad menyusul Moo-taek. Keduanya kemudian meninggal.

Hong-kil yang merasa terpukul dengan kematian Moo-taek dan merasa berutang karena pernah berjanji untuk turun gunung bersama dengan selamat, mengabaikan kondisi kesehatannya, memutuskan untuk melakukan ekpedisi membawa mayat Moo-taek turun. Untunglah, ia didukung oleh teman-teman setimnya yang setia. Namun, tentu saja itu bukan ekspedisi yang mudah.

The_Himalayas4

Love the casts

Film tentang petualangan selalu menarik bagi saya. Apalagi film ini judulnya juga sangat jelas memberi gambaran latar cerita “Himalaya” didukung pula cast yang menjanjikan para aktor papan atas Korea: , Cho Seung-ha, , , , ... Jadilah saya penasaran sama film ini. Meski rasa peansaran saya agak surut karena setelah beberapa waktu, tak banyak ulasan tentang film ini di internet. Pun dalam beberapa ajang penghargaan film Korea, film ini juga jarang disebut-sebut (seingat saya satu-satunya nominasi adalah untuk kategori Best Supporting Actress di Baeksang Art Awards). Meskipun begitu, saya tetap memutuskan untuk menonton.
The_Himalayas3
Dan yah, setelah menontonnya,saya pikir saya paham kenapa film ini terasa kurang mendapat apresiasi. Pada bagian-bagian awal, cerita terasa cukup segar dan solid, tapi semakin ke belakang agak berlambat-lambat. Di sinopsis disebutkan bahwa inti film ini adalah tentang “pendaki Uhm Hong-kil yang berusaha membawa turun mayat sahabatnya, Park Moo-taek”. Tapi film sendiri mengambil rentang waktu yang cukup panjang mulai dari awal perkenalan Hong-kil dan Moo-taek. Mungkin maksud si penulis/sutradara adalah untuk memberi gambaran kedekatan hubungan Hong-kil dan Moo-taek, tapi menurut saya adegan ini bisa dibungkus dalam cerita flashback  dan  mungkin akan terasa lebih fokus kalau cerita dimulai dari ekspedisi Hong-kil untuk membawa turun mayat Moo-taek.
himalya-poster
Dan bagi saya, kengototan Hong-kil untuk membawa turun mayat Moo-taek agak  kurang mengharukan. Ia seperti ‘memaksa’ teman-temannya untuk ikut dalam ekspedisi berbahaya itu, meski digambarkan kalau teman-temannya kemudian ikut dengan sukarela. Hal lain yang agak mengganggu juga adalah rencana mencari dan membawa mayat Moo-taek. Kenapa hanya Moo-taek? Karena selain Moo-taek, juga ada mayat Jung-bok dan satu rekannya lagi. Dan meski Hong-kil menyebutkan keduanya belakangan tapi di awal rencana ekspedisi, keduanya seolah terlupakan dan tujuan utamanya hanyalah Moo-taek. Secara sekilas bisa dipahami karena kedekatan Hong-kil dengan Moo-taek tapi kalau dari segi kemanusiaan yang lebih luas kok rasanya kurang heroik.

Usai menonton film ini, saya juga bertanya-tanya: apa sebenarnya fokus utama dari film ini? Pesan moralnya juga tidak terlalu jelas. Alih-alih saya lebih merasa kalau film ini hanya sekedar tentang suka duka orang naik gunung. Saya tak keberatan dengan cerita secara umum, apalagi cerita film ini konon memang didasarkan pada kisah nyata. Tapi tanpa mengubah cerita, tentunya sang sutradara tentunya bisa membuat ‘penceritaan ulang’ dengan pemilihan fokus tertentu tentang apa yang sebenarnya ingin disampaikan (sebagai contoh, film  atau berhasil melakukan hal itu dengan baik).

The Himalayas

Salut untuk para aktor yang rela tampil ‘jelek’

Meski begitu, film ini sama sekali tidak buruk, kok. Latar dan adegan-adegan mendaki gunung yang penuh perjuangan terasa nyata. Para cast-nya bermain apik. Mereka menunjukkan chemistry sebagai teman satu tim yang kompak.  Para aktor ini juga rela tampil ‘jelek’ dengan wajah gosong dan melepuh terbakar matahari atau berlepotan salju. Tambahan untuk (dan juga dan ), adalah pelafalan aksen daerah yang terdengar  kocak :D. Dan meski ceritanya cukup menyedihkan, tapi film disajikan dengan cukup segar dan cair (terutama pada bagian-bagian awal).

Note:
Konon aktor dan yang awalnya ditawari peran utama dalam film ini tapi kemudian menolak karena jadwal syutingnya yang mundur.

Cast:
– Uhm Hong-kil
-Park Moo-taek
Cho Seong-Ha – Lee Dong-gyoo
– Park Jung-bok
– Jo Myung-ae
Kim Won-hae – Kim Moo-young
Lee Hae-young – Jang Chul-goo
Jeon Bae-su – Jeon Bae-su
– Choi Soo-young

Judul: The Himalayas/ Himalaya (히말라야)
Sutradara:
Penulis: Min Ji-Eun, Soo Oh, Lee Suk-Hoon, Yoon Je-Kyun, Park Soo-Jin, Kang Dae-Kyu
Produser: Yoon Je-Kyun
Sinematografi: Kim Tae-Sung, Hong Seung-Hyuk
Rilis: 16 Desember 2015
Durasi: 124 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
BaekSang Arts Awards  2016 :
– Best Supporting Actress ()

A Violent Prosecutor

Byun Jae-wook () adalah seorang pengacara idealis tapi temperamen dan intimidatif. Suatu hari, ia  ditugaskan untuk menyelidiki sebuah kasus besar. Di tengah interogasi, si terdakwa tiba-tiba meninggal secara misterius. Jae-wook kemudian dituduh sebagai penyebab kematiannya dan dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun.
vp7
Di penjara, Jae-wook kemudian mengetahui kalau ia diperalat dan otaknya adalah atasannya sendiri, Wang Jong-gil () yang berambisi untuk menjadi politisi. Dengan memanfaatkan keahliannya sebagai pengacara, Jae-wook berhasil mengambil hati para sipir dan tahanan dan menjadi orang yang disegani.

vp0

Kang Dong-won, always good looking no matter what 😛

Suatu hari, di penjara muncul si tukang tipu berangasan, Han Chi-won ( ). Dengan bermodal tampang cakep dan pandai membuatl, Chi-won menipu banyak perempuan kaya untuk diporotin. Ketika mengetahui bahwa Chi-won memiliki keterkaitan dengan kasus yang membuatnya dipenjara dulu, Jae-wook pun kemudian menwari Chi-won kerjasama. Ia membantu Chi-won untuk keluar dari penjara dengan syarat Chi-won mau membantunya menangkap Wang Jong-gil.

vp00

Love their bromance

Another crime plus bromance story. Cerita yang sangat familiar dalam film-film Korea. Meski begitu, plotnya digarap berbeda. Meski ceritanya terdengar berat, tapi penceritaan yang cair dan lancar membuat film ini terasa enak dinikmati.  Ditambah lagi, jajaran cast-nya juga terasa solid: , , , Park Sung-woong... Recommended!

VP_poster

Cast:
– Byun Jae-wook
– Han Chi-won
– Wang Jong-gil
Park Sung-Woong – Min-woo

Judul: A Violent Prosecutor/ Geomsawejeon (검사외전)
Sutradara/Penulis: Lee Il-Hyeong
Produser: Gook Soo-Ran, Han Jae-Deok, Yoon Jong-Bin
Sinematografi:Choi Chan-Min
Rilis: 3 Februari 2016
Durasi: 126 menit
Produksi:Sanai Pictures
Distributor: Showbox/Mediaplex
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Veteran

April 4, 2016 Tinggalkan komentar

Seo Do-cheol () adalah seorang detektif yang tak punya rasa takut dan tak tahan melihat ketidakadilan. Bersama timnya yang solid: Tim Leader Oh (), Miss Bong dan Det.Yoon, ia selalu menjadi “kompor” untuk tak menyerah pada apapun.

vtr53

vtr2

Jo Tae-oh () adalah seorang chaebol tamak berwatak bengis dan sewenang-wenang. Ia memiliki harta dan kuasa, hal yang membuatnya seolah tak tersentuh hukum. Ketika ayahnya jatuh sakit, Tae-oh yang ditugaskan untuk mengendalikan perusahaan dengan bantuan kaki tangannya yang setia, Choi ( ). Suatu hari, ketika ada pegawai perusahaannya protes, ia menanggapinya dengan menghajar si pegawai sampai sekarat. Do-cheol yang mencium kejahatan Tae-oh, tak bisa tinggal diam. Dengan segala daya upaya, ia bertekad untuk menangkap Tae-oh.

vtr78

Yoo Ah-in yang berperan jadi si antagonis Jo Tae-oh

Veteran adalah satu satu film yang dinominasikan dalam beberapa ajang penghargaan film di Korea Selatan dan saya pun maklum karena setelah menontonnya, saya benar-benar ingin bertepuk tangan. Cerita tentang kriminal dan polisi-polisian bisa dibilang salah satu mainstream-nya film Korea, tapi menurut saya film ini jauh dari repitisi yang membosankan dan saya pikir hal itu tak lepas dari racikan yang pas dari sutradara yang karya-karyanya selama ini memang selalu yahud, . Ia dengan lihai memadukan aksi, drama dan komedi dengan begitu pas, hal yang mengingatkan saya pada salah satu film awalnya, (tapi di sini terkesan lebih matang).

vtrr3

Good acting of Yu Hae-jin

Rumusnya sebenarnya cukup klise dan sederhana: pertarungan antara si baik dan si jahat, cerita yang sekilas mirip dengan cerita film ala superhero. Biasanya saya merasa annoying dengna sosok one man hero, tapi sosok Do-cheol yang jadi hero di sini, bukanlah sosok superhero yang super. Dia detektif biasa, seorang family man dengan kehidupan rumah tangga yang sederhana, bertampang biasa saja dan cenderung ceroboh. Satu hal yang dimilikinya hanyalah kemuakan pada kesewenang-wenangan dna ketiadaan rasa takut. Sosok yang mungkin ada di sekitar kita, sosok impulsif yang bisa memberi pembakar semangat dan keberanian pada orang sekitar. Melihat kegeraman Do-cheol saya sebagai penonton juga merasa ikut geram dan ingin ikut melakukan sesuatu bersamanya untuk mengalahkan Tae-oh.

vtr8

Love this bromance

Di awal saya sempat agak cemas, kalau-kalau kesimpulan film ini sesuatu yang nihil, khas film-film serius. Tapi untunglah, Ryu sepertinya cukup dermawan untuk memuaskan hati penontonnya dengan ending yang terasa menyenangkan.

vr67

love this team

Ohya, selain nominasi film terbaik, film ini juga mendapat nominasi untuk katergori aktor terbaik/aktor pendukung terbaik (, , , ) yang memang bermain bagus di sini. Semua pemeran di film ini bermain dengan sangat baik, , seperti biasa, selalu nge-bland dengan karakter apapun yang diperankannya. Tak terkecuali di sini, sebagai Do-cheol yang seolah tak pernah kehabisan energi. Lalu ada , yang jadi kaki tangan Tae-oh dan menurut saya memberikan salah satu penampilan terbaiknya. Yu meski selalu sebagai pemeran pendukung, tapi sellau menunjukkan kulaitas akting yang tidak main-main. Selama ini saya terbiasa melihat akting dia sebagai sosok yang komikal (didukung dengan wajahnya), dan di sini dia bertransformasi sebagai pengawal bos, berjas dan berpenampilan necis dengan ekspresi wajah yang multidimensi: pennjilat, jahat, licik, tapi juga ketidak berdayaan sebagai si anak buah yang harus bersedia melakukan apa saja untuk si bos. Meski sebagai kaki tangan, tapi kita bsia melihat kalau sebenarnya ia punya kendali atas Tae-oh. Dan tentu yang menjadi pembicaraan adalah yang seolah menjadi gebrakan dalam karirnya sebagai aktor selama ini. Seperti aktor generasinya yang dikenal sebagai pangeran drama yang cenderung identik dengan kesan ‘flower boy’ (meski menurut saya Yoo tak ‘secantik’ teman-teman seangkatannya), agaknya ingin menunjukkan totalitasnya sebagai seorang aktor di sini dengan mengambil peran antagonis, meski menurut saya aktingnya di sini tidak luar biasa, tapi not bad lah.

Well, salah satu film yang mengesankan.

Cast:
– Det. Seo Do-cheol
– Jo Tae-oh
– Direktur Choi
– Tim Leader Oh
Jang Yoon-Ju- Miss Bong

Kim Shi-hoo – Det. Yoon
Oh Dae-hwan – Det. Wang
– Manajer Jeon
-Supir Truk Bae
Song Young-chang – Kepala Jo
– Joo-yeon
Yu In-young – Da-hye
Park So-dam – artis
Lee Dong-hwi – Yoon Hong-ryul
Bae Sung-woo – penjual mobil
Cheon Ho-jin
Um Tae-go – bodiguard Jo Tae-oh
Jang So-Yeon – Istri Sopir

Judul: Veteran/ Beterang (베테랑)
Sutradara/Penulis:
Produser: Jo Sung-Min, Kang Hye-Jung
Sinematografi: Choi Young-Hwan
Rilis: 5 Agustus 2015
Durasi: 123 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival:
– Toronto International Film Festival 2015 – Vanguard *North American Premiere
– Busan International Film Festival 2015 – Korean Cinema Today: Panorama

Awards:
Korean Association of Film Critics Awards 2015:
– Best Director

Blue Dragon Film Awards 2015:
– Best Director
– Nominasi: Best Film, Best Actor (), Best Supporting Actress (Jin Kyung), Best Screenplay, Best Cinematography & Lighting, Best Music, Best Technical Award

Daejong Film Awards 2015:
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Actor (), Best Supporting Actor (Yu Hae-jin), Best Supporting Actress (Jang Yoon-ju), Best New Actress ((Jang Yoon-ju)

Ode To My Father

Januari 20, 2016 Tinggalkan komentar

Film yang mendapat banyak label penghargaan selalu membuat saya penasaran.  Pun demikian dengan film ini: Ode to My Father. Apalagi konon di negaranya sono, film ini juga box office banget. Di samping juga judulnya yang terdengar menarik dan para pemainnya yang masuk dalam jajaran aktor papan atas Korea: , , , … Maka ketika akhirnya mendapatkan film ini di lapak CD, langsung saya beli dan saya tonton.


Film ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga di masa perang. Keluarga Yoon dengan empat orang anak, yang kemudian terpaksa mengungsi karena desanya diporandakan oleh perang. Sayang, dalam pengungsian itu, sang ayah tak bisa ikut karena salah seorang adik Deok-soo terpisah. Maka ketika kemudian tiba di pengungsian, Deok-soo  () sebagai anak tertua dan lelaki pula, yang harus bertanggung jawab membantu ibunya menjadi kepala keluarga. Deok-soo  pun melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan uang untuk keluarganya, seperti menyemir sepatu, bersama temannya, Dal-goo. Ketika perang berakhir, ternyata masalah belum selesai. Deok-soo dan keluarganya tak bisa lagi kembali ke kampung mereka di Utara. Maka impian untuk bertemu kembali dengan ayah dan adiknya pun menjadi sangat sulit hingga puluhan tahun kemudian.

PDVD_039PDVD_052

Deok-soo, sesuai dengan pesan ayahnya, terus berusaha untuk menjadi kepala keluarga yang baik, memberi penghidupan yang layak untuk ibu dan adik-adiknya. Apalagi kemudian adik lelakinya ternyata sangat pintar dan diterima kuliah di universitas terbaik. Deok-soo  pun rela melakukan kerja apa saja agar keluarganya hidup layak. Bersama Dal-goo (), ia mendaftar menjadi pekerja tambang batubara di Jerman. Dimana ia nyaris tewas karena tertimbun longsoran tambang.
PDVD_026PDVD_057
Ketika kontraknya habis dan harus kembali ke Korea, ia kembali mendaftar jadi pekerja bangunan di Vietnam ketika negara itu sedang dalam keadaan perang. Dan lagi-lagi, nyawanya nyaris melayang ketika terjadi bentrokan dengan tentara Vietkong. Yah, hidup yang berat di masa yang sulit. Tapi hal itu tak menghalangi Deok-soo  untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Seperti judulnya, film ini memang benar-benar terasa seperti ode untuk seorang ayah. Betapa seorang ayah, rela melakukan apa saja untuk keluarganya. Sebuah tema yang universal, tapi juga terasa personal. Dan saya pikir, hal itulah yang membuat film ini mendapat apresiasi yang sangat bagus di negaranya sono, bahkan diganjar sebagai film terbaik di Baeksang Awards. Cerita film ini, seperti sebuah epik personal yang mungkin begitu akrab dan dekat dengan masyarakat Korea. Hubungan kekeluargaan yang dipisahkan dengan paksa oleh perang dan pemisahan dua negara, Korea Utara-Korea Selatan yang terasa konyol dan tragis… Di atas semua itu, film ini juga digarap dengan sangat baik, didukung permainan apik dari para aktor pemerannya.
Sebuah film yang bercerita tentang keluarga yang realistis dan mengharukan.

Cast:
– Yoon Deok-soo
– Oh Young-ja
– Dal-goo
Jung Jin-Young – Ayahnya Deok-soo
– ibunya Deok-soo
– Bibinya Deok-soo
Hong Suk-Youn -Pamannya Deok-soo
– Yoon Kkkeut-soon (adik perempuan Deok-soo)
Lee Hyun – Yoon Seung-gyu (adik lelaki Deok-soo)
Uhm Ji-Sung – Deok-soo kecil
Jang Dae-Woong – Dal-goo kecil

Judul: Ode To My Father / Gukje Market/ Gukjeshijang (국제시장)
Sutradara: Yoon Je-Kyun
Penulis: Park Soo-Jin, Yoon Je-Kyun
Produser: Yoon Je-Kyun, Lee Chang-Hyun, Lee Sang-Jik, Kim Yang-Yeon
Sinematografi: Choi Young-Hwan
Rilis: 17 Desember 2014
Durasi: 126 menit
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/Negara: Korea/ Korea Selatan

Awards:
Blue Dragon Film Awards 2015:
– Best Supporting Actor ()
– Nominasi : Best Film, Best Director, Best Art Design, Best Film Editing, Best Technical Award
– Top Box Office Seller

Daejong Film Awards 2015:
– Best Film
– Best Actor ( )
– Best Supporting Actor ()
– Best Recording
– Best Editing
– Best Planning
– Best Technical Award
– Nominasi: Best Film, Best Actress ( ), Best Supporting Actress ()

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar