Archive

Archive for the ‘Film Mandarin’ Category

To Live

Januari 12, 2017 Tinggalkan komentar

Xu Fugui adalah seorang putra tuan tanah. Ia mewarisi kekayaan ayahnya yang kaya raya. Sayangnya, Fugui sangat gila judi dan selalu kalah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh saingannya untuk menjerat Fugui dengan hutang hingga seluruh kekayaan Fugui  ludes. Tidak hanya jatuh miskin, ayah Fugui  meninggal karena syok dan istrinya Jiazhen (), meninggalkannya.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_000639629

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001193197
Fugui pun kemudian menjadi rakyat biasa yang harus bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Untunglah, istri dan anaknya, Fengxia, yang bisa menerima keadaan Fugui, kemudian datang dan kembali hidup bersama.

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001570467

Jadi, wayang itu sebenarnya bukan asli Indonesia lho, tapi sepertinya banyak pengaruh China-nya 🙂

Untuk menghidupi keluarganya, Fugui kemudian bekerja sebagai pemain wayang. Fugui berkerja keras demi anak dan istrinya. Dan meski hidup pas-pasan, ia dan keluarganya bahagia. Sayangnya, perang China pecah. Fugui  yang tak tahu apa-apa, terseret di medan perang bersama temannya, Chunsheng. Dengan menggunakan taktik survival, keduanya berhasil selamat. Bahkan diminta untuk mempertunjukkan wayang demi menghibur tentara di medan perang.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001903935

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_002467320
Ketika perang berakhir, Fugui berhasil kembali ke rumah. Istri dan anaknya masih hidup, tapi sang anak menjadi  bisu karena terserang demam ketika perang. Fugui  dan Jiazhen kembali lagi bahu membahu bekerja dan hidup harmonis. Tapi kondisi politik sudah berubah. Revolusi Mao dimulai. Para tuan tanah dihukum karena dianggap kapitalis, termasuk pemilik rumah Fugui. Fugui justru dianggap berjasa karena sudah membantu tentara revolusi.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005749121
Dimulailah era baru revolusi dengan kehidupan komunal, anti kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada Ketua Mao. Fugui dan Jiazhen mengikuti arus saja, yang terpenting mereka hidup aman dan nyaman, membesarkan anak-anak mereka. Fugui kembali bermain wayang yang kemudian digunakan sebagai media propaganda.

Namun pasang surut kondisi politik, tak urung mempengaruhi kehidupan mereka. Mendatangkan duka demi duka dalam kehidupan mereka. Meski ebgitu, Fugui dan Jiazhen selalu menjalani hidup dengan optimisme dan kebersahajaan.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005451328
Diangkat dari novel karya Yu Hua saya sendiri belum baca novelnya, tapi menurut saya versi filmnya yang digrap sutradara yang saya kagumi, , adalah film yang sangat bagus.  Dengan selipan kritik-kiritk sosial yang rapi. Gaya penceritaan, latar dan plotnya terasa sophisticated.  

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005699695
Yah, seperti judulnya, film ini memang mengetengahkan cerita tentang ‘hidup.’ Ya, hidup. Melalui sosok Fugui dan Jiazhen, digambarkan bagaimana manusia, yang pernah terpuruk, melakukan kesalahan kemudian berusaha bangkit, tak kenal menyerah,  selalu optimis menjalani hidup dan menjadi manusia yang lebih baik. Sebbuah kisah yang terasa sangat humanis. Dan meski bukan bergenre romance, tapi menurut saya film ini juga sangat romantis. Hubungan Fugui dan Jiazhen entah kenapa mengingatkan saya pada pasangan-pasangan sederhana yang sering saya temui di desa-desa. Mereka hidup bersahaja, saling melengkapi dan mencintai tanpa banyak kata-kata atau ungakpan gombal. Mereka selalu bersama, saling mendukung satu sama lain. Sangat mengharukan. Dan akting kedua pemeran utamanya memang patut diacungi jempol. dan Ge You yang bermain sangat apik. Very recommended.

Cast:
Ge You – Xu Fugui
– Jiazhen

Ben Niu – Walikota
Wu Jiang     – Wan Erxi
Deng Fei – Xu Youqing
Tao Guo – Chunsheng
Tianchi Liu- Xu Fengxia (dewasa)
Zongluo Huang – Ayahnya Fu Gui
Yanjin Liu – ibunya Fu Gui
Dahong Ni – Long’er
Lian-Yi Li – Sgt. Lao Quan
Xiao Cong – Xu Fengxia (remaja)
Zhang Lu     – Fengxia (kecil)

Judul: To Live (Huózhe)
Sutradara:
Produser: Fu-Sheng Chiu, Funhong Kow, Christophe Tseng
Penulis: Lu Wei (berdasar novel ” To Live” karya Yu Hua)
Musik: Zhao Jiping
Sinematografi: Lü Yue
Distributor: The Samuel Goldwyn Company
Rilis: 18 Mei 1994 (Cannes)
Durasi: 132 menit
Negara/bahasa: China/Mandarin

Awards:
Cannes Film Festival 1994:
– Grand Prix, Prize of the Ecumenical Jury, Best Actor (Ge You)
– Nominasi Palme d’Or

Golden Globe Award  1994:
– Nominasi Best Foreign Language Film

National Board of Review 1994:
– Best Foreign Language Film

National Society of Film Critics Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Language Film

BAFTA Award 1995:
– Best Film Not in the English Language

Chlotrudis Award 1995 :
– Nominasi Best Actress ()

Dallas-Fort Worth Film Critics Association Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Film

The Soong Sisters

Januari 10, 2017 Tinggalkan komentar

Charlie Soong seorang pengusaha yang mendukung gerakan kemerdekaan China. Ia bersahabat karib dengan si penggerak kemerdekaan, Dr. Sun Yat Sen. Charlie berpikiran moderat. Ia pun mengirim ketiga putrinya yang masih kecil-kecil sekolah ke Amerika: Ai Ling (), Ching Ling dan Mei Ling. Setelah dewasa, ketiga putrinya ini kembali ke China.
soong-sisters-avi_001130037
Ai Ling si sulung kemudian menikah dengan pengusaha kaya, K’ung. Sementara Ching Ling bekerja sebagai asisten Sun Yat Sen. Sikap simpatik dan karismatik Sun kemudian membuat Ching Ling jatuh cinta.  Sun yang teman dan berumur sebaya ayah Ching Ling, membuat Soong menentang hubungan itu. Namun karena saling mencintai, keduanya tetap menikah. Hal yang membuat hubbungan mereka berjarak dengan sang ayah.

soong-sisters-avi_001962653
Si bungsu Mei Ling juga pulang, dan kemudian jatuh cinta dengan tangan kanan Sun, seorang militer yang  tegas dan keras kepala serta playboy, Chiang Kai Shek.
soong-sisters-avi_002955600
Sun Yat Sen wafat sebelum perjuangan menyatukan China terwujud. Meski begitu, ia meninggal sebagai legenda. Ching Ling meneruskan perjuangan suaminya melalui Partai Komunis.  Chiang Kai Shek kemudian membelot dengan bergabung dengan Partai Nasionalis . Ideologi yang berseberangan membuat mereka bermusuhan. Kaum nasionalis berkeras untuk berusaha menumpas komunisme. Di sisi lain, Jepang datang untuk menjajah. Maka masing-masing pihak pun  kemudian dihadapkan pada  dilema, saling bermusuhan karena perbedaan ideolgi atau bersatu untuk mengusir penjajah.
soong-sisters-avi_002716228

soong-sisters-avi_004759116
Hmm, sebuah film yang memberi saya ‘pencerahan’ sejarah China. Idenya unik, karena jika selama ini film tentang sejarah China biasanya mengangkat kisah para hero laki-laki, di sini adalah para perempuan yang pastilah tidak sepopuler Sun Yat Sen atau Chiang Kai Shek tapi ternyata memiliki peran yang penting dalam sejarah China. Digambarkan dengan rapi dan cukup detail, sehingga membuat saya yang awam sejarah China jadi paham konflik yang berlangsung. Mungkin karena cerita film ini yang mengambil rentang beberapa waktu dan peristiwa sehingga ada kesan seperti dokumenter sejarah yang membuat eksplorasi karakter tokoh-tokohnya agak kurang terlihat. Meski begitu, sangat layak untuk ditonton.

Cast:
Maggie Cheung – Soong Ching-ling
– Soong Ai-ling
Vivian Wu – Soong Mei-ling

Winston Chao – Sun Yat-sen
Wu Hsing-kuo – Chiang Kai-shek
Jiang Wen – Charlie Soong
Elaine Jin – Ni Kwei-tsen (Mrs Soong)
Niu Zhenhua – K’ung Hsiang-hsi
Liu Jin – Zhang Xueliang

Judul: The Soong Sisters/ Sòng Jiā Huáng Cháo
Sutradara: Mabel Cheung
Produser: Raymond Chow, Ng See-yuen
Penulis: Alex Law
Musik: Kitarō, Randy Miller
Sinematografi: Arthur Wong
Editing: Mei Feng
Produksi: Golden Harvest, More Team
Distributor: Golden Harvest, Fuji Television Network, Pony Canyon, Mei Ah Entertainment, More Team International Ltd. Production
Rilis: 21 Mei 1997
Durasi: 140 menit
Negara/Bahasa: Hong Kong/ Kanton, Mandarin

Awards:
Golden Horse Awards[ 1997:
– Best Art Direction (Eddie Ma), Best Original Score (Kitarō and Randy Miller), Best Sound Effects (Zeng Jingxiang)

Hong Kong Film Awards 1998:
– Best Actress (Maggie Cheung), Best Supporting Actor (Jiang Wen), Best Art Direction (Eddie Ma), Best Cinematography, Best Original Score (Kitarō and Randy Miller), Best Costume and Makeup Design, Best Sound Effects
– Nominasi: Best Director (Mabel Cheung), Best Supporting Actress (Michelle Yeoh), Best Supporting Actress (Elaine Jin), Best Screenplay ,   Best Picture

Film-Film Yang Kurang Berkesan

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Sering saya penasaran dengan film-film lama yang dibintangi aktor/aktris yang sekarang sudah jadi bintang papan atas, karenanya kemudian saya tonton. Tapi ternyata beberapa film-filmnya tidak terlalu mengesankan, sehingga saya agak malas mengulasnya, jadi saya rangkum saja di sini.

1. The Legend of Seven Cutter ( Korea Selatan, 2006).  Penasaran sama film ini karena nama . Sejak melihatnya di , sebagai si tomboy Eun-chan, saya berkesimpulan bahwa Yoon adalah aktris yang tidak hanya cantik, tapi juga berbakat. Sayang, belakangan karirnya cenderung meredup, dan drama-drama yang dibintanginya juga banyak yang kurang bagus. Yoon memang lebih dikenal sebagai pemain drama, tapi ada  juga beberapa filmnya, salah satunya film ini, dimana ia berperan sebagai Han Min-joo (), cewek tomboy (lagi!) di sekolah yang kemudian jatuh cinta sama cowok culun, Jung Han-soo. Dan sebenarnya, tokoh utama di film ini adalah Han-soo (diperankan oleh aktor Ahn Jae-mo).

the-legend-of-7-cutter

the_legend_of_seven_cutter-avi_000971663

Han-soo ini murid pindahan dan rumor beredar bahwa Han-soo ini adalah si legendaris ‘seven cutter’ preman sekolah yang meninggalkan 7 sayatan cutter ke korbannya. Desas-desus ini pun menimbulkan rasa penasaran dan gentar di kalangan murid-murid lain, termasuk si preman sekolah, Baek Seung-gi dan juga pemimpin geng cewek, Han Min-joo. Dan hal yang aneh adalah bahwa sehari-hari, Han-soo adalah cowok yang selalu terlihat culun. Dan rumor-rumor tentang dirinya, kemudian menyelamatkan dirinya untuk ‘survive’ di lngkungan baru, termasuk mendapat pacar, tentunya. Ehm, sejujurnya saya tak bisa mengikuti film ini secara penuh, beberapa adegan saya skip karena terasa membosankan. Garis besar ceritanya lumayan, tapi plotnya terkesan tidak konsisten. Yoon bermain bagus sebagai si tomboy Min-joo, tapi saya tidak bisa menyukai karakter Jung Han-soo, yang menurut saya terlalu ‘beruntung’. Karakter-karakter lain juga terasa tidak terlalu berarti.

2. Last Present (Korea Selatan, 2001)
Dua pemainnya adalah bintang favorit saya, dan . saat ini adalah salah satu  nama besar di dunia perfilman Korea. Film-filmnya nyaris selalu ngehits. Sementara , meski tidak terlalu produktif, tapi juga film maupun dramanya juga bagus-bagus. Tapi film ini dibuat ketika keduanya masih cukup muda, dan belum setenar sekarang.

the-last-present-2001-dvdrip-xvid-avi_002743675

Cerita film ini adalah tentang suami istri Yong-gi ( ) dan Jung-yeon (). Hubungan mereka buruk setelah kematian anak mereka. Yong-gi yang bekerja sebagai komedian, karirnya sedang terseok-seok. Di sisi lain, Jung-yeon ternyata mengidap penyakit mematikan. Dan demi cintanya pada Yong-gi merahasiakan sakitnya dan atas nama cinta juga, selalu marah-marah pada Yong-gi. Oke, well. Pada titik ini, saya mulai skip-skip. Di awal-awal saya cukup bisa menerima pertengkaran antara Yong-gi dan Jung-yeon, karena berpikir bahwa mereka depresi setelah kematian anaknya. Tapi semakin kesini, menjadi terlalu melelahkan dan alasan kemarahan Jung-yeon pada Yong-gi menjadi terasa bodoh. Demi cinta, pura-pura benci, terus marah-marah, dan merahasiakan bahwa dirinya sekarat? Bagi saya, hal seperti itu benar-benar terasa bodoh. Bukannya kalau cinta justru harus saling berbagi ya? Tidak ada yang salah dengan akting dua Lee, tapi ya itu, ceritanya terkesan bodoh dengan ending yang juga bisa ditebak.

3. The Letter (Korea Selatan, 1997).

the-letter-1997-dvdrip-xvid-avi_000485384

Tak sengaja nemu film ini dari koleksi lama. Ketika lihat ada nama , memutuskan untuk menonton. Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan Park, tapi selama ini cukup familiar dengan namanya. The Letter berkisah tentang seorang laki-laki  (diperankan oleh Park, saya lupa siapa namanya di sini) yang jatuh cinta dengan seorang dosen muda (Choi Jin-sil). Setelah beberapa kejadian romantis, mereka akhirnya menikah. Tapi kemudian si suami divonis sakit parah dan umurnya tak lama lagi. Dan sebagai umumnya film bergenre melodrama romantis, si istri kemudian akan merawat si suami dengan penuh cinta hingga meninggal. Filmnya sendiri sebenarnya tidak buruk dengan adegan-adegan mannis yang terasa klasik dan romantis. Tapi karena cerita utamanya adalah cerita yang sudah ada dalam 1001 film/drama Korea, saya pun ogah-ogahan menonton film ini.

4. ESP Couple (Korea Selatan, 2008).

Belakangan, saya memfavoritkan aktris . Menurut saya dia adalah salah satu aktris muda Korea yang sangat berbakat dan hebat. Sejak usianya masih sangat muda, ia sudah wara-wiri jadi tokoh utama di film. Dan di usianya yang masih muda sekarang, ia sudah menyejajarkan diri dengan bintang-bintang besar dalam perfilman Korea. Ia seolah tak pernah ‘gentar’ beradu akting dan selalu berhasil membangun chemistry dengan aktor-aktor besar yang bahkan usianya seringkali terpaut jauh dengannya. Harus saya, akui, tak semua film-film yang dibintangi Park bagus, tapi tetap saja saya penasaran dengna fim ini. Apalagi di film ini, lawan mainnya adalah , yang saya ketahui, juga aktor yang bagus.

sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_000724235
Filmnya berkisah tentang Su-min (), mahasiswa kuper yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang. Tapi karena takut dianggap aneh, ia tak pernah menggunakan kemampuannya ini. Suatu hari, ketika ada kasus kriminal, tibatiba ia didatangi cewek SMA ceriwis, Hyun-jin () yang selalu  mengikutinya kemana-mana. Tidak hanya itu, karena Hyun-jin juga memintanya untuk kembali mengasah kemampuannya membaca pikiran orang.
sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_001149232
Premis ceritanya sebenarnya lumayan, tapi plotnya terasa membosankan dan digarap ogah-ogahan. Bagaimana tidak, kalau 80% bagian film ini isinya cuma latihan membaca pikiran dan nyaris tak ada kejadian penting apa-apa. Latarnya juga minimalis. Menurut saya,  satu-satunya hal yang membuat film ini agak bernyawa adalah akting , sebagai si gadis SMA yang enerjik dan yah, juga lumayan meski karakternya memang sedemikian rupa. Setelah menonton film ini, saya pun paham kenapa film ini seperti terlupakan.

5.  Don’t Click (Korea Selatan, 2012)
Lagi-lagi karena saya penasaran sama film ini. Mengabaikan ketidaksukaan saya sama film horror. Film ini bercerita tentang Se-hee (), seorang pramuniaga toko yang tinggal bersama adiknya yang masih SMA, Jeon-mi. Se-hee punya pacar seorang mahasiswa komputer, Joon-hyuk (,). Se-hee selalu merasa dirinya diawasi, dan membuatnya tak nyaman. Di sisi lain, Jeon-mi sangat suka membuat video pribadi dan menguploadnya ke youtube. Ia juga sangat senang menonton video-video di internet. Suatu hari, ia minta Joon-hyuk untuk memberinya kopian film-film yang diblokir internet. Ia mendapat kopian berisi rekaman kekerasan dan ternyata video itu… berhantu. Jadi kalau selama ini film hantu biasanya mengetengahkan hantu yangkemampuannya menghilang atau terbang-terbang, di sini hantunya bisa internetan dan upload video. Canggih kan?

 

dont-click-4
Well, oke. Sudah. Cukup sampai di situ saya menyerah.  Sekuat apapun saya memaksakan diri untuk melanjutkan menonton, saya benar-benar tak bisa menikmatinya. Logikanya nggak masuk ke kepala saya. Memang sih, dalam film hantu, semua kemungkinan bisa saja terjadi, tapi saya tetsp sulit menerima kemungkinan itu. Saya sendiri tak habis pikir kenapa aktris sekelas dan juga ,, mau main di film seperti ini. Ehm, tapi itu subyektif saya yang nggak suka film horor sih, bagi yang suka mungkin punya pendapat lain.

Film lainnya…

The Stolen Years (2013, China). Film ini berkisah tentang seroang perempuan cantik Hei Man (diperankan oleh Bai Baihe), yang baru tersadar dari komanya selama sebulan karena kecelakaan. Namun ia mengalami amnesia. Ia hanya mampu mengingat kejadian lima tahun yang lalu, ketika ia berbulan madu bersama suaminya (diperankan oleh ). Kenyataannya, sekarang ia dan suaminya sudah bercerai. Karena perasaannya masih perasaan 5 tahun lalu yang sangat mencintai suaminya, ia pun kemudian menelusuri kembali kejadian-kejadian lima tahun yang terlupakan, termasuk alasan perceraiannya dengan sang suami.
the-stolen-years-2013-hdtv-720p-x264-aac-phd-mp4_000310182
Sebenarnya, tak berekspektasi apa-apa ketika memutuskan untuk nonton film ini. Dan semata karena melihat posternya yang menarik dan ingin membuat variasi tontonan saja. Dan seperti posternya, pada bagian-bagian awal, ceritanya terasa segar dan membuat penasaran didukung gambar yang begitu resik. Tapi ternyata semakin ke belakang, ceritanya menjadi semakin mellow. Spoiler: ini adalah tentang penyakit alzheimer. Tidak buruk, tapi saya sudah cukup banyak menonton film dengan tema alzheimer, karenanya, saya jadi tak bisa menikmati film ini.

Girl in Pinafore (.Singapura, 2015) Saya tak terlalu familiar dengan film-film Asia Tenggara, kecuali Thailand, yang tak terlalu saya gemari. Saya iseng saja sih nonton film ini, ingin coba melongok perfilman negara tetangga. Film ini berkisah tentang  geng remaja SMA cowok.

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_000358961

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_001994314

Mereka adalah murid-murid sekolah yang biasa saja, berasal dari keluarga biasa saja. Lalu suatu hari mereka ikut audisi band, lalu ketemu sama cewek yang pintar main musik dan nyanyi dan band mereka sukses… Yah, ceritanya sangat khas film remaja dan sayangnya tak ada yang baru. Ceritanya terasa sangat standar. Tentang geng murid-murid culun, lalu jadi keren karena main band, terus dapat cewek… terlalu mirip dengan film yang sudah-sudah, seperti campuran , American Pie, dan entah apa lagi 😦

The Last Women Standing

Sheng Rui (), perempuan single berumur 30 tahun. Ia cantik dan karirnya sukses. Ia juga memilki kehidupan sosial yang normal dengan teman-teman yang selalu ada di sampingnya. Tapi seperti umumnya perempuan di usia 30an, ia mulai dirisaukan dengan urusan pernikahan. Sebenarya Rui cukup nyaman dengan kehidupannya, tapi ia tak tahan dengan ibunya menuntutnya untuk segera menikah. Sang ibu pun kemudian menjodohkannya dengan seorang dokter. Rui adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta dan ia selalu percaya bahwa jika saatnya tiba, jodohnya akan datang dengan sendirinya.

lw2

Shu Qi yang cantik, single dan mandiri

last

Eddie Peng yang jadi Ma Sai

Hingga suatu hari, muncul seorang pegawai muda di kantornya bernama Ma Sai ().  Ma Sai kemudian menjadi partner Rui dan Rui diam-diam jatuh cinta pada Ma Sai. Namun karena merasa bahwa Ma Sai terlalu muda untuknya, Rui pun berusaha mengabaikan perasaannya. Ketika Ma Sai ternyata juga menyukainya, Rui dihadapkan pada dilema pernikahan. Ma Sai masih ingin berkarir dan belum siap menikah. Ketika kesehatan ibunya semakin meburuk, Rui pun dihadapkan pada pilihan untuk menikah demi membahagiakan ibunya atau tetap dengan pendiriannya.
lw3

lw6
Yah, cerita film ini adalah kejadian yang mungkin jamak terjadi di kehidupan nyata. Tentang perempuan yang terlalu mandiri yang seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan dilematis karena tekanan sosial (keluarga, lingkungan). Film ini, melalui sosok Sheng Rui, seolah ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa membuat pilihan-pilihannya sendiri demi kebahagiaanya. Ceritanya lumayan solid, meski menurut saya endingnya agak terlalu manis. bermain apik sebagai Sheng Ruxi yang cantik dan mandiri, sementara , sebagai lawan mainnya, mungkin karena bukan karakter utama, karakternya hanya begitu-begitu saja tanpa eksplorasi karakter yang mendalam. Sebuah film ringan yang lumayan menghibur.
The_Last_Women_Standing_poster
Cast:
– Sheng Ruxi
– Ma Sai
Hong Pan – ibunya Sheng
Shih-Chieh Chin – ayahnya Sheng
Jiadong Xing – Dokter Bai
Lei Hao – Wang Lan
Lynn Hung – Zhang Yu

Judul: The Last Women Standing
Sutradara: Luo Luo (cerita berdasarkan novel yang juga ditulis oleh Luo Luo)
Rilis: 6 November  2015
Durasi: 100 menit
Negara: Hongkong, China
Bahasa: Mandarin

The Crossing (Part 1 & 2)

Saya selalu menyukai film-film kolosal Cina, karena biasanya digarap dengan sinematografi yang megah. Salah satu hal yang membuat saya ingin sekali nonton film ini. Di tambah lagi, bintang-bintang utamanya juga sangat menjanjikan: , ( dan juga artis populer Korea, .  Plus sutradaranya juga salah satu sutradara kenamaan John Woo.
the crossing5
The Crossing mengambil latar cerita masa terjadinya Revolusi China yang ditandai dengan perseteruan  antara Partai Komunis yang berbasis di Shanghai dan Partai Nasionalis yang berbasis di Taiwan. Film ini mengambil beberapa tokoh yang takdirnya saling bersilang sengkarut di antara kekacauan itu. Zhaou Yunfen () adalah seorang gadis cantik pemain piano. Dalam sebuah pesta dansa, ia bertemu dengan Lei Yifang, komandan pasukan garis depan tentara nasionalis yang tampan dan pemberani. Dalam sekejap, mereka dimabuk cinta dan menikah. Ketika Yunfen hamil, perseteruan semakin meruncing. Yifang harus kembali memimpin di garis depan dan demi keamanan, Yunfen harus mengungsi ke Taiwan. Di Taiwan, Yifei tinggal di sebuah rumah Jepang dan menemukan jejak masalalu dari pemiliknya dulu.
the crossing

crossing1
Yu Zhen  (()adalah seorang gadis dari daerah buta huruf yang pergi ke Shanghai untuk mencari kekasihnya yang menjadi tentara dengan menjadi perawat. Karena yakin kekasihnya di Taiwan, ia pun mengumpulkan uang untuk membeli tiket kapal ke Taiwan dengan nyambi sebagai pelacur. Ia kemudian bertemu dengan Tong Daqing, seorang tentara muda yang ‘menyewanya’ untuk membuat foto keluarga demi mendapat tunjangan. Karena Yu juga berkepentingan untuk lebih mudah mendapatkan kamar sewa–yang hanya diperuntukkan bagi perempuan menikah–ia pun setuju dengan ajakan itu.  Tong adalah anak buah Yifang dan diam-diam jatuh cinta sungguhan pada Yu Zhen.
the crossing2
Zenkun ( ) adalah dokter yang pulang kampung ke Taiwan setelah terpaksa menjadi dokter pada ketentaraan Jepang selama masa Perang Dunia. Ia menyimpan kenangan masalalu akan kekasihnya yang orang Jepang, Masako ().  Ibunya yang trauma pada penjajahan Jepang, tak pernah merestui hubungan itu. Ketika kekacauan terjadi, keaksihnya pergi dan Zenkun tak pernah bisa melupakannya. Ia pun kemudian menjalin persahabatan dengan Yunfen, yang sekarang tinggal di rumah Masako.
the crossing6
Seperti ekspektasi saya di awal, ini adalah sebuah film bertema perang yang terasa cukup wah. Latar masalalu dan suasana perang terlihat meyakinkan. Durasi film ini juga tak main-main karena disuguhkan ke dalam 2 bagian yang masing-masing bagian tak kurang dari 2 jam. Sayangnya, sinematografi dan durasi yang ‘wah’ itu ternyata tidak didukung dengan cerita yang kuat.


Penggunaan beberapa karakter sekaligus,menurut saya membuat pembuat film ini seolah keteteran menggarap masing-masing cerita. Beberapa karakter terasa menggantung dan tidak ‘penting.’ Yu Zhen yang digambarkan begitu ‘mati-matian;’ mencari kekasihnya pada akhirnya berujung tanpa klimaks, Zenkun dengan kenangan masalalunya… Cerita yang sedikit solid adalah kisah Yunfen-Yifei, meski juga kisahnya terasa standar. Penggunaan jajaran aktor terkenal menjadi terkesan agak wasted. Beberapa adegan (spoiler: terutama saat kapal tenggelam) terasa terlalu berlama-lama dan menjadi pengulangan yang agak melelahkan. Yah, mungkin karena saya berekpektasi banyak ketika hendak menonton film ini sehingga usai menontonnya saya merasa cukup kecewa. Tapi secara umum, ini bukan film yang buruk, kok.

Cast:
– Yu Zhen
– Yan Zenkun
– Zhou Yunfen
Huang Xiaoming –  Lei Yifang
Tong Dawei – Tong Daqing
– Masako Shimura

Judul: The Crossing
Sutradara: John Woo
Produser: Terence Chang
Penulis: John Woo, Su Chao-pin, Chen Ching-hui
Musik: Taro Iwashiro
Sinematografi: Zhao Fei
Editing: John Woo, Kai Kit-Wai, David Wu
Produksi: Beijing Gallop Horse Film, Le Vision Pictures, China Film Group Corporation, Huayi Brothers, Yoozoo Entertainment, Beijing Cultural & Creative Industry Investment Fund Management, Dongyang Mighty Allies Movie & Culture, Huace Pictures (Tianjin), Beijing Phenom Films, China Movie Channel, Galloping Horse Culture & Media, Lion Rock Productions
Rilis: 2 Desember 2014 (Part I), 30 Juli 2015 (Part II)
Durasi: 128 menit
Negara: China, Hongkong
Bahasa:Mandarin/ Jepang

Awards:
Hong Kong Film Awards 2015:
– Best Film Editing
– Best Sound Design
– Nominasi: Best Art Direction, Best Original Film Score, Best Cinematography, Best Costume & Make Up Design

Hong Kong Film Critics Society Awards 2015:
– Film of Merit

Huading Award 2015:
– Nominasi: Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture (Feihong Yu, Dawei Tong)

The Banquet

November 16, 2015 Tinggalkan komentar

Pangeran Wuluan adalah putra mahkota. Wan Kecil () pelayan istana. Keduanya saling jatuh cinta. Namun, ayah Wuluan, sang Kaisar kemudian mempersunting Wan Kecil dan menjadikannya permaisuri. Wuluan kemudian meninggalkan istana, menenggelamkan diri dengan mempelajari seni musik dan tari. Beberapa tahun kemudian, Kaisar terbunuh. Wan Kecil segera memanggil Wuluan untuk kembali, namun ternyata pembunuhan atasnya sudah direncanakan.

Zhang Ziyi yang main bagus sebagai Wan

Zhang Ziyi yang main bagus sebagai Wan

the banquet4
Tahta segera diambil alih adik kaisar, Li, yang juga ingin mempersunting Wan.  Wan mau diperistri Li dengan syarat, Wuluan dibebaskan. Kembalinya Wuluan menambah kekisruhan perebutan kekuasaan di istana. Wan dengan segala taktik berusaha untuk mempertahankan kekuasaan demi cintanya pada Wuluan, namun di sisi lain Li juga terlalu kuat.

Pangeran Wuluan yang dirundung patah hati

Pangeran Wuluan yang dirundung patah hati

Lagi-lagi sebuah cerita tentang intrik-intrik politik yang kelam dibalut dengan kisah cinta yang tragis. Sebuah cerita yang terjalin rapi ditambah sinematografi khas  film-film kolosal China yang megah dan sophicasted, serta permainan apik dari para pemerannnya, terutama yang menunjukkan kualitas akting maksimal seperti biasa. Ada beberapa bagian yang diekskusi kurang memuaskan, but afterall, it’s good movie!
Sinopsis The Banquet (2006)
Quote:
Wan     : why do you wear a mask when you perform?
Wuluan: it transports an actor to the highest state of his art. without a mask  happiness, anger, sorrrow and joy are simply written on his face. but with a mask, a great artist can convey to the audience the most complex and hidden emotions.
………………………………
Wan: (…) You are incapable of even the most basic play-acting. Your sorrow, anger, bitterness and uncertainty are there for all to see. you follow danger to follow you everywhere.you think hiding behind a mask can elevate your art? the highest level is to use your own face and turn it into a mask

Poison Seller: : The poison is thousand times deadlier than arsenic.
…..
Wuluan: So nothing is more poisonous?
Poison Seller: : No
Wuluan: what can be more lethal than this?
Poison Seller: the human heart

Cast:
– Permaisurti Wan
You Ge – Kaisar Li
Daniel Wu –  Wu Luan
Zhou Xun – Qing Nu
Jingwu Ma – Menteri Yin Taichang
Huang Xiaoming – Jendral Yin Sun
Zhonghe Zhou – Kasim
Zeng Qiusheng – Pei Hong
Xu Xiyan – Ling

Judul: The Banquet/ 夜宴 (Ye yan)
Sutradara: Feng Xiaogang
Penulis: Gangjian Qiu
Produser: John Chong, Zhongjun Wang
Sinematografi: Li Zhang
Rilis: 30 Agustus 2006
Durasi: 131 menit
Studio: Huayi Brothers, Media Asia Films
Bahasa/ Negara: Mandarin/China

Awards:

Asia-Pacific Film Festival 2006:
– Best Cinematography (Li Zhang)
– Nominasi: Best Actress ()

Asian Film Awards 2007:
–  Best Production Designer (Tim Yip)
– Nominasi Best Actress ( )

Venice Film Festival 2006:
– Future Film Festival Digital Award – Special Mention (Xiaogang Feng)

Golden Horse Film Festival 2006:
– Best Art Direction (Tim Yip), Best Makeup & Costume Design (Tim Yip)
– Nominasi: Best Cinematography, Best Original Film Score (Dun Tan), Best Original Film Song
(Dun Tan, Xun Zhou (singer) For the song “Song by the Yue girl”)
etc, see imdb.com

Confession of Pain

Maret 17, 2015 Tinggalkan komentar

Lau ( ) dan Bong ( ) adalah dua karib di kepolisian. Ketika kekasih Bong, Rachel tewas bunuh diri, Bong menjadi kacau dan mengundurkan diri dari kepolisian. Di tengah kehidupannya yang diisi dengan mabuk-mabukan, ia menjadi detektif. Sementara Lau menjalani hidup stabil di kepolisian dan membangun keluarga harmonis dengan menikahi seorang fotografer, Susan.
Sinopsis Confession of Pain (2006)
Ketika ayah Susan tewas terbunuh, Bong menyelidiki kasus ini dan menemukan rahasia kelam Lau. Di sisi lain, ia juga mulai bisa move on dari Rachel setelah bertemu Hung (), seorang gadis bar yang ceria.
cp0
Sebuah cerita yang mencoba memadukan crime, misteri dan romance. Dengan didukung aktor-aktor mumpuni sekelas , dan , tentu tak ada yang perlu diragukan dari segi akting. g yang memang memiliki ekspresi multi intrepretasi, sangat cocok memerankan Lau yang misterius. Demikian juga Takeshi, walaupun karakternya sendiri memang tak terlalu kuat, tapi juga main sesuai porsi (and he seems so good looking:)) dan dengan karakter cerianya selalu membuat cair suasana.
cpy
Ceritanya sendiri cukup rapi dan solid, tapi sayangnya pada 3/4 bagian sebenarnya misteri sudah terkuak, sehinga pada 1/3 bagian cerita rasanya sudah agak hambar karena kejutannya sudah muncul di depan. Tapi layak tonton kok 🙂
cp
Cast:
– Lau Ching-hei
– Yau Kin-bong
– Hung
Xu Jinglei – Susan Chow

Chapman To – Tsui Wing-kwong
Elliot Ngok – Chow Yuen-sing
Emme Wong – Rachel
Wan Yeung-Ming – Uncle Man
Wayne Lai – Chan Wai-keung
Ricky Chan – Lai Sun-wah
Ben Yuen – Wong Ming
Cheung Kam-ching – Chan Wing-fu
Elena Kong -istrinya Chan Wing-fu

Judul: Confession of Pain/ Sung sing (伤城)
Sutradara: Andrew Lau, Alan Mak
Produser: Andrew Lau, Cheung Hong-tat
Penulis: Felix Chong, Alan Mak
Musik: Chan Kwong-wing
Sinematografi: Andrew Lau, Lai Yiu-fai
Editing: Azrael Chung
Produksi: Media Asia Films, Sil-Metropole Organisation, Basic Pictures
Distributor: Media Asia Distribution
Rilis: 21 Desember 2006
Durasi: 110 menit
Negara: Hong Kong
Bahasa: Kanton

Awards:
– Asian Film Awards 2007: Nominasi: Best Cinematographer
– Hong Kong Film Awards 2007 : Best Cinematographer, Nominasi: Best Actor ( ), Best Screenplay, Best Film Editing, Best Art Direction, Best Costume & Make Up Design, Best Original Film Score

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar