Arsip

Posts Tagged ‘Cannes FF’

Train To Busan

November 18, 2016 Tinggalkan komentar

Sebenarnya, saya tak terlalu suka film bergenre fantasi, apalagi fantasi thriller. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya penasaran sama film ini. Pertama, karena sutradaranya, . Saya sudah nonton film debutannya, , yang banyak mendapat apresiasi. Bagi saya yang awam, menurut saya filmnya memang memiliki kekhasan dan idealisme tersendiri, yang menunjukkan kalau sutradaranya tidak membuat film yang sembarangan.
train-to-busan2
Kedua, film ini diputar di ajang  Festival Film Cannes. Yah, saya tahu kalau film-film Korea memang sering masuk di ajang festival ini, tapi biasanya adalah film dari sutradara-sutradara mapan seperti atau . Dan bahwa film dari sutradara yang bisa dibilang ‘baru’ masuk di sini, menurut saya pastilah ada sesuatu darifilmnya.  Ketiga, saya baca ulasan di internet dan banyak yang bilang kalau film ini bagus. Keempat tentu para cast-nya, aktor-aktor yang cukup familiar bagi saya dan cukup saya sukai: , , .
train-to-busan
Seok-woo () adalah seorang warkaholic. Ia nyaris tak pernah punya waktu untuk putrinya semata wayang, Soo-an. Di hari ulang tahunnya, Soo-an ingin ke tempat mamanya (Seok-woo sudah bercerai) di Busan. Mereka pun pergi dengan naik kereta api.
train-to-busan3
Di dalam kereta api, mereka bertemu beberapa penumpang yang lain. Ada sepasang suami istri, Sang-hwa () dan istrinya, Sung-gyeong ( ), yang sedang hamil tua. Ada Youn-gook, remaja SMA dan kawan-kawan sekolahnya yang hendak tanding baseball dan diikuti pacarnya, Jin-hee. Juga ada Yong-suk, lelaki egois dan pemarah.
train-to-busan6

train-to-busan5
Tanpa ada yang tahu, di antara para penumpang, ada seorang perempuan yang terinfeksi virus aneh dan tiba-tiba berubah menjadi zombie. Ia menyerang penumpang lain dan dalam sekejap, penumpang yang terinfeksi berubah menjadi zombie yang ganas dan agresif. Maka penumpang pun kalang kabut untuk menyelamatkan diri. Tidak hanya itu, karena virus zombie ini juga ternyata menyerang di seluruh kota sehingga kereta api tak bisa berhenti di stasiun-stasiun yang ada. Satu-satunya tempat yang masih aman adalah Busan. Tapi tentu saja, mereka harus berjuang keras melawan serangan para zombie agar bisa selamat sampai ke Busan. Seok-woo yang karena otak bisnisnya, selalu mementingkan diri sendiri, akhirnya sadar bahwa dalam keadaan sulit, ia harus saling membantu dan bekerjasama.

train-to-busan10
Hehe… sebuah film dengan cerita yang bisa dibilang sangat-sangat simple. Tapi anehnya, tetap bisa menjadi sebuah film yang bagus dan enak dinikmati. Meskipun sepanjang film bisa dibilang isinya cuma chaos, kejar-kejaran sama zombie, tapi mampu mengaduk emosi ketika menontonnya. Melihat zombie-zombie yang terus menyerang dan berteriak kadang terasa menggelikan, di sisi lain juga sangat menegangkan melihat para tokoh utama yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan diri. Dan seperti umumnya film Korea, selalu ada drama yang membuat cerita tidak akan kering dan memberi sentuhan humanis yang mengharukan.  Ada hubungan ayah-anak, suami istri, saudara, kekasih, juga sifat mementingkan diri sendiri manusia ketika dalam kondisi terdesak.
train-to-busan13
Meskipun tidak banyak eksplorasi karakter dari para tokohnya, tapi rasanya cukup bisa memahami karakter-karakter tokohnya, yang menurut saya, tentu tak lepas dari permainan bagus dari para aktornya. Semuanya bermain bagus dan pas,  meski , selalu mencuri scene lewat aktingnya sebagai suami penyayang dan pemberani berbadan kekar.

Menurut saya ini adalah film yang brilian. ‘Sederhana’  tapi juga lengkap. Recommended!

Note:
Film ini merupakan sekuel dari film animasi “Seoul Station” yang juga disutradarai

Cast:
– Seok-woo
– Sung-gyeong
– Song-hwa
Kim Soo-ahn – Soo-an
Kim Eui-sung – Yong-suk
Choi Woo-sik – Young-gook
Ahn So-hee – Jin-hee
Jang Hyuk-jin – Ki-chul
– penumpang gelap (pembawa virus)

Judul: Train To Busan / For Busan / Busanhaeng (부산행)
Sutradara:
Penulis: Park Joo-Suk,
Produser: Lee Dong-Ha, Kim Yeon-Ho
Sinematografi: Lee Hyung-Duk
Premiere: Mei 2016 (Cannes Film Festival)
Rilis: 20 Juli 2016
Durasi: 118 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival:
Cannes Film Festival 2016 – Midnight Screening

Iklan

A Girl At My Door

November 5, 2015 Tinggalkan komentar

Lee Young-nam () baru dimutasi sebagai kepala kepolisian di daerah. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang gadis kecil berpakaian kumal dan langsung lari ketika ia dekati. Belakangan, ia melihat lagi gadis itu tengah dibully teman-temannya, lalu dipukuli ayah tirinya.  Tak tahan, Young-nam pun berusaha memberi perlindungan.
a girl at my door_hancinema.net
Gadis itu adalah Sun Do-hee(). Ia tinggal bersama ayah tiri dan neneknya, sementara ibunya pergi entah kemana. Ayah tirinya, Park Yong-ha adalah lelaki yang suka mabuk dan jika sudah mabuk melampiaskan amarah dengan memukuli Do-hee. Sang Nenek juga turut serta berlaku kejam pada Do-hee. Orang-orang di kota itu tak ada yang berani ikut campur karena Yong-ha memiliki reputasi sebagai penjaga keamananan kota.
a girl at may dorr
Karena perlindungan yang diberikan Young-nam, Do-hee pun merasa aman dan kemudian tinggal di rumahnya. Tapi tentu saja, masalah tak lantas selesai begitu saja. Yong-ha yang memang berandal tak lantas tinggal diam. Ketika Yong-nam menangkapnya karena kasus imigran ilegal, Yong-ha balik menyerang dengan menggunakan dalih  orientasi seksual Yong-nam.
a girl at my door_hancinema.net2
Yups, sedikit spoiler, film ini memang melibatkan sedikit cerita homoseksualitas. Yang bagi saya sendiri agak mengejutkan. Pertama, karena sama sekali tak terduga di awal dan kedua, karena tema ini rasanya jarang sekali diangkat dalam film-film Korea. Bagi yang tidak suka dengan cerita semacam ini, mungkin akan sedikit terganggu. Tapi tenang saja, Isu preferensi orientasi seksual  sendiri tidak akan dieksplore, tapi lebih menjadi latar yang menambah konflik cerita.
a girl at my door_poster
Dan untuk akting, selalu menampilkan kualitas akting yang prima. Ia menampilkan sosok Yong-nam, yang tampak selalu menyimpan emosi terpendam.   Lalu, Kim Sae-ron? Yah, salut untuk aktris muda satu ini. Sejak penampilannya yang gemilang di film Nowhere Man bersama Won Bin, agaknya kemampuan aktingnya sudah diakui terbukti dari beberapa kali dia dipercaya menjadi pemeran utama. Dan yah di sini, lagilagi dia menunjukkan kemampuan aktingnya yang memukau sebagai Do-hee, sosok ‘teraniaya’ yang terlihat rapuh tapi juga menyimpan sesuatu yang ‘liar.’

Cast:
– Lee Young-nam
– Sun Do-hee
Sung Sae-byeok – Park Yong-ha
Gong Myung – Polisi Kwon Son-oh
Kim Jin-goo – Nenek
Jang Hee-jin – Eun-jung

Judul: A Girl At My Door, Doheeya
Sutaradara/ Penulis: July Jung
Peoduser:  , Lee Joon-dong
Sinematografi: Kim Hyun-suk
Rilis: 19 Mei 2014 (Cannes FF)
Durasi: 119 menit
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Baeksang Arts Awards 2015: – Best New Director
Nominasi: Best film, Best actress (), Best Supporting Actor (Song Sae-byeon),

Blue Dragon 2014: Best New Actress ()
Film Festival:
Cannes FF 2014, Uncertain Regard – World Premiere
Toronto International FF  2014: City to City – North American Premiere
Busan International FF 2014: Korean CInema Today – Panorama
BFI London FF 2014: Debate Gala
Chigago International FF 2014: New Directors

Elena

Januari 13, 2015 Tinggalkan komentar

Elena dan  Vladimir adalah pasangan tua yang baru menikah beberapa tahun. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Elena dari masyarakat biasa, seorang perempuan lembut yang penuh perhatian, sedangkan Vladimir adalah lelaki kaya yang angkuh dan perhitungan. Meski begitu, mereka tampak harmonis, saling melengkapi dan mencintai.

Elena dan Vladimir

Elena dan Vladimir

Masing-masing memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Sergei, anak Elena, sudah berkeluarga namun seorang kepala rumah tangga yang tak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri dan selalu bergantung pada Elena. Pun ketika anak tertuanya, Sasha hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, Elena diharapkan bisa membantu dengan minta tolong pada Vladimir. Vladimir merasa keberatan karena berpikir bahwa Sergei lah sebagai seorang ayah yang harus bertanggung jawab terhadap anaknya. Di samping juga kenyataan bahwa kelurga Sergei bukanlah keturunannya.

Elena dan keluarga anaknya Sergey, yang terus merong-rongnya

Elena dan keluarga anaknya Sergey, yang terus merong-rongnya

Vladimir juga memiliki seorang anak perempuan, Katya. Yang hidup berfoya-foya sesukanya dan nyaris tak pernah menghubungi Vladimir. Meski begitu, Vladimir selalu menunjukkan kalau ia sangat mencintai putrinya.
elny
Hingga suatu hari, tiba-tiba Vladimir terkena serangan jantung dan harus di rawat di rumah sakit. Setelah dibujuk Elena, Katya akhirnya mengunjungi ayahnya dan dalam kunjungan itu, ia berhasil berdamai dengan ayahnya. Hal yang kemudian membuat Vladimir berpikir untuk mewariskan hampir seluruh hartanya untuk putrinya. Hal yang membuat Elena merasa kecewa. Demi membantu keluarga anaknya, Elena pun kemudian nekad melakukan hal yang nyaris tak terduga untuk perempuan selembut dirinya.
Elena
Seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya. Mungkin itulah inti utama film ini. Kasih sayang yang kadang terlalu ‘buta’. Tapi bagaimana lagi? Masa ada seorang ibu yang tega melihat kehidupan anaknya menderita? Meski begitu, film ini juga seolah ingin menunjukkan ironi dari pengorbanan buta semacam itu.  Bagaimana seringkali sang anak justru tak tak tahu diuntung. Apakah semua itu cukup worthed? Sebuah film yang mengalir dengan lembut, riak-riak konfliknya muncul dengan rapi dan hening, berbalut latar kota yang tampak dingin dan kelabu.

Cast:
Nadezhda Markina – Elena
Andrey Smirnov – Vladimir (Volodya)
Elena Lyadova – Katerina (Katya)
Aleksey Rozin – Sergey
Igor Ogurtsov – Aleksandr (Sasa)

Sutradara: Andrey Zvyagintsev
Penulis: Oleg Negin
Musik: Philip Glass
Sinematografi: Mikhail Krichman
Distributor: Zeitgeist Films
Rilis: 21 Mei 2011 (Cannes)
Durasi: 109 menit
Negara/Bahasa: Rusia

Awards:
Asia Pacific Screen Awards 2011:
– Best Performance by an Actress (Nadezhda Markina), Achievement in Directing (Andrey Zvyagintsev)
– Nominasi: Achievement in Directing

Cannes Film Festival 2011:
– Un Certain Regard – Special Jury Prize (Andrey Zvyagintsev)
– Nominasi: Un Certain Regard Award     (Andrey Zvyagintsev)

Durban International Film Festival 2011
– Best Direction

European Film Awards 2011
– Nominasi: Best Actress (Nadezhda Markina )

Moscow International Film Festival 2011
– Russian Film Clubs Federation Award (Andrey Zvyagintsev )

Kandahar

Januari 2, 2015 Tinggalkan komentar

Nafas, perempuan Afganistan tapi sudah lama menjadi migran di Kanada. Suatu hari, ia mendapat surat dari saudara perempuannya yang ingin bunuh diri ketika terjadinya gerhana. Saudaranya ini dulu tak bisa ikut bermigrasi karena kakinya terkena ranjau.
kndhr8
Nafas berniat untuk menghentikannya dan menemui saudaranya sebelum gerhana terjadi. Tapi suhu politik di Afghanistan sedang memanas sehingga sama sekali bukan hal yang mudah bagi Nafas masuk ke sana. Di tambah lagi kenyataan bahwa dia seorang perempuan. Nafas pun kemudian memulai ‘petualangannya’ masuk ke Afghanistan demi menemui saudaranya.
kndhr3
Dalam perjalanan, ia pun melihat wajah negerinya yang poranda oleh perang. Bertemu dengan orang-orang yang kebahagiaannya telah dicabik-cabik perang. Sshh…sebuah film yang membuat merinding. Betapa perang dan sebuah ideologi bisa begitu mengerikan!

Orang-orang yang berebut kaki palsu, saaad :(

Orang-orang yang berebut kaki palsu. Adegan yang membuat saya merinding 😦

Cast:
Nelofer Pazira – Nafas
Hassan Tantai – Tabib Sahid
Sadou Teymouri – Khak
Hoyatala Hakimi – Hayat
Ike Ogut – Naghadar

Judul: Kandahar/ The Sun Behind the Moon/ Safar-e Ghandehar
Sutradara/ Penulis/ Produser:
Musik: Mohammad Reza Darvishi
Sinematografi: Ebrahim Ghafori
Editing:
Distributor: Avatar Films
Rilis: 2001
Durasi: 85 menit
Negara/ Bahasa: Iran/ Persia, Inggris, Pashto, Polandia

Awards:
 Cannes Film Festival 2001:
– Prize of the – Ecumenical Jury ()
– Nominasi: Palme d’Or ()

European Film Awards 2001:
– Nominasi: Screen International Award (, Iran)

Golden Trailer Awards 2002:
– Nominasi Best Independent

etc see imdb.com

Osama

Januari 1, 2015 Tinggalkan komentar

Afghanistan ketika masa rejim Taliban dimana seorang perempuan dilarang untuk melakukan aktivitas di luar rumah, tanpa didampingi lelaki. Namun bagaimana jika di dalam sebuah keluarga tak ada lelakinya? Itulah yang dialami keluarga Osama, yang hanya diisi dirinya, sang ibu dan sang nenek karena para lelaki sudah meninggal di medan perang.
osama
Demi bertahan hidup, Osama kemudian menyamar sebagai bocah lelaki agar bisa bekerja di luar. Awalnya, semua berjalan baik dan tak ada yang curiga. Namun masalah muncul ketika tiba masa dimana anak-anak laki-laki di bawa ke asrama untuk dididik belajar agama dan berperang.
osm2
Osama merasa canggung berada di antara anak lai-laki dengan segala kenakalannya. Dan kadang-kadang, ia juga tak bisa menyembunyikan sifat-sifat femininnya. Untunglah ada Espandi, anak laki-laki badung tapi berhati baik, yang mengetahui kalau dirinya perempuan dan karenanya berusaha melindunginya. Meski begitu, dia hanyalah seorang bocah lelaki yang tak punya banyak kemampuan dan kuasa apa-apa di tengah rezim seperti itu. Dan kita juga tahu, bahwa penyamaran Osama adalah sesuatu yang sangat riskan.
osmd
Fiiuh…betapa menyebalkan dan memuakkannya sebuah rejim. Dan betapa tidak mudahnya menjadi perempuan di tempat semacam itu. Sad :(
osm7b
Cast:
Marina Golbahari – Osama
Arif Herati – Espandi
Zubaida Sahar – Ibu
Gol Rahman Ghorbandi – Perempuan #1
Mohamad Haref Harat – Perempuan #2
Mohamad Nader Khadjeh – Perempuan #3
Khwaja Nader – Jadi
Hamida Refah – Rohmi

Judul: Osama
Sutradara/ Penulis: Siddiq Barmak
Produser: Julia Fraser, Julie Le Brocquy
Musik: Mohammad Reza Darvishi
Sinematografi: Ebrahim Ghafori
Editing: Siddiq Barmak
Produksi: Barmak Film
Distributor: Metro-Goldwyn-Mayer
Rilis: 20 Mei 2003 (Cannes)
Durasi: 83 menit
Negara: Afghanistan, Belanda, Jepang, Irlandia, Iran
Bahasa: Persia

Awards:
Cannes Film Festival 2003:
– AFCAE Award (Siddiq Barmak), Cannes Junior Award (Siddiq Barmak), Golden Camera – Special Mention (Siddiq Barmak)

Golden Globes, USA 2004:
– Best Foreign Language Film (Afghanistan)

British Film Institute Awards 2003:
– Sutherland Trophy (Siddiq Barmak )

Pusan International Film Festival 2003:
– Audience Award     (Siddiq Barmak)
– New Currents Award – Special Mention (Siddiq Barmak)

etc. see imdb.com

Secret Sunshine

November 14, 2014 Tinggalkan komentar

Setelah kematian suaminya, Shin-ae () bersama putranya yang masih kecil, Jun, memutuskan untuk pindah ke Miryang, kampung halaman almarhum suaminya. Miryang artinya adalah “Secret Sunshine” tempat ia akan memulai hidupnya yang baru. Meski terlihat tabah, tapi Shin-ae tak bisa menyembunyikan kesedihannya, apalagi ternyata suaminya meninggal setelah berselingkuh.

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Di Miryang, ia membuka tempat les piano dan berkenalan dengan para tetangga. Ada Jong-chan (), lelaki pemilik sebuah bengkel kecil yang masih melajang di usianya yang 39 tahun dan dianggap looser oleh ibunya. Ada Kim, sopir sekolah Jun, lelaki dengan seorang putri remaja. Ada perempuan pemilik toko pakaian, suami istri pemilik apotik yang rajin ke gereja… Kenyataan bahwa Shin-ae seorang janda mengundang simpati sekaligus gosip di belakang punggungnya. Shin-ae yang tak ingin terlihat menyedihkan, mengatakan bahwa ia akan membeli lahan di Miryang dan berinvestasi.

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan :)

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan 🙂

Omongan yang kemudian justru mengundang malapetaka. Dikira kaya raya, anaknya diculik untuk memerasnya. Penculikan yang berujung pada…kematian anaknya. Ufth! Sampai pada titik ini saya menarik napas. Apakah ini film tragedi dengan tokoh utama yang mengalami penderitaan bertubi-tubi yang menguras air mata ala sinetron? Well, untunglah, sejak awal saya tahu bahwa ini adalah sebuah film garapan sineas besar Korea, dan bahkan sudah mendapatkan pengharggan di salah satu ajang film paling bergengsi di dunia: Cannes Film Festival. Dan karenanya, saya yakin tidak akan jatuh jadi sebuah film yang hanya mengumbar kecengengan.

Benar, ini adalah  film tentang tragedi. Tapi ceritanya tidak akan menceritakan hal-hal yang “dramatis.” Tragedi hanyalah sebagai titik mula. Karena cerita kemudian akan lebih fokus pada reaksi terhadap tragedi. Yah, bisa dibilang ini adalah film psikologis.  Film kemudian akan coba mengeksplore, bagaimana seorang manusia berusaha bersikap ketika berhadapan dengan hal paling menyakitkan dalam hidupnya.
ssn3
Melalui sosok Shin-ae yang ditimpa tragedi bertubi-tubi, diperlihatkan bagaimana seorang manusia berusaha mencari jawab dari rasa sakit dan juga berusaha membebaskan diri dari rasa sakit itu. Hal yang selalu diharapkan adalah “keadilan” dan “keadilan” seringkali dimaknai sebagai “balas dendam” atau harapan agar orang yang membuat sakit merasakan sakit yang sama atau mendapat balasan yang setimpal. Karena batasan kemampuan manusia untuk melakukan pembalasan yang setimpal itu, pelarian yang paling memungkinkan adalah pada “Ia Yang Berkuasa.” Dalam hal ini, ketuhanan. Shin-ae yang semula tak percaya pada Tuhan, kemudian memutuskan untuk lari pada “Tuhan” demi berharap bahwa Tuhan memberi keadilan.

Tapi “keadilan” Tuhan mungkin memang tak selalu bisa dipahami manusia. Shin-ae pada akhirnya merasa kecewa ketika Tuhan ternyata juga milik si pendosa, yang merasa “Tuhan telah mengampuninya.” Shin-ae pun kemudian sampai pada titik rasa sakit yang tak tertahankan, rasa sakit yang paling absurd dan membuatnya ‘melewati batas’, hal yang justru akan semakin menghancurkannya.
ssnj
Tapi tenanglah, film ini tak hendak bermain-main dengan nihilisme. Pada akhirnya, hanya manusia sendirilah yang bisa membebaskan dirinya dari rasa sakit. Bukan dengan berharap adanya sebuah “pembalasan yang adil” pada orang yang menyebabkan rasa sakit tersebut, tapi lebih pada “menerima” dan “merelakan” . Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi dan yang kita, manusia, bisa lakukan hanyalah melanjutkan hidup. Kita punya pilihan, membiarkan diri terperangkap dalam rasa sakit demi berharap adanya “pembalasan yang setimpal” atau terus bergerak ke depan, meninggalkan semua kepahitan menyongsong masa depan dengan segala kemungkinan.

Well, sebuah film yang terasa sangat “berat.” Tapi juga terasa sangat solid. Dan meskipun menyesakkan,  tapi tidak jatuh menjadi sesuatu yang depresif. Alih-alih, film ini merupakan perenungan yang mendalam dengan ending yang terasa optimis.
ssnm
Soal akting?  mampu masuk ke dalam karakter Shin-ae yang “penuh luka” dengan sangat baik, dan sepertinya memang layak membuatnya diganjar sebagai aktris terbaik di Cannes. Lalu sosok Jong-chan yang dimainkan  dengan peran “badut”nya, saya pikir adalah pilihan yang pas sebagai “pemecah” dan “penyeimbang” karakter muram Shin-ae. Juga para aktor pendukung dengan segala kerealistisannya.
It’s great story !  

Cast:
 – Shin-ae
 – Jong-chan
Jo Young-jin – Park Do-seop
Kim Young-jae – Min-ki (adik Shin-ae)
Seong Jeong-yeop – Jun
Song Mi-rim – Jung-a (anak Do-seop)
Kim Mi-hyang – Kim
Kim Mi Kyung-pemilik toko
Oh Man seok – pastor

Judul: Secret Sunshine/ Milyang (밀양)
Sutradara/ Penulis:
Asisten: Lee Jung-Hwa
Produser:
Sinematografer: Cho Yong-Kyu
Rilis: 23 Mei 2007
Durasi: 142 menit
Distributor: Cinema Service
Negara/ Bahasa: Korea/ Korea Selatan

Awards;
Asia Pacific Screen Awards 2007
– Best Film
– Best Performance by an Actress ()
– Nominasi: Best Screenplay,

Asian Film Awards 2008
– Best Actress ()
– Best Director
– Best Film
– Nominasi: Best Actor ()

Baek Sang Art Awards 2008
– Best Director

Blue Dragon Awards 2007
– Best Actress ()

Cannes Film Festival 2007
– Best Actress ()
– Nominasi: Palme d’Or

Grand Bell Awards, South Korea 2007
– Special Award  ()

etc (sumber: Imdb)

Cinema Paradiso

November 8, 2014 Tinggalkan komentar

Salvatore (Toto), seorang bocah lelaki yang menaruh minat pada film. Ia besahabat dengan Alfredo, lelaki yang menjadi pemutar film di bioskop Cinema Paradiso, bioskop di kota kecil tempat tinggalnya yang selalu disesaki pengunjung. Toto hanya tinggal dengan ibu dan adiknya dan ayahnya tewas dalam perang.

Toto kecil yang tergila-gial sama film. Ekspresinya menggemaskan banget ya :D

Toto kecil yang tergila-gial sama film. Ekspresinya menggemaskan banget ya 😀

Alfredo tidak hanya menjadi sahabat, tapi juga seperti sosok ayah baginya. Bagi Alfredo yang tidak mempunyai anak dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruang pemutaran seorang diri, kehadiran Toto menjadi pelibur jenuh dan sepinya. Pun ketika Toto kemudian minta diajari cara memutar film, Alfredo tak bisa menolak. Ketika terjadi sebuah kecelakaan yang membuat Alfredo buta, Toto kecil kemudian menjadi penggantinya menjadi pemutar film.

Meski begitu, ia selalu berpesan pada Toto, agar jangan sampai menghabiskan hidupnya menjadi pemutar film seperti dirinya kelak. Ia selalu mengatakan, agar Toto mengejar hal-hal yang lebih besar di luar sana.

Belajar menjadi pemutar film pada Alfredo

Belajar menjadi pemutar film pada Alfredo

Film tentang para pelaku dunia perfilman sudah banyak sekali dibuat, tapi film yang bercerita tentang orang yang menonton film, saya pikir jarang dibuat. Dan Cinema Paradiso adalah salah satunya. Berlatar sebuah kota kecil di Italia pada masa setelah masa Perang Dunia ke-2, ini adalah sebuah film ‘sederhana’ yang indah dan mengharukan.

Film ini menggambarkan, bagaimana sebuah kegiatan menonton film, pada masa-masa awal dulu, adalah sebuah kegiatan sosial yang begitu meriah. Menyatukan semua lapisan masyarakat, tak pandang usia. Bagaimana orang duduk bersama, tergelak-gelak, terlongo-longo, memaki dan menangis ketika menonton sebuah film lengkap dengan beragam polah yang mengiringinya (bercumbu, meneteki anak…) Lalu bagaimana di balik semua itu, ada seorang yang hidup penuh dedikasi, terisolasi dalam ruang sempit pemutar film, terpaksa menonton film yang sama berkali-kali, siap untuk dicaci dan diteriaki para penonton: sang pemutar film.

Hidup harus punya impian yang besar,bukan?

Hidup harus punya impian yang besar,bukan?

Yah, film ini memang seakan menjadi sebuah nostalgia romantis tentang kegiatan menonton film pada masa-masa dimana industri dan teknologi belum secanggih sekarang. Tentu sangat mengasyikkan menikmati film seperti yang digambarkan dalam film ini, tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa perkembangan saat ini juga membuat semakin mudah dan murahnya orang mengakses film. Orang tak perlu lagi repot-repot ke bioskop hanya untuk menonton film.
cinema13
Hmm, melihat segala kemajuan itu, nggak tahu apa harus merasa sedih atau gembira. Saya sendiri nggak pernah mengalami kegiatan menonton seperti yang digambarkan di film ini, tapi membayangkannya, memang terasa mengasyikkan. Tapi yah, setiap zaman pasti ada masanya tersendiri dan tak ada yang bisa mencegah terjadinya perubahan. Meski begitu, saya pikir satu hal yang tak pernah berubah: film adalah salah satu penemuan paling menakjubkan di semesta ini.

Cast:
Philippe Noiret – Alfredo
Salvatore Cascio – Salvatore Di Vita (kecil)
Marco Leonardi – Salvatore Di Vita (remaja)
Jacques Perrin – Salvatore Di Vita (dewasa)
Antonella Attili – Maria (muda)
Enzo Cannavale – Spaccafico
Isa Danieli – Anna
Pupella Maggio – Maria (tua)
Agnese Nano – Elena Mendola (remaja)
Leopoldo Trieste – Bapak Adelfio
Nino Terzo – ayahnya Peppino
Giovanni Giancono – Mayor
Brigitte Fossey (Extended cut) – Elena Mendola (tua)

Sutradara: Giuseppe Tornatore
Produser: Franco Cristaldi, Giovanna Romagnoli
Penulis: Giuseppe Tornatore
Musik: Ennio Morricone, Andrea Morricone
Sinematografi: Blasco Giurato
Editing: Mario Morra
Produksi: Les Films Ariane
Distributor: Miramax Films (AS), Umbrella Entertainment
Rilis: 17 November 1988
Durasi: 155 menit, 124 menit (International cut)
Negara: Italia
Bahasa: Italia, Inggris, Portugis, Sisilia

Awards
Cannes Film Festival 1989:
– Grand Prix du Jury (tied with Trop belle pour toi)
Golden Globe Awards 1989:
– Best Foreign Language Film
Academy Awards 1989:
– Best Foreign Language Film
BAFTA Awards 1991:
– Best Film (Not in the English Language)
– Best Actor: Philippe Noiret
– Best Actor in a Supporting Role: Salvatore Cascio
– Best Original Screenplay: Giuseppe Tornatore
– Best Film Music: Ennio Morricone and Andrea Morricone

1st Annual 20/20 Awards 2010:
– Best Foreign Language Picture
– Best Cinematography

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar