Arsip

Posts Tagged ‘Han Hyo-joo’

Love, Lies

Mei 18, 2016 2 komentar

Korea Selatan, berlatar tahun ’40an, ketika Jepang masih berkuasa. Jung Soo-yool () adalah putri dari seorang gisaeng terkenal dan bertekad untuk menjadi penyanyi joengak terkenal. Di rumah pelatihan gisaeng tempatnya tumbuh, ia bertemu dengan Seo Yeon-hee) (, seorang anak yang dijual oleh orang tuanya untuk menjadi gisaeng. Keduanya kemudian tumbuh bersama dan menjadi sahabat hingga dewasa.
ll24
Menjelang akhir penjajahan Jepang, jaman mulai berubah. Lagu-lagu pop mulai populer menggantikan lagu-lagu tradisional.
llj
Kim Yon-woo () adalah seorang penulis lagu pop terkenal yang baru pulang dari Jepang. Ia adalah teman masa kecil So-yool dan kemudian menjadi kekasihnya. Yon-woo memiliki semangat revolusioner, untuk menciptakan lagu pop karena menurutnya lagu pop lebih membumi, bisa didengar oleh semua lapisan masyarakat, sementara lagu tradisional hanya sebagai hiburan oleh orang-orang berduit. Ketika mengetahui bahwa Yeon-hee memiliki karakter vokal untuk menyanyikan lagu-lagu pop, Yon-woo pun menawari Yeon-hee untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dan kemudian membuat rekaman.
ll22
Tentu saja, hal itu membuat So-yool cemburu berat. Ia mulai dihinggapi cemburu  pada Yeon-hee. Apalagi kemudian Yon-woo ternyata mulai jatuh cinta pada Yeon-hee dan sebaliknya. Di tengah iri hati dan dendam  karena merasa dikhianati, So-yool kemudian ‘menjual’ diri pada seorang komandan Jepang yang bersedia membantunya mewujudkan ambisinya.
llo
Tiga cast utamanya, , dan adalah faktor utama yang membuat saya penasaran sama film ini. Bagaimana tidak, ketiganya adalah aktor muda berbakat dan berimej high class di dunia sinema Korea. Di atas kertas, ketiganya juga terlihat sangat cocok jika dipasangkan. Premis ceritanya juga terdengar cukup menarik, tentang cinta dan pengkhianatan yang dilatari dunia musik tahun ’40an. Sayangnya, ekspektasi saya tak sepenuhnya terpenuhi.
ll23
Di awal, sebenarnya cerita terlihat cukup solid tapi semakin ke belakang, menjadi agak membingungkan. Rasanya agak aneh ketika tiba-tiba Yoon-woo meninggalkan So-yool dan justru jatuh cinta pada Yeon-hee. Pun agak aneh karena Yeon-hee yang demikian dekat dengan So-yool seolah tanpa rasa bersalah ketika bersama Yoon-woo. Saya sendiri tak keberatan dengan cerita cinta segitiga, dan juga tak keberatan ketika akhirnya Yoon-woo pindah ke lain hati pada Yeon-hee. Tapi sayangnya, cerita pada bagian ini tidak ekplorasi dengan lebih mendalam.
ll90
Alangkah akan lebih masuk akal misalnya, jika diceritakan bagaimana momen-momen kebersamaan Yeon-hee dan Yoon-woo bukan hanya sekadar kerjasama dalam membuat musik, tapi bahwa mereka memiliki kesamaan pemikiran. Hal ini juga terkait dengan kurang dieksplorenya karakter Yeon-hee dewasa. Padahal, menurut saya karakternya bisa menjadi lebih menarik. Diceritakan di awal bahwa Yeon-hee kecil berasal dari keluarga miskin, ia dijual ayahnya dan ia adalah anak yang berwatak keras.  Seharusnya, latar belakang semacam itu bisa menjadi latar pembentuk watak Yeon-hee dewasa dan hal itu bisa menjadi ‘penghubung’ kecocokan pemikiran dengan Yoon-woo yang cenderung revolusioner. Tapi sayangnya, ekplorasi karakter Yeon-hee di sini sedikit sekali. Padahal lagi, menurut saya aktris , si pemeran Yeon-hee juga cukup potensial untuk memainkan karakter yang lebih kompleks.  Seharusnya,menurut saya film ini adalah tentang tiga tokoh utama, tapi yang kemudian mendapat eksplorasi karakter lengkap hanya tokoh Jung So-yool. Sungguh sangat disayangkan.


Hal kedua, yang juga agak mengusik kenikmatan saya menonton film ini adalah musiknya. Seperti yang sudah sering saya tulis, saya selalu menyukai film tentang musik, apalagi musik tradisional. Tapi sayangnya juga, musik yang diperdengarkan di sini tidak terlalu wah. Mungkin hal ini juga terkait dengan para pemainnya yang memang tidak memiliki kemampuan musikal yang memadai. Untuk hal ini, karena memiliki tema mirip yang baru juga baru rilis beberapa waktu lalu, saya jadi membandingkan dengan film yang lain, , yang menurut saya, musiknya digarap dengan bagus dan dimainkan oleh para aktornya dengan bagus pula (para aktornya kebanyakan berlatar musikal). Sementara di film ini, para aktor tertuama dan , selama ini bisa dibilang pure aktor. Karenanya, ketika menyanyi, meski cukup bagus, tapi rasanya tidak sampai luar biasa sehingga rasanya tidak cukup menjadi alasan orang begitu kagum padanya seperti cerita di film. Saya tak keberatan dengan pemilihan sebagai pemeran Seo Yeon-hee di sini, tapi mungkin akan lebih menarik jika castnya adalah aktris yang benar-benar memiliki suara bagus (berlatar belakang penyanyi mungkin?) atau jika tidak, menggunakan pengisi vokal yang memang benar-benar bersuara bagus.
ll55
Tapi di atas semua kekurangan film ini, film ini tetap layak tonton. Sinematografinya digarap dengan apik dengan warna-warni cerah dan suasana oldies yang menyegarkan mata.

Cast:
– Jung So-yool
– Kim Yoon-woo
– Seo Yeon-hee

Park Sung-Woong – Komandan Jepang
– San-wol (ibu gisaeng)
Lee Han-wi – Manajer Gisaeng
– Kim Ok-hyang
Cha Ji-yeon – Lee Nan-young

Judul: Love, Lies/ Haeuhhwa (해어화)
Sutradara:
Penulis: Ha Young-Joon, Jeon Yun-Su, Song Hye-Jin
Produser: Park Sun-Jin
Sinematografi: : Jo Eun-Soo
Rilis: 13 April 2016
Durasi: 120 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

C’est si bon, Soundtrack

Maret 21, 2016 2 komentar

Seperti saya tulis di artikel sebelumnya, salah satu kekuatan film adalah musiknya yang keren dan yang menjadi makin keren adalah bahwa seluruh lagu yang menjadi soundtrack film ini dinyanyikan oleh para aktor pemerannya di film. Dan suara mereka tidak kalah keren dari para penyanyi sungguhan (atau justru malah lebih keren dari suara beberapa penyanyi sungguhan?). Lagu-lagu yang dibawakannya juga sangat asyik didengar, bernuansa folk akustik yang terasa nostalgis tapi juga tetap terasa everlasting didengar sekarang.
c'es si bon-poster
Yang menarik adalah bahwa hampir semua aktor utama yang main di sini sumbang suara, mulai dari , , , , , , dan . Dan hampir semuanya punya suara yang enak di dengar. Bisa dipahami sih karena ternyata beberapa aktor ini juga dikenal sebagai aktor ( , , , ),panggung musikal yang menuntut mereka untuk punya kemampuan menyanyi.

sb3

Twin Folio

Karena sebagian cerita film ini mengetengahkan cerita tentang Twin Folio, band Korea yang sungguhan ada, maka lagu-lagu yang menjadi ost film ini adalah lagu-lagu yang dulunya dinyanyikan oleh Twin Folio. Saya coba-coba browsing di internet, tapi tak banyak informasi dalam bahasa Inggris tentang siapa itu Twin Folio, selain bahwa mereka adalah duo yang beranggotakan Chang-Shik dan Yoon Hyong-Jo. Twin Folio populer pada tahun ’70an-’80an. Lagu-lagu yang mereka bawakan umumnya adalah lagu-lagu Barat populer pada masa itu yang kemudian digubah dalam versi Korea, seperti lagu Wedding Cake-nya Connie Francis dan White Handkerchief-nya Nana Mouskuri. Perpaduan instrumen akustik dan vokal keduanya yang unik menjadi kekuatan khasnya Twin Folio.

Meski hampir semua aktor ikut sumbang suara,namun dua  pemeran Twin Folio di film, dan , bisa dibilang sebagai pengisi utama soundtrack dan menurut saya adalah pilihan yang sangat tepat karena keduanya memang memiliki suara yang bagus.

Sejak penampilannya di drama yang juga mengetengahkan tentang musik, Monstar, saya tahu bahwa memang sungguhan bisa menyanyi dan main alat musik (terutama gitar). Kang memang mengawali karirnya di panggung musikal. Ia memiliki suara tipis yang khas. Di film ini dia cukup jor-joran menyumbang suara dan saya sama sekali tak keberatan karena dia selalu terlihat keren ketika mulai menyanyi dan main gitar. Dan kalau didengar-dengar, Kang ini memang memiliki suara dan penampilan yang mirip sama sosok yang diperankannya, Yoon Hyung-jo. Iseng saya browsing di internet dan menemukan upload-an di Youtube ketika ia (bersama dan ) dipertemukan dengan Yoon Hyun-jo di sebuah acara variety show (Hui Yool Sketchbook) dan Yoon memuji-muji vokal Kang.

csb9.jpg

Jo Bok-rae, si pendatang baru yang cukup mencuri scene

adalah nama baru bagi saya. Ketika melihat penampilannya di sini, saya terus bertanya-tanya, siapa dia? Dan ya, ternyata dia memang pendatang baru dalam dunia perfilman. Seperti Kang, Jo ini juga dikenal sebagai aktor panggung. Selain aktingnya yang cukup berhasil mencuri scene di film, ia juga memiliki suara tenor yang penuh dan powerfull.

Sementara untuk aktor lain, juga tak kalah keren. , cukup membuat saya terkejut karena saya tak menyangka kalau ahjussi berwajah serius ini punya suara bagus. Suaranya agak husky yang empuk dan enak didengar.

sb13

Kim Yun-seok yang ternyata punya vokal oke

Dua pemeran utamanya yang selama ini dikenal sebagai aktor populer, dan juga sumbang suara. Dan jujur, keduanya mewakili ketidaksukaan saya pada aktor yang menyanyi. Mereka tidak punya cukup kemampuan menyanyi tapi menyanyi. Jung Woo memiliki suara bariton yang berat tapi juga terdengar masih sangat mentah dan fals. Demikian juga  yang suaranya terasa sangat pas-pasan.

csb34

Twin Folio versi Kang Ha-neul dan Jo Bok-rae yang ternyata juga keren bingits 🙂

Well, di antara jajaran lagu bagus di film ini, favorit saya adalah duet dan di lagu White Handkerchief (hayan sonsugeon). Di lagu ini, suara tenor Jo yang powerful berpadu apik dengan suara tinggi Kang , plus petikan instrumen akustik yang kental, membuat lagu ini benar-benar terdengar indah. Menurut saya, dan adalah pasangan duet yang sangat pas. Mendengarkan lagu ini, membuat saya berharap bahwa suatu saat nanti keduanya benar-benar menelurkan lagu atau album berdua. Hehe.

csb00

Kim Hee-ae yang ternyata punya suara keren

Wedding Cake adalah lagu kedua yang saya suka. Lagu ini seolah menjadi lagu tema  film ini. Versi asli lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi Amerika, Connie Francis. Di film, lagu ini dinyanyikan dalam dua versi, versi duet & Jang Hyun-sung dan versi . Menurut saya keduanya sama-sama bagus meski saya lebih suka versi , karena karakter vokal yang melengkapi nuansa oldies lagu ini.

Lagu berikutnya yang cukup saya sukai adalah When The Saints Go Marching In yang di sini dinyanyikan oleh Trio C’est si bon (versi asli lagu ini dinyanyikan Louis Amstrong). Vokal dan disini dilengkapi dengan vokal yang bariton dan memberi nuansa ‘jenaka’ pada lagu.

Berikut list lagu yang mengisi film ini:

1.When The Saints Go Marching In – Trio C’est si bon ( , , )
2.Wedding cake –  , Jang Hyun-sung vers.
3. White Handkerchief (hayan sonsugeon),
4.Daeege modu deulil
5. Wedding Cake .vers.
6.  Let’s Forget It (Ijen ijgilo haeyo)  –
7. jogaekkeobjil mukk-eo (Shells tie?) –  ft. Ukelele Picnic
8. sarnghaneun ma-eum (Loving Hearts/),
9. na geudaeege modu ?eulili  – ,
10. Daydream (Baek ilmong), ,
11.  It’s Love (Sarangiya) – Jo Bok-rae
12. It’s You (geugeon neo)  –
13. Delilah
14. na geudaeege modu deulili – ,
15. V.A – C’est si bon (뉴쎄시봉)
16. V.A – Call of Love/sarang-uijeonhwa (Ja-young theme)
17. V.A. – 충무에서 LA공항까지
18. V.A. – 슬픈 프로포즈
19. V.A. – 그때 그시절 (자영, 근태 테마)
20. V.A.  – 20년전 진실
21. V.A.  –  근태 테마
22. V.A. – 사랑하는 사람들은 늙지 않는다 (40대 테마)
23. V.A. – 데이트 (자영 테마)

Beberapa lagu yang juga muncul di film ini tapi tidak masuk ost list adalah:
1. My Bonnie Lies over the Ocean. Lagu ini adalah lagu pertama yang dibawakan oleh Yoon Hyung-ju (Kang Ha-neul) di kafe.Lagu ini aslinya adalah lagu folk Scotlandia dan sudah dinyayikan oleh banyak penyanyi.
2. You Mean Everything to Me. Lagu ini juga dinyanyika oleh Kang ketika berkompetisi dengan Chang-sik di kafe. Ini adalah lagu romantis klasik yang aslinya dinyanyikan oleh Neil Sedaka.

C’est si bon

Maret 20, 2016 Tinggalkan komentar

C’est si bon adalah sebuah kafe di daerah Mugyo-dong, Seoul, pada tahun ’60-an. Kafe ini membuat pertunjukan musik live dengan menampilkan musisi-musisi muda berbakat pada masa itu. Salah satu bintang panggung yang terkenal adalah Yoon Hyung-joo (, seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Yonsei. Karena desakan ayahnya untuk lebih konsen pada pendidikan, Hyung-joo kemudian memutuskan untuk berhenti manggung. Di saat bersamaan, muncul Song Cang-shik (, mahasiswa Universitas Hongik berpenampilan nyentrik dan memiliki karakter suara unik.
csb2

csbz
Merasa termotivasi oleh Cang-shik, Hyung-joo pun urung undur diri. Sang presiden kafe, Kim Choon-sik, yang mengagumi musikalitas keduanya, kemudian berkeinginan untuk membentuk duet. Namun karena karakter keduanya yang sulit disatukan, diputuskan untuk membuat trio saja, dimana orang ketiga berfungsi sebagai pelengkap karakter vokalnya. Lee Jang-hee (, si produser, secara tak sengaja sudah menemukan karakter suara yang pas.

csbo

Dia adalah Oh Gun-tae (, mahasiswa dari daerah yang nyambi sebagai petugas cleaning service. Berbeda dari kedua anggota yang memiliki pengetahuan musik bagus, modal pengetahuan musik Gun-tae hanyalah sebagai penyanyi gereja ketika kecil. Maka, kehadirannya pun sulit diterima oleh Yong-ju dan Cang-shik. Hingga kemudian muncul Min Ja-young (, gadis cantik pemain teater yang bermimpi untuk jadi aktris besar. Kehadiran Ja-young membuat ketiganya ingin menunjukkan kemampuan mereka dan mereka pun kemudian kompak dalam trio yang dinamai C’est Si Bon.
csbh

sb17
Meski masing-masing berusaha mendapatkan perhatian Ja-young, tapi ternyata Gun-tae yang lugu lah yang berhasil merebut hati Ja-young. Kisah cinta keduanya berjalan manis, seiring semakin populernya C’ets si bon yang kemudian siap membuat album debut. Sayang, semua itu hanya berlangsung sementara. Ja-young, demi mewujudkan mimpinya menjadi aktris besar, terpaksa menerima cinta seorang sutradara terkenal (dan meninggalkan Gun-tae. Gun-tae patah hati dan menghilang entah kemana.Si produser pun kemudian secara kilat mengganti trio menjadi duo yang kemudian dinamai Twin Folio. Karena memang anggotanya adalah dua orang yang sama berbakat, Twin Folio segera saja sukses. Sayang, hal ini pun juga tak bertahan lama. Kondisi politik masa itu yang begitu ketat dan kaku, melakukan sweeping dan menangkap mereka yang diduga pernah menghisap ganja, hal yang agaknya umum dilakukan oleh para seniman pada masa itu. Anggota Twin Folio bersama Jang-hee ditangkap. Kafe C’est si bon pun gulung tikar.
csbam

csbpn
Tapi cerita sendiri tidak akan berhenti di sini, karena cerita akan melompat ke masa 20 tahun kemudian dan cerita justru akan lebih fokus pada kisah cinta tak sampai antara Gun-tae ( dan Ja-young (yang dipertemukan kembali ketika keduanya berada di Amerika. Cerita yang justru membuat saya mengernyitkan kening. Film tentang musik yang terasa cukup solid di separoh cerita, tiba-tiba berubah menjadi cerita cinta yang terasa klise. Cerita musik pun kemudian hanya menjadi sampingan yang tak berarti. Karena saya sempat membaca sekilas kalau film ini terinspirasi dari kisah nyata, meski agak mengusik cerita, saya berusaha menikmatinya karena mungkin memang demikian ceritanya

csb1

sb12.

Tapi setelah saya baca-baca lagi ulasan di internet, ternyata kisah cinta Ja-young -Gun-tae itu fiktif dan yang kisah nyata justru adalah Twin Folio. Hal yang membuat saya tak habis pikir, kenapa sang sutradara justru lebih memfokuskan pada cerita fiktif daripada kisah nyata saja? Pun cerita fiktifnya juga terasa klise pula. Kenapa sih sutradaranya tidak fokus saja ke cerita tentang musik?  Sungguh sangat disayangkan karena menurut saya, film ini punya potensi menjadi film musik yang kuat.  Saya pikir jatuh bangun Twin Folio dan latar politik masa itu bisa menjadi fokus yang menarik. Karakter dua personelnya, Hyung-joo dan Chang-sik, cukup bisa dijadikan bahan yang kuat untuk mendukung cerita. Sayang sekali 😦
csb97
Meski begitu, sebenarnya ini juga bukan film yang buruk, kok. Apalagi cast-nya adalah jajaran aktor papan atas Korea, mulai dari , , , , , , , … yang menurut saya bermain dengan baik meski ya itu tadi, beberapa tokoh tidak ada ruang untuk eksplorasi karakter mereka dengan lebih mendalam. Selain itu, sebagaimana umumnya film tentang musik, film ini juga terasa cukup musikal, bertaburan lagu keren tahun 60-an yang bernuansa folk akustik. Dan menariknya lagi, lagu-lagunya dinyanyikan sendiri oleh para aktornya.

sb6

Biasanya, saya agak terganggu dengan aktor yang memerankan sosok musisi dan harus menyanyi karena seringkali suara mereka pas-pasan. Tapi tidak di sini, karena para aktor yang menyanyi di sini memang memiliki suara keren. Ya bisa dipahami, karena aktor-aktor yang main di film ini kebanyakan adalah aktor yang berlatar belakang sebagai aktor teater/ musikal yang memang dituntut untuk sungguhan bisa menyanyi. Mulai dari , , … Sedikit agak dipaksakan mungkin adalah dan yang juga ikut sumbang suara dan suara keduanya terdengar begitu alakadarnya, tapi masih tertutupi oleh suara yang lain kok.

Cast:
– Oh Gun-tae
– Oh Gun-tae (tua)
– Min Ja-young (muda)
– Min Ja-young (tua)

– Lee Jang-hee
Jang Hyun-Sung – Lee Jang-hee (tua)
– Yoon Hyeong-joo
– Song Chang-sik
Kwon Hae-Hyo – Kim Choon-sik
– Jo Young-nam
– sutradara
Ahn Jae-hong – Byung-chul

Judul: C’est si bon/ Sseshibong (쎄시봉)
Sutradara/Penulis: Kim Hyun-Seok
Produser: Lee Woo-Jung, Kang Myung-Chan
Sinematografi: Lee Mo-Gae
Rilis: 5 Februari 2015
Durasi: 122 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Baeksang Award 2015;
– Nominasi Best New Actor ()
Chunsa Film Award 2015:
– Nominasi Best Screenplay
Bucheon International Fantastic Film Festival 2015:
– Fantasia Award ()
Buil Film Awards 2015:
– Nominasi Best Music (Lee Byung-hoon) & Nominasi Best Supporting Actor ()
Grand Bell Awards 2015:
– Nominasi Best Music
(Sumber: wikipedia.org)

The Beauty Inside

Januari 26, 2016 2 komentar

Apa rasanya jika setiap bangun tidur wajahmu berubah menjadi orang lain? Itulah yang dialami oleh Woo-jin, sejak ia berumur 18 tahun. Setiap hari, wajahnya terus berubah: jelek, tampan, cantik, menjadi perempuan, menjadi laki-laki, menjadi anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua… menjadi orang korea, orang jepang, orang bule… Hal ini membuat Woo-jin tumbuh menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Dibantu teman baiknya, Saeng-bok, ia membuat aneka perabot kayu yang kemudian menjadi terkenal.


Suatu hari, Woo-jin yang berwajah om-om, mengunjungi sebuah toko perabot yang menjual hasil karyanya dan bertemu salah satu karyawannya yang cantik dan baik hati, Yi-soo (. Pun ketika di hari lain Woo-jin datang dengan wajah berbeda, kebaikan Yi-soo tetap tak berubah. Woo-jin pun jatuh cinta pada Yi-soo. Ketika ia mendapatkan wujud menjadi seorang pemuda tampan, ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya. Yi-soo berusaha menerima segala keanehan Woo-jin.


Namun, tentu saja, bukan hal yang mudah bersama seseorang yang wajahnya terus berubah setiap hari. Seolah ia berkencan dengan orang yang berwajah asing.


Well, di awal, waktu membaca rilis film ini saya sempat merasa agak underestimate melihat begitu banyak aktor terkenal yang memerankan Woo-jin. Ada kekhawatiran bahwa ini hanya akan menjadi film yang menjual aktor/aktris berwajah rupawan. Selain juga, bagi saya, selalu agak dilematis melihat beberapa aktor yang saya sukai bermain dalam satu film karena bingung harus lebih menyukai siapa. Tapi untunglah, sang sutradara sepertinya cukup paham psikologis penonton, karena segala sesuatu dalam film ini dikemas dengan sangat proporsional. Aktor-aktor terbaik dan lovable mendapat porsi terbaik (, , , , , , , …) sehingga saya merasa bisa menyukai mereka semua secara bersamaan. Dan yang memerankan sosok Yi-soo juga patut diacungi jempol karena mampu membangun chemistry yang bagus dengan sosok Woo-jin yang diperankan begitu banyak aktor.

bink

Good acting of Han Hyo-joo

bin43
Meski saya tak terlalu paham soal hal-hal teknis perfilman, tapi saya menyukai cerita, alur, warna dan latar yang menjadi setting film ini.  Toko kayu yang terasa sophiscated, alur yang lembut tapi solid… dan cerita tentang cinta sejati yang indah. Recommended!

Cast:
– Yi-soo
– Woo-jin
Do Ji-Han- Woo-jin
Bae Sung-Woo – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Kim Sang-Ho – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Lee Jae-Joon   – Woo-jin
Kim Min-Jae  – Woo-jin
– Woo-jin
Jo Dal-Hwan  – Woo-jin
– Woo-jin
Hong Da-Mi –  Woo-jin
–  Woo-jin
Kim Hee-Won  – Woo-jin
– Woo-jin
– Woo-jin
Kim Ju-hyeok – Woo-jin
– Woo-jin

Shin Dong-Mi – bosnya Yi-Soo
Moon Sook – Woo- Ibunya Jin
Lee Dong-Hwi – Sang-Baek (teman Woo-jin)
Lee Mi-Do – Eun-Soo (kakaknya Yi-soo)
Choi Yong-Min – ayahnya Yi-soo
– ayah Woo-jin
Kim Tae-Hyun – ayah Woo-jin (dulu)
Son Sung-Chan – Woo-Jin

Judul: The Beauty Inside/ Byooti Insaideu (뷰티 인사이드)
Sutradara: Baek Jong-Yeol
Penulis: Kim Sun-Jung, Park Jung-Ye
Produser: Park Tae-Joon
Sinematografi: Kim Tae-Kyung
Rilis: 20 Agustus 2015
Durasi: 127 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Daejong Film Awards 2015:
– Best New Director (Baek Jong-Yeol)
– Nominasi: Best Actress (),

Blue Dragon Film Awards 2015:
– Best Film Editing
– Nominasi: Best Actress (), Best Cinematography & Lighting,

Love 911

Desember 9, 2014 Tinggalkan komentar

Awalnya agak ogah-ogahan nonton film ini karena berpikir cuma film tentang tim rescue-rescue-an. Beberapa lama saya baru baca kalau ini sebenarnya komedi romantis, jadi ditonton deh, hehe.

Kang-il si petugas 911. Hmm, Ko-soo is hoot :D

Kang-il si petugas 911. Hmm, Ko-soo is hoot 😀

Kang-il (), seorang petugas pemadam kebakaran. Istrinya meninggal ketika ia sedang bertugas dan ia terus dihantui rasa bersalah dan belum bisa move on sejak kematian istrinya.

Han Hyo-joo yang jadi si dokter arogan, Mi-soo

Han Hyo-joo yang jadi si dokter arogan, Mi-soo

Mi-soo () adalah dokter muda di sebuah rumah sakit. Merasa pintar, ia seringkali berlaku angkuh yang berujung pada salah diagnosa yang ternyata berakibat fatal. Ia diskors dari kerjanya dan terancam dicabut ijin dokternya. Berusaha menyelamatkan diri dari tuntutan hukum, ia mendatangi Kang-il, yang pernah dipukul suami pasien yang salah ia diagnosa karena panik. Namun Kang-il yang pernah merasakan kehilangan istri, ogah menuntut si pemukul.

Love their love :)

Love their love 🙂

lvccc
Mi-soo pun kemudian melakukan berbagai cara untuk mendekati Kang-il, pura-pura merayu untuk jadi pacar eh, ujung-ujungnya jatuh cinta beneran deh karena mendapati banyak hal keren pada diri Kang-il (ya iyalah, , gitu :D). Di sisi lain, Mi-soo akhirnya sadar bahwa Kang-il ternyata belum bisa melepaskan bayang-bayang istrinya. Tapi di sisi lain juga, Kang-il mulai menyadari ketulusan Mi-soo.

Love their bromance

Love their bromance

Yah, it’s totally romance ternyata. Latar dunia tanggap darurat hanyalah jadi latar belaka. Khas film romantis Korea, meski sudah bisa diprediksi endingnya akan seperti apa, tapi alurnya susah ditebak, membuat film terasa nggak klise. Meski durasinya cukup lama untuk film jenis ini, tapi adegannya sendiri cukup cepat kok dan tidak bertele-tele, kok. Dan tentu saja, chemistry kedua pemain utamanya patut diacungi jempol,  dan . Di sisi lain, ada orang-orang di sekitar mereka yang membuat film terasa lebih hidup. Saya sempat ketar-ketir karena film yang mengakat cerita macam ini biasanya berakhir sedih, tapi untunglah, it’s happy ending 🙂 Romantis dan menghibur.
lvcnn
Cast:
– Kang-il
 – Mi-soo

Ma Dong-Seok – Ketua Tim
Kim Sung-Oh – Yong-soo
 – Hyun-kyung
Jung Jin-Young – detektif
Yang Dong-Geun – detektif Bang
Jin Seo-yeon – Ha-yoon
Oh Su-min – Ji-young (istri Kang-il)

Judul: Love 911 / Band Aid / Banchangggyo (반창꼬)
Sutradara: Jeong Ki-Hun
Penulis: Jeong Ki-Hun, Park Sang-Min, Hong Yoon-Jung, Dong Hee-Sun
Produser: Son Seung-Jin, Kim Ui-Suk, Lee Min-Ho
Sinematografi: Choi Se-Gyu
Rilis: 19 Desember 2012
Durasi: 120 menit
Distributor: Next Entertainment World
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

Cold Eyes

Desember 4, 2014 Tinggalkan komentar

Yoon-joo (), seorang gadis cerdas yang menjadi anggota baru di Kepolisian Korea bagian kriminal. Bersama teman-temannya, mereka melakukan misi untuk menangkap seorang penjahat lihai, James (). Sebuah pekerjaan yang tak mudah dan melelahkan dan kadang juga harus mengesampingkan emosi pribadi.
PDVD_029
Another criminal movie. Tapi film ini sendiri tak punya sebuah cerita yang bulat seperti umumnya film tentang kriminal. Alih-alih, ini adalah film tentang kerja para detektif itu sendiri yang diceritakan dengan detail ketika melakukan sebuah misi. Mulai dari intai mengintai, samar menyamar dan jika sudah waktunya, melakukan gerak cepat.

Jung Woo-sung yang tumben-tumbenan main jadi antagonis

Jung Woo-sung yang tumben-tumbenan main jadi antagonis

Tidak ada one man hero di sini karena keberhasilan sebuah misi adalah hasil kerjsama tim yang solid. Di sini digambarkan bagaimana sistem kerja mereka yang harus selalu kompak, sistematis dan sigap dalam segala situasi. Keren lah pokoknya. Sekilas, kesannya adalah film yang kering ya? Tapi sang sutradara ternyata cukup lihai membuatnya menjadi tontonan visual dengan gambar-gambar cepat yang tidak membosankan dan enak dinikmati.
PDVD_023
Cast:
 – Kepala Detektif Hwang
 – James, si penjahat
 – Ha Yoon-joo
Jin Kyung – Kepala Departemen Lee
Lee Junho – Detektif Daramjwi (“Squirrel”)
Kim Byung-ok – misterius broker
Simon Yam – target

Judul: Cold Eyes/Gamsijadeul (감시자들)
Sutradara: Jo Ui-seok, Kim Byung-seo
Produser: Lee Yu-jin
Penulis: Jo Ui-seok (berdasar “Eye in the SkyYau Nai-Hoi & Au Kin-Yee)
Musik: Dalparan, Jang Young-gyu
Sinematografi: Kim Byung-seo, Yeo Kyung-bo
Editing: Shin Min-kyung
Produksi: Zip Cinema
Distributor: Next Entertainment World
Rilis: 3 Juli 2013
Durasi: 118 menit
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:

Buil Film Awards 2013:
– Best Actress –
Korean Association of Film Critics Awards 2013:
– Nominasi Best Actress –
Blue Dragon Film Awards 2013:
– Best Actress –
– Nominasi: Best Supporting Actor – , Best Cinematography, Best Lighting, Best Music, Technical Award

Asia Pacific Film Festival 2013:
Nominasi: Best Editing – Shin Min-kyung
Asian Film Awards 2014:
– Best Editor – Shin Min-kyung
– Nominasi Best Actress –  Best Supporting Actor – , Best Cinematography

Baeksang Arts Awards 2014:
– Best Supporting Actress – Jin Kyung
– Nominasi: Best Director, Best Actor  (), Most Popular Actor (Film)  (), Most Popular Actress (Film)  ()

Masquerade

Juli 10, 2014 Tinggalkan komentar

Raja Gwanghae ( ) merasa paranoid dengan kekuasaannya. Ia selalu merasa curiga bahwa ada orang yang akan membunuhnya. Ia pun memerintahkan sekretarisnya yang setia, Heo Gyun () untuk mencari seseorang yang mirip dirinya dan menggantikannya pada waktu-waktu tertentu.

masquaerade

Orang itu adalah Ha-sun ( ), seorang pelawak di rumah Gisaeng. Awalnya hanya pada malam hari saja. Tapi kemudian hal menjadi semakin rumit ketika kemudian Sang Raja kolaps secara tiba-tiba. Heo Gyun yang tak ingin membuat kerajaan chaos, sementara proses penyembuhan raja berlangsung,menyuruh Ha-sun benar-benar mengambil peran Sang Raja. Dan tentu saja, Ha-sun yang hanya seorang pelawak di rumah Gisaeng cukup kesulitan. Sehingga berbagai hal-hal konyol pun terjadi.
Masquerade5
Namun kemudian, seiring waktu, Ha-sun menemukan berbagai ketidak adilan yang terjadi dalam kerajaan dan merasa tergugah. Sementara itu Heo Gyun yang selama ini cukup kesulitan mewujudkan ide-idenya tentang keadilan, juga menjadi terbantu dengan ‘Raja’ yang notabene memang hampir sepenuhnya di bawah pengarahannya.

Tapi tentu saja, ini tak berlangsung selamanya. Sifat raja yang berubah menimbulkan banyak tanya dan para politikus licik pun mulai melakukan penyelidikan. Di sisi lain, Raja sebenarnya juga sudah siuman.

Heo Gyun yang adil dan bijaksana

Heo Gyun yang adil dan bijaksana

Saya penasaran sama film ini awalnya lebih karena sematan film terbaik di Baeksang Awards dan Daejong Film Awards. Dan mungkin gelar itu tak berlebihan karena Masquerade adalah salah satu film Korea yang terkesan ‘wah’ dengan tata sinematografi berlatar Korea jaman kerajaan yang cukup meyakinkan. Dan ceritanya sendiri juga cukup menarik. Awalnya saya pikir ini akan menjadi seperti film ‘I am King’nya Ju Ji-hoon, tapi ternyata Masquerade lebih serius. Meski ke tengah, menurut saya ceritanya sedikit ‘berlebihan’, maksud saya, lebih ke penokohan Ha-sun. Di situ digambarkan bahwa semakin ke sini, Ha-sun semakin mampu beradaptasi menjadi Raja dan bahkan mengambil keputusan-keputusan sendiri. Hal yang menurut saya agak berlebihan mengingat latar belakangnya yang ‘hanya’ seorang biasa, pelawak pula dan kejadian itu sangat singkat, sekitar 15 hari. Apalagi digambarkan di awal kalau Ha-sun bukanlah sosok yang cukup cerdas, jadi perubahan karakternya kemudian terasa terlalu drastis. Tak ada yang salah dengan akting , hanya saja mungkin scriptnya seperti itu.

Han Hyo-jo yang anggun sebagai permaisuri

Han Hyo-jo yang anggun sebagai permaisuri

Lalu ada  sebagai Ratu yang cantik dan anggun dan saya pikir, dia  yang memang sudah terbiasa untuk peran-peran seperti itu, membawakannya dengan baik meski juga tak terlalu istimewa. Mungkin juga karena scriptnya yang sedemikian rupa yang membuat tak terlalu banyak adegan yang melibatkan dirinya.

Masquerade4

Karakter terbaik menurut saya adalah si sekretaris kerajaan, Seo Gyeon, yang dibawakan dengan sangat baik oleh . Aneh bahwa selama ini saya sudah nonton banyak film-filmnya  tapi baru kali merasa ‘ngeh’dengan dirinya sebagai salah seorang aktor papan atas Korea. Yah, dia adalah Yoon-goo, si bapak retarded di , si lelaki flamboyan di All About My Wife, si kepala pasukan bengis Manchu di War of the Arrows…dan banyak lagi film-filmnya yang menampilkan kualitas aktingnya yang prima. Yah tak seperti rekan seangkatannya ( Song Kang-ho, Choi Min-sik…yang nyaris selalu menjadi pemeran utama, dia memang sepertinya tak ‘keberatan’ dengan peran-peran pembantu. Tapi mungkin justru itulah sisi lain kualitas seorang aktor, karena apapun perannya ia sepertinya selalu menunjukkan penampilan terbaiknya. Salut.

Pada akhirnya, ini adalah sebuah tontonan yang cukup layak untuk dinikmati.

Note:
– Konon cerita film ini didasarkan pada karya penulis Amrik, Mark Twain’s “The Prince & The Pauper”
– Konon aktor Jung Jae-Young yang sedianya akan memerankan tokoh Raja Gwanghae/ Ha-sun, tapi karena jadwal yang bentrok, kemudian mengundurkan diri dan digantikan .

Cast:
– Raja Gwanghae/ Ha-sun
– Heo Gyun
– Ratu
Kim Myung-Gon – Park Choong-seo
Kim In-Kwon – Pengawal Do
– Sa-wol (dayang istana)
Jang Gwang – Kasim Jo

Judul: Masquerade/ Ghwanghae, Man Became A King/ Gwanghae, Wangyidoen Namja (광해, 왕이 된 남자)
Sutradara:
Penulis: Hwang Jo-Yoon
Produser: Jung Ji-Hoon, Kim Bo-Yeon
Sinematografi: Lee Tae-Yoon
Rilis: 13  September 2012
Durasi: 131 menit
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan
    
 Awards
PaekSang Arts Awards 2013:
– Best Film
– Best Director
Blue Dragon Film Awards 2012:
– Best Art Design
Korean Association of Film Critics Awards 2012:
– Best Technical Achievement
Daejong Film Awards 2012:
– Best Film
– Best Director
– Best Actor ( )
– Best Supporting Actor ()
– Best Screenplay
– Best Cinematography
– Best Visual Effects
– Best Costume Design
– Best Art Design
– Best Music
– Best Sound Effects
– Best Lighting
– Best Editing
– Best Production
– Popularity Award ( )

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar