Arsip

Archive for the ‘Film Korea’ Category

The Net

Chul-woo () adalah seorang nelayan Korut yang hidup sederhana bersama istri dan anaknya. Sehari-hari, ia mencari ikan di daerah perbatasan antara Korut dan Korsel. Suatu hari, ketika tengah melaut, mendadak kapalnya rusak dan memasuki perairan Korsel. Ia pun kemudian ditangkap oleh penjaga perbatasan Korsel dan dikemudian diinterogasi karena disangka mata-mata.

the net

the net (4)

Investigasinya sendiri berjalan intimidatif, karena beberapa petugas punya kepentingan sendiri jika bisa menangkap mata-mata. Mereka tak ingin percaya bahwa Chul-woo betul-betul hanya nelayan biasa seperti pengakuannya. Tapi Chul-woo yang memang bukan mata-mata, bersikukuh dengan pengakuannya meski kadang harus menerima kekerasan. Oh Jin-woo (), salah seorang petugas yang ditugasi mengawasi Chul-woo, adalah satu-satunya orang yang percaya padanya.

the net (5)

Ketika akhirnya Chul-woo bebas dari tuduhan mata-mata, persoalan tak lantas selesai. Pihak Korsel enggan mengembalikannya ke Utara (kepentingan politik tentunya) dan membujuk Chul-woo agar mau mengajukan permohonan jadi warga Korsel, lengkap dengan iming-iming kemajuan dan kebebasan. Yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Chul-woo karena ia ingin kembali pada anak istrinya. Meski berbagai cara ditempuh agar ia berubah pikiran, tapi Chul-woo tetap keukeuh ingin kembali ke Utara. Namun ketika akhirnya pihak Korsel menyerah dan Chul-woo berhasil kembali ke Utara, persoalan tak lantas selesai. Pihak Karena baru kembali dari Korsel, pihak Korut mencurigai kalau Chul-woo sudah menjadi mata-mata Korsel.

the net (2)

Hmm… ribet ya. Begitulah kalau kepentingan politik sudah mengambil alih, orang-orang biasa yang awam dan tahu apa-apa, kemudian sering jadi korbannya. Dan menurut saya film ini memotret situasi itu dengan bagus sekali. Meski film ini adalah buatan Korsel, tapi menurut saya memotretnya dengan cukup berimbang. Berbeda dengan beberapa film Korsel bertema perseteruan dengan Korut yang seringkali agak-agak condong ke Korselnya. Dan karenanya, untuk ke sekian kalinya, saya salut sama , yang selalu konsisten menyajikan film-film yang cenderung out of the box. Film ini, sebagaimana khas film-filmnya, cenderung minimalis, tapi begitu intens.

the net (1)

Dan tentu juga itu didukung permiainan bagus castnya, di mana di sini cast utamanya adalah aktor yang memang sudah akrab dengan kemampuan akting bagusnya, (sayang bahwa belakangan dia membatasi diri berakting karena katanya dia merasa kehilangan makna) dan juga yang patut diacungi jempol adalah aktor muda yang jadi Oh Jin -woo. Aktingnya sih nggak bisa dibilang stellar, tapi beberapa waktu lalu saya baru lihat akting dia di film , dan menurut saya, di sini ia mampu menampilkan kemampuan aktingnya yang berbeda.

Cast:
– Chul-woo
– Oh Jin -woo
Kim Young-min – petugas investigasi
Lee Eun-woo – istrinya Chul-woo

Judul: The Net (Geumool)
Sutradara & Penulis:
Rilis: 31 Agustus 2016 (Venice FF)
Durasi: 114 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Iklan

The Bacchus Lady

So-young () adalah perempuan tua yang hidup sendiri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai bacchus lady, yakni menjual minuman berenergi (merk Bacchus) sembari menjajakan diri. Pendeknya, ia adalah PSK. Langganannya adalah para lelaki tua yang kebanyakan juga hidup sendiri dan kesepian seperti dirinya. Pada orang-orang, ia mengaku kalau ia bekerja untuk membiayai anaknya yang kuliah di Amerika, tapi sebenarnya, ia tak punya siapa-siapa.

bclady (4)

Suatu hari, ketika sedang memeriksakan diri ke rumah sakit karena kena penyakit kelamin, ia bertemu dengan seorang bocah keturunan Filipina, Kang Min-ho, yang terpisah dari ibunya. Ibu Min-ho dipenjara karena menusuk seorang dokter yang sebenarnya adalah ayah biologisnya Min-ho. Jatuh iba, meski tak punya banyak uang, So-young merawat dan menjaga Min-ho dengan dibantu dua tetangga baiknya, Do-hoon (), seorang lelaki berkaki palsu dan Tina, seorang penyanyi klub.

bclady (3)

Di antara kesehariannya melayani para lelaki tua, tak urung So-young mendengar tentang cerita-cerita sedih mereka. Bagaimana mereka merasa kesepian dan tak berharga lagi untuk hidup dan karenanya, ingin mengakhiri hidupnya.

bclady (10)

Huu.. sedih sih ceritanya. Dan yang lebih sedih karena cerita film ini memang diinspirasi dari kisah nyata. Konon, di Korea, meski dikenal sebagai negara industri yang maju, tapi di sisi lain juga memiliki sisi ironis terkait kehidupan para lansia-nya. Anak-anak generasi industri seperti ‘tenggelam’ di dunia modern, sementara orang-orang tua yang tak lagi produktif seolah terbaikan dan harus menghidupi diri sendiri (ada yang merasa malu kalau harus membebani anak-anaknya) dan seperti di film ini, bisa saja jadi bacchus lady atau depresi karena kesepian.

bclady (13)

Dan sebenarnya nggak cuma di Korea sih, menua, sendirian dan kesepian sebenarnya adalah kisah yang terasa universal. Di belahan dunia mana saja, saya pikir cerita semacam ini bisa ditemukan. Dan bahwa film ini berusaha ‘mengusik’ kita dengan cerita semacam ini, merupakan hal yang patut diapresiasi. Apalagi di film ini, selain isu lansia, banyak isu humanisme lain yang diselipkan seperti isu migran (melalui kasus Min-ho dan ibunya) dan juga karakter orang-orang minoritas (Dong-hoon yang cacat dan Tina yang penyanyi klub). Bagusnya lagi, film ini meski ceritanya sedih, tapi nggak jatuh jadi cerita yang melodramatic. Dan meski juga mengangkat banyak isu, tapi tetap pas dan nggak terkesan ambisius.

Good movie!

Cast:
– So-young
Jeon Mu-song – Jae-voo
– Do-hoon

Judul: The Bacchus Lady/ Jookyeojooneun Yeoja
Sutradara & Penulis: Lee Je-young
Rilis: 12 Februari 2016 (Berlin FF)
Durasi: 111 menit
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

 

Method

Jae-ha () adalah seorang aktor teater senior. Suatu hari, ia diminta untuk memainkan sebuah peran yang melibatkan romance dengan sesama jenis. Lawan mainnya adalah Young-woo, penyanyi idol yang sedang terpuruk setelah mengalami kecelakaan. Young-woo berkarakter sok dan agak menyebalkan. Hal yang membuat Jae-ha yang profesional merasa kesal.

Method

Ia pun kemudian berusaha mengajari Young-woo untuk berakting dan mendalami karakternya dengan baik. Melihat akting Jae-ha yang begitu dalam, Young-woo pun terpukau dan tanpa sadar, melihat Jae-ha sebagai karakter yang ia mainkan dan jatuh cinta.

Method (2)

Di luar dunia panggung, Jae-ha adalah seorang suami dari, Hee-won, perempuan cantik yang juga pelukis. Keduanya terlihat hidup bahagia dan saling mencintai. Kehadiran Young-woo dan kedekatannya dengan Jae-ha, tak urung membuat hubungan mereka meretak. Hee-won menyadari bahva ada yang berubah dari Jae-ha.

Method (3)

Ketika melihat akting seorang aktor yang kadang begitu real atau begitu berani, tak urung saya sering bertanya-tanya, bagaimana kehidupan nyatanya ya? Hebat banget kalau ia benar-benar bisa membedakan mana yang akting dan mana yang nyata. Hebat banget juga pasangan aslinya di kehidupan nyata.

 

Dan mungkin, film ini ingin memberi gambaran sedikit tentang kehidupan seorang aktor yang kemudian susah membedakan mana dirinya yang asli dan mana yang hanya karakternya ketika berakting. Mungkin memang beneran ada sih aktor yang seperti karakter di film ini, dan jika memang iya, kasihan banget ya. Terutama kalau sudah menyangkut romance, kayak sosok Hee-won yang kemudian harus menderita menghadapi suaminya yang tiba-tiba menjadi ‘orang lain’ ketika masuk ke karakter yang ia mainkan. Kalau saya yang jadi Hee-won sih kayaknya mending nggak deh, haha…

Method (1)

Dari segi akting, jajaran cast di film ini bermain dengan apik. adalah aktor yang bagus, tapi entah kenapa, selama ini lebih sering cuma jadi supporting actor. Dan di film ini, pertamakalinya saya melihat dia menjadi lead actor dan menurut saya, penampilannya bisa diacungi jempol. Ia terlihat karismatis sebagai Jae-ha, aktor panggung yang terlihat berpengalaman dan juga memiliki sisi atraktif yang membuatnya pantas disukai baik oleh Hee-won maupun Young-woo. Pemeran Young-woo, meski adalah aktor yang nggak terkenal (ini pertamakali saya lihat aktingnya), tapi juga bermain bagus sebagai si idol yang agak arogan, tapi juga masih hijau dan gegabah.

Method (4)

Aktris Yoon Seung-ah yang jadi Hee-won, juga terlihat meyakinkan sebagai seorang seniman yang terlihat keren dan cantik. Chemistrynya dengan Jae-ha sebagai suami istri juga bagus, sehingga saya ikut merasa was-was ketika hubungan mereka terusik. sayang, usai nonton film ini, ada pertanyaan yang terus mngganjal pikiran saya. Hingga film usai, saya bingung, apa sih sebenarnya pesan yang ingin disampaikan pembuat film ini? Kok saya justru merasa agak frustatif karena rasanya nggak ada penyelesaian apa-apa. Meski diperlihatkan Jae-ha dan Hee-won kembali bersama (sori kalau spoiler), tapi juga nggak ada jaminan kalau Jae-ha bakal sepenuhnya ‘normal.’ Ia diceritakan memiliki metode akting yang ‘terlalu mendalami sebuah peran hingga terbawa ke kehidupan nyata’ artinya setelah pertunjukannya kali ini selesai, ia kemungkinan masih akan berubah lagi dan lagi untuk perannya yang lain. Hmm, melelahkan sekali membayangkannya.

Menurut saya, mending ending ceritanya agak ekstrem aja sekalian. Hee-won pergi atau Jae-ha yang berhenti berakting.., haha…

Cast:
– Jae-ha
Yoon Seung-ah – Hee-won
Oh Seung-hoon – Young-woo

Judul: Method
Sutradara & Penulis: Pang Eun-jin
Rilis: 13 Oktober 2017 (Busan FF)
Durasi: 82 menit
Distributor: At9 Film
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Forgotten

Jin-seok () menderita gangguan psikologis yang membuatnya oversensitif pada sekelilingnya. Bersama abangnya, Yoo-seok () dan kedua orangtuanya, mereka pindah ke rumah baru. Keluarga itu terlihat harmonis dan saling menyayangi. Hubungan Jin-seok dan abangnya sangat dekat dan ia merasa sedih, karena abangnya yang sempurna sekarang pincang setelah sebuah kecelakaan.

Forgotten (3)

Suatu malam yang berhujan, ketika sedang menunggu kepulangan ayah mereka, Jin-seok melihat Yoo-seok diserang sekelompok orang dan kemudian menghilang. Sembilan belas hari kemudian, Yoo-seok tiba-tiba pulang tapi Jin-seok menyadari bahwa abangnya itu telah berubah menjadi orang yang berbeda. Bahkan kedua orang tuanya juga mulai berubah. Tidak hanya itu, karena kemudian ia mendapati bahwa dirinya bukanlah seorang pemuda 21 tahun seperti yang ia kira, melainkan seorang lelaki berumur 40 tahun.

Forgotten

Forgotten (7)

Melihat poster film dan juga sinopsis singkatnya, saya sempat mengira ini adalah film horor atau thriller yang gelap. Dan karenanya, agak-agak was-was ketika hendak menontonnya takut kalau-kalau tiba-tiba ada kejutan seram. Tapi ketika melihat scene pertama film ini, karena gambarnya yang terlihat jernih dan tone-nya yang terasa warm, was-was saya agak berkurang. Dan semakin kesini, semakin hilang karena ternyata meski mengusung genre thriller, tapi cerita film ini terasa cukup hangat karena mengetengahkan latar cerita keluarga. Twistnya juga cukup tak terduga, dan diletakkan di tempat yang pas. , yang merupakan alasan utama saya nonton film ini, bermain bagus sebagai Jin-seok yang terkesan innocent dan oversensitif. juga bermain dengan pas. Bukan film yang sangat mengesankan, tapi overall, cukup layak tonton.

Cast:
– Jin-seok
– Yoo-seok
Moon Sung-hoon – Ayah
Na Young-hee – ibu

Judul: Forgotten/ Night of Memory/ Gieokui Bam
Sutradara & Penulis: Jang Hang-jun
Rilis: 29 November 2017
Durasi: 109 menit
Distributor: Megabox Plus M
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

The Swindlers

Adegan awal film dibuka dengan kekacauan yang terjadi karena kejatuhan saham. Para nasabah yang berinvestasi kemudian banyak yang bunuh diri. Jaksa Park Hae-soo ( )adalah jaksa ambisius yang ikut menangani kasus ini, dan kong kalikong dengan elit politik yang terlibat. Hwang Ji-sung () adalah seorang penipu ulung. Ayahnya yang juga penipu ulung, suatu malam ditemukan tewas gantung diri.

The swindlers (5)

The swindlers (6)

 

Park Hae-soo mencari seorang penipu bernama Jang Doo-chil. Ia membentuk tim yang beranggotakan 3 orang: Suk-dong(), Choon-ja dan Kim. Dalam pencarian Jang, mereka bertemu Ji-sung yang ingin balas dendam pada Jang yang diduga sebagai pembunuh ayahnya. Ji-sung pun kemudian diajak bergabung. Dalam prosesnya, Hae-soo menemukan bahwa ayah Ji-sung sebenarnya adalah orang yang ia bunuh. Berkat ketamakannya, ia pun kemudian menyusun rencana untuk mengadu domba Ji-sung dan Jang. Tapi Ji-sung adalah seorang penipu ulung. Kenyataannya, ia punya rahasia dan rencananya sendiri untuk menghancurkan Hae-soo.

The swindlers (3)

The swindlers (1)

Tak terlalu berekspektasi dengan film ini. Penasaran saja karena castnya terlihat cukup solid: , , , …Dari segi cerita, tak ada yang terlalu baru dari film ini. Menurut saya agak mirip-mirip film , yang dibintangi sama , sementara gaya penceritaannya agak mengingatkan saya sama film -nya . Castnya bermain cukup pas, tapi nggak tahu kenapa, ada sesuatu dari film ini yang terasa kurang greget. Melihat cast utamanya, dan , tadinya saya berharap bisa menemukan bromance dari dua orang yang berkarakter abu-abu (dan juga bromance dengan tim dektektifnya), tapi ternyata ke belakang karakter Park Hae-soo digambarkan begitu jahat dan terkesan dua dimensi. Karakternya juga terasa datar-datar saja, nggak ada kedalaman emosi yang dieksplorasi. Demikian juga dengan cast-cast lainnya, sehingga membuat saya yang nonton nggak terlalu punya ‘ikatan’ dengan karakter-karakternya di sini (saya jadi agak sedikit membandingkan dengan film The Merciless yang menurut saya menyajikan sisi itu dengan bagus). Not bad, tapi juga bukan film yang terlalu berkesan.

Cast:
– Hwang Ji-sung
– Park Hae-soo
– Ko Suk-dong
– Kwak Seung-gun
Nana – Choon-ja
– Kim
Choi Duk-moon – Lee Kang-suk’

Judul: The Swindlers / Ggoon
Sutradara & Penulis: Jang Chang-won
Rilis: 22 November 2017
Durasi: 117 menit
Distributor: Showbox
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

The Table

Seperti judulnya, film ini memang melibatkan meja, tepatnya, obrolan di atas meja. Berlatar meja di sebuah cafe yang cukup cozy, film ini menceritakan obrolan dari empat pasang tokoh utamanya. Obrolan pertama, adalah antara seorang artis terkenal, Yoo-jin (), yang ketemuan dengan mantan pacarnya di masa sebelum terkenal, Chang-suk, yang menjadi pekerja kantoran biasa. Obrolan mereka terasa agak canggung dengan Chang-suk yang terkesan mengagumi Yoo-jin seperti seorang fans.

The Table

Obrolan kedua, antara seorang perempuan cantik, Kyung-jin () dengan seorang lelaki yang senang berkelana, Min-ho. Kyung-jin berharap banyak dari Min-ho, dan terlihat insecure dengan keadaannya: karirnya, statusnya, usianya yang lebih tua dari Minho… Di sisi lain, Min-ho terlihat sebagai lelaki yang sangat percaya diri dan easy going. Obrolan ini berakhir manis, dengan Min-ho yang menunjukkan perasaan sebenarnya pada Kyung-jin.

The Table (5)

Ketiga, adalah seorang perempuan, Eun-hee (, yang menemui seorang perempuan yang akan dia sewa sebagai ibu palsu untuk pernikahannya.Tadinya si ibu menyangka, kalau Eun-hee adalah gadis matre yang berbohong untuk menikahi lelaki kaya. Tapi ternyata, lelaki yang akan dinikahinya adalah orang miskin dan karenanya, ia ingin memebuat pernikahan yang mengesankan. Si ibu kemudian ingin membantu dengan senang hati, karena gadis itu mengingatkannya pada putrinya yang telah meninggal.

The Table (8)

Obrolan terakhir adalah antara dua orang TTM-an, Hye-kyung () dan Woon-chul () yang membicarakan rencana pernikahan Hye-kyung. Keduanya sepertinya saling mencintai, tapi berbeda prinsip hidup. Di antara semua obrolan, menurut saya obrolan ini terasa paling natural. Dan meskipun cuma sebentar, terasa chemistry yang kuat antara keduanya. Dan saya pikir, karena akting bagus kedua pemainnya dan (saya jadi berharap kalau keduanya main drama bareng suatu saat).

The Table (1)

Filmnya sendiri bernuansa indie dengan cerita yang ‘sederhana’ dan sepertinya lebih menekankan pada gambar-gambarnya. Daya jualnya tentu pada castnya, yang memasang 4 aktris yang namanya cukup besar. Nggak tahu sih apa tujuan sutradaranya buat film ini. Mungkin sekadar ingin buat film saja, hehe.

Cast:
– Yoo-jin
– Eun-hee
– Kyung-jin
– Hye-kyung
– Sook-hee
– Woon-chul
Jung Joon-won – Chang-suk
Jeon Sung-woo – Min-ho

Judul: The Table
Sutradara/ Penulis: Kim Jong-kwan
Rilis: Oktober 2016 (Busan FF)
Durasi: 70 menit
DiSstributor: At9 Film
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Psychokinesis

Suk-hun ( ) adalah seorang lelaki looser yang meninggalkan anak-istrinya, karena merasa tak mampu menghidupi mereka. Sekarang, putrinya, Ru-mi (), sudah devasa dan hidup cukup mapan bersama ibunya dengan berjualan ayam goreng. Tapi ketenangan itu terusik karena tempat jualan mereka terancam digusur karena ada pengusaha serakah yang hendak mengubahnya jadi tempat wisata. Tak hanya itu, karena ibu Ru-mi juga kemudian meninggal. Suk-hun pun datang untuk melindungi Ru-mi. Apalagi, ia tiba-tiba punya kekuatan super usai minum air di pegunungan. Ia bisa menggerakkan benda-benda dengan hanya menggerakkan tangannya.

Physiconesis (2)

Physiconesis (1)

Dengan kemampuannya, Suk-hun pun kemudian berusaha membantu Ru-mi dan juga orang-orang yang hendak digusur mempertahankan tempat mereka. Hal yang sama sekali tak mudah karena lavannya adalah pengusaha yang berkuasa dan serakah.

Physiconesis (4)

Physiconesis (5)

Ini merupakan bagian terakhir dari triloginya sutradara , setelah dua film sebelumnya, Seoul Station dan . Secara cerita, sebenarnya tidak ada hubungannya sih dengan dua film sebelumnya, tapi secara tema, sama-sama mengangkat cerita hubungan ayah dan putrinya dan juga unsur fantasi yang jadi bumbu film. Dibandingnkan dua filmnya yang bisa dibilang murni fantasi, film ini lebih terasa ‘nyata’ karena mengangkat isu penggusuran. Setelah melihat film-film sutradara ini sebelumnya, tentu tak ada yang diragukan dari kemampuannya dengan gaya penyutradaraan yang unik dan khas. Terutama gayanya yang agak-agak satir. Berbeda dengan cerita tentang manusia super pada umumnya, sosok superhero dalam film ini tidak bisa dibilang hero-hero amat kalau tak mau dibilang antihero. Suk-hun digambarkan sebagai lelaki yang kalah, ayah yang payah dan bahkan sangat canggung memanfaatkan kekuatan supernya. Isu penggusurannya menurut saya agak terkesan ambisius apalagi ada ‘pertempuran’ dengan aparat segala macam, tapi karena sentuhan satir dan gaya main-mainnya sutradara Yeon dengan tokoh utamanya, hal itu menjadi cukup termaafkan. Dibandingkan atau , film ini mungkin terasa ‘lemah’, tapi menurut saya tetap layak diapresiasi.

Physiconesis (3)

Dari segi akting, saya menyukai semua castnya yang cukup solid. , tentu tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Sementara aktris, juga mampu mengimbanginya dengan baik. Beberapa waktu lalu, saya sempat dibuat meringis lihat akting dia yang menurut saya sangat annoying sebagai Nodome Cantabile versi Korea dan konon, ia sendiri juga menyadarinya dan sempat berpikir untuk berhenti dari dunia akting (ia sempat vakum dari dunia akting selama beberapa waktu). Untunglah, sepertinya ia sudah kembali menemukan ‘jalannya’. Meskipun aktingnya belum terlalu matang, tapi ia terlihat cukup smart dalam memilih proyek-proyek filmnya yang hampir selalu melibatkan sutradara dan aktor dengan nama besar. Dengan usianya yang realtif masih sangat muda, saya pikir ia punya masadepan cerah sebagai aktris besar dalam perfilman Korea. Cast lainnya, ada yang juga bermain dengan pas dan lovable. Kemudian juga yang juga cukup berhasil memerankan sosok antagonis. Overall, film yang lumayan.

Cast:
– Shin Suk-hun
– Shin Ru-mi
– Kim Jung-hyun
Kim Min-jae – CEO Min
– Direktur Hong
Yoo Seung-mook – Mr Kim
Lee Jung-eun – istrinya Mr Kim
Kim Young-sun – Ibunya Ru-mi

Judul: Psychokinesis/ Yemryuk
Sutradara & Penulis:
Rilis: 31 Januari 2018
Durasi:101 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea selatan/Korea

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar