Arsip

Archive for the ‘Film Jepang’ Category

Over the Fence

Setelah berpisah dengan istrinya, Shiraiwa () meninggalkan Tokyo dan menjalani hidup sendirian di kota kecil. Karena merasa tak nyaman menganggur, ia mengambil kursus menjadi tukang kayu meski sebenarnya tak benar-benar ingin menjadi tukang kayu.

Over the Fence

Suatu hari, salah seorang temannya di tempat kursus, Daishimia, mengajaknya mmenghabiskan waktu di bar. Di sana, ia kemudian bertemu dengan seorang hostess kenalan Dai, Satoshi (). Satoshi sejak awal menunjukkan ketertarikan pada Shiraiwa, tapi Shiraiwa yang mengira kalau Satoshi hanya cewek gampangan biasa, tak terlalu peduli. Namun ternyata Satoshi adalah gadis berkarakter unik, yang kemudian bisa membantu Shiraiwa untuk membuka hatinya kembali.

Over the Fence (3)

Over the Fence (4)

Karena dua cast utamanya lah saya penasaran sama film ini. dan , dua aktor Jepang yang cukup saya favoritin. Dan saya juga penasaran karena baca sinopsisnya, genrenya adalah romance. Membayangkannya, dua cast ini pasti terlihat cocok sebagai pasangan kekasih. Dan yah, memang demikian. Meski romance-nya sendiri sebenarnya tak terlalu mengambil porsi paling besar, karena sebenarnya, fokus cerita lebih pada healing-nya, bagaimana seorang yang terpuruk kembali menemukan semangat hidupnya. Dan bagian ini juga digarap dengan baik.

Over the Fence (5)

Hanya saja, ada beberapa bagian yang mengganjal bagi saya usai menonton film ini. Karakter Satoshi yang histeris dan ‘agak gila’ tak mendapatkan penjelasan yang memadai kenapa ia seperti itu. Juga sosok Dai yang agak-agak misterius yang berakhir begitu saja. Overall, film yang cukup manis.

Cast:
– Yoshio Shiraiwa
– Satoshi Tamura
Shota Matsuda – Daishima
Yukiya Kitamura – Koichiro Hara
Shinnosuke Mitsushima – Yoshito Mori
Takumi Matsusawa – Akira Shimada
Tsunekichi Susuki – Kenichi Katsumada
Yuka – Yoko Ogata

Judul: Over the Fence / Oba Fensu
Sutradara: Nobuhiro Yamashita
Penulis : Yashushi Sato (novel), Ryo Takada
Rilis: 17 September 2016
Durasi: 112 menit
Distributor: Tokyo Theatres
Negara/Bahasa: Jepang

Iklan

Little Forest (Jepang ver.)

April 27, 2018 Tinggalkan komentar

Setelah nonton yang dibintangi sama , dan saya baca kalau ternyata Jepang sudah duluan buat filmnya, saya jadi penasaran untuk menonton. Secara, Jepang biasanya paling pinter kalau buat film bertema healing. Dan syukurnya, cukup mudah ternyata mengakses filmnya.

 

Little Forest versi Jepang dibagi dalam 4 bagian yang dibagi per musim. Masing-masing musim disajikan dalam durasi sekitar satu jam. Tapi kalau untuk filmnya sendiri dibuat dalam dua film. Yang pertama bagian Summer/Autumn (tahun 2014) dan kedua bagian Winter/Spring (2015).

Secara garis besar ceritanya hampir sama. Tentang pelarian diri seorang gadis yang pulang ke kampung halamannya dan menemukan ketenangan dari bercocok tanam dan mengolah aneka makanan. Di versi Jepang, tokoh utamanya bernama Ichiko. Sedikit berbeda dengan versi Korea, Ichiko melarikan diri bukan karena merasa gagal, tapi karena tidak bahagia dengan kehidupan di kota. Dan berbeda juga dengan versi Korea yang lebih memberi porsi cukup banyak pada interaksi tokoh utama dengan dua sahabatnya, Jae-ha dan Eun-sook, maka versi Jepangnya sangat fokus pada kegiatan mengolah dan membuat makanan. Prosesnya diceritakan dengan cukup detil sampai seperti acara masak memasak.

little forest_winter spring_2

little forest_winter spring_6

Interaksi dengan orang-orang sekitar tetap dieksplorasi dan di sini Ichiko juga punya dua sahabat, Yuuta dan Kikko. Tapi gambaran kebersamaan mereka tidak diperlihatkan terlalu intens. Selain itu, diperlihatkan juga interaksi dengan orang-orang desa yang cukup hangat yang juga hanya diperlihatkan secara sambil lalu. Cerita kebanyakan dikisahkan dengan narasi off screennya Ichiko. Dan hal ini, kemudian seperti memberi kesan berjarak dan sendirian sosok Ichiko. Nggak tahu sih, tapi kalau nonton film-film yang melibatkan tema psikologis, saya selalu merasa kalau orang-orang Jepang itu memang cenderung tertutup dan berjarak sehingga terkesan agak muram. Dan mungkin memang seperti itu budayanya mereka. Hal ini pula yang menurut saya menjadi pembeda dengan versi Korea. Karakter-karakter di film Korea terkesan lebih hangat, terbuka dan sociable.

little forest_summer autumn_4

Saya nggak ingin membandingkan, karena menurut saya versi Jepang maupun Korea sama-sama bagus dan merupakan karya unik masing-masing sineasnya. Hanya saja, kalau disuruh memilih mana yang lebih saya sukai, saya lebih suka yang versi Koreanya karena terkesan lebih light dan warmhearted.

Cast:
Ai Ashimoto – Ichiko
Takahiro Miura – Yuuta
Mayu Matsuoka – Kikko
Yoichi Nukumisu – Shigeyuki
Karen Kirishima – Fukuko (ibunya Ichiko)

Judul: Little Forest: Summer & Autumn (2014) /Winter & Spring (2015)
sutradara; Junichi Mori
Penulis : (manga), Junichi Mori
Rilis: 30 Agustus 2014 / 14 Februari 2015
Durasi: 111 menit/ 120 menit
Distributor: Sochiku

Only Yesterday

April 24, 2018 1 komentar

Taeko, seorang gadis kota berumur 27 tahun dan masih sendiri. Karena dianggap sudah memasuki usia yang matang (cerita film ini berlatar tahun 80an), ia dicecar tentang pertanyaan untuk segera menikah oleh orang sekitar. Tapi Taeko sendiri masih sering bingung dengan dirinya sendiri. Ia selalu merasa dirinya tidak cukup baik dan sering terjebak dalam kenangan-kenangan masa kecilnya yang tidak terlalu bahagia. Ketika hari libur dari tempatnya bekerja, Taeko pergi ke desa untuk jadi bekerja paruh waktu di ladang pertanian milik kakak iparnya. Taeko lahir dan besar di kota dan sejak kecil, keluarga besarnya, termasuk neneknya, tinggal bersama di kota. Karenanya, ia selalu merasa iri ketika liburan sekolah, teman-temannya banyak yang pergi ke desa untuk mengunjungi kakek nenek mereka.

Omohide Poro Poro_8

Dalam perjalanan dan hari-harinya di desa, kenangan-kenangan masa kecil Taeko berhamburan. Posisinya sebagai anak terkecil di rumah membuatnya sering menjadi obyek bully kakak-kakaknya, logika berpikir yang berbeda, hal yang sering membuat ibunya habis kesabaran menghadapinya, tapi juga banyak kenangan manis di keluarganya… hari-harinya di sekolah ketika ada Hirota, bocah lelaki bintang baseball yang menyukainya…

Omohide Poro Poro9

Omohide Poro Poro17

Taeko sangat menikmati hari-harinya di desa. Selama di desa, ia ditemani Toshio, sepupu iparnya, cowok ramah dan bersahaja yang menikmati pekerjaan menjadi petani organik, alih-alih pergi ke kota besar. Toshio membuat Taeko nyaman. Dengan Toshio ia bisa bercerita tentang apa saja. Tapi ketika kemudian muncul tawaran untuk ia menikah dengan Toshio dan tinggal di desa, ia sadar bahwa selama ini, dirinya berpikir sangat naif. Ia sering berpikir bahwa tinggal dan hidup di desa adalah sesuatu yang menyenangkan, karena selama ini ia hanya tinggal sehari dua hari saja. Tapi menghabiskan seluruh hidupnya di desa? Pikiran-pikiran itu menohok Taeko dan kembali menyadarkan bahwa sebenarnya selama ini ia tidak cukup baik, tapi sering merasa sudah menjadi orang yang baik. Termasuk kenangan akan masa kecilnya bersama seorang bocah lelaki dekil dan miskin yang menjadi teman sebangkunya.

Omohide Poro Poro3

Omohide Poro Poro_9

 

Saya penasaran dengan film ini bukan karena ceritanya, tapi lebih karena melihat bahwa ini adalah besutannya , yang memang seolah menjadi jaminan animasi yang keren dan menarik. Dan yah, demikian juga dengan film ini. Ceritanya sangat unik demikian juga dengan plotnya yang tak terduga. Di awal, saya merasa agak bingung karena plot dan ceritanya yang seolah melompat berhamburan kesana kemari tanpa garis cerita yang jelas. Tapi semakin kesini, benang merahnya mulai terasa, membentuk jalinan cerita yang sangat subtle tapi juga begitu solid. Dan yah, I love this movie so much.

Omohide Poro Poro_7

Ruh film ini mirip-mirip sama film yang sudah saya tonton sebelumnya, yang juga sangat saya sukai. Gambar-gambarnya begitu permai, dan ceritanya terasa sangat manis dan hangat dengan penyajian yang begitu subtle tapi emosi dan nyawa ceritanya dapet banget. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Dan inilah salah satu hal yang selalu membuat saya kagum dengan film-filmnya . Karenanya meskipun disajikan dalam bentuk animasi, tapi rasanya, tokoh-tokohnya begitu hidup dan nyata. Pada beberapa bagian, saya bahkan tak kuasa untuk menahan air mata karena ikut terhanyut dengan emosi tokoh utamanya. Sosok Taeko yang manis dan agak naif dengan segala kesepian dan ketidakbahagiaannya benar-benar terasa begitu relatable. Recommended!!!

Dubbing Cast:
Miki Imai – Taeko Okajima
Toshiro Yanagiba – Toshio
Yoko Honna – Taeko (kecil)

Judul: Omoide Poro Poro (Only Yesterday/Memories Come Tumbling Down)
Sutradara/Penulis: Isao Takahata
Produser: Toshio Suzuki
Buku: Omoide poro poro (Hotaru Okamoto, Yuko Tone)
Musik: Katz Hoshi
Sinematografi: Hisao Shiraishi
Produksi:
Distributor: Toho
Rilis: 20 Juli 1991
Durasi: 118 menit
Bahasa/Negara: Jepang

 

From Up On Poppy Hill

Oktober 9, 2017 Tinggalkan komentar

Baru berkesempatan nonton film ini, karena baru ngeh kalau ada nama Miyazaki dan Studio Ghibli di dalamnya. Sejak nonton , saya memang kemudian memfavoritkan karya-karya Pak Miyazaki dan selalu penasaran dengan film yang melibatkan namanya. Di film ini, Pak Miyazaki berperan sebagai screenwriternya, sementara untuk sutradaranya sendiri ternyata adalah anaknya beliau, Goro Miyazaki.

from up on popy hill-1

Cerita film ini sebenarnya bisa dibilang ‘sederhana’ saja. Umi adalah seorang gadis remaja yang tinggal di sebuah rumah di atas bukit, bersama nenek, adik dan beberapa orang yang ngekos di tempatnya. Ayahnya yang seorang pelaut, dalam sebuah misi ketika terjadi Perang Korea. Sementara ibunya seorang guru yang tinggal berjauhan. Karena neneknya sudah tua, sehari-hari, Umi lah yang mengurus semua hal-hal rumah tangga yang dilakukannya dengan tekun, meski ia harus berbagi dengan kesibukan sekolahnya. Belum bisa menghapuskan kesedihan atas kepergian ayahnya, setiap hari Umi menaikkan bendera pelayaran sebagai tanda jalan pulang bagi ayahnya.

Shun From Up on Poppy Hill

Shun adalah teman satu sekolahan Umi. Seorang cowok yang aktif terlibat di klub sekolah. Ketika klub sekolah yang sudah tua hendak dihancurkan, Shun menjadi salah satu yang paling aktif menentang. Ia dan teman-temannya sibuk melancarkan protes dan memasang berbagai selebaran. Selain itu, sehari-hari Shun juga sering menemani ayahnya yang membawa kapal di sekitar pelabuhan tempat mereka tinggal. Ketika berlayar, ia sering merasa penasaran dengan bendera yang di pasang Umi.

from up on popy hill-0

Melalui sebuah ‘kebetulan’ Umi dan Shun kemudian menjadi dekat. Umi yang merasa ikut berempati dengan gerakan Shun dan teman-temannya, kemudian menawarkan bantuan. Mulai dari membuat stensilan hingga membersihkan klub yang kotor dan berantakan. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara keduanya. Namun masalah muncul ketika Shun melihat potret ayah Umi yang ternyata adalah potret yang sama seperti yang dimilikinya. Apakah Umi dan Shun ternyata bersaudara?

poppy-2

Hehe, ceritanya memang agak-agak drama dan mungkin terkesan ‘remeh temeh’ sih. Tapi tenang saja, bagi yang sudah berpengalaman dengan film-film produksinya Ghibli apalagi melibatkan nama Hayao Miyazaki, tentu sudah tahu bagaimana kualitas film-film mereka. Dan film ini, meski temanya ‘ringan’ tapi tetap disajikan dengan kedalaman yang mengagumkan. Karakter-karakternya terasa begitu hidup dan khas film-film Miyazaki yang begitu positif. Ceritanya disusun sedemikian rupa, sehingga meski ringan tapi terasa solid dan berbobot. Meski ‘cuma’ animasi, tapi hebatnya karakter-karakternya memiliki emosi yang begitu hidup lho. Apakah karakternya sedih, gembira, kesepian… semuanya tergambar begitu jelas dan mampu mengaduk-aduk emosi . Bagaimana Shun dan Umi jatuh cinta dan kesedihan mereka, rasanya begitu real. Didukung pula dengan soundtrack yang terasa pas. Dan yah, tentu saja, yang khas dari Studio Gibli adalah animasinya yang merupakan negeri imajinasi yang indah permai. Truly recommended.

from up on popy hill-5

Note:
Goro Miyazaki adalah anaknya . Karena tak nyaman dengan bayang-bayang ayahnya, Goro sempat ‘menjauh’ dari dunia animasi dan menjalani profesi sebagai landscaper. Tapi yang namanya bakat dan passion, pada akhirnya harus disalurkan. Ia pun membuat film animasi berjudul pada tahun 2006. Tapi film ini tidak terlalu sukses. Untunglah, Goro tidak kapok karena 5 tahun kemudian, ia membuat film ini. Dan kali ini berkolaborasi dengan ayahnya pula. Padahal konon hubungan Goro dengan ayahnya sempat kurang baik. Dalam sebuah wawancara konon Goro pernah menyebut kalau ayahnya meski diluar dikenal sebagai ‘orang besar’ tapi di rumah bukanlah ayah yang baik karena jarang berhubungan dengan anak-anaknya. Hmm, cerita yang familiar dari orang-orang besar ya? Tapi sepertinya lewat film ini, hubungan mereka sudah membaik. Mungkin juga karena keduanya sudah sama-sama ‘dewasa.’ Meski mungkin bagi Goro akan tak nyaman selalu dikaitkan dengan nama besar ayahnya, tapi saya pikir tak masalah juga lah. Ya namanya juga anak, wajar saja kan kalau dia mewarisi bakat ayahnya. Alih-alih dibanding-bandingkan, saya sebagai penggemarnya film-film Miyazaki, justru berharap kalau Goro melanjutkan jejak ayahnya. Apalagi Pak Miyazaki yang sekarang sudah uzur, konon sudah menyatakan pensiun membuat film animasi. Semoga saja ke depan, Goro akan membuat film-film keren lagi.

Ost:
– Aoi Teshima – “Summer of Farewells — From Up on Poppy Hill” (「さよならの夏~コクリコ坂から~」 “Sayonara no Natsu ~Kokuriko-zaka kara~”)
– Kyu Sakamoto – ” Ue o Muite Arukō”)/ Sukiyaki (I Shall Walk Looking Up” (「上を向いて歩こう」

Cast:
– Umi Matsuzaki
Junichi Okada – Shun Kazama
Keiko Takeshita – Hana Matsuzaki (neneknya Umi)
Jun Fubuki – Ryoko Matsuzaki (ibunya Umi)
Haruka Shiraishi – Sora Matsuzaki (adiknya Umi)
Yuriko Ishida -Miki Hokuto (bu dokter)
Nao Ōmori – Akio Kazama (ayahnya Shun)
Takashi Naito – Yoshio Onodera (kapten kapal teman ayahnya Shun dan Umi)
Shunsuke Kazama – Shirō Mizunuma (temannya Shun)
Teruyuki Kagawa – Tokumaru (kepala sekolah yang tinggal di Tokyo)
Rumi Hiiragi – Sachiko Hirokouji (pelukis yang tinggal di tempat Umi)

Sutradara: Gorō Miyazaki
Produser: Toshio Suzuki
Screenplay: , Keiko Niwa (berdasarkan manga “Kokuriko-zaka kara” nya Chizuru Takahashi, Tetsurō Sayama)
Musik: Satoshi Takebe
Sinematografi: Atsushi Okui
Editing: Takeshi Seyama
Produksi: Studio Ghibli
Distributor: Toho
Rilis: 17 Juli 2011
Durasi: 92 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
– Toronto International Film Festival 2011: Nominasi People’s Choice Award for Best Drama Feature Film
– Japan Academy Prize 2012: Animation of the Year
– Tokyo Anime Award : Animation of the Year
– Asia Pacific Screen Awards 2012: Nominasi Best Animated Feature Film
etc,

One Million Yen Girl

September 15, 2017 Tinggalkan komentar

Suzuko Sato () mengalami ‘masalah’ ketika mulai ingin hidup mandiri. Karena kesalahan yang tak disengaja, ia kemudian sempat di penjara. Sekeluar dari penjara, ia terpaksa kembali ke rumahnya, tinggal bersama ayah-ibu dan adiknya. Namun ia tak lagi merasa bahagia. Orang tuanya merasa terbebani karena para tetangga bergosip tentang dirinya yang pernah dipenjara. Merasa tak nyaman, Suzuko pun memutuskan untuk keluar rumah setelah ia punya tabungan sebanyak sejuta yen. Tidak hanya itu, ia juga bertekad untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap kali berhasil mengumpulkan uang sejuta yen, karena dengan uang segitu, ia merasa cukup untuk hidup dan memulai mencari pekerjaan lain lagi.

one million yen girl

one million yen girl-3

Maka perjalanan ‘1 juta yen’ Suzuko pun dimulai. Ia pergi ke suatu tempat dan mencari pekerjaan-pekerjaan paruh waktu. Mulai menjadi tukang serut di pinggir pantai, pemetik buah plum di pedesaan hingga menjadi penjual bunga di sebuah kota kecil. Dalam perjalanannya, Suzuko menyadari bahwa bukan hanya karena kecukupan uang yang membuatnya ingin pindah, tapi juga perasaan tidak nyaman ketika ia sudah mulai ‘kenal’ dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga suatu hari, ia bertemu Ryohei (), mahasiswa paruh waktu yang membuatnya jatuh cinta. Gayung bersambut karena Ryohei juga menyukai Suzuko. Ketika sudah merasa ‘nyaman’ Suzuko pun dihadapkan pada pilihan dilematis, menepati prinsip hidupnya untuk pindah atau tinggal bersama Ryohei.

 

one million yen girl-9

one million yen girl-14

Saya menonton film ini karena . Dia adalah aktris yang saya kagumi. Selain wajahnya yang menurut saya sangat lovable, juga karena film-filmnya yang umumnya bagus-bagus. Film ini sendiri merupakan perpaduan antara coming age story dan road movie, yang mengetengahkan pergolakan psikologis Suzuko. Dan yah, para sineas Jepang agaknya memang lihai kalau mengetengahkan tema-tema semacam itu. Kesendirian, keterasingan… sebuah tema yang akrab dan ada dalam diri kita sehingga film ini terasa relatable ketika ditonton.

one million yen girl-13

Tapi tenang saja, karena meski temanya agak depresif, tapi film sendiri dikemas dengan cukup ‘light’ dipadu dengan warna-warna film yang cukup cerah dan tentu saja, wajah yang selalu terlihat fresh. Dan pemilihan sebagai cowok yang kemudian jadi kekasih Suzuko juga terasa pas. Mirai, seperti biasa terlihat keren dengan keunikan akting dan wajahnya. Ohya, ending film ini juga cukup optimis kok. Love this movie.

Cast:
– Suzuko Sato
– Ryohei Nakajima
Terunosuke Takezai – Yuuki
Ryusei Saito – Takuya Sato
Takashi Sasano – Siraishi
Sumei Sasaki – Fujii Kinu

Judul: One Million Yen Girl/ Hyakuman-en to NIgamushi Onna
Sutradara & Penulis: Yuki Tanada
Produser: Kumi Kobata, Koko Maeda
Rilis: 19 Juli 2008
Durasi: 121 menit
Distributor: Nikkatsu
Negara/Bahasa: Jepang

Film Festival:
Udine Far East Film 2009: My Movie Audience Award
Nippon Connection 2010

Still Walking

September 15, 2017 1 komentar

Ryota harus pulang ke rumah orang tuanya, bersama istri dan anak tirinya untuk memperingati hari kematian kakaknya, Junpei. Itu bukan hal yang menggembirakan, karena ia memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya, Pak Yokoyama. Ayahnya adalah seorang dokter tua, dan begitu bangga dengan profesinya. Setelah kakaknya meninggal, Ryota adalah anak lelaki pertama dan satu-satunya di keluarganya. Ayahnya mengharapkan Ryota meneruskan dirinya untuk jadi dokter, tapi ternyata tidak dilakukan Ryota. Hal itu lah yang membuat sang ayah selalu memandang rendah Ryota. Ia dianggap sebentuk kegagalan. Di usianya yang 40 tahun, Ryota memang belum bisa dibilang sukses. Ia hanya seorang penulis dan sekarang bahkan sedang menganggur. Ia baru menikah dan istrinya seorang janda pula. Junpei yang mati muda, kemudian selalu menjadi perbandingan.

still walking

still walking-2

Di sisi lain, kematian Junpei juga meninggalkan duka yang tak pernah pupus bagi ayah dan ibu Ryota. Apalagi Junpe meninggal karena menyelamatkan orang yang tenggelam di laut. Dan kenyataan bahwa orang yang diselamatkan itu ternyata hidup dengan tidak begitu baik, membuat keduanya merasa jengkel.

still walking-14

Film keluarga adalah salah satu yang saya suka dari film-film Jepang. Para sineas Jepang umumnya sangat detail dan lihai dalam meracik film-film bergenre semacam ini. Dan begitupun dengan film ini. Saya sangat suka penggambarannya yang terasa sangat realistis. Meski bisa dibilang Ryotalah karakter utama film ini, tapi semua anggota keluarga mendapat eksplorasi karakter yang memadai sehingga menjadi satu kesatuan keluarga yang terlihat meyakinkan.

still walking-4

still walking-6

Sang ayah yang mengalami post power syndrome, seorang ibu yang tekun dan getih dengan hal-hal rumah tangga, saudara yang agak oportunis terkait warisan, hari tua, kematian…yah semuanya diramu dengan begitu bagusnya, saling jalin menjalin membangun sebuah cerita yang mengalir perlahan tapi solid. Dan satu hal yang saya suka dari film ini karena karakter-karakternya terasa sangat realistis. Mereka adalah orang-orang yang sangat umum kita jumpai di sekitar kita. Dan yah, setting rumah tua dan suasana musim panas juga memberi nuansa tersendiri pada film ini. Good movie. Recommended!

Cast:
Hiroshi Abe – Ryota Yokoyama
Yui Natsukawa – Yukari Yokoyama
Kirin Kiki – Toshiko Yokoyama
Yoshio Harada – Kyohei Yokoyama
Shohei Tanaka – Atsushi Yokoyama
You – Chinami Kataoka
Kazuya Takahashi – Nobuo Kataoka

Judul: Still Walking/ Even If You Walk and Walk/ Aruitemo Aruitemo
Sutradara/Penulis: Hirokazu Koreeda
Rilis: 28 Juni 2008
Durasi: 114 menit
Distributor: Cinequannon
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
Hochi Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Nikkan Sports Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Yui Natsukawa)
Blue Ribbon Awards: Best Director, Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Asian Film Awards 2009: Best Director

Film Festival:
Toronto Film Festival 2008
Pusan International Film Festival 2008
Nippon Connection 2009
International film Festival Rotterdam 2008
etc

The Tale of Iya

September 9, 2017 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan seorang lelaki tua yang melihat sebuah kecelakaan mobil di tengah badai salju. Di dekat lokasi tabrakan, ada seorang bayi yang bisa disimpulkan bahwa ia adalah korban selamat dari kecelakaan tersebut. Cerita kemudian beralih dengan sosok seorang gadis muda yang baru bangun tidur dan kemudian sibuk menyalakan api di dapur yang sangat tradisional. Diketahui kemudian, gadis itu adalah si bayi yang selamat. Namanya Haruna dan ia memanggil si lelaki penolongnya sebagai ‘Kakek.’ Mereka hanya hidup berdua, tinggal di pondok kecil di tengah hutan. Tanpa listrik, tanpa fasilitas modern apapun. Memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dari bercocok tanam dan hasil hutan.

tale of iya-1

tale of iya-2

Setiap hari, Haruna harus berjalan kaki memebelah hutan dan menuruni gunung untuk bersekolah. Di penghujung hutan adalah sebuah perkampungan yang sepi, Iya. Di sana dan terdapat sebuah rumah yang dihuni nenek tua yang tinggal hanya bersama boneka-boneka kain. Tanah-tanah pertanian di kampung itu terbengkelai karena tak ada yang mau menggarap. Sementara itu, di kampung juga sedang dilangsungkan pembangunan terowongan yang sepertinya akan menjadi pemecah keterpencilan Iya. Pekerja terowongan itu adalah para penduduk kampung, yang sepertinya sangat antusias dengan pembangunan terowongan itu.

tale of iya-12

Di sisi lain, seorang lelaki asing, Michael, membangun gerakan untuk ‘Save Iya’ dengan menentang pembangunan terowongan. Ia bersama rekan-rekannya yang adalah orang-orang dari kota, membangun komunitas kecil yang mengembangkan pertanian untuk membangun kedekatan dengan alam. Mereka berusaha mempengaruhi masyarakat agar menolak pembangunan terowongan, tapi tentu saja, itu usaha yang sia-sia. Ajakan dari orang yang bahkan ‘bukan orang Iya’ sama sekali tak mampu mengundang simpati masyarakat, alih-alih diremehkan.

tale of iya-3

Kudo, seorang lelaki paruh baya yang baru datang dari Tokyo. Tak diceritakan seperti apa latar belakang Kudo, tapi dari ekspresi wajahnya, kita tahu bahwa ia tak bahagia dan sedang berusaha mencari ‘surga’ sebagai pelarian dari kehidupan kota besar. Meski tinggal di tempat Michael, tapi Kudo sepertinya tak terlalu tertarik dengan gerakan mereka. Barulah setelah bertemu Haruna dan kakeknya, Kudo seperti menemukan sebentuk pencerahan. Ia pun kemudian bertekad mengikuti jejak sang kakek, dan mulai hidup dari pertanian.

tale of iya-16

Haruna sudah hampir lulus sekolah dan ia dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk tetap tinggal bersama kakeknya di tengah hutan atau mengejar masa depan di kota. Di sisi lain, sang kakek yang sudah semakin tua mulai pikun dan sakit-sakitan. Ketika sang kakek akhirnya meninggal, Haruna pun memulai babak baru dalam kehidupannya dengan bekerja di kota. Meski begitu, ia tak menemukan kebahagiaan di sana.

tale of iya-10

Satu hal yang saya sukai dari film-film Jepang adalah seringnya mereka mengangkat isu tentang hubungan manusia dan alam, dan bagaimana mereka menyajikannya dengan begitu liris dan kontemplatif. Dan film ini adalah salah satunya. Dari pengalaman saya menonton film, kadang cukup mudah untuk mengetahui apakah sebuah film cukup worthed untuk ditonton atau tidak dari menit-menit awal film. Dan film ini adalah salah satunya. Dingin hamparan salju, gemuruh angin dipadu gambar yang tenang, langsung membuat saya merasa ikut terserap dalam cerita film. Dan menit-menit selanjutnya, film ini benar-benar membawa saya masuk ke dunia yang dibangun oleh si pembuat film. Gunung-gunung yang hijau permai, gemerisik dedaunan, gemericik air sungai, embusan angin, pendar matahari… semuanya terasa begitu menghanyutkan. Karakter-karakternya, meski bisa dibilang tidak ada yang menjadi ‘tokoh utama’ dan tidak ada terlalu banyak eksplorasi karakter tapi rasanya cukup mudah memahami karakterk-karakter yang ada di film ini. Haruna, Kudo, Akira, Michael, rasanya adalah sosok-sosok yang akrab atau mungkin juga bagian dari kita dengan kerisauan-kerisauannya. Dengan alur yang bisa dibilang lambat dan durasi film yang hampir tiga jam, anehnya film ini jauh dari membosankan. Semuanya terasa solid dan sophisticated. Good movie!

Judul: The Tale of Iya/ Iya Monogatari – Oku no Hito -( 祖谷物語 -おくのひと-)
Sutradara: Tetsuichiro Tsuta
Penulis: Tetsuichiro Tsuta, Masayuki Ueda
Produser: Tetsuichiro Tsuta
Sinematografi: Yutaka Aoki
Tayang: Oktober, 2013 (Tokyo International Film Festival) (Rilis: 15 Februari 2014)
Durasi: 169 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Cast:
Rina Takeda -Haruna
Shima Ohnishi – Kudo
Min Tanaka – Kakek
Hitoshi Murakami – Akira
Sachi Ishimaru – Kotomi
Christopher Pellegrini – Michael
Keisuke Yamamoto – Tamura
Takahiro Ono
Reika Miwa
Ryu Morioka – Syuji
Naomi Kawase -Dr. Amamiya
Ren Kido – boss
Shigeru Kimura Allan ]
Tomie Nishi – Nenek

Film Festival:
– Tokyo International Film Festival 2013 – Asian Future *World Premiere
– Jeonju International Film Festival 2014 – World Cinemascape: Spectrum
– Nippon Connection 2014 – Nippon Visions *European Premiere

Awards:
– Tokyo International Film Festival 2013 : Asian Future, Special Mention –

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar