Archive

Archive for the ‘Film Queer’ Category

The Handmaiden

November 27, 2016 Tinggalkan komentar

Sejak film debutnya yang fenomenal, , saya selalu penasaran dengan karya-karya sutradara satu ini, . Meski kemudian saya dibuat agak ilfil dengan film terakhirnya, , tetap saja, saya penasaran sama filmnya kali ini, yang seperti film-filmnya yang lain selalu masuk ajang festival film internasional. Apalagi, di sini dia memasang aktor yang selalu saya apresiasi film-filmnya, . Ditambah juga ada nama aktor besar lain: , ,

handmaiden4

Aktris pendatang baru, Lee Tae-ri yang main bagus sebagai Sook-hee

Berlatar pada masa Korea dibawah penjajahan Jepang. Sook-hee adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai pencopet. Bersama bibinya, ia merawat bayi-bayi terlantar untuk dijual. Suatu hari, datang Fujiwara () seorang pemalsu lukisan yang menyamar sebagai bangsawan. Ia menawarkan sebuah kerjasama pada Sook-hee dengan imbalan yang besar. Sook-hee diminta untuk menyamar sebagai pembantu bagi Hideko (), perempuan kaya raya yang penyakitan. Fujiwara meminta Sook-hee untuk menjadi mata-mata sekaligus mak comblang baginya agar ia bisa menikahi Hideko dan mendapatkan harta warisannya.
handmaiden2
Di rumah mewah Hideko, Sook-hee bertemu dengan kepala pembantu, Sasaki () yang aneh, juga paman Hideko, Kouzuki () yang bengis dan cabul. Mendapati Hideko yang hidup dalam dunia yang mengerikan seperti itu, Sook-hee diam-diam merasa bersimpati pada Hideko dan tidak tega jika Hideko menjadi korban penipuan Fujiwara. Sook-hee pun mengulurkan persahabatan yang tulus pada Hideko. Tapi diluar dugaan, ternyata Hideko juga punya rencana lain.
handmaiden3
Diangkat dari novel karya penulis Sarah Waters (1992) yang berjudul Fingeresmith, sejak awal membaca sinopsisnya, saya sudah menduga bahwa ini akan mnejadi cerita yang menarik, apalagi di tangan sutradara sekelas . Dan yah, memang demikian. Ceritanya menarik dan penuh twist. Penokohan karakter yang fokus pada perempuan merupakan hal menarik lainnya. Dan semua cast-nya bermain apik, terutama Kim Tae-ri, yang konon merupakan aktris pendatang baru dan dipilih melalui proses audisi yang ketat. Dan yah, hasilnya memang sama sekali tak mengecawakan. Di antara rekan mainnya yang merupakan para bintang film papan atas Korea, ia terlihat sangat percaya diri memerankan sosok Sook-hee yang kuat sekaligus naif.
handmaiden
Tapi, yah, bagi saya selalu ada tapi untuk film-film . Tak jauh-jauh dari film sebelumnya (terutama ), lagi-lagi di sini Park jor-joran menyuguhkan adegan dewasa dan di sini tidak main-main karena adegan itu dilakukan oleh, ehm, maaf spoiler, sesama jenis. Sejak awal sebenarnya saya sudah mengantisipasi hal ini, tapi tak urung risih juga ketika menyaksikannya. Satu dua adegan saya masih bisa mengapresiasi sebagai penunjang unsur real dalam cerita, tapi jika terlalu banyak jujur saja sangat risih melihatnya. Hal yang sering membuat saya tak habis pikir dengan karya-karya Park. Tanpa adegan itu  pun atau setidaknya disajikan dalam porsi yang pas, menurut saya karya-karya Park ini sudah bagus dan khas. Terlepas dari perdebatan art dan pornografi, saya kok curiga kalau dia ini kayak sutradara yang agak  terobsesi dengan adegan dewasa dalam film-filmnya ya? Hehe, entahlah.

Warning: terlalu banyak adegan dewasa!

Cast:
– Hideko
Kim Tae-ri – Sook-hee
– Fujiwara
– Paman Kouzuki
– Bibi
– Sasaki
– Goo-gai

Judul: The Handmaiden / Lady / Agasshi (아가씨)
Sutradara:
Penulis: Sarah Waters (novel), , Jung Seo-Kyoung
Produser: Yoon Suk-Chan, Jung Won-Jo
Sinematografi:  Jung Jung-Hoon
Premiere: Mei 2016 (Cannes Film Festival)
Rilis: 1 Juni 2016
Durasi: 144 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 Film Festival & Awards:
Cannes Film Festival 2016 – Competition

Blue Dragon Film Awards 2016:
– Best Actress (), Best New Actress (Lee Tae-ti), Best Art Design
– Nominasi: Best Film, Best Director, Best Cinematography & Lighting, Best Music

Man On High Heels

Desember 4, 2015 Tinggalkan komentar

Ji-wook dikenal sebagai manusia baja yang bekerja sebagai detektif di kepolisian.  Bahkan bagi musuh-musuhnya, ia dikagumi karena seolah sebagai simbol kejantanan. Kemampuan beladirinya mengagumkan ditunjang dengan postur tubuh dan wajah yang sangat lelaki. Namun, siapa sangka kalau dibalik sosok machonya ternyata Ji-wook menyimpan rahasia: dia seorang ingin sekali menjadi perempuan. Di usia muda, ia jatuh cinta pada teman cowoknya yangkemudian meninggal dan hal itu meninggalkan luka masalalu.

Man_on_High_Heels_cover-1050x529

Det Ji-wook yang macho tapi berjiwa feminin

man on highheels2
Belajar dari orang-orang yang memiliki kesamaan orientasi seksual, Ji-wook pun belajar untuk menjadi transgender. Di sisi lain, ia juga harus siap dengan resiko kehidupan transgender yang masih sulit diterima masyarakat.
man on higheels
Well, tema film ini terbilang cukup unik; mengangkat isu transgender dibalut action yang membuatnya jadi terasa kontras dan juga terbilang jarang diangkat dalam film-film Korea. Cha seung-won sendiri bermain cukup baik sebagai seorang yang memiliki banyak sisi feminin. Tapi sayangnya, selain kegalauan hati Ji-wook untuk jadi transgender, kedalaman film ini terasa kurang digali. Keberadaan para gangster juga menjadi bagian cerita yang agak terlalu dipaksakan. Tapi, lumayanlah.

Cast:
Cha Seung-won – Detektif Ji-wook
Oh Jung-se – Heo-gon
Esom – Jang-mi
– Jin-woo
Park Sung-woong – Jaksa Hong
Lee Yong-nyeo – Bada
Lee El – Do Do
Hong Tae-Ui – abang Jang-Mi (pacarnya Ji-wook muda)
Lee Dong-Gil – Ji-Wook (remaja)

Judul: Man On High Heels / High Heel / Haiheel (하이힐)
Sutradara/ Penulis: Jang Jin
Produser: Lee Eun-Ha, Jo Hyun-Suk, Jang Jin
Sinematographer: Lee Sung-Je
Rilis: 4 Juni 2014
Durasi: 125 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

A Frozen Flower

September 3, 2012 Tinggalkan komentar

Sebagai seorang calon raja, Goryeo () boleh mengangkat para pengawal utamanya sejak kecil. Di antara mereka adalah Hong-lim (), anak muda yang menyatakan kesetiaannya sejak masih sangat belia. Hong-lim pun tidak hanya menjadi pengawal, tapi juga sebagai sahabat dekat si putra mahkota dan bahkan kemudian, ketika dewasa dan putra mahkota menjadi raja sungguhan, Hong-lim menjadi kekasihnya. Yup, raja adalah seorang gay.

frozen flower4

Di bawah tekanan Kerajaan Yuan (dimana permaisuri berasal), Raja diharuskan mempunyai keturunan, kalau tidak maka tahtanya terancam. Karena tak bisa berhubungan dengan permasurinya, maka Raja pun meminta kekasihnya, Hong-lim untuk melakukan untuknya. Harapan Raja, karena ia ingin penerusnya nanti adalah orang baik seperti Hong-lim.

frozen flower3

Hong-lim, tentu saja tak bisa menolak kehendak raja. Maka dimulailah hubungan Hong-lim dan sang permaisuri. Hubungan yang justru akan menjadi bumerang bagi raja sendiri karena ternyata Hong-lim dan permaisuri menjadi sepasang kekasih sungguhan. Raja yang kemudian dibakar cemburu, berusaha melakukan segala cara untuk ‘menormalkan’ suasana yang rumit itu, namun bola sudah menggelinding bukan?

Hmm, kisah yang menyakitkan. Jika ada yang mengatakan bahwa jatuhnya kekuasaan seseorang, salah satu pemicu terbesarnya adalah karena perempuan, mungkin harus diralat: karena cinta! Cinta memang sesuatu yang absurd,dia bisa menjadi kekuatan positif maupun sesuatu yang menghancurkan. Dan kisah itu diangkat dengan baik melalui film ini, terutama melalui karakter Raja Goryeo yang dimainkan dengan sangat baik sama .

frozen flower5

Awalnya, saya agak sebel sama Raja  ketika dia berubah dari sosok lembut penuh cinta, menjadi begitu bengis. Tapi kemudian cerita mengalir dan saya dibawa paham kenapa dia bisa jadi seperti itu: perasaan ditinggalkan dan tidak dicintai! Juga Hong-lim sebagai ‘orang bawahan’ yang sebelumnya selalu dalam kendali Raja, lalu juga Permaisuri yang begitu kesepian. Aish, pahit lah pokoknya 😦

frozen flower1

Menonton film ini, entah bagaimana mengingatkan saya sama Golden Flowers-nya Zhang Yimou, yang juga sama-sama mengangkat kisah cinta menyakitkan di istana. Menurut saya sih dua-duanya sama-sama keren, meski saya lebih suka Golden Flowers.

Full of flowers. Sayang peran mereka nggak terlalu berarti :(

Full of flowers. Sayang peran mereka nggak terlalu berarti 😦

Satu hal yang agak mengganggu dari Frozen Flower menurut saya bed scenes-nya yang terasa berlebihan yang membuatnya jadi terasa menjengahkan. Saya pikir, ada pilihan scenes yang lebih ‘elegan’ untuk menggambarkan adegan semacam itu. Tapi well, overall, it’s good movie!

Cast: 
  – Raja Goryeo
 – Hong Lim
 – Permaisuri Goryeo

 – Song-ki
 – Han-baek
 – No-tak
 – Min-woo

Judul Lain: Ssanghwajeom
Sutradara: 
Penulis:
Produser: Tae-heon Lee, Kyeong-ho Shin, David Cho
Sinematografi: Hyeon-ki Choi
Rilis: December 30, 2008
Durasi: 133 min.
Bahasa: Korea
Negara: Korea Selatan

Film Festival:
Deauville Asian Film Festival 2009 – The Panorama -International Premiere
Udine Far East Film 2009 – Italian Premiere
Hawaii International Film Festival 2009 – Spotlight on Korea
Fantasia Film Festival 2010 – Canadian Premiere
Asian Film Festival of Dallas 2010 – Southwest Premiere
New York Korean Film Festival 2011

Awards:
PaekSang Arts Awards 2009 – Best Actor ()
Daejong Film Awards 2009 –  Best Music, Best Art Design

The Love of Siam

November 30, 2011 Tinggalkan komentar

Saya memutuskan beli film ini lagi-lagi gara-gara label penghargaan yang tertera di cover-nya: official selection cannes. Wow! pikir saya. Seperti apa film Asia Tenggara yang masuk cannes? Satu lagi, sepertinya saya juga cukup familiar dengan judulnya.

Selain label penghargaan, saya sama sekali blank tentang film ini. Sinopsis yang ditulis di cover juga nggak banyak memberi informasi cerita film. Tapi dari awal saya sudah menduga, what kind of love story is this. Yups. (sorry, sedikit spoiler): it’s gay story! Tak urung hal ini membuat saya bertanya-tanya:  kenapa ya Thailand sering banget bikin film tentang homoseksualitas (terakhir saya nonton )? Dan hal yang bikin saya lebih penasaran adalah: kenapa homoseksualitas begitu marak di Thailand? Saya ingat beberapa tahun lalu saya menemani beberapa mahasiswa Thailand di kampus, 3 di antaranya cowok dan ketiganya ‘melambai.’ Tidak hanya itu karena kemudian temannya yang cewek cerita ke saya, kalau para cowok ini memang gay. Hoo..(padahal saya sudah niat tebar pesona, hihi).

PDVD_059

Kembali ke film.
Meski saya sudah menduga bahwa ceritanya akan seperti itu, tapi saya sempat hampir terkecoh karena untuk sampai pada cerita itu perlu waktu yang cukup lama. Cerita akan dimulai dari masa kecil dua tokoh utama: Mew dan Tong. Mereka tinggal tetanggaan. Mew kecil hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua tapi amat menyayanginya. Mew diledeki seperti anak perempuan oleh teman-teman di sekolahnya karena dianggap terlalu lembek sebagai anak cowok. Hobinya main musik dan melukis.

Mew

Mew

Sebaliknya, Tong sepertinya anak yang populer dan kuat. Tong hidup bahagia bersama keluarganya yang beragama Kristen: ayah, ibu dan kakak perempuan yang cantik, Tang.

Mew dan Tong tak saling kenal hingga sebuah insiden Mew dikerjai teman-temannya dan Tong menolongnya. Sejak itu, mereka pun menjadi sahabat karib dan menikmati waktu menyenangkan bersama. Hingga sebuah kejadian naas di hari natal terjadi. Tang, kakak Tong hilang ketika liburan ke hutan bersama teman-temannya. Duka pun menyelubungi keluarga Tong. Ayahnya yang tak bisa menerima kepergian Tang, menjadi alkoholic. Keluarga Tong pun kemudian memutuskan pindah ke Chiangmai.

Tong

Tong

Cerita kemudian melompat ke beberapa tahun kemudian. Mew dan Tong sudah menjadi remaja. Mew membentuk band sekolah yang cukup populer, August band dimana dia jadi vokalis sekaligus penulis lagu. Kini, ia tinggal sendirian karena neneknya sudah meninggal. Di sebelah tempat tinggalnya, ada Ying, gadis keturunan Tionghoa yang diam-diam naksir berat sama Mew.

Di sisi lain,Tong ternyata sudah pindah ke kota itu lagi bersama keluarganya, yang sekarang sangat tak bahagia. Ayahnya tetap jadi alkoholik dan selalu berpikir bahwa Tang masih hidup. Ibunya lah yang kemudian harus bekerja menghidupi keluarga itu. Setelah kepergian Tang, ibu Tong juga jadi sangat protektid terhadap Tong. Tong tumbuh jadi ‘anak mami’ yang pemurung. Di sekolah, ia mengencani cewek cantik yang ditaksir banyak cowok, Donut.

Hingga suatu hari, Tong dan Mew kembali bertemu dan melanjutkan jalinan persahabatan yang telah lama kosong. Sampai pada titik ini, saya hampir berpikir: ah, it’s not gay story. Hubungan Mew dan Tong terlihat sangat wajar sebagai sahabat berjenis kelamin sama. Tapi cerita terus mengalir dan yah, akan sampai pada titik itu (menurut saya, film ini plotnya bagus karena membuat penasaran untuk terus mengikuti hingga akhir).

Hmm...

Hmm…

Selama ngikutin film ini, saya terus bertanya-tanya: beneran ini masuk official selection Cannes? Ceritanya sih bagus, tapi saya yang sudah beberapa kali nonton film yang masuk Cannes, cerita film ini kayaknya not kind of Cannes films deh.Dan memang setelah saya cek di internet usai nonton, nggak ada disebut soal FF Cannes. Wah, ketipu saya. Tapi nggak apa-apa lah, karena filmnya sendiri cukup qualified dan karenanya cukup banyak menyabet penghargaan lokal dan seleksi Foreign Film di Academy Awards.

Ying

Ying

Ini adalah sebuah coming age story dunia remaja yang nggak mudah dan digarap dengan sangat lembut. Kita bisa ikut merasa galau melihat bagaimana kegelisahan para remaja yang sedang dalam konflik pencarian jati diri, tapi juga terharu bagaimana mereka menghadapi semua itu dengan  begitu ‘mature & wise.’ Cerita keluarga yang melatarinya juga memperkuat cerita, meski di ujung-ujung, menurut saya diekspos agak berlebihan sehingga cerita yang sudah solid jadi agak terpecah (kehadiran June di keluarga Tong). Dan about gay story, tidak harus setuju, tapi mungkin film ini akan memberi sedikit pemahaman tentang preferensi seseorang.
Well, it’s recommended!

PDVD_127

Quotes:
Ini adalah dialog waktu Tong bermalam di rumah Mew dan Mew curhat ke Tong:

if we love someone so much, how can we bear or that one day we will be seperated by death? (….) Is it possible Tong, that we love someone and were not afraid of losing them? At the same time I was wondering is it possible that we can live without loving anyone at all?”

Cast:
 – Mew
 – Tong
 – Ying
Aticha Pongsilpipat – Donut
 – Tang/June
Sinjai Plengpanich – Sunee, Tong’s mother
Songsit  Rungnopakunsri – Korn, Tong’s father
 – Tong Kecil
Arthit Niyomkul -Mew Kecil
Pongnarin Ulice  – Aod
Pimpan Buranapim – Nenek Mew

Sutradara: Chookiat Sakveerakul
Produser: Prachya Pinkaew, Sukanya Vongsthapat
Penulis: Chookiat Sakveerakul
Musik: Kitti Kuremanee
Sinematografi: Chitti Urnorakankij
Editing: Lee Chatametikool, Chukiat Sakweerakul
Rilis: November 22, 2007 (Thailand)
Durasi: 150 min., 178 min. (Director’s cut)
Bahasa: Thai
Judul Lain: Rak Haeng Sayam/รักแห่งสยาม pronounced [rák hɛ̀ŋ sà.jǎːm])

Awards:
Thailand National Film Association Awards 2008:
– Best Picture
– Best Director (Chookiat Sakveerakul)
– Best Supporting Actress (Chermarn Boonyasak)
Nominasi:
– Best Actor (Witwisit Hiranyawongkul)
– Best Actress (Sinjai Plengpanit)
– Best Art Direction (Phisut Pariwattanakij)
– Best Cinematography (Chitti Urnorakankij)
– Best Costume Design (Ekasith Meeprasertsakul)
– Best Editing (Chukiat Sakveerakul, Lee Chatametikool)
– Best Original Song (“Kan Lae Kan”)
– Best Original Song (“Kuen Un Pen Nirund”)
– Best Score (Kitti Kuremanee)
– Best Screenplay (Chukiat Sakveerakul)
– Best Sound (Ramindra Sound Recording Studios).
– Best Supporting Actor (Songsit Roongnophakunsri)
– Best Supporting Actress (Kanya Rattapetch)

Asian Film Awards 2008:
– Nominasi: Best Composer (Kitti Kuremanee),  Best Supporting Actor (Mario Maurer)

Cinemanila International Film Festival 2008:
– Best Actor award in Southeast Asian film (Mario Maurier)

Bangkok Love Story

Juni 25, 2011 8 komentar

Meski melibatkan judul ‘Love Story’ saya sempat berpikir ini adalah film action yang dibalut kisah cinta. Apalagi pada menit-menit awal, diperkenalkan si tokoh utama, berprofesi sebagai pembunuh bayaran lengkap dengan visualisasi tembak-tembakan segala. Cerita mengalir. Nuansa action pun segera berubah jadi drama yang mengharu biru.

Usai melakukan pekerjaannya, Maek, si pembunuh bayaran, menemui adiknya dan kita pun segera tahu seperti apa latar belakang kehidupan Maek, yang kemudian agaknya menjadi alasan kenapa ia melakukan pekerjaan itu. Ibu dan adiknya tinggal di sebuah rumah kumuh (benar-benar terlihat kumuh dan gelap yang membuat saya sesak melihatnya) dan keduanya sakit. Penyakitnya pun bukan main-main, Aids! (benar-benar terasa menyakitkan melihat kedua orang ini).

Maek, si pembunuh bayaran

Maek, si pembunuh bayaran

Korban berikutnya yang harus dibunuh adalah seorang lelaki yang nampak biasa saja bernama Iht. Ia sedang kencan dengan istrinya ketika Maek menangkapnya dan membawanya ke bosnya. Namun, ketika bosnya menyuruhnya untuk membunuhnya, Maek menolak karena ia melihat bahwa Iht bukanlah orang jahat. Tentu saja itu membuat bosnya berang. Terjadilah duel. Maek dan Iht berhasil lari tapi Maek terluka cukup parah. Merasa berhutang nyawa pada Maek, Iht kemudian merawat Maek, di tempat tinggal Maek (di loteng bangunan yang juga terlihat sangat kumuh).

Iht dengan telaten merawat Maek. Mulai dari membersihkan luka, menyediakan makanan hingga memandikan Maek. Hingga suatu hari, ketika Maek sedang mandi dibantu Iht, keduanya tak bisa menahan diri lagi dan terjadilah ‘pergumulan’ di atas loteng.

Iht menikmati semua itu. Di adegan flashback kemudian digambarkan bagaimana Iht ternyata pernah punya hubungan dengan lelaki juga dan bahwa ia sepertinya terpaksa menikah dengan perempuan yang tak dicintainya. Iht adalah gay yang tak berani mengungkapkan kalau dirinya gay (di Thailand, sepertinya masyarakatnya masih nggak jauh beda sama di Indonesia yang menganggap kalau homoseksualitas itu tabu).

Berbeda dengan Iht yang menikmati hubungan itu dan menerima dirinya adalah gay, Maek justru merasa jijik. Ia kemudian menyuruh Iht pergi dengan kasar. Iht merasa terluka dan pergi. Tapi baik Iht maupun Maek, tak bisa saling melupakan. Sementara Maek berusaha keras menghindari Iht, Iht berusaha keras menemui Maek dan meminta Maek untuk mengakui perasaannya.

Iht

Iht

Pada menit-menit ini, lupakan kalau Maek seorang pembunuh bayaran yang macho, karena adegan dipenuhi rengekan cinta yang terkesan cengeng. Pada akhirnya, Maek pun luluh. Selesai? Belum. Kisah si pembunuh bayaran yang melonkolis masih berlanjut dan hidup kian tragis baginya. Ibunya yang tak sanggup menanggung beban hidup memutuskan untuk bunuh diri, meski masih bisa diselamatkan tapi kemudian ketembak peluru nyasar yang sedianya untuk membunuh Maek. Maek yang kalap tak bisa menahan emosi dan membunuhi para gangster yang notabene adalah orang-orang yang menyuruhnya jadi pembunuh.

Iht terus ngejar Maek dan akhirnya istrinya tahu kalau Iht itu gay. Ketika tahu Maek mau balas dendam, Iht menyusul tapi kemudian berselisih jalan. Ketika Maek keluar, Iht masuk dan blap, ia ketembak istri si penjahat dan akhirnya buta. Maek pergi ke stasiun di mana Mhok adiknya sudah menunggu tapi sesampainya di stasiun, polisi datang dan Maek tak punya pilihan selain menyerah. Maek kemudian dipenjara dan Iht yang telah  buta setia menunggu. Mhok yang tak tahan menderita kemudian meninggal karena bunuh diri. Bertahun-tahun kemudian Maek keluar dari penjara dan Iht menjemputnya. Keduanya berjalan meninggalkan penjara di tengah hujan sambil menggumamkan cinta mereka ketika tiba-tiba Iht sadar Maek sudah tak ada di sisinya. Ia panik dan meraba-raba, menemukan Maek yang terbaring di tanah. Sebuah tembakan dari pembunuh–sepertinya anggota gangster yang masih dendam sama Maek. Iht meratapi kematian Maek dan mengungkapkan betapa ia mencintai Maek.

PDVD_003

Di ending, diperlihatkan Iht sudah sembuh dari kebutaan dan melihat video rekaman Maek yang mengungkapkan bahwa ia juga mencintai Iht hingga akhir waktu. Bweueh….

PDVD_007

Bagi saya,ini adalah film yang cukup melelahkan  (belum lagi adegan cinta Maek dan Iht yang kurang elegan). Meski dari segi sinematografi menurut saya lumayan, tapi melihat penderitaan cinta yang seakan tiada akhir layaknya adegan sinetron benar-benar membuat saya yang semula ikut berempati terhadap hubungan Maek-Iht akhirnya berulangkali harus menggumam, ‘ufh, it’s enough, it’s enough…,’ di sisi lain, menonton Bangkok Love Story bisa memberi sedikit gambaran berbagai problema sosial di Thailand seperti homoseksualitas dan AIDS. Di negara yang terkenal dengan wisata seks-nya ini, kasus AIDS memang cukup tinggi. Demikian halnya dengan homoseksualitas. Meski sudah menjadi fenomena kehidupan sosial masyarakat Thailand, tapi homoseksualitas agaknya masih dianggap sebagai deviant, sebagai sesuatu yang tabu.

Cast:
Rattaballung Tohssawat, Maek (Cloud)
Chaiwat Thongsaeng, Iht (Rock)
Weeradit Srimalai, Mhok (Fog, adik Maek)
Chatcha Rujinanon, Sai (Sand)

Sutradara:  Poj Arnon
Penulis      :  Poj Arnon
Music          : Giantwave
Sinematografi: Tiwa Moeithaisong
Rilis: Thailand, September, 2007

Awards:
– Grand Prize International Competition untuk Poj Arnon di Brussels International Independent Film Festival
2007
– National Film Association Award Best Cinematography untuk Tiwa Moeithaisong, Best Screenplay (Poj Arnon), Best Sound  (Kantana Laboratory [th], nominasi National Film Association Award Best Actor (Rattanaballang Tohssawat), Best Art Direction (Kuru Team),
Best Score (Giant Wave), Best Supporting Actor (Chaiwat Thongsaeng),
Best Supporting Actress (Uthumporn Silaphan)  di Thailand National Film Association Awards 2008
– Opening Night selection untuk the 2007 Hong Kong Lesbian and Gay Film Festival, and diputar di 2008 London Lesbian and Gay Film Festival.

Transamerica

Desember 10, 2010 Tinggalkan komentar

Akhirnya saya bisa nonton film ini setelah nyari-nyari di rental dan lapak cd nggak nemu, seorang teman memberikan copy-annya dengan kualitas yang sangat baik (thanks to him).

Transamerica awalnya saya pikir film tentang perjalanan keliling Amerika atau semacamnya. Dugaan saya tak salah-salah amat tapi juga tak sepenuhnya tepat. Transamerica memang road movie yang mengisahkan perjalanan Bree dan Toby dari New York ke Los Angeles.

PDVD_046

Adalah Sabrina Ousbourne yang lebih senang dipanggil Bree, seorang transgender. Ia lahir sebagai seorang lelaki, Stanley Schupak, tapi ia selalu merasa dirinya perempuan. Ia pun kemudian merubah diri menjadi perempuan dan sedang bersiap untuk melakukan operasi alat kelamin. Hingga suatu hari, tiba-tiba datang sebuah telepon dari Toby di penjara New York, seorang anak muda 18 tahun, yang mencari ayahnya yang bernama Stanley Schupak sementara ibunya sudah meninggal.

PDVD_055

Bree pun memutuskan untuk menjemput Toby dengan merahasiakan statusnya dan berpura-pura sebagai utusan dari gereja. Meski menganggapnya aneh, Toby percaya saja pada Bree, apalagi Bree memperlakukannya dengan sangat baik. Masalah kemudian muncul ketika mereka ditipu seorang penumpang yang membawa lari mobil dan uang, lalu Bree terpaksa minta tolong ke rumah orang tuanya yang belum bisa menerima keadaan transgendernya.

PDVD_085

Film yang sangat menyentuh. Cerita, setting dan musiknya juga keren. Selama ini saya sering nonton film tentang transgender atau semacamnya digambarkan sebagai sosok yang kacau dan permisif terutama berkaitan dengan kehidupan seksualnya. Tapi film ini mampu mengetengahkan sosok transgender yang benar-benar mengundang empati.  Saya jadi berpikir, betapa tak mudahnya kehidupan bagi para transgender. Two thumbs up!

Cast:
Felicity Huffman, Sabrina ‘Bree’Osbourne/ Stanley Schupak
Kevin Zegers, Toby Wilkins
Graham Green, Calvin Many Goats
Fionnula Flanagan, Elizabeth Schupak
Burt Young, Murray Schupak
Carrie Preston, Sidney Schupak
Elizabeth Pena, Margaret

Sutradara: Duncan Tucker
Penulis : Duncan Tucker, William H. Macy
Produser: William H. Macy
Musik : David Mansfield
Sinematografi: Stephen Kazmierski
Rilis: Februari, 2005
Durasi : 103 menit

Awards:
– Best Femael Lead (Felicity Huffman) & Best First Screenplay di Independent Spirit Award
– Nominasi Best Actress & Best Song  (Dolly Parton, Travelin’ Thru) di Academy Awards
– Reader Jury of the ‘Siegessaule’ di Berlin Intl FF
– Best Actress & nominasi Best Original Song di Golden Globe
– Best Actress di Satellite Awards

– Chopard Trophy Male Revelation untuk Kevin Zegers di Cannes FF 2006

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar