Arsip

Archive for the ‘Film Barat’ Category

The Milk of Sorrow

April 25, 2017 Tinggalkan komentar

Berlatar sebuah pemukiman kumuh di Kota Lima.
Fausta adalah seoran gadis cantik yang mengalami penyakit aneh, yang kemudian disebut sebagai “Milk of Sorrow,” karena Fausta lahir dari ibunya yang merupakan korban kekerasan dan perkosaan pada masa terorisme di Peru.
The Milk of Sorrow
Didera rasa takut dan bingung karena penyakitnya ini, kesedihan Fausta semakin menjadi ketika sang ibu yang amat disayanginya, meninggal. Ia bertekad untuk menguburkan ibunya di desa. Namun untuk itu, butuh biaya tak sedikit. Dan ia tak punya cukup uang. Pamannya, satu-satunya keluarganya, sedang sibuk mempersiapkan pernikahan anaknya.
The Milk of Sorrow-3

The Milk of Sorrow-1
Fausta pun kemudian bekerja menjadi pembantu di sebuah keluarga kaya. Di sini Fausta harus mengahadapi ketakutan-ketakutannnya.
The Milk of Sorrow4

The Milk of Sorrow5
Meski ceritanya agak ‘absurd’ namun film ini digambarkan dengan sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Apalagi pemilihan cast untuk sosok Fausta terasa sangat pas karena selain berakting apik, sang aktris juga memiliki karakter wajah yang sangat khas dan unik. Saya sendiri baru ngeh dengan cerita film ini setelah membaca kalau ternyata film ini terinspirasi dari kisah nyata, dari kejadian tragis yang terjadi di Peru. Dimana pada tahun 1980-1992 di beberapa bagian di Peru, ketika terjadi kekerasan yang melibatkan kelompok Maoist di bawah Sendero Luminos serta papsukan militer danpada masa itu, banyak perempuan yang mengalami kekerasan dan perkosaan. Dan konon ada kepercayaan lokal bahwa air susu yang dihasilkan dari para korban perkosaaan dan kekerasan ini, diturunkan kepada anak-anaknya melalui air susu sang ibu. Hal itu lah yang kemudian menjadi nyawa cerita film ini. Good movie!

Cast:
Magaly Solier
Susy Sánchez
Efrain Solís

Judul: The Milk of Sorrow / La Teta Asustadahe
Sutradara: Claudia Llosa
Produser: Antonio Chavarrías, Claudia Llosa, José María Morales
Penulis: Claudia Llosa
Musik: Selma Mutal
Sinematografi: Natasha Braier
Rilis: 12 Februar 2009 (Berlinale)
Durasi: 95 menit
Negara/Bahasa: Peru/ Spanyol – Quechua

Awards:

Berlin Golden Bear 2009:
– Best Movie
Berlin International Film Festival 2009:
– FIPRESCI
Guadalajara International Film Festival 2009:
– Best Movie , Best Actress (Magaly Solier)
Montreal World Film Festival     2009:
– Best Actress (Magaly Solier)
Lima Film Festival 2009:
– Best Peruvian Movie, Best Actress,
Academy Awards     2009:
– Nominasi Best foreign Language Film

(etc. sumber informasi: wikipedia.org

After the Wedding

Januari 10, 2017 Tinggalkan komentar

Jacob adalah seorang pekerja sosial yang mengelola sebuah panti asuhan di daerah kumuh India. Ia begitu mencintai anak-anak asuhnya. Hingga suatu hari, ia mendengar bahwa panti asuhannya terancam tutup karena kekurangan dana. Ia diminta pulang ke negaranya, Denmark, untuk menemui seorang pengusaha yang sedianya akan mennjadi donornya.
after-the-wedding-2006

after-the-wedding-20061
Pengusaha itu bernama Jorgen. Lelaki kaya yang terlihat hidup harmonis bersama istri dan 3 anaknya. Anak tertuanya Anna akan segera menikah. Dan ketika bertemu Jacob, ia mengundang Jacob hadir ke acara pernikahan itu. Jacob meski tak terlalu menyukai sikap Jorgen yang agak angkuh, karena tak punya alasan menolak, datang ke acara pernikahan itu. Alangkah terkejutnya ia karena di sana ia bertemu istri Jorgen, Helene, yang tak lain adalah bekas kekasihnya dulu. Tidak hanya itu, karena kemudian terungkap kalau Anna adalah putrinya bersama Helene. Dan ia pun semakin gusar, karena merasa bahwa Jorgen lah yang telah mengatur semuanya.
after-the-wedding-20062
Saya selalu tertarik untuk menonton film dari berbagai negara, termasuk film ini. Apalagi, film ini masuk nominasi penghargaan Best Foreign Language di Academy Awards. Ceritanya sih cukup menarik dengan drama dan twist-nya. Saya tak paham-paham soal film dan sinematografi segala macam, tapi menurut penilaian awam saya setelah melihat film ini, kesan saya kok tidak terlalu shopisticated. Sehingga membuat saya heran juga, kok bisa ya masuk Oscar?  Ceritanya sih menarik, tapi juga cenderung mainstream. Plotnya terasa kurang ‘smooth’ dan akting beberapa aktornya juga tidak terlalu natural. Dan saya juga kurang suka dengan pengambilan gambar yang sering mengambil close up beberapa bagian wajah, terutama mata. Mungkin maksud si sutradara sih pengin mengambil angle yang berbeda dan yah, harus diakui, mata memang adalah bagian yang paling ekspresif. Tapi kok saya malah merasa agak annoying ya dengan gambar yang sebentar-sebentar close up begitu. Tapi, yeah, it’s just my humble oponion. Mungkin bagi yang suka bagus, dan buktinya bahkan film ini masuk nominasi ajang penghargaan bergengsi segala.

Cast:

Mads Mikkelsen – Jacob Petersen
Rolf Lassgård – Jørgen Lennart Hansson
Sidse Babett Knudsen – Helene Hansson
Fischer Christensen – Anna Louisa Hansson
Christian Tafdrup – Christian
Mona Malm – Mrs. Hansson
Meenal Patel – Mrs. Shaw
Neeral Mulchandani – Pramod

Judul: After the Wedding
Sutradara/Penulis: Susanne Bier
Produser: Sisse Graum Olsen
Musik: Johan Söderqvist
Sinematografi: Morten Søborg
Editing: Pernille Bech Christensen, Morten Højbjerg
Distributor: Nordisk Film (DK),Soda Pictures (UK), IFC Films (US)
Rilis: 24 Februari 2006
Durasi: 120 mennit
Negara: Denmark
Bahasa: Danish, Swedia, Hindi, Inggris

Award:
Academy Awards:
– Nominasi Best Foreign Language Film

Bodil Awards
– Best Supporting Actress (Fischer Christensen)
– Nominasi: Best Film, Best Actor (Lassgård), Best Actress (Knudsen)

European Film Awards:
– Nominasi: Best Actor (Mikkelsen), Best Director

etc see wikipedia.org

The Kid with a Bike

Januari 8, 2017 Tinggalkan komentar

Cyril seorang bocah lelaki yang tinggal terpisah dari ayahnya. Suatu hari, ia kalang kabut ketika tahu ayahnya tiba-tiba pergi dari apartemen biasa ia tinggal. Apalagi sepeda kesayangannya juga tak ada. Cyril pun kemudian pergi kesana kemari, mengumpulkan satu per satu informasi tentang keberadaan sang ayah dan juga sepedanya. Hingga ia kemudian bertemu dengan Samantha, seorang perempuan penyayang pemilik salon. Samantha kemudian menemukan sepeda milik Cyril, yang ternyata sudah dijual sang ayah. Ia kemudian membeli sepeda itu dan diberikan kepada Cyril. Meski begitu, sebenarnya bukan sepeda itu yang penting bagi Cyrill. Ia menginginkan ayahnya.
kid-with-a-bike

kid-with-a-bike1
Kenyataannya, sang ayah adalah seorang looser, yang sibuk dengan dirinya sendiri. Keberadaan Cyril baginya hanyalah beban, karenanya ia berusaha untuk melepas tanggung jawabnya seabgai ayah dengan cara memisahkan diri darinya. Ketika mengetahui hal ini, Cyril sangat terpukul. Untunglah, Samantha yang baik kemudian selalu ada untuknya. Meski begitu, tentu saja kadang itu tak cukup bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan begitu kekurangan kasih sayang. Hingga ia kemudian bertemu dengan. Wesker, seorang preman ingusan yang pura-pura menawarkan pertemanan, padahal hanya ingin memperalat Cyril. Tapi Samantha yang tak pernah menyerah untuk melimpahinya kasih sayang dan perhatian, akhirnya membuat Cyril sadar bahwa tak ada yang lebih bisa ia percayai selain Samantha.
kid-with-a-bike6

kid-with-a-bike4
Sebuah film yang menguras emosi. Satu hal yang selalu saya suka dari film-film sekelas penghargaan festival adalah karena selalu menyajikan sesuatu yang terasa orisinil. Kadang hanya sebuah cerita ‘sederhana’ tapi disajikan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang terasa sangat dalam dan kompleks. Seperti halnya film ini. Dari judulnya saja terkesan ‘remeh temeh’ tapi juga menarik. Dan sejak awal film dimulai, saya sudah merasa emosional  melihat Cyril, dengan tingkah lasaknya yang terasa sangat alami. Tanpa perlu banyak melibatkan dialog panjang lebar atau adegan-adegan yang eksplisit, kita bisa memahami apa yang dirasakan dan digelisahkan oleh Cyril.
kid-with-a-bike8
Dan satu hal yang saya suka dari film ini adalah karena eksekusi endingnya yang terasa sangat optimis. Satu hal yang tidak selalu saya temukan dalam film-film kelas festival, yang lebih sering diakhiri dengan hal-hal yang absurd atau muram. Dan meski cerita film ini terasa ‘sederhana’ tapi juga meninggalkan pesan moral yang kuat. Lewat sosok Samantha, seolah kita diajak untuk ikut bersikap pada anak-anak kurang kasih sayang seperti Cyril. Kepedulian dan tak kenal menyerah untuk selalu memberi perhatian dan kasih sayang lah yang akan menyelamatkan anak-anak seperti ini dari kemungkinan-kemungkinan untuk  tumbuh menjadi orang yang penuh kebencian dan amarah. Pemilihan sosok Samantha, menurut saya juga sangat tepat. Ia digambarkan bukan siapa-siapa, hanya perempuan biasa saja, tidak kaya raya, tidak hidup sangat bahagia, tapi ia melakukannya, memberi kasih sayang tanpa pamrih. Dan bahwa kita yang orang-orang biasa, seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama dengan Samantha. Very-very recommended!

Cast:
Thomas Doret – Cyril Catoul
Cécile de France – Samantha
Jérémie Renier – Guy Catoul (ayah Cyril)
Egon Di Mateo (fr)- Wesker

Judul: The Kid with a Bike/ Le gamin au velo
Sutradara:Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Produser: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne, Denis Freyd
Penulis: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Sinematografi: Alain Marcoen
Editing: Marie-Hélène Dozo
Produksi: Les Films du Fleuve
Distributor: Diaphana Films (France)
Rilis: 15 Mei 2011 (Cannes), 18 Mei 2011 (Perancis)
Durasi: 87 menit
Negara: Belgia, Perancis, Italia
Bahasa:Perancis

Awards:
– Cannes Film Festival 2011: – Palm d’Or (bersama Once Upon a Time in Anatolia)
– Golden Globe Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Satellite Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Independent Spirit Awards : Nominasi Best International Film
and many mores..

War Witch

Januari 3, 2017 1 komentar

Komona, berusia 12 tahun ketika gerombolan pemberontak yang disebut ‘Great Tiger‘ datang ke desanya, memporak-porandakan kampung dan merekrut anak-anak untuk dijadikan tentara, termasuk Komona. Setelah  menjalani hari-hari pelatihan yang berat dan penuh siksaan di dalam hutan, ia pun kemudian harus mulai ikut berperang. Membunuh orang tentu saja. Sosok-sosok yang kemudian ia gambarkan sebagai hantu-hantu.
war-witch
Karena kemampuan Komona yang cepat mendeteksi keberadaan lawan, ia kemudian dianggap memiliki kekuatan sebagai cenayang. Karenanya, ia kemudian mendapat kepercayaan dan perlindungan dari si Great Tiger. Namun itu artinya bahwa ia juga harus terus berperang dan membunuh.
war-witch3
Di antara para tentara, adalah Magicien yang kemudian menjadi kekasihnya. Sama-sama merasa muak dengan keadaan itu, keduanya kemudian melarikan diri dan menikah. Mereka menjalani hidup sederhana yang bahagia, tinggal di kampung bersama paman Magicien, Boucher, si penjual daging. Mereka berdua kemduian bekerja mengelola kebun sawit.
war-witch5

war-witch6
Hingga suatu hari, kelompok Great Tiger yang mencari keberadaan Komona datang untuk membawanya kembali, memisahkannya dengan Magicien. Dan ketika akhirnya ia bisa melarikan diri lagi, hidup tak sama lagi bagi Komona yang sudah terlalu banyak melihat darah dan kekerasan.
war-witch4
Hmm, menyesakkan. Sangat menyesakkan. Tentu film hanyalah sebuah film, tapi kita tahu bahwa di Afrika, cerita semacam ini memang jamak terjadi. Perang antar suku, perang antar kelompok, perekrutan tentara anak-anak, saling bunuh,  kekerasan dan kebiadaban yang seolah tiada ujungnya. Dan benar-benar menyesakkan memikirkan bahwa persoalan itu sangatlah kompleks.  Saya pikir, masalahnya bukan lagi hanya melibatkan kelompok tertentu dengan kelompok tertentu, tapi secara tidak langsung, banyak pihak yang terlibat. Seperti diperlihatkan dalam film, darimana pula para pemberontak itu memperoleh pasokan senjata yang seolah begitu berlimpah dan begitu mudahnya didapatkan? Yah, kita semua tentu tahu jawabannya.
war-witch2
Meski film ini cukup membuat sesak, tapi layak ditonton kok, menurut saya bagus karena bisa memberi kita pemahaman baru tentang hal-hal yang terjadi di sudut lain dunia ini. Dan meski filmnya membuat miris, tapi penceritaannya menarik. Dengan gaya penceritaan narasi off screen yang penuh perenungan, penyajian adegan-adegan kekerasan yang tidak vulgar, para pemain yang terlihat bermain sangat natural, dan juga selingan adegan yang tidak ‘perang’ melulu, membuat film ini ‘mudah’ untuk ditonton.

Cast:
Rachel Mwanza – Komona
Alain Lino Mic Eli Bastien – Commandant-rebelle
Serge Kanyinda – Magicien
Mizinga Mwinga – Grand Tigre Royal
Ralph Prosper – Boucher

Judul: War Witch/ Rebelle
Sutradara: Kim Nguyen
Produser: Pierre Even, Marie-Claude Poulin, Kim Nguyen
Penulis: Kim Nguyen
Sinematografi: Nicolas Bolduc
Rilis: 17 Februari 2012 (Berlin), Oktober 2012 (Canada)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Kanada/ Perancis-Lingala

Awards:
– Berlin International Film Festival  2012: Silver Bear for Best Actress (Rachel Mwanza )
– Tribeca Film Festival 2012: Best Actress  (Rachel Mwanza)
– Academy Awards 2012: Nominasi” Best Foreign Language Film” (Canada)
– Canadian Screen Awards 2012:  Best Picture, Best Director, Best Actress and Best Supporting Actor.
– NAACP Image Award 2012: Outstanding International Motion Picture

After Lucia

Januari 2, 2017 Tinggalkan komentar

Setelah kematian istrinya, Lucia, karena kecelakaan, Roberto mengajak putrinya yang beranjak remaja, Alejandra untuk pindah Puerta Vallarta ke Kota Meksiko. Mereka menempati sebuah rumah kecil yang sederhana. Roberto yan menyimpan depresi atas kematian istrinya, dan tak bisa berbagi dengan putrinya.

after-lucia-1

Roberto bekerja sebagai chef di sebuah restoran dan Alejandra menjalani hari-harinya di sekolah yang baru. Ia tampak cukup mudah diterima teman-teman barunya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang seperti umumnya remaja, termasuk mencoba-coba seks. Tapi masalah muncul karena adegan itu divideokan dan disebar di internet. Alejandra pun harus melewati hari-hari yang sulit karena menjadi bahan cemoohan teman-teman di sekolahnya. Di sisi lain, ia tak bisa menceritakan apapaun pada ayahnya.

after-lucia-6

Yah, sebenarnya roh film ini adalah tentang depresi, yang kemudian digabungkan dengan tema kekerasan remaja. Rasanya itu adahah cerita yang sering kita lihat atau dengar di media hampir setiap hari. Tapi film ini disajikan sedemikian rupa sehingga terasa meninggalkan banyak kesan dan perenungan. Wajar saja kalau film ini mendapat penghargaan Un Certain Regard di Festival Film Cannes.

after-lucia-3

Tanpa perlu banyak pemaparan, lewat bahasa tubuh, warna dan plotnya yang terasa menekan, kita tahu bahwa Alejandra dan ayahnya tidak baik-baik saja. Tanpa perlu kata-kata, kita tahu bahwa mereka masih sangat berduka atas kematian sang ibu dan bagaimana depresifnya hari-hari yang mereka jalani. Lalu ulah liar para remaja itu, ah, benar-benar memuakkan. Kita juga bisa merasakan kekesalan Roberto ketika para remaja itu tak bisa diproses secara hukum karena masih dianggap belum cukup umur. Geram sekali rasanya karena kita tahu bahwa mereka benar-benar bersalah. Lantas, hukuman macam apa yang pantas untuk mereka? Di samping itu, kita juga jadi bertanya-tanya, dengan ulah keterlaluan para remaja seperti itu, salah siapa sebenarnya? Orang tua, institusi pendidikan? Lewat film ini kita berandai-andai seandainya Alejandra dan ayahnya bisa berkomunikasi dengan lebih baik, apa keadaannya akan berbeda? Juga dimana para guru ketika Alejandra bahkan dibully dan dilecehkan di sekolah? Sebuah film yang terasa menyakitkan, tapi juga seperti berusaha mengetuk perenungan kita. Worthed to watch.

after-lucia-5

Cast:
Tessa Ía González Norvind – Alejandra
Hernán Mendoza – Roberto
Gonzalo Vega Sisto – José
Tamara Yazbek Bernal -Tamara
Paloma Cervantes – Irene
Juan Carlos Barranco – Manuel
Francisco Rueda – Javier

Judul: After Lucia/ Después de Lucía
Sutradara: Michel Franco
Produser: Moises Zonana
Sinematografi: Chuy Chávez
Rilis: 21 Mei 2012 (Cannes)
Durasi: 105 menit
Negara: Mexico
Bahasa: Spanyol

Awards:
Cannes Film Festival 2012:
– Prize of Un Certain Regard

Chicago International Film Festival 2012:
– Silver Hugo Special Jury Prize

Young Artist Award 2012:
– Nominasi Best Performance in an International Feature Film – Young Actress (Tessa la González)

Havana Film Festival 2012:
– Best Director

San Sebastián International Film Festival 2012:
– Horizons Award – Special Mention

Mud

November 24, 2015 Tinggalkan komentar

Berlatar sebuah desa di pinggiran sungai, Arkansas. Ellis adalah bocah lelaki 14 tahun. Bersama temannya, Neckbone, ia melakukan petualangan kecil ke sebuah pulau di tengah sungai dan menemukan perahu yang terdampar.  Namun, ternyata perahu itu dihuni seseorang yang mengaku bernama Mud. Mud sosok yang aneh, tapi tidak terlihat jahat. Ia mengaku sedang menunggu kekasihnya, Juniper. Dengan iming-iming imbalan perahu, Ellis dan Neckbone kemudian setuju untuk membantu Mud dengan menjadi perantara antara hubungan Mud dan Juniper.
Mud-4
Sedikit demi sedikit, rahasia sosok Mud pun terungkap.  Mud adalah seorang buronan dan sedang dikejar-kejar pembunuh bayaran. Ellis dan Neckbone yang tak tahu apa-apa, mau tak mau akhirnya ikut terlibat. Di sisi lain, Ellis juga sedang dirundung masalah di tengah rencana perceraian kedua orang tuanya dan juga cinta pertamanya dengan si kakak kelas yang ternyata hanya mempermainkannya.
mud
Sekilas, cerita film ini “biasa” saja, tapi disajikan sedemikian rupa dan mempunyai banyak lapisan cerita. Mulai dari cerita tentang coming age, keberanian mengambil keputusan, cinta… semuanya disajikan dengan rapi dan terasa mengalir, apalagi menggunakan tokoh utama seorang bocah lelaki. Latarnya juga terasa kuat, sehingga meninggalkan kesan yang mendalam setelah menontonnya. Aktor muda Tye Sheridan, bermain apik menampilkan sosok bocah lelaki berhati lembut, Ellis. Ekspresi wajahnya terasa dalam dan meninggalkan banyak kesan. Film yang bagus.
mud_ver3
Cast:
Matthew McConaughey – Mud
Reese Witherspoon – Juniper
Tye Sheridan – Ellis
Jacob Lofland – Neckbone
Sam Shepard – Tom Blankenship
Ray McKinnon -Senior
Sarah Paulson – Mary Lee
Michael Shannon – Galen
Joe Don Baker – King
Paul Sparks as Carver
Stuart Greer -Miller
Michael Abbott Jr. – James

Sutradara: Jeff Nichols
Produser: Lisa Maria Falcone, Sarah Green, Aaron Ryder
Penulis: Jeff Nichols
Musik: David Wingo
Sinematografi: Adam Stone
Editing: Julie Monroe
Produksi: Everest Entertainment, Brace Cove Productions, FilmNation Entertainment
Distributor: Lionsgate, Roadside Attractions
Rilis:  26 Mei 2012 (Cannes)
Durasi: 130 menit
Negara/ Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
Cannes Film Festival 2012:  Nominasi Palme d’Or     (Jeff Nichols)
and many mores, see imdb.com

Love, Rosie

November 16, 2015 Tinggalkan komentar

Alex dan Rosie bersahabat sejak kecil. Ketika beranjak remaja, perasaan mereka menjadi sulit dibedakan. Ketika Alex mulai pacaran, Rosie merasa cemburu dan melampiaskannya dengan nekad melakukan hubungan semalam dengan temannya, Greg. Tak disangka, Rosie hamil. Di sisi lain, Alex ingin mengejar impiannya dengan kuliah di Amerika. Rosie yang tak ingin merusak kebahagiaan Alex, tak menceritakan keadaannya dan membiarkan Alex pergi.
love rosie
Sementara Alex mengejar mimpinya di Amerika, Rosie harus memupus impiannya dan menerima keadaan sebagai ibu tunggal bagi anaknya, Katie. Ketika Alex akhirnya mengetahui keadaan Rosie, ia berusaha untuk selalu mendukungnya dan menjadi ayah angkat bagi Katie. Meski begitu, Alex masih terikat hubungan dengan pacarnya dan ternyata pacarnya hamil. Ketika Greg tiba-tiba datang dan menawarkan cinta, Rosie pun menerimanya. Tapi kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Alex mengetahui hal ini dan ingin Rosie bersamanya.  Rosie terlambat mengetahuinya dan ketika ia ingin menerima Alex, Alex sudah bersama pacar lamanya.

5D3_8104.CR2

5D3_8104.CR2

Hmm, sebuah cerita cinta yang agak belibet. Persahabatan yang dibalut cinta mungkin memang rumit. Dan cinta kadang hanyalah masalah waktu. Agak melelahkan dan geregetan sih mengikuti kisah cinta Alex-Rosie, tapi sebagai sebuah film romantis, romance-nya dapet banget.
love rosie7
Cast:
Lily Collins – Rosie Dunne
Sam Claflin – Alex Stewart
Tamsin Egerton – Sally
Suki Waterhouse – Bethany Williams
Jaime Winstone – Ruby
Christian Cooke – Greg
Lily Laight – Katie Dunne
Nick Lee – Herb
Nick Hardin – Joe American
Jamie Beamish – Phil

Sutradara: Christian Ditter
Produser: Robert Kulzer, Simon Brooks
Penulis: Juliette Towhidi (dari novel “Where Rainbows End” Cecelia Ahern)
Musik: Ralph Wengenmayr
Editing: Tony Cranstoun
Produksi: Canyon Creek Films, Constantin Film, Octagon Films
Distributor: Lionsgate
Rilis: 17 Oktober 2014 (Philadelphia International Film Festival)
Durasi: 102 menit
Negara/Bahasa: Inggris

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar