Arsip

Archive for the ‘Film Inspiratif’ Category

Himizu

April 4, 2017 Tinggalkan komentar

Yuichi Sumida ( ), remaja berusia 14 tahun. Ia di sebuah lingkungan yang poranda setelah dilanda gempa dan tsunami. Ayahnya seorang looser pemabok yang kasar dan suka memukul, sementara ibunya sibuk dengan dirinya sendiri. Untunglah, di sekeliling Yuichhi masih ada orang-orang baik yang  meski hidupnya hancur karena bencana, tapi masih memiliki jiwa yang besar dan kasih sayang. Salah satunya adalah seorang kakek tua yang keluarganya habis ditelan tsunami. Tak punya siapa-siapa lagi, si kakek menaruh impian dan harapannya pada Yuichi yang masih muda.
Himizu (2011).mp4_000601432

Himizu (2011).mp4_001094319
Keiko ()  adalah teman sekelas Yuichi. Ia berasal dari keluarga kaya dengan orang tua ‘sakit’ yang menganggap keberadaannya sebagai beban. Meski begitu, Keiko selalu melihat hidup dengan ceria. Keiko diam-diam menyukai Yuichi, dan dengan segala cara, berusaha mendekati Yuichi.
Himizu (2011).mp4_000540746
Tapi kehidupan tak pernah menjadi lebih baik bagi Yuichi. Ibunya kabur dan ayahnya juga menghilang dengan meninggalkan banyak hutang. Awalnya, Yuichi yakin bahwa ia bisa hidup dengan dirinya sendiri. Namun ketika hal-hal buruk terus menimpanya, ia pun merasa putus asa. Untunglah, Keiko, si kakek dan orang-orang di sekitar Yuichi selalu ada, meyakinkannya untuk tetap positif menghadapi hidup.

 


Well, sebuah film yang ‘menyesakkan’ sekaligus mengharukan. Mungkin beberapa adegannya terkesan terlalu ‘brutal’ tapi uniknya juga terasa hangat dan manis. Dan saya baru ngeh usai menonton film ini, kalau ternyata sutradaranya tak lain dan tak bukan adalah , yang terkenal dengan film-filmnya yang bertema orang-orang ‘sakit’. Dan saya pun kemudian maklum, kenapa film ini disajikan sedemikian rupa. Tapi tenang saja, meski tokoh-tokohnya tentang orang-orang ‘sakit’ seperti saya sebutkan diatas, film ini cukup manis dan hangat, dengan pesan moral yang begitu optimis dan positif. Good movie!

Cast:
– Yuichi Sumida
– Keiko Chazawa

Tetsu Watanabe -Yoruno
Mitsuru Fukikoshi – Keita Tamura
Megumi Kagurazaka – Keiko Tamura
Denden – Kaneko
Ken Mitshusi – Ayahnya Yuichi
Makiko Watanabe – Ibunya Yuichi
Asuka Kurosawa – Ibunya Keiko
Keisuke Horibe – Ayahnya Keiko
Jun Murakami – Tanimura
Yosuke Kubozuko – Teruhiko Ijima
Fuyuki Moto – Tetsu
Taro Suwa – Makun
Setchin Kawaya – Kenkichi
Yuriko Yoshitaka – Miki

Judul: Himizu/ ヒミズ
Sutradara:
Penulis: Minoru Furuya (manga),
Produser: Haruo Umekawa, Masashi Yamazaki
Sinematografi: Sohei Tanikawa
Rilis: 14 Januari 2012
Durasi: 129 menit
Distributor: Gaga Corporation
Bahasa/Negara: Jepang

Awards:
Venice Film Festival 2011:
– Marcello Mastroianni Award for Best New Young Actor or Actress ( & )

Brussels International Fantastic Film Festival 2012:
–     7th Orbit Prize

Terracotta Far East Film Festival 2012 :
– Terracotta Far East Film Festival Audience Award

Film Festivals:
– Venice Film Festival – 2011 *World Premiere
– Toronto International Film Festival 2011 – Contemporary World Cinema *North American Premiere
– Busan International Film Festival  2011 – A Window on Asian Cinema
– Sitges Film Festival  2011 – Noves Visions – Fiction
– Hong Kong Asian Film Festival 2011 – Cineaste Delights
– Shanghai International Film Festival  2013 – Global Village – Japan Film Week
–  Bucheon International Fantastic Film Festival  2015 – I’m (not) SONO Sion
etc (see asianwiki.com)

The Land Of Hope

Maret 28, 2017 Tinggalkan komentar

Di sebuah kota kecil yang tenang. Keluarga Ono, yang terdiri dari Pak tua Ono dan istrinya, Chieko, anak lelakinya Yoichi dan menantunya, Izumi, hidup tenang dan bahagia mengelola peternakan sapi perahnya.
The Land of Hope-5
Hingga suatu hari, gempa dan tsunami menerjang salah satu sudut wilayah. Reaktor nuklir yang dipasang di kota itu mengalami kebocoran dan diduga radiasi menyebar. Warga dalam radius 20 km dari reaktor, diungsikan. Kebetulan rumah Ono tepat berada digaris batas. Meski begitu, orang-orang yang ketakutan mulai mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman. Tapi Pak tua Ono dan istrinya, yang merasa sudah tua dan tak ingin meninggalkan rumah tercinta mereka,  berkeras untuk bertahan. Meski begitu, mereka meminta Yoichi dan Izumi untuk mengungsi.
The Land of Hope-2
Di sisi lain, Izumi yang kemudian diketahui hamil, mulai mengalami paranoia, khawatir kalau-kalau bayinya entah bagaimana, terkena radiasi. Ia pun kemudian berperilaku aneh, dengan menutupi seluruh wajah dan tubuhnya agar tidak terpapar udara bebas.
The Land of Hope-1
Selain itu, juga ada sepasang kekasih, Mitsuru dan Yoko. Keluarga Yoko lenyap ditelan tsunami, dan Yoko berusaha mencarinya. Namun karena lokasi bencana berada di kawasan yang dilarang dilalui akibat reaktor nuklir, ia pun kesulitan mencari keluarganya.
The Land of Hope-4
Hmm… miris, sih, menonton film ini, apalagi kita tahu bahwa ceritanya sendiri memang terinspirasi dari kejadian nyata. Seperti diketahui, Jepang memang menjadi negara yang memiliki kisah kelam terkait reaktor nuklir ini. Dan yah, film ini seolah memang menjadi kritik sosial atas keadaan tersebut. Memang kalau dipikir-pikir, terlalu nekad sih, ketika Jepang membuat reaktor nuklir sementara kondisi alam mereka sangat labil (sangat rawan gempa dan tsunami)Dan kemudian, menjadi wajar ketika banyak masyarakat yang kemudian menjadi paranoid. Hmm, kadang tak habis pikir sih dengan keserakahan dan ketamakan manusia…
The Land of Hope-
Filmnya sendiri digarap dengan bagus oleh sutradara yang memang dikenal dengan film-film penuh kritiknya, .  Meski menonton film ini, saya sempat was-was kalau-kalau eksekusinya terlalu absurd atau ‘sakit’ khas Sono (saya masih agak trauma dengan filmnya trilogi Suicide Club), tapi untungnya, nggak kok. Alih-alih, film ini justru terasa hangat dan seperti judulnya, penuh harapan.

Cast:
Isao Natsuyagi – Yasuhiko Ono
Naoko Otani – Chieko Ono
Jun MUrakami – Yoichi Ono
Megumi Kagurazaka – Izumi Ono
Yutaka Shimizu – Mitsuri Suzuki
Hikari Kajiwara – Yoko
Mariko Tsutsui – Meiko Suzuki
Denden – Ken Suzuki
Dakichi Sugawara – Shimura
Takashi yamanaka – Kato

Judul: The Land Of Hope/ Kibou no Kuni (希望の国)
Sutradara/Penulis:
Produser: Yuji Sadai, Mizue Kunizane, Yuko Shiomaki
Sinematografi: Shigenori MIki
Rilis: 20 Oktober 2012
Durasi: 134 menit
Distributor: Bitters End
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
Toronto International Film Festival – 2012 – Contemporary World Cinema:
–      NETPAC
Mainichi Film Awards 2013 :
– Best Actor (Isao Natsuyagi)

Film Festivals
– Toronto International Film Festival 2012 – Contemporary World Cinema *World Premiere
–  Busan International Film Festival 2012 – A Window on Asian Cinema
– Hawaii International Film Festival  2012 – Spotlight on Japan *U.S. Premiere
– Chicago International Film Festival  2012 – Main Competition
– Stockholm International Film Festival  2012 – Asian Images
– San Diego Asian Film Festival – November 2012 – Masters *West Coast Premiere
– Hong Kong Asian Film Festival2012 – Cineaste Delights
etc. see asianwiki.com

Have a Song on Your Lips

Februari 22, 2017 Tinggalkan komentar

Nazuna seorang gadis remaja yang tinggal bersama kakek-neneknya di sebuah kota kecil di teluk Nagasaki yang tenang. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya meninggalkannya. Meski menyimpan kemarahan pada ayahnya, tapi Nazuna menjalani hari-harinya dengan ceria.

have-a-song-on-your-lips-7

 

have-a-song-on-your-lips-6

Di sekolah, Nazuna bertindak sebagai ketua dalam klub paduan suara yang anggotanya perempuan semua. Paduan suara itu dibimbing oleh guru kesayangannya, Bu Matsuyama. Ketika hendak mengikuti lomba paduan suara, sayangnya, Bu Matsuyama harus cuti karena hendak melahirkan. Sebagai gantinya, adalah temannya, Ms Kashiwaga () yang ternyata adalah pianis terkenal. Sejak awal, Nazuna tak menyukai Miss Kashiwaga karena sifatnya yang angkuh dan jutek. Tidak hanya itu, karena Bu Kashiwaga kemudian menambah anggota klub dengan para anak lelaki. Hal yang membuat Nazuna dan teman-temannya jengkel.

have-a-song-on-your-lips-2

 

have-a-song-on-your-lips-4

Di antara anak laki-laki yang ikut bergabung adalah Kuwahara. Kuwaharabertubuh mungil dan tidak populer di sekolah. Ia punya seorang kakak yang menderita keterbelakangan mental, Akio, yang harus selalu ia temani pulang setiap hari. Nakamura bergabung dengan klub paduan suara karena diajak teman ceweknya yang manis, yang tahu bahwa Nakamura bersuara bagus. Awalnya, keiikutsertaan Kuwahara ditentang oleh ayahnya, karena khawatir ia tak bisa menajga Akio. Namun ibunya mendukungnya.

Have a Song on Your Lips-9.jpg

Awalnya, Kashiwaga ogah-ogahan melatih klub itu. Ia sedang patah hati, setelah pacarnya meninggal karena kecelakaan ketika ia hendak melakukan pertunjukan. Namun melihat keseriusan murid-muridnya, ia pun mulai serius melatih. Tidak hanya itu, karena ia kemudian juga belajar banyak hal dari kisah mengharukan yang melatar belakangi kehidupan murid-muridnya, terutama Nazuna dan Kuwahara.

have-a-song-on-your-lips-13

have-a-song-on-your-lips-10

Satu lagi film Jepang bergenre remaja yang sangat layak untuk ditonton! Ceritanya ‘sederhana’ tidak muluk-muluk, tapi dikemas dengan begitu apik dan bersahaja dengan sebuah pesan moral yang jelas. Tidak ada karakter utama di film ini, tapi ceritanya terasa utuh dan masing-masing karakter mendapat eksplorasi yang baik. Nuansanya sangat “remaja” dengan segala kepolosan dan kemurniannya, tanpa embel-embel romance yang lebay. Dan pemilihan para pemainnya juga terasa pas, aktor-aktor mudanya terlihat sangat realistis, tanpa ada pretty boy atau flower girl. Sosok-sosok mereka benar-benar menggambarkan anak-anak usia 15 tahun di kota kecil yang masih culun, polos, tapi juga manis dan penuh energi positif. Good movie!

have-a-song-on-your-lips-15

Cast:
– Yuri Kashigawa
Yuri Tsunematsu – Nazuna Tsunematsu
Shota Shimoda – Satoru Kuwahara
Wakana Aoi – Chinatsu Sekiya
Kyoka Shibata – Eri Tsuji

Mayu Yamaguchi – Kotomi Hasegawa
Hayato Sano – Keisuke Mukai
Hibiki Muroi – Riku Mitamura
Fumino Kimura – Haruko Matsuyama
Kenta Kiritani – Tetsuo Tsukamoto
Daichi Watanabe – Akio Kuwahara
Hideakazu Mashima – Yuki Nakamura
Hikari Ishida – Sizuru Nakamura
Tae Kimura – Teruko Kuwahara
Shigemitsu Ogi – Koichi Kuwahara

Judul: Have a Song on Your Lips/ Kuchibiru ni Uta o (くちびるに歌を)
Sutradara:
Penulis: Otsuichi (novel), Yuichi Toyone, Yukiko Mochiji
Produser: Mitsuru Uda
Sinematografi: Koichi Nakayama
Rilis: 28 Februari 2015
Durasi: 132 menit
Distributor: Asmik Ace Entertainment
Negara/Bahasa: Jepang

The Great Passage

Februari 22, 2017 Tinggalkan komentar

Bagian pembuatan kamus di sebuah pperusahaan penerbitan.  Mereka sedang menyiapkan sebuah proyek ambisius, membuat kamus modern yang diberi nama The Great Passage. Ketika salah satu staf andalan berniat untuk pensiun, mereka pun harus mencari anggota baru. Nishioka (), salah satu anggota tim yang berpembawaan ramah, ditugaskan merekrut anggota baru. Dibutuhkan orang yang benar-benar serius dan punya kapabilitas untuk bergabung, karena pekerjaan membuat kamus adalah pekerjaan yang cenderung membosankan dan butuh ketekunan.

the-great-passage-3
Majime () adalah pegawai bagian marketing. Ia cowok cupu yang berpembawaan serius dan tak tahu bagaimana cara bersosialisasi. Alih-alih, ia selalu menghabiskan sisa waktunya dengan tumpukan buku-buku. Melihat karakter serius Majime, Nishioka pun mengajaknya bergabung. Dan benar saja, Majime bukanlah pilihan yang salah. Ia sangat tekun, cermat dan juga pintar. Pekerjaan membuat kamus benar-benar pekerjaan yang cocok untuknya.
the-great-passage-4

the-great-passage-10
Bergabungnya Majime di tim kamus dan bertemu rekan-rekan timnya yang hangat, terutama Nishioka yang ramah, membuat Majime belajar untuk lebih membuka diri dan membangun kehidupan sosial. Apalagi, kemudian ada Kaguya () , putri induk semangnya, seorang chef yang baru pulang untuk merawat ibunya. Majime pun kemudian belajar artinya cinta dan cara mencintai dengan bantuan teman-temannya. Di sisi lain, upaya pembuatan kamus juga mengalami kendala, karena di era digital sekarang, kamus dianggap bukan sebagai sesuatu yang memiliki nilai jual. Meski begitu, Majime dan timnya terus bekerja dengan penuh ketekunan dan pengabdian untuk menghasilkan kamus yang ‘abadi.’
the-great-passage-14

the-great-passage-12-2
Sekilas, premisnya mungkin terdengar membosankan; para pembuat kamus.  Bahkan membayangkan kamus sendiri sudah cukup membuat kening berkerut: buku super tebal berisi ribuan kata dan kosakata. Lantas apa menariknya kehidupan para pembuat kamus? Hmm, saya pikir justru di situ lah saya pikir ide brilian dari pembuat film ini. Membuat film dengan tema yang terasa orisinil. Membosankan? Tidak sama sekali. Meskipun latar film sebagian besar diambil dalam ruangan dengan tumpukan buku-buku, tapi anehnya gambar-gambarnya tetap terasa sinematik dan menarik. Dan meski tema besarnya adalah tentang pembuatan kamus, tapi tetap ada cerita humanis hubungan antar manusia yang manis dan mengharukan yang disajikan dengan sophisticated. Lewat film ini, membuka mata kita, tentang kehidupan para pembuat kamus yang penuh dedikasi, berkutat dengan kata-kata bahkan selama bertahun-tahun untuk menghasilkan sebuah benda yang sangat bermanfaat bernama kamus. Salut! Good movie!

Cast:
– Mitsuya Majime
– Kaguya Hiyashi
– Masashi Nishioka
Haru Kuroki – Midori Kishibe
Misako Watanabe – Take

Chizuru Ikewaki – Remi Miyoshi
Shingo Tsurumi – Direktur Murakoshi
Hiroko Isayama – Kaori Sasaki
Kaoru Yachigusa – Chie Matsumoto
Kaoru  Kobayashi – Kohei Araki
Go Kato – Tomosuke Matsumoto
Shohei Uno – Shinichiro Miyamoto
Ryu Morioka – Egawa
Naoki Matayoshi – Togawa
Yoshiki Saito – Kobayashi

Judul: The Great Passage / We Knit Ship / Fune wo Amu (舟を編む)
Sutradara: Yuya Ishii
Penulis: Shion Miura (novel), Kensaku Watanabe
Produser: Tomo Tsuchii, Kimitaka Goka, Noritsugu Iketa, Yasuyuki Iwanami
Sinematografi: Junichi Fujisawa
Rilis: 13 April 2013
Durasi: 133 menit
Distributor: Asmik Ace Entertainment, Shochiku
Negara/Bahasa: Jepang

 Awards
Hochi Film Awards 2013:
– Best Picture
– Best Actor ()
– Best Supporting Actress (Chizuru Ikewaki)

Japan Academy Prize 2014:
– Picture of the Year
– Director of the Year
– Screenplay of the Year
– Outstanding Performance by an Actor in a Leading Role
– Outstanding Achievement in Sound Recording
– Outstanding Achievement in Film Editing

Academy Awards 2014:
– Masuk seleksi dalam “Best Foreign Language Film”

(Sumber: asianwiki.com)

Where Is the Friend’s Home?

Januari 25, 2017 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan di sebuah ruang kelas. Seorang guru lelaki berwajah galak memarahi muridnya, Reda, yang tak menyelesaikan PR. Reda yang berwajah memelas menangis karena dimarahi. Meski begitu, tokoh utama film ini sebenarnya adalah anak lelaki yang lain, Ahmed.
where-is-the-friends-home-1
Usai pulang sekolah, Ahmed yang sepertinya adalah anak yang rajin, bersiap mengerjakan PRnya. Tapi ia kemudian mendapati bahwa buku milik Reda, yang sampulnya mirip dengan kepunyaannya, tak sengaja terbawa. Karena khawatir bahwa Reda tak bisa mengerjakan PR-nya, Ahmed kemudian berniat untuk mengantarkan buku itu ke rumah Reda. Tapi ibunya, yang mengira bahwa Ahmed hanya mencari-cari alasan agar tak mengerjakan PR, melarangnya pergi. Di sisi lain, rumah Reda juga jauh. Meski begitu, Ahmed tetap bersikeras untuk mengantarkan buku itu, dan akhirnya terpaksa berbohong kepada ibunya.
where-is-the-friends-home-3
Seorang diri, ia pergi ke rumah Reda. Masalah muncul karena ia tak tahu dimana tepatnya rumah Reda dan seperti umumnya anak kecil hanya tahu nama Reda belaka. Ia pun kemudian harus bertanya kesana kemari pada orang-orang sekampung. Meski begitu, ia tak menyerah. Hingga malam menjelang, ia kemudian bertemu dengan seorang lelaki tua tukang kayu, yang mengenal Reda dan akan mengantarnya.
where-is-the-friends-home-4
Saya selalu menyukai film-film Timur Tengah, terutama Iran, yang menyampaikan hal-hal besar melalui cerita yang terlihat sederhana. Seperti juga film-film Kairasotami sebelumnya, lagi-lagi di sini ia menggunakan tokoh anak-anak. Melalui sosok seorang Ahmed, kita diajak untuk melihat artinya kebaikan dan tanggung jawab, yang bahkan kadang, tak dipahami oleh orang-orang dewasa. Dan meski film ini dibuat sudah cukup lama (tahun 1987) tapi ceritanya tetap terasa tak lekang oleh waktu. Recommended!

Note: Merupakan bagian pertama dari trilogi yang mengambil latar di wilayah Koker, Iran. Film berikutnya adalah  “Life, and Nothing More…” dan “Through the Olive Trees”.  

Cast:
Babek Ahmedpour – Ahmed
Ahmed Hamedpour – Mohamed Reda Nematzadeh
Kheda Barech  Defair – Pak Guru
Iran Outari – Ibu
Ayat Ansari – Ayah
Rafia Difai – Kakek
Mohammad Hossein Rouhi – Tukang Kayu

Judul: Where Is the Friend’s Home?/ Khane-ye doust kodjast
Sutradara/Penulis:
Produser: Ali Reza Zarrin
Sinematografi: Farhad Saba
Editing: Abbas Kiarostami
Rilis: 1987
Durasi: 83 menit
Negara: Iran

Awards:
–  Locarno Film Festival. 1989 : Bronze Leopard
–  Fajr Film Festival: Golden Plate

Winter Sleep

Januari 21, 2017 Tinggalkan komentar

Pada suatu musim dingin di sebuah desa wisata di salah satu sudut Turki. Aydin adalah seorang lelaki tua, mantan aktor teater yang menghabiskan hari-harinya di rumahnya—yang merangkap hotel–yang nyaman sembari menulis. Di rumahnya, ia tinggal bersama adik perempuannya yang janda, Necla dan istrinya yang masih muda dan cantik, Nihal. Selain itu ia juga ada dua orang pembantunya,  Fatma dan Hidayat.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_000110741
Aydin adalah semacam tuan tanah di tempatnya. Ia dihormati karena memiliki banyak harta dan sebagai umumnya orang kaya, ia memiliki sedikit keangkuhan. Insiden kecil terjadi ketika salah satu anak penyewanya, Ismail, iseng melemparkan batu ke kaca mobilnya. Aydin menganggap kejadian itu tak penting, tapi keluarga si anak menganggap itu hal yang penting. Ketika si keluarga berkeras untuk membayar, Aydin justru berkesan meremehkan.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_003150088
Masalah lain muncul seputar hubungannya dengan Nihal, istrinya. Sang istri yang masih muda, merasa kosong karena tak bekerja. ia kemudian membentuk semacam LSM untuk sekolah di daerah terpencil. Lagi-lagi hal ini menimbulkan kerumitan ketika Aydin yang merasa memiliki banyak uang, ingin ikut campur, sementara Nihal ingin melakukannya dengan usahanya sendiri.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_003713539
Emm yah, sebenarnya sulit bagi saya untuk membuat sinopsis film ini. Seperti banyak film-film festival, tidak ada konflik cerita yang gamblang. Alur juga bergerak perlahan-lahan, mengupas sedikit demi sedikit permasalahan di seputar kehidupan Aydin yang disajikan dengan begitu rapi dan alami. Tak heran kalau kemudian durasi film ini bahkan membutuhkan waktu tiga jam. Sehingga butuh kesabaran untuk mengikutinya.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_006944191
Mungkin juga sedikit membosankan.Tapi jika kita benar-benar tekun mengikutinya, akan banyak hal yang menyisakan perenungan setelah menontonnya.  Segala sesuatunya berjalan begitu alami disekeliling kehidupan Aydin. Karakter-karakternya juga terasa sangat natural dan realistis, dengan berbagai ambiguitas dan hipokrisi sifat manusia. Didukung gambar-gambar bernuansa musim dingin yang sinematik. Karena meski banyak gambar diambil di tempat yang itu-itu saja, anehnya jauh dari membosankan. Good movie!
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_000212064
Cast:
Haluk Bilginer-  Aydın,
Demet Akbağ  – Necla
Melisa Sözen – Nihal
Ayberk Pekcan (tr) – Hidayet
Tamer Levent (tr) – Suavi (teman Aydin)
Nejat İşler –  İsmail
Serhat Kılıç (tr) –  Hamdi (imam, kakak Ismail)
Nadir Sarıbacak (tr) – Levent (guru, teman Nihal)
Mehmet Ali Nuroğlu (tr) – Timur (tamu hotel)
Emirhan Doruktutan – Ilyas (anak Ismail)

Judul: Winter Sleep (Kış Uykusu))
Sutradara:
Produser: Zeynep Özbatur Atakan
Penulis: , Ebru Ceylan
Sinematografi: Gökhan Tiryaki
Editing: , Bora Göksingöl
Produksi: NBC Film, Bredok Filmproduction, Memento Films Production, Zeynofilm
Distributor: New Wave Films (UK), Adopt Films (US)
Rilis: 16 Mei 2014 (Cannes), 13 Juni 2014 (Turki)
Durasi: 196 menit
Negara/Bahasa: Turki

Awards:
Cannes Film Festival     2014:
– Palme d’Or
– FIPRESCI Prize

To Live

Januari 12, 2017 Tinggalkan komentar

Xu Fugui adalah seorang putra tuan tanah. Ia mewarisi kekayaan ayahnya yang kaya raya. Sayangnya, Fugui sangat gila judi dan selalu kalah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh saingannya untuk menjerat Fugui dengan hutang hingga seluruh kekayaan Fugui  ludes. Tidak hanya jatuh miskin, ayah Fugui  meninggal karena syok dan istrinya Jiazhen (), meninggalkannya.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_000639629

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001193197
Fugui pun kemudian menjadi rakyat biasa yang harus bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Untunglah, istri dan anaknya, Fengxia, yang bisa menerima keadaan Fugui, kemudian datang dan kembali hidup bersama.

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001570467

Jadi, wayang itu sebenarnya bukan asli Indonesia lho, tapi sepertinya banyak pengaruh China-nya 🙂

Untuk menghidupi keluarganya, Fugui kemudian bekerja sebagai pemain wayang. Fugui berkerja keras demi anak dan istrinya. Dan meski hidup pas-pasan, ia dan keluarganya bahagia. Sayangnya, perang China pecah. Fugui  yang tak tahu apa-apa, terseret di medan perang bersama temannya, Chunsheng. Dengan menggunakan taktik survival, keduanya berhasil selamat. Bahkan diminta untuk mempertunjukkan wayang demi menghibur tentara di medan perang.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001903935

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_002467320
Ketika perang berakhir, Fugui berhasil kembali ke rumah. Istri dan anaknya masih hidup, tapi sang anak menjadi  bisu karena terserang demam ketika perang. Fugui  dan Jiazhen kembali lagi bahu membahu bekerja dan hidup harmonis. Tapi kondisi politik sudah berubah. Revolusi Mao dimulai. Para tuan tanah dihukum karena dianggap kapitalis, termasuk pemilik rumah Fugui. Fugui justru dianggap berjasa karena sudah membantu tentara revolusi.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005749121
Dimulailah era baru revolusi dengan kehidupan komunal, anti kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada Ketua Mao. Fugui dan Jiazhen mengikuti arus saja, yang terpenting mereka hidup aman dan nyaman, membesarkan anak-anak mereka. Fugui kembali bermain wayang yang kemudian digunakan sebagai media propaganda.

Namun pasang surut kondisi politik, tak urung mempengaruhi kehidupan mereka. Mendatangkan duka demi duka dalam kehidupan mereka. Meski ebgitu, Fugui dan Jiazhen selalu menjalani hidup dengan optimisme dan kebersahajaan.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005451328
Diangkat dari novel karya Yu Hua saya sendiri belum baca novelnya, tapi menurut saya versi filmnya yang digrap sutradara yang saya kagumi, , adalah film yang sangat bagus.  Dengan selipan kritik-kiritk sosial yang rapi. Gaya penceritaan, latar dan plotnya terasa sophisticated.  

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005699695
Yah, seperti judulnya, film ini memang mengetengahkan cerita tentang ‘hidup.’ Ya, hidup. Melalui sosok Fugui dan Jiazhen, digambarkan bagaimana manusia, yang pernah terpuruk, melakukan kesalahan kemudian berusaha bangkit, tak kenal menyerah,  selalu optimis menjalani hidup dan menjadi manusia yang lebih baik. Sebbuah kisah yang terasa sangat humanis. Dan meski bukan bergenre romance, tapi menurut saya film ini juga sangat romantis. Hubungan Fugui dan Jiazhen entah kenapa mengingatkan saya pada pasangan-pasangan sederhana yang sering saya temui di desa-desa. Mereka hidup bersahaja, saling melengkapi dan mencintai tanpa banyak kata-kata atau ungakpan gombal. Mereka selalu bersama, saling mendukung satu sama lain. Sangat mengharukan. Dan akting kedua pemeran utamanya memang patut diacungi jempol. dan Ge You yang bermain sangat apik. Very recommended.

Cast:
Ge You – Xu Fugui
– Jiazhen

Ben Niu – Walikota
Wu Jiang     – Wan Erxi
Deng Fei – Xu Youqing
Tao Guo – Chunsheng
Tianchi Liu- Xu Fengxia (dewasa)
Zongluo Huang – Ayahnya Fu Gui
Yanjin Liu – ibunya Fu Gui
Dahong Ni – Long’er
Lian-Yi Li – Sgt. Lao Quan
Xiao Cong – Xu Fengxia (remaja)
Zhang Lu     – Fengxia (kecil)

Judul: To Live (Huózhe)
Sutradara:
Produser: Fu-Sheng Chiu, Funhong Kow, Christophe Tseng
Penulis: Lu Wei (berdasar novel ” To Live” karya Yu Hua)
Musik: Zhao Jiping
Sinematografi: Lü Yue
Distributor: The Samuel Goldwyn Company
Rilis: 18 Mei 1994 (Cannes)
Durasi: 132 menit
Negara/bahasa: China/Mandarin

Awards:
Cannes Film Festival 1994:
– Grand Prix, Prize of the Ecumenical Jury, Best Actor (Ge You)
– Nominasi Palme d’Or

Golden Globe Award  1994:
– Nominasi Best Foreign Language Film

National Board of Review 1994:
– Best Foreign Language Film

National Society of Film Critics Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Language Film

BAFTA Award 1995:
– Best Film Not in the English Language

Chlotrudis Award 1995 :
– Nominasi Best Actress ()

Dallas-Fort Worth Film Critics Association Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Film

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar