Arsip

Posts Tagged ‘Baek Yoon-shik’

Meet the In-Laws

Februari 20, 2017 Tinggalkan komentar

Hyun-ju () dan Da-hong () adalah sepasang kekasih. Masalahnya, keduanya berasal dari daerah yang berbeda. Hyun-ju dari Jeolla-do dan Da-hong dari Gyeosang-do (Busan), dua tempat yang memiliki sentimen kedaerahan. Ayah Da-hong sangat membenci orang dari Jeolla-do yang dianggap kampungan. Belum lagi ternyata ayah Hyun-ju mengelola bar. Eh, di tambah pula kenyataan bahwa Hyun-ju bekerja sebagai penulis komik. Sebuah profesi yang terdengar kurang ‘keren’ untuk seorang cowok.

clash-of-the-families-2011-720p-bluray-dd5-1-x264-ebp-mkv_000875299

Tapi karena ingin segera bisa menikahi Da-hong, Hyun-ju kemudian datang dan mengaku berasal dari Seoul. Tapi tentu saja, kebohongan semacam itu lama-lama akan terungkap. Masalah menjadi makin rumit karena ternyata ayah Hyun-ju dan ayah Da-hong punya dendam masalalu.

clash-of-the-families-2011-720p-bluray-dd5-1-x264-ebp-mkv_006777143

clash-of-the-families-2011-720p-bluray-dd5-1-x264-ebp-mkv_000232754

Hehe, unik sih ceritanya. Mungkin kasus seperti ini banyak juga terdapat di Indonesia, bagaimana kadang-kadang kita punya stigma tertentu terhadap suku tertentu. Dikemas dengan nuansa komedi dengan konflik cerita yang cukup kuat. Meski bagi saya sendiri, kurang bisa menemukan kelucuannya karena tak memahami aksen bahasa yang digunakan di sini. Tapi lumayan menghibur, kok.

clash-of-the-families-2011-720p-bluray-dd5-1-x264-ebp-mkv_000924701

Note:
Cerita film ini dilatari pada situasi sosial yang ada di Korea. Konon memang ada sentimen antara orang dari Jeolla dan Busan, terutama pada tahun ’50an. Orang Jeolla dilekati dengan stereotipe sebagai orang yang tidak jujur.

Cast:
– Hyun-joon
– Da-hong

– Young-kwang
– Choon-ja (ibunya Da-hong)
Kim Eung-Soo – Se-dong (ayahnya Hyun-joon)
– Dae-sik (pengawalnya Hyunj00n)
Kim Jung-nan – Young-ja
Jung Sung-hwa – Woon-bong (kakaknya Dahong)
– Dj

Judul: Meet the In-Laws / Dangerous Meeting of In-Laws / Uiheomhan Sangkyeonrye (위험한 상견례)
Sutradara:
Penulis: Ha Myung-Mi, Shin Han-Sol
Produser: Lee Jin-Sung
Sinematografer: Jung Jin-Ho
Rilis: 31 maret 2011
Durasi: 118 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Inside Men

April 26, 2016 Tinggalkan komentar

Ahn Sang-goo () adalah seorang gangster. Ia menjalin hubungan ala hyungnim-dongsaeng dengan seorang jurnalis senior yang licik, Lee Kang-hee. Sang-goo selalu berpikir bahwa hubungannya dengan Kang-hee adalah hubungan timbal balik yang menguntungkan dan percaya bahwa Kang-hee memberi perlindungan untuknya.

Good acting of Lee Byung-hoon!

Good acting of Lee Byung-hoon!

Lee Kang-hee () diam-diam menjalin hubungan dengan dua orang pengusaha, Jang Pil-woo ()dan Presiden Oh. Ketika kedua perusahaan ini bermasalah secara hukum, Kang-hee diam-diam ikut terlibat.

Tiga lelaki 'terhormat' yang culas dan licik

Tiga lelaki ‘terhormat’ yang culas dan licik

Woo Jang-hoon () adalah seorang pengacara yang ambisius dan bermulut kasar. Ia berasal dari latar belakang keluarga orang biasa dan tidak punya beking siapa-siapa. Dengan idealismenya, Jang-hoon ingin menunjukkan bahwa ia mampu meraih posisi dalam karir pengacaranya meski dengan segala keterbatasan itu. Ia pun berambisi menangani kasus Pil-woo-Oh. Berpikir bahwa Sang-goo bisa membantunya menemukan bukti-bukti, Jang-hoon pun menawarkan kerjasama. Siapa sangka, hal itu justru menjadi semacam bumerang bagi Sang-goo karena ternyata Kang-hee yang ia percaya akan selalu di pihaknya ternyata seorang penjahat licik yang hanya memanfaatkannya.

Finally, Jo Seung-woo! :P

Finally, Jo Seung-woo! 😛

Bersama, dua orang dengan latar belakang yang kontras ini pun kemudian bekerjasama untuk menjatuhkan Kang-hee dan kroninya.

imn657

Seperti saya sering tulis sebelum-sebelumnya, film gangster atau crime sebenarnya sama sekali bukan genre favorit saya. Tapi apa boleh buat, karena pemain utamanya adalah pemain favorit saya, , yang semakin kesini semakin perlu ekstra kesabaran menunggunya bermain film (karena belakangan ia cenderung lebih memilih konsen di musikal daripada film/drama), jadilah saya penasaran setengah mati dengan film ini. Meski saya selalu yakin bahwa Jo akan selalu menampilkan permainan terbaiknya, tapi saya juga tak ingin terlalu banyak berekspektasi karena di atas kertas, cerita film ini terkesan tidak terlalu berbeda dengan cerita film bergenre sama yang sudah-sudah. Dan selain Jo, juga ada nama yang membuat saya berpikir bahwa Jo mungkin hanya akan menjadi 2nd lead. Tapi setelah menonton film ini, saya merasa cukup puas. Soal akting, jangan ditanya deh. Keduanya bermain apik dan menunjukkan chemistry bromance yang pas. Meski begitu, harus saya akui, mungkin karena faktor senioritas dan juga karakter yang lebih kompleks, memang terlihat sedikit lebih mencurei scene. Selain itu, juga ada aktor senior, dan yang juga bermain apik sebagai para antagonis. Mungkin hanya perasaan saya, tapi saya merasa sisa chemistry hangat guru-murid antara dan di film mereka sebelumnya, , ketika keduanya harus satu scene di sini. Dan itu terasa menyenangkan.

Seperti reunian Tazza :)

Seperti reunian Tazza 🙂

Sementara dari segi cerita. meski bukan hal yang baru, tapi tetap menarik. Setelah menonton film ini, membuat saya tercenung. Bahwa serignkali, penjahat yang paling jahat dan menjijikkan bukanlah mereka yang secara kasat mata terlihat sebagai penjahat seperti preman, mafia dsb, tapi justru orang-orang yang terlihat terhormat, bersih dan berkuasa. Well, good movie. Recommended!

Cast:
– Ahn San-goo
– Woo Jang-hoon

– Lee Kang-hee
– Jang Pil-woo
Kim Hong-Fa – Presiden Oh
Jo Jae-Yun – Kepala Seksi Bang
Bae Sung-Woo – park Jong-pal
– Reporter Goh
Jo Woo-Jin – Direktur Jo
Lee El – Joo Eun-hye
Jeong Man-Sik – Kepala Prosecutor

Judul: Inside Men/ Naeboojadeul (내부자들)
Sutradara: Woo Min-Ho
Penulis: Yoon Tae-Ho (original comic), Woo Min-Ho
Produser: Lee Min-Soo, Park Chul-Soo, Choi Jin-Ho, Lee Dong-Ho, Won Young-Sik
Sinematografi: Goh Nak-Sun
Rilis: November 19, 2015
Durasi: 130 min.
Distributor: Showbox/Mediaplex
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Naeil’s Cantabile

Desember 7, 2015 Tinggalkan komentar

adalah salah satu dorama favorit saya. Berapa kalipun saya nonton dorama ini, rasanya tak pernah bosan. Sekali waktu, saya pernah berharap bahwa Korea akan membuat remake-nya. Karena versi Jepang yang cenderung komikal, saya membayangkan bahwa Korea akan membuat versi yang lebih realistis dan romantis. Meski saya juga tak terlalu yakin bahwa Korea bisa mengimbangi Nodame yang asli karena dorama itu memang nyaris sempurna.
neils3
Rasa tak terlalu yakin itu semakin kuat ketika saya membaca di internet bahwa cast utamanya adalah dan . Oke, keduanya adalah aktor muda yang sebenarnya memiliki kemampuan akting yang banyak dipuja-puji, tapi membayangkan mereka sebagai Chiaki dan Nodame rasanya kok agak kurang sreg. Meski begitu, saya tetap berharap dan mencatat drama ini dalam list tonton saya ketika dirilis nanti.
neils4
Begitu drama ini mulai rilis di negaranya sono, saya terus  memantaunya di internet. Episode awal reviewnya cukup positif meski juga tidak terlalu positif. Lalu berikut-berikutnya… mulai banyak komen yang mengungkapkan kekecewaan. Saya pun tak terlalu antusias lagi untuk mengikutinya. Meski saya tetap penasaran ingin menontonnya langsung, kalau-kalau ada waktu senggang.
neils
Dan saya menontonnya beberapa hari lalu. Di episode pertama, plot, cerita, bisa dibilang sama persis dengan Nodame versi Jepang. Demikian juga karakter-karakter utamanya. Ada Chiaki yang di versi ini bernama Cha Yoo-jin, Son Nae-il (Nodame), Il-rak (Mine), Masumi dan beberapa dekan kampus yang karakter-karakternya juga nyaris persis.

neils5

The annoying Nae-il 😦

Saya cukup menikmati episode pertama ini. Para aktornya bermain cukup pas. bermain apik sebagai Chiaki tapi dengan karakternya sendiri sehingga saya tetap bisa melihat dia sebagai Cha Yoo-jin, sosok yang berbeda dengan Chiaki versi . Demikian juga Ko Gyun-po yang yang jadi Il-rak yang sama nice-nya dengan Mine yang diperankan Eita. Sedikit mengganggu justru adalah sosok Son Nae-il yang dimainkan oleh . Karakternya dibuat sangat mirip dengan Nodame, tapi alih-alih menjadi karakter yang unik (campuran antara freak dan kekanakan yang imut) ala , Nodame versi justru terkesan annoying dan terlalu dibuat-buat.

neilscc

Sosok Yoon-ho yang berusaha ‘keluar’ dari versi asli Nodame. But not big help 😦

Meski begitu, saya masih mencoba mengikutinya hingga beberapa episode. Tapi kemudian bagian Nodame saya skip-skip. Saya benar-benar merasa tak tahan melihat Nodame ala Son Nae-il yang demikian terasa fake. Tapi beberapa adegan cukup menyenangkan untuk diikuti.  Il-rak dan Shi-won, misalnya. Lalu agak ke tengah, muncul  sosok Yoon-ho, yang kemudian akan menjadi semacam orang ketiga dalam hubungan Yoo-jin dan Nae-il.

Munculnya sosok Yoon-ho seolah adalah upaya drama ini untuk keluar dari versi aslinya. Di versi Jepang, orang ketiga sempat muncul (Kuroki yang naksir Nodame), tapi hanya dalam porsi sekilas saja sementara di versi drama ini, konflik cinta mengambil porsi cukup banyak. Di satu sisi, cerita semacam ini memang membuat drama ini memiliki versi sendiri ala Korea, tapi di sisi lain juga agak terasa terlalu cheesy 😦

neils56

Untunglah, ada karakter lain yang cukup menghibur

Yah, kalau mau dibandingkan dengan Nodame Cantabile, bisa dibilang drama ini memang cukup jauh. Tapi kalau bisa melihatnya sebagai drama yang terpisah, sebenarnya tidak buruk-buruk amat kok. Nilai plusnya adalah , dan Park Bo-gum… dan tentu saja, full musik klasik yang meski tak sepadat di , tapi cukup pas lah.

Cast:
– Cha Yoo-jin
– Seol Nae-il
Park Bo-Gum – Lee Yoon-hoo

Bae Min-Jung – Jung Shi-won
– Yoo Il-rak
– Min Do-hee
Jang Se-Hyun – Ma Soo-min
– Stresemann
Lee Byung-Joon – Do Gang-jae
Ye Ji-Won- Song Mi-na
Ahn Kil-Kang – Yoo Won-sang
Namgung Yeon – Ahn Gun-sung
Kim Yoo-Mi – Chae Do-gyeong
Bang Eun-Hee – ibunya Nae-il

Judul: Naeil’s Cantabile/ Naeildo Kantabilre (내일도 칸타빌레)
Sutradara: Han Sang-Woo, Lee Jung-Mi
Penulis: (manga), Shin Jae-Won, Park Pil-Joo
Tayang: KBS2, 13 Oktober – 2 Desember 2014
Episodes: 16
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

Woochi

Korea di masa Dinasti Chosun. Jeon Woo-chi () adalah seorang penyihir dengan mengandalkan kertas mantra. Slengekan dan sedikit belagak. Bersama teman baiknya, Chorangyi ()–yang sebenarnya adalah seekor anjing dan terobsesi ingin menjadi manusia dengan mengikuti Woo-chi–mereka berusaha untuk mencari belati perunggu demi mengalahkan si Iblis berdarah hijau. Namun si Iblis ternyata sudah merasuk pada sosok yang sangat dihormati, Hwadam. () Tidak hanya itu, Hwadam pun berhasil mengelabui 3 dewa Tao untuk memasukkan Woo-chi dan Chorangyi ke dalam gambar.

Woochi, si penyihir cengengesan

Woochi, si penyihir cengengesan

Ratusan tahun kemudian, adalah masa sekarang. Iblis kembali berkeliaran dan tiga dewa pun mengeluarkan Woo-chi dan Chorangyi dari gambar untuk melawan si Iblis. Pertarungan pun kembali dimulai. Dan menjadi makin seru karena Hwadam memperalat sosok In-kyung () reinkarnasi si Janda Bangsawan yang ditaksir Woo-chi di masalalu.

Hwadam, si penhyihir jahat

Hwadam, si penhyihir jahat

Sebuah film yang berusaha memadukan dongeng ( Jeon Woo Chi adalah dongeng rakyat Korea), fantasi, mesin waktu dan aksi ala superhero. Hasilnya? Sama sekali nggak buruk, kok.  Dan alih-alih mengegangkan, justru pertarungan-pertarungannya terasa jenaka dan menghibur.Di tambah lagi, akting prima dari para aktor utamanya.

Tiga Dewa Tao yang konyol :D

Tiga Dewa Tao yang konyol 😀

Campuran antara aksi dan fantasi

Campuran antara aksi dan fantasi

Tentu saja, hal ini tak bisa dilepaskan dari para pemerannya yang terasa solid dan kompak. Dan walaupun ada nuansa superhero, tapi saya senang karena tidak ada one man hero di sini. Semuanya saling kerjasama dalam memerangi si Iblis dan tentu saja, persahabatan Chorangyi yang menyenangkan 😀

Cast:
– Jeon Woo-chi
– Seo In-kyung
– Hwadam
– gurunya Woochi
– Chorangyi
– artis
Joo Jin-Mo – Dewa “peramal”
Kim Sang-Ho – Dewa “pendeta”
Song Young-Chang – Dewa “biksu”

Judul: Woochi/ Jeon Woo Chi (전우치)
Sutradara/ Penulis:
Produser: Eugene Lee, Katherine Kim, Lee Tae-Hun
Sinematografi: Choi Young-Hwan
Rilis: 23 Desember 2009
Durasi: 120 menit
Produksi: Zip Cinema
Distributor: CJ Entertainment
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea

Awards:
Critics Choice Awards 2010: Best Cinematography

Film Festival:
– Udine Far East Film  2010 *International Festival Premiere
– Puchon International Fantastic Film Festival 2010 – World Fantastic Cinema
– New York Korean Film Festival  2010
– Fantastic Fest  2010
– Sitges Film Festival 2010 – Casa Àsia
– Hawaii International Film Festival 2010 – Spotlight on Korea *Hawaii Premiere

Tazza: The High Rollers

Juni 24, 2014 Tinggalkan komentar

 

Goni (), cowok yang kecanduan judi kartu (Hwatu). Ia bahkan sampai mencuri uang tunjangan perceraian milik kakaknya dan menghabiskannya di meja judi. Ketika ia mengetahui ada seorang lelaki nyentrik yang dijuluki penjudi ulung, Mr Pyeong (), ia pun merayu-rayunya agar mengajarinya menjadi penjudi ulung.
Tazza_4
Setelah cukup belajar, Mr Pyeong mengajak Goni berkeliling mempraktekkan keahliannya. Ia kemudian mempertemukannya dengan seorang perempuan yang juga nyentrik, Ms Jung  ( ). Tak lama kemudian, Mr Pyeong terbunuh ketika naik kereta. Pembunuhnya, misterius. Tapi dugaan adalah sesama master judi yang lain, Mr Kwak.
Tazza_5
Setelah kematian Mr Pyeong, Goni menghabiskan banyak waktu bersama Ms Jung. Di dalam narasi, dengan Ms Jung sebagai naratornya, disebutkan kalau ia memiliki perasaan cukup dalam terhadap Goni. Tapi Goni sendiri sepertinya menganggap hubungannya dengan Ms Jung sekadar untuk bersenang-senang saja. Bersama temannya, penjudi looser, Gwang Rol, Goni melanglang dari satu meja judi ke meja judi yang lain. Namun tentu saja, meja judi seperti halnya dunia gangster,adalah dunia yang cukup gelap. Apalagi ketika ia kemudian bertemu Hwa-ran, cewek penjaga toko yang kemudian menjadi pacarnya, dan ditaksir master judi yang lain. But, well, this is not love story! Balutan romancenya hanya sekadarnya saja. Fokus cerita tetaplah dunia judi.

Tazza_2

Hmm, apa menariknya? Hehe, tenang saja. Ceritanya sama sekali tidak kering, kok. Apalagi didukung permainan apik para aktor/aktris utamanya. , memainkan sosok Go-ni yang berkarakter abu-abu dengan sangat baik. Lalu ada aktor senior, sebagai Mr Pyeong yang nyentrik dan karismatis, Yu Hae-jin sebagai Kwang-ryeol, dan mungkin penampilan paling bersinar adalah sebagai Madam Jung yang ‘powerful’ tapi juga memiliki sisi melonkolis seorang perempuan. Worthed untuk ditonton.

tazza_01

Quote:
Your friends are not forever, neither are your enemies.” Mr Pyeong to Goni.

Cast:
– Go-ni
– Pyeong Gyung-jang
– Madam Jung
Yu Hae-Jin – Ko Kwang-ryeol
Kim Yun-Seok – Aw-kwi
Ju Jin-Mo – Jjakgwi
Kim Sang-Ho – Park Mu-seok
Baek Do-Bin – Kwak
Kwon Tae-Won – Ho-ku
Kim Kyeong-Ik – Ppaljjisan
Lee Soo-kyung – Hwa-ran
Kim Jung-nan – Se-ran

Judul: Tazza: The High Rollers / Tajja (타짜)
Sutradara:
Penulis: , Huh Young-Man (comic)
Produser: Seung-jae Cha, Min-hee Kim
Sinematografi: Young-hwan Choi
Rilis: September 28, 2006 (South Korea)
Durasi: 139 menit
Studio: SidusFNH
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

Awards:
Asian Film Awards 2007 : Nominasi Best Actress ( )
Baek Sang Art Awards 2007:
– Best Director ( )
– Nominasi: Best Actor ( ), Nominasi Best     Film, Nominasi Best Actress ( )
Grand Bell Awards 2007:
– Best Supporting Actor (Kim Yun-seok)
– Nominasi Best Actress ( )
– Best Director ()
– Best Cinematography (Choi Yeong-hwan)
– Best Editing (Shin Min-kyeong)

Newport Beach Film Festival 2007:
– Best Director Award ( )
– Best Actress  ( )
– Best Feature Film
– Best Actor ()

The Face Reader

Nae-gyeong ( ) sebenarnya adalah keturunan bangsawan. Tapi karena ayahnya di masalalu melakukan pengkhianatan, ia dan keluarganya pun hidup sebagai rakyat jelata dan diasingkan. Sekarang, Nae-gyeong hidup miskin bersama adik iparnya yang setia, Paeng-heon () dan putranya, Ji-hyeong ( ), yang memiliki impian mengembalikan kehormatan keluarga dengan menjadi pegawai di istana.  Hal yang selalu ditentang Nae-gyeong karena keluarga pengkhianat akan dihukum jika ketahuan memasuki istana.

the face reader2

Nae-gyeong memiliki kemampuan sebagai Pembaca Wajah (Face Reader), suatau cara meramal dengan membaca wajah seseorang. Karena hal itulah, seorang pemilik rumah bordil kaya, Yeon-hong (), kemudian menawarinya untuk bekerja di tempatnya. Berpikir bahwa hal itu akan menghasilkan banyak uang, ia pun menerima pekerjaan itu. Di saat yang sama, anaknya memutuskan untuk pergi ke istana tanpa bisa ia cegah.

The Face Reader-0

Berkat kemampuannya, Nae-gyeong dijubeli pelanggan. Hingga suatu hari, ia diminta seorang pegawai kerajaan yang kebingungan mengadili seorang pelaku pembunuhan, untuk membaca wajah pelaku sebenarnya. Nae-gyeong berhasil melakukannya dengan baik. Nae-gyeong kemudian diminta Kim Jong-seo (), pegawai tinggi kerajaan, untuk membantunya. Tidak hanya itu, berkat kemampuannya pula, ia kemudian diminta membantu raja () yang sakit-sakitan untuk membantunya mengenali orang-orang yang berpotensi merebut kekuasaan. Hingga Raja meninggal, Nae-gyeong belum menemukan orang yang dimaksud.

the face reader

Sang Putra Mahkota yang masih kecil pun naik tahta. Para pengikut setia raja, sekali lagi meminta Nae-gyeong membaca wajah orang yang berpotensi merebut tahta. Dan ia pun menemukannya: Pangeran Soo-yang ( ) yang bengis, paman sang raja muda. Nae-gyeong berusaha menggunakan kemampuannya untuk melindungi Raja, tapi apa rupanya yang bisa dilakukan seorang rakyat biasa seperti dirinya?  Kekuatan orang-orang berkuasa terlalu besar untuk bisa ia hadapi.

The antagonist Prince Sooyang

The antagonist Prince Sooyang

Ini salah satu film yang mendapat penghargaan sebagai film terbaik di ajang penghargaan Daejong Film Awards. Hal yang membuat saya di awal begitu penasaran ingin menontonnya. Seperti apa sih ‘film terbaik’ itu? Sudah sering saya katakan bahwa saya nggak paham soal sinematografi bla-bla…tapi saya pikir, saya paham kenapa film ini mendapat penghargaan tersebut. Dari segi cerita, tentu bukan hal yang baru, mengetengahkan perihal perebutan kekuasaan. Tapi penggunaan tokoh utama seorang peramal, Pembaca Wajah, adalah hal yang menarik. Dan memang ada sesuatu dalam film ini yang terasa sangat kuat. Plotnya padat tapi juga cair dan konfliknya begitu intense sehingga membuat penonton ingin penasaran dan bertanya-tanya ‘apa yang akan terjadi berikutnya dan berikutnya’?

Wanrna=warnanya sophicasted

Wanrna=warnanya sophicasted

Meski inti ceritanya cukup berat, tapi sang sutradara bisa meramunya sedemikian rupa sehingga tetap terasa mudah dicerna dan sangat tidak kering (. Lalu, tentu saja, sebuah film adalah sebuah tontonan visual dan saya rasa film ini berhasil menyajikan tontonan visual yang memuaskan dengan gambar-gambarnya yang sangat enak dipandang mata. Bukan sesuatu yang indah permai atau sangat berwarna ala sutradara film-film kolosal China seperti Zhang Yimou atau Ang Lee, tapi sesuatu yang terasa lebih natural tapi juga terasa ‘fresh’.

Closing scene yang memunculkan bayak penafsiran

Closing scene

Dan soal akting, tentu saja tak ada yang perlu dipertanyakan karena film ini bertabur para aktor papan atas Korea yang tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya: , yang selalu cocok untuk peran apa saja, yang mampu memainkan sosok antagonis, Pangeran Soo-yang yang bengis dengan sangat baik, sebagai Paeng-heon yang lugu dan sensitif, aktris senior , si gisaeng…Sedikit ‘pemanis’ adalah aktor muda dan ‘Pangeran Drama,’ yang meski tak buruk, tapi juga tak terlalu mengesankan (menurut saya, dia terlalu ‘drama’).
Well, pada dasarnya, saya saya setuju kalau film ini dinobatkan sebagai salah satu film terbaik!

Cast:
– Nae-gyeong
– Pangeran Sooyang
– Yeon-hong
– Kim Jong-seo
– Paeng-heon
– Jin-hyeong

Jeong Gyu-Su – asistennya Yeon-hong
– Raja Munjong
– Putra Mahkota
Kim Ui-sung – Han Myung-hoi
Lee Do-yub– Kim Seung-kyu

Judul: The Face Reader / Physiognomy / Gwansang (관상)
Sutradara:
Penulis: Kim Dong-Hyuk
Produser:Kim Woo-jae, Yu Jeong-hun, Ju Pil-ho
Sinematografi: Go Nak-seon
Musik:      Lee Byung-woo
Rilis: 11 September 2013
Durasi: 139 menit
Distributor: Showbox/Mediaplex
Bahasa/Negara: Korea/Korea Selatan

Awards:
Grand Bell Awards 2013:
– Penghargaan untuk: Best Film, Best Director ( ), Best Actor ( ), Best Supporting Actor ( ), Best Costume Design (Shim Hyun-sub), Popularity Award ( )
– Nominasi untuk: Best Supporting Actor (), Best Screenplay (Kim Dong-hyuk), Best Cinematography (Go Nak-seon),
Best Art Direction (Lee Ha-jun)

Blue Dragon Film Awards 2013:
– Penghargaan untuk: Best Supporting Actor (Lee Jung-jae)
– Nominasi untuk: Best Film, Best Director: , Best Actor: , Best Supporting Actor: , Best Supporting Actress: , Best Screenplay: Kim Dong-hyuk, Best Cinematography: Go Nak-seon, Best Art Direction: Lee Ha-jun, Best Lighting: Shin Kyung-man, Lee Chul-oh

Korean Association of Film Critics Awards 2013:
-Penghargaan untuk: Best Actor ( ), Best Supporting Actor ( ), Best Music (Lee Byung-woo), CJ CGV Star Award ( )

KOFRA Film Awards 2014:
Penghargaan untuk: Best Supporting Actor ( )

Chunsa Film Art Awards 2014:
Nominasi untuk: Best Director: , Best Actor: Lee Jung-jae, Best Screenplay: Kim Dong-hyuk

Asian Film Awards 2014:
– Nominasi untuk Best Costume Design: Shim Hyun-sub

I am The King

Februari 11, 2013 Tinggalkan komentar

Tak ada referensi apa-apa ketika lihat film ini. Judulnya nggak familiar. Tapi begitu melihat nama pemainnya, langsung penasaran: , si Pangeran Shin. Meski saya bukan penggemar Princess Hour, tapi saya cukup menyukai akting Ji-hoon di beberapa filmnya:  dan . Aktingnya cukup bagus di sana, karenanya saya pikir ini juga film yang cukup berkualitas karena memasang aktor berkualitas.

Pangeran Chungnyeong yang gk mau ambil pusing dg kerajaan

Pangeran Chungnyeong yang gk mau ambil pusing dg kerajaan

Film ini mengambil setting Korea jaman dinasti Joseon. Sang Raja sedang mempersiapkan calon penerus tahtanya, untunglah dia punya tiga putra. Tapi putra pertama yang digadang jadi putra mahkota, hobinya mabuk-mabukan dan main perempuan. Raja pun mendiskualifikasinya. Putra kedua tak bisa diharap karena sudah memutuskan jadi biksu. Harapan tinggal pada putra ketiga: si bungsu, Pangeran Chungnyeong (), yang manjanya minta ampun. Di atas semua itu, si putra bungsu ini sama sekali tak ingin menjadi raja. Ia lebih memilih kehidupannya yang tanpa beban dan berkutat dengan buku-buku. Karenanya, ketika ia diminta jadi putra mahkota, ia pun mencari cara untuk melarikan diri.

Di luar istana, ada seorang budak bernama Deok-chil () yang wajahnya sama persis dengan sang putra bungsu. Meskipun berangasan, tapi ia punya cinta yang tulus pada seorang putri bangsawan yang juga mencintainya. Karena keluarganya dianggap pengkhianat, sang putri kemudian dibawa ke istana untuk di penjara. Deok-chil ingin masuk ke istana demi menyelamatakan sang putri.

Deok-chil, si budak pecicilan

Deok-chil, si budak pecicilan

Kebetulan pun terjadi di suatu malam. Setelah berhasil membuat mabuk dua pengawal setianya, si putra bungsu memutuskan untuk melarikan diri. Ketika ia melompati tembok, di luar tembok ia bertemu budak yang mabuk. Demi mempermudah pelariannya, sang pangeran menukar bajunya dengan si budak. Maka, ketika sang pengawal menemukan si budak mabuk, meski kemudian tahu bahwa itu bukan sang pangeran, mereka memutuskan agar si budak memalsukan diri sebagai sang pangeran, sementara pengawal yang satunya mencari sang pangeran sungguhan.

Sang pangeran yang diduga budak pun diperlakuakn seperti budak di luar, sementara si budak menikmati kemewahan istana. Kejadian yang akan mengajarkan keduanya sebuah pengalaman hidup yang tak terlupakan.

Kocak :D

Kocak 😀

Cerita tentang tukar peran bukanlah cerita yang baru, tentu saja. Tapi jika diramu dengan baik tetap akan menjadi cerita yang menarik. Demikian halnya dengan I am the King. Latar Korea jaman dulu menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun bernuansa politik, tapi film ini jauh dari membosankan karena dipadu dengan komedi yang lucu dan menyegarkan, scene-scene dan dialognya nggak klise.  tentu juga menjadi nilai tersendiri. Dia menunjukkan kualitas akting yang bagus seperti biasa, nggak cuma sosok Pangeran cool tapi juga pangeran culun atau budak berangasan. Love him more, hehe. Recommended!

Cast:
 – Deok-chil (budak)/ Pangeran Chungnyeong
– Hae-koo
 – Hwang Goo
– Soo-yeon
– Hwang-hee
Park Yeong-gyu – Raja Taejong
– Shin Ik-yeok

Judul Lain: Naneun Wangyirosoyida (나는 왕이로소이다)
Sutradara: Jang Gyu-Sung
Penulis: Hwang Sung-Goo
Produser: Kim Won-Guk, Kang Young-Mo, Lee Sung-Jin
Sinematografi: Kim Dong-Cheon
Rilis: August 9, 2012
Durasi: 120 min.
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar