Arsip

Archive for the ‘Film Keluarga’ Category

Psychokinesis

Suk-hun ( ) adalah seorang lelaki looser yang meninggalkan anak-istrinya, karena merasa tak mampu menghidupi mereka. Sekarang, putrinya, Ru-mi (), sudah devasa dan hidup cukup mapan bersama ibunya dengan berjualan ayam goreng. Tapi ketenangan itu terusik karena tempat jualan mereka terancam digusur karena ada pengusaha serakah yang hendak mengubahnya jadi tempat wisata. Tak hanya itu, karena ibu Ru-mi juga kemudian meninggal. Suk-hun pun datang untuk melindungi Ru-mi. Apalagi, ia tiba-tiba punya kekuatan super usai minum air di pegunungan. Ia bisa menggerakkan benda-benda dengan hanya menggerakkan tangannya.

Physiconesis (2)

Physiconesis (1)

Dengan kemampuannya, Suk-hun pun kemudian berusaha membantu Ru-mi dan juga orang-orang yang hendak digusur mempertahankan tempat mereka. Hal yang sama sekali tak mudah karena lavannya adalah pengusaha yang berkuasa dan serakah.

Physiconesis (4)

Physiconesis (5)

Ini merupakan bagian terakhir dari triloginya sutradara , setelah dua film sebelumnya, Seoul Station dan . Secara cerita, sebenarnya tidak ada hubungannya sih dengan dua film sebelumnya, tapi secara tema, sama-sama mengangkat cerita hubungan ayah dan putrinya dan juga unsur fantasi yang jadi bumbu film. Dibandingnkan dua filmnya yang bisa dibilang murni fantasi, film ini lebih terasa ‘nyata’ karena mengangkat isu penggusuran. Setelah melihat film-film sutradara ini sebelumnya, tentu tak ada yang diragukan dari kemampuannya dengan gaya penyutradaraan yang unik dan khas. Terutama gayanya yang agak-agak satir. Berbeda dengan cerita tentang manusia super pada umumnya, sosok superhero dalam film ini tidak bisa dibilang hero-hero amat kalau tak mau dibilang antihero. Suk-hun digambarkan sebagai lelaki yang kalah, ayah yang payah dan bahkan sangat canggung memanfaatkan kekuatan supernya. Isu penggusurannya menurut saya agak terkesan ambisius apalagi ada ‘pertempuran’ dengan aparat segala macam, tapi karena sentuhan satir dan gaya main-mainnya sutradara Yeon dengan tokoh utamanya, hal itu menjadi cukup termaafkan. Dibandingkan atau , film ini mungkin terasa ‘lemah’, tapi menurut saya tetap layak diapresiasi.

Physiconesis (3)

Dari segi akting, saya menyukai semua castnya yang cukup solid. , tentu tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Sementara aktris, juga mampu mengimbanginya dengan baik. Beberapa waktu lalu, saya sempat dibuat meringis lihat akting dia yang menurut saya sangat annoying sebagai Nodome Cantabile versi Korea dan konon, ia sendiri juga menyadarinya dan sempat berpikir untuk berhenti dari dunia akting (ia sempat vakum dari dunia akting selama beberapa waktu). Untunglah, sepertinya ia sudah kembali menemukan ‘jalannya’. Meskipun aktingnya belum terlalu matang, tapi ia terlihat cukup smart dalam memilih proyek-proyek filmnya yang hampir selalu melibatkan sutradara dan aktor dengan nama besar. Dengan usianya yang realtif masih sangat muda, saya pikir ia punya masadepan cerah sebagai aktris besar dalam perfilman Korea. Cast lainnya, ada yang juga bermain dengan pas dan lovable. Kemudian juga yang juga cukup berhasil memerankan sosok antagonis. Overall, film yang lumayan.

Cast:
– Shin Suk-hun
– Shin Ru-mi
– Kim Jung-hyun
Kim Min-jae – CEO Min
– Direktur Hong
Yoo Seung-mook – Mr Kim
Lee Jung-eun – istrinya Mr Kim
Kim Young-sun – Ibunya Ru-mi

Judul: Psychokinesis/ Yemryuk
Sutradara & Penulis:
Rilis: 31 Januari 2018
Durasi:101 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea selatan/Korea

Iklan

A Day

Maret 31, 2018 Tinggalkan komentar

Kim Joon-young () adalah seorang dokter terkenal dan dikagumi banyak orang. Meskipun sangat menyayangi putrinya, Eun-jung, tapi selama ini ia bukanlah ayah yang baik karena kurang perhatian. Suatu hari, sepulang dari luar negeri dan hendak merayakan ultah Eun-jung, Kim mendapati putrinya yang tewas karena kecelakaan. Tidak hanya itu, karena setiap kali itu pula, waktu tiba-tiba berputar kembali ke belakang, pada beberapa jam sebelum kecelakaan.

A Day

A Day (2)

Selain Kim, ternyata ada dua orang lagi yang terjebak dalam mesin waktu ini. Lee Min-chu ()l, sopir ambulans yang istrinya Mi-kyung (), ikut menjadi korban kecelakaan karena naik taksi yang menbrak Eun-jung, dan juga Kang-sik (), si sopir taksi yang ternyata memiliki dendam masa lalu pada Kim dan Min-chul. Bertiga, mereka pun berusaha menemukan cara agar bisa berdamai dengan waktu dan mengubah keadaan.

A Day (5)

A Day (3)

Film bertema mesin waktu tentulah bukan hal yang baru. Selain latar cerita, eksekusi ending tentulah menjadi hal yang paling penting dalam film jenis ini agar cerita menjadi menarik dan tidak repetitif. Dan menurut saya, film ini berhasil memadukan keduanya dengan baik. Ceritanya menarik, disajikan dengan menarik dan endingnya juga sangat memuaskan. Plotnya begitu intens dan cepat, tapi bagian-bagian pentingnya disajikan dengan baik. Tone gambar-gambarnya jernih dan terasa warm sehingga enak dilihat. Castnya terasa solid karena memang diperankan oleh aktor-aktor bagus yang meski mungkin tidak bisa sebagai aktor dengan nama besar, tapi memiliki track record sebagai aktor yang talented &  berkualitas. Mulai dari , , … semua berakting dengan pas, meski menurut saya, akting terbaik diberikan oleh . Emosi-emosinya ketika melihat atau membayangkan tragedi yang menimpa putrinya terasa begitu real, sehingga membuat saya yang menonton juga ikut-ikutan emosional.

A Day (1)

bermain bagus, dan mampu keluar dari karakter yang pernah dimainkan sebelumnya. Hanya saja, pada beberapa bagian, menurut saya aktingnya agak over the top. Tapi mengingat bahwa dia memang bisa dibilang masih junior di dunia seni peran, saya bisa memakluminya. Menurut saya, dia adalah aktor muda berbakat dan saya juga mengapresiasi pilihan-pilihan filmnya yang lumayan bagus-bagus. Sementara aktor , karena memang bukan karakter utama, scenenya memang terbatas, tapi seperti biasa, menunjukkan aktingnya yang prima. Pemeran lain yang juga patut diacungi jempol adalah aktris cilik yang memerankan Eun-jung. Aktingnya sangat natural sebagai gadis kecil yang agak keras kepala dan periang. Dan chemistry ayah-anak, meski nyaris nggak ada scene bareng (kebanyakan hanya melalui percakapan telepon), terasa real. Recommended!

Cast:
– Kim Joon-young
– Lee Min-chul
– Kang-sik
– Mi-kyung (istrinya Min-chul)
Jo Eun-hyung – Eun-jung

Judul: A Day/ Haroo
Sutradara: Jo Sun-ho
Penulis: Jo Sun-ho, Lee Sang-hak
Sinematografer: Kim Ji-yong
Rilis: 15 Juni 2017
Durasi: 90 menit
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

I Can Speak

Maret 29, 2018 Tinggalkan komentar

Ketika membaca tentang rencana pembuatan film ini, saya sempat agak heran ketika nama muncul  sebagai cast utamanya . Dari sinopsis dan judulnya, saya kira ini adalah film bergenre komedi keluarga yang ringan dan lucu-lucuan. Pasalnya, setahu saya adalah aktor yang terbilang sangat selektif dalam memilih proyek-proyek filmnya, yang bisa dibilang genrenya serius-serius atau bisa dibilang, selalu ‘berisi’. Yang agak ringan seperti atau pun juga tidak bisa dibilang sebagai film yang benar-benar ‘ringan’ karena ada pesan yang cukup kuat. Tapi kemudian saya pikir, karena dia baru usai dengan film yang serius (Anarchist from Colony), mungkin dia mau ambil peran yang lebih light. Tapi dugaan saya bisa dibilang meleset besar, karena film ini sendiri, meski berusaha disajikan dengan ringan, tapi isu yang diusungnya sama sekali tidak ringan. Sangat serius malah. Karena tema utamanya (sori spoiler) adalah tentang nasib para perempuan yang pernah jadi budak seksnya tentara Jepang.

i can speak_5

di sini berperan sebagai Park Min-jae, seorang pegawai pemerintahan yang menangani keluhan masyarakat. Ia sebenarnya seorang yang pintar dan pernah kuliah keluar negeri, tapi karena keadaan (orangtuanya meninggal dan ia harus menghidupi adiknya yang beranjak remaja), ia menyerah pada mimpinya dan memilih mencari pekerjaan yang ‘mudah.’ Di tempat inilah, ia bertemu Nenek Ok-boon ( ), perempuan tua yang tak henti menyampaikan keluhan. Hal yang membuat semua orang merasa jengah.

i can speak_4

i can speak_3

Di balik kecerewetannya, Nenek Ok-boon sebenarnya adalah orang yang baik. Ia tinggal sendiri di daerah pasar dan sangat peduli pada tetangga-tetangganya yang kebanyakan adalah para bibi yang berjualan. Ia juga sangat ingin bisa bahasa Inggris, karena katanya, ingin menemui adik lelakinya yang diadopsi oleh keluarga Amerika. Tapi ia kesulitan belajar di tempat kursus karena kebanyakan muridnya masih muda-muda. Tannpa sengaja, Nenek Ok-boon tahu kalau Min-jae ternyata pintar bahasa Inggris dan kemudian, merayu-rayu agar Min-jae mau jadi guru privatnya. Min-jae yang punya kesan kurang menyenangkan pada Nenek Ok-boon, awalnya menolak permintaan ini. Tapi ketika ia kemudian tahu sisi lain si nenek, ia pun akhirnya bersedia menjadi guru privatnya. Hubungan yang manis pun terjalin. Dan tidak hanya itu, karena kemudian Min-jae jadi tahu masalalu kelam Nenek Ok-boon yang ternyata pernah jadi budak seks Jepang dan sedang berusaha memperjuangkan keadilan.

i can speak_1

i can speak_6

Hmm, yah, terkesan’berat’ dan mungkin agak ambisius ceritanya. Tapi tenang saja, karena sang sutradara film ini sangat lihai mengolah alur dan ceritanya sedemikian rupa sehingga tetap terasa cair dan tidak deperesif. Tetap menyentuh tanpa perlu penyajian yang terlalu dramatis. Karakter-karakternya terasa utuh dan tidak cengeng. Tentu hal ini tak lepas dari permainan bagus aktor veteran . bermain bagus, meski tidak bisa dibilang mengesankan. Mungkin juga karena perannya di sini hanya sebagai supporting, sehingga pengkarakterannya juga tak terlalu kuat. Tapi saya salut lah sama dia, karena konsisten dengan pemilihan proyek-proyek filmnya yang qualified. Pemain-pemain pendukungnya, meski bukan aktor-aktor dengan nama besar, tapi juga bermain dengan pas, terutama bibi-bibi pasar. Dan menurut saya, semua hal di film ini memang terasa ‘pas’ dan bersahaja. Castnya, alur, latar, plot,karakter-karakternya perpaduan antara humor dan melodrama….semuanya terasa pada tempatnya. Nggak muluk-muluk, nggak ada kesan sebagai film yang wah, tapi di sisi lain, juga sangat berisi dengan pesan moral tentang humanisme yang jelas. Menurut saya, jauh lebih bagus dari film-film dengan budget besar dan terkesan grande yang rilis di waktu hampir bersamaan seperti Battleship Island, misalnya. Wajar jika kemudian film ini mendapat beberapa penghargaan di beberapa ajang penghargaan, termasuk kategori Best Director.

Catatan:
Ini adalah film Korea berikutnya yang mengangkat tema tentang tuntutan keadilan bagi para perempuan yang pernah jadi korban budak seks Jepang setelah sebelumnya ada film Spirit’s Homecoming (produksi tahun 2016) yang menurut saya juga digarap dengan keren banget (kalau nggak salah kedua sutradara ini sama-sama orang KAFFA, kayak organisasi sineas Korea yang agak-agak indie gitu). Dan saya merasa salut sih sama sineas Korea yang concern dengan isu-isu humanisme semacam itu dan dengan kreatif menyuarakannya dalam bentuk film. Kalau ditelusuri, sebenarnya Indonesia (dan banyak negara yang pernah dijajah Jepang) juga punya isu yang sama (Jugun Ianfu), hanya saja, sepertinya selama ini nggak pernah mendapat perhatian serius. Padahal kalau dipikir, kasihan banget ya para perempuan yang jadi korban masa itu 😦

Cast:
– Na Ok-boon
– Park Min-jae

Sung Yoo-bin – Young-jae (adiknya Min-jae)
Yum Hye-ran – Jinjoo-daek (tetangganya Ok-boon)
Lee Sang-hee – Hye-jung (tetangganya Ok-boon)
Jung Yeon-joo – A-young (ce rekan kantor Min-jae)
Lee Ji-hoon – Jong-hyun
Park Chul-min – Manajer Yang
Son Sook – Jung Shim
Kim So-jin – Keum-joo
Choi Soo-in – Na Ok-boon (muda)
Lee Jae-in – Jung Sim muda

Judul: I Can Speak/ Ai Kaen Seupikeu
Sutradara:
Penulis: , Yoo Seung-hee
Sinematografi: Yoo Eok
Rilis: 21 September 2017
Durasi: 119 menit
Distributor: Lotte Entertaintment, Little Big Pictures
Negara/Bahasa: Korea/ Korea Selatan

Awards:
Blue Dragon Film Awards 2017: Best Director, Best Actress ( ), Popularity Award ( )
The Seoul Awards 2017: Best Actress ( )

 

Daddy You, Daughter Me

November 13, 2017 Tinggalkan komentar

Do-yeon (), seorang remaja SMA. Seperti umumnya remaja, ia sedang dalam masa transisi dan sikapnya cenderung jutek, terutama terhadap ayahnya. Sang Ayah () pun sering merasa kesal karena tak memahami sikap Do-yeon.

Daddy Daughter-2

Suatu hari, ia dan ayahnya mengalami kecelakaan dan hal itu membuat mereka mengalami pertukaran tubuh. Ayah anak ini pun kemudian harus bertukar peran. Sang ayah yang berada di tubuh Do-yeon, harus menjadi anak SMA. sementara Do-yeon menjadi ayahnya yang harus bekerja di kantor.

Daddy Daughter-4

Proses pertukaran peran ini pun kemudian membuat keduanya menjadi lebih memahami satu sama lain, dan akhirnya membuat hubungan mereka lebih baik.

 

Daddy Daughter-3

Sebuah film bertema keluarga yang ‘sederhana’ dan dikemas dalam cerita berbau fantasi. Plotnya sendiri terasa biasa saja dan jalinan ceritanya standar belaka. Tapi lumayan menghiburlah, apalagi aktris utamanya, , bagi saya cukup lovable. Dan aktor-aktor pendukunya, meski bukan nama-nama ‘besar’ tapi adalah aktor-aktor yang cukup sering wara-wiri di depan layar dan punya kemampuan akting yang solid, mulai dari , , Lee Mi-do, , , … Lumayan.

Cast:
– Won Do-yeon
– Won Sang-tae
– Ibu
Shin Goo – Kakek
Lee Mi-Do -Na Yoon-mi
– Joo Jang-won
– Bae Jin-young
Heo Ga-yoon – Ahn Kyung-mi

Judul: Daddy You, Daughter Me / Dad is Daughter / Abbaneun Ddal
Sutradara: Kim Hyung-hyub
Penulis:Takahisa Igarashi (novel), Choi Yoon-Mi, Kim Ji-Sun, Jin Na-Ri, Jo Sung-Woo
Produser: Kim Yoon-Suk, Kim Se-Hoon, Kim Dong-Gyoon, Hwang Jung-Lim, Lee Hong-Suk, Jung Yoo-Dong
Sinematografer: Jung Ki-Won
Rilis: 13 April 2017
Durasi: 115 menit
Distributor: Megabox Plus M
Negara/Bahasa: Korea Selatan, Korea

Still Walking

September 15, 2017 1 komentar

Ryota harus pulang ke rumah orang tuanya, bersama istri dan anak tirinya untuk memperingati hari kematian kakaknya, Junpei. Itu bukan hal yang menggembirakan, karena ia memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya, Pak Yokoyama. Ayahnya adalah seorang dokter tua, dan begitu bangga dengan profesinya. Setelah kakaknya meninggal, Ryota adalah anak lelaki pertama dan satu-satunya di keluarganya. Ayahnya mengharapkan Ryota meneruskan dirinya untuk jadi dokter, tapi ternyata tidak dilakukan Ryota. Hal itu lah yang membuat sang ayah selalu memandang rendah Ryota. Ia dianggap sebentuk kegagalan. Di usianya yang 40 tahun, Ryota memang belum bisa dibilang sukses. Ia hanya seorang penulis dan sekarang bahkan sedang menganggur. Ia baru menikah dan istrinya seorang janda pula. Junpei yang mati muda, kemudian selalu menjadi perbandingan.

still walking

still walking-2

Di sisi lain, kematian Junpei juga meninggalkan duka yang tak pernah pupus bagi ayah dan ibu Ryota. Apalagi Junpe meninggal karena menyelamatkan orang yang tenggelam di laut. Dan kenyataan bahwa orang yang diselamatkan itu ternyata hidup dengan tidak begitu baik, membuat keduanya merasa jengkel.

still walking-14

Film keluarga adalah salah satu yang saya suka dari film-film Jepang. Para sineas Jepang umumnya sangat detail dan lihai dalam meracik film-film bergenre semacam ini. Dan begitupun dengan film ini. Saya sangat suka penggambarannya yang terasa sangat realistis. Meski bisa dibilang Ryotalah karakter utama film ini, tapi semua anggota keluarga mendapat eksplorasi karakter yang memadai sehingga menjadi satu kesatuan keluarga yang terlihat meyakinkan.

still walking-4

still walking-6

Sang ayah yang mengalami post power syndrome, seorang ibu yang tekun dan getih dengan hal-hal rumah tangga, saudara yang agak oportunis terkait warisan, hari tua, kematian…yah semuanya diramu dengan begitu bagusnya, saling jalin menjalin membangun sebuah cerita yang mengalir perlahan tapi solid. Dan satu hal yang saya suka dari film ini karena karakter-karakternya terasa sangat realistis. Mereka adalah orang-orang yang sangat umum kita jumpai di sekitar kita. Dan yah, setting rumah tua dan suasana musim panas juga memberi nuansa tersendiri pada film ini. Good movie. Recommended!

Cast:
Hiroshi Abe – Ryota Yokoyama
Yui Natsukawa – Yukari Yokoyama
Kirin Kiki – Toshiko Yokoyama
Yoshio Harada – Kyohei Yokoyama
Shohei Tanaka – Atsushi Yokoyama
You – Chinami Kataoka
Kazuya Takahashi – Nobuo Kataoka

Judul: Still Walking/ Even If You Walk and Walk/ Aruitemo Aruitemo
Sutradara/Penulis: Hirokazu Koreeda
Rilis: 28 Juni 2008
Durasi: 114 menit
Distributor: Cinequannon
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
Hochi Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Nikkan Sports Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Yui Natsukawa)
Blue Ribbon Awards: Best Director, Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Asian Film Awards 2009: Best Director

Film Festival:
Toronto Film Festival 2008
Pusan International Film Festival 2008
Nippon Connection 2009
International film Festival Rotterdam 2008
etc

The Little House

Juli 30, 2017 Tinggalkan komentar

Takeshi () sangat dekat dengan neneknya, Taki. Sebelum meninggal, neneknya meninggalkan tulisan biografi untuknya. Dalam tulisan itu, neneknya menceritakan hal-hal yang ia alami ketika masih muda. Kala itu, masih tahun 30-an, Taki muda yang berasal dari pedesaan di daerah utara yang dingin, merantau ke Tokyo. Ia kemudian menjadi pembantu di rumah keluarga muda, dimana tuannya adalah seorang pengusaha mainan anak-anak. Rumah keluarga itu adalah rumah mungil beratap merah yang indah dan Taki menjalani hari-hari menyenangkan di rumah itu.

The Little House-1

Nyonya rumahnya, Takiko, adalah seorang perempuan cantik yang baik hati. Demikian juga tuannya, yang selalu sibuk dengan bisnisnya. Hingga suatu hari, muncul Itakura, seorang pelukis yang bekerja di perusahaan suami Takiko, Itakura yang hangat dan menyenangkan, dan diam-diam Taki sukai. Namun, tentu saja, karena posisinya, Taki hanya bisa mengagumi Itakura diam-diam. Apalagi kemduian diketahui kalau sang Nyonya rumah juga naksir Itakura.

The Little House-2

The Little House-3

Di tengah situasi politik Jepang yang tak menentu akibat perang, Taki menjadi saksi perselingkuhan sang Nyonya dengan Itakura. Hingga keadaan ekonomi Jepang memburuk dan Taki harus pulang kampung karena majikannya tak mampu lagi menggajinya.

The Little House-6

Sekilas, film ini mungkin terkesan sebagai film drama cinta biasa, tapi tentu saja, bukan di situ intinya. Ada pesan yang lebih besar dari itu. Seperti diketahui, di masalalu, Jepang memang dikenal sebagai negara imperialis yang dengan pongah menjajah negara-negara tetangga. Ketika banyak orang dari negara jajahan terbunuh, Jepang membanggakannya sebagai patriotrisme. Dan hal itu, sekarang menjadi semacam aib memalukan bagi generasi muda Jepang. Banyak generasi muda Jepang sekarang yang merasa bersalah atas dosa masalalu para orang tua mereka. Dan film ini, seolah ingin menjadi ‘penghiburan’ dari keadaan itu. Tentu saja, apa yang dilakukan para orang tua mereka dulu salah, tapi tidak semua orang patut dipersalahkan atas kejadian itu. Digambarkan melalui film ini, bahwa sebagian dari mereka hanyalah warga negara biasa, yang tidak tahu apa-apa soal perang, tapi sebagai warga negara, turut dalam euforia patriotisme ketika negaranya dianggap bisa mengalahkan negara-negara lain. Mereka adalah orang-orang biasa, yang bertahan hidup dengan caranya masing-masing, jauh dari hiruk pikuk politik yang ada meski di sisi lain, mau tak mau kehidupannya juga turut dipengaruhi oleh naik turunnya kondisi politik yang ada.

The Little House-5

Filmnya sendiri dikemas dengan manis, menggunakan alur maju mundur, dengan gambar-gambar yang cukup sinematis.

Note:
Didasarkan pada novel “Chiisai Ouchi” karya Kyoko Nakajima (2010) yang merupakan pemenang penghargaan Naoki Prize

Cast:
Takako Matsu – Takiko Hirai
Haru Kuroki – Taki Nunomiya
Takataro Kataoka – Masaki Hirai
Hidetaka Yoshioka – Masahaaru Itakura
– Takeshi Arai
Chieko Baisho – Taki tua
Isao Hashizume – Guru Konaka
Fukutaro Ichkawa – Kyochi Hiroi

Judul: The Little House/ Chiisai Ouchi
Sutradara: Yoji Yamada
Penulis : Kyoko Nakajima (novel), Yoji Yamada, Emiko Hiramatsu
Produser: Hirshi Fukazawa, Hiroki Saito
Sinematografi: Masashi Chikamori
Rilis: 25 Januari 2014
Durasi: 136 menit
Distributor: Sochiku
Bahasa/Negara: Jepang

Film Festival & Awards:
– Berlin International FF 2014 – Competition
– Japan Academy Prize 2015 – Outstanding Performance by an Actress in a Supporting Role (Haru Kuroku)

The Woodsman and the Rain

Juni 16, 2017 Tinggalkan komentar

Katsuhiko adalah seorang tukang kayu. Ia menjalani hari-harinya yang sederhana dengan pergi ke hutan, menebangi kayu pinus berssama teman-temannya. Istrinya sudah meninggal dan anak lelaki semata wayangnya tidak bisa dibanggakan.

The Woodsman And The Rain

The Woodsman And The Rain1

Suatu hari, datang serombongan pembuat film. Katsu yang paham daerah sekitar kemudian diminta untuk mengantarkan ke beberapa tempat. Tidak hanya itu, ia kemudian diminta untuk jadi figuran. Kenyataan bahwa ia main film membuat teman-temannya tertarik dan megaguminya. Katsu pun menjadi semakin sering terlibat dengan pembuatan film itu. Ia juga berkenalan dengan si sutradara, Koichi Tanabe (), seorang pemuda yang selalu terlihat kikuk dan tidak percaya diri. Sikap Koichi yang sedemikian rupa, justru membuat Katsu merasa santai mengobrol dan bicara leluasa. Ia memuji-muji cerita yang dibuat Koichi.

The Woodsman And The Rain2

The Woodsman And The Rain6

Koichi yang merasa tersanjung dengan pujian tulus dan polos Katsu dan merasa menjadi lebih bersemangat. Tidak hanya itu, karena kemudian Katsu membantunya menyelesaikan filmnya. Di sisi lain, interaksi Katsu dengan Koichi membuatnya bisa lebih memahami putranya.

The Woodsman And The Rain3

The_Woodsman

Tadinya saya kira ini adalah film yang agak absurd ala film Jepang, ternyata ceritanya sangat ‘ringan’ dan sederhana. Lewat sosok Koichi, digambarkan bagaimana seorang pemula yang sangat tidak percaya diri dan butuh pengakuan, dan bagaimana berartinya sebuah pengakuan meski keluar dari seorang lelaki desa yang sederhana (Meski saya bertanya-tanya, memang ada ya sutradara yang sedemikian tidak percaya dirinya seperti Koichi?, hehe) Yah, seorang yang mungkin terkesan awam memang kadang memiliki penilaian yang sangat jujur dan mengena. Demikian dengan Katsu yang kemudian bisa memahami putranya setelah berkomunikasi dengan Koichi. Film yang manis.

Cast:
Koji Yakusho – Katsushiko Kishi
– Koichi Tanabe

Kengo Kora – Koichi Kishi (anaknya Katsu)
Asami Usuda – Tamae Asou
Kanji Furutachi- Torii
Daisuke Kuroda – Shibata
Kyusaku Shimada – Shinoda

Judul: The Woodsman and the Rain/ Kitsutsuki to Ame (キツツキと雨)
Sutradara: Shuichi Okita
Penulis: Shuichi Okita, Fumio Moriya
Produser: Shiro Sasaki, Satoshi Arashi
Sinematografi: Yuta Tsukinaga
Rilis: 11 Februari 2012
Durasi: 129 menit
Produksi: Kadokawa Pictures
Distributor: Kadokawa Pictures
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
Nippon Cinema Award – 2012 – Nippon Connection
Tokyo International Film Festival 2011 – Special Jury Prize

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar