Please Teach Me English

September 7, 2017 Tinggalkan komentar

Young-joo () adalah seorang pegawai pemerintahan yang selalu merasa dirinya tidak biasa-biasa saja. Kenyataannya, ia adalah seorang cewek yang cenderung cupu dan sering bertingkah konyol. Suatu hari, ia terpilih mewakili kantornya untuk ikut les Bahasa Inggris. Di sana, ia kemudian bertemu dengan Moon-soo ( ), seorang cowok cakep bertampang playboy dan suka gombal yang sehari-hari bekerja sebagai pramuniaga di toko sepatu.

Please Teach Me English

Moon-soo ingin bisa Bahasa Inggris karena didorong ibunya, yang ingin ketemuan dengan putrinya, Victoria, yang diadopsi di Amerika. Sikap Moon-soo yang suka nggombal, menarik hati Young-joo. Ia pun kemudian berusaha keras untuk merebut perhatian Moon-soo. Awalnya, Moon-soo menganggap Young-joo hanya gadis biasa saja dan ia lebih tertarik pada tutornya, Chaterine yang cantik. Tapi Catherine sendiri tak tertarik pada Moon-soo yang terlalu gombal.

Please Teach Me English-2

Please Teach Me English-15

Hihi… salah satu genre film Korea yang saya suka adalah komedi romantisnya, karena menurut saya ide-idenya seringkali terasa orisinil, terutama film-film di awal 2000an. Dan film ini salah satunya. Dengan latar kelas bahasa Inggris (konon memang orang Korea ini cukup payah kalau ngomong Bahasa Inggris) yang terasa menyenangkan, dan cerita yang ringan, film ini terasa sangat menghibur. Apalagi kedua cast utamanya adalah aktor dan aktris yang bagi saya sangat lovable. Tidak hanya mereka enak dilihat (terutama yang di sini terlihat cakep banget) tapi juga punya kemampuan akting yang bagus.

Please Teach Me English9

Please Teach Me English-11

Awalnya saya agak khawatir dengan karakter Young-joo yang dibawakan , karena karakter seperti ini seringkali jatuh menjadi terlalu komikal dan agak embarrassing, tapi ternyata nggak kok. Young-joo cukup konyol dan cupu, tapi tetap dalam tahap wajar. Dan membawakannya dengan pas. Sementara sosok Moon-soo juga tetap terasa lovable meski karakternya di permukaan agak menyebalkan. Dan saya pikir, itu juga tak lepas dari akting bagusnya . Hubungan persahabatan dan keluarga juga menambah ‘hangat’ cerita. Dan walaupun film sudah satu dekade lebih, tapi rasanya ceritanya tetap cocok saja dinikmati saat ini. Ringan dan menghibur.

Please Teach Me English-14

Cast:
– Na Young-joo
– Park Moon-soo
Angela Kelly – Chaterine
Lee Chang-hwan – Richard
Jung Suk-young – Tyson
Hwam Geum-byul – Betty
Baek Ye-young – Julie
– ibunya Moon-soo
Kim Yeong-geon – ayahnya Young-joo
Kim Young-ae – ibunya Young-joo
Kim In-mun – kakeknya Young-joo
Moon Mi-bong – neneknya Young-joo
Jeong Sang-hoon – adiknya Young-joo
Jo Jae-hyeon – Manajer Hong

Judul: Please Teach Me English / Yeongeo wanjeonjeongbok
Sutradara: Kim Sung-su
Penulis: Noh Hye-young, Kim Sung-su
Sinematografi: Kim Hyung-kyu
Rilis: 5 November 2003
Durasi: 118 menit
Distributor: Cinema Service
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea- Inggris

Iklan
Kategori:Uncategorized

An Ethics Lesson

September 6, 2017 Tinggalkan komentar

Setelah beberapa waktu browsing kesana kemari, akhirnya menemuka film ini. Sejak saya mengagumi akting , saya penasaran untuk menonton semua film-film yang dia bintangi dan di antara semua filmnya, film ini yang paling sulit saya cari.

an ethic lesson

Film ini mengetengahkan beberapa tokoh yang secara langsung atau tidak langsung terhubung lewat sebuah pembunuhan. Jin-a adalah seorang gadis cantik yang bekerja paruh waktu sebagai model. Bertindak sebagai manajernya adalah pamannya, Myung-rok (). Ji-na menjalin hubungan dengan seorang lelaki beristri, Soo-taek (), yang juga seorang profesor terkenal.

an ethic lesson-2

Bersebelahan dengan apartemen Jin-a adalah seorang polisi berpangkat rendah yang cupu, Jung-hoon (). Jung-hoon diam-diam menyukai Jin-a, tapi dengan cara yang tak biasa. Diam-diam ia memasang kamera tersembunyi yang merekam hampir seluruh aktivitas keseharian Jin-a di dalam apartemennya. Termasuk ketika suatu hari, Jin-a dibunuh oleh seorang lelaki posesif psikopat, Hyun-soo (). Hyun-soo membunuh Jin-a karena sangat mencintai Jin-a.

an ethic lesson-3

Meskipun menjadi saksi pembunuhan itu, tapi Jung-hoon memilih tutup mulut. Tentu saja, ia tak mau mengambil resiko bahwa ia diam-diam menjadi seorang pengintai. Dan karena tak ada saksi, sang profesor yang kebetulan pada hari yang sama menemui Jin-a, dituduh sebagai si pembunuh.

an ethic lesson-4

Di sisi lain, Hyun-soo si pembunuh akhirnya mengetahui kalau Jung-hoon menyimpan rekaman Jin-a dan berusaha mendapatkannya. Myung-rok yang oportunis, berusaha menangkap pelaku utama dengan harapan memperoleh keuntungan dari istri Soo-taek, Sun-hwa (). Ketiga orang ini kemudian bergumul saling menyelematkan diri masing-masing.

Hmm, yah. Lumayan. Sejak awal, saya memang tak terlalu berekspektasi pada film ini. Bagaimanapun, film ini sudah dirilis beberapa tahun lalu dan memang nyaris tak ada gaungnya. Dan yah, bisa dipahami kalau film ini memang tidak terlalu sukses. Bergenre black comedy, tapi terasa nanggung. Ceritanya tidak membuat penasaran atau mempermainkn emosi. Beberapa bagian terasa lambat. Alih-alih, film ini seolah lebih sibuk dengan sudut-sudut pengambilan gambar agar terkesan sinematis, yang menurut saya, justru membuat film ini seperti sebuah ajang coba-coba (film ini dibuat oleh Saram Entertaintment yang merupakan agensi sebagian besar aktor di sini). Agak wasted sih karena film ini memasang nama-nama aktor berbakat. Selain , ada nama-nama besar seperti , , dan . Meski begitu, mereka tetap menampilkan akting bagus mereka kok. Dan bagi saya yang mennonton film ini karena alasan ingin melihat , juga tidak kecewa karenanya.

Cast:
– Jung -Hoon
– Myung-Rok
– Hyun-Soo
– Soo-Taek
– Sun-Hwa

Ko Sung-Hee – Jin-A
Lee Eun-Woo – Eun-Young
Lee Sae-Byul – Ji-Yeon
Han Yi-Jin – Min-Tae
Lee Seung-Joon – D.A. investigator
Choi Kwang-Il – Jaksa Choi
Park Byung-Eun – fotografer
Lee Dong-Ha – Hakim Lim

Judul: An Ethics Lesson / Ethics of Anger / Boonnoui Yoonrihak (분노의 윤리학)
Sutradara/Penulis: Park Myung-Rang
Produser: : Kim Hyoun-Chul, Kim Hyoun-Suk, Lee So-Young, Hong Lee Yun Jung
Sinematografi: Kim Woo-Hyung
Rilis: 21 Februari 2013
Durasi: 110 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa; Korea Selatan/Korea

Kategori:Uncategorized

Confession (Good Friends)

September 5, 2017 Tinggalkan komentar

Hyun-tae, In-chul dan Min-su adalah tiga sahabat yang menjalin persahabatan sejak masih sangat muda. Sekarang, mereka sudah dewasa dan tak terlalu sukes dalam hidup. Hyun-tae () bekerja sebagai pemadam kebakaran, sudah menikah dan hidup sederhana dengan anak dan istrinya yang bisu. Orangtua Hyun-tae sebenarnya kaya raya, pemilik sebuah tempat main game (judi?). Hyun-tae tak menyukai kehidupan orang tuanya dan karenanya, memilih hidup dengan usahanya sendiri daripada mengharapkan warisan.

Confession-3

Min-su () hidup miskin sembari menjalankan usaha kecil-kecilan, sementara In-chul (bekerja di perusahaan asuransi, tapi sering terlibat penipuan klaim asuransi. In-chul berhubungan dekat dengan orang tua Hyun-tae dan diperlakukan sebagai anak sendiri. Suatu hari, ketika ayah Hyun-tae jatuh sakit dan ibunya mulai merasa lelah menjalankan bisnisnya, sang ibu meminta In-chul membantunya ‘merampok’ tempat usahanya agar mendapat klaim asuransi yang besar.

Confession-1

Joo Ji-hoon yang menurut saya agak over the top aktingnya

Berpikir bahwa tak ada yang dirugikan dari hal itu, In-chul setuju dan mengajak serta Min-su. Tapi ketika hari H, ternyata sebuah insiden tak terduga terjadi. Ibu Hyun-tae mengalami kecelakaan hingga tewas dan masalah pun menjadi rumit. In-chul dan Min-su diduga keras sebagai pembunuh ibu Hyun-tae. Di sisi lain, Hyun-tae yang mengetahui ibunya dibunuh, berniat untuk mengusut kejadian itu sampai tuntas. Min-su dan In-chul pun kemudian dilanda situasi yang sangat dilematis. Berbohong dan dihantui rasa bersalah atau jujur tapi kehilangan persahabatan mereka.

Confession-5

Confession-6

Lagi-lagi, ini adalah film yang sudah lama ingin saya tonton. Sebabnya sih karena cast utamanya, tiga aktor yang cukup menjanjikan. Dan kedua ketika membaca sinopsisnya tentang persahabatan yang selalu terasa menarik. Sekilas agak-agak mirip Friends, minus gangster-gansteran, tapi tetap punya cerita sendiri. Saya sendiri tak terlalu ‘keberatan’ dengan ceritanya yang cenderung suram, tapi cukup solid.

Confession-4

Yang agak mengganggu bagi saya adalah karakter In-chul yang menurut saya agak overacting. Saya nggak tahu, apa itu memang karakternya ditulis demikian ,tapi aktingnya saya pikir juga berperan banyak dalam membentuk karakter In-chul. Hal yang membuat saya agak kecewa karena lah daya tarik utama dibanding dua aktor lainnya ketika melihat jajaran cast-nya. Bahwa In-chul menjadi pemberang dan agak bad boy karena ditempa keadaan, saya bisa terima. Tapi karakter In-chul di sini terkesan lebih seperti psikopat daripada seorang preman yang berkepribadian kasar. Ia terus menerus teriak dan marah-marah tanpa alasan yang jelas sehingga terasa annoying sampai beberapa adegannya saya skip. Dua aktor lainnya, dan , saya pikir bermain cukup pas meski tidak terlalu menonjol. Meski begitu, chemistry bromance-nya cukup dapetlah dan secara keseluruhan, film ini tidak terlalu buruk, kok.

Cast:
– In-chul
– Hyun-tae
– Min-su

Lee Whee-hyang – ibunya Hyun-tae
Cho Jin-o – Yi-soo
Jung Ji-yoon – Mi-ran (istrinya Hyun-tae)
Jang Hee-jin – Ji-hyang
Baek Seung-hwan -Hyun-tae muda
Jeon Ji-hwan – In-chul muda
Ham Sung-min – Min-su muda

Judul: Confession/ Good Friends / Joeun Chingudeol
Sutradara/Penulis: Lee Do-yoon
Rilis: 10 Juli 2014
Durasi: 114 menit
Distributor: CJ Entertaintment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival
– Toronto International Film Festival 2014 – City to City* International Premiere
– Singapore International Film Festival 2014 – Asian Vision
– Udine Far East Film 2015 – European Premiere

 

Kategori:Uncategorized

Take Off 2

September 5, 2017 Tinggalkan komentar

Saya sudah nonton prekuelnya, yang dibintangi dan dan setuju kalau itu film yang bagus dan menghibur. Karenanya, cukup penasaran ketika tahu bahwa film ini akan dibuat sekuelnya, apalagi, kali ini mengetengahkan tim cewek. Dan castnya juga cukup menjanjikan: , Oh Yeon-seo, , Kim Ye-won,

Take off2-14

Film ini berkisah tentang tim hockey es pertama Korea. Tim ini dibentuk semata untuk semacam pelengkap saja, karenanya, atlet yang direkrut juga tidak terlalu melalui banyak seleksi. Satu-satunya yang sudah mengenal hockey es adalah Lee Ji-won() yang memang atlet hockey es. Masalahnya, dia asal Korut dan tengah menyiapkan diri untuk berimigrasi ke Findlandia. Atlet lain adalah Park Chae-kyung, atlet hockey yang bermasalah. Sementara tambahannya adalah beberapa pemain hockey amatarian seperti Jo Mi-ran (), yang sehari-hari bekerja sebagai asisten di divisi olahraga, Kim Ga-yeon, Ha Jae-suk dan Shin So-hyun () yang masih murid SMP. Selain itu, yang ditunjuk sebagia pelatih adalah mantan atlet nasional yang sekarang jadi bapak-bapak looser, Kang Dae-woong ().

Take off2-8

Take off2-10

Kecilnya anggaran juga membuat tim ini tak punya seragam dan tempat berlatih yang layak. Namun dengan segala keterbatasan itu, mereka bertekad untuk melakukan yang terbaik. Menambah seru cerita adalah konflik internal di antara para pemain, terutama Ji-won dan Chae-kyung yang punya ego masing-masing. Di samping itu juga tambahan drama kehidupan Ji-won sebagai pelarian dari Korut.

Hmm, agak tidak sesuai ekspektasi sih, apalagi kalau dibandingkan dengan pertama yang seru itu. Bagian terbaik dari sebuah film bertema olahraga menurut saya adalah gempitanya yang mengharukan, dan hal itu kurang dapet di film ini. Imbuhan cerita drama berlatar Korut juga agak memecah fokus cerita film.

Take off2-12

Take off2-13

Ceritanya cukup menyentuh sih, dan konon memang berdasar kisah nyata, hanya saja mungkin masalah pengemasannya yang membuatnya terasa kurang ‘menyatu’ dengan cerita utama film. Di samping itu, akting para pemain utamanya menurut saya juga terasa kurang maksimal, terutama dan Oh Yeon-seo. yang memang berwajah melo terkesan terlalu depresif dan dingin membawakan sosok Ji-won sehingga karakternya terasa ‘melelahkan’, sedangkan Oh Yeon-seo agak menurut saya agak over the top membawakan karakter Park Chae-kyung sehingga di awal-awal, karakternya terasa annoying. Sementara cast yang lain menurut saya sudah pas. dengan gaya aktingnya yang unik, juga Kim Ye-won dan saya pikir bermain pas. Dan yah, tentu saja, yang selalu effortless sebagai si antihero.

Cast:
– Lee Ji-won
Oh Yeon-seo – Park Chae-kyung
– Kang Dae-woong
Ha Jae-suk – Ko Young-ja
– Jo Mi-ran
Kim Ye-won – Kim Ga-yeon
– Shin So-hyun
– Lee Ji-hye
– Reporter
– pelatihnay Chae-kyung

Judul: Run Off/ Take Off 2? Gukgadaepyeo 2
Sutradara: Kim Jong-hyeon
Penulis: Jung chul, Yoo Young-a, Kim Jong-hyeon
Rilis: 10 Agustus 2016
Durasi: 126 menit
Distributor: Megabox M Plus
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Kategori:Uncategorized

The Villainess

Agustus 30, 2017 Tinggalkan komentar

Usai nonton The Villainess. Penasaran sama film ini karena mengetengahkan sosok hero perempuan, hal yang agak jarang dalam film Korea. Dan hal lainnya karena film ini sempat dikompetisikan di Cannes meski kemudian gagal. Lalu cast utamanya, , juga cukup menjanjikan setelah saya lihat dia bermain di beberapa film berkelas (Thirst) dan juga aktor yang cukup veteran, Shin Hya-kun.

the villainnes-1

Cerita diawali dengan aksi tembak-tembakan yang membabi buta, membuat saya sempat berpikir bahwa film ini jangan-jangan mirip The Raid. Tapi setelah beberapa menit berlalu, cerita kemudian mulai bergulir. Sok-hee (), si penembak ditangkap polisi. Ketika mengetahui rekam jejaknya, pihak kepolisian kemudian bersepakat untuk melatihnya menjadi seoran agen rahasia. Sok-hee menerima tawaran itu demi bayi yang tengah dikandungnya.

Ia kemudian menjalani pelatihan intensif selama beberapa tahun sebagai agen, dibawah pengawasan perempuan berkarakter dingin, Kwon-sook. Selain itu juga ada Hyun-soo (), agen muda yang ditugaskan memata-matai Sook-hee.

the villainnes-5

Di antara menjalani kehidupannya sebagai agen, kilas balik kehidupan Sook-hee diputar. Ia berasal dari Yanbian. Ayahnya dibunuh temannya setelah mencuri berlian. Sook-hee kemudian ‘dijual’ untuk melayani lelaki hidung belang, tapi kemudian diselamatkan seorang lelaki bernama Joon-sang (). Tak banyak diceritakan bagaimana, tapi kemudian Sook-hee tinggal bersama Joon-sang yang dipanggilnya Ahjussi. Dan setelah beranjak dewasa, jatuh cinta dan memutuskan menikah. Untuk sementara waktu, sosok Joon-sang sendiri cukup misterius. Pun ketika kemuidan ia dinyatakan terbunuh. Sook-hee yang sedih ditinggal mati Joon-sang, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan membunuhi orang-orang.

the villainnes-4

the villainnes-2

Usai menjalani pelatihan, Sook-hee hidup dengan identitas baru. Bersama anaknya, ia tinggal di sebuah apartemen dan sehari-hari bekerja sebagai pemain teater. Hyun-soo masih mengawasinya dengan menyamar sebagai tetangganya dan berhasil membuat Sook-hee yang tidak mengetahui identitas Hyun-soo, benar-benar jatuh cinta kepadanya. Singkat cerita, mereka kemudian menikah. Tapi Sook-hee kemudian mendapati bahwa ternyata Joon-sang masih hidup. Sebuah twist yang mungkin disiapkan sebagai kejutan, tapi menurut saya justru menjadi antiklimaks yang membuat film terasa hambar dan membuat saya bahkan kehilangan simpati dengan tokoh-tokohnya.

 

the villainnes-8

Mengecewakan. Itulah pendapat saya tentang film ini. Mungkin karena saya cukup berekpektasi di awal. Bagaimanapun, embel-embel Cannes (meskipun kategorinya Out Competition) bagi saya cukup menjadi jaminan film berkualitas. Dan hal itu pulalah yang membuat saya begitu kesal. Saya sendiri tak tahu, apa sebenarnya kriteria film yang masuk Cannes (sebelum kompetisi lho), apakah berdasarkan seleksi kualitas atau hal-hal yang lebih bersifat administrasi. Jika memang yang kedua, saya bisa menerimanya. Dan wajar juga jika kemudian film ini masuk kategori “Out Competition” karena menurut saya memang rasanya tidak layak untuk ikut kompetisi sekelas Cannes.

the villainnes-10

Untuk sebuah film bergenre action, cerita dan karakter di film ini terlalu ‘cengeng’ dan ‘drama’, terutama karakter utamanya, Sook-hee yang diperankan . Karena sejak awal tahu bahwa film ini bertema action, saya menggadang-gadang bahwa sosoknya adalah sosok tough dan baddass ala Nikita atau Tomb Raider. Tapi ternyata karakternya terlalu ‘cengeng’ dan cenderung naif. Okelah, dia sudah mengalami begitu banyak penderitaan. Tapi setelah ditempa kekerasan sejak kecil, rasanya aneh saja melihatnya masih terlalu lembek begitu. Mungkin hal itu juga karena kemampuan akting yang membuat karakternya terasa kurang tough. Untuk karakter-karakter lain, juga terasa nanggung. Lee Joon-sang yang diperankan , cukup misterius dan terkesan simpatik di awal, tapi ke belakang, karakternya terasa sangat menyebalkan. Well, dalam sebuah film bergenre crime semacam ini, saya bisa menerima karakter yang abu-abu: jahat tapi tetap memiliki sisi simpatik. Sementara karakter Joon-sang di sini, tak cukup mengundang simpati. Dengan semua yang dilakukannya, rasanya sulit diterima logika ketika ia mengatakan mencintai Sook-hee (sorry spoiler). Shin Hya-kun sendiri juga tak cukup mampu membuat karakternya terasa simpatik.

the villainnes-6

Di awal-awal, saya sempat berharap pada sosok Hyun-soo yang diperankan. Dan pemilihan sendiri cukup mengejutkan saya (saya tak tahu kalau dia main di film ini). lebih dikenal sebagai aktor drama, dan meski kemampuan aktingnya tidak buruk, saya berpikir bahwa wajahnya lah yang membuatnya populer daripada kemampuan aktingnya. Aktingnya kurang variasi sehingga karakter-karakternya di drama cenderung membosankan. Meski begitu, saya berusaha untuk tak underestimate perannya di sini, karena menurut saya dia cukup bagus ketika main di film . Tapi yah, ternyata saya juga tak menemukan sesuatu yang baru dari seorang . Karakternya di sini tak jauh beda dengan karakter yang sering ia mainkan di drama: cakep dan baik hati. Dan hal ini diperparah dengan tidak adanya eksplorasi karakter. Sebagai seorang agen, saya mengira bahwa dia cukup misterius. Tapi ternyata karakternya menjadi terlalu biasa. Bahkan terkesan naif untuk seorang agen yang bahkan sudah tahu siapa dan bagaimana Sook-hee.

Beberapa karakter lain seperti Kwoon Sook, cukup baik sebagai sosok dingin dan keras tapi seolah memendam sesuatu, sementara karakter-karakter lain terasa tidak penting.

the villainnes-9

Chemistry antar pemainnya juga tak saya dapatkan. Bahkan relasi ibu-anak antara Sook-hee dan putrinya terasa datar-datar saja.

Well, tidak buruk-buruk amat sih sebenarnya, karena saya sudah cukup sering nonton film lain yang lebih buruk dari ini. Hanya saja, jujur, karena tak sesuai dengan ekspektasi saya di awal, saya cukup kesal dan kecewa usai menontonnya.

Cast:
– Sook-Hee
– Joon-sang
– Hyun-soo
Kim Seo-Hyung -Kwon-Sook
– Kim-Sun
Lee Seung-Joo – Choon-Mo
Jung Hae-Kyun – Jang-Chun
Son Min-Ji – Min-Joo
Min Ye-Ji – Sook-Hee (kecil)
Park Chul-Min – ayahnya Sook-Hee

Judul: The Villainess/ Aknyeo (악녀)
Sutradara: Jung Byung-Gil
Penulis: Jung Byung-Gil, Jung Byung-Sik
Sinematografi: Park Jung-Hun
Rilis: Mei 2017 (Cannes Film Festival)
Durasi: 123 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Kategori:Uncategorized

Park Yeol: Anarchist from Colony.

Agustus 25, 2017 Tinggalkan komentar

Yeah, akhirnya berhasil menonton film ini, Park Yeol: Anarchist from Colony.
Sejak dengar kabar rilisnya, saya sudah menetapkan film ini dalam daftar utama film wajib tonton saya tahun ini, hehe. Agak was-was juga sih, karena meski bisa dibilang akses dunlut film-film Korea itu umumnya sangat mudah, tapi untuk film-film tertentu, kadang cukup sulit. Harus menunggu lama atau kadang tidak tersedia subtitle-nya. Apalagi untuk film-film dengan bintang yang kurang populer secara internasional. Dan meski belakangan sudah semakin populer pasca ““, tapi popularitasnya juga masih terbatas mengingat selama ini ia memang lebih konsen ke film daripada drama. Tapi untunglah, meski menunggu agak lama dari masa rilisnya, film ini sudah banyak tersedia di internet dengan subtitle Bahasa Inggris pula.

Park Yeol_14

Menantikan proyek dari aktor favorit selalu menghadirkan cemas. Bagaimana kalau jelek atau mengecewakan? Tapi sejak awal saya cukup optimis dengan film ini karena sutradaranya adalah salah satu sutradara besar Korea, , yang film-filmnya nyaris selalu sukses baik secara komersil maupun kualitas. Lalu saya semakin optimis ketika melihat promo film ini yang terkesan ‘sederhana’ tapi hangat dan akrab. Dan yah, ketika filmnya diputar bulan Juni lalu, saya lega mendengar bahwa film ini mendapat apresiasi yang bagus. Secara komersial juga cukup sukses karena selama sekitar seminggu masa penayanggannya menduduki peringkat pertama di box office.

Park Yeol_1

Park Yeol_0

Park Yeol yang belakangan diganti judulnya menjadi Anarchist from Colony, berkisah tentang suatu masa kehidupan seorang aktivis Korea, Park Yeol (). Meski bisa dibilang biografi, tapi film ini tidak banyak menceritakan pribadi seorang Park Yeol, tapi lebih pada masa ‘puncak’ perjuangan Park.

Park Yeol_4

Park adalah seorang pemuda penuh semangat dan dipenuhi jiwa pemberontakan. Sebagai orang Korea yang tinggal di Jepang, ia telah melihat bagaimana penderitaan yang dialami orang-orang Korea akibat perlakuan semena-mena Jepang. Di antara kesehariannya bekerja keras sebagai penarik rickshaw, ia membangun sebuah gerakan bersama teman-temannya sesama orang Korea. Sebuah gerakan kiri anarkis. Sebagai orang Korea yang tertindas, mereka memimpikan sebuah kesetaraan dengan Jepang. Dan sebagai umumnya orang ‘kiri’ mereka percaya bahwa hal itu bisa terwujud lewat semacam revolusi. Untuk mewujudkan itu, Park dan temannya berniat untuk meledakkan bom di hari ulang tahun putra mahkota.

Park Yeol_5

Sayang, sebelum rencana ini terwujud terjadi gempa bumi yang disusul dengan kekacauan tersebab terjadinya pembantaian orang-orang Korea oleh segerombolan anarkis Jepang yang membenci orang-orang Korea. Demi menyelamatkan muka, pemerintah Jepang kemudian menangkapi orang-orang Korea yang dianggap terlibat gerakan anarkis, menuduh bahwa merekalah biang keladi dari kerusuhan itu. Park dengan sukarela menyerahkan diri, berpikir bahwa penangkapan dan pengadilannya justru bisa ia jadikan senjata perlawanan.

Selain itu, juga ada Fumiko Kaneko, kekasihnya. Fumiko adalah orang Jepang tapi besar di Korea bersama neneknya setelah ia ‘dibuang’oleh orang tuanya. Fumiko membenci pemerintahan Jepang dan sama seperti Park, sama-sama mengamini ide anarkisme. Sama-sama berjiwa pemberontak dan ‘agak gila’, keduanya segera menyatakan diri sebagai kekasih sehidup semati. Fumiko pun kemudian mengikuti Park ke penjara dan berdua mereka berusaha melanjutkan perlawanan mereka dari balik jeruji penjara.

Park Yeol_8

Dan, yah film ini kemudian akan lebih banyak mengulas hari-hari Park dan Fumiko di penjara. Membosankan? Tunggu dulu. Tadinya saya sempat berpikir demikian, apalagi saya kemudian menemukan kemiripannya dengan film Lee Joon-ik sebelumnya, Dongju. Dan yah, wajar sih karena memang temanya mirip dan ditangani sutradara yang sama. Tapi sama sekali tidak membosankan dan cukup berbeda kok. Meski film ini lebih banyak mengetengahkan adegan tanya jawab di penjara, tapi sama sekali tidak kering. Dan hal ini saya pikir tak lepas dari kepiwaian Lee Joon-ik, sang sutradara dalam mengarahkan aktor-aktornya. Proses invesitagsi di penjara antara Park atau Fumiko dengan penyidiknya terasa hidup dan enak diikuti dan membangun jalinan cerita yang runtut dan rapi.

Park Yeol_10

Park Yeol_20

 

 

Hal ini juga tentunya tak lepas dari akting para aktornya patut diacungi jempol. Sejak awal, saya memang tak pernah meragukan seorang  . Ia telah membuktikan kemampuan aktingnya yang bisa bertransformasi menjadi siapa saja dengan ekspresi yang begitu kaya. Dan di sini, ia lagi-lagi menunjukkan sisi aktingnya yang lain sebagai seorang pemuda pemberontak dengan ide-ide ‘gila’nya. Demikian juga dengan Choi Hee-seo yang jadi Fumiko. Choi adalah nama baru. Sebelumnya ia bermain di film , Dongju, dan menurut saya aktingnya di sana tidak terlalu berkesan (lebih karena karakternya saya pikir). Tapi bahwa kemudian mengajaknya main film lagi sebagai pemeran utama pula, saya yakin ia punya ‘sesuatu.’ Dan yah di film ini, Choi membuktikan kemampuan aktingnya sebagai Fumiko, perempuan pemberani dan sama gilanya dengan Park.

Park Yeol_16

Park Yeol_11

Untuk karakter-karakter yang lain, juga dimainkand engan apik oleh para aktor. Sosok Tatemasu, penyidiknya Park dan Fumiko, misalnya, tampak effortless sebagai sosok yang lurus tapi juga simpatik. Teman-teman Park (terutama Hong Jin-yoo) juga menampilkan akting yang bagus. Semua karakternya saling mengisi dan melengkapi menjadikan film ini terasa utuh. Ceritanya juga terasa solid dari awal sampai akhir dan pesan moralnya juga tersampaikan dengan baik. Gambar-gambarnya, meski sebagian besar berlatar ruangan penjara, tapi tetap terasa sinematis dalam balutan warna-warna ‘jadul’ yang pas.

Park Yeol_17

Dan meski ceritanya sendiri tentang ‘penjara,’ tapi juga tidak muram atau depresif karena sentuhan humor yang diberikan melalui sosok Park dan Fumiko yang berakrakter unik. Semuanya terasa pas dan mampu mengaduk-aduk emosi. Ya lucu tapi juga mengharukan dan sedih. , sekali lagi menunjukkan kualitasnya sebagai seorang sutradara yang sudah matang dan berpengalaman. Dan salutnya untuk sutradara satu ini, selain bahwa film-filmnya selalu sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan, film-filmnya juga bisa dibilang sangat ‘bersih’ dari adegan-adegan dewasa yang nyaris selalu ada dalam film-film Korea yang sering dianggap ‘bagus.’ Sedikit spoiler, di film ini, meski mengetengahkan cerita tentang sepasang kekasih anarkis (yang biasanya digambarkan cenderung ‘bebas’) tapi tak ada adegan yang menampilkan Park dan Fumiko bermesra-mesraan. Tapi justru disitulah menurut saya kelebihan , karena tanpa adegan semacam itu, hubungan antara Park dan Fumiko sebagai sepasang kekasih tetap meyakinkan (meski sebagai penonton sebenarnya saya tak keberatan kalau ada bonus ‘kissing‘ atau semacamnya). Well, overall, film ini bagus dan keren. Sangat layak untuk ditonton. Meski ceritanya tentang perjuangan Korea, tapi menurut saya tema besarnya tetap terasa universal.

Catatan:
Park Yeol adalah tokoh nyata. Ia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyeongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Ia melannjutkan sekolah menengah di Seoul, tapi kemudian dikeluarkan karena terlibat gerakan yang dikenal sebagai Gerakan 1 Maret. Park kemudian pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyo inilah, Park bertemu teman-teman yang memiliki visi yang sama dan membentuk kelompok anarkis yang disebut “Futeisha”, termasuk di dalamnya adalah Fumiko Kaneko yang kemudian menjadi kekasihnya.

Park Yeol_15
Seperti di film, Park ditangkap pemerintah Jepang pada 2 September 1923, sehari setelah gempa Kento dan dituduh akan melakukan makar dengan meledakkan bom. Mereka sedianya dijatuhi hukuman mati, tapi karena kepentingan politik Jepang, kemudian diganti dengan hukuman seumur hidup. Setelah 22 tahun dipenjara, Park dibebaskan pada Oktober 1945 dan kembali ke Korea pada tahun 1949. Tahun 1950, Park ditangkap oleh tentara Korea Utara. Park meninggal di Korea Utara pada 17 Januari 1974.

Fumiko Kaneko lahir di Yokohama, Provinsi Kanagawa, Jepang pada 25 Jannuari 1925. Ayahnya seorang keturunan samurai, sementara ibunya anak seorang petani. Karena perbedaan status ini, orangtuanya tak pernah resmi menikah dan karenanya pula, Fumiko tak bisa didaftarkan sebagai anak oleh ibunya. Ia sempat mengalami masa kecil yang cukup bahagia ketika ayahnya masih bekerja di kepolisian. Tapi ketika berumur 8 tahun, ayahnya berhenti dan tenggelam sebagai penjudi-pemabuk serta sering melakukan kekerasan di rumah. Kehidupan rumah tangga orang tuanya berantakan. Ayahnya menikah dengan perempuan lain dan ibunya berganti-ganti pasangan dan pernah hendak menjual Fumiko ke rumah peluran. Karena tak terdaftar sebagai ‘anak” Fumiko juga tak bisa mengenyam bangku sekolah. Fumiko kemudian dibawa neneknya ke Korea. Di Korea, ia diperlakukan selayaknya pembantu. Meski begitu, ia diijinkan untuk sekolah, meski dilarang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Perlakuan buruk yang diterimanya, membuatnya merasa memiliki ‘kedekatan’ dengan orang-orang Korea yang juga diperlakukan buruk oleh orang-orang senegaranya.

Park Yeol_21

Pada tahun 1919, Fumiko dikirim kembali ke Jepang dan tinggal bersama ayahnya. Fumiko hendak dinikahkan dengan sepupunya tapi pernikahan itu batal karena Fumiko diduga sudah tidak perawan. Setelah mengalami perlakuan tak menyenangkan, Fumiko kemudian memutuskan pergi ke Tokyo dan mencari jalan hidupnya sendiri. Di Tokyo, ia sempat tinggal bersama keluarga pamannya, tapi kemudian mulai hidup mandiri dengan bekerja di sebuah surat kabar. Ia juga melanjutkan sekolahnya dan berkenalan dengan orang-orang dari Gerakan Pembebasan dan gerakan sosialis. Pertemuannya dengan Hatsuyo Niiyama pada tahun 1922, mengenalkannya dengan ide-ide anarkisme dan nihilisme. Di sinilah kemudian ia bertemu dengan Park Yeol dan berbagi ide yang sama. Bersama Park, ia mempublikasikan majalah yang berisikan permasalahan yang dihadapi orang-orang Korea dibawah penjajahan Jepang.

Bersama Park, ia kemudian ditangkap oleh pemerintah Jepang. Selama di penjara, Fumiko menulis memoarnya, yang kemudian menjadi dokumen penting tentang ide-ide dan kehidupannya. Tahun 1926, Fumiko meninggal, diduga karena bunuh diri (meski seperti dalam film, hal ini dipertanyakan).

sumber: wikipedia.org

Cast:
– Park Yeol
Choi Hee-seo – Fumiko Kaneko

Kim Joon-han – Tatemasu (penyidik)
Kim In-wo – Mizuno
Tasuku Yamanouchi – Tatshushi Fuse
Hiroki Yokouchi – Fujishita
Kim Soo-jin – Makino
Kwon Yul – Lee Suk
Min Jin-woong – Hong Jin-yoo (temannya Park dan Fumiko)
Baek Soo-jang – Choi Young-hwan (temannya Park)
Han Gun-tae – Kazuo (temannya Park)
Bae Je-ki – Chou Kyu-jong
Yoon Seul – Hasseuyo Nihiyama (kekasihnya Kazuo)
Choi Jung-hun – Jung Tae-sung

Judul: Anarchist From Colony/ Park Yeol
Sutradara:
Penulis: Hwang Sung-goo
Produser: Park Sung-joo
Rilis: 28 Juni 2017
Durasi: 129 menit
Distributor: Megabox M Plus
Negara/ Bahasa: Korea Selatan/ Korea-Jepang

Kategori:Uncategorized

The King’s Case Note

Agustus 24, 2017 Tinggalkan komentar

Sejak dengar tentang berita pembuatan film ini, saya sudah menantikannya. Ceritanya terdengar lucu, tentang detektif di jaman kerajaan, dan pemain utamanya adalah . + komedi adalah sepaket yang terdengar menarik. Waktu itu, siapa yang akan menjadi lawan mainnya. Tapi ketika kemudian saya mendengar nama . saya pikir itu adalah cast yang tepat. Menjadi karakter ‘bego-bego’, ‘tertindas’ dan lucu adalah spesialisasinya Ahn (sama seperti karibnya, ). Karenanya, saya cukup berekspektasi ketika akhirnya film ini tayang. Sayang, setelah tayang, sepertinya film ini tak banyak dibahas dan ‘sepinya’ film dari omongan adalah salah satu tanda bahwa film tersebut kurang sukses. Meski begitu, saya tetap bertekad untuk menontonnya.

King Case_4

 

Film dimulai dengan hari pertama Yi-seo () yang dajak Raja Yejong () untuk menjadi ‘partner in crime’nya, berkat kemampuannya di bidang sejarah. Raja adalah seorang yang pintar dan sangat suka main detektif-detektifan. Alih-alih menyerahkan kasus kriminal pada bawahannya, ia lebih senang menyelidikinya sendiri. Dan kala itu, sedang terjadi sebuah kasus yang melibatkan perong-rongan kekuasaan terhadapnya yang tampak-tampaknya dikendalikan oleh salah seorang rivalnya, Kim Gun-hee.

King Case_3

King Case_1

Yi-seo nyaris menyerah karena Raja memberinya tugas-tugas sulit dan berbahaya. Meski begitu, raja juga adalah orang yang baik dan menyenangkan dan tak ada alasan bagi Yi-seo untuk tak setia kepadanya. Berdua, dengan segala keunikan dua orang ini, mereka kemudian menjadi duo detektif dan berusaha membongkar aktivitas makar di istana. Dan interaksi dua orang ini lah yang kemudian menjadi nyawa utama film ini, bahkan menurut saya jauh lebih menarik daripada ceritanya sendiri.

King Case_2

 

Cerita kriminalnya rasanya terlalu standar dalam film bergenre kerajaan. Twistnya juga tidak terlalu mengejutkan (siapa pelaku utamanya rasanya sudah bisa ditebak sejak awal). Dan saya pun memahami kenapa film ini kemudian kurang sukses di negaranya sono. Usai menonton film ini, saya hanya meringis: segitu doang? Saya yang menonton film  ini untuk melihat kelucuan dari duo detektif antik, merasa kurang terpuaskan. Menurut saya, justru akan lebih menarik kalau film ini lebih fokus pada cerita yang lebih mengeksplorasi aksi detektif-detektifan alih-alih kasus makar yang rasanya terlalu standar film jenis ini.

King Case_6

Seperti dugaaan saya, dan bermain apik dan effortless, chemistry keduanya juga terbangun sangat baik. Bahkan rasanya saya lebih senang kalau film ini isinya lebih banyak tentang interaksi dua orang ini dengan segala kekonyolannya. Hehe. Whatever, film ini tidak buruk-buruk amat kok. Dan hal terbaik dari film ini, selain bromancenya Raja & Yi-seong yang lucu, juga adalah suara super empuknya yang sangat-sangat enak didengar. Hmm, yah memang terkenal sebagai salah satu aktor dengan suara terbaik dan saya sangat setuju dengan hal itu. Dan di film ini, dengan aksen Raja-nya, suaranya benar-benar enak didengar 🙂

Note:
Berdasarkan komik dengan judul yang sama, ditulis oleh Heo Yoon-mi dan diterbitkan di majalah Wink dari tahun 2012-2013

Cast:
– Raja Yejong
– Yoon Yi-seo
– Nam Gun-hee
Jo Jin-mo – Jikjehak
Kyung Soo-jin – Sun-hwa
Jung Hae-in – Heuk-woon
Jang Young-nim – Soobin
Kim Hong-fa – Perdadna Menteri
Uhm Ji-sung – Pangeran Ja-sung
Kang Chan-hee – Raja (muda)
– Putra Mahkota Uikyung

Judul: The King’s Case Note/ Imgeumnimui Saguncoocheob
Sutradara: Moon Hyung-sung
Penulis: Heo Yoon-mi (komik)
Produser: Yoon Hong-joon, Choi A-rang
Sinematografi: Kim Dong-young
Rilis: 26 April 2017′
Durasi: 114 menit
Distributor: CJ Entertaintment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Kategori:Uncategorized
the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar