Arsip

Archive for the ‘Film Barat’ Category

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

April 16, 2018 Tinggalkan komentar

Mildred Hayes merasa marah karena setelah setahun berlalu, kasus pembunuhan dan pemerkosaan putrinya, Angela Hayes, belum juga terungkap. Ia berpikir bahwa hal itu disebabkan karena polisi yang lamban. Mengungkapkan kekesalannya, ia kemudian berusaha mencari perhatian dengan menyewa tiga papan iklan dan menulis sindiran kinerja polisi tentang kasus itu. Pemasangan papan iklan ini, menarik perhatian publik dan tentu saja, membuat pihak kepolisian malu dan marah.

three billboards outside ebbing missouri

Pihak kepolisian yang diwakili Willoughby berusaha menghentikan Midred. Bagi polisi, kasus Angela belum terungkap bukan karena mereka tidak bekerja, tapi karena sulitnya menemukan si pelaku. Di sisi lain, Willoughby juga meminta pengertian Mildred karena ia sedang sekarat, didera kanker pankareas. Tapi tentu saja, Mildred tak bergeming.

three billboards outside ebbing missouri-3

Tapi hal justru menjadi kompleks ketika tiba-tiba Willoughby ditemukan bunuh diri. Orang pun menduga kalau bunuh diri Willoughby dipicu tekanan dari Mildred. Jason, anak buah Willoughby yang diam-diam menyembunyikan kalau dirinya gay, merasa marah dan sangat terpukul dengan kematian Willoughby. Willoughby adalah satu-satunya orang yang tahu kalau Jason gay dan mendukungnya. Jason pun meluapkan kemarahan dengan membakar papan billboardnya Mildred dan juga memukuli Red, pemuda yang menyewakan papan iklan untuk Mildred hingga babak belur. Mildred pun geram dan membalas dengan membakar kantor polisi malam-malam. Naasnya, Jason kebetulan sedang berada di kantor dan nyaris tewas terbakar jika tidak ditolong seorang lelaki cebol yang tiba-tiba lewat.

three billboards outside ebbing missouri_4

Mildred merasa bersalah pada Jason, apalagi kemudian ia menerima surat yang ditinggalkan Willoughby. Dalam suratnya, Willoughby menyatakan penyesalannya karena tak bisa mengungkap kasus Angela. Dan bahwa ia sengaja memilih mati seperti itu demi harga dirinya, dimana ia tak ingin mati dalam keadaan penyakitan. Untuk mendukung Mildred, ia bahkan menyumbangkan sejumlah uang untuk biaya sewa papan iklannya Mildred. Selain pada Mildred, Willoughby juga meninggalkan surat untuk Jason, yang meminta Jason untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berhenti menyembunyikan kemarahan hanya karena dirinya gay. Jason merasa sangat tersentuh dengan surat itu dan kemudian memutuskan untuk membantu Mildred.

three billboards outside ebbing missouri_5

Seorang lelaki mencurigakan muncul di toko Mildred, mengancamnya terkait dengan iklan yang dipasangnya. Dari kata-katanya, lelaki itu sepertinya tahu tentang kasus yang menimpa Angela. Di sisi lain, Jason juga tak sengaja bertemu lelaki itu di klub dan mendengar pembicaraan terkait kejadian naas yang menimpa Angela. Sayang, ketika diselidiki, tak ada bukti apapun terkait keterlibatannya dengan kasus Angela. Meski begitu, baik Mildred maupun Jason yakin bahwa lelaki itu sebenarnya terlibat dan karena merasa bahwa hukum tak akan bisa menyelesaikannya, mereka pun sepakat untuk melakukan penyelesaian dengan cara mereka sendiri.

three billboards outside ebbing missouri_6.jpg

Yah, seperti sudah sering saya tulis, saya selalu penasaran dengan film-film yang dapat label penghargaan. Dan demi membaca kalau film ini menang beberapa kategori di ajang Academy Awards tahun ini, saya pun kemudian lekas-lekas mencari film ini. Dari judulnya sendiri, saya sudah penasaran: unik, agak lucu tapi juga terdengar puitis. Karena nggak baca sinopsis lebih dulu,tadinya saya pikir bahwa film ini bergenre komedi. Dan begitu adegan pertama muncul berikut suasana intensenya, saya agak terkejut tapi juga jadi makin penasaran. Ide tentang memasang papan iklan demi menguak kasus pemerkosaan & pembunuhan benar-benar terasa brilian. Di awal saya merasa kalau karakter-karakternya terlalu ‘harsh’ dan karenanya, sudah siap kalau pada akhirnya, endingnya akan sedikit ‘gila’ atau psiko, seperti yang memang sering terjadi pada film jenis ini. Untunglah, sang sutradara dan penulis cerita film ini ternyata cukup pintar untuk membuat film ini punya orisinalitasnya sendiri.

Meski mengangkat cerita tentang kasus kriminal dan balas dendam, film tak kehilangan kehangatan humanismenya. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Mereka digambarkan bukan sebagai orang-orang yang terlihat ‘baik’ di permukaan, tapi ternyata juga tak ‘sejahat’ kelihatannya. Dan hal lain yang juga unikdari film ini, karena juga secara cukup smooth memasukkan isu kaum marjinal seperti gay, orang kerdil, kulit hitam… Ada beberapa hal yang sempat membuat saya agak mengerutkan kening, dan bertanya dalam hati ‘semudah itu?’ Terutama adegan ketika Jason langsung sadar ‘hanya’ setelah menerima suratnya Willoughby, atau ketika ia ketemu si lelaki mencurigakan dan langsung menyimpulkan bahwa ia pejahatnya. Tapi adegan closing di ending, membuat saya bisa ‘memaafkan’ semua itu. Recommeded!

Cast:
Frances McDormand – Mildred Hayes
Woody Harrelsn – William ‘Bill’ Willoughby
Sam Rockwell – Jason
John Hawkes -Charlie Hayes
Peter Dinklage – James
Abbie Cornish – Anne Willoughby
Caleb Landry Jones – Red Welby
Kerry Condon – Pamela
Darell Bitt-Gibson -Jerome
Lucas Hedges – Robbie Hayes
Amanda Warren – Denise
Kathryn Newton – Angela Hayes
Samara Weaving – Penelope

Judul: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Sutradara/ Penulis: Martin McDonagh
Produser : Graham Broadbent, Martin McDonagh
Musik: Carter Burwell
Sinematografi: Ben Davis
Produksi: Blueprint Picture dll
Rilis: 4 September 2017
Durasi : 115 menit
Negara/Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
-Academy Awards 2018:
Best Actress (Frances McDormand), Best Supporting Actor ( Sam Rockwell)
Nominasi: Best Picture, Best Original Screenplay

– Golden Globe Awards 2018:
Best Motion Picture – Drama, Best Actress (Frances McDormand), Best Supporting Actor ( Sam Rockwell), Best Original Screenplay
etc

 
W

Iklan

Land of Mine

Januari 29, 2018 Tinggalkan komentar

Denmark pasca berakhirnya perang. Jerman kalah, dan tentara mereka ditarik mundur. Pihak Denmark yang merasa gembira dengan kekalahan Jerman, melampiaskan kebenciannya pada tentara Jerman yang masih tersisa. Beberapa dari sisa pasukan ini, kemudian ditugaskan untuk membersihkan ranjau yang ditanam oleh pihak Jerman sebelumnya. Salah satu pasukan dipimpin oleh Rasmussen. Pasukan ini berisi beberapa tentara Jerman yang masih sangat belia. Mereka ditugaskan membersihkan ranjau di sebuah pedesaan sunyi di tepi pantai. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang minim, para tentara belia ini harus melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya.

Land of Mine1

Land of Mine2

Sebagai tentara musuh, pasukan ini diperlakukan semena-mena. Bekerja keras dan tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. Tidur di gubuk seadanya dan dibiarkan kelaparan. Rasmussen awalnya, karena kebenciannya, berkeras hati membiarkan bocah-bocah belia ini menderita. Tapi semakin ke sini, nuraninya mulai terketuk. Tentara-tentara belia itu, tak lebih dari bocah-bocah lugu yang dipaksa oleh keadaan untuk terjun ke medan perang. Rasmussen pun mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Tapi tentu saja, sikapnya ini justru mendapat hujatan dari rekan-rekannya. Selain itu, hubungan yang melibatkan emosi juga mulai mengusiknya. Ketika ia melihat bocah-bocah ini satu per satu menjadi korban ketika menjinakkan ranjau, Rasmussen juga ikut menderita.

Land of Mine4

Land of Mine3

Menurut saya, ini film dengan cerita yang sangat bagus dan orisinal. Film tentang masa-masa perang, sudah banyak dibuat, tapi yang menyajikan cerita semacam ini, ya rasanya baru film ini. Pemilihan judulnya sendiri, menurut saya juga sangat brilian. “Land of Mine” yang selain mewakili latar cerita film yang memang mengetengahkan tentang ‘mine’ (ranjau) juga bisa dimaknai sebagai klaim kepemilikan yang kemudian menjadi ruh cerita film ini. Yah, karena klaim kepemilikan semacam itulah sebenarnya kejahatan kemanusiaan dan perang muncul. Kekalahan satu pihak dan berakhirnya perang, kenyataannya tak menjadikan dunia lebih baik. Orang saling membenci dan membunuh hanya karena merasa yang paling berhak menjadi pemilik. Sad.
Untunglah, film ini disajikan dengan begitu hangat. Recommended!

Cast:
Roland Møller as Sgt. Carl Leopold Rasmussen
Mikkel Boe Følsgaard – Lieutenant Ebbe Jensen
Laura Bro – Karin
Louis Hofmann – Sebastian Schumann
Joel Basman – Helmut Morbach
Oskar Bökelmann – Ludwig Haffke
Emil Belton – Ernst Lessner
Oskar Belton – Werner Lessner
Leon Seidel – Wilhelm LeBern
Karl Alexander Seider – Manfred
Maximilian Beck – August Kluger
August Carter – Rodolf Selke
Tim Bülow – Hermann Marklein
Alexander Rasch – Friedrich Schnurr
Julius Kochinke – Johann Wolff
Zoe Zandvliet – Elizabeth

Sutradara/Screenplay: Martin Zandvliet
Produser: Malte Grunert, Mikael Chr. Rieks
Musik: Sune Martin
Sinematografi: Camilla Hjelm Knudsen
Editor: Per Sandholt, Molly Malene Stensgaard
Distributor: Nordisk Film
Rilis: 10 September 2015 (TIFF)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Demark/Denmark-Jerman

Awards:
– Gijón International Film Festival 2015 : Audience Award
– Hamburg Film Festival 2015: Nominasi Art Cinema Award
– Tokyo International Film Festival 2015: NominasiTokyo Grand Prix , Best Actor Award (Roland Møller & Louis Hofmann )
– Toronto International Film Festival 2015: Nominasi Platform Prize
– European Film Awards 2016: Best Cinematographer, Best Costume Design, Best Hair and Make-up
– Hong Kong International Film Festival 2016: SIGNIS Awards
– Rotterdam International Film Festival 2016: Warsteiner Audience Award
– Academy Awards 2017: Nominasi Best Foreign Language Film

Control

Oktober 26, 2017 Tinggalkan komentar

Ian Curtis, seorang pemuda pemurung yang selalu dipenuhi pertanyaan tentang eksistensi . Di tengah masa-masa pencarian jati diri, ia jatuh cinta dengan Debbie (Deborah), kekasih sahabatnya. Tanpa pikir panjang, mereka kemudian memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda. Ian kemudian bergabung dalam sebuah band beraliran punk rock dan setelah memenangkan beberapa kompetisi, menjadi semakin populer dengan nama band Joy Division.

Control -1

Control -2

Awalnya, semuanya baik-baik saja. Hingga hal-hal baru muncul dan membuat pikiran Ian menjadi rumit. Joy Division semakin populer, anak pertamanya lahir, dan serangan epilepsinya semakin sering terjadi. Di tengah hubungannya yang mulai jenuh dengan Debbie, muncul Annik, seorang jurnalis paruh waktu asal Belgia yang cantik dan menarik dan membuat Ian jatuh cinta. Meski begitu, keadaan itu justru makin membuat Ian depresi. Ia dirundung rasa bersalah karena tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Di sisi lain, dengan semakin populernya Joy Division, ia sadar bahwa hal-hal di sekelilingnya semakin sulit untuk ia kontrol.

Control -4

Control -6

Yah, seperti judulnya, “Control” film ini memang lebih menekankan sisi psikologis seorang Ian Curtis yang menurut saya digarap dengan sangat apik. Di tengah latar era hingar bingar tahun 70-an, narasi film ini terasa begitu liris, dibalut dengan gambar hitam putih yang terasa begitu sinematis. Didukung pula akting bagus Sam Riley, sebagai Ian Curtis yang berwajah melonkolis dan juga bersuara bagus.
Good movie!

Cast:
Sam Riley – Ian Curtis
Samantha Morton – Deborah Curtis
Alexandra Maria Lara – Annik Honoré

Joe Anderson – Peter Hook, basis Joy Division.
Toby Kebbell – Rob Gretton, manajer band
Craig Parkinson – Tony Wilson
James Anthony Pearson – Bernard Sumner, gitaris dan keybordis
Harry Treadaway – Stephen Morris, drummer, perkusi
Andrew Sheridan – Terry Mason, menajer sebelum Rob Gretton
Robert Shelly – Twinny
Matthew McNulty – Nick Jackson (teman sekolahnya Ian)
Ben Naylor – Martin Hannett, produser and co-founder perusahaan rekaman
John Cooper Clarke – dirinya sendiri (penyair Inggris beraliran punk. Puisinya di film ini berjudul “Evidently Chickentown” di salah satu konser Joy DIvision)
Lotti Closs – Gillian Gilbert, pacarnya Stephen Morris
Richard Bremmer – Kevin Curtis (ayahnya Ian)

Judul: Control
Sutradara: Anton Corbijn
Produser: Anton Corbijn, Todd Eckert, Orian Williams, Iain Canning, Peter Heslop, Tony Wilson, Deborah Curtis
Screenplay: Matt Greenhalgh (Berdasarkan buku “Touching from a Distance” Deborah Curtis)
Musik: New Order
Sinematografi: Martin Ruhe
Distributor: UK – Momentum Pictures, US – The Weinstein Company, Becker Group
Rilis: 5 Oktober 2007
Durasi: 122 menit
Negara/Bahasa: Inggris

Note:
Film ini didasarkan pada kisah nyata tentang kehidupan Ian Curtis yang ditulis oleh istrinya. Joy Division adalah band yang populer di era ’70an. Dan orang-orang belakang layar film ini adalah orang-orang yang pernah dekat dengan Ian. Selain Debbie istrinya, Anton Corbjin sang sutradara dulunya adalah fotografer Joy Division. Demikian juga beberapa produser yang terlibat. Sementaara musiknya juga digarap oleh New Order, yang merupakan eks Joy Division.
Seperti di film, Ian Curtis meninggal karena bunuh diri. Ian meninggal di usia yang masih sangat muda, 23 tahun.
Ian dan Deborah bertemu dan menjalin cinta di usia yang masih sangat belia, 16 tahun dan memutuskan menikah 3 tahun kemudian.

ian curtis

Ian Curtis

Ian Curtis lahir pada 15 Juli 1956, di Manchester Inggris. Ia tumbuh di lingkungan kelas pekerja di kota Macclesfield, Chesire, dan merupakan anak pertama dari orang tuanya. Cheshire. Sejak kecil ia dikenal seabgai kutu buku dan anak yang pintar serta memiliki ketertarikan pada puisi. Pada usia 11 tahun, ia mendapat beasiswa untuk sekolah di Macclesfield’s independent King’s School., dimana kemudian ia memperdalam ketertarikannya pada filsafat dan puisi dimana ia sering mendapat penghargaan berkat prestasinya. Setahun setelah Ian tamat sekolah, keluarganya pindah ke
New Moston.

Selain puisi dan filsafat, Ian juga memiliki ketertarikan pada musik. Musisi favoritnya adalah Jim Morrison dan David Bowie, yang kemudian mempengaruhi gaya bermusiknya. Meski begitu, karena berasal dari keluarga kurang mampu ia tak pernah mampu membeli rekaman dan karenanya, ia sering mencurinya di toko. Meski berprestasidi skeolah, tapiCurtis tak begitu menyukai dunia akademis, dan ekmudian memilih tak melanjutkan sekolahnya, melainkan mulai fokus pada musik. Ia kemudian bekerja di sebuah toko kasset di Manchester. Tahun 1975, Curtis kemudian menikahi Deborah, yang dipacarinya sejak tahun 1972. Kala itu Ian berusia 19 tahun dan Debbie 18 tahun. Setelah menikah mereka tinggal di rumah kakek-nenek Ian sebelum kemudian pindah ke pemukiman kelas pekerja di Chadderton dan kemudian punya rumah sendiri di Macclesfield. Dari pernikahan ini mereka dikarunia seorang putri, Natalie, yang lahir pada tahun 1979. Seperti diceritakan di film, Ian kemudian bertemu Annik dan mulai berselingkuh. Meski konon, pada sebuah wawancara di thaun 2010, Annik mengatakan bahwa hubungannya dengan Ian hanya bersifat platonis.

joydivision

Joy Division

Joy Division dibentuk pada tahun 1976 di Salford, Greater Manchester oleh Peter Hook dan Bernard Sumner yang merupakan teman sejak kecil. Mereka terilhami untuk membuat band setelah menonton pertunjukan Sex Pistols. Mereka kemudian mengajak teman mereka, Terry Mason untuk bergabung di drum. Awalnya mereka juga mengajak teman sekolah mereka, Martin Gretsy untuk jadi vokalalis, tapi Martin menolak karena pekerjaan. Mereka kemudian membuka audisi kecil-kecilan dan Ian Curtis ikut audisi itu dan langsung diterima. Band ini awalnya beraliran rock, tapi kemudian berkembang menjadi post-punk dan merupakan band perintis beralirn tersebut. Debut EP mereka dirilis tahun 1979, An Ideal for Living, yang kemudian menarik perhatian Tony Wilson yang kemudian mengajak band ini rekaman di studio independennya, Factory Records. Album pertama Joy Division, Unknown Pleasures, kemudian dirilis dan mendapatkan banyak respon positif. Band ini pun kemudian menjadi populer yang kemudian disusul dengan memburuknya kondisi fisik dan psikis sang vokalis, Ian Curtis. Menjelang tur Amerika pertama mereka, Ian meninggal karena bunuh diri. Dan dua bulan kemudian, album kedua sekaligus terakhir mereka, Closer, dirilis yang kemudian sukses secara komersil, berikut single mereka, “Love Will Tear Us Apart”. Setelah meninggalnya Curtis, anggota band ini mendirikan band New Order yang juga sukses.
Selain menjadi vokalis, Ian juga menjadi penulis lirik lagu-lagu Joy Division.

Soundrack:

Bagusnya film ini, karena hampir semua lagu yang jadi ost-nya dimainkan oleh para aktornya. Sam Riley, selain sebagai aktor, memang juga dikenal memiliki bakat bermusik.

1. New Order – Exit
2. The Velvet Underground – What Goes On
3. The Killers – Shadowplay” (originally performed by Joy Division)
4. Buzzcocks – Boredom
5. Joy Divison – Dead Souls
6. Supersister – She Was Naked
7. Iggy Pop – Sister Midnight
8. Joy Division – Love Will Tear Us Apart
9. New Order – Hypnosis
10. David Bowie – Drive-In Saturday
11. John Cooper Clarke – Evidently Chickentown
12. Brian Ferry/Roxy Music – 2HB (from Roxy Music, 1972)
13. Joy Division (film version) – Transmission” (originally performed by Joy Division)
14. Kraftwerk – Autobahn
15. Joy Division – Atmosphere
16. David Bowie – Warszawa
17. New Order – Get Out

Sumber: wikipedia.org

Y Tu Mamá También

Agustus 15, 2017 Tinggalkan komentar

Tenoch dan Julio () adalah dua remaja yang bersahabat karib. Keduanya berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tenoch anak seorang politikus papan atas yang kaya, sementara Julio berasal dari keluarga biasa. Ayahnya minggat dan ia hanya tinggal dengan ibu dan kakak perempuannya yang seorang aktivis kampus. Meski begitu, mereka memiliki kesamaan sifat dan selera humor yang membuat mereka nyambung satu sama lain. Keduanya cenderung bengal, hedon, dan kekanakan.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_000546067

Suatu hari, pacar mereka, sama-sama pergi untuk melakukan perjalanan ke Italia. Di tengah rasa bosan ditinggal pacar, di sebuah pesta, mereka kemudian bertemu Luisa, yang notabene adalah istri Julio, sepupunya Tenoch yang menyebalkan. Iseng mereka mengajak Luisa untuk jalan-jalan ke pantai yang namanya tak jelas dalam peta. Awalnya, Luisa menolak. Tapi ketika tahu bahwa suaminya berselingkuh, ia pun memutuskan untuk ikut pergi.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_002489800

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005140134

 

Dengan mengendarai mobil tua milik kakaknnya Julio, mereka pun mulai melakukan perjalanan menyusuri sudut-sudut Meksiko yang tandus dan gersang. Obrolan di sepanjang perjalanan diisi dengan pembicaraan melantur yang tak terlalu penting, khas remaja yang cengengesan dan tahunya hanya ingin bersenang-senang. Luisa yang dewasa dan lebih berpengalaman menikmati sikap kekanakan teman-teman mudanya. Tapi di perjalanan itu juga kemudian mereka mulai mengakui ‘dosa’ satu sama lain, dan melakukan hal-hal gila. Ketika perjalanan berakhir, persahabatan mereka tak lagi sama. Sementara Luisa, ternyata juga menyimpan sebuah rahasia.

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_004805037

Another coming age story yang juga dipadukan dengan road movie. Sedikit mirip-mirip American Pie dalam hal eksplorasi seksualnya yang cenderung vulgar, tapi secara keseluruhan terasa lebih ‘berisi’ dengan latar belakang situsasi politik di Meksiko segala macam. Untuk road movienya, menurut saya juga disajikan dengan bagus dan menarik. Karena menggambarkan daerah-daerah pedesaan Meksiko yang begitu khas dunia ketiga: kumuh dan miskin, begitu kontras dengan karakter utama film yang digambarkan cengengesan, childish dan hedon. Meski begitu, semua kekontrasan itu disulam dengan begitu rapi menjadi sebuah cerita yang manis. Segala kecengengesan kedua tokoh utamanya rasanya bisa dimaklumi mengingat usia mereka yang masih sangat muda. Dan entah kenapa, usai menonton film ini saya bisa membayangkan Julio dan Tenoch di balik layar yang mulai beranjak dewasa dan melakukan hal-hal yang lebih ‘berguna.’

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005078264

Y_Tu_Mama_Tambien_2001.avi_005862509

Untuk akting, yah, saya selalu menyukai dan dialah salah satu alasan utama saya tertarik dengan film ini. Seperti biasa, ia bermain dengan apik dan ‘karismatis’. Diego Luna (yang konon adalah karibnya Bernal di kehidupan nyata, tak heran kalau bromance keduanya terasa nyata) juga sangat pas sebagai Tenoch si anak orang kaya. Demikian juga Maribel Verdu yang jadi Luisa, yang terkesan rapuh tapi juga mature. Layak tonton!

Note:
Lumayan banyak adegan dewasanya. Tidak disarankan bagi yang berusia di bawah umur 🙂

Cast:
Maribel Verdu – Luise Cortes
– Julio Zapata
Diego Luna – Tenoch Iturbide
Diana Bracho – Silvia
Andres Almeida – Diego “Saba” Modero
Ana LOpez Mercado – Ana Morelos
Nathan Grinberg – Manuel Huerta

Judul: Y Tu Mamá También (And Your Mother Too)
Sutradara: Alfonso Cuaron
Produser : Alfonso Cuaron, Jorge Vergara
Penulis: Alfonso Cuaron, Alfonso Cuaron
Narator : Daniel Gimenez Cacho
Musik: Natalie Imbruglia, Frank Zappa, Miho Hatori
Sinematografi: Emmanuel Lubezki
Editing: Alex Rodriguez, Alfonso Cuaron
Distributor: 20th Century Fox
Rilis: 8 Juni 201
Durasi: 106 menit

Awards:
Academy Award 2001: Nominasi Award for Writing Original Screenplay
BAFTA Awards 2001: Nominasi Best Original Screenplay
Golden Globe: Nominasi Best Foreign Language
Grammy Award: Nominasi Best Compilation Soundtrack Album for Motion Picture
Independetn Spirit Award: Best Foreign Film
etc.

Like Crazy

Juni 15, 2017 Tinggalkan komentar

Anna () berasal dari Inggris dan kuliah di Amerika. Di sana ia kemudian bertemu Jacob, mahasiswa sekampus beda jurusan dan kemudian saling jatuh cinta. Dan diceritakan bagaimana proses jatuh cinta mereka, yang jelas, keduanya kemudian begitu saling mencintai satu sama lain.

 

Like Crazy_2

Tapi Anna harus kembali ke Inggris untuk mengurus visa-nya dan merencanakan untuk segera kembali. Merasa berat berpisah, ia menunda-nunda kepergiannya hingga ijinnya bermasalah. Ketika ia pulang dan hendak kembali lagi ke Amerika, visa-nya gagal. Dan itu terjadi berulang-ulang. Perpisahan yang sedianya hanya beberapa waktu, pun menjadi beberapa bulan. Padahal Jacob dan Anna begitu saling merindukan.

Like Crazy_5

Anna akhirnya membangun karir di kampung halamannya. Jacob juga demikian. Karena Anna tak bisa ke Amerika, Jacob lah yang akhirnya datang dan mereka membicarakan kemungkinan Jacob untuk tinggal lebih lama. Tapi Inggris adalah negara yang asing bagi Jacob. Ia merasa asing dengan kehidupan di sekitar Anna. Dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

Like Crazy_8

Atas usul ayahnya, Anna kemudian mengajak Jacob menikah. Dengan begitu, proses via diharapkan lebih muda. Kenyataannya pihak imigrasi terlalu ketat dan lagi-lagi Anna gagal mengikuti Jacob ke Amerika. Merasa putus asa, Jacob dan Anna sepakat untuk menjalin hubungan baru dengan orang lain. Anna dengan temannya, Simon, sementara Jacob dengan rekan kerjanya, Samantha ( ). Namun itu juga tak menyelesaikan masalah. Hubungan baru mereka terasa kering dan terbebani karena terus menerus memikirkan satu sama lain.

Di penghujung cerita, Anna akhirnya berhasil mendapatkan visanya dan ia pun menemui Jacob di Amerika. Tapi perpisahan yang panjang, penantian dan hubungan baru membuat semuanya tak lagi sama.

Like Crazy_6

Untuk beberapa waktu, saya bertanya-tanya ketika melihat file film ini tersimpan di komputer saya. Judulnya terasa tidak familiar dan karenanya, untuk beberapa waktu, terabaikan. Ketika waktu senggang, saya coba memutarnya dan baru ngeh kalau alasan saya ingin menonton film ini adalah karena cast utamanya, . Sejak melihat aktingnya di film saya menyukainya. She’s lovable. Aktingnya bagus dan wajahnya unik. Selain itu, film ini ternyata juga menang penghargaan di Sundance FF.

Like Crazy_3

Secara garis besar ceritanya sebenarnya bisa dibilang klise. Sebuah kisah cinta yang biasa, tentang cinta sepasang anak muda yang begitu menggebu dan kemudian terhalang jarak. LDR lah ceritanya. Dan LDR-nya menjadi parah karena beda negara dan harus diperibet dengan urusan visa. Tapi yang membuat film ini terasa berbeda adalah fokusnya yang bukan semata pada cerita, tapi lebih pada psikologis para tokohnya. Ini adalah tentang cinta yang begitu besar, yang kadang begitu tak tertahankan, tapi cinta juga adalah sesuatu yang absurd dan seolah tak pernah cukup. Dan film ini menggambarkan semua itu dengan bagusnya. Terasa intens dan memiliki kedalaman. Lewat ekspresi wajah, tatapn mata dan interaksi antara kedua tokoh utamanya, nyawa film ini begitu hidup. Dan yang saya cukup suka dari film ini, meskipun tentang cinta yang bisa dibilang passionate, tak seperti kebanyakan film bertema sejenis, adegan-adegannya rapi dan tidak vulgar. Justru menurut saya, keintiman tokoh utamanya terasa lebih nyata meski hanya lewat sentuhan tangan atau pelukan hangat. Good movie!

Note:
Saya baru ngeh ketika baca di Internet, kalau ternyata Anton Yelchin yang jadi Jacob sudah meninggal. Anton Yelchin, lahir di Rusia pada 11 Maret 1989 dalam keluarga Yahudi. Hal yang membuat keluarganya mendapat tekanan politik dan keagamaan. Pada tahun 1989, orangtuanya kemudian pindah ke AS dengan status pengungsi. Karir film Anton dimulai sejak ia masih sangat muda, yakni pada tahun 2000. Ia meninggal pada Juni 2016, karena sebuah kecelakaan tragis, di mana ia terjepit di antara mobilnya sendiri dan tembok rumahnya, setelah ia lupa menetralkan mobil yang usai dikendarainya. Sedih ya 😦

Cast:

Anton Yelchin – Jacob Matthew Helm
– Anna Maria Gardner

– Samantha
Charlie Bewley – Simon
Finola Hughes – Liz
Oliver Muirhead – Bernard Gardner
Alex Kingston – Jackie Gardner
Keeley Hazell – Sabrina
Chris Messina – Mike Appletree
Ben York Jones – Ross
Jamie Thomas King – Elliot

Sutradara: Drake Doremus
Produser: Jonathan Schwartz, Andrea Sperling
Penulis: Drake Doremus, Ben York Jones
Musik: Dustin O’Halloran
Sinematografi: John Guleserian
Editing: Jonathan Alberts
Produksi: Super Crispy Entertainment
Distributor: Paramount Vantage
Rilis: 22 Januari 2011 (Sundance)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: AS/Inggris

Awards:
– Sundance Film Festival 2011: Grand Jury Prize, Special Jury Prize ()
– Chicago Film Critics Association : Nominasi Most Promising Filmmaker
– National Board of Review: Best Breakthrough Performance ()
– Gotham Awards: Best Breakthrough Actor ()

Whiplash

Andrew Newman, seorang pemuda19 tahun,  mahasiswa baru di sebuah sekolah musik bergengsi, Shaffer. Ia adalah sosok penyendiri, yang tumbuh bersama ayahnya yang penyayang setelah ibunya minggat ketika ia masih kecil. Andrew sangat menyukai jazz, mengagumi Buddy Rich dan Charlie Parker. Ia bermain drum sejak kecil. Dan sejak kecil pula ia yakin bahwa jazz adalah hidupnya. Baginya, jazz adalah segala-galanya.  Ia tak peduli pada anggapan keluarga besarnya, yang berpikir bahwa mimpinya hanyalah sia-sia. Ia mencurahkan seluruh waktu dan engerginya untuk berlatih.
Whiplash_1
Fletcher adalah seorang profesor terkenal Shaffer yang kemudian mengajak Andrew bergabung di bandnya yang bergengsi. Hal yangmembuat Andrew merasa bangga dan percaya diri. Namun ternyata itu barulah permulaan. Fletcher adalah seorang guru yang  sangat perfeksionis dan setengah ‘gila’. Ia mengajar dengan kasar dan keras. Kesalahan kecil berarti sumpah serapah menyakitkan hingga kekerasan fisik. Semua takut kepadanya, tapi juga ingin menampilkan yang terbaik di hadapannya.
Whiplash5
Setelah latihan ekstrim yang  mengerikan, Andrew akhirnya keluar dari band. Ayahnya yang tak rela Andrew diperlakukan sedemikian rupa, menyuruh Andrew melayangkan tuntutan. Apalagi kemudian tersiar kabar kalau salah seorang mantan murid Fletcher meninggal karena bunuh diri, yang diduga depresi sejak diajar Fletcher. Fletcher pun kemudian dipecat dari Shaffer. Andrew memutuskan untuk membuang mimpinya tentang jazz.
Whiplash3
Hingga suatu hari, ia kembali bertemu Fletcher di sebuah kafe jazz. Berbeda dengan sosok killer Fletcher ketika mengajar, di luar, Fletcher adalah sosok lelaki hangat yang inspiratif. Fletcher kemudian mengajak Andrew mengobrol dari hati ke hati dan meyakinkan Andrew untuk kembali pada impiannya. Tidak hanya itu, ia juga mengajak Andrew untuk bergabung dengan bandnya yang akan segera tampil.
Whiplash_2
Ada dua hal yang membuat saya penasaran sama drama ini. Pertama, karena film ini disebut-sebut oleh Lee Je-hoon, salah satu aktor Korea , dalam sebuah wawancara yang saya baca di internet, sebagai salah satu film favoritnya. Saya selalu mengagumi Lee, karena akting dan film-filmnya yang bagus, karenanya, saya pikir selera filmnya pasti juga tidak buruk. Kedua, setelah nonton film La La Land dan browsing di internet, ternyata film ini digarap oleh sutradara yang sama dengan La La Land, Damien Chazelle.
Whiplash6
Dan yah, setelah menontonnya, saya pun paham kenapa Lee konon sangat menyukai film ini. Sinematografi dan cerita film ini memang cukup berbeda dari film-film bertema serupa. Filmnya bernuansa indie, dengan plot dan karakter yang terasa sangat intense. Meski begitu film ini juga tidak sepenuhnya ‘muram’ atau ‘gelap’. Meski karakter utamanya bisa dibilang ‘gila’ tapi tetap digambarkan sisi-sisi manusiawi dengan segala interkasi manusia yang lembut dan hangat. Pesan moralnya juga sangat jelas: jangan pernah menyerah pada impian kita! Dan  jangan lupa juga, musiknya yang sangat jazz dan sophicasted. Apalagi, Damien sang sutradara, memang pernah mempelajari jazz sehingga sepertinya memiliki pemahaman yang memadai tentang jazz.
Whiplash4

Whiplash7
Di sisi lain, menonton film ini, membuat saya merasa cukup ‘sakit’. Saya merasa ‘sakit’ melihat kegilaan karakter-karakternya.  Bukankah musik seharusnya dinikmati? Bukankah impian seharusnya membuat kita bahagia? Di sisi lain, saya juga sadar bahwa ‘dunia mimpi’ apalagi yang berkaitan dengan seni, bukanlah sesuatu yang seindah warna pelangi. Ironis memang, karena seni adalah sesuatu yang membuat dunia indah dan warna-warni. Tapi bagaimana seni tercipta, seringkali bukanlah hasil dari sebuah proses yang selalu menyenangkan. Kenyataannya,  karya seni besar besar justru banyak yang lahir dari pergulatan rasa sakit dan kegilaan. Dan agaknya, hal itu disajikan dengan begitu impresif melalui film ini. Worthed to watch!

Cast:
Miles Teller – Andrew Neiman
J. K. Simmons – Terence Fletcher
Paul Reiser – Jim Neiman (ayahnya Andrew)
Melissa Benoist – Nicole (pacar Andrew)
Austin Stowell – Ryan Connolly
Nate Lang – Carl Tanner

Judul: Whiplash
Sutradara/Penulis: Damien Chazelle
Produser: Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster
Musik: Justin Hurwitz
Sinematografi: Sharone Meir
Editing: Tom Cross
Produksi: Bold Films, Blumhouse Productions, Right of Way Films
Distributor: Sony Pictures Classics
Rilis: 16 Januari 2014 (Sundance)
Durasi: 106 menit
Negara/Bahasa: AS/Inggris

Awards:
– Sudance Film Festival 2014 : – Grand Jury Awards
– Deauville American Film Festiva 2014: Audience Awards
– Academy Awards 2015: – Academy Award for Best Supporting Actor (J.K Simmons), Best Film Editing, Best Sound Mixing
– Grammy Awards 2015: Nominasi  NME Award for Best Film.

Soundtrack Track Listing:
I Want To Be One Of The Greats – Snare Liftoff
Overture – Justin Hurwitz
Too Hip to Retire – Tim Simonec
Whiplash – Hank Levy
Fletcher’s Song in Club – Justin Hurwitz
Caravan – Duke Ellington and Juan Tizol
Practicing – Justin Hurwitz
Invited – Justin Hurwitz
Call From Dad – Justin Hurwitz
Accident – Justin Hurwitz
Hug from Dad – Justin Hurwitz
Drum & Drone  – Justin Hurwitz
Carnegie – Justin Hurwitz
Ryan / Breakup – Justin Hurwitz
Drum Battle – Justin Hurwitz
Dismissed – Justin Hurwitz
–  Good Job (He Was A Beautiful Player)
Intoit – Stan Getz
No Two Words – Nicholas Britell et Justin Hurwitz
When I Wake – Justin Hurwitz
Casey’s Song – Justin Hurwitz
Upswingin’ – Tim Simonec
Rehearsal Medley – First Nassau Band Rehearsal / Second Nassau Band Rehearsal / Studio Band Eavesdrop / Studio Band Rehearsal After Breakup

La La Land

Saya tak suka film musikal. Selama ini, saya tak bisa menikmati film musikal. Aneh rasanya melihat para aktor yang sebentar-sebentar menyanyi dan menari, membuat saya seringkali sulit merasakan kedalaman cerita sebuah film karena membuatnya terasa ‘tidak realistis.’ Tapi saya penasaran sama film ini karena bisa dibilang Movie of the Year yang dibicarakan dimana-mana, dipujapuji dimana-mana. Banyak aktor-aktris terkenal yang mempostingnya di IG. Agak mengherankan juga, karena saya selalu berpikir kalau film musikal itu sangat segmented. Ketika film ini ternyata tayang di bioskop, saya pun berniat untuk menonton. Oke, mungkin menonton film musikal di dalam gedung bioskop dengan sound yang canggih dan layar lebar akan menyenangkan. Sayangnya, ketika hari H saya punya waktu untuk menonton,filmnya sudah selesai diputar. Dan akhirnya ‘berlapang dada’ dengan versi dunlutan gratis di internet, hehe.
La La Land4 (1)
La La Land berkisah tentang dua orang, Mia dan Sebastian. Mia ( ) seorang gadis muda yang merantau ke New York untuk mengejar impiannya menjadi aktris. Sembari disibukkan dengan ikut casting di sana-sini,ia bekerja sebagai waitress di sebuah kafe.
La La Land
Sebastian () adalah seorang musisi jazz yang sangat idealis. Ia sangat mencintai jazz, tapi hanya mau memainkan jazz yang murni. Impiannya, adalah memiliki klub jazz yang memainkan pure jazz setiap malam. Kenyataannya, ia sekarang hanyalah seorang musisi miskin yang bermain di kafe-kafe dan sering dipecat karena terlalu idealis.
La La Land-1
Sebuah ‘kebetulan’ mempertemukan Mia dan Sebastian. Mia merasa terpukau mendengar mimpi-mimpi dan idealisme Sebastian. Dan kenyataan bahwa keduanya sedang sama-sama mengejar impian, kemudian menyatukan mereka. Lewat idealisme Sebastian, Mia merasa terinspirasi untuk terus mengejar impiannya sebagai aktris meski mengalami penolakan demi penolakan. Pendek cerita, keduanya saling mencintai dan berbagi mimpi yang sama.
La La Land3
Tapi hidup bersama seseorang tidaklah selalu mudah. Apalagi keduanya sama-sama ‘miskin.’ Sebagai lelaki, Sebastian merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang lebih layak. Apalagi kemudian ada Keith, temannya yang mengajaknya bergabung di band pop jazz miliknya yang sedang naik daun. Melupakan idealismenya, Sebastian menjadi musisi yang sukses dan populer bersama Keith. Tapi tentu saja, hal itu tak membuatnya bahagia. Ketika Mia akhirnya sukses meniti karir keartisannya, Sebastian memilih ‘undur diri’, kembali pada mimpi-mimpinya. Dan pada akhirnya, cinta keduanya pun harus mengambil jalan yang berbeda.
La La Land4 (2)
Well, yeah. Setelah menonton film ini, saya cukup paham kenapa film ini begitu ‘sukses’ secara komersil.  It’s about about love. It’s romance story.  And Everybody love romance story.  Setidaknya, bagi sebagian besar penduduk dunia, termasuk saya. Meski rumusnya bisa dibilang begitu-begitu saja, tapi cerita cinta memang selalu menarik. Demkian halnya dengan film ini. Cerita cintanya juga bisa dibilang ‘sangat standar’ tapi hal itu pula yang membuatnya begitu mudah dicerna. Dan meski dibalut dengan unsur musikal tapi juga bukan musikal yang sangat kental, karena porsi cerita ‘realistis’nya cukup besar dibanding bagian musikalnya. Pun dengan musikalnya sendiri, juga enak dinikmati. Dengan musik dan tarian yang membuat saya yang menonton jadi ingin ikut menari. Dan yah, jangan lupa, unsur jazz-nya. Seperti film sebelumnya, Whiplash, Damien sang sutradara memang agaknya punya obsesi tersendiri terhadap jazz, sehingga unsur jazz menjadi bagian yang penting di film ini. Hal yang kemudian memberi sentuhan sophisticated pada cerita selain kisah cinta yang ‘biasa.’ Recommended!

Cast:
– Sebastian Wilder
– Mia Dolan
John Legend – Keith
Rosemarie DeWitt –  Laura Wilder
Finn Wittrock – Greg Earnest
Jessica Rothe – Alexis
Sonoya Mizuno – Caitlin
Callie Hernandez – Tracy
J. K. Simmons – Bill
Tom Everett Scott – David
Meagen Fay – ibuna Mia
Damon Gupton – Harry
Jason Fuchs a- Carlo
Josh Pence – Josh

Sutradara/Penulis: Damien Chazelle
Produser: Fred Berger, Jordan Horowitz, Gary Gilbert, Marc Platt
Musik: Justin Hurwitz
Sinematografi: Linus Sandgren
Editing:     Tom Cross
Produksi: Summit Entertainment, Black Label Media, TIK Films, Impostor Pictures, Gilbert Films, Marc Platt Productions
Distributor: Summit Entertainment
Rilis: 31 Agustus 2016 (Venice Film Festival)
Durasi: 128 menit
Negara/Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
Academy Awards 2017:Best Director, Best Actress ( ), Best Cinematography, Best Original Score, Best Original Song (“City of Stars”) , Best Production Design
Nominasi: Best Picture, Best Actor (), Best Original Screenplay, Best Film Editing, Best Costume Design,  Best Original Song (“Audition”), Best Sound Editing and Best Sound Mixing

Golden Globe Awards 2017: Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Director, Best Actor – Comedy or Musical  ( ), Best Actress – Comedy or Musical ( ), Best Screenplay, Best Original Score and Best Original Song (“City of Stars”)
British Academy Film Awards, 2016: – Best Film, Best Director, Best Actress in a Leading Role  (), Best Cinematography and Best Film Music

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar