Arsip

Posts Tagged ‘Film Timur Tengah’

The Salesman

Januari 24, 2018 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan kechaosan yang terjadi di sebuah rumah hunian karena si pemilik hendak meruntuhkannya. Para penghuni pun mau tak mau harus segera Sepasang suami istri muda, Emad dan Rana adalah salah satunya. Emad adalah guru seni yang hangat dan dicintai murid-muridnya. Di malam hari, ia bermain teater bersama Rana. Tanpa terlalu banyak mengumbar adegan sok romantis, kita tahu bahwa keduanya adalah pasangan harmonis yang saling mencintai satu sama lain.

The Salesman-4

Berdasarkan rekomendasi seorang temannya di teater, Emad dan Rana kemudian pindah di sebuah apartemen sederhana yang baru saja ditinggal pergi penghuni sebelumnya. Penghuni sebelumnya ini, masih meninggalkan barang-barangnya di apartemen dan susah sekali dihubungi. Lalu suatu hari, ketika Rana sedang di rumah sendirian, seseorang masuk dan memukulnya hingga kepalanya terluka cukup parah. Usut punya usut, diketahui kalau penghuni sebelumnya adalah seorang perempuan ‘nggak bener’ dan kemungkinan orang yang menyerang Rana adalah salah satu orang langganannya. Mengira bahwa Rana adalah si penghuni lama.

The Salesman-1

Emad merasa sangat marah mengetahui hal ini. Apalagi kemudian, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Rana. Rana yang mandiri dan ceria berubah menjadi sosok penakut dan pemurung. Harga diri Emad sebagai seorang suami terluka. Apalagi kemudian Rana menolak untuk melaporkan kejadian itu ke polisi karena enggan mengikuti prosedurnya yang ribet belum lagi kinerja kepolisian yang meragukan (terdengar familiar!). Emad pun kemudian diam-diam berusaha mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penyerangan itu. Tapi ketika akhirnya pun ia berhasil menemukannya, ia tak lantas mudah membalaskan dendamnya. Alih-alih, keadaan justru menjadi rumit.

The Salesman-5

Saya selalu suka dengan film-film non Hollywood, karena punya orisinalitas ceritanya sendiri. Dan salah satu genre film yang saya sukai adalah film-film Timur Tengah, termasuk Iran. Apalagi bisa dibilang, untuk film-film Timur Tengah, sinema Iran memang yang paling menonjol bahkan untuk kancah internasional pun, menurut saya mereka adalah salah satu negara dengan tradisi perfilman terbaik. Di tengah ideologi negara mereka yang terkenal puritan, mereka tetap produktif menelurkan film-film berkualitas yang terus wara-wiri di kancah festival film atau ajang penghargaan internasional. Bagi penggemar film, siapa yang tak kenal nama seperti Majid Majidi, Bahman Gobadi, Jafar Panahi…

The Salesman-3

Kekuatan film-film Iran menurut saya terletak pada cerita dan penyajian film yang sangat realistis dengan plot-plot yang nyaris tak terduga dan kemudian akan meninggalkan kesan mendalam serta perenungan setelah menontonnya. Pun dengan film ini. Semuanya disajikan dengan sangat realisitis dan bisa dibilang ‘sederhana’ tapi terasa begitu dalam dan mengena. Dialognya, adegannya, eksekusi-eksekusinya…. Sangat pantas kalau film ini kemudian mendapatkan penghargaan sebagai Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2017. Bahkan menurut saya jauh lebih bagus daripada film pemenang Oscar-nya sendiri (yang tahun ini jatuh pada film Moonlight, yang menurut saya biasa-biasa saja). Good movie!

Cast:
Shahab Hosseini – Emad
Taraneh Alidoosti – Rana
Babak Karimi – Babak
Farid Sajadhosseini – The Man
Mina Sadati – Sanam
Maral Bani Adam – Kati
Mehdi Koushki – Siavash
Emad Emami – Ali
Shirin Aghakashi – Esmat
Mojtaba Pirzadeh – Majid
Sahra Asadollahi – Mojgan
Ehteram Boroumand – Mrs. Shahnazari
Sam Valipour – Sadra

Sutradara/Penulis: Asghar Farhadi
Produser: Alexandre Mallet-Guy, Asghar Farhadi
Musik: Sattar Oraki
Sinematografi: Hossein Jafarian
Editor: Hayedeh Safiyari
Produksi: Memento Films Production, Asghar Farhadi Production, Arte France Cinéma
Distributor: Filmiran (Iran), Memento Films Distribution (Perancis)
Rilis: 21 Mei 2016 (Cannes)
Durasi: 125 menit
Negara/Bahasa: Iran/ Persia

Awards:

Academy Awards 2017 : Best Foreign Language Film
Asian Film Awards 2017: Best Screenplay
Cannes Film Festival 2016 : Best Screenplay , Best Actor (Shahab Hosseini)
Chicago International Film Festival 2016: Silver Hugo Special Jury Prize (Asghar Farhadi )
Critics’ Choice Movie Awards 2016 : Nominasi Best Foreign Language Film
Golden Globe Awards 2017 : Nominasi Best Foreign Language Film
etc,

Iklan

Omar

Juni 12, 2017 Tinggalkan komentar

Omar, adalah seorang pemuda biasa yang sehari-hari bekerja sebagai penjual roti. Ia bersahabat baik dengan Tarek dan Amjad sejak kecil. Mereka tinggal di Tepi Barat. Omar tinggal di bagian Palestina, sementara Tarek dan Amjad di bagian Israel. Untuk bertemu kedua sahabatnya, setiap saat ia harus memanjat tembok pemisah dan berisiko ditangkap hingga ditembak oleh polisi Israel. Kesal dengan sikap arogan para tentara Israel, mereka pun kemudian bergabung dengan tim pemberontak. Dalam hal ini, Tarek lah yang menjadi pemimpinnya.

Omar-4

 

Omar-1

Omar kemudian jatuh cinta pada adik Tarek, Nadia, yang manis. Dan gayung bersambut, karena Nadia juga menyukai Omar. Karena situasi politik dan juga hidup di lingkungan yang relatif tradisional, mereka pun menjalin hubungan diam-diam, melalui surat menyurat yang manis. Di sisi lain, Amjad, juga menyukai Nadia.

Omar-3

Suatu hari, Omar, Tarek dan Amjad melakukan ‘misi’ melakukan serangan terhadap tentara Israel. Dalam pengejaran, Omar tertangkap. Di dalam penjara, ia kemudian bertemu Rami, seorang detektif simpatik yang menawarkan ‘perdamaian.’ Omar akan dibebaskan dengan syarat ia membantu Rami untuk menangkap Tarek. Tentu saja, ini adalah sebuah pilihan yang dilematis. Tapi Omar tak punya banyak pilihan karena satu-satu mimpinya adalah agar bisa hidup bersama Nadia. Meski kemudian, ia punya rencana sendiri.

Omar-8

 

Keluar dari penjara, situasi tidak menjadi baik. Omar dituduh berkhianat karena bisa keluar dengan mudah. Tarek dan Amjad, bahkan juga Nadia mencurigainya. Hubungannya dengan Nadia pun kemudian memburuk. Hal ini kemudian menjadi runyam karena Amjad seolah menjadi orang ketiga.

Omar-2

Another cliche romance story? Nanti dulu. Sekilas mungkin memang terkesan demikian, tapi yang membuat cerita film ini berbeda dengan film dengan cerita yang sejenis adalah latar ceritanya. Tepi Barat Palestina-Israel yang selalu penuh konflik. Meskipun film ini mengetengahkan tentang cinta, tapi sebenarnya tema besarnya adalah pengkhianatan. Dan di film ini, pengkhianatan bukanlah sesuatu yang disajikan secara hitam putih. Hidup di sebuah tempat yang terus bergolak oleh perang dan penuh ketidak pastian, adalah hal yang sangat manusiawi ketika setiap orang kemudian menjadi ‘egois’, dalam artian, ingin menjalani kehidupan yang baik untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang ia sayangi. Dan tema itu lah yang kemudian menjiwai seluruh karakter pokok dalam film ini. Meski di siini tokoh utamanya adalah Omar, tapi sebenarnya, semua karakter di sini digambarkan memiliki preferensi ‘egois’ dan ‘berkhianat’ semacam itu.

Omar-5

Di antara film-film tentang berlatar konflik Palestina-Israel, film ini adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Saya menyukai film ini, karena menyajikan ‘drama’ dan konflik politik dengan pas sehingga terkesan lebih ‘hangat’ dan ‘lembut.’ Tapi juga tidak jatuh ke dalam sesuatu yang terlalu ‘cengeng.’ Meski mungkin cerita cintanya terkesan ‘klise’ tapi salutnya hal itu dibalut dengan konflik yang lebih ‘dalam’ dengan sangat baik, dan hal itu pula yang mungkin menjadikan film ini banyak menuai pujian. (Film ini masuk nominasi Best Foreign Language di Academy Awards dan juga seleksi kompetisi di Cannes). Recommended!

Cast:
Adam Bakri – Omar
Eyad Hourani – Tarek
Samer Bisharat – Amjad
Waleed Zuaiter – Agent Rami
Leem Lubany – Nadia

Sutradara/Penulis: Hany Abu-Assad
Produser: Hany Abu-Assad, Waleed Zuaiter, David Gerson
Sinematofrafi: Ehab Assal
Editing: Martin Brinkler, Eyas Salman
Rilis: 21 Mei 2013 (Cannes)
Durasi: 96 menit
Negara/Bahasa: Palestina/Arab

Awards:
Award/Festival Category Winner/Nominee Won
Academy Awards 2013:
– Nominas Best Foreign Language Film
Festival Film Cannes 2013:
– Un Certain Regard (Special Jury Pirzed)
Toronto Film Festival 2013:
– The Norwegian Peace Film Award

etc.

Theeb

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Theeb (artinya” serigala”) adalah bocah lelaki anak seorang pemimpin suku yang sudah meninggal tapi tetap dihormati. Ia tinggal di gurun bersama kakak lelakinya, Hussein dan para lelaki kaumnya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000262135
Suatu hari, datang seorang tamu, Edwards, bule Inggris yang minta diantar ke tempat pembangunan jalur rel kereta api. Hussein yang dipercaya untuk mengantar. Sedih berpisah dengan kakaknya, Theeb diam-diam mengikuti. Meski awalnya keikutsertaannya menjadi kontroversi, tapi akhirnya ia diijinkan ikut. Dimulailah perjalanan melelahkan menyusuri gurun dan celah-celah tebing bebatuan.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000853271
Hingga di suatu pemberhentian, mereka bertemu dengan para bandit gurun. Karena kalah jumlah, satu per satu mereka tewas. Dan hanya tinggal Theeb yang selamat. Di tengah keadaan terdampar di tengah gurun, kemudian datang salah satu anggota bandit, Hassan, yang terluka parah. Karena saling membutuhkan, terjalinlah “persahabatan” di antara keduanya. Hassan bercerita, bahwa orang-orang saling membunuh  setelah dibukanya rel kereta api. Orang-orang yang dulu bekerja sebagai pemandu orang berzziarah ke gurun dengan menggunakan unta, sekarang kehilangan pekerjaan karena sudah diganti dengan kereta api.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_004797979
Hassan kemudian mengajak Theeb ke tempat tentara gerakan untuk menjual barang-barang hasil rampokannya. Theeb merasa marah, karena barang-barang itu adalah harga yang dibayar atas kematian orang-orang, terutama kakaknya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_005241840
Miris dan juga sedih, itulah perasaan saya ketika menonton film ini. Berlatar gurun yang panas dan kerontang, rasanya miris membayangkan bagaimana orang hidup di tempat ekstrem itu. Dan bagaimana kemudian kekerasan terbentuk sebagai upaya untuk mempertahankan diri di tengah perebutan sumberdaya yang terbatas. Meski begitu, kita juga merasa terharu, melihat bagaimana sebenarnya orang-orang gurun itu juga sebagai orang yang hangat (sangat menghargai tamu) dan bertanggungjawab. Namun kemudian bisa dipahami ketika mereka rela saling membunuh karena memang ‘dipaksa’ oleh kondisi. Sebuah film yang memberi kita pemahaman tentang sebentuk strategi survival di salah satu sudut dunia.

Quote: “The strong will eat the weak”

Cast:
Jacir Eid Al-Hwietat – Theeb
Hussein Salameh Al-Sweilhiyeen – Hussein
Hassan Mutlag Al-Maraiyeh – Hassan
Jack Fox – Edward

Judul: Theeb
Sutradara: Naji Abu Nowar
Produser: Diala Al Raie, Bassel Ghandour, Nasser Kalaj, Yanal Kassay, Rupert Lloyd, Laith Majali, Nadine Toukan
Penulis: Naji Abu Nowar, Bassel Ghandour
Musik: Jerry Lane
Sinematografi: Wolfgang Thaler
Editing: Rupert Lloyd
Produksi: Bayt Al Shawareb, Fertile Crescent Films, Immortal Entertainment, Noor Pictures
Distributor: MAD Solutions
Rilis: 4 September 2014 (Venice), 19 Maret 2015 (UAE), 19 Maret 2015 (Jordan), 14 Agustus 2015 (UK)
Durasi: 100 menit
Negara: Jordania, United Arab Emirates, Qatar, Inggris
Bahasa: Arab

Awards:
– Academy Awards 2014: Nominasi ” Best Foreign Language Film” (Jordania)
– British Academy Film Awards 2014: – Nominasi “Best Film Not in the English Language “,  Nominasi “Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer     (Naji Abu Nowar, Rupert Lloyd)”
– Venice International Film Festival 2014: – Best Director ,  Nominasi Best Film
and many mores…

About Elly

Juli 22, 2015 Tinggalkan komentar

Tiga pasang keluarga muda yang bersahabat mengadakan liburan ke pinggiran laut Kaspian. Bersama mereka adalah sahabat mereka, Ahmad, yang baru bercerai dan pulang dari Jerman. Mereka pun sepakat untuk memperkenalkan Ahmad dengan Elly, seorang gadis muda guru sekolah anak-anak mereka. Yang diserahi tanggung jawab sebagai mak comblang adalah Sepideh.
ae7
Karena tidak mendapatkan penginapan, mereka pun sepakat tinggal di sebuah villa kosong yang agak rusak dan berniat menghabiskan tiga hari di sana. Demi tidak menimbulkan omongan dari pemilik villa, mereka pun berbohong kalau Elly dan Ahmad adalah pasangan pengantin baru. Hal yang membuat Elly terlihat kurang nyaman.
ae4
Liburan itu terasa begitu hangat dan sempurna. Hingga keesokan harinya, tiba-tiba salah seorang anak mereka tenggelam di laut dan bersamaan dengan itu, Elly yang diminta menjaga anak-anak, menghilang. Di tengah rasa cemas, takut dan panik, terungkaplah bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar mengenal siapa Elly. Di tengah kebingungan, mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain. Dan pada titik ini, penonton pun kemudian akan dibawa dalam rasa cemas dan gusar: siapa sebenarnya Elly? Kenapa dia tibatiba menghilang? Pergi kemana dia sebenarnya? Dan sang sutradara begitu lihai menyimpan misteri itu hingga di penghujung film pun, rasanya masih meninggalkan tanya.
About Elly
Another Iranian movie. Agak berbeda dengan film-film Iran yang sudah saya tonton yang biasanya sangat liris dan mengharu biru, film ini sendiri terasa lebih ‘ringan’ dan modern. Dan sepertinya memang itulah yang ingin diangkat sang sutradara, Asghar Farhadi. Setelah filmnya yang lain, Separation yang juga mengetengahkan masyarakat urban modern Iran, film ini juga mengetengahkan karakter yang hampir mirip. Dari penampilan dan obrolan mereka, kita tahu bahwa karakter-karakter di film ini adalah orang-orangmuda yang berpendidikan, mengenakan bajubaju yang terlihat stylist berikut mobil mewah. Tapi di sisi lain, mereka juga masih “Iran” dengan permasalahan-permasalahan budaya sendiri dan nilai-nilai yang mereka anut (cara mereka berpakaian meski terkesan modern tapi masih mengenakan kerudung dan pakaian yang tertutup, perdebatan mereka tentang mempertahankan nama baik seorang perempuan, kebohongan mereka tentang hubungan Elly-Ahmad dan tentu saja, Elly yang hubungannya tak disetujui orang tuanya).

Cast:
Golshifteh Faharani – Sepideh
Shahab Hosseini – Ahmad
Taraneh Alidoosti – Elly
Merila Zare’i – Shohreh
Mani Haghighi – Amir
Peyman Moaadi – Peyman
Ra’na Azadivar – Naazi
Ahad Mehranfar – Manoochehr
Saber Abbar – Alireza

Judul lain: Darbareye Elly
Sutradara: Asghar Farhadi
Produser: Asghar Farhadi, Simaye Mehr, Mahmoud Razavi
Sinematografi: Hossein Jafarian
Musik: Andrea Bauer
Penulis: Asghar Farhadi, Azad jafarian
Riilis: 6 juni 2009
Bahasa: Persia, Jerman
Negara: Iran, Perancis

Award:
Berlin International Film 2009:
– Best Director, nominasi Golden Berlin Bear
Asia Pacific film Festival: – Special Jury Award, Best Screenplay
Asia Pasific Screen Award:
– Best Screenplay, Jury Grand Prize
Brisbane International FA 2009:
Netpac Award (Asghar Farhadi)
etc see imdb

Inch’ Allah

Maret 2, 2015 Tinggalkan komentar

Chloe, seorang dokter dari Kanada yang bekerja di Palang Merah Internasional dan ditempatkan di Ramallah, Tepi Barat. Ia tinggal di sebuah apartemen di Jerusallem dan setiap hari melintasi perbatasan ke tempat kerjanya. Di apartemennya, ia berteman dengan Ava, seorang tentara Israel yang bekerja di perbatasan, yang sering mengalami konflik batin karena terpaksa menjalankan perintah yang tak sesuai hati nurani. Chloe juga menjalin hubungan yang hangat dengan keluarga pasiennya, Rand, yang orang Palestina Muslim.
inchr
Ia pun kemudian menyaksikan bagaimana konflik Israel-Palestina telah membuat orang-orang seperti keluarga Rand menjadi korban dan bahkan dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya sendiri.
incht
Hmm, selalu merinding lihat film-film semacam ini. Semakin miris menyadari bahwa hal itu memang nyata adanya. Perang, perebutan ego, dan selalu, rakyat yang tak tahu apa-apa selalu jadi korbannya. Akh….
inchy
Filmnya sendiri diceritakan dengan tidak terlalu tendensius karena mengambil sudut pandang orang ketiga, tapi justru cukup menyentuh.
inchgf
Cast:
Évelyne Brochu – Chloe
Sabrina Ouazani – Rand
Sivan Levy – Ava
Yousef Sweid – Faysal
Hammoudeh Alkarmi – Safi
Zorah Benali – Soraida
Carlo Brandt – Micheal
Ahmad Massad – Imad

Sutradara: Anaïs Barbeau-Lavalette
Produser: Luc Déry, Kim McCraw, Stephen Traynor
Penulis: Anaïs Barbeau-Lavalette
Musik: Levon Minassian
Sinematografi: Philippe Lavalette
Editing: Sophie Leblond
Distributor: E1 Films Canada
Rilis: 8 September 2012 (Toronto International Film Festival)
Negara: Kanada
Bahasa: Perancis, Inggris, Arab, Ibrani

Awards:
Berlin International Film Festival 2013:
– FIPRESCI Prize – Panorama (Anaïs Barbeau-Lavalette)
– Prize of the Ecumenical Jury – Special Mention (Anaïs Barbeau-Lavalette)

Canadian Screen Awards, CA 2013:
– Nominasi: Best Motion Picture

Women Film Critics Circle Awards 2013:
– 2nd place – Best Movie by a Woman
– Best Foreign Film by or About Women

Vancouver International Film Festival 2012:
– Nominasi: Best Canadian Feature Film (Anaïs Barbeau-Lavalette)

dll, lihat imdb.com

Kandahar

Januari 2, 2015 Tinggalkan komentar

Nafas, perempuan Afganistan tapi sudah lama menjadi migran di Kanada. Suatu hari, ia mendapat surat dari saudara perempuannya yang ingin bunuh diri ketika terjadinya gerhana. Saudaranya ini dulu tak bisa ikut bermigrasi karena kakinya terkena ranjau.
kndhr8
Nafas berniat untuk menghentikannya dan menemui saudaranya sebelum gerhana terjadi. Tapi suhu politik di Afghanistan sedang memanas sehingga sama sekali bukan hal yang mudah bagi Nafas masuk ke sana. Di tambah lagi kenyataan bahwa dia seorang perempuan. Nafas pun kemudian memulai ‘petualangannya’ masuk ke Afghanistan demi menemui saudaranya.
kndhr3
Dalam perjalanan, ia pun melihat wajah negerinya yang poranda oleh perang. Bertemu dengan orang-orang yang kebahagiaannya telah dicabik-cabik perang. Sshh…sebuah film yang membuat merinding. Betapa perang dan sebuah ideologi bisa begitu mengerikan!

Orang-orang yang berebut kaki palsu, saaad :(

Orang-orang yang berebut kaki palsu. Adegan yang membuat saya merinding 😦

Cast:
Nelofer Pazira – Nafas
Hassan Tantai – Tabib Sahid
Sadou Teymouri – Khak
Hoyatala Hakimi – Hayat
Ike Ogut – Naghadar

Judul: Kandahar/ The Sun Behind the Moon/ Safar-e Ghandehar
Sutradara/ Penulis/ Produser:
Musik: Mohammad Reza Darvishi
Sinematografi: Ebrahim Ghafori
Editing:
Distributor: Avatar Films
Rilis: 2001
Durasi: 85 menit
Negara/ Bahasa: Iran/ Persia, Inggris, Pashto, Polandia

Awards:
 Cannes Film Festival 2001:
– Prize of the – Ecumenical Jury ()
– Nominasi: Palme d’Or ()

European Film Awards 2001:
– Nominasi: Screen International Award (, Iran)

Golden Trailer Awards 2002:
– Nominasi Best Independent

etc see imdb.com

Osama

Januari 1, 2015 Tinggalkan komentar

Afghanistan ketika masa rejim Taliban dimana seorang perempuan dilarang untuk melakukan aktivitas di luar rumah, tanpa didampingi lelaki. Namun bagaimana jika di dalam sebuah keluarga tak ada lelakinya? Itulah yang dialami keluarga Osama, yang hanya diisi dirinya, sang ibu dan sang nenek karena para lelaki sudah meninggal di medan perang.
osama
Demi bertahan hidup, Osama kemudian menyamar sebagai bocah lelaki agar bisa bekerja di luar. Awalnya, semua berjalan baik dan tak ada yang curiga. Namun masalah muncul ketika tiba masa dimana anak-anak laki-laki di bawa ke asrama untuk dididik belajar agama dan berperang.
osm2
Osama merasa canggung berada di antara anak lai-laki dengan segala kenakalannya. Dan kadang-kadang, ia juga tak bisa menyembunyikan sifat-sifat femininnya. Untunglah ada Espandi, anak laki-laki badung tapi berhati baik, yang mengetahui kalau dirinya perempuan dan karenanya berusaha melindunginya. Meski begitu, dia hanyalah seorang bocah lelaki yang tak punya banyak kemampuan dan kuasa apa-apa di tengah rezim seperti itu. Dan kita juga tahu, bahwa penyamaran Osama adalah sesuatu yang sangat riskan.
osmd
Fiiuh…betapa menyebalkan dan memuakkannya sebuah rejim. Dan betapa tidak mudahnya menjadi perempuan di tempat semacam itu. Sad :(
osm7b
Cast:
Marina Golbahari – Osama
Arif Herati – Espandi
Zubaida Sahar – Ibu
Gol Rahman Ghorbandi – Perempuan #1
Mohamad Haref Harat – Perempuan #2
Mohamad Nader Khadjeh – Perempuan #3
Khwaja Nader – Jadi
Hamida Refah – Rohmi

Judul: Osama
Sutradara/ Penulis: Siddiq Barmak
Produser: Julia Fraser, Julie Le Brocquy
Musik: Mohammad Reza Darvishi
Sinematografi: Ebrahim Ghafori
Editing: Siddiq Barmak
Produksi: Barmak Film
Distributor: Metro-Goldwyn-Mayer
Rilis: 20 Mei 2003 (Cannes)
Durasi: 83 menit
Negara: Afghanistan, Belanda, Jepang, Irlandia, Iran
Bahasa: Persia

Awards:
Cannes Film Festival 2003:
– AFCAE Award (Siddiq Barmak), Cannes Junior Award (Siddiq Barmak), Golden Camera – Special Mention (Siddiq Barmak)

Golden Globes, USA 2004:
– Best Foreign Language Film (Afghanistan)

British Film Institute Awards 2003:
– Sutherland Trophy (Siddiq Barmak )

Pusan International Film Festival 2003:
– Audience Award     (Siddiq Barmak)
– New Currents Award – Special Mention (Siddiq Barmak)

etc. see imdb.com

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar