Arsip

Archive for the ‘Film Coming Age’ Category

One Million Yen Girl

September 15, 2017 Tinggalkan komentar

Suzuko Sato () mengalami ‘masalah’ ketika mulai ingin hidup mandiri. Karena kesalahan yang tak disengaja, ia kemudian sempat di penjara. Sekeluar dari penjara, ia terpaksa kembali ke rumahnya, tinggal bersama ayah-ibu dan adiknya. Namun ia tak lagi merasa bahagia. Orang tuanya merasa terbebani karena para tetangga bergosip tentang dirinya yang pernah dipenjara. Merasa tak nyaman, Suzuko pun memutuskan untuk keluar rumah setelah ia punya tabungan sebanyak sejuta yen. Tidak hanya itu, ia juga bertekad untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap kali berhasil mengumpulkan uang sejuta yen, karena dengan uang segitu, ia merasa cukup untuk hidup dan memulai mencari pekerjaan lain lagi.

one million yen girl

one million yen girl-3

Maka perjalanan ‘1 juta yen’ Suzuko pun dimulai. Ia pergi ke suatu tempat dan mencari pekerjaan-pekerjaan paruh waktu. Mulai menjadi tukang serut di pinggir pantai, pemetik buah plum di pedesaan hingga menjadi penjual bunga di sebuah kota kecil. Dalam perjalanannya, Suzuko menyadari bahwa bukan hanya karena kecukupan uang yang membuatnya ingin pindah, tapi juga perasaan tidak nyaman ketika ia sudah mulai ‘kenal’ dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga suatu hari, ia bertemu Ryohei (), mahasiswa paruh waktu yang membuatnya jatuh cinta. Gayung bersambut karena Ryohei juga menyukai Suzuko. Ketika sudah merasa ‘nyaman’ Suzuko pun dihadapkan pada pilihan dilematis, menepati prinsip hidupnya untuk pindah atau tinggal bersama Ryohei.

 

one million yen girl-9

one million yen girl-14

Saya menonton film ini karena . Dia adalah aktris yang saya kagumi. Selain wajahnya yang menurut saya sangat lovable, juga karena film-filmnya yang umumnya bagus-bagus. Film ini sendiri merupakan perpaduan antara coming age story dan road movie, yang mengetengahkan pergolakan psikologis Suzuko. Dan yah, para sineas Jepang agaknya memang lihai kalau mengetengahkan tema-tema semacam itu. Kesendirian, keterasingan… sebuah tema yang akrab dan ada dalam diri kita sehingga film ini terasa relatable ketika ditonton.

one million yen girl-13

Tapi tenang saja, karena meski temanya agak depresif, tapi film sendiri dikemas dengan cukup ‘light’ dipadu dengan warna-warna film yang cukup cerah dan tentu saja, wajah yang selalu terlihat fresh. Dan pemilihan sebagai cowok yang kemudian jadi kekasih Suzuko juga terasa pas. Mirai, seperti biasa terlihat keren dengan keunikan akting dan wajahnya. Ohya, ending film ini juga cukup optimis kok. Love this movie.

Cast:
– Suzuko Sato
– Ryohei Nakajima
Terunosuke Takezai – Yuuki
Ryusei Saito – Takuya Sato
Takashi Sasano – Siraishi
Sumei Sasaki – Fujii Kinu

Judul: One Million Yen Girl/ Hyakuman-en to NIgamushi Onna
Sutradara & Penulis: Yuki Tanada
Produser: Kumi Kobata, Koko Maeda
Rilis: 19 Juli 2008
Durasi: 121 menit
Distributor: Nikkatsu
Negara/Bahasa: Jepang

Film Festival:
Udine Far East Film 2009: My Movie Audience Award
Nippon Connection 2010

Iklan

Y Tu Mamá También

Agustus 15, 2017 Tinggalkan komentar

Tenoch dan Julio () adalah dua remaja yang bersahabat karib. Keduanya berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tenoch anak seorang politikus papan atas yang kaya, sementara Julio berasal dari keluarga biasa. Ayahnya minggat dan ia hanya tinggal dengan ibu dan kakak perempuannya yang seorang aktivis kampus. Meski begitu, mereka memiliki kesamaan sifat dan selera humor yang membuat mereka nyambung satu sama lain. Keduanya cenderung bengal, hedon, dan kekanakan.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_000546067

Suatu hari, pacar mereka, sama-sama pergi untuk melakukan perjalanan ke Italia. Di tengah rasa bosan ditinggal pacar, di sebuah pesta, mereka kemudian bertemu Luisa, yang notabene adalah istri Julio, sepupunya Tenoch yang menyebalkan. Iseng mereka mengajak Luisa untuk jalan-jalan ke pantai yang namanya tak jelas dalam peta. Awalnya, Luisa menolak. Tapi ketika tahu bahwa suaminya berselingkuh, ia pun memutuskan untuk ikut pergi.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_002489800

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005140134

 

Dengan mengendarai mobil tua milik kakaknnya Julio, mereka pun mulai melakukan perjalanan menyusuri sudut-sudut Meksiko yang tandus dan gersang. Obrolan di sepanjang perjalanan diisi dengan pembicaraan melantur yang tak terlalu penting, khas remaja yang cengengesan dan tahunya hanya ingin bersenang-senang. Luisa yang dewasa dan lebih berpengalaman menikmati sikap kekanakan teman-teman mudanya. Tapi di perjalanan itu juga kemudian mereka mulai mengakui ‘dosa’ satu sama lain, dan melakukan hal-hal gila. Ketika perjalanan berakhir, persahabatan mereka tak lagi sama. Sementara Luisa, ternyata juga menyimpan sebuah rahasia.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_004805037

Another coming age story yang juga dipadukan dengan road movie. Sedikit mirip-mirip American Pie dalam hal eksplorasi seksualnya yang cenderung vulgar, tapi secara keseluruhan terasa lebih ‘berisi’ dengan latar belakang situsasi politik di Meksiko segala macam. Untuk road movienya, menurut saya juga disajikan dengan bagus dan menarik. Karena menggambarkan daerah-daerah pedesaan Meksiko yang begitu khas dunia ketiga: kumuh dan miskin, begitu kontras dengan karakter utama film yang digambarkan cengengesan, childish dan hedon. Meski begitu, semua kekontrasan itu disulam dengan begitu rapi menjadi sebuah cerita yang manis. Segala kecengengesan kedua tokoh utamanya rasanya bisa dimaklumi mengingat usia mereka yang masih sangat muda. Dan entah kenapa, usai menonton film ini saya bisa membayangkan Julio dan Tenoch di balik layar yang mulai beranjak dewasa dan melakukan hal-hal yang lebih ‘berguna.’

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005078264

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005862509

Untuk akting, yah, saya selalu menyukai dan dialah salah satu alasan utama saya tertarik dengan film ini. Seperti biasa, ia bermain dengan apik dan ‘karismatis’. Diego Luna (yang konon adalah karibnya Bernal di kehidupan nyata, tak heran kalau bromance keduanya terasa nyata) juga sangat pas sebagai Tenoch si anak orang kaya. Demikian juga Maribel Verdu yang jadi Luisa, yang terkesan rapuh tapi juga mature. Layak tonton!

Note:
Lumayan banyak adegan dewasanya. Tidak disarankan bagi yang berusia di bawah umur 🙂

Cast:
Maribel Verdu – Luise Cortes
– Julio Zapata
Diego Luna – Tenoch Iturbide
Diana Bracho – Silvia
Andres Almeida – Diego “Saba” Modero
Ana LOpez Mercado – Ana Morelos
Nathan Grinberg – Manuel Huerta

Judul: Y Tu Mamá También (And Your Mother Too)
Sutradara: Alfonso Cuaron
Produser : Alfonso Cuaron, Jorge Vergara
Penulis: Alfonso Cuaron, Alfonso Cuaron
Narator : Daniel Gimenez Cacho
Musik: Natalie Imbruglia, Frank Zappa, Miho Hatori
Sinematografi: Emmanuel Lubezki
Editing: Alex Rodriguez, Alfonso Cuaron
Distributor: 20th Century Fox
Rilis: 8 Juni 201
Durasi: 106 menit

Awards:
Academy Award 2001: Nominasi Award for Writing Original Screenplay
BAFTA Awards 2001: Nominasi Best Original Screenplay
Golden Globe: Nominasi Best Foreign Language
Grammy Award: Nominasi Best Compilation Soundtrack Album for Motion Picture
Independetn Spirit Award: Best Foreign Film
etc.

Whiplash

Andrew Newman, seorang pemuda19 tahun,  mahasiswa baru di sebuah sekolah musik bergengsi, Shaffer. Ia adalah sosok penyendiri, yang tumbuh bersama ayahnya yang penyayang setelah ibunya minggat ketika ia masih kecil. Andrew sangat menyukai jazz, mengagumi Buddy Rich dan Charlie Parker. Ia bermain drum sejak kecil. Dan sejak kecil pula ia yakin bahwa jazz adalah hidupnya. Baginya, jazz adalah segala-galanya.  Ia tak peduli pada anggapan keluarga besarnya, yang berpikir bahwa mimpinya hanyalah sia-sia. Ia mencurahkan seluruh waktu dan engerginya untuk berlatih.
Whiplash_1
Fletcher adalah seorang profesor terkenal Shaffer yang kemudian mengajak Andrew bergabung di bandnya yang bergengsi. Hal yangmembuat Andrew merasa bangga dan percaya diri. Namun ternyata itu barulah permulaan. Fletcher adalah seorang guru yang  sangat perfeksionis dan setengah ‘gila’. Ia mengajar dengan kasar dan keras. Kesalahan kecil berarti sumpah serapah menyakitkan hingga kekerasan fisik. Semua takut kepadanya, tapi juga ingin menampilkan yang terbaik di hadapannya.
Whiplash5
Setelah latihan ekstrim yang  mengerikan, Andrew akhirnya keluar dari band. Ayahnya yang tak rela Andrew diperlakukan sedemikian rupa, menyuruh Andrew melayangkan tuntutan. Apalagi kemudian tersiar kabar kalau salah seorang mantan murid Fletcher meninggal karena bunuh diri, yang diduga depresi sejak diajar Fletcher. Fletcher pun kemudian dipecat dari Shaffer. Andrew memutuskan untuk membuang mimpinya tentang jazz.
Whiplash3
Hingga suatu hari, ia kembali bertemu Fletcher di sebuah kafe jazz. Berbeda dengan sosok killer Fletcher ketika mengajar, di luar, Fletcher adalah sosok lelaki hangat yang inspiratif. Fletcher kemudian mengajak Andrew mengobrol dari hati ke hati dan meyakinkan Andrew untuk kembali pada impiannya. Tidak hanya itu, ia juga mengajak Andrew untuk bergabung dengan bandnya yang akan segera tampil.
Whiplash_2
Ada dua hal yang membuat saya penasaran sama drama ini. Pertama, karena film ini disebut-sebut oleh Lee Je-hoon, salah satu aktor Korea , dalam sebuah wawancara yang saya baca di internet, sebagai salah satu film favoritnya. Saya selalu mengagumi Lee, karena akting dan film-filmnya yang bagus, karenanya, saya pikir selera filmnya pasti juga tidak buruk. Kedua, setelah nonton film La La Land dan browsing di internet, ternyata film ini digarap oleh sutradara yang sama dengan La La Land, Damien Chazelle.
Whiplash6
Dan yah, setelah menontonnya, saya pun paham kenapa Lee konon sangat menyukai film ini. Sinematografi dan cerita film ini memang cukup berbeda dari film-film bertema serupa. Filmnya bernuansa indie, dengan plot dan karakter yang terasa sangat intense. Meski begitu film ini juga tidak sepenuhnya ‘muram’ atau ‘gelap’. Meski karakter utamanya bisa dibilang ‘gila’ tapi tetap digambarkan sisi-sisi manusiawi dengan segala interkasi manusia yang lembut dan hangat. Pesan moralnya juga sangat jelas: jangan pernah menyerah pada impian kita! Dan  jangan lupa juga, musiknya yang sangat jazz dan sophicasted. Apalagi, Damien sang sutradara, memang pernah mempelajari jazz sehingga sepertinya memiliki pemahaman yang memadai tentang jazz.
Whiplash4

Whiplash7
Di sisi lain, menonton film ini, membuat saya merasa cukup ‘sakit’. Saya merasa ‘sakit’ melihat kegilaan karakter-karakternya.  Bukankah musik seharusnya dinikmati? Bukankah impian seharusnya membuat kita bahagia? Di sisi lain, saya juga sadar bahwa ‘dunia mimpi’ apalagi yang berkaitan dengan seni, bukanlah sesuatu yang seindah warna pelangi. Ironis memang, karena seni adalah sesuatu yang membuat dunia indah dan warna-warni. Tapi bagaimana seni tercipta, seringkali bukanlah hasil dari sebuah proses yang selalu menyenangkan. Kenyataannya,  karya seni besar besar justru banyak yang lahir dari pergulatan rasa sakit dan kegilaan. Dan agaknya, hal itu disajikan dengan begitu impresif melalui film ini. Worthed to watch!

Cast:
Miles Teller – Andrew Neiman
J. K. Simmons – Terence Fletcher
Paul Reiser – Jim Neiman (ayahnya Andrew)
Melissa Benoist – Nicole (pacar Andrew)
Austin Stowell – Ryan Connolly
Nate Lang – Carl Tanner

Judul: Whiplash
Sutradara/Penulis: Damien Chazelle
Produser: Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster
Musik: Justin Hurwitz
Sinematografi: Sharone Meir
Editing: Tom Cross
Produksi: Bold Films, Blumhouse Productions, Right of Way Films
Distributor: Sony Pictures Classics
Rilis: 16 Januari 2014 (Sundance)
Durasi: 106 menit
Negara/Bahasa: AS/Inggris

Awards:
– Sudance Film Festival 2014 : – Grand Jury Awards
– Deauville American Film Festiva 2014: Audience Awards
– Academy Awards 2015: – Academy Award for Best Supporting Actor (J.K Simmons), Best Film Editing, Best Sound Mixing
– Grammy Awards 2015: Nominasi  NME Award for Best Film.

Soundtrack Track Listing:
I Want To Be One Of The Greats – Snare Liftoff
Overture – Justin Hurwitz
Too Hip to Retire – Tim Simonec
Whiplash – Hank Levy
Fletcher’s Song in Club – Justin Hurwitz
Caravan – Duke Ellington and Juan Tizol
Practicing – Justin Hurwitz
Invited – Justin Hurwitz
Call From Dad – Justin Hurwitz
Accident – Justin Hurwitz
Hug from Dad – Justin Hurwitz
Drum & Drone  – Justin Hurwitz
Carnegie – Justin Hurwitz
Ryan / Breakup – Justin Hurwitz
Drum Battle – Justin Hurwitz
Dismissed – Justin Hurwitz
–  Good Job (He Was A Beautiful Player)
Intoit – Stan Getz
No Two Words – Nicholas Britell et Justin Hurwitz
When I Wake – Justin Hurwitz
Casey’s Song – Justin Hurwitz
Upswingin’ – Tim Simonec
Rehearsal Medley – First Nassau Band Rehearsal / Second Nassau Band Rehearsal / Studio Band Eavesdrop / Studio Band Rehearsal After Breakup

One Way Trip

Yong-bi ( ), Ji-gong (), Doo-man ( ) dan Sang-woo ( ) adalah empat sahabat yang sama-sama berumur 20 tahun. Yang-bi, ayahnya dipenjara. Sang-woo yang miskin dan hanya tinggal dengan neneknya yang renta, akan segera ikut wajib militer agar lekas bisa mendaftar PNS selepas wamil nanti. Ji-gong yang anak orang berada sedang disibukkan dengan persiapan ujian mengulang ke perguruan tinggi dan Doo-man yang atlet baseball sibuk latihan. Dipimpin oleh Yong-bi, mereka diam-diam ‘melarikan diri’ dari pengawasan orang tua mereka untuk jalan-jalan ke Pohang, demi melepas kepergian Sang-woo yang.
gd3
Setelah menghabiskan waktu bersama yang menyenangkan di pantai, di tengah jalan mereka melihat seorang lelaki yang tengah memukuli seorang perempuan. Tak tahan, mereka pun beramai-ramai melerai dan kemudian terlibat perkelahian dengan si lelaki. Suasana menjadi kacau ketika polisi datang dan diketahui bahwa si lelaki meninggal. Dalam pengejaran polisi, Sang-woo mengalami kecelakaan tabrak lari dan mengalami koma. Yong-bi, Ji-gong dan Doo-man pun kemudian harus menghadapi tuduhan pembunuhan. Di tengah tekanan rasa takut dipenjara jdan kekhawatiran orang tua mereka, akhirnya mereka sepakat untuk membuat pengakuan yang bisa menyelamatkan mereka.


Hmm, heboh film ini tentu tak lepas dari para cast utamanya, terutama , aktor yang mendadak populer minta ampun setelah demam serial korea . Dan agaknya, rilis film ini memang menunggu moment yang tepat karena sebenarnya film ini dibuat pada pertengahan tahun 2015 (sebelum rilis ). Saya sendiri tak terlalu banyak berekpektasi karena dari sinopsis ceritanya, sepertinya tak jauh-jauh dari film tentang coming age yang belakangan cukup marak di perfilman Korea macam atau yang lebih gelap, . Juga tak banyak berharap karena cast-nya adalah aktor-aktor baru, muda, pretty boy (terutama , , dan ), yang  meski konon memliki kemampuan akting yang bagus, tapi track record nya juga belum banyak.
gdpn
Setelah menonton film ini, kesimpulan saya film ini berada di tengah-tengah antara dan . Jika terasa lebih riang dan colourful, film ini bernuansa indie dan cenderung gelap, tapi tak segelap . Bedanya, di sini tak ada karakter yang terlalu kuat yang begitu mencuri perhatian (sosok Gi-tae yang diperankan ),  meski menurut saya masing-masing cast bermain dengan pas sebagai anak-anak muda ingusan dengan segala kenakalan dan kepengecutannya. Ini adalah tentang anak-anak muda usia 20an yang masih gamang mempersiapkan masa depan dan kemudian dihadapkan pada sebuah realitas gelap yang memaksa mereka untuk membuat sebuah pilihan yang bertentangan dengan nurani mereka. Sebuah pilihan yang sangat bisa dipahami di usia dan situasi mereka. Agak depresif sih, tapi mungkin, kita pun akan membuat pilihan yang sama jika dalam situasi mereka. Bukan film yang luar biasa, tapi cukup meninggalkan kesan apalagi nuansa indienya terasa kental.

one way trip-poster

Cast:
– Yong-bi
– Sang-woo
– Ji-gong
– Doo-man
Kim Dong-man – abangnya Yong-bi
Moon Hee-kyung – ibunya Ji-gong
Yoo Ha-bok – ayahnya Doo-man

Lee Joo-Sil – nenek Sang-Woo
Lee Ji-Yeon – Park Eun-Hye
Kim Jong-Soo – Team Leader Oh
Lee Dong-Yong – polisi

Judul: One Way Trip  / Glory Day / Geulroridei (글로리데이)
Sutradara/Penulis: Choi Jeong-Yeol
Produser: Ahn Byung-Rae, Lim Soon-Rae
Sinematografi: Lee Hyung-Bin
Premiere: 3 Oktober 2015 (Busan IFF)
Rilis: 24 Maret 2016
Durasi: 93 menit
Negara/Bahasa: Korea Selatan, Korea

Noriko’s Dinner Table

Januari 5, 2016 Tinggalkan komentar

Noriko, 17 tahun. Ia merasa tak puas dengan kehidupannya. Selepas SMA, ia ingin sekali kuliah ke Tokyo, tempat yang ia bayangkan sebagai kota besar yang menjanjikan impian dan kebahagiaan. Tapi ayahnya yang bekerja sebagai reporter koran lokal dan terlihat begitu mencintai kota kecilnya, tak setuju jika Noriko pergi ke Tokyo. Baginya, Tokyo adalah tempat maksiat karena orang-orang di sekitar mereka yang pergi ke Tokyo, pulang dengan membawa anak.
nrk0
Tapi Noriko yang keras kepala, akhirnya nekad kabur ke Tokyo. Di tengah kebingungan, ia kemudian menghubungi teman virtualnya di situs Haikyo.com., Station #54 yang kemudian ia ketahui bernama Komako. Komako kemudian mengajak Noriko bergabung dengan timnya: Tim Keluarga Sewaan! Pekerjaannya adalah berakting memerankan anggota keluarga tertentu bagi mereka yang menginginkan. Meski awalnya bingung, Noriko segera saja tenggelam dalam pekerjaannya dan mendapatkan ‘keluarga impiannya.’

Di sisi lain, Yuka, adiknya yang berhasil menelusuri jejaknya, kemudian ikut minggat dan menyusul Noriko. Ayahnya, yang mengetahui hal ini kemudian melakukan segala cara untuk mencari kedua putrinya.

Hmm, sekilas cerita filmnya terasa ‘realistis’, tentang coming age story dari seorang remaja kota kecil dengan bayangan dan impiannya. Tadinya saya berharap ini adalah film tentang coming age story yang biasa, namun ternyata setelah diikuti, tidak seperti itu. Alur cerita film ini sendiri tak bisa dibilang cair. Tumpang tindih dengan narator off screen yang berganti-ganti, gambar yang tidak jernih dan nyaris selalu bergerak.
nrk3
Lalu cerita tentang ‘keluarga sewaan’ yang terasa sangat satir. Dan saya pun tahu jenis film apa ini: orang-orang yang ‘sakit’. Orang-orang urban yang ‘sakit’ dan mengalami keterasingan dari keluarga dan satu sama lain,. Sesuatu yang sangat khas Jepang. Hal yang membuat saya sering bertanya-tanya, apa memang sesakit itu orang-orang di sana? Tentu saja, sebenarnya tema besarnya adalah masalah yang nyaris universal (kesepian, keterasingan, pertanyaan tentang konsep kebahagiaan dan disfungsi keluarga), tapi Jepang seringkali membahasnya dengan cara yang begitu gelap dan muram, dengan cara yang nyaris sama ‘sakit’nya. Hal yang jujur, membuat saya seringkali kurang bisa menikmati film-film Jepang (tidak semua tentu saja!).
noriko
Whatever, ini hanya masalah suka dan tidak suka. Soal bagus atau tidak, saya kira, film ini merupakan salah satu film yang akan meninggalkan banyak perenungan setelah menontonnya.

Note: film ini merupakan prekuel dari film “Suicide Club” yang  belum saya tonton (dan belum berminat untuk saya tonton, karena konon lebih “sakit” dari film ini)

Quote:
“Who are you? You said you were connected to yourself, but are u really?…The world is full of lie that people cant’ play their roles convoncingly. They fall as husbands, wives, fathers, mothers, children, etc. So the only way to figure out what we can be is to lie openly and pursue emptiness. Feel the desert, Experience loneliness. Feel it. Survive the desert. That is your role.”
Cast:
Kazue Fukiishi – Noriko Shimabara/Mitsuko
Ken Mitsuishi – Tetsuzo Shimabara
Yuriko Yoshitaka – Yuka Shimabara/Yôko
Tsugumi – Kumiko/Ueno54
Sanae Miyata – Taeko Shimabara
Shirô Namiki – Ikeda
Yôko Mitsuya – Tangerine
Tamae Andô – Broken Dam
Chihiro Abe – Long Neck
Hanako Onuki – Midnight
Naoko Watanabe – Cripple
Hiroshi Sakuma

Judul: Noriko’s Dinner Table (Noriko no Shokutaku/ 紀子の食卓 )
Sutradara/ Penulis: Sion Sono
Produser: Takeshi Suzuki
Musik: Tomoki Hasegawa
Sinematografi: Souhei Tanigawa
Editing: Junichi Ito
Produksi: Mother Ark Co. Ltd.
Distributor: Eleven Arts (Worldwide), Tidepoint Pictures
Rilis: 4 Juli 2005 (Karlovy Vary International Film Festival)
Durasi: 159 menit
Negara/ Bahasa: Jepang

Mud

November 24, 2015 Tinggalkan komentar

Berlatar sebuah desa di pinggiran sungai, Arkansas. Ellis adalah bocah lelaki 14 tahun. Bersama temannya, Neckbone, ia melakukan petualangan kecil ke sebuah pulau di tengah sungai dan menemukan perahu yang terdampar.  Namun, ternyata perahu itu dihuni seseorang yang mengaku bernama Mud. Mud sosok yang aneh, tapi tidak terlihat jahat. Ia mengaku sedang menunggu kekasihnya, Juniper. Dengan iming-iming imbalan perahu, Ellis dan Neckbone kemudian setuju untuk membantu Mud dengan menjadi perantara antara hubungan Mud dan Juniper.
Mud-4
Sedikit demi sedikit, rahasia sosok Mud pun terungkap.  Mud adalah seorang buronan dan sedang dikejar-kejar pembunuh bayaran. Ellis dan Neckbone yang tak tahu apa-apa, mau tak mau akhirnya ikut terlibat. Di sisi lain, Ellis juga sedang dirundung masalah di tengah rencana perceraian kedua orang tuanya dan juga cinta pertamanya dengan si kakak kelas yang ternyata hanya mempermainkannya.
mud
Sekilas, cerita film ini “biasa” saja, tapi disajikan sedemikian rupa dan mempunyai banyak lapisan cerita. Mulai dari cerita tentang coming age, keberanian mengambil keputusan, cinta… semuanya disajikan dengan rapi dan terasa mengalir, apalagi menggunakan tokoh utama seorang bocah lelaki. Latarnya juga terasa kuat, sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah menontonnya. Aktor muda Tye Sheridan, bermain apik menampilkan sosok bocah lelaki berhati lembut, Ellis. Ekspresi wajahnya terasa dalam dan meninggalkan banyak kesan. Film yang bagus.
mud_ver3
Cast:
Matthew McConaughey – Mud
Reese Witherspoon – Juniper
Tye Sheridan – Ellis
Jacob Lofland – Neckbone
Sam Shepard – Tom Blankenship
Ray McKinnon -Senior
Sarah Paulson – Mary Lee
Michael Shannon – Galen
Joe Don Baker – King
Paul Sparks as Carver
Stuart Greer -Miller
Michael Abbott Jr. – James

Sutradara: Jeff Nichols
Produser: Lisa Maria Falcone, Sarah Green, Aaron Ryder
Penulis: Jeff Nichols
Musik: David Wingo
Sinematografi: Adam Stone
Editing: Julie Monroe
Produksi: Everest Entertainment, Brace Cove Productions, FilmNation Entertainment
Distributor: Lionsgate, Roadside Attractions
Rilis:  26 Mei 2012 (Cannes)
Durasi: 130 menit
Negara/ Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
Cannes Film Festival 2012:  Nominasi Palme d’Or     (Jeff Nichols)
and many mores, see imdb.com

Twenty

Juni 28, 2015 Tinggalkan komentar

Daya tarik utama film ini tentulah karena casting utamanya yang merupakan jejeran aktor muda yang sedang naik daun bercampur idol: , , Jun-ho “2PM”, dan .

Twenty, yang bertabur bintang muda yang sedang naik daun

Twenty, yang bertabur bintang muda yang sedang naik daun

Gyung-jae (), Dong-woo dan Chi-ho () berteman sejak SMA, diawali dari memperebutkan cewek yang sama, So-min. Meski pada akhirnya Chi-ho lah yang berhasil mendapatkan So-min karena dia yang lebih berani move duluan.

PDVD_004

Sekarang, mereka sudah lulus SMA, dan berumur 20 tahun. Gyung-jae yang berasal dari keluarga menengah yang biasa, melanjutkan kuliah dengan impian standar yang ideal: kelak bisa bekerja di perusahaan besar. Dong-woo yang anak sulung dan berasal dari keluarga miskin, tak bisa melanjutkan kuliah. Sambil bekerja ini itu, ia terus menyimpan impian menjadi seniman komik. Sementara Chi-ho, si anak manja dari keluarga yang cukup berada, tidak memiliki impian apa-apa. Keinginannya hanya menikmati hidup, hura-hura dari uang pemberian orang tua dan tebar pesona pada cewek-cewek.

Kim Woo-bin yang jadi si manja Chi-ho

Kim Woo-bin yang jadi si manja Chi-ho

Dan karena ini adalah certia tentang para anak muda, tentu masalah cewek dan seksualitas menjadi bahasan yang krusial. Sebagai anak-anak muda yang biasa saja, mereka terobsesi ingin mengakhiri keperjakaannya, masalahnya, mereka tidak memiliki pengalaman dan keberanian.

Gyung-jae yang si lurus yang dimanfaatin kakak kelasnya. Poor acting of MIn Hyo-rin

Gyung-jae yang si lurus yang dimanfaatin kakak kelasnya. Poor acting of Min Hyo-rin! 😦

Lalu, Gyung-jae naksir Jin-joo (), kakak kelas kaya dan cantik tapi ternyata cuma dimanfaatkan. Chi-ho, meski masih terikat hubungan dengan So-min, tapi naksir Eun-hye, cewek cantik yang sedang merintis karir sebagai aktris. Dan Dong-woo, menjalin hubungan yang manis dengan Soo-hee ( ), adiknya Gyung-jae.

The cute relationship of Soo-hee & Dong-woo

The cute relationship of Soo-hee & Dong-woo

Dan yah, begitulah, kehidupan anak-anak muda 20 tahun, sebuah cerita tentang masa transisi, yang dipenuhi dengan mimpi-mimpi dan kebingungan-kebingungan, juga cinta serta optimisme anak muda.

Ceritanya sendiri disajikan dengan ringan dan sedikit komedik sehingga terasa menghibur. Tidak akan melibatkan konflik yang tajam atau perenungan mendalam, tapi tidak jatuh ke cheesy kok. Tetap ada pesannya, tapi memang sepertinya lebih ditonjolkan sisi menghiburnya dan saya sendiri cukup menikmati.

PDVD_033

Chemistry antar para pemainnya juga terbangun dengan baik. Persahabatan antara Chi-ho, Dong-woo dan Gyung-jae terasa nyata. Ditambah kemudian sosok Soo-hee dan So-min. Saya senang karena pada akhirnya, masuknya orang luar (Eun-hye dan Jin-joo) hanyalah semacam selingan dan pada akhirnya yang tetap solid adalah antara mereka yang sudah saling mengenal sejak lama sehingga membentuk semacam ikatan yang manis.

PDVD_023

Dari segi akting, masing-masing memerankan karakternya yang pas. Bagi para penggemar dan biasa lihat peran dia sebagai si bad boy atau cowok cool di sini ia memerankan karakter yang sedikit berbeda seabgai Chi-ho yang childish dan playboy. Demikian juga Jun-ho yang keluar dari sosok anak boyband, menjadi sosok Dong-woo yang “sederhana dan dewasa.” Sementara … yah sejak lihat akting dia beberapa kali saya tak meragukan bakat cowok satu ini. Ketika membaca sinopsisnya, saya sempat agak underestimate karena digambarkan sosok Gyung-jae yang diperankannya adalah sosok “lurus” dan berpikir tak jauh dari karakter-karakter yang pernah diperankannya. Tapi ternyata, karakter Gyung-jae menurut saya justru paling berwarna dan ‘nyata.’ Dan saya pikir, hal ini tak lepas dari sosok yang cukup ekspresif memperlihatkan karakter Gyung-jae dengan begitu baik.

Good acting of Kang Ha-neul.

Good acting of Kang Ha-neul.

PDVD_039

Untuk jajaran para cewek, dan juga tidak mengecewakan meski juga tidak mengesankan, tapi saya pikir lebih karena jatah scene mereka yang terbatas sehingga tidak ada eksplorasi karakter yang lebih mendalam. Terutama untuk sosok yang nyaris tidak memiliki karakter khusus, sementara pada beberapa adegan, saya pikir cukup mampu mencuri scene.

Yeah, twenty should be like this! :D

Yeah, twenty should be like this! 😀

Sementara untuk karakter tambahan, ada sebagai Jin-joo dan Jung Joo-yeon sebagai Eun-hye. Dan saya cukup lega karena ternyata mereka benar-benar hanya sebagai pelengkap saja. Jung Joo-yeon, saya pikir bermain cukup baik meski karakternya terasa tidak penting, tapi ? Jika dibuat daftar kualitas akting di sini, saya pikir dialah yang menempati urutan paling bawah. Oke, dia digambarkan sebagai sosok yang bermasalah dan menyembunyikan sesuatu, saya bisa menerima kalau dia kemudian terkesan dingin. Tapi bukan kesan itu yang saya tangkap dari aktingnya, melainkan ekspresi yang terasa flat dan akting yang kaku. Saking penasaran, saya sempat browsing di internet siapa dia dan cukup terkejut karena ternyata dia cukup populer dan menjadi pemeran utama di beberapa drama (Preserve, Goo Hae-ra).

Whatever, cukup recommended!

Cast:
– Chi-ho
Lee Joon-Ho – Dong-woo
– Gyung-jae
– So-min
– So-hee
Jung Joo-yeon – Eun-hye
– Jin-joo

Kim Eui-sung – ayah Chi-ho
Park Myung-shin – ibu Chi-ho
Oh Hyun-kyung – ibu Dong-woo
Park Hyuk-kwon – sutradara film
Na Jong-chan – Dong-won (adik Dong-woo)
Song Ye-dam – si kembar
Song Ye-joon -si kembar
Kim Jong-Soo – paman Dong-Woo
So Hee-Jung – ibu Gyung-Jae

Judul: Twenty/ Seumool (스물)
Sutradara/ Penulis: Lee Byeong-Hun
Produser: Lee Sung-Doo, Lim Ji-Moon
Sinematografi: No Seung-Bo
Rilis: 25 Maret 2015
Durasi: 115 menit
Distributor: Next Entertainment World
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

Festival:
New York Asian Film Festival – 2015 – Centerpiece Presentation *International Festival Premiere

Awards:
Baeksang Arts Awards 2015:
– Nominasi  Best New Actor ()

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar