Arsip

Archive for the ‘My Favourite’ Category

Tomorrow With You

April 26, 2017 Tinggalkan komentar

Sejak awal, ketika tahu bahwa yang akan jadi male lead drama ini, saya sudah mencatat sebagai drama wajib tonton. Setelah ‘favorit’ pertama saya dalam perfilman Korea, oppa (haha) semakin jarang punya proyek depan layar karena memilih aktif di musikal, belakangan, saya menemukan ‘favorit’ kedua : . Setelah sukses ‘mencabik-cabik’ emosi saya dengan aktingnya yang sangat emosional di film , saya dibuat penasaran dengan proyek-proyek dia yang lain dan sejauh ini, aktingnya tak pernah mengecewakan. Untungnya juga, sejak drama yang dibintanginya, , sukses secara komersial dan juga mendapat apresiasi yang sangat positif dari segi kualitas, agaknya semakin memperbesar kemungkinan dia akan semakin aktif di dunia drama. Terbukti hanya berselang beberapa waktu usai , ia sudah dapat tawaran drama baru lagi. Meski di sisi lain, saya lebih suka dia aktif di film, tapi jika memang bisa dua-duanya, why not?  Dan bahwa kemudian dia akan dipasangkan dengan salah satu aktris yang juga cukup lovable, ditambah pula ceritanya adalah romance, saya pun tak sabar menanti drama ini segera rilis.
Tomorrow WithYou-Poster
Drama ini dibuat pre-produksi. Di atas kertas, drama pre-produksi, terlihat ideal karena sudah jadi ketika ditayangkan. Sehingga, seharusnya secara kualitas juga lebih bagus karena lebih banyak persiapan. Tapi, saya justru sedikit was-was. Pasalnya, belakangan Korea cukup sering membuat drama pre-produksi, tapi ternyata hasilnya cukup mengecewakan. Sebut saja Moon Lovers yang jeblok baik dari segi kualitas maupun rating dan meskipun DOTS booming minta ampun, tapi banyak sekali kritik terkait editing dan hal-hal teknis (saya proibadi tak bisa menikmatinya). Entah bagaimana, sepertinya orang-orang di belakang layar drama Korea masih terbatas kemampuannya membuat drama pre-produksi.
TWY_1

TWY_7
Euforia drama ini sudah muncul sejak beberapa waktu sebelum dirilis. Posternya terlihat ‘sederhana’ tapi sangat elegan. Dan banyak harapan terkait drama ini, karena sebelumnya, TvN sukses menayangkan drama dengan rating yang katanya sih ‘luar biasa’ untuk sebuah TV kabel. Apalagi termasuk di dalam yang sukses itu adalah , dramanya . Saya pribadi, tak pernah terlalu peduli dengan rating. Banyak kok drama bagus tapi ratingnya rendah. Dan sebaliknya, banyak drama yang ratingnya gila-gilaan tapi secara kualitas biasa-biasa saja. Tapi ya, pastilah menyenangkan melihat drama bagus dan ratingnya bagus pula.
TWY_3

TWY_31
Karenanya, sedikit kecewa ketika membaca di internet, ternyata episode pertama drama ini diawali dengan rating yang tak terlalu bagus. Ditambah juga, ulasannya terdengar agak ‘suram’. Banyak yang mengeluhkan bahwa ceritnya membingungkan dan memutuskan berhenti menonton di tengah jalan. Meski tak sedikit juga yang memberi komentar positif. Dan yang menyedihkan adalah bahwa ratingnya tak pernah beranjak, bahkan ke belakang terus turun. Cukup kecewa juga karena ini jarang terjadi pada drama keluaran TvN. Ulasan-ulasannya sendiri cukup variatif. Ada yang mengatakan ceritanya membingungkan lah, membosankan lah, bikin frustrasi… . Jujur, saya sedikit sedih melihat kenyataan ini. Saya bertanya-tanya, apa memang dramanya begitu buruk? Saya sedih karena ‘kasihan’ pada aktor favorit yang membintangi drama yang ‘tidak sukses’ dan juga sedih karena kalau memang dramanya buruk, saya juga tak bisa menikmatinya (seperti Secret Door). Bagaimanapun, pengalaman menonton seringkali merubah persepsi saya pada seorang aktor. Seringkali rasa ‘suka’ saya bisa memudar karena seorang aktor yang meskipun punya kemampuan akting yang bagus, tapi bermain di drama yang buruk atau ‘gagal’ memainkan karakternya.
TWY_5
Untunglah, ketika kemudian saya membaca-baca di internet, di atas kritik-kritik tentang drama ini, tapi tak sedikit juga yang menyatakan bahwa drama ini sangat dalam dan indah, seperti dugaaan saya di awal. Dan dari semua komentar, hampir semua memberi komen positif pada akting dan . Dan yah, dengan sedikit was-was, saya pun memutuskan untuk menonton.
TWY_16
Dan yah, saya lega sesudah menyelesaikannya. Dan juga lega karena menonton drama ini membuat saya semakin mengaggumi sebagai seorang aktor. Saya pernah membaca komentar sutradara film yang dibintanginya, yang memuji kalau Lee adalah aktor yang memiliki bakat alam, yang sangat kaya ekspresi. Dan di sini, lagi-lagi ia membuktikannya. Menurut saya, seluruh bagian tubuhnya sangat ekspresif.
TWY_20
Lee berperan sebagai Yoo So-joon, seorang penjelajah waktu.  So-joon memiliki trauma masa lalu yang menyakitkan, dimana orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api.  Dan di saat-saat menjelang kematian orang tuanya, ia dalam posisi sebagai ‘anak bandel.’ Ia merasa sangat sedih dan kecewa, karena berpikir bahwa detik-detik terakhir kematian orang tuanya, ia mengecewakan mereka. Lalu, entah bagaimana, ia kemudian mendapatkan semacam keajaiban bisa menjelajah waktu untuk melihat masa depan. Kemampuan ini pulalah yang kemudian membuatnya kaya raya sebagai seorang pemilik perusahaan real estate, yang ia kelola bersama sahabat ‘sehidup-sematinya’, Kang Ki-doong. Ia pun menikmati kehidupan sebagai lajang yang memiliki kebebasan dan kekayaan tanpa harus bekerja keras.

Hingga suatu hari, dalam perjalanannya menjelajah waktu, ia kemudian melihat dirinya meninggal karena kecelakaan. Di hari dan tempat yang sama, juga meninggal seorang perempuan yang kemudian ia ketahui bernama Song Ma-rin (). So-joon pun merasa ketakutan dan ingin merubah masa depannya. Untuk itu, ia kemudian mendekati Song Ma-rin, yang ia yakini memiliki keterkaitan dengan kematiannya. Diketahui kemudian kalau ternyata Song Ma-rin sudah memiliki ikatan dengan masalalunya, karena mereka sama-sama selamat dalam insiden kecelakaan kereta.
TWY_13
Song Ma-rin adalah mantan aktris cilik yang pernah sangat terkenal karena faktor keberuntungan dan kebetulan. Namun, karena kurangnya bakat, karirnya berhenti di situ saja. Orang tuanya kemudian bercerai dan ia hanya dibesarkan ibunya. Sekarang, ia hanyalah perempuan sederhana biasa yang menyukai fotografi. Ia merasa rendah diri karena orang-orang masih sering membanding-bandingkannya dengan kesuksesan masa kecilnya. Kenyataan bahwa kemudian muncul seorang lelaki kaya yang mendekatinya dengan agresif, membuatnya lebih percaya diri dan merasa dicintai. Dan karenanya, tak butuh waktu lama untuknya jatuh cinta pada Yoo So-joon.

TWY_30
Singkat cerita, keduanya kemudian menikah. Yoo So-joon, yang awalnya menikah lebih karena motif egois ‘merubah’ masa depan agar terhindar dari kematian, akhirnya juga mulai benar-benar jatuh cinta pada Song Ma-rin. Dan ‘petualangan cinta’ dalam biduk rumah tangga mereka pun dimulai. Dengan kemampuannya menjelajah waktu, Yoo So-joon harus menyelamatkan orang yang paling dicintainya dari kematian. Sebuah cerita yang indah bukan?
tomorrow with you-11
Dan selain cerita yang indah, drama ini juga digarap dengan sangat indah. Terasa dalam dan romantis. Penempatan musiknya selalu pas sehingga mendukung mood cerita. Gambar-gambarnya terlihat sinematik, tidak terlalu ‘terang dan cantik’ ala kebanyakan drama Korea, tapi warna-warnanya terasa hangat dan artistik. Sudut-sudut penggambilan gambarnya ala film layar lebar, melibatkan syut-syut panjang dan angel yang variatif. Dialog-dialognya terasa dalam dan kontemplatif, tapi tetap terasa natural selayaknya obrolan sehari-hari. Dan yah, soal akting jangan ditanya.
tomorrow with you-12
bermain sangat apik sebagai Yoo So-joon yang agak egois, kekanakan, tidak peka, tapi juga baik, hangat, penyayang dan seorang suami yang bisa diandalkan.  Dia bukan sosok yang sempurna, yang kadang melakukan hal ‘bodoh’ atau menyebalkan. Tapi karena memang karakternya sedemikian rupa, semua tindakan-tindakannya rasanya bisa dipahami. Dan saya pikir, hal ini tak lepas dari kemampuan akting yang membuat karakter yang dimainkannya menjadi bisa begitu dipahami. Meski memiliki kemampuan ‘super’,   sebenarnya sosok Yoo So-joon adalah sosok manusia biasa yang memiliki kekurangan di sana-sini seperti halnya kita semua.
TWY_17
Di sisi lain, juga sama apiknya sebagai Song Ma-rin. Di atas kertas, mungkin sosoknya terlihat sama saja dengan karakter 1001 dalam drama Korea, perempuan biasa yang menikah dengan cowok cakep dan kaya. Tapi sosok Song Ma-rin menjadi berbeda karena ia adalah benar-benar ‘perempuan biasa’ saja, seperti sosok yang bisa ditemukan di sekitar kita. Kebahagiaan terbesarnya hanyalah memberi yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Meski begitu, hal itu tidak lantas membuatnya ‘tergantung’ apada Yoo So-joon, karena pada dasarnya, ia memiliki karakter dewasa dan prinsip diri yang kuat. Dengan semua itu, ia mampu melengkapi kelemahan-kelemahan Yoo So-joon.  Dan yah, memberikan performa terbaiknya di sini. Bahkan menurut saya, sejauh ini, dari semua karakter-karakter yang pernah dimainkan Shin, karakter Song Ma-rin adalah karakter terbaiknya.
TWY_4
Dan selain cast utamanya, jajaran cast pendukungnya  juga bermain sama baiknya, dan hebatnya lagi, semuanya adalah karakter yang turut menghidupkan cerita. Hal yang jarang saya temukan dalam drama Korea, karena seringkali sosok-sosok pendukung kurang memiliki cerita yang menarik dan eksplorasi karakter yang memadai. Mulai dari Kang Ki-doong, BFF-nya So-joon, yang begitu tulus dan tanpa pamrih, kapan pun di manapun selalu ada untuk So-joon. Dan bagaimana persahabatan itu kemudian ‘melebar’ kepada istri sahabatnya juga, karena kemudian, Ki-doong juga selalu ada untuk Ma-rin. Manis dan juga terlihat sangat realistis.


Sosok Se-jung  yang meski awalnya sempat potensial sebagai ‘orang ketiga’ juga karakternya dieksekusi dengan sangat memuaskan. Hubungannya dengan Ki-doong yang berubah dari sahabat jadi pacar, juga terlihat manis dan sangat natural. Sosok eomma-nya Ma-rin yang sekilas saya pikir seorang ibu yang ceweret dan annoying, juga ternyata adalah sosok ibu yang tangguh dan penyayang. Si Ahjussi misterius yang baik hati, persahabatan Ma-rin dengan So-ri, Gun-sook yang pendengki dan yah, si antagonis Direktur Kim yang serakah, Sekretaris Hwang yang ‘lucu’… semua karakter saling berinteraksi dan membangun cerita dengan proposional sehingga rasanya tidak ada yang ‘wasted.’
TWY_19
Dan soal chemistry? Aduh, jangan ditanya. Karena agaknya memang menjadi bagian terbaik dari drama ini. dan Shin Mi-na terlihat begitu effortless memerankan sosok suami istri yang begitu saling mencintai. Mereka mampu menunjukkan perkembangan karakter dan hubungan So-joon Mar-rin dari episode ke episode yang semakin kuat dan dewasa. Romantisme yang dihadirkan drama ini juga terlihat sangat manis dan natural.  Lupakan tentang romantisme ala drama Korea yang seringkali terlalu cheesy dan canggung, dengan adegan malu-malu dan tersipu-sipu ala remaja baru jatuh cinta. Jujur, saya sering merasa jengah melihat bagaimana eksekusi adegan romantis (terutama kissing atau skinship) ala drama Korea yang kalau tidak dibuat sangat berhati-hati, ya ‘sok-sok berani’yang membuat risih dan biasanya, hanya ditemukan sebagai ‘bonus’ belaka.
TWY_15
Di drama ini, skinship bisa ditemukan di hampir semua episode. Tapi anehnya, sama sekali tidak terlihat vulgar atau berlebihan. Alih-alih, justru terasa indah dan romantis karena dieksekusi dengan tepat dan pas. Tentu saja karena ini melibatkan cerita suami istri, yang namanya skinship, baik itu pelukan, kissing hingga making love, adalah hal yang sangat wajar dalam sebuah hubungan suami istri yang sehat. Dan di sini, kita bisa paham, bahwa adegan-adegan semacam itu muncul bukan semata karena nafsu, tapi juga didasari perasaan cinta yang begitu dalam antara So-joon dan Ma-rin.  Interaksi So-jon dan Ma-rin terlihat sangat alami sebagai suami istri, tak perlu canggung atau malu-malu untuk memegang, memeluk atau mencium sewaktu-waktu. Tak masalah siapa yang memulai. Dan bagi saya, ini juga poin lain dari adegan romantis di sini, karena seringkali dalam drama Korea, perempuan yang harus menunggu dicium atau disentuh duluan.  Sementara di sini, Ma-rin akan dengan alami amemeluk atau menyentuh So-joon kapan saja ia ingin. Hal ini semakin membuat hubungan mereka terlihat sangat manis, karena menunjukkan bahwa hubungan mereka setara. Dan yang jelas, sangat romantis. Bahkan sekedar melihat So-joon dan Ma-rin mengobrolkan hal-hal ‘remeh-temeh’  berdua saja sudah terasa romantis.
TWY_29
Pendek kata, saya sangat menyukai drama ini. Meski begitu, saya juga tak bisa mengatakan bahwa ini adalah drama yang sempurna. Dengan berat hati, saya mengatakan bahwa drama ini memang bukanlah yang terbaik. Ada beberapa bagian cerita yang cukup  membuat kening berkerut, terutama pada bagian penjelajahan waktunya. Ada beberapa plot yang terasa bolong dan meninggalkan tanda tanya serta rasa tak puas. Saya ak tahu, apa hal itu kemudian yang menyebabkan drama ini memiliki rating rendah. Saran saya, jangan terlalu fokus dengan  cerita fantasinya, tapi fokuslah pada cerita cinta So-joon dan Ma-rin, karena meski dilatari elemen fantasi, kisah cinta mereka tak ubahnya cerita cinta pasangan menikah pada umumnya. Dengan riak-riak kecil di sana-sini dan bagaimana dua orang yang saling mencintai,  membangun sebuah keluarga dengan berusaha memahami satu sama lain, menyesuaikan diri satu sama lain. Dan semua itu, dikemas dalam sebuah cerita yang disajikan dengan indah dan manis.  Tidak hanya saya, sepertinya, karena saya juga menemukan komentar yang sama di internet bahwa drama ini meninggalkan kesan yang begitu mendalam usai menontonnya.  Ini bukanlah jenis drama yang mudah ‘dilupakan.’ Bahkan rasanya tak cukup untuk ditonton berulang-ulang kali. Saya pribadi, butuh waktu beberapa waktu untuk bisa ‘move on’ dari ketagihan mengulang menonton drama ini.
TWY_21
Soal rating sendiri, memang cukup disayangkan karena tentu imbasnya ke tim produksinya. Padahal lagi, kalau lihat BTS-nya, saya sangat menyukai bagaimana interaksi di belakang layar yang terlihat sangat hangat dan akrab. Sang sutradara terlihat sangat puas dan menikmati bekerja sama dengan dan . Yah, siapa yang tak senang mendirect aktor sebagus mereka? Jika ke depan mereka bekerja sama lagi, saya sama sekali tak keberatan untuk menontonnya. Dan harapannya sih, dengan produksi yang lebih sukses.  Semoga saja.
Well, overall, I just sooo in love with this drama!

Cast:
– Yoo So-joon
– Song Ma-rin

Kang Ki-doong – Kang Ki-doong
Park Joo-hee – Shin Se-young
Kim Ye-Won – Lee Gun-sook
Lee Bong-ryun – Oh So-ri
Lee Jung-Eun – Cha Boo-sim
Joo Han-chul – Doo-sik
Baek Hyun-jin – Kim Yong-jin
Oh Kwang-rok – Shin Sung-kyu
Chae Dong-hyun- Sekretaris Hwang

Judul: Tomorrow With You / Naeil Geudaewa (내일 그대와)
Sutradara:
Penulis: Heo Sung-Hye
Tayang: tvN, 3 Februari – 25 Maret 2017
Episode: 16
Negara/bahasa: Korea Selatan/Korea

Have a Song on Your Lips

Februari 22, 2017 Tinggalkan komentar

Nazuna seorang gadis remaja yang tinggal bersama kakek-neneknya di sebuah kota kecil di teluk Nagasaki yang tenang. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya meninggalkannya. Meski menyimpan kemarahan pada ayahnya, tapi Nazuna menjalani hari-harinya dengan ceria.

have-a-song-on-your-lips-7

 

have-a-song-on-your-lips-6

Di sekolah, Nazuna bertindak sebagai ketua dalam klub paduan suara yang anggotanya perempuan semua. Paduan suara itu dibimbing oleh guru kesayangannya, Bu Matsuyama. Ketika hendak mengikuti lomba paduan suara, sayangnya, Bu Matsuyama harus cuti karena hendak melahirkan. Sebagai gantinya, adalah temannya, Ms Kashiwaga () yang ternyata adalah pianis terkenal. Sejak awal, Nazuna tak menyukai Miss Kashiwaga karena sifatnya yang angkuh dan jutek. Tidak hanya itu, karena Bu Kashiwaga kemudian menambah anggota klub dengan para anak lelaki. Hal yang membuat Nazuna dan teman-temannya jengkel.

have-a-song-on-your-lips-2

 

have-a-song-on-your-lips-4

Di antara anak laki-laki yang ikut bergabung adalah Kuwahara. Kuwaharabertubuh mungil dan tidak populer di sekolah. Ia punya seorang kakak yang menderita keterbelakangan mental, Akio, yang harus selalu ia temani pulang setiap hari. Nakamura bergabung dengan klub paduan suara karena diajak teman ceweknya yang manis, yang tahu bahwa Nakamura bersuara bagus. Awalnya, keiikutsertaan Kuwahara ditentang oleh ayahnya, karena khawatir ia tak bisa menajga Akio. Namun ibunya mendukungnya.

Have a Song on Your Lips-9.jpg

Awalnya, Kashiwaga ogah-ogahan melatih klub itu. Ia sedang patah hati, setelah pacarnya meninggal karena kecelakaan ketika ia hendak melakukan pertunjukan. Namun melihat keseriusan murid-muridnya, ia pun mulai serius melatih. Tidak hanya itu, karena ia kemudian juga belajar banyak hal dari kisah mengharukan yang melatar belakangi kehidupan murid-muridnya, terutama Nazuna dan Kuwahara.

have-a-song-on-your-lips-13

have-a-song-on-your-lips-10

Satu lagi film Jepang bergenre remaja yang sangat layak untuk ditonton! Ceritanya ‘sederhana’ tidak muluk-muluk, tapi dikemas dengan begitu apik dan bersahaja dengan sebuah pesan moral yang jelas. Tidak ada karakter utama di film ini, tapi ceritanya terasa utuh dan masing-masing karakter mendapat eksplorasi yang baik. Nuansanya sangat “remaja” dengan segala kepolosan dan kemurniannya, tanpa embel-embel romance yang lebay. Dan pemilihan para pemainnya juga terasa pas, aktor-aktor mudanya terlihat sangat realistis, tanpa ada pretty boy atau flower girl. Sosok-sosok mereka benar-benar menggambarkan anak-anak usia 15 tahun di kota kecil yang masih culun, polos, tapi juga manis dan penuh energi positif. Good movie!

have-a-song-on-your-lips-15

Cast:
– Yuri Kashigawa
Yuri Tsunematsu – Nazuna Tsunematsu
Shota Shimoda – Satoru Kuwahara
Wakana Aoi – Chinatsu Sekiya
Kyoka Shibata – Eri Tsuji

Mayu Yamaguchi – Kotomi Hasegawa
Hayato Sano – Keisuke Mukai
Hibiki Muroi – Riku Mitamura
Fumino Kimura – Haruko Matsuyama
Kenta Kiritani – Tetsuo Tsukamoto
Daichi Watanabe – Akio Kuwahara
Hideakazu Mashima – Yuki Nakamura
Hikari Ishida – Sizuru Nakamura
Tae Kimura – Teruko Kuwahara
Shigemitsu Ogi – Koichi Kuwahara

Judul: Have a Song on Your Lips/ Kuchibiru ni Uta o (くちびるに歌を)
Sutradara:
Penulis: Otsuichi (novel), Yuichi Toyone, Yukiko Mochiji
Produser: Mitsuru Uda
Sinematografi: Koichi Nakayama
Rilis: 28 Februari 2015
Durasi: 132 menit
Distributor: Asmik Ace Entertainment
Negara/Bahasa: Jepang

The Great Passage

Februari 22, 2017 Tinggalkan komentar

Bagian pembuatan kamus di sebuah pperusahaan penerbitan.  Mereka sedang menyiapkan sebuah proyek ambisius, membuat kamus modern yang diberi nama The Great Passage. Ketika salah satu staf andalan berniat untuk pensiun, mereka pun harus mencari anggota baru. Nishioka (), salah satu anggota tim yang berpembawaan ramah, ditugaskan merekrut anggota baru. Dibutuhkan orang yang benar-benar serius dan punya kapabilitas untuk bergabung, karena pekerjaan membuat kamus adalah pekerjaan yang cenderung membosankan dan butuh ketekunan.

the-great-passage-3
Majime () adalah pegawai bagian marketing. Ia cowok cupu yang berpembawaan serius dan tak tahu bagaimana cara bersosialisasi. Alih-alih, ia selalu menghabiskan sisa waktunya dengan tumpukan buku-buku. Melihat karakter serius Majime, Nishioka pun mengajaknya bergabung. Dan benar saja, Majime bukanlah pilihan yang salah. Ia sangat tekun, cermat dan juga pintar. Pekerjaan membuat kamus benar-benar pekerjaan yang cocok untuknya.
the-great-passage-4

the-great-passage-10
Bergabungnya Majime di tim kamus dan bertemu rekan-rekan timnya yang hangat, terutama Nishioka yang ramah, membuat Majime belajar untuk lebih membuka diri dan membangun kehidupan sosial. Apalagi, kemudian ada Kaguya () , putri induk semangnya, seorang chef yang baru pulang untuk merawat ibunya. Majime pun kemudian belajar artinya cinta dan cara mencintai dengan bantuan teman-temannya. Di sisi lain, upaya pembuatan kamus juga mengalami kendala, karena di era digital sekarang, kamus dianggap bukan sebagai sesuatu yang memiliki nilai jual. Meski begitu, Majime dan timnya terus bekerja dengan penuh ketekunan dan pengabdian untuk menghasilkan kamus yang ‘abadi.’
the-great-passage-14

the-great-passage-12-2
Sekilas, premisnya mungkin terdengar membosankan; para pembuat kamus.  Bahkan membayangkan kamus sendiri sudah cukup membuat kening berkerut: buku super tebal berisi ribuan kata dan kosakata. Lantas apa menariknya kehidupan para pembuat kamus? Hmm, saya pikir justru di situ lah saya pikir ide brilian dari pembuat film ini. Membuat film dengan tema yang terasa orisinil. Membosankan? Tidak sama sekali. Meskipun latar film sebagian besar diambil dalam ruangan dengan tumpukan buku-buku, tapi anehnya gambar-gambarnya tetap terasa sinematik dan menarik. Dan meski tema besarnya adalah tentang pembuatan kamus, tapi tetap ada cerita humanis hubungan antar manusia yang manis dan mengharukan yang disajikan dengan sophisticated. Lewat film ini, membuka mata kita, tentang kehidupan para pembuat kamus yang penuh dedikasi, berkutat dengan kata-kata bahkan selama bertahun-tahun untuk menghasilkan sebuah benda yang sangat bermanfaat bernama kamus. Salut! Good movie!

Cast:
– Mitsuya Majime
– Kaguya Hiyashi
– Masashi Nishioka
Haru Kuroki – Midori Kishibe
Misako Watanabe – Take

Chizuru Ikewaki – Remi Miyoshi
Shingo Tsurumi – Direktur Murakoshi
Hiroko Isayama – Kaori Sasaki
Kaoru Yachigusa – Chie Matsumoto
Kaoru  Kobayashi – Kohei Araki
Go Kato – Tomosuke Matsumoto
Shohei Uno – Shinichiro Miyamoto
Ryu Morioka – Egawa
Naoki Matayoshi – Togawa
Yoshiki Saito – Kobayashi

Judul: The Great Passage / We Knit Ship / Fune wo Amu (舟を編む)
Sutradara: Yuya Ishii
Penulis: Shion Miura (novel), Kensaku Watanabe
Produser: Tomo Tsuchii, Kimitaka Goka, Noritsugu Iketa, Yasuyuki Iwanami
Sinematografi: Junichi Fujisawa
Rilis: 13 April 2013
Durasi: 133 menit
Distributor: Asmik Ace Entertainment, Shochiku
Negara/Bahasa: Jepang

 Awards
Hochi Film Awards 2013:
– Best Picture
– Best Actor ()
– Best Supporting Actress (Chizuru Ikewaki)

Japan Academy Prize 2014:
– Picture of the Year
– Director of the Year
– Screenplay of the Year
– Outstanding Performance by an Actor in a Leading Role
– Outstanding Achievement in Sound Recording
– Outstanding Achievement in Film Editing

Academy Awards 2014:
– Masuk seleksi dalam “Best Foreign Language Film”

(Sumber: asianwiki.com)

Dear My Friends

Februari 8, 2017 Tinggalkan komentar

Ini adalah cerita tentang persahabatan para orang tua. Ada Hee-ja, yang tinggal sendirian setelah suaminya meninggal dunia sementara anak-anaknya sudah berkeluarga. Ia sempat tinggal di rumah anaknya, tapi tak betah. Sementara anak bungsunya yang paling ia sayangi, harus merawat mertuanya. Hee-ja pun menjalani hari-hari tua sendirian di rumahnya, menyembunyikan rasa kesepiannya. Di tengah rasa sepinya, ia kemudian bertemu Sung-jae, cinta pertamanya yang kini juga sudah tua dan menduda.
dear-my-friends

dear-my-friends-2
Bersahabat baik dengan Hee-ja adalah Jung-a, yang tinggal bersama suaminya yang pelit dan perhitungan serta patriarkis, Seok-gyun. Seumur hidup, Hee-ja menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga yang harus bekerja keras mengurus suami dan anak seperti babu. Di hari tuanya, ia berharap bisa beristirahat dan keliling dunia bersama suaminya, tapi suaminya selalu mengelak. Merasa lelah menghadapi kelakuan suaminya, Jung-a pun berpikir untuk hidup berpisah.
dear-my-friends-17
Nan-hee juga seorang janda, dengan seorang putri berumur hampir 40 tahun dan belum menikah, Park Wan. Nan-hee mendapatkan ‘kebebasannya’ setelah pernikahannya dengan suaminya yang tak setia meninggal. Meski begitu, ia harus menjadi tempat bergantung keluarganya yang petani, yang terdiri dari ibunya yang beranjak tua, ayahnya yang sakit-sakitan dan adik lelakinya yang cacat. Ia juga galau memikirkan anaknya yang tak kunjung menikah dan bahkan terindikasi berhubungan dengan suami orang.
dear-my-friends-9

dear-my-friends-3
Choong-nam adalah perawan tua yang tak sempat memikirkan pernikahan karena harus mengurus saudara-saudaranya yang terus menggerogotinya. Di usianya yang beranjak uzur, ia tetap melihat hidup dengan positif dan karena di masa muda ia tak sempat menyelesaikan pendidikan, berkeinginan untuk ikut ujian masuk universitas.
dear-my-friends-4
Young-won adalah saudara tiri Nan-hee. Hubungannya dengan Nan-hee sempat berantakan karena kesalahpahaman. Young-man seorang artis terkenal. Di balik kesan glamournya, ia menyembunyikan sakit hati karena kegagalannya berhubungan dengan lelaki yang ia cintai dan juga sakit kanker yang membuat payudaranya harus diangkat.
dear-my-friends-12

dear-my-friends-1
Cerita drama ini akan dituturkan oleh Wan, yang bekerja sebagai penerjemah dan penulis. Ia sebagai satu-satunya anak perempuan yang masih single dari lingkaran persahabatan itu, kemudian harus sering terlibat dalam kehidupan ibu dan teman-temannya. Wan sendiri memiliki kisah yang cukup rumit. Ia ingin membahagian ibunya, tapi di sisi lain harus mengorbankan kehidupan cintanya karena sang ibu tak menyetujui hubungannya dengan Yeon-ha, yang lumpuh setelah kecelakaan.  Meski begitu, cerita sentral drama ini tetap pada persahabatan dan segala permasalahan yang dialami para orang tua.
dear-my-friends-6


Sekilas mungkin akan terdengar kurang menarik, apalagi para pemainnya juga para orang-orang tua.  Jauh dari kebiasaan drama Korea yang selalu identik dengan wajah-wajah yang menyegarkan mata. Dan sejujurnya, hal itu pula yang awalnya membuat saya menunda-nunda untuk nonton drama ini. Tapi setelah diikuti, ternyata saya sulit berhenti karena ceritanya sangat bagus dan berisi. Begitu mengharukan rasanya melihat bagaimana kehidupan para orang tua dengan segala suka dukanya. Disajikan dengan begitu cair dan jauh dari cengeng, tapi drama ini justru mampu menguras emosi. Dan soal akting, tentu tidak ada yang perlu dipertanyakan karena cast utama drama ini adalah para aktor/aktris senior papan atas Korea yang kemampuan aktingnya sama sekali tak perlu diragukan. Bagus dan sangat recommended.
dear-my-friends-26

dear-my-friends19
Catatan:
Kalau mau nonton drama ini, siapkan tissue banyak-banyak karena sangat menguras emosi. Sepanjang nonton drama ini, hampir di setiap episodenya membuat saya menangis karena terharu. Menonton drama ini seperti menonton orang tua kita atau nenek-kakek kita dan itu sangat-sangat mengharukan.

Cast:
Ko Hyun-jung – Park Wan
– Jo Hee-ja
– Moon Jung-a
– Jang Nan-hee
Park Won-suk – Lee Young-won
– Oh Chooong-nam
Shin Goo – Kim Seok-gyoon
Joo Hyun – Lee Sung-jae
Kim Young-ok – Oh Ssang-boon
– Seo Yeon-ha
Shin Sung-woo – Han Dong-jin
– Yoo Min-ho
– Prof Park
Jang Hyung-sung – Il-woo
– Mark Smith
Nam Neung-Mi – Gi-Ja (si bibi cerewet)
Kim Jung-Hwan – Jang In-Bong  (pamannya Wan)
Ko Bo-gyeol – Ha-neul (istri Min-ho)

Judul: Dear My Friends/디어 마이 프렌즈
Sutradara: Hong Jong-Chan
Penulis: No Hee-Kyung
Tayang: tvN, 13 Mei – 2 Juli 2016
Episodes: 16
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
– Korea Drama Awards – 2016: Best Screenplay
– tvN10 Awards 2016 :     Content Main Prize

Taxi (Iran)

Januari 25, 2017 Tinggalkan komentar

berperan sebagai dirinya sendiri, sutradara film yang menyamar sebagai sopir taksi. Sambil menaikturunkan penumpang, diam-diam ia memasang kamera di dashboard mobilnya dan merekam pembicaraan para penumpang.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_000619823
Penumpang pertama adalah seorang laki-laki dan perempuan yang memperdebatkan tentang hukuman mati di Iran. Si lelaki keukeuh setuju dengan adanya hukuman mati meskipun kesalahannya kecil saja, agar si penjahat kapok, sementara si perempuan berargumen bahwa hukuman mati tidak adil dan tidak menyelesaikan persoalan.

Kedua, seorang lelaki penjual CD film bajakan yang bergerilya menjajakan film-film luar negeri yang tidak boleh ditayangkan di bioskop-bioskop di Iran. Di tengah jalan, mereka dicegat seorang lelaki korban kecelakaan bersama istrinya yang terus menerus menangis. Karena berpikir akan segera mati si lelaki kemudian minta direkamkan video wasiat terakhirnya untuk sang istri. Dan alih-alih sibuk memikirkan suaminya, si istri justru sibuk mengkhawatirkan wasiat itu.

Penumpang berikutnya, dua perempuan yang terburu-buru ingin mengujungi mata air suci demi melepaskan ikan sebelum tengah hari demi bisa membuang sial.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_002404992
Terakhir, Jafar menjemput keponakan perempuannya yang baru pulang sekolah, Hana. Hana gadis kecil yang pintar dan mirip dengan Jafar dan terlihat sangat memuja pamannya. Kemana-mana ia membawa kamera pocket dan merekam adegan-adegan di sekelilingnya berlagak membuat film.  Lewat celoteh polosnya, Hana menyebutkan aturan-aturan dalam membuat film yang ditetapkan di sekolahnya seperti penggunaan hijab di film, hingga bagaimana imej orang baik harus ditampilkan.

Hana kemudian diajak Jafar menemui temannya, seorang lelaki yang menceritakan adegan kekerasan yang dialaminya ketika dirampok. Temannya merasa bingung, karena ia kenal siapa perampoknya dan merasa kasihan karena tahu bagaimana kehidupannya.

Penumpang terakhir adalah seorang perempuan cantik yang terlihat sangat akrab dengan Jafar. Si perempuan ini seorang aktivis (diperankan oleh  Nasrin Sotoudeh, yang kono memang aktivis hak asasi beneran) yang tengah menangani kasus penangkapan perempuan  seperti dalam film Panahi, Offside (remaja perempuan yang dilarang menonton bola). Ia dan Jafar kemudian terlibat obrolan tentang  masa-masa dipenjara.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_003763271
Di penghujung cerita, Jafar mencari perempuan pembawa ikan di mata air yang meninggalkan dompetnya di mobil. Ketika ia dan keponakannya meninggalkan mobilnya di tempat parkir, tampak dua orang lelaki bersepeda motor datang dan menjarah mobilnya.

Sebuah film dengan konsep ‘sederhana’ , dikemas dalam bentuk ala dokumenter, tapi mengetengahkan isu yang jauh dari sederhana. Hanya dari pembicaraan para penumpang taksi, penonton diajak ke dalam diskusi beragam isu politik di Iran mulai dari hukuman mati, aturan ketat tentang  perfilman, bagaimana masih kuatnya kepercayaan-kepercayaan takhayul ditengah aturan agama Islam yang konvensional, tentang kebebasan perempuan Iran.. yah, sebuah tema yang ‘berat’ tapi tenang saja karena disajikan lewat adegan yang sangat realistis dan sehari-hari sehingga terkesan jauh dari ambisius.
Good movie!
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_003517391
Catatan:
Film ini, seperti juga film Panahi sebelumnya ( This Is Not a Film,  Closed Curtain) adalah film ‘illegal.” , sutradara film ini,  dilarang membuat film selama 20 tahun oleh pemerintah Iran yang memang terkenal otoriter dan kolot karena karya-karyanya yang seringkali penuh kritik. Meski begitu, Panahi tetap ‘keras kepala’ membuat film meski secara diam-diam. Dan itulah, kenapa film ini dibuat menyerupai film dokumenter dengan setting yang ‘sederhana’. Hmm, sedih juga sih melihat sutradara sehebat dia, bukannya didukung, justru dihalang-halangi kreatifitasnya. Seharusnya sih pemerintah Iran justru bangga ya, punya filmmaker keren dan berbakat begitu 😦

Quote:
Penumpang 1:
L: Hukum dan Syariah telah berbicara.
Jika sekarang masalahnya belum terselesaikan, mereka belum menerapkannya dengan benar.Jadi tenanglah, Nona!
P: Jadi menerapkan Syariah memecahkan semua masalah kita.. dengan meningkatkan jumlah eksekusi mati?
———–
L: Apa pekerjaanmu?
P: Apakah semua hal harus dihubungkan dengan pekerjaan?
L: Ada hubungannya. Ketika kau membela sebuah ide, apakah kau mempercayainya… ataupun kau punya kepentingan di dalamnya.

Jafar dengan mahasiswa film (M):
M: Aku melihat banyak film, membaca banyak buku,tetapi tidak dapat menemukansubjek yang bagus.
J: Dengar, film-film itu sudah dibuat, buku-buku itu sudah ditulis.Kau harus mencari di tempat lain. Itu tidak akan datang dengan sendirinya.
M: Apa yang harus kulakukan? Di mana aku harus memulainya?
J: Itu adalah bagian tersulit.Tidak ada yang bisa memberitahu dirimu. Kau harus menemukannya sendiri.

Jafar dan temannya yang dirampok (T):
J: Aku ingin tahu pencuri terlihat seperti apa.
T: Seperti aku, seperti kau, seperti semua orang di sekitar kita.

Jafar dengan perempuan pembawa bunga (PB):
PB: Ketika kau akhirnya dibebaskan, dunia luar menjadi
penjara yang lebih besar. Mereka membuat teman-teman terbaikmu
menjadi musuh terburukmu! Membuatmu ingin kabur dari negara ini, atau berharap untuk kembali ke penjara.

Cast:

Hana Saeidi
Nasrin Sotoudeh

Judul: Taxi/Taxi Tehran
Sutradara/Produser/Penulis:
Produksi: Jafar Panahi Film Productions
Rilis: 6 Februari 2015 (Berlin)
Durasi: 82 menit
Negara/Bahasa: Iran/Persia

Awards:
Berlin International Film Festival 2015: – Golden Bear , FIPRESCI Prize.

To Live

Januari 12, 2017 Tinggalkan komentar

Xu Fugui adalah seorang putra tuan tanah. Ia mewarisi kekayaan ayahnya yang kaya raya. Sayangnya, Fugui sangat gila judi dan selalu kalah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh saingannya untuk menjerat Fugui dengan hutang hingga seluruh kekayaan Fugui  ludes. Tidak hanya jatuh miskin, ayah Fugui  meninggal karena syok dan istrinya Jiazhen (), meninggalkannya.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_000639629

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001193197
Fugui pun kemudian menjadi rakyat biasa yang harus bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Untunglah, istri dan anaknya, Fengxia, yang bisa menerima keadaan Fugui, kemudian datang dan kembali hidup bersama.

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001570467

Jadi, wayang itu sebenarnya bukan asli Indonesia lho, tapi sepertinya banyak pengaruh China-nya 🙂

Untuk menghidupi keluarganya, Fugui kemudian bekerja sebagai pemain wayang. Fugui berkerja keras demi anak dan istrinya. Dan meski hidup pas-pasan, ia dan keluarganya bahagia. Sayangnya, perang China pecah. Fugui  yang tak tahu apa-apa, terseret di medan perang bersama temannya, Chunsheng. Dengan menggunakan taktik survival, keduanya berhasil selamat. Bahkan diminta untuk mempertunjukkan wayang demi menghibur tentara di medan perang.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001903935

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_002467320
Ketika perang berakhir, Fugui berhasil kembali ke rumah. Istri dan anaknya masih hidup, tapi sang anak menjadi  bisu karena terserang demam ketika perang. Fugui  dan Jiazhen kembali lagi bahu membahu bekerja dan hidup harmonis. Tapi kondisi politik sudah berubah. Revolusi Mao dimulai. Para tuan tanah dihukum karena dianggap kapitalis, termasuk pemilik rumah Fugui. Fugui justru dianggap berjasa karena sudah membantu tentara revolusi.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005749121
Dimulailah era baru revolusi dengan kehidupan komunal, anti kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada Ketua Mao. Fugui dan Jiazhen mengikuti arus saja, yang terpenting mereka hidup aman dan nyaman, membesarkan anak-anak mereka. Fugui kembali bermain wayang yang kemudian digunakan sebagai media propaganda.

Namun pasang surut kondisi politik, tak urung mempengaruhi kehidupan mereka. Mendatangkan duka demi duka dalam kehidupan mereka. Meski ebgitu, Fugui dan Jiazhen selalu menjalani hidup dengan optimisme dan kebersahajaan.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005451328
Diangkat dari novel karya Yu Hua saya sendiri belum baca novelnya, tapi menurut saya versi filmnya yang digrap sutradara yang saya kagumi, , adalah film yang sangat bagus.  Dengan selipan kritik-kiritk sosial yang rapi. Gaya penceritaan, latar dan plotnya terasa sophisticated.  

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005699695
Yah, seperti judulnya, film ini memang mengetengahkan cerita tentang ‘hidup.’ Ya, hidup. Melalui sosok Fugui dan Jiazhen, digambarkan bagaimana manusia, yang pernah terpuruk, melakukan kesalahan kemudian berusaha bangkit, tak kenal menyerah,  selalu optimis menjalani hidup dan menjadi manusia yang lebih baik. Sebbuah kisah yang terasa sangat humanis. Dan meski bukan bergenre romance, tapi menurut saya film ini juga sangat romantis. Hubungan Fugui dan Jiazhen entah kenapa mengingatkan saya pada pasangan-pasangan sederhana yang sering saya temui di desa-desa. Mereka hidup bersahaja, saling melengkapi dan mencintai tanpa banyak kata-kata atau ungakpan gombal. Mereka selalu bersama, saling mendukung satu sama lain. Sangat mengharukan. Dan akting kedua pemeran utamanya memang patut diacungi jempol. dan Ge You yang bermain sangat apik. Very recommended.

Cast:
Ge You – Xu Fugui
– Jiazhen

Ben Niu – Walikota
Wu Jiang     – Wan Erxi
Deng Fei – Xu Youqing
Tao Guo – Chunsheng
Tianchi Liu- Xu Fengxia (dewasa)
Zongluo Huang – Ayahnya Fu Gui
Yanjin Liu – ibunya Fu Gui
Dahong Ni – Long’er
Lian-Yi Li – Sgt. Lao Quan
Xiao Cong – Xu Fengxia (remaja)
Zhang Lu     – Fengxia (kecil)

Judul: To Live (Huózhe)
Sutradara:
Produser: Fu-Sheng Chiu, Funhong Kow, Christophe Tseng
Penulis: Lu Wei (berdasar novel ” To Live” karya Yu Hua)
Musik: Zhao Jiping
Sinematografi: Lü Yue
Distributor: The Samuel Goldwyn Company
Rilis: 18 Mei 1994 (Cannes)
Durasi: 132 menit
Negara/bahasa: China/Mandarin

Awards:
Cannes Film Festival 1994:
– Grand Prix, Prize of the Ecumenical Jury, Best Actor (Ge You)
– Nominasi Palme d’Or

Golden Globe Award  1994:
– Nominasi Best Foreign Language Film

National Board of Review 1994:
– Best Foreign Language Film

National Society of Film Critics Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Language Film

BAFTA Award 1995:
– Best Film Not in the English Language

Chlotrudis Award 1995 :
– Nominasi Best Actress ()

Dallas-Fort Worth Film Critics Association Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Film

The Kid with a Bike

Januari 8, 2017 Tinggalkan komentar

Cyril seorang bocah lelaki yang tinggal terpisah dari ayahnya. Suatu hari, ia kalang kabut ketika tahu ayahnya tiba-tiba pergi dari apartemen biasa ia tinggal. Apalagi sepeda kesayangannya juga tak ada. Cyril pun kemudian pergi kesana kemari, mengumpulkan satu per satu informasi tentang keberadaan sang ayah dan juga sepedanya. Hingga ia kemudian bertemu dengan Samantha, seorang perempuan penyayang pemilik salon. Samantha kemudian menemukan sepeda milik Cyril, yang ternyata sudah dijual sang ayah. Ia kemudian membeli sepeda itu dan diberikan kepada Cyril. Meski begitu, sebenarnya bukan sepeda itu yang penting bagi Cyrill. Ia menginginkan ayahnya.
kid-with-a-bike

kid-with-a-bike1
Kenyataannya, sang ayah adalah seorang looser, yang sibuk dengan dirinya sendiri. Keberadaan Cyril baginya hanyalah beban, karenanya ia berusaha untuk melepas tanggung jawabnya seabgai ayah dengan cara memisahkan diri darinya. Ketika mengetahui hal ini, Cyril sangat terpukul. Untunglah, Samantha yang baik kemudian selalu ada untuknya. Meski begitu, tentu saja kadang itu tak cukup bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan begitu kekurangan kasih sayang. Hingga ia kemudian bertemu dengan. Wesker, seorang preman ingusan yang pura-pura menawarkan pertemanan, padahal hanya ingin memperalat Cyril. Tapi Samantha yang tak pernah menyerah untuk melimpahinya kasih sayang dan perhatian, akhirnya membuat Cyril sadar bahwa tak ada yang lebih bisa ia percayai selain Samantha.
kid-with-a-bike6

kid-with-a-bike4
Sebuah film yang menguras emosi. Satu hal yang selalu saya suka dari film-film sekelas penghargaan festival adalah karena selalu menyajikan sesuatu yang terasa orisinil. Kadang hanya sebuah cerita ‘sederhana’ tapi disajikan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang terasa sangat dalam dan kompleks. Seperti halnya film ini. Dari judulnya saja terkesan ‘remeh temeh’ tapi juga menarik. Dan sejak awal film dimulai, saya sudah merasa emosional  melihat Cyril, dengan tingkah lasaknya yang terasa sangat alami. Tanpa perlu banyak melibatkan dialog panjang lebar atau adegan-adegan yang eksplisit, kita bisa memahami apa yang dirasakan dan digelisahkan oleh Cyril.
kid-with-a-bike8
Dan satu hal yang saya suka dari film ini adalah karena eksekusi endingnya yang terasa sangat optimis. Satu hal yang tidak selalu saya temukan dalam film-film kelas festival, yang lebih sering diakhiri dengan hal-hal yang absurd atau muram. Dan meski cerita film ini terasa ‘sederhana’ tapi juga meninggalkan pesan moral yang kuat. Lewat sosok Samantha, seolah kita diajak untuk ikut bersikap pada anak-anak kurang kasih sayang seperti Cyril. Kepedulian dan tak kenal menyerah untuk selalu memberi perhatian dan kasih sayang lah yang akan menyelamatkan anak-anak seperti ini dari kemungkinan-kemungkinan untuk  tumbuh menjadi orang yang penuh kebencian dan amarah. Pemilihan sosok Samantha, menurut saya juga sangat tepat. Ia digambarkan bukan siapa-siapa, hanya perempuan biasa saja, tidak kaya raya, tidak hidup sangat bahagia, tapi ia melakukannya, memberi kasih sayang tanpa pamrih. Dan bahwa kita yang orang-orang biasa, seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama dengan Samantha. Very-very recommended!

Cast:
Thomas Doret – Cyril Catoul
Cécile de France – Samantha
Jérémie Renier – Guy Catoul (ayah Cyril)
Egon Di Mateo (fr)- Wesker

Judul: The Kid with a Bike/ Le gamin au velo
Sutradara:Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Produser: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne, Denis Freyd
Penulis: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Sinematografi: Alain Marcoen
Editing: Marie-Hélène Dozo
Produksi: Les Films du Fleuve
Distributor: Diaphana Films (France)
Rilis: 15 Mei 2011 (Cannes), 18 Mei 2011 (Perancis)
Durasi: 87 menit
Negara: Belgia, Perancis, Italia
Bahasa:Perancis

Awards:
– Cannes Film Festival 2011: – Palm d’Or (bersama Once Upon a Time in Anatolia)
– Golden Globe Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Satellite Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Independent Spirit Awards : Nominasi Best International Film
and many mores..

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar