Arsip

Archive for the ‘My Favourite’ Category

My Ahjussi

Setelah dua dramanya yang ngehits dan , nama seolah kemudian menjadi jaminan dengan produksi drama berkualitas dan cukup saya nantikan karyanya. Karenanya, ketika mendengar kabar tentang pembuatan drama ini, saya cukup antusias. Apalagi, di sini ia akan berkolaborasi dengan penulis drama yang juga  ngehits, dari drama . Bisa dibilang ini adalah paket combo.

My-Ahjussi

Meski begitu, di awal, cukup banyak yang meragukan drama ini.
Pertama, tentu dari segi ceritanya yang akan melibatkan hubungan antara lelaki paruh baya (ahjussi) dan gadis muda. Bayangan kalau drama ini akan melibatkan hubungan (kemungkinan besar romance) dengan gap usia yang jauh memang terdengar masih kurang sreg di telinga sebagian orang (padahal di kehidupan nyata banyak banget kisah cinta begitu). Apalagi, ketika hendak rilis drama ini, bertepatan dengan munculnya skandal pelecehan seksual oleh beberapa aktor senior Korea (termasuk Oh Dal-su yang terlibat di drama ini). Kedua, ketika castnya diumumkan. saya kira adalah pilihan yang sangat pas, tapi ? Banyak yang berpendapat kalau tampangnya terlalu imut-imut layaknya gadis belasan tahun dan karenanya akan semakin mempelihatkan gap usia dengan ahjussi-nya. Sebenarnya saya termasuk yang agak underestimate dengan dicastnya dia. Dari segi usia sih nggak masalah, karena toh kenyatannya dia sudah cukup dewasa (dia kelahiran 1993), tapi dari segi akting saya meragukannya. Dia cukup bisa berakting tapi juga tidak bisa dibilang impresif. Padahal saya yakin kalau karakter drama ini membutuhkan kemampuan akting yang bagus. Tapi lagi, sutradaranya kan yang selama ini terbukti tak pernah mengecewakan dengan pilihan castnya. Dan oke, saya pun kemudian berusaha percaya sepenuhnya pada sang sutradara.

My Ahjussi (4)

Park Dong-hoon,  Ahjussi yang sedang mengalami middle age man crisis

My Ahjussi (14)

Ahjussi di drama ini adalah Park Dong-hoon (), seorang lelaki 40an yang sedang mengalami titik kritis dalam hidupnya. Dong-hoon bekerja sebagai insinyur teknik rekayasa bangunan di sebuah perusahaan besar. Ia ahli di bidangnya dan mencintai pekerjaannya, hanya saja karena sikapnya yang selalu jujur dan tak ambisius, karirnya kurang bagus. Ia bahkan harus menjadi bawahan juniornya yang ambisius, Do Joon-young ( ). Hal yang menimbulkan olok-olok di antara rekan kerjanya karena ia dianggap tidak capable. Hal yang membuatnya merasa tidak lagi nyaman bekerja. Padahal, di rumah ia adalah kebanggaan keluarga, karena dianggap sebagai satu-satunya yang sukses. Abangnya, Park Sang-hoon (), adalah pengangguran karena dipensiunkan dini dari tempatnya bekerja.  Adiknya, Park Ki-hoon (), seorang sutradara film yang sudah menyerah pada dunia film, dan hanya bermalas-malasan di rumah. Tak ingin mengecewakan ibunya (), Dong-hoon pun berusaha bertahan dengan ketidaknyamanannya. Hubungannya dengan istrinya, juga tak bisa cair. Istrinya, Kang Yoon-hee ( ) adalah pengacara sukses, perempuan modern yang menginginkan kehidupan keluarga yang lebih individual, dan karenanya, merasa kesal dengan sikap Dong-hoon yang masih asangat terikat dengan keluarganya. Jenuh dengan hubungannya, diam-diam istrinya berselingkuh dan parahnya, selingkuhnya sama Joon-young pula.

My Ahjussi (1)

Lee Ji-an yang tumbuh di lingkungan yang pahit

My Ahjussi (8)

Lee Ji-an () adalah pegawai kontrak di tempat Dong-hoon. Karakternya dingin dan cenderung misterius. Ia nyaris tak pernah bicara pada siapapun. Kenyataannya, ia menyimpan rahasia kehidupan yang menyedihkan. Ia hanya tinggal dengan neneknya yang bisu dan harus menanggung hutang pada lintah darat yang setiap saat datang untuk menyiksanya. Diketahui kemudian, kalau di masalalu, Ji-an pernah membunuh orang, ayah Ki-yong karena memukuli neneknya. Tak sengaja, Ji-an mengetahui perselingkuhan istri Dong-hoong dengan Do-yoon dan juga tahu ambisi Do-yoon untuk menyingkirkan Dong-hoon. Berpikir bisa mendapatkan banyak uang, Ji-an kemudian menawarkan diri untuk membantu Do-yoon menyingkirkan Dong-hoon. Ia memasang alat penyadap di ponsel Dong-hoon dan mengetahui hampir semua halyang dilakukan Dong-hoon. Kesendirian, kesepian dan kebaik hati Dong-hoon justru membuat Ji-an tersentuh dan diam-diam menyukai Dong-hoon. Di sisi lain, Dong-hoon yang tanpa sengaja mulai mengetahui sisi gelap Ji-an, merasa jatuh simpati kepadanya. Dan begitulah, dua orang dengan luka ini menemukan penyembuhan dari kesedihan yang mereka alami.

My Ahjussi (3)

My Ahjussi (7)

Ketika membaca di awal kalau drama ini katanya akan menjadi semacam cerita healing, saya berpikir kalau ceritanya akan lebih seperti slice of life yang realistis ala . Tapi ternyata sejak episode pertama, ceritanya sudah terasa gelap dan intense banget. Terutama kehidupan Lee Ji-an yang seperti film gangster. Kehidupan di sekitar Park Dong-hoon dengan intrik-intrik perusahaannya juga terasa berat. Tapi yah, di sinilah saya rasa sang sutradara dan penulis cerita ini membuktikan diri kalau drama ini nggak cuma sekedar drama dengan cerita yang overdramatic seperti umumnya drama-drama yang sudah ada. Meski terasa gelap dan berat, tapi disajikan dengan begitu intense sehingga kita yang nonton mau nggak mau ikut dibawa menyelami emosi karakter-karakternya yang begitu dalam. Kesakitan, kesepian dan kesendirian mereka terasa begitu real. Dan meski ceritanya cukup berat, tapi tetap selalu ada sisi hangat dan seperti yang dijanjikan di awal, fokus drama ini memang tetap pada healingnya, yang menurut saya mampu dipadukan dengan keseluruhan cerita dengan pas. Karakter-karakternya begitu hidup dan solid membangun satu kesatuan cerita.

My Ahjussi (21)

My Ahjussi (17)

, tentu tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Belum lagi suara beratnya yang memang benar-benar bisa jadi healing, hehe (beneran, saya betah dengerin dia ngomong berlama-lama). Dan , ternyata bisa menjawab keraguan banyak orang, termasuk saya. Dia mampu menjelmakan diri jadi Lee Ji-an yang dingin, keras, tapi juga begitu rapuh dan menyedihkan. Cast lainnya juga solid karena memang melibatkan aktor-aktor ‘sungguhan’ (kebanyakan adalah aktor senior) mulai dari , , , , Oh Na-ra… Masing-masing karakternya juga mendapat eksplorasi yang memadai. Cerita yang cukup membuat saya sesak adalah kisah cinta Jung-hee dan kekasihnya yang jadi biksu. Saya merasa sedih melihat Jung-hee yang nggak bisa move on (mungkin lebih baik dikhianati atau ditinggal mati kekasih daripada ditinggal jadi biksu), dan juga sedih melihat keka yang diceritakan mennjadi biksu karena merasa lelah dengan kehidupan duniawi (sad :()…

My Ahjussi (15)

My Ahjussi (23)

Bukan drama dengan tema humanisme yang terasa universal seperti atau (atau juga ), karena cerita drama ini memang terasa lebih spesifik. Tapi sebagai sebuah tontonan, menurut saya drama ini cukup sempurna dan rasanya tak berlebihkan kalau menjadi salah satu drama terbaik tahun ini.

Cast:
– Park Dong-hoon
– Lee Ji-an
– Byeon Yo-soon (ibunya Dong-hoon)
– Park Sang-hoon
– Park Ki-hoon
– Kang Yoon-hee (istrinya Dong-hoon)

Oh Na-ra – Jung-hee
Park Hae-joon – Gyeomduk
Nara – Choi Yoo-ra
– Do Joon-young
Jang Ki-young – Lee Kwang-il
Ahn Seung-kyoon – Ki-beom (temannya Ji-an)
Son Sook – Lee Bong-ae (neneknya Ji-an)
Lee Young-suk – Choon-dae (kakek pengumpul sampah)
Shin Goo – CEO Jang
Jeon Kuk-hwan – Eksekutif Dir. Vang
Jung Hae-kyun – Park Dong-voon
Jung Jae-sung – Dir. Yoon
Seo Hyun-woo – Kepala seksi Song
Chae Dong-hyun – Asst. Manajer Kim
Kim Min-seok – Hyung-kyu
Ryu Sun-young – Jung Chae-ryung
Jung Young-joo – Jo Ae-ryun(istrinya sang-hoon)

Judul: My Mister/My Ahjussi/ Naui Ahjussi
Sutradara:
Penulis:
Tayang: tvN, 21 Maret – 17 Mei 2018
Episode: 16

Iklan

Only Yesterday

April 24, 2018 1 komentar

Taeko, seorang gadis kota berumur 27 tahun dan masih sendiri. Karena dianggap sudah memasuki usia yang matang (cerita film ini berlatar tahun 80an), ia dicecar tentang pertanyaan untuk segera menikah oleh orang sekitar. Tapi Taeko sendiri masih sering bingung dengan dirinya sendiri. Ia selalu merasa dirinya tidak cukup baik dan sering terjebak dalam kenangan-kenangan masa kecilnya yang tidak terlalu bahagia. Ketika hari libur dari tempatnya bekerja, Taeko pergi ke desa untuk jadi bekerja paruh waktu di ladang pertanian milik kakak iparnya. Taeko lahir dan besar di kota dan sejak kecil, keluarga besarnya, termasuk neneknya, tinggal bersama di kota. Karenanya, ia selalu merasa iri ketika liburan sekolah, teman-temannya banyak yang pergi ke desa untuk mengunjungi kakek nenek mereka.

Omohide Poro Poro_8

Dalam perjalanan dan hari-harinya di desa, kenangan-kenangan masa kecil Taeko berhamburan. Posisinya sebagai anak terkecil di rumah membuatnya sering menjadi obyek bully kakak-kakaknya, logika berpikir yang berbeda, hal yang sering membuat ibunya habis kesabaran menghadapinya, tapi juga banyak kenangan manis di keluarganya… hari-harinya di sekolah ketika ada Hirota, bocah lelaki bintang baseball yang menyukainya…

Omohide Poro Poro9

Omohide Poro Poro17

Taeko sangat menikmati hari-harinya di desa. Selama di desa, ia ditemani Toshio, sepupu iparnya, cowok ramah dan bersahaja yang menikmati pekerjaan menjadi petani organik, alih-alih pergi ke kota besar. Toshio membuat Taeko nyaman. Dengan Toshio ia bisa bercerita tentang apa saja. Tapi ketika kemudian muncul tawaran untuk ia menikah dengan Toshio dan tinggal di desa, ia sadar bahwa selama ini, dirinya berpikir sangat naif. Ia sering berpikir bahwa tinggal dan hidup di desa adalah sesuatu yang menyenangkan, karena selama ini ia hanya tinggal sehari dua hari saja. Tapi menghabiskan seluruh hidupnya di desa? Pikiran-pikiran itu menohok Taeko dan kembali menyadarkan bahwa sebenarnya selama ini ia tidak cukup baik, tapi sering merasa sudah menjadi orang yang baik. Termasuk kenangan akan masa kecilnya bersama seorang bocah lelaki dekil dan miskin yang menjadi teman sebangkunya.

Omohide Poro Poro3

Omohide Poro Poro_9

 

Saya penasaran dengan film ini bukan karena ceritanya, tapi lebih karena melihat bahwa ini adalah besutannya , yang memang seolah menjadi jaminan animasi yang keren dan menarik. Dan yah, demikian juga dengan film ini. Ceritanya sangat unik demikian juga dengan plotnya yang tak terduga. Di awal, saya merasa agak bingung karena plot dan ceritanya yang seolah melompat berhamburan kesana kemari tanpa garis cerita yang jelas. Tapi semakin kesini, benang merahnya mulai terasa, membentuk jalinan cerita yang sangat subtle tapi juga begitu solid. Dan yah, I love this movie so much.

Omohide Poro Poro_7

Ruh film ini mirip-mirip sama film yang sudah saya tonton sebelumnya, yang juga sangat saya sukai. Gambar-gambarnya begitu permai, dan ceritanya terasa sangat manis dan hangat dengan penyajian yang begitu subtle tapi emosi dan nyawa ceritanya dapet banget. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Dan inilah salah satu hal yang selalu membuat saya kagum dengan film-filmnya . Karenanya meskipun disajikan dalam bentuk animasi, tapi rasanya, tokoh-tokohnya begitu hidup dan nyata. Pada beberapa bagian, saya bahkan tak kuasa untuk menahan air mata karena ikut terhanyut dengan emosi tokoh utamanya. Sosok Taeko yang manis dan agak naif dengan segala kesepian dan ketidakbahagiaannya benar-benar terasa begitu relatable. Recommended!!!

Dubbing Cast:
Miki Imai – Taeko Okajima
Toshiro Yanagiba – Toshio
Yoko Honna – Taeko (kecil)

Judul: Omoide Poro Poro (Only Yesterday/Memories Come Tumbling Down)
Sutradara/Penulis: Isao Takahata
Produser: Toshio Suzuki
Buku: Omoide poro poro (Hotaru Okamoto, Yuko Tone)
Musik: Katz Hoshi
Sinematografi: Hisao Shiraishi
Produksi:
Distributor: Toho
Rilis: 20 Juli 1991
Durasi: 118 menit
Bahasa/Negara: Jepang

 

Little Forest

April 9, 2018 Tinggalkan komentar

Pada suatu musim dingin, Hye-won () memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya setelah gagal ikut ujian guru. Sedih dan kecewa, ia berniat ‘melarikan diri’ selama beberapa hari di rumah masa kecilnya.

Little Forest

Ia pun menghabiskan hari-hari yang tenang dengan memasak aneka makanan sederhana dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya sembari mengenang kebersamaannya bersama sang ibu (). Ibunya adalah seorang single parent, perempuan mandiri yang pintar memasak dan selalu mengajarinya hal-hal menakjubkan. Tapi suatu hari, tiba-tiba ibunya minggat entah kemana dan hanya selalu mengiriminya surat-surat. Merasa marah dan tak ingin menunjukkan sisi lemahnya, Hye-won bertekad untuk mandiri dengan pergi kuliah ke kota dan mengabaikan surat-surat ibunya. Tapi kembali ke rumahnya lagi, Hae-won sadar bahwa ia merindukan dan mengagumi ibunya.

Little Forest (6)

Little Forest (13)

Meski awalnya hanya ingin tinggal beberapa hari di desa, tapi Hye-won kemudian ternyata mulai merasa betah. Kehidupan di desa ternyata tak seburuk yang ia pernah bayangkan ketika masih remaja dulu. Apalagi kemudian juga ada dua sahabat masa kecilnya, Eun-sook, yang seumur hidup tak pernah meninggalkan kampung halamannya, dan Jae-ha (), yang memutuskan keluar dari perusahaan di kota karena tak tahan di atur-atur dan memilih pulang ke desa menjadi petani. Di antara waktu-waktu senggang dengan menghabiskan kebersamaan yang menyenangkan.

Little Forest (10)

Little Forest (15)

Saya selalu menyukai film-film bertema healing dan sudah penasaran sama film ini sejak membaca sinopsisnnya, apalgi kemudian muncul posternya yang terkesan begitu fresh. Dan setelah menonton film ini, saya pun setuju dengan kategori itu: healing movie, yang memberi kesan lighthearted dan hangat usai menontonnya. Cerita, cast dan gambar-gambarnya mewakili semua itu.

Little Forest (1)

Little Forest (20)

Ceritanya sendiri mungkin tidak bisa dibilang baru (banyak film-film Jepang mengetengahkan tema serupa dan film ini sedikit mengingatkan saya sama ‘Only Yesterday’nya studio Ghibli), tapi sang sutradara menyajikannya dengan baik sehingga film ini tetap memiliki orisinalitasnya sendiri. Tadinya saya agak-agak khawatir dengan eksekusi hubungan Hye-won dengan Eun-sook dan Jae-ha, kalau-kalau jatuh jadi romance yang klise, tapi untungnya enggak kok. Karena bukan di situ fokus film ini.

 

Untuk jajaran cast, menurut saya pemilihannya juga sangat pas, terasa fresh. memiliki screen presence yang menyenangkan. Karena ini melibatkan visual, tentu penampilan fisik tak bisa diabaikan. Dan Kim memiliki visual yang enak dilihat, kecantikan yang fresh dan alami. Di sisi lain, ia juga memiliki kesan sebagai gadis yang tough tapi tetap memiliki sisi fragile. Dan di atas semua itu, tentu saja dia punya kemampuan akting yang bagus. Yah sejak melihat debutnya yang impresif di Handmaiden, saya sudah punya feeling kalau hanya soal waktu saja melihat bintangnya bersinar. Sama halnya dengan , yang menunjukkan penampilan mengesankan di drama pertamanya, Reply 1988. Keduanya juga punya imej yang hampir sama: muda dan fresh. Sementara aktris Jin Ki-joo yang jadi Eun-sook, meski begitu-begitu saja, tapi saya pikir juga berakting dengan pas.

Overall, it’s good movie.

Cast:
– Hye-won
– Jae-ha
– ibunya Hye-won
Jin Ki-joo – Eun-sook

Judul: Little Forest/ Liteul Poreseuteu
Sutradara:
Penulis: Daisuke Igarashi (manga) , Hwang Sung-goo
Sinematografi: Lee Seung-hoon
Rilis: 28 Februari 2018
Durasi: 103 menit
Distributor: Megabo M Plus
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

A Day

Maret 31, 2018 Tinggalkan komentar

Kim Joon-young () adalah seorang dokter terkenal dan dikagumi banyak orang. Meskipun sangat menyayangi putrinya, Eun-jung, tapi selama ini ia bukanlah ayah yang baik karena kurang perhatian. Suatu hari, sepulang dari luar negeri dan hendak merayakan ultah Eun-jung, Kim mendapati putrinya yang tewas karena kecelakaan. Tidak hanya itu, karena setiap kali itu pula, waktu tiba-tiba berputar kembali ke belakang, pada beberapa jam sebelum kecelakaan.

A Day

A Day (2)

Selain Kim, ternyata ada dua orang lagi yang terjebak dalam mesin waktu ini. Lee Min-chu ()l, sopir ambulans yang istrinya Mi-kyung (), ikut menjadi korban kecelakaan karena naik taksi yang menbrak Eun-jung, dan juga Kang-sik (), si sopir taksi yang ternyata memiliki dendam masa lalu pada Kim dan Min-chul. Bertiga, mereka pun berusaha menemukan cara agar bisa berdamai dengan waktu dan mengubah keadaan.

A Day (5)

A Day (3)

Film bertema mesin waktu tentulah bukan hal yang baru. Selain latar cerita, eksekusi ending tentulah menjadi hal yang paling penting dalam film jenis ini agar cerita menjadi menarik dan tidak repetitif. Dan menurut saya, film ini berhasil memadukan keduanya dengan baik. Ceritanya menarik, disajikan dengan menarik dan endingnya juga sangat memuaskan. Plotnya begitu intens dan cepat, tapi bagian-bagian pentingnya disajikan dengan baik. Tone gambar-gambarnya jernih dan terasa warm sehingga enak dilihat. Castnya terasa solid karena memang diperankan oleh aktor-aktor bagus yang meski mungkin tidak bisa sebagai aktor dengan nama besar, tapi memiliki track record sebagai aktor yang talented &  berkualitas. Mulai dari , , … semua berakting dengan pas, meski menurut saya, akting terbaik diberikan oleh . Emosi-emosinya ketika melihat atau membayangkan tragedi yang menimpa putrinya terasa begitu real, sehingga membuat saya yang menonton juga ikut-ikutan emosional.

A Day (1)

bermain bagus, dan mampu keluar dari karakter yang pernah dimainkan sebelumnya. Hanya saja, pada beberapa bagian, menurut saya aktingnya agak over the top. Tapi mengingat bahwa dia memang bisa dibilang masih junior di dunia seni peran, saya bisa memakluminya. Menurut saya, dia adalah aktor muda berbakat dan saya juga mengapresiasi pilihan-pilihan filmnya yang lumayan bagus-bagus. Sementara aktor , karena memang bukan karakter utama, scenenya memang terbatas, tapi seperti biasa, menunjukkan aktingnya yang prima. Pemeran lain yang juga patut diacungi jempol adalah aktris cilik yang memerankan Eun-jung. Aktingnya sangat natural sebagai gadis kecil yang agak keras kepala dan periang. Dan chemistry ayah-anak, meski nyaris nggak ada scene bareng (kebanyakan hanya melalui percakapan telepon), terasa real. Recommended!

Cast:
– Kim Joon-young
– Lee Min-chul
– Kang-sik
– Mi-kyung (istrinya Min-chul)
Jo Eun-hyung – Eun-jung

Judul: A Day/ Haroo
Sutradara: Jo Sun-ho
Penulis: Jo Sun-ho, Lee Sang-hak
Sinematografer: Kim Ji-yong
Rilis: 15 Juni 2017
Durasi: 90 menit
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Land of Mine

Januari 29, 2018 Tinggalkan komentar

Denmark pasca berakhirnya perang. Jerman kalah, dan tentara mereka ditarik mundur. Pihak Denmark yang merasa gembira dengan kekalahan Jerman, melampiaskan kebenciannya pada tentara Jerman yang masih tersisa. Beberapa dari sisa pasukan ini, kemudian ditugaskan untuk membersihkan ranjau yang ditanam oleh pihak Jerman sebelumnya. Salah satu pasukan dipimpin oleh Rasmussen. Pasukan ini berisi beberapa tentara Jerman yang masih sangat belia. Mereka ditugaskan membersihkan ranjau di sebuah pedesaan sunyi di tepi pantai. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang minim, para tentara belia ini harus melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya.

Land of Mine1

Land of Mine2

Sebagai tentara musuh, pasukan ini diperlakukan semena-mena. Bekerja keras dan tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. Tidur di gubuk seadanya dan dibiarkan kelaparan. Rasmussen awalnya, karena kebenciannya, berkeras hati membiarkan bocah-bocah belia ini menderita. Tapi semakin ke sini, nuraninya mulai terketuk. Tentara-tentara belia itu, tak lebih dari bocah-bocah lugu yang dipaksa oleh keadaan untuk terjun ke medan perang. Rasmussen pun mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Tapi tentu saja, sikapnya ini justru mendapat hujatan dari rekan-rekannya. Selain itu, hubungan yang melibatkan emosi juga mulai mengusiknya. Ketika ia melihat bocah-bocah ini satu per satu menjadi korban ketika menjinakkan ranjau, Rasmussen juga ikut menderita.

Land of Mine4

Land of Mine3

Menurut saya, ini film dengan cerita yang sangat bagus dan orisinal. Film tentang masa-masa perang, sudah banyak dibuat, tapi yang menyajikan cerita semacam ini, ya rasanya baru film ini. Pemilihan judulnya sendiri, menurut saya juga sangat brilian. “Land of Mine” yang selain mewakili latar cerita film yang memang mengetengahkan tentang ‘mine’ (ranjau) juga bisa dimaknai sebagai klaim kepemilikan yang kemudian menjadi ruh cerita film ini. Yah, karena klaim kepemilikan semacam itulah sebenarnya kejahatan kemanusiaan dan perang muncul. Kekalahan satu pihak dan berakhirnya perang, kenyataannya tak menjadikan dunia lebih baik. Orang saling membenci dan membunuh hanya karena merasa yang paling berhak menjadi pemilik. Sad.
Untunglah, film ini disajikan dengan begitu hangat. Recommended!

Cast:
Roland Møller as Sgt. Carl Leopold Rasmussen
Mikkel Boe Følsgaard – Lieutenant Ebbe Jensen
Laura Bro – Karin
Louis Hofmann – Sebastian Schumann
Joel Basman – Helmut Morbach
Oskar Bökelmann – Ludwig Haffke
Emil Belton – Ernst Lessner
Oskar Belton – Werner Lessner
Leon Seidel – Wilhelm LeBern
Karl Alexander Seider – Manfred
Maximilian Beck – August Kluger
August Carter – Rodolf Selke
Tim Bülow – Hermann Marklein
Alexander Rasch – Friedrich Schnurr
Julius Kochinke – Johann Wolff
Zoe Zandvliet – Elizabeth

Sutradara/Screenplay: Martin Zandvliet
Produser: Malte Grunert, Mikael Chr. Rieks
Musik: Sune Martin
Sinematografi: Camilla Hjelm Knudsen
Editor: Per Sandholt, Molly Malene Stensgaard
Distributor: Nordisk Film
Rilis: 10 September 2015 (TIFF)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Demark/Denmark-Jerman

Awards:
– Gijón International Film Festival 2015 : Audience Award
– Hamburg Film Festival 2015: Nominasi Art Cinema Award
– Tokyo International Film Festival 2015: NominasiTokyo Grand Prix , Best Actor Award (Roland Møller & Louis Hofmann )
– Toronto International Film Festival 2015: Nominasi Platform Prize
– European Film Awards 2016: Best Cinematographer, Best Costume Design, Best Hair and Make-up
– Hong Kong International Film Festival 2016: SIGNIS Awards
– Rotterdam International Film Festival 2016: Warsteiner Audience Award
– Academy Awards 2017: Nominasi Best Foreign Language Film

The Salesman

Januari 24, 2018 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan kechaosan yang terjadi di sebuah rumah hunian karena si pemilik hendak meruntuhkannya. Para penghuni pun mau tak mau harus segera Sepasang suami istri muda, Emad dan Rana adalah salah satunya. Emad adalah guru seni yang hangat dan dicintai murid-muridnya. Di malam hari, ia bermain teater bersama Rana. Tanpa terlalu banyak mengumbar adegan sok romantis, kita tahu bahwa keduanya adalah pasangan harmonis yang saling mencintai satu sama lain.

The Salesman-4

Berdasarkan rekomendasi seorang temannya di teater, Emad dan Rana kemudian pindah di sebuah apartemen sederhana yang baru saja ditinggal pergi penghuni sebelumnya. Penghuni sebelumnya ini, masih meninggalkan barang-barangnya di apartemen dan susah sekali dihubungi. Lalu suatu hari, ketika Rana sedang di rumah sendirian, seseorang masuk dan memukulnya hingga kepalanya terluka cukup parah. Usut punya usut, diketahui kalau penghuni sebelumnya adalah seorang perempuan ‘nggak bener’ dan kemungkinan orang yang menyerang Rana adalah salah satu orang langganannya. Mengira bahwa Rana adalah si penghuni lama.

The Salesman-1

Emad merasa sangat marah mengetahui hal ini. Apalagi kemudian, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Rana. Rana yang mandiri dan ceria berubah menjadi sosok penakut dan pemurung. Harga diri Emad sebagai seorang suami terluka. Apalagi kemudian Rana menolak untuk melaporkan kejadian itu ke polisi karena enggan mengikuti prosedurnya yang ribet belum lagi kinerja kepolisian yang meragukan (terdengar familiar!). Emad pun kemudian diam-diam berusaha mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penyerangan itu. Tapi ketika akhirnya pun ia berhasil menemukannya, ia tak lantas mudah membalaskan dendamnya. Alih-alih, keadaan justru menjadi rumit.

The Salesman-5

Saya selalu suka dengan film-film non Hollywood, karena punya orisinalitas ceritanya sendiri. Dan salah satu genre film yang saya sukai adalah film-film Timur Tengah, termasuk Iran. Apalagi bisa dibilang, untuk film-film Timur Tengah, sinema Iran memang yang paling menonjol bahkan untuk kancah internasional pun, menurut saya mereka adalah salah satu negara dengan tradisi perfilman terbaik. Di tengah ideologi negara mereka yang terkenal puritan, mereka tetap produktif menelurkan film-film berkualitas yang terus wara-wiri di kancah festival film atau ajang penghargaan internasional. Bagi penggemar film, siapa yang tak kenal nama seperti Majid Majidi, Bahman Gobadi, Jafar Panahi…

The Salesman-3

Kekuatan film-film Iran menurut saya terletak pada cerita dan penyajian film yang sangat realistis dengan plot-plot yang nyaris tak terduga dan kemudian akan meninggalkan kesan mendalam serta perenungan setelah menontonnya. Pun dengan film ini. Semuanya disajikan dengan sangat realisitis dan bisa dibilang ‘sederhana’ tapi terasa begitu dalam dan mengena. Dialognya, adegannya, eksekusi-eksekusinya…. Sangat pantas kalau film ini kemudian mendapatkan penghargaan sebagai Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2017. Bahkan menurut saya jauh lebih bagus daripada film pemenang Oscar-nya sendiri (yang tahun ini jatuh pada film Moonlight, yang menurut saya biasa-biasa saja). Good movie!

Cast:
Shahab Hosseini – Emad
Taraneh Alidoosti – Rana
Babak Karimi – Babak
Farid Sajadhosseini – The Man
Mina Sadati – Sanam
Maral Bani Adam – Kati
Mehdi Koushki – Siavash
Emad Emami – Ali
Shirin Aghakashi – Esmat
Mojtaba Pirzadeh – Majid
Sahra Asadollahi – Mojgan
Ehteram Boroumand – Mrs. Shahnazari
Sam Valipour – Sadra

Sutradara/Penulis: Asghar Farhadi
Produser: Alexandre Mallet-Guy, Asghar Farhadi
Musik: Sattar Oraki
Sinematografi: Hossein Jafarian
Editor: Hayedeh Safiyari
Produksi: Memento Films Production, Asghar Farhadi Production, Arte France Cinéma
Distributor: Filmiran (Iran), Memento Films Distribution (Perancis)
Rilis: 21 Mei 2016 (Cannes)
Durasi: 125 menit
Negara/Bahasa: Iran/ Persia

Awards:

Academy Awards 2017 : Best Foreign Language Film
Asian Film Awards 2017: Best Screenplay
Cannes Film Festival 2016 : Best Screenplay , Best Actor (Shahab Hosseini)
Chicago International Film Festival 2016: Silver Hugo Special Jury Prize (Asghar Farhadi )
Critics’ Choice Movie Awards 2016 : Nominasi Best Foreign Language Film
Golden Globe Awards 2017 : Nominasi Best Foreign Language Film
etc,

The Tale of Iya

September 9, 2017 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan seorang lelaki tua yang melihat sebuah kecelakaan mobil di tengah badai salju. Di dekat lokasi tabrakan, ada seorang bayi yang bisa disimpulkan bahwa ia adalah korban selamat dari kecelakaan tersebut. Cerita kemudian beralih dengan sosok seorang gadis muda yang baru bangun tidur dan kemudian sibuk menyalakan api di dapur yang sangat tradisional. Diketahui kemudian, gadis itu adalah si bayi yang selamat. Namanya Haruna dan ia memanggil si lelaki penolongnya sebagai ‘Kakek.’ Mereka hanya hidup berdua, tinggal di pondok kecil di tengah hutan. Tanpa listrik, tanpa fasilitas modern apapun. Memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dari bercocok tanam dan hasil hutan.

tale of iya-1

tale of iya-2

Setiap hari, Haruna harus berjalan kaki memebelah hutan dan menuruni gunung untuk bersekolah. Di penghujung hutan adalah sebuah perkampungan yang sepi, Iya. Di sana dan terdapat sebuah rumah yang dihuni nenek tua yang tinggal hanya bersama boneka-boneka kain. Tanah-tanah pertanian di kampung itu terbengkelai karena tak ada yang mau menggarap. Sementara itu, di kampung juga sedang dilangsungkan pembangunan terowongan yang sepertinya akan menjadi pemecah keterpencilan Iya. Pekerja terowongan itu adalah para penduduk kampung, yang sepertinya sangat antusias dengan pembangunan terowongan itu.

tale of iya-12

Di sisi lain, seorang lelaki asing, Michael, membangun gerakan untuk ‘Save Iya’ dengan menentang pembangunan terowongan. Ia bersama rekan-rekannya yang adalah orang-orang dari kota, membangun komunitas kecil yang mengembangkan pertanian untuk membangun kedekatan dengan alam. Mereka berusaha mempengaruhi masyarakat agar menolak pembangunan terowongan, tapi tentu saja, itu usaha yang sia-sia. Ajakan dari orang yang bahkan ‘bukan orang Iya’ sama sekali tak mampu mengundang simpati masyarakat, alih-alih diremehkan.

tale of iya-3

Kudo, seorang lelaki paruh baya yang baru datang dari Tokyo. Tak diceritakan seperti apa latar belakang Kudo, tapi dari ekspresi wajahnya, kita tahu bahwa ia tak bahagia dan sedang berusaha mencari ‘surga’ sebagai pelarian dari kehidupan kota besar. Meski tinggal di tempat Michael, tapi Kudo sepertinya tak terlalu tertarik dengan gerakan mereka. Barulah setelah bertemu Haruna dan kakeknya, Kudo seperti menemukan sebentuk pencerahan. Ia pun kemudian bertekad mengikuti jejak sang kakek, dan mulai hidup dari pertanian.

tale of iya-16

Haruna sudah hampir lulus sekolah dan ia dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk tetap tinggal bersama kakeknya di tengah hutan atau mengejar masa depan di kota. Di sisi lain, sang kakek yang sudah semakin tua mulai pikun dan sakit-sakitan. Ketika sang kakek akhirnya meninggal, Haruna pun memulai babak baru dalam kehidupannya dengan bekerja di kota. Meski begitu, ia tak menemukan kebahagiaan di sana.

tale of iya-10

Satu hal yang saya sukai dari film-film Jepang adalah seringnya mereka mengangkat isu tentang hubungan manusia dan alam, dan bagaimana mereka menyajikannya dengan begitu liris dan kontemplatif. Dan film ini adalah salah satunya. Dari pengalaman saya menonton film, kadang cukup mudah untuk mengetahui apakah sebuah film cukup worthed untuk ditonton atau tidak dari menit-menit awal film. Dan film ini adalah salah satunya. Dingin hamparan salju, gemuruh angin dipadu gambar yang tenang, langsung membuat saya merasa ikut terserap dalam cerita film. Dan menit-menit selanjutnya, film ini benar-benar membawa saya masuk ke dunia yang dibangun oleh si pembuat film. Gunung-gunung yang hijau permai, gemerisik dedaunan, gemericik air sungai, embusan angin, pendar matahari… semuanya terasa begitu menghanyutkan. Karakter-karakternya, meski bisa dibilang tidak ada yang menjadi ‘tokoh utama’ dan tidak ada terlalu banyak eksplorasi karakter tapi rasanya cukup mudah memahami karakterk-karakter yang ada di film ini. Haruna, Kudo, Akira, Michael, rasanya adalah sosok-sosok yang akrab atau mungkin juga bagian dari kita dengan kerisauan-kerisauannya. Dengan alur yang bisa dibilang lambat dan durasi film yang hampir tiga jam, anehnya film ini jauh dari membosankan. Semuanya terasa solid dan sophisticated. Good movie!

Judul: The Tale of Iya/ Iya Monogatari – Oku no Hito -( 祖谷物語 -おくのひと-)
Sutradara: Tetsuichiro Tsuta
Penulis: Tetsuichiro Tsuta, Masayuki Ueda
Produser: Tetsuichiro Tsuta
Sinematografi: Yutaka Aoki
Tayang: Oktober, 2013 (Tokyo International Film Festival) (Rilis: 15 Februari 2014)
Durasi: 169 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Cast:
Rina Takeda -Haruna
Shima Ohnishi – Kudo
Min Tanaka – Kakek
Hitoshi Murakami – Akira
Sachi Ishimaru – Kotomi
Christopher Pellegrini – Michael
Keisuke Yamamoto – Tamura
Takahiro Ono
Reika Miwa
Ryu Morioka – Syuji
Naomi Kawase -Dr. Amamiya
Ren Kido – boss
Shigeru Kimura Allan ]
Tomie Nishi – Nenek

Film Festival:
– Tokyo International Film Festival 2013 – Asian Future *World Premiere
– Jeonju International Film Festival 2014 – World Cinemascape: Spectrum
– Nippon Connection 2014 – Nippon Visions *European Premiere

Awards:
– Tokyo International Film Festival 2013 : Asian Future, Special Mention –

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar