Arsip

Archive for the ‘Film Inspiratif’ Category

The Bacchus Lady

So-young () adalah perempuan tua yang hidup sendiri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai bacchus lady, yakni menjual minuman berenergi (merk Bacchus) sembari menjajakan diri. Pendeknya, ia adalah PSK. Langganannya adalah para lelaki tua yang kebanyakan juga hidup sendiri dan kesepian seperti dirinya. Pada orang-orang, ia mengaku kalau ia bekerja untuk membiayai anaknya yang kuliah di Amerika, tapi sebenarnya, ia tak punya siapa-siapa.

bclady (4)

Suatu hari, ketika sedang memeriksakan diri ke rumah sakit karena kena penyakit kelamin, ia bertemu dengan seorang bocah keturunan Filipina, Kang Min-ho, yang terpisah dari ibunya. Ibu Min-ho dipenjara karena menusuk seorang dokter yang sebenarnya adalah ayah biologisnya Min-ho. Jatuh iba, meski tak punya banyak uang, So-young merawat dan menjaga Min-ho dengan dibantu dua tetangga baiknya, Do-hoon (), seorang lelaki berkaki palsu dan Tina, seorang penyanyi klub.

bclady (3)

Di antara kesehariannya melayani para lelaki tua, tak urung So-young mendengar tentang cerita-cerita sedih mereka. Bagaimana mereka merasa kesepian dan tak berharga lagi untuk hidup dan karenanya, ingin mengakhiri hidupnya.

bclady (10)

Huu.. sedih sih ceritanya. Dan yang lebih sedih karena cerita film ini memang diinspirasi dari kisah nyata. Konon, di Korea, meski dikenal sebagai negara industri yang maju, tapi di sisi lain juga memiliki sisi ironis terkait kehidupan para lansia-nya. Anak-anak generasi industri seperti ‘tenggelam’ di dunia modern, sementara orang-orang tua yang tak lagi produktif seolah terbaikan dan harus menghidupi diri sendiri (ada yang merasa malu kalau harus membebani anak-anaknya) dan seperti di film ini, bisa saja jadi bacchus lady atau depresi karena kesepian.

bclady (13)

Dan sebenarnya nggak cuma di Korea sih, menua, sendirian dan kesepian sebenarnya adalah kisah yang terasa universal. Di belahan dunia mana saja, saya pikir cerita semacam ini bisa ditemukan. Dan bahwa film ini berusaha ‘mengusik’ kita dengan cerita semacam ini, merupakan hal yang patut diapresiasi. Apalagi di film ini, selain isu lansia, banyak isu humanisme lain yang diselipkan seperti isu migran (melalui kasus Min-ho dan ibunya) dan juga karakter orang-orang minoritas (Dong-hoon yang cacat dan Tina yang penyanyi klub). Bagusnya lagi, film ini meski ceritanya sedih, tapi nggak jatuh jadi cerita yang melodramatic. Dan meski juga mengangkat banyak isu, tapi tetap pas dan nggak terkesan ambisius.

Good movie!

Cast:
– So-young
Jeon Mu-song – Jae-voo
– Do-hoon

Judul: The Bacchus Lady/ Jookyeojooneun Yeoja
Sutradara & Penulis: Lee Je-young
Rilis: 12 Februari 2016 (Berlin FF)
Durasi: 111 menit
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

 

Iklan

Little Forest (Jepang ver.)

April 27, 2018 Tinggalkan komentar

Setelah nonton yang dibintangi sama , dan saya baca kalau ternyata Jepang sudah duluan buat filmnya, saya jadi penasaran untuk menonton. Secara, Jepang biasanya paling pinter kalau buat film bertema healing. Dan syukurnya, cukup mudah ternyata mengakses filmnya.

 

Little Forest versi Jepang dibagi dalam 4 bagian yang dibagi per musim. Masing-masing musim disajikan dalam durasi sekitar satu jam. Tapi kalau untuk filmnya sendiri dibuat dalam dua film. Yang pertama bagian Summer/Autumn (tahun 2014) dan kedua bagian Winter/Spring (2015).

Secara garis besar ceritanya hampir sama. Tentang pelarian diri seorang gadis yang pulang ke kampung halamannya dan menemukan ketenangan dari bercocok tanam dan mengolah aneka makanan. Di versi Jepang, tokoh utamanya bernama Ichiko. Sedikit berbeda dengan versi Korea, Ichiko melarikan diri bukan karena merasa gagal, tapi karena tidak bahagia dengan kehidupan di kota. Dan berbeda juga dengan versi Korea yang lebih memberi porsi cukup banyak pada interaksi tokoh utama dengan dua sahabatnya, Jae-ha dan Eun-sook, maka versi Jepangnya sangat fokus pada kegiatan mengolah dan membuat makanan. Prosesnya diceritakan dengan cukup detil sampai seperti acara masak memasak.

little forest_winter spring_2

little forest_winter spring_6

Interaksi dengan orang-orang sekitar tetap dieksplorasi dan di sini Ichiko juga punya dua sahabat, Yuuta dan Kikko. Tapi gambaran kebersamaan mereka tidak diperlihatkan terlalu intens. Selain itu, diperlihatkan juga interaksi dengan orang-orang desa yang cukup hangat yang juga hanya diperlihatkan secara sambil lalu. Cerita kebanyakan dikisahkan dengan narasi off screennya Ichiko. Dan hal ini, kemudian seperti memberi kesan berjarak dan sendirian sosok Ichiko. Nggak tahu sih, tapi kalau nonton film-film yang melibatkan tema psikologis, saya selalu merasa kalau orang-orang Jepang itu memang cenderung tertutup dan berjarak sehingga terkesan agak muram. Dan mungkin memang seperti itu budayanya mereka. Hal ini pula yang menurut saya menjadi pembeda dengan versi Korea. Karakter-karakter di film Korea terkesan lebih hangat, terbuka dan sociable.

little forest_summer autumn_4

Saya nggak ingin membandingkan, karena menurut saya versi Jepang maupun Korea sama-sama bagus dan merupakan karya unik masing-masing sineasnya. Hanya saja, kalau disuruh memilih mana yang lebih saya sukai, saya lebih suka yang versi Koreanya karena terkesan lebih light dan warmhearted.

Cast:
Ai Ashimoto – Ichiko
Takahiro Miura – Yuuta
Mayu Matsuoka – Kikko
Yoichi Nukumisu – Shigeyuki
Karen Kirishima – Fukuko (ibunya Ichiko)

Judul: Little Forest: Summer & Autumn (2014) /Winter & Spring (2015)
sutradara; Junichi Mori
Penulis : (manga), Junichi Mori
Rilis: 30 Agustus 2014 / 14 Februari 2015
Durasi: 111 menit/ 120 menit
Distributor: Sochiku

Only Yesterday

April 24, 2018 1 komentar

Taeko, seorang gadis kota berumur 27 tahun dan masih sendiri. Karena dianggap sudah memasuki usia yang matang (cerita film ini berlatar tahun 80an), ia dicecar tentang pertanyaan untuk segera menikah oleh orang sekitar. Tapi Taeko sendiri masih sering bingung dengan dirinya sendiri. Ia selalu merasa dirinya tidak cukup baik dan sering terjebak dalam kenangan-kenangan masa kecilnya yang tidak terlalu bahagia. Ketika hari libur dari tempatnya bekerja, Taeko pergi ke desa untuk jadi bekerja paruh waktu di ladang pertanian milik kakak iparnya. Taeko lahir dan besar di kota dan sejak kecil, keluarga besarnya, termasuk neneknya, tinggal bersama di kota. Karenanya, ia selalu merasa iri ketika liburan sekolah, teman-temannya banyak yang pergi ke desa untuk mengunjungi kakek nenek mereka.

Omohide Poro Poro_8

Dalam perjalanan dan hari-harinya di desa, kenangan-kenangan masa kecil Taeko berhamburan. Posisinya sebagai anak terkecil di rumah membuatnya sering menjadi obyek bully kakak-kakaknya, logika berpikir yang berbeda, hal yang sering membuat ibunya habis kesabaran menghadapinya, tapi juga banyak kenangan manis di keluarganya… hari-harinya di sekolah ketika ada Hirota, bocah lelaki bintang baseball yang menyukainya…

Omohide Poro Poro9

Omohide Poro Poro17

Taeko sangat menikmati hari-harinya di desa. Selama di desa, ia ditemani Toshio, sepupu iparnya, cowok ramah dan bersahaja yang menikmati pekerjaan menjadi petani organik, alih-alih pergi ke kota besar. Toshio membuat Taeko nyaman. Dengan Toshio ia bisa bercerita tentang apa saja. Tapi ketika kemudian muncul tawaran untuk ia menikah dengan Toshio dan tinggal di desa, ia sadar bahwa selama ini, dirinya berpikir sangat naif. Ia sering berpikir bahwa tinggal dan hidup di desa adalah sesuatu yang menyenangkan, karena selama ini ia hanya tinggal sehari dua hari saja. Tapi menghabiskan seluruh hidupnya di desa? Pikiran-pikiran itu menohok Taeko dan kembali menyadarkan bahwa sebenarnya selama ini ia tidak cukup baik, tapi sering merasa sudah menjadi orang yang baik. Termasuk kenangan akan masa kecilnya bersama seorang bocah lelaki dekil dan miskin yang menjadi teman sebangkunya.

Omohide Poro Poro3

Omohide Poro Poro_9

 

Saya penasaran dengan film ini bukan karena ceritanya, tapi lebih karena melihat bahwa ini adalah besutannya , yang memang seolah menjadi jaminan animasi yang keren dan menarik. Dan yah, demikian juga dengan film ini. Ceritanya sangat unik demikian juga dengan plotnya yang tak terduga. Di awal, saya merasa agak bingung karena plot dan ceritanya yang seolah melompat berhamburan kesana kemari tanpa garis cerita yang jelas. Tapi semakin kesini, benang merahnya mulai terasa, membentuk jalinan cerita yang sangat subtle tapi juga begitu solid. Dan yah, I love this movie so much.

Omohide Poro Poro_7

Ruh film ini mirip-mirip sama film yang sudah saya tonton sebelumnya, yang juga sangat saya sukai. Gambar-gambarnya begitu permai, dan ceritanya terasa sangat manis dan hangat dengan penyajian yang begitu subtle tapi emosi dan nyawa ceritanya dapet banget. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Dan inilah salah satu hal yang selalu membuat saya kagum dengan film-filmnya . Karenanya meskipun disajikan dalam bentuk animasi, tapi rasanya, tokoh-tokohnya begitu hidup dan nyata. Pada beberapa bagian, saya bahkan tak kuasa untuk menahan air mata karena ikut terhanyut dengan emosi tokoh utamanya. Sosok Taeko yang manis dan agak naif dengan segala kesepian dan ketidakbahagiaannya benar-benar terasa begitu relatable. Recommended!!!

Dubbing Cast:
Miki Imai – Taeko Okajima
Toshiro Yanagiba – Toshio
Yoko Honna – Taeko (kecil)

Judul: Omoide Poro Poro (Only Yesterday/Memories Come Tumbling Down)
Sutradara/Penulis: Isao Takahata
Produser: Toshio Suzuki
Buku: Omoide poro poro (Hotaru Okamoto, Yuko Tone)
Musik: Katz Hoshi
Sinematografi: Hisao Shiraishi
Produksi:
Distributor: Toho
Rilis: 20 Juli 1991
Durasi: 118 menit
Bahasa/Negara: Jepang

 

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

April 16, 2018 Tinggalkan komentar

Mildred Hayes merasa marah karena setelah setahun berlalu, kasus pembunuhan dan pemerkosaan putrinya, Angela Hayes, belum juga terungkap. Ia berpikir bahwa hal itu disebabkan karena polisi yang lamban. Mengungkapkan kekesalannya, ia kemudian berusaha mencari perhatian dengan menyewa tiga papan iklan dan menulis sindiran kinerja polisi tentang kasus itu. Pemasangan papan iklan ini, menarik perhatian publik dan tentu saja, membuat pihak kepolisian malu dan marah.

three billboards outside ebbing missouri

Pihak kepolisian yang diwakili Willoughby berusaha menghentikan Midred. Bagi polisi, kasus Angela belum terungkap bukan karena mereka tidak bekerja, tapi karena sulitnya menemukan si pelaku. Di sisi lain, Willoughby juga meminta pengertian Mildred karena ia sedang sekarat, didera kanker pankareas. Tapi tentu saja, Mildred tak bergeming.

three billboards outside ebbing missouri-3

Tapi hal justru menjadi kompleks ketika tiba-tiba Willoughby ditemukan bunuh diri. Orang pun menduga kalau bunuh diri Willoughby dipicu tekanan dari Mildred. Jason, anak buah Willoughby yang diam-diam menyembunyikan kalau dirinya gay, merasa marah dan sangat terpukul dengan kematian Willoughby. Willoughby adalah satu-satunya orang yang tahu kalau Jason gay dan mendukungnya. Jason pun meluapkan kemarahan dengan membakar papan billboardnya Mildred dan juga memukuli Red, pemuda yang menyewakan papan iklan untuk Mildred hingga babak belur. Mildred pun geram dan membalas dengan membakar kantor polisi malam-malam. Naasnya, Jason kebetulan sedang berada di kantor dan nyaris tewas terbakar jika tidak ditolong seorang lelaki cebol yang tiba-tiba lewat.

three billboards outside ebbing missouri_4

Mildred merasa bersalah pada Jason, apalagi kemudian ia menerima surat yang ditinggalkan Willoughby. Dalam suratnya, Willoughby menyatakan penyesalannya karena tak bisa mengungkap kasus Angela. Dan bahwa ia sengaja memilih mati seperti itu demi harga dirinya, dimana ia tak ingin mati dalam keadaan penyakitan. Untuk mendukung Mildred, ia bahkan menyumbangkan sejumlah uang untuk biaya sewa papan iklannya Mildred. Selain pada Mildred, Willoughby juga meninggalkan surat untuk Jason, yang meminta Jason untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berhenti menyembunyikan kemarahan hanya karena dirinya gay. Jason merasa sangat tersentuh dengan surat itu dan kemudian memutuskan untuk membantu Mildred.

three billboards outside ebbing missouri_5

Seorang lelaki mencurigakan muncul di toko Mildred, mengancamnya terkait dengan iklan yang dipasangnya. Dari kata-katanya, lelaki itu sepertinya tahu tentang kasus yang menimpa Angela. Di sisi lain, Jason juga tak sengaja bertemu lelaki itu di klub dan mendengar pembicaraan terkait kejadian naas yang menimpa Angela. Sayang, ketika diselidiki, tak ada bukti apapun terkait keterlibatannya dengan kasus Angela. Meski begitu, baik Mildred maupun Jason yakin bahwa lelaki itu sebenarnya terlibat dan karena merasa bahwa hukum tak akan bisa menyelesaikannya, mereka pun sepakat untuk melakukan penyelesaian dengan cara mereka sendiri.

three billboards outside ebbing missouri_6.jpg

Yah, seperti sudah sering saya tulis, saya selalu penasaran dengan film-film yang dapat label penghargaan. Dan demi membaca kalau film ini menang beberapa kategori di ajang Academy Awards tahun ini, saya pun kemudian lekas-lekas mencari film ini. Dari judulnya sendiri, saya sudah penasaran: unik, agak lucu tapi juga terdengar puitis. Karena nggak baca sinopsis lebih dulu,tadinya saya pikir bahwa film ini bergenre komedi. Dan begitu adegan pertama muncul berikut suasana intensenya, saya agak terkejut tapi juga jadi makin penasaran. Ide tentang memasang papan iklan demi menguak kasus pemerkosaan & pembunuhan benar-benar terasa brilian. Di awal saya merasa kalau karakter-karakternya terlalu ‘harsh’ dan karenanya, sudah siap kalau pada akhirnya, endingnya akan sedikit ‘gila’ atau psiko, seperti yang memang sering terjadi pada film jenis ini. Untunglah, sang sutradara dan penulis cerita film ini ternyata cukup pintar untuk membuat film ini punya orisinalitasnya sendiri.

Meski mengangkat cerita tentang kasus kriminal dan balas dendam, film tak kehilangan kehangatan humanismenya. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Mereka digambarkan bukan sebagai orang-orang yang terlihat ‘baik’ di permukaan, tapi ternyata juga tak ‘sejahat’ kelihatannya. Dan hal lain yang juga unikdari film ini, karena juga secara cukup smooth memasukkan isu kaum marjinal seperti gay, orang kerdil, kulit hitam… Ada beberapa hal yang sempat membuat saya agak mengerutkan kening, dan bertanya dalam hati ‘semudah itu?’ Terutama adegan ketika Jason langsung sadar ‘hanya’ setelah menerima suratnya Willoughby, atau ketika ia ketemu si lelaki mencurigakan dan langsung menyimpulkan bahwa ia pejahatnya. Tapi adegan closing di ending, membuat saya bisa ‘memaafkan’ semua itu. Recommeded!

Cast:
Frances McDormand – Mildred Hayes
Woody Harrelsn – William ‘Bill’ Willoughby
Sam Rockwell – Jason
John Hawkes -Charlie Hayes
Peter Dinklage – James
Abbie Cornish – Anne Willoughby
Caleb Landry Jones – Red Welby
Kerry Condon – Pamela
Darell Bitt-Gibson -Jerome
Lucas Hedges – Robbie Hayes
Amanda Warren – Denise
Kathryn Newton – Angela Hayes
Samara Weaving – Penelope

Judul: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Sutradara/ Penulis: Martin McDonagh
Produser : Graham Broadbent, Martin McDonagh
Musik: Carter Burwell
Sinematografi: Ben Davis
Produksi: Blueprint Picture dll
Rilis: 4 September 2017
Durasi : 115 menit
Negara/Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
-Academy Awards 2018:
Best Actress (Frances McDormand), Best Supporting Actor ( Sam Rockwell)
Nominasi: Best Picture, Best Original Screenplay

– Golden Globe Awards 2018:
Best Motion Picture – Drama, Best Actress (Frances McDormand), Best Supporting Actor ( Sam Rockwell), Best Original Screenplay
etc

 
W

Little Forest

April 9, 2018 Tinggalkan komentar

Pada suatu musim dingin, Hye-won () memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya setelah gagal ikut ujian guru. Sedih dan kecewa, ia berniat ‘melarikan diri’ selama beberapa hari di rumah masa kecilnya.

Little Forest

Ia pun menghabiskan hari-hari yang tenang dengan memasak aneka makanan sederhana dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya sembari mengenang kebersamaannya bersama sang ibu (). Ibunya adalah seorang single parent, perempuan mandiri yang pintar memasak dan selalu mengajarinya hal-hal menakjubkan. Tapi suatu hari, tiba-tiba ibunya minggat entah kemana dan hanya selalu mengiriminya surat-surat. Merasa marah dan tak ingin menunjukkan sisi lemahnya, Hye-won bertekad untuk mandiri dengan pergi kuliah ke kota dan mengabaikan surat-surat ibunya. Tapi kembali ke rumahnya lagi, Hae-won sadar bahwa ia merindukan dan mengagumi ibunya.

Little Forest (6)

Little Forest (13)

Meski awalnya hanya ingin tinggal beberapa hari di desa, tapi Hye-won kemudian ternyata mulai merasa betah. Kehidupan di desa ternyata tak seburuk yang ia pernah bayangkan ketika masih remaja dulu. Apalagi kemudian juga ada dua sahabat masa kecilnya, Eun-sook, yang seumur hidup tak pernah meninggalkan kampung halamannya, dan Jae-ha (), yang memutuskan keluar dari perusahaan di kota karena tak tahan di atur-atur dan memilih pulang ke desa menjadi petani. Di antara waktu-waktu senggang dengan menghabiskan kebersamaan yang menyenangkan.

Little Forest (10)

Little Forest (15)

Saya selalu menyukai film-film bertema healing dan sudah penasaran sama film ini sejak membaca sinopsisnnya, apalgi kemudian muncul posternya yang terkesan begitu fresh. Dan setelah menonton film ini, saya pun setuju dengan kategori itu: healing movie, yang memberi kesan lighthearted dan hangat usai menontonnya. Cerita, cast dan gambar-gambarnya mewakili semua itu.

Little Forest (1)

Little Forest (20)

Ceritanya sendiri mungkin tidak bisa dibilang baru (banyak film-film Jepang mengetengahkan tema serupa dan film ini sedikit mengingatkan saya sama ‘Only Yesterday’nya studio Ghibli), tapi sang sutradara menyajikannya dengan baik sehingga film ini tetap memiliki orisinalitasnya sendiri. Tadinya saya agak-agak khawatir dengan eksekusi hubungan Hye-won dengan Eun-sook dan Jae-ha, kalau-kalau jatuh jadi romance yang klise, tapi untungnya enggak kok. Karena bukan di situ fokus film ini.

 

Untuk jajaran cast, menurut saya pemilihannya juga sangat pas, terasa fresh. memiliki screen presence yang menyenangkan. Karena ini melibatkan visual, tentu penampilan fisik tak bisa diabaikan. Dan Kim memiliki visual yang enak dilihat, kecantikan yang fresh dan alami. Di sisi lain, ia juga memiliki kesan sebagai gadis yang tough tapi tetap memiliki sisi fragile. Dan di atas semua itu, tentu saja dia punya kemampuan akting yang bagus. Yah sejak melihat debutnya yang impresif di Handmaiden, saya sudah punya feeling kalau hanya soal waktu saja melihat bintangnya bersinar. Sama halnya dengan , yang menunjukkan penampilan mengesankan di drama pertamanya, Reply 1988. Keduanya juga punya imej yang hampir sama: muda dan fresh. Sementara aktris Jin Ki-joo yang jadi Eun-sook, meski begitu-begitu saja, tapi saya pikir juga berakting dengan pas.

Overall, it’s good movie.

Cast:
– Hye-won
– Jae-ha
– ibunya Hye-won
Jin Ki-joo – Eun-sook

Judul: Little Forest/ Liteul Poreseuteu
Sutradara:
Penulis: Daisuke Igarashi (manga) , Hwang Sung-goo
Sinematografi: Lee Seung-hoon
Rilis: 28 Februari 2018
Durasi: 103 menit
Distributor: Megabo M Plus
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

I Can Speak

Maret 29, 2018 Tinggalkan komentar

Ketika membaca tentang rencana pembuatan film ini, saya sempat agak heran ketika nama muncul  sebagai cast utamanya . Dari sinopsis dan judulnya, saya kira ini adalah film bergenre komedi keluarga yang ringan dan lucu-lucuan. Pasalnya, setahu saya adalah aktor yang terbilang sangat selektif dalam memilih proyek-proyek filmnya, yang bisa dibilang genrenya serius-serius atau bisa dibilang, selalu ‘berisi’. Yang agak ringan seperti atau pun juga tidak bisa dibilang sebagai film yang benar-benar ‘ringan’ karena ada pesan yang cukup kuat. Tapi kemudian saya pikir, karena dia baru usai dengan film yang serius (Anarchist from Colony), mungkin dia mau ambil peran yang lebih light. Tapi dugaan saya bisa dibilang meleset besar, karena film ini sendiri, meski berusaha disajikan dengan ringan, tapi isu yang diusungnya sama sekali tidak ringan. Sangat serius malah. Karena tema utamanya (sori spoiler) adalah tentang nasib para perempuan yang pernah jadi budak seksnya tentara Jepang.

i can speak_5

di sini berperan sebagai Park Min-jae, seorang pegawai pemerintahan yang menangani keluhan masyarakat. Ia sebenarnya seorang yang pintar dan pernah kuliah keluar negeri, tapi karena keadaan (orangtuanya meninggal dan ia harus menghidupi adiknya yang beranjak remaja), ia menyerah pada mimpinya dan memilih mencari pekerjaan yang ‘mudah.’ Di tempat inilah, ia bertemu Nenek Ok-boon ( ), perempuan tua yang tak henti menyampaikan keluhan. Hal yang membuat semua orang merasa jengah.

i can speak_4

i can speak_3

Di balik kecerewetannya, Nenek Ok-boon sebenarnya adalah orang yang baik. Ia tinggal sendiri di daerah pasar dan sangat peduli pada tetangga-tetangganya yang kebanyakan adalah para bibi yang berjualan. Ia juga sangat ingin bisa bahasa Inggris, karena katanya, ingin menemui adik lelakinya yang diadopsi oleh keluarga Amerika. Tapi ia kesulitan belajar di tempat kursus karena kebanyakan muridnya masih muda-muda. Tannpa sengaja, Nenek Ok-boon tahu kalau Min-jae ternyata pintar bahasa Inggris dan kemudian, merayu-rayu agar Min-jae mau jadi guru privatnya. Min-jae yang punya kesan kurang menyenangkan pada Nenek Ok-boon, awalnya menolak permintaan ini. Tapi ketika ia kemudian tahu sisi lain si nenek, ia pun akhirnya bersedia menjadi guru privatnya. Hubungan yang manis pun terjalin. Dan tidak hanya itu, karena kemudian Min-jae jadi tahu masalalu kelam Nenek Ok-boon yang ternyata pernah jadi budak seks Jepang dan sedang berusaha memperjuangkan keadilan.

i can speak_1

i can speak_6

Hmm, yah, terkesan’berat’ dan mungkin agak ambisius ceritanya. Tapi tenang saja, karena sang sutradara film ini sangat lihai mengolah alur dan ceritanya sedemikian rupa sehingga tetap terasa cair dan tidak deperesif. Tetap menyentuh tanpa perlu penyajian yang terlalu dramatis. Karakter-karakternya terasa utuh dan tidak cengeng. Tentu hal ini tak lepas dari permainan bagus aktor veteran . bermain bagus, meski tidak bisa dibilang mengesankan. Mungkin juga karena perannya di sini hanya sebagai supporting, sehingga pengkarakterannya juga tak terlalu kuat. Tapi saya salut lah sama dia, karena konsisten dengan pemilihan proyek-proyek filmnya yang qualified. Pemain-pemain pendukungnya, meski bukan aktor-aktor dengan nama besar, tapi juga bermain dengan pas, terutama bibi-bibi pasar. Dan menurut saya, semua hal di film ini memang terasa ‘pas’ dan bersahaja. Castnya, alur, latar, plot,karakter-karakternya perpaduan antara humor dan melodrama….semuanya terasa pada tempatnya. Nggak muluk-muluk, nggak ada kesan sebagai film yang wah, tapi di sisi lain, juga sangat berisi dengan pesan moral tentang humanisme yang jelas. Menurut saya, jauh lebih bagus dari film-film dengan budget besar dan terkesan grande yang rilis di waktu hampir bersamaan seperti Battleship Island, misalnya. Wajar jika kemudian film ini mendapat beberapa penghargaan di beberapa ajang penghargaan, termasuk kategori Best Director.

Catatan:
Ini adalah film Korea berikutnya yang mengangkat tema tentang tuntutan keadilan bagi para perempuan yang pernah jadi korban budak seks Jepang setelah sebelumnya ada film Spirit’s Homecoming (produksi tahun 2016) yang menurut saya juga digarap dengan keren banget (kalau nggak salah kedua sutradara ini sama-sama orang KAFFA, kayak organisasi sineas Korea yang agak-agak indie gitu). Dan saya merasa salut sih sama sineas Korea yang concern dengan isu-isu humanisme semacam itu dan dengan kreatif menyuarakannya dalam bentuk film. Kalau ditelusuri, sebenarnya Indonesia (dan banyak negara yang pernah dijajah Jepang) juga punya isu yang sama (Jugun Ianfu), hanya saja, sepertinya selama ini nggak pernah mendapat perhatian serius. Padahal kalau dipikir, kasihan banget ya para perempuan yang jadi korban masa itu 😦

Cast:
– Na Ok-boon
– Park Min-jae

Sung Yoo-bin – Young-jae (adiknya Min-jae)
Yum Hye-ran – Jinjoo-daek (tetangganya Ok-boon)
Lee Sang-hee – Hye-jung (tetangganya Ok-boon)
Jung Yeon-joo – A-young (ce rekan kantor Min-jae)
Lee Ji-hoon – Jong-hyun
Park Chul-min – Manajer Yang
Son Sook – Jung Shim
Kim So-jin – Keum-joo
Choi Soo-in – Na Ok-boon (muda)
Lee Jae-in – Jung Sim muda

Judul: I Can Speak/ Ai Kaen Seupikeu
Sutradara:
Penulis: , Yoo Seung-hee
Sinematografi: Yoo Eok
Rilis: 21 September 2017
Durasi: 119 menit
Distributor: Lotte Entertaintment, Little Big Pictures
Negara/Bahasa: Korea/ Korea Selatan

Awards:
Blue Dragon Film Awards 2017: Best Director, Best Actress ( ), Popularity Award ( )
The Seoul Awards 2017: Best Actress ( )

 

Land of Mine

Januari 29, 2018 Tinggalkan komentar

Denmark pasca berakhirnya perang. Jerman kalah, dan tentara mereka ditarik mundur. Pihak Denmark yang merasa gembira dengan kekalahan Jerman, melampiaskan kebenciannya pada tentara Jerman yang masih tersisa. Beberapa dari sisa pasukan ini, kemudian ditugaskan untuk membersihkan ranjau yang ditanam oleh pihak Jerman sebelumnya. Salah satu pasukan dipimpin oleh Rasmussen. Pasukan ini berisi beberapa tentara Jerman yang masih sangat belia. Mereka ditugaskan membersihkan ranjau di sebuah pedesaan sunyi di tepi pantai. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang minim, para tentara belia ini harus melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya.

Land of Mine1

Land of Mine2

Sebagai tentara musuh, pasukan ini diperlakukan semena-mena. Bekerja keras dan tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. Tidur di gubuk seadanya dan dibiarkan kelaparan. Rasmussen awalnya, karena kebenciannya, berkeras hati membiarkan bocah-bocah belia ini menderita. Tapi semakin ke sini, nuraninya mulai terketuk. Tentara-tentara belia itu, tak lebih dari bocah-bocah lugu yang dipaksa oleh keadaan untuk terjun ke medan perang. Rasmussen pun mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Tapi tentu saja, sikapnya ini justru mendapat hujatan dari rekan-rekannya. Selain itu, hubungan yang melibatkan emosi juga mulai mengusiknya. Ketika ia melihat bocah-bocah ini satu per satu menjadi korban ketika menjinakkan ranjau, Rasmussen juga ikut menderita.

Land of Mine4

Land of Mine3

Menurut saya, ini film dengan cerita yang sangat bagus dan orisinal. Film tentang masa-masa perang, sudah banyak dibuat, tapi yang menyajikan cerita semacam ini, ya rasanya baru film ini. Pemilihan judulnya sendiri, menurut saya juga sangat brilian. “Land of Mine” yang selain mewakili latar cerita film yang memang mengetengahkan tentang ‘mine’ (ranjau) juga bisa dimaknai sebagai klaim kepemilikan yang kemudian menjadi ruh cerita film ini. Yah, karena klaim kepemilikan semacam itulah sebenarnya kejahatan kemanusiaan dan perang muncul. Kekalahan satu pihak dan berakhirnya perang, kenyataannya tak menjadikan dunia lebih baik. Orang saling membenci dan membunuh hanya karena merasa yang paling berhak menjadi pemilik. Sad.
Untunglah, film ini disajikan dengan begitu hangat. Recommended!

Cast:
Roland Møller as Sgt. Carl Leopold Rasmussen
Mikkel Boe Følsgaard – Lieutenant Ebbe Jensen
Laura Bro – Karin
Louis Hofmann – Sebastian Schumann
Joel Basman – Helmut Morbach
Oskar Bökelmann – Ludwig Haffke
Emil Belton – Ernst Lessner
Oskar Belton – Werner Lessner
Leon Seidel – Wilhelm LeBern
Karl Alexander Seider – Manfred
Maximilian Beck – August Kluger
August Carter – Rodolf Selke
Tim Bülow – Hermann Marklein
Alexander Rasch – Friedrich Schnurr
Julius Kochinke – Johann Wolff
Zoe Zandvliet – Elizabeth

Sutradara/Screenplay: Martin Zandvliet
Produser: Malte Grunert, Mikael Chr. Rieks
Musik: Sune Martin
Sinematografi: Camilla Hjelm Knudsen
Editor: Per Sandholt, Molly Malene Stensgaard
Distributor: Nordisk Film
Rilis: 10 September 2015 (TIFF)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Demark/Denmark-Jerman

Awards:
– Gijón International Film Festival 2015 : Audience Award
– Hamburg Film Festival 2015: Nominasi Art Cinema Award
– Tokyo International Film Festival 2015: NominasiTokyo Grand Prix , Best Actor Award (Roland Møller & Louis Hofmann )
– Toronto International Film Festival 2015: Nominasi Platform Prize
– European Film Awards 2016: Best Cinematographer, Best Costume Design, Best Hair and Make-up
– Hong Kong International Film Festival 2016: SIGNIS Awards
– Rotterdam International Film Festival 2016: Warsteiner Audience Award
– Academy Awards 2017: Nominasi Best Foreign Language Film

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar