Arsip

Posts Tagged ‘Han Hyo-joo’

Golden Slumber

April 11, 2018 Tinggalkan komentar

Gun-woo () bekerja sebagai pengantar paket. Ia hidup sederhana dan memiliki sifat yang sangat baik hati. Ia bahkan mendapat penghargaan sebagai warga negara teladan karena sudah menolong seorang anak. Ia muncul di TV dan menjadi populer. Meski begitu, Gun-woo tetap humble. Di luar itu, situasi politik sedang panas karena sedang dalam masa pemilihan presiden.

golden slumber

golden slumber_2

Hingga suatu hati, temannya, Moo-yeol (), tiba-tiba menemuinya ketika Gun-woo sedang hendak mengantar paket. Sikap Moo-yeol terlihat aneh dan tak berapa lama kemudian, terjadi ledakan bom yang menewaskan salah satu kandidat presiden. Tidak hanya itu, karena kemudian Moo-yeol memberitahu kalau paket yang dibawa Gun-woo adalah bom dan bahkan Moo-yeol tewas karena bom bunuh diri di truk Gun-woo. Berita yang beredar kemudian adalah bahwa Gun-woo, si warga teladan ternyata yang menjadi pelaku pembunuhan. Hidup Moo-yeol pun tak sama lagi. Ia dikejar-kejar para elit yang berkepentingan. Dalam keadaan seperti itu, ia ditolong oleh seorang lelaki berkarakter misterius, Mr. Min (). Selain itu juga ada teman-teman lama Gun-woo yang pernah bersama main band dan juga teman Moo-yeol; Geum-cul () dan Dong-gyu () yang sudah sukses, dan juga Sun-young (), perempuan cantik yang diam-diam ditaksirnya. Orang-orang ini, yang sudah mengenal kebaikan hati Gun-woo, bahu membahu untuk menolongnya.

golden slumber_1

golden slumber_5

 

Hmm, seperti biasa, karena castnya lah saya penasaran sama film ini. Judulnya juga, yang terdengar seperti judul lagunya The Beatles (dan memang ada hubungannya dengan lagu itu). mungkin bukan aktor terbaik, dan film-filmnya juga tak semuanya sukses, tapi ia terkenal idealis & punya kelasnya sendiri. Jadi walaupun filmnya kadang just so-so, saya tetap tertarik untuk menontonnya. Sebenarnya, sih, saya cukup berekspektasi dengan film ini, karena selain nama Kang, juga ada nama beberapa bintang papan atas lain: , , ., .. tapi kemudian ketika melihat kalau ratingnya di IMDB bahkan nggak nyampai 6, saya agak heran juga. Yah, walaupun rating nggak selalu jadi jaminan, tapi sepengetahuan saya, kalau IMDB kasih rating di bavah tujung, apalagi nggak sampai 6, itu berarti memang filmnya buruk. Karenanya saya jadi gusar. Memang seburuk itukah filmnya? Dan yah, usai nonton film ini saya kira saya paham kenapa film ini masuk kategori itu.

golden slumber_6

Garis besar ceritanya sebenarnya cukup menarik, perpaduan antara tema persahabatan dengan intrik politik. Hanya saja, saya kok merasa sang sutradara seperti keteteran untuk mengeblend-kan semua itu. Nggak tahu salahnya dimana, tapi ikatan persahabatan antara Gun-woo dan teman-temannya terasa plain. Chemistrynya kurang dapet. Kilasan-kilasan flashbacknya seperti terlalu dimanis-maniskan dengan kehidupan anak band yang kurang meyakinkan. Entah karena memang karakternya dibuat demikian, atau penerjemahan Kang, tapi karakter Gun-woo rasanya terlalu naif dan lugu dibanding teman-temannya, sehingga rasanya agak aneh kalau dia memang pernah jadi anak band dan anak kuliahan pula. Latar politik cerita juga tidak dieksplor dengan baik sehingga rasanya hanya untuk meramaikan cerita saja. Pokoknya rasanya hal-hal di film ini serba nanggung deh. Agak disayangkan sih, mengingat jajaran castnya yang sebenarnya potensial untuk menjadikan film ini lebih qualified 😦

Catatan:
Merupakan remake dari film Jepang (2010) dengan judul yang sama. Untuk versi Jepangnya sendiri, sepertinya lebih bagus karena saya lihat di asianwiki, banyak diputar di ajang film festival.

Cast:
– Gun-woo
– Mr Min
– Sun-young
– Geum-chul
– Dong-gyu
– Jin-ho
– Moo-yeol
– Soo-A
– Joo-ho
– Yoo-mi

Judul; Golden Slumber
Sutradara: No Dong-seok
Penulis: Kotaro Isaka (novel), Lee Hae-jun, Cho Ui-seok
Rilis: 14 Februari 2018
Durasi: 108 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea

Iklan

Drama-Drama Korea Yang Tak Sanggup Saya Selesaikan

Januari 21, 2018 3 komentar

Belakangan, saya cenderung menjadi begitu pemilih ketika hendak menonton drama Korea. Dulu-dulu, biasanya saya memutuskan untuk mengikuti drama karena pemainnya saya suka atau karena popularitasnya. Tapi Setelah munculnya drama-drama berkualitas ala , , , Secret Forest atau drama-drama romcom bagus TvN seperti , Serial Reply, .. agaknya standar saya dalam menilai bagus tidaknya sebuah drama benar-benar berubah. Saya jadi malas menonton drama yang ceritanya terlalu klise, plotnya terlalu mudah ditebak atau ceritanya ‘nggak penting’. Sayangnya,munculnya drama-drama bagus ini hanya sesekali saja. Dan ketika saya merasa ‘rindu’ ingin nonton drama Korea, saya jadi agak bingung untuk memutuskan drama mana yang akan saya tonton. Setiap kali ada kabar drama yang akan segera rilis dengan jajaran cast yang menjanjikan dan premise cerita yang terdengar menarik, saya menjadi antusias dan berpikir, bahwa drama tersebut akan jadi watch list saya. Tapi ternyata ketika dramanya sendiri benar-benar mulai tayang dan ternyata respons netizen cenderung negatif, antusiasme saya langsung luruh dan malas mengikuti lagi. Beberapa drama, saya tontoon karena saya baca reviewnya yang positif, tapi ternyata setelah saya coba tonton, tak memenuhi krirteria menarik bagi saya. Berikut adalah beberapa drama yang coba saya tonton, tapi kemudian saya membuat saya ‘menyerah’ di tengah jalan:

1. You’re All Surrounded

ure all surrounded
Drama ini dipenuhi jajaran cast yang cukup menjanjikan: , , , , . Berdasarkan ulasan-ulasan yang ada, drama ini juga mendapat banyak apresiasi. Saya mengikuti episode-episode awal dan yah langsung bisa menebak jalan ceritanya yang memang mudah ditebak. Meski mengambil latar dunia kepolisian, tapi main story-nya tak jauh-jauh dari cinta.  Karakter-karakternya juga just so-so. Dan saya pun memutuskan berhenti menonton.

2. Let’s Fight Ghost

LFG4
Sejak awal, sebenarnya tak berminat mengikuti drama ini. Saya tak terlalu suka cerita fantasi. Cast-nya juga tak saya sukai. memang cakep, tapi kemampuan aktingnya, begitu-begitu saja. Dia sebagai aktor pendukung, saya bisa menerima, tapi sebagai lead actor, nanti dulu. Di tambah pasangannya adalah . Saya akui dia adalah aktris muda berbakat, tapi saya juga merasa dia terlalu ‘muda’ untuk jadi lead sebuah drama 16 episode, ditambah lagi bahwa di sini dia akan terlibat romance dengan cowok yang sudah dewasa. Aneh saja.

LFG3

Satu-satunya yang membuat saya pensaran justru adalah cast pendukungnya, , yang katanya main bagus di sini. Tapi yah, bagaimanapun cast pendukung tetaplah cast pendukung. Di drama, tak terlalu banyak yang diharapkan. Sebagus apapun akting mereka, peran mereka dalam membangun cerita tak terlalu penting. Di samping itu, cerita drama ini sendiri tidak jelas arahnya. Tidak ada klimaksnya. Dari episode ke episode ceritanya seolah tak kemana-mana. Menghabiskan waktu dengan menonton 16 episode benar-benar seperti hanya buang waktu dan energi.

3. Moon Lovers

Moon Lovers3
Ketika awal-awal pembuatan drama ini, melihat jajaran castnya yang terdiri dari 7 cowok-cowok tampan, saya pun mencatatnya dalam daftar untuk ditonton. Meski kemudian saya sedikit underestimate ketika membaca bahwa cast utama ceweknya adalah . cukup cantik dan bisa berakting, tapi tidak selalu ‘berhasil’ dan rasanya juga kurang karismatis sebagai seorang putri yang dikeliling begitu banyak cowok cakep. Meski begitu, saya tetap berekspektasi bahwa ini akan jadi drama yang neghits, apalagi promonya juga cukup santer. Sayangnya, begitu drama ini mulai tayang, saya langsung kehilangan selera ketika membaca ulasan tentang drama ini yang dianggap mengecewakan.

Meski begitu, demi mengobati rasa penasaran (terutama karena ), saya tetap coba-coba nonton dan langsung menyerah di episode pertama. Secara umum, akting cast utamanya tidak buruk-buruk amat (apalagi dan ), hanya saja seara keseluruhan, drama ini seperti digarap dengan asal-asalan. Mungkin bermaksud ‘fans service’ karena mengetengahkan aktor-aktor berwajah pretty boy populer, pengambilan gambar dalam drama ini sibuk dengan close up-close up yang justru membuat drama ini terasa murahan. Demikian juga dengan kualiatas gambarnya.

4. The Best Hits

TBH4
Meski tak bisa dibilang ngefans sama , tapi saya cukup memfavoritkan aktor satu ini. Wajahnya lovable dan aktingnya juga cukup solid. Selain itu, ada juga nama besar seperti dan juga aktris muda yang aktingnya tak perlu diragukan lagi (pertama kali saya nonton akting ketika dia masih aktris cilik di film dimana dia main dengan bagus). Ditambah lagi, kemudian saya membaca reviewnya yang  umumnya positif. Meski ceritanya dianggap just so-so, tapi drama ini disebut-sebut sangat menghibur karena memang genrenya yang komedi. Saya pun tambah penasaran. Di awal-awal episode, saya cukup menikmati drama ini. main bagus seperti biasa. Demikian juga , dan (juga aktor yang jadi roomatenya ). Unsur komediknya, meski tak sampai membuat terkekeh-kekeh, tapi cukup dapat.

Sayang, semakin ke sini, drama ini kemudian jadi lebih fokus pada cerita romance-nya yang sangat-sangat biasa. Saya juga merasa bahwa secara keseluruhan drama ini alurnya sangat lambat. yang ‘terjebak’ dalam cinta sejatinya pada Bo-ra yang menurut saya annoying, yang terlalu naif dengan mimpinya dan perjalanan waktu yang rasanya tak bermakna apa-apa. Dan saya pun menyerah.

5. Go Back Spouse


Mirip seperti ,   adalah juga aktris lovable dan hampir selalu berakting bagus. Pasangannya, , juga cukup potensial. Review drama ini juga cenderung positif meski ratingnya konon tak terlalu mengesankan (di bawa 10%). Tapi ketika saya mencoba episode pertamanya, entah kenapa saya tak terlalu tertarik untuk melanjutkan menonton lagi. Secara umum dramanya bagus.   dan bermain bagus. Ceritianya meski agak berbau fantasi tapi juga cukup realistis. Tapi jalan ceritanya sejak awal sudah terasa predictable dan karakter Sohn Ho-jun di awal-awal membuat saya kurang simpatik.

6. Six Flying Dragons
Saya membaca bahwa drama ini memiliki banyak hal bagus. Castnya sangat solid (, , , , , ) dan ceritanya juga disebut sangat bagus. Saya sudah berhasil mendapat kopian dramanya dan tersimpan di hard disk saya. Berkali-kali saya berpikir untuk menontonnya, tapi setiap kali saya putar episode pertama, setelah beberapa menit berlalu, saya memutuskan untuk menyerah. Membayangkan bahwa saya harus menghabiskan waktu mengikuti 50 episode langsung membuat saya merasa enggan.

Dan meski jajaran cast-nya adalah aktor yang cukup saya favoritin (terutama , dan ), tapi bintang utamanya bukanlah aktor favorit saya: dan .  adalah aktor yang bagus dan dulu sebenarnya saya cukup ‘suka’ sama dia, tapi nggak tahu kenapa, belakangan saya justru malas melihat aktingnya. Sementara , saya selalu kecewa dengan aktignya dan meski di drama ini konon dia sudah mulai menunjukkan akting yang bagus, saya tetap sulit untuk menyukainya.

7. Healer

healer
Sama seperti SFD, saya juga menndengar banyak hal bagus tentang drama ini. Bahkan di situs dramabeans yang biasa mengulas drama-drama Korea, reviewnya sangat positif. Tapi sama juga seperti SFD, saya berkali-kali berusaha untuk mulai menontonnya dan selalu tak berhasil ‘mengikat’ hati saya untuk meneruskan menonton. Saya suka , tapi saya lebih memilih menonton ketika ia main film daripada drama. Di sisi lain, saya tak terlalu suka . Saya dengar dia aktor yang cukup bagus, dan juga banyak dipuja-puji karena wajahnya yang memang ganteng. Tapi drama-drama yang dibintanginya secara kualitas biasa-biasa saja dan saya tak pernah tertarik untuk menonton. Dan , meski aktingnya lumayan, tapi juga tak bukan aktris favorit.

8. W
Sempat berpikir untuk menonton karena dan ketika membaca premis ceritanya yang terdengar unik: tokoh yang keluar dari komik. Tapi kemudian saya membaca review yang beragam. Banyak yang mengkritik aktingnya yang katanya overacting. Saya agak gusar juga. Masa sih? kan aktris yang sudah cukup matang dengan film-film berkualitas. Dan ia juga salah satu alasan yang membuat saya ingin menonton drama ini. Sementara , meski aktingnya cukup bagus, tapi saya tidak pernah bisa menyukainya lebih karena alasan subyektif: saya nggak suka wajahnya yang terlalu cantik.

w2

Meski begitu, saya tetap menyempatkan diri menonton. Kali saja saya berubah pikiran dan jatuh cinta pada karakternya. Tapi ternyata, benar komentar netizen tentang akting . Aktingnya terlihat tidak natural dan terlalu dipaksakan. Sementara , karena dia keluar dari komik, digambarkan sangat sempurna. Dan saya selalu benci dengan karakter yang terlalu sempurna. Dan begitulah saya pun menjadi tak berminat menontonnya.

9. Angry Mom


Saya penasaran sama drama ini ketika baca sinopsisnya yang menyebutkan tentang hubungan ibu-anak, alih-alih tentang romance seperti kebanyakan drama Korea. Reviewnya juga bagus dan castnya juga menarik: Kim Hee-sun, , . Saya pun mencoba menonton episode pertamanya. Satu hal yang sering saya keluhkan ketika nonton drama Korea adalah make upnya yang kadang terlihat tidak alami atau terlalu cantik untuk karakter yang seharusnya orang biasa saja. Dan itu juga yang saya rasakan ketika melihat sosok ‘Ibu’ yang diperankan Kim Hee-sun. Ia digambarkan sebagai perempuan ibu rumah tangga biasanya yang bahkan harus bekerja serabutan kesana kemari. Dan meski make upnya dibuat sedemikian rupa, tapi menurut saya justru terlihat tidak alami. Karakternya juga agak terlalu sinetron sehingga terasa melelahkan: istri, menantu dan ibu yang tertindas!

10. Mrs. Temper NamjungTki

mrs temper namjumki
Saya suka . Akting dan pilihan dramanya lumayan. Ditambahkan kemudian review yang bagus tentang drama ini. Kedengarannya sih ceritanya nggak mainstream. Selain itu, cast cowoknya, , juga lumayan. Saya coba nonton dua episode pertama dan tak sanggup lagi meneruskan. Ceritanya sih sebenarnya kelihatannya bagus, karakter-karakternya juga cukup berbeda dengan drama Korea kebanyakan. Hanya saja ada sesuatu dari drama ini yang membuat saya merasa ‘lelah’ mengikutinya. Entah plot atau cara pengambilan gambarnya.

11. The Good Wife
Saya setuju kalau adalah aktris terbaik dalam perfilman Korea saat ini. Dan seperti kebanyakan aktris/aktor yang mapan di film, jarang dari mereka yang kemudian main di drama. Karenanya, ketika mendengar kalau dia bakal comeback ke drama, saya cukup berekspektasi. Meski saya sebenarnya tak terlalu suka drama bergenre hukum, tapi karena yang main adalah , saya jadi penasaran. Apalagi selain , ada dua nama besar lagi: dan . Sayang, ketika drama ini mulai tayang, ternyata banyak kritik dan ratingnya juga biasa-biasa saja.

the good wife

Karena drama ini adalah remake-nya drama Amerika, alih-alih membuatnya dengan sentuhan yang lebih khas, tapi justru nyaris plek dengan versi aslinya. Saya sendiri belum nonton versi ASnya, tapi demi baca itu, saya jadi ogah-ogahan. Salah satu alasan saya nonton drama Korea karena keunikan yang mereka miliki, yang berbeda dari drama-drama Barat. Menurut saya, drama Korea itu lebih ‘soft’ dan heartwarming dan tentu juga, lebih punya kedekatan secara budaya karena sama-sama Asia. Karenanya, ketika kemudian ada drama Korea yang terlalu mirip sama drama Barat, saya jadi tak tertarik. Meski begitu, saya menyempatkan nonton episode pertama dan beberapa episode berikutnya dengan cara fast forward. Dan yah, menurut saya memang dramanya terkesan kering dan membosankan.

12. Lucky Romance
Setelah dibuat termehek-mehek lewat karakter Jung-hwan di , saya penasaran mengikuti next projetnya . Apalagi, saya tahu kemudian kalau dia itu aktor pendatang baru yang memang bener-bener masih baru. Karenanya, ketika mendengar kalau dia bakal main drama dan tak tanggung-tanggung langsung jadi lead-nya pula, saya penasaran. Tapi ketika mulai diris berita tentang siapa pasangan mainnya dan bakal ditayangkan dimana, saya mulai agak pesimis. , pasangannya di sini, bukanlah aktris yang buruk dan saya sempat menikmati akting dia di beberapa dramanya (yang menurut saya bagus seperti  di bareng ). Tapi belakangan saya mulai merasa bahwa karakter yang dia mainkan tipikal dan aktingnya menjadi terasa annoying. Herannya, hampir semua drama-dramanya selalu jadi hits. Dan yah, mungkin hal ini pula yang menjadi pertimbangan kenapa dipasangkan dengan Ryu si pendatang baru.

Lucky Romance

Sebenarnya, drama ini punya potensi untuk tidak terlalu mainstream karena konon diadaptasi dari webtoon dengan karakter yang realistis tapi konon lagi, pihak produksi drama ini mengubah ceritanya ala karakter mainstream drama Korea: direktur perusahaan. Sementara karakter si cewek ya tak jauh-jauh dari karakter yang sudah ada, si gadis biasa, miskin, pekerja keras… hmmh… sudahlah. Demi mengobati penasaran, saya tetap mencoba untuk menonton drama ini . Tapi minat saya untuk mengikuti hilang setelah melihat 2-3 episode awal. Jalan ceritanya sudah ketebak. bermain bagus sebagai Jo Se-ho, si warkoholic, tapi saya selalu berpikir bahwa dia lebih cocok main di film atau drama-drama bernuansa indie saja (saya percaya bahwa kemampuan akting lebih utama daripada wajah, hanya saja, wajah yang ‘enak dilihat’ juga menjadi nilai tambahan. Bukannyasaya bilang wajah Ryu jelek, hanya saja, ‘terlalu biasa’ untuk aktor drama. Kecuali cerita dan karakternya yang sangat menarik seperti di Reply, rasanya sulit menikmati akting (dan wajah) Ryu di drama yang sampai belasan episode). Sementara seperti yang saya prediksikan, tak jauh beda dengan karakter yang pernah dia mainkan sebelumnya dengan gaya pakaian yang mirip-mirip juga, dan bagi saya tetap terasa annoying (maaf ya bagi penggemar Hwang Jung-eum). Cast pendukung dan cukup memberi warna, tapi ya bagaimanapun cerita 2nd lead di drama mainstream akan begitu-begitu saja.

13. Doctor Stranger

dr stranger
Saya nonton drama ini sebenarnya sebelum saya terlalu ‘pemilih’ dan cenderung nonton ‘apa saja’ asal castnya terkenal dan cukup saya ‘suka’. Dan di drama ini, ada nama . Meski saya nggak pernah menyukainya secara fisik, tapi saya cukup mengapresiasi aktingnya bareng   di . Saya sendiri tak nonton drama ini dengan blank, tanpa baca sinopsis atau review terlebih dahulu. Di episode-episode pertama, yang mengetengahkan kisah cinta di Korea Utara, rasanya masih menarik untuk diikuti. Tapi ketika kemudian tragedi demi tragedi terjadi, dan beralih ke dunia spionase pula, saya mulai garuk-garuk kepala dan kehilangan minat. Ditambah lagi, yang jadi aktris utama di sini, baik karakter maupun aktingnya kurang menarik. Justru , yang justru lebih terlihat mencuri screen plus punya chemistry yang bagus sama si tokoh utama.

13. Empire of Gold

Empire-of-Gold
adalah salah satu aktor yang punya soft spot di hati saya. Menurut saya dia cakep, dan aktingnya juga bagus. yang jadi pasangannya juga terkenal bagus. Di tambah lagi, review drama ini bagus karena konon ceritanya berbobot. Saya sudah mendapatkan full copy dramanya dan siap saya tonton. Tapi setiap kali saya nonton, saya tak pernah bisa melewatkannya lebih dari 10 menit sebelum kemudian menyerah karena merasa kelelahan. Saya nggak suka dengan penyajian dan cara pengambilan gambar drama ini yang terlalu banyak close up dan terlalu banyak omongan panjang lebar.

Love, Lies

Mei 18, 2016 2 komentar

Korea Selatan, berlatar tahun ’40an, ketika Jepang masih berkuasa. Jung Soo-yool () adalah putri dari seorang gisaeng terkenal dan bertekad untuk menjadi penyanyi joengak terkenal. Di rumah pelatihan gisaeng tempatnya tumbuh, ia bertemu dengan Seo Yeon-hee) (, seorang anak yang dijual oleh orang tuanya untuk menjadi gisaeng. Keduanya kemudian tumbuh bersama dan menjadi sahabat hingga dewasa.
ll24
Menjelang akhir penjajahan Jepang, jaman mulai berubah. Lagu-lagu pop mulai populer menggantikan lagu-lagu tradisional.
llj
Kim Yon-woo () adalah seorang penulis lagu pop terkenal yang baru pulang dari Jepang. Ia adalah teman masa kecil So-yool dan kemudian menjadi kekasihnya. Yon-woo memiliki semangat revolusioner, untuk menciptakan lagu pop karena menurutnya lagu pop lebih membumi, bisa didengar oleh semua lapisan masyarakat, sementara lagu tradisional hanya sebagai hiburan oleh orang-orang berduit. Ketika mengetahui bahwa Yeon-hee memiliki karakter vokal untuk menyanyikan lagu-lagu pop, Yon-woo pun menawari Yeon-hee untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dan kemudian membuat rekaman.
ll22
Tentu saja, hal itu membuat So-yool cemburu berat. Ia mulai dihinggapi cemburu  pada Yeon-hee. Apalagi kemudian Yon-woo ternyata mulai jatuh cinta pada Yeon-hee dan sebaliknya. Di tengah iri hati dan dendam  karena merasa dikhianati, So-yool kemudian ‘menjual’ diri pada seorang komandan Jepang yang bersedia membantunya mewujudkan ambisinya.
llo
Tiga cast utamanya, , dan adalah faktor utama yang membuat saya penasaran sama film ini. Bagaimana tidak, ketiganya adalah aktor muda berbakat dan berimej high class di dunia sinema Korea. Di atas kertas, ketiganya juga terlihat sangat cocok jika dipasangkan. Premis ceritanya juga terdengar cukup menarik, tentang cinta dan pengkhianatan yang dilatari dunia musik tahun ’40an. Sayangnya, ekspektasi saya tak sepenuhnya terpenuhi.
ll23
Di awal, sebenarnya cerita terlihat cukup solid tapi semakin ke belakang, menjadi agak membingungkan. Rasanya agak aneh ketika tiba-tiba Yoon-woo meninggalkan So-yool dan justru jatuh cinta pada Yeon-hee. Pun agak aneh karena Yeon-hee yang demikian dekat dengan So-yool seolah tanpa rasa bersalah ketika bersama Yoon-woo. Saya sendiri tak keberatan dengan cerita cinta segitiga, dan juga tak keberatan ketika akhirnya Yoon-woo pindah ke lain hati pada Yeon-hee. Tapi sayangnya, cerita pada bagian ini tidak ekplorasi dengan lebih mendalam.
ll90
Alangkah akan lebih masuk akal misalnya, jika diceritakan bagaimana momen-momen kebersamaan Yeon-hee dan Yoon-woo bukan hanya sekadar kerjasama dalam membuat musik, tapi bahwa mereka memiliki kesamaan pemikiran. Hal ini juga terkait dengan kurang dieksplorenya karakter Yeon-hee dewasa. Padahal, menurut saya karakternya bisa menjadi lebih menarik. Diceritakan di awal bahwa Yeon-hee kecil berasal dari keluarga miskin, ia dijual ayahnya dan ia adalah anak yang berwatak keras.  Seharusnya, latar belakang semacam itu bisa menjadi latar pembentuk watak Yeon-hee dewasa dan hal itu bisa menjadi ‘penghubung’ kecocokan pemikiran dengan Yoon-woo yang cenderung revolusioner. Tapi sayangnya, ekplorasi karakter Yeon-hee di sini sedikit sekali. Padahal lagi, menurut saya aktris , si pemeran Yeon-hee juga cukup potensial untuk memainkan karakter yang lebih kompleks.  Seharusnya,menurut saya film ini adalah tentang tiga tokoh utama, tapi yang kemudian mendapat eksplorasi karakter lengkap hanya tokoh Jung So-yool. Sungguh sangat disayangkan.


Hal kedua, yang juga agak mengusik kenikmatan saya menonton film ini adalah musiknya. Seperti yang sudah sering saya tulis, saya selalu menyukai film tentang musik, apalagi musik tradisional. Tapi sayangnya juga, musik yang diperdengarkan di sini tidak terlalu wah. Mungkin hal ini juga terkait dengan para pemainnya yang memang tidak memiliki kemampuan musikal yang memadai. Untuk hal ini, karena memiliki tema mirip yang baru juga baru rilis beberapa waktu lalu, saya jadi membandingkan dengan film yang lain, , yang menurut saya, musiknya digarap dengan bagus dan dimainkan oleh para aktornya dengan bagus pula (para aktornya kebanyakan berlatar musikal). Sementara di film ini, para aktor tertuama dan , selama ini bisa dibilang pure aktor. Karenanya, ketika menyanyi, meski cukup bagus, tapi rasanya tidak sampai luar biasa sehingga rasanya tidak cukup menjadi alasan orang begitu kagum padanya seperti cerita di film. Saya tak keberatan dengan pemilihan sebagai pemeran Seo Yeon-hee di sini, tapi mungkin akan lebih menarik jika castnya adalah aktris yang benar-benar memiliki suara bagus (berlatar belakang penyanyi mungkin?) atau jika tidak, menggunakan pengisi vokal yang memang benar-benar bersuara bagus.
ll55
Tapi di atas semua kekurangan film ini, film ini tetap layak tonton. Sinematografinya digarap dengan apik dengan warna-warni cerah dan suasana oldies yang menyegarkan mata.

Cast:
– Jung So-yool
– Kim Yoon-woo
– Seo Yeon-hee

Park Sung-Woong – Komandan Jepang
– San-wol (ibu gisaeng)
Lee Han-wi – Manajer Gisaeng
– Kim Ok-hyang
Cha Ji-yeon – Lee Nan-young

Judul: Love, Lies/ Haeuhhwa (해어화)
Sutradara:
Penulis: Ha Young-Joon, Jeon Yun-Su, Song Hye-Jin
Produser: Park Sun-Jin
Sinematografi: : Jo Eun-Soo
Rilis: 13 April 2016
Durasi: 120 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

C’est si bon, Soundtrack

Maret 21, 2016 2 komentar

Seperti saya tulis di artikel sebelumnya, salah satu kekuatan film adalah musiknya yang keren dan yang menjadi makin keren adalah bahwa seluruh lagu yang menjadi soundtrack film ini dinyanyikan oleh para aktor pemerannya di film. Dan suara mereka tidak kalah keren dari para penyanyi sungguhan (atau justru malah lebih keren dari suara beberapa penyanyi sungguhan?). Lagu-lagu yang dibawakannya juga sangat asyik didengar, bernuansa folk akustik yang terasa nostalgis tapi juga tetap terasa everlasting didengar sekarang.
c'es si bon-poster
Yang menarik adalah bahwa hampir semua aktor utama yang main di sini sumbang suara, mulai dari , , , , , , dan . Dan hampir semuanya punya suara yang enak di dengar. Bisa dipahami sih karena ternyata beberapa aktor ini juga dikenal sebagai aktor ( , , , ),panggung musikal yang menuntut mereka untuk punya kemampuan menyanyi.

sb3

Twin Folio

Karena sebagian cerita film ini mengetengahkan cerita tentang Twin Folio, band Korea yang sungguhan ada, maka lagu-lagu yang menjadi ost film ini adalah lagu-lagu yang dulunya dinyanyikan oleh Twin Folio. Saya coba-coba browsing di internet, tapi tak banyak informasi dalam bahasa Inggris tentang siapa itu Twin Folio, selain bahwa mereka adalah duo yang beranggotakan Chang-Shik dan Yoon Hyong-Jo. Twin Folio populer pada tahun ’70an-’80an. Lagu-lagu yang mereka bawakan umumnya adalah lagu-lagu Barat populer pada masa itu yang kemudian digubah dalam versi Korea, seperti lagu Wedding Cake-nya Connie Francis dan White Handkerchief-nya Nana Mouskuri. Perpaduan instrumen akustik dan vokal keduanya yang unik menjadi kekuatan khasnya Twin Folio.

Meski hampir semua aktor ikut sumbang suara,namun dua  pemeran Twin Folio di film, dan , bisa dibilang sebagai pengisi utama soundtrack dan menurut saya adalah pilihan yang sangat tepat karena keduanya memang memiliki suara yang bagus.

Sejak penampilannya di drama yang juga mengetengahkan tentang musik, Monstar, saya tahu bahwa memang sungguhan bisa menyanyi dan main alat musik (terutama gitar). Kang memang mengawali karirnya di panggung musikal. Ia memiliki suara tipis yang khas. Di film ini dia cukup jor-joran menyumbang suara dan saya sama sekali tak keberatan karena dia selalu terlihat keren ketika mulai menyanyi dan main gitar. Dan kalau didengar-dengar, Kang ini memang memiliki suara dan penampilan yang mirip sama sosok yang diperankannya, Yoon Hyung-jo. Iseng saya browsing di internet dan menemukan upload-an di Youtube ketika ia (bersama dan ) dipertemukan dengan Yoon Hyun-jo di sebuah acara variety show (Hui Yool Sketchbook) dan Yoon memuji-muji vokal Kang.

csb9.jpg

Jo Bok-rae, si pendatang baru yang cukup mencuri scene

adalah nama baru bagi saya. Ketika melihat penampilannya di sini, saya terus bertanya-tanya, siapa dia? Dan ya, ternyata dia memang pendatang baru dalam dunia perfilman. Seperti Kang, Jo ini juga dikenal sebagai aktor panggung. Selain aktingnya yang cukup berhasil mencuri scene di film, ia juga memiliki suara tenor yang penuh dan powerfull.

Sementara untuk aktor lain, juga tak kalah keren. , cukup membuat saya terkejut karena saya tak menyangka kalau ahjussi berwajah serius ini punya suara bagus. Suaranya agak husky yang empuk dan enak didengar.

sb13

Kim Yun-seok yang ternyata punya vokal oke

Dua pemeran utamanya yang selama ini dikenal sebagai aktor populer, dan juga sumbang suara. Dan jujur, keduanya mewakili ketidaksukaan saya pada aktor yang menyanyi. Mereka tidak punya cukup kemampuan menyanyi tapi menyanyi. Jung Woo memiliki suara bariton yang berat tapi juga terdengar masih sangat mentah dan fals. Demikian juga  yang suaranya terasa sangat pas-pasan.

csb34

Twin Folio versi Kang Ha-neul dan Jo Bok-rae yang ternyata juga keren bingits 🙂

Well, di antara jajaran lagu bagus di film ini, favorit saya adalah duet dan di lagu White Handkerchief (hayan sonsugeon). Di lagu ini, suara tenor Jo yang powerful berpadu apik dengan suara tinggi Kang , plus petikan instrumen akustik yang kental, membuat lagu ini benar-benar terdengar indah. Menurut saya, dan adalah pasangan duet yang sangat pas. Mendengarkan lagu ini, membuat saya berharap bahwa suatu saat nanti keduanya benar-benar menelurkan lagu atau album berdua. Hehe.

csb00

Kim Hee-ae yang ternyata punya suara keren

Wedding Cake adalah lagu kedua yang saya suka. Lagu ini seolah menjadi lagu tema  film ini. Versi asli lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Amerika, Connie Francis. Di film, lagu ini dinyanyikan dalam dua versi, versi duet & Jang Hyun-sung dan versi . Menurut saya keduanya sama-sama bagus meski saya lebih suka versi , karena karakter vokal yang melengkapi nuansa oldies lagu ini.

Lagu berikutnya yang cukup saya sukai adalah When The Saints Go Marching In yang di sini dinyanyikan oleh Trio C’est si bon (versi asli lagu ini dinyanyikan Louis Amstrong). Vokal dan disini dilengkapi dengan vokal yang bariton dan memberi nuansa ‘jenaka’ pada lagu.

Berikut list lagu yang mengisi film ini:

1.When The Saints Go Marching In – Trio C’est si bon ( , , )
2.Wedding cake –  , Jang Hyun-sung vers.
3. White Handkerchief (hayan sonsugeon),
4.Daeege modu deulil
5. Wedding Cake .vers.
6.  Let’s Forget It (Ijen ijgilo haeyo)  –
7. jogaekkeobjil mukk-eo (Shells tie?) –  ft. Ukelele Picnic
8. sarnghaneun ma-eum (Loving Hearts/),
9. na geudaeege modu ?eulili  – ,
10. Daydream (Baek ilmong), ,
11.  It’s Love (Sarangiya) – Jo Bok-rae
12. It’s You (geugeon neo)  –
13. Delilah
14. na geudaeege modu deulili – ,
15. V.A – C’est si bon (뉴쎄시봉)
16. V.A – Call of Love/sarang-uijeonhwa (Ja-young theme)
17. V.A. – 충무에서 LA공항까지
18. V.A. – 슬픈 프로포즈
19. V.A. – 그때 그시절 (자영, 근태 테마)
20. V.A.  – 20년전 진실
21. V.A.  –  근태 테마
22. V.A. – 사랑하는 사람들은 늙지 않는다 (40대 테마)
23. V.A. – 데이트 (자영 테마)

Beberapa lagu yang juga muncul di film ini tapi tidak masuk ost list adalah:
1. My Bonnie Lies over the Ocean. Lagu ini adalah lagu pertama yang dibawakan oleh Yoon Hyung-ju (Kang Ha-neul) di kafe.Lagu ini aslinya adalah lagu folk Scotlandia dan sudah dinyayikan oleh banyak penyanyi.
2. You Mean Everything to Me. Lagu ini juga dinyanyika oleh Kang ketika berkompetisi dengan Chang-sik di kafe. Ini adalah lagu romantis klasik yang aslinya dinyanyikan oleh Neil Sedaka.

C’est si bon

Maret 20, 2016 Tinggalkan komentar

C’est si bon adalah sebuah kafe di daerah Mugyo-dong, Seoul, pada tahun ’60-an. Kafe ini membuat pertunjukan musik live dengan menampilkan musisi-musisi muda berbakat pada masa itu. Salah satu bintang panggung yang terkenal adalah Yoon Hyung-joo (, seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Yonsei. Karena desakan ayahnya untuk lebih konsen pada pendidikan, Hyung-joo kemudian memutuskan untuk berhenti manggung. Di saat bersamaan, muncul Song Cang-shik (, mahasiswa Universitas Hongik berpenampilan nyentrik dan memiliki karakter suara unik.
csb2

csbz
Merasa termotivasi oleh Cang-shik, Hyung-joo pun urung undur diri. Sang presiden kafe, Kim Choon-sik, yang mengagumi musikalitas keduanya, kemudian berkeinginan untuk membentuk duet. Namun karena karakter keduanya yang sulit disatukan, diputuskan untuk membuat trio saja, dimana orang ketiga berfungsi sebagai pelengkap karakter vokalnya. Lee Jang-hee (, si produser, secara tak sengaja sudah menemukan karakter suara yang pas.

csbo

Dia adalah Oh Gun-tae (, mahasiswa dari daerah yang nyambi sebagai petugas cleaning service. Berbeda dari kedua anggota yang memiliki pengetahuan musik bagus, modal pengetahuan musik Gun-tae hanyalah sebagai penyanyi gereja ketika kecil. Maka, kehadirannya pun sulit diterima oleh Yong-ju dan Cang-shik. Hingga kemudian muncul Min Ja-young (, gadis cantik pemain teater yang bermimpi untuk jadi aktris besar. Kehadiran Ja-young membuat ketiganya ingin menunjukkan kemampuan mereka dan mereka pun kemudian kompak dalam trio yang dinamai C’est Si Bon.
csbh

sb17
Meski masing-masing berusaha mendapatkan perhatian Ja-young, tapi ternyata Gun-tae yang lugu lah yang berhasil merebut hati Ja-young. Kisah cinta keduanya berjalan manis, seiring semakin populernya C’ets si bon yang kemudian siap membuat album debut. Sayang, semua itu hanya berlangsung sementara. Ja-young, demi mewujudkan mimpinya menjadi aktris besar, terpaksa menerima cinta seorang sutradara terkenal (dan meninggalkan Gun-tae. Gun-tae patah hati dan menghilang entah kemana.Si produser pun kemudian secara kilat mengganti trio menjadi duo yang kemudian dinamai Twin Folio. Karena memang anggotanya adalah dua orang yang sama berbakat, Twin Folio segera saja sukses. Sayang, hal ini pun juga tak bertahan lama. Kondisi politik masa itu yang begitu ketat dan kaku, melakukan sweeping dan menangkap mereka yang diduga pernah menghisap ganja, hal yang agaknya umum dilakukan oleh para seniman pada masa itu. Anggota Twin Folio bersama Jang-hee ditangkap. Kafe C’est si bon pun gulung tikar.
csbam

csbpn
Tapi cerita sendiri tidak akan berhenti di sini, karena cerita akan melompat ke masa 20 tahun kemudian dan cerita justru akan lebih fokus pada kisah cinta tak sampai antara Gun-tae ( dan Ja-young (yang dipertemukan kembali ketika keduanya berada di Amerika. Cerita yang justru membuat saya mengernyitkan kening. Film tentang musik yang terasa cukup solid di separoh cerita, tiba-tiba berubah menjadi cerita cinta yang terasa klise. Cerita musik pun kemudian hanya menjadi sampingan yang tak berarti. Karena saya sempat membaca sekilas kalau film ini terinspirasi dari kisah nyata, meski agak mengusik cerita, saya berusaha menikmatinya karena mungkin memang demikian ceritanya

csb1

sb12.

Tapi setelah saya baca-baca lagi ulasan di internet, ternyata kisah cinta Ja-young -Gun-tae itu fiktif dan yang kisah nyata justru adalah Twin Folio. Hal yang membuat saya tak habis pikir, kenapa sang sutradara justru lebih memfokuskan pada cerita fiktif daripada kisah nyata saja? Pun cerita fiktifnya juga terasa klise pula. Kenapa sih sutradaranya tidak fokus saja ke cerita tentang musik?  Sungguh sangat disayangkan karena menurut saya, film ini punya potensi menjadi film musik yang kuat.  Saya pikir jatuh bangun Twin Folio dan latar politik masa itu bisa menjadi fokus yang menarik. Karakter dua personelnya, Hyung-joo dan Chang-sik, cukup bisa dijadikan bahan yang kuat untuk mendukung cerita. Sayang sekali 😦
csb97
Meski begitu, sebenarnya ini juga bukan film yang buruk, kok. Apalagi cast-nya adalah jajaran aktor papan atas Korea, mulai dari , , , , , , , … yang menurut saya bermain dengan baik meski ya itu tadi, beberapa tokoh tidak ada ruang untuk eksplorasi karakter mereka dengan lebih mendalam. Selain itu, sebagaimana umumnya film tentang musik, film ini juga terasa cukup musikal, bertaburan lagu keren tahun 60-an yang bernuansa folk akustik. Dan menariknya lagi, lagu-lagunya dinyanyikan sendiri oleh para aktornya.

sb6

Biasanya, saya agak terganggu dengan aktor yang memerankan sosok musisi dan harus menyanyi karena seringkali suara mereka pas-pasan. Tapi tidak di sini, karena para aktor yang menyanyi di sini memang memiliki suara keren. Ya bisa dipahami, karena aktor-aktor yang main di film ini kebanyakan adalah aktor yang berlatar belakang sebagai aktor teater/ musikal yang memang dituntut untuk sungguhan bisa menyanyi. Mulai dari , , … Sedikit agak dipaksakan mungkin adalah dan yang juga ikut sumbang suara dan suara keduanya terdengar begitu alakadarnya, tapi masih tertutupi oleh suara yang lain kok.

Cast:
– Oh Gun-tae
– Oh Gun-tae (tua)
– Min Ja-young (muda)
– Min Ja-young (tua)

– Lee Jang-hee
Jang Hyun-Sung – Lee Jang-hee (tua)
– Yoon Hyeong-joo
– Song Chang-sik
Kwon Hae-Hyo – Kim Choon-sik
– Jo Young-nam
– sutradara
Ahn Jae-hong – Byung-chul

Judul: C’est si bon/ Sseshibong (쎄시봉)
Sutradara/Penulis: Kim Hyun-Seok
Produser: Lee Woo-Jung, Kang Myung-Chan
Sinematografi: Lee Mo-Gae
Rilis: 5 Februari 2015
Durasi: 122 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Baeksang Award 2015;
– Nominasi Best New Actor ()
Chunsa Film Award 2015:
– Nominasi Best Screenplay
Bucheon International Fantastic Film Festival 2015:
– Fantasia Award ()
Buil Film Awards 2015:
– Nominasi Best Music (Lee Byung-hoon) & Nominasi Best Supporting Actor ()
Grand Bell Awards 2015:
– Nominasi Best Music
(Sumber: wikipedia.org)

The Beauty Inside

Januari 26, 2016 2 komentar

Apa rasanya jika setiap bangun tidur wajahmu berubah menjadi orang lain? Itulah yang dialami oleh Woo-jin, sejak ia berumur 18 tahun. Setiap hari, wajahnya terus berubah: jelek, tampan, cantik, menjadi perempuan, menjadi laki-laki, menjadi anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua… menjadi orang korea, orang jepang, orang bule… Hal ini membuat Woo-jin tumbuh menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Dibantu teman baiknya, Saeng-bok, ia membuat aneka perabot kayu yang kemudian menjadi terkenal.


Suatu hari, Woo-jin yang berwajah om-om, mengunjungi sebuah toko perabot yang menjual hasil karyanya dan bertemu salah satu karyawannya yang cantik dan baik hati, Yi-soo (. Pun ketika di hari lain Woo-jin datang dengan wajah berbeda, kebaikan Yi-soo tetap tak berubah. Woo-jin pun jatuh cinta pada Yi-soo. Ketika ia mendapatkan wujud menjadi seorang pemuda tampan, ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya. Yi-soo berusaha menerima segala keanehan Woo-jin.


Namun, tentu saja, bukan hal yang mudah bersama seseorang yang wajahnya terus berubah setiap hari. Seolah ia berkencan dengan orang yang berwajah asing.


Well, di awal, waktu membaca rilis film ini saya sempat merasa agak underestimate melihat begitu banyak aktor terkenal yang memerankan Woo-jin. Ada kekhawatiran bahwa ini hanya akan menjadi film yang menjual aktor/aktris berwajah rupawan. Selain juga, bagi saya, selalu agak dilematis melihat beberapa aktor yang saya sukai bermain dalam satu film karena bingung harus lebih menyukai siapa. Tapi untunglah, sang sutradara sepertinya cukup paham psikologis penonton, karena segala sesuatu dalam film ini dikemas dengan sangat proporsional. Aktor-aktor terbaik dan lovable mendapat porsi terbaik (, , , , , , , …) sehingga saya merasa bisa menyukai mereka semua secara bersamaan. Dan yang memerankan sosok Yi-soo juga patut diacungi jempol karena mampu membangun chemistry yang bagus dengan sosok Woo-jin yang diperankan begitu banyak aktor.

bink

Good acting of Han Hyo-joo

bin43
Meski saya tak terlalu paham soal hal-hal teknis perfilman, tapi saya menyukai cerita, alur, warna dan latar yang menjadi setting film ini.  Toko kayu yang terasa sophiscated, alur yang lembut tapi solid… dan cerita tentang cinta sejati yang indah. Recommended!

Cast:
– Yi-soo
– Woo-jin
Do Ji-Han- Woo-jin
Bae Sung-Woo – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Kim Sang-Ho – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Lee Jae-Joon   – Woo-jin
Kim Min-Jae  – Woo-jin
– Woo-jin
Jo Dal-Hwan  – Woo-jin
– Woo-jin
Hong Da-Mi –  Woo-jin
–  Woo-jin
Kim Hee-Won  – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Kim Ju-hyeok – Woo-jin
– Woo-jin

Shin Dong-Mi – bosnya Yi-Soo
Moon Sook – Woo- Ibunya Jin
Lee Dong-Hwi – Sang-Baek (teman Woo-jin)
Lee Mi-Do – Eun-Soo (kakaknya Yi-soo)
Choi Yong-Min – ayahnya Yi-soo
– ayah Woo-jin
Kim Tae-Hyun – ayah Woo-jin (dulu)
Son Sung-Chan – Woo-Jin

Judul: The Beauty Inside/ Byooti Insaideu (뷰티 인사이드)
Sutradara: Baek Jong-Yeol
Penulis: Kim Sun-Jung, Park Jung-Ye
Produser: Park Tae-Joon
Sinematografi: Kim Tae-Kyung
Rilis: 20 Agustus 2015
Durasi: 127 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Daejong Film Awards 2015:
– Best New Director (Baek Jong-Yeol)
– Nominasi: Best Actress (),

Blue Dragon Film Awards 2015:
– Best Film Editing
– Nominasi: Best Actress (), Best Cinematography & Lighting,

Love 911

Desember 9, 2014 Tinggalkan komentar

Awalnya agak ogah-ogahan nonton film ini karena berpikir cuma film tentang tim rescue-rescue-an. Beberapa lama saya baru baca kalau ini sebenarnya komedi romantis, jadi ditonton deh, hehe.

Kang-il si petugas 911. Hmm, Ko-soo is hoot :D

Kang-il si petugas 911. Hmm, Ko-soo is hoot 😀

Kang-il (), seorang petugas pemadam kebakaran. Istrinya meninggal ketika ia sedang bertugas dan ia terus dihantui rasa bersalah dan belum bisa move on sejak kematian istrinya.

Han Hyo-joo yang jadi si dokter arogan, Mi-soo

Han Hyo-joo yang jadi si dokter arogan, Mi-soo

Mi-soo () adalah dokter muda di sebuah rumah sakit. Merasa pintar, ia seringkali berlaku angkuh yang berujung pada salah diagnosa yang ternyata berakibat fatal. Ia diskors dari kerjanya dan terancam dicabut ijin dokternya. Berusaha menyelamatkan diri dari tuntutan hukum, ia mendatangi Kang-il, yang pernah dipukul suami pasien yang salah ia diagnosa karena panik. Namun Kang-il yang pernah merasakan kehilangan istri, ogah menuntut si pemukul.

Love their love :)

Love their love 🙂

lvccc
Mi-soo pun kemudian melakukan berbagai cara untuk mendekati Kang-il, pura-pura merayu untuk jadi pacar eh, ujung-ujungnya jatuh cinta beneran deh karena mendapati banyak hal keren pada diri Kang-il (ya iyalah, , gitu :D). Di sisi lain, Mi-soo akhirnya sadar bahwa Kang-il ternyata belum bisa melepaskan bayang-bayang istrinya. Tapi di sisi lain juga, Kang-il mulai menyadari ketulusan Mi-soo.

Love their bromance

Love their bromance

Yah, it’s totally romance ternyata. Latar dunia tanggap darurat hanyalah jadi latar belaka. Khas film romantis Korea, meski sudah bisa diprediksi endingnya akan seperti apa, tapi alurnya susah ditebak, membuat film terasa nggak klise. Meski durasinya cukup lama untuk film jenis ini, tapi adegannya sendiri cukup cepat kok dan tidak bertele-tele, kok. Dan tentu saja, chemistry kedua pemain utamanya patut diacungi jempol,  dan . Di sisi lain, ada orang-orang di sekitar mereka yang membuat film terasa lebih hidup. Saya sempat ketar-ketir karena film yang mengakat cerita macam ini biasanya berakhir sedih, tapi untunglah, it’s happy ending 🙂 Romantis dan menghibur.
lvcnn
Cast:
– Kang-il
 – Mi-soo

Ma Dong-Seok – Ketua Tim
Kim Sung-Oh – Yong-soo
 – Hyun-kyung
Jung Jin-Young – detektif
Yang Dong-Geun – detektif Bang
Jin Seo-yeon – Ha-yoon
Oh Su-min – Ji-young (istri Kang-il)

Judul: Love 911 / Band Aid / Banchangggyo (반창꼬)
Sutradara: Jeong Ki-Hun
Penulis: Jeong Ki-Hun, Park Sang-Min, Hong Yoon-Jung, Dong Hee-Sun
Produser: Son Seung-Jin, Kim Ui-Suk, Lee Min-Ho
Sinematografi: Choi Se-Gyu
Rilis: 19 Desember 2012
Durasi: 120 menit
Distributor: Next Entertainment World
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar