Arsip

Archive for the ‘Film Asia Lain’ Category

The Salesman

Januari 24, 2018 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan kechaosan yang terjadi di sebuah rumah hunian karena si pemilik hendak meruntuhkannya. Para penghuni pun mau tak mau harus segera Sepasang suami istri muda, Emad dan Rana adalah salah satunya. Emad adalah guru seni yang hangat dan dicintai murid-muridnya. Di malam hari, ia bermain teater bersama Rana. Tanpa terlalu banyak mengumbar adegan sok romantis, kita tahu bahwa keduanya adalah pasangan harmonis yang saling mencintai satu sama lain.

The Salesman-4

Berdasarkan rekomendasi seorang temannya di teater, Emad dan Rana kemudian pindah di sebuah apartemen sederhana yang baru saja ditinggal pergi penghuni sebelumnya. Penghuni sebelumnya ini, masih meninggalkan barang-barangnya di apartemen dan susah sekali dihubungi. Lalu suatu hari, ketika Rana sedang di rumah sendirian, seseorang masuk dan memukulnya hingga kepalanya terluka cukup parah. Usut punya usut, diketahui kalau penghuni sebelumnya adalah seorang perempuan ‘nggak bener’ dan kemungkinan orang yang menyerang Rana adalah salah satu orang langganannya. Mengira bahwa Rana adalah si penghuni lama.

The Salesman-1

Emad merasa sangat marah mengetahui hal ini. Apalagi kemudian, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Rana. Rana yang mandiri dan ceria berubah menjadi sosok penakut dan pemurung. Harga diri Emad sebagai seorang suami terluka. Apalagi kemudian Rana menolak untuk melaporkan kejadian itu ke polisi karena enggan mengikuti prosedurnya yang ribet belum lagi kinerja kepolisian yang meragukan (terdengar familiar!). Emad pun kemudian diam-diam berusaha mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penyerangan itu. Tapi ketika akhirnya pun ia berhasil menemukannya, ia tak lantas mudah membalaskan dendamnya. Alih-alih, keadaan justru menjadi rumit.

The Salesman-5

Saya selalu suka dengan film-film non Hollywood, karena punya orisinalitas ceritanya sendiri. Dan salah satu genre film yang saya sukai adalah film-film Timur Tengah, termasuk Iran. Apalagi bisa dibilang, untuk film-film Timur Tengah, sinema Iran memang yang paling menonjol bahkan untuk kancah internasional pun, menurut saya mereka adalah salah satu negara dengan tradisi perfilman terbaik. Di tengah ideologi negara mereka yang terkenal puritan, mereka tetap produktif menelurkan film-film berkualitas yang terus wara-wiri di kancah festival film atau ajang penghargaan internasional. Bagi penggemar film, siapa yang tak kenal nama seperti Majid Majidi, Bahman Gobadi, Jafar Panahi…

The Salesman-3

Kekuatan film-film Iran menurut saya terletak pada cerita dan penyajian film yang sangat realistis dengan plot-plot yang nyaris tak terduga dan kemudian akan meninggalkan kesan mendalam serta perenungan setelah menontonnya. Pun dengan film ini. Semuanya disajikan dengan sangat realisitis dan bisa dibilang ‘sederhana’ tapi terasa begitu dalam dan mengena. Dialognya, adegannya, eksekusi-eksekusinya…. Sangat pantas kalau film ini kemudian mendapatkan penghargaan sebagai Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2017. Bahkan menurut saya jauh lebih bagus daripada film pemenang Oscar-nya sendiri (yang tahun ini jatuh pada film Moonlight, yang menurut saya biasa-biasa saja). Good movie!

Cast:
Shahab Hosseini – Emad
Taraneh Alidoosti – Rana
Babak Karimi – Babak
Farid Sajadhosseini – The Man
Mina Sadati – Sanam
Maral Bani Adam – Kati
Mehdi Koushki – Siavash
Emad Emami – Ali
Shirin Aghakashi – Esmat
Mojtaba Pirzadeh – Majid
Sahra Asadollahi – Mojgan
Ehteram Boroumand – Mrs. Shahnazari
Sam Valipour – Sadra

Sutradara/Penulis: Asghar Farhadi
Produser: Alexandre Mallet-Guy, Asghar Farhadi
Musik: Sattar Oraki
Sinematografi: Hossein Jafarian
Editor: Hayedeh Safiyari
Produksi: Memento Films Production, Asghar Farhadi Production, Arte France Cinéma
Distributor: Filmiran (Iran), Memento Films Distribution (Perancis)
Rilis: 21 Mei 2016 (Cannes)
Durasi: 125 menit
Negara/Bahasa: Iran/ Persia

Awards:

Academy Awards 2017 : Best Foreign Language Film
Asian Film Awards 2017: Best Screenplay
Cannes Film Festival 2016 : Best Screenplay , Best Actor (Shahab Hosseini)
Chicago International Film Festival 2016: Silver Hugo Special Jury Prize (Asghar Farhadi )
Critics’ Choice Movie Awards 2016 : Nominasi Best Foreign Language Film
Golden Globe Awards 2017 : Nominasi Best Foreign Language Film
etc,

Iklan

Omar

Juni 12, 2017 Tinggalkan komentar

Omar, adalah seorang pemuda biasa yang sehari-hari bekerja sebagai penjual roti. Ia bersahabat baik dengan Tarek dan Amjad sejak kecil. Mereka tinggal di Tepi Barat. Omar tinggal di bagian Palestina, sementara Tarek dan Amjad di bagian Israel. Untuk bertemu kedua sahabatnya, setiap saat ia harus memanjat tembok pemisah dan berisiko ditangkap hingga ditembak oleh polisi Israel. Kesal dengan sikap arogan para tentara Israel, mereka pun kemudian bergabung dengan tim pemberontak. Dalam hal ini, Tarek lah yang menjadi pemimpinnya.

Omar-4

 

Omar-1

Omar kemudian jatuh cinta pada adik Tarek, Nadia, yang manis. Dan gayung bersambut, karena Nadia juga menyukai Omar. Karena situasi politik dan juga hidup di lingkungan yang relatif tradisional, mereka pun menjalin hubungan diam-diam, melalui surat menyurat yang manis. Di sisi lain, Amjad, juga menyukai Nadia.

Omar-3

Suatu hari, Omar, Tarek dan Amjad melakukan ‘misi’ melakukan serangan terhadap tentara Israel. Dalam pengejaran, Omar tertangkap. Di dalam penjara, ia kemudian bertemu Rami, seorang detektif simpatik yang menawarkan ‘perdamaian.’ Omar akan dibebaskan dengan syarat ia membantu Rami untuk menangkap Tarek. Tentu saja, ini adalah sebuah pilihan yang dilematis. Tapi Omar tak punya banyak pilihan karena satu-satu mimpinya adalah agar bisa hidup bersama Nadia. Meski kemudian, ia punya rencana sendiri.

Omar-8

 

Keluar dari penjara, situasi tidak menjadi baik. Omar dituduh berkhianat karena bisa keluar dengan mudah. Tarek dan Amjad, bahkan juga Nadia mencurigainya. Hubungannya dengan Nadia pun kemudian memburuk. Hal ini kemudian menjadi runyam karena Amjad seolah menjadi orang ketiga.

Omar-2

Another cliche romance story? Nanti dulu. Sekilas mungkin memang terkesan demikian, tapi yang membuat cerita film ini berbeda dengan film dengan cerita yang sejenis adalah latar ceritanya. Tepi Barat Palestina-Israel yang selalu penuh konflik. Meskipun film ini mengetengahkan tentang cinta, tapi sebenarnya tema besarnya adalah pengkhianatan. Dan di film ini, pengkhianatan bukanlah sesuatu yang disajikan secara hitam putih. Hidup di sebuah tempat yang terus bergolak oleh perang dan penuh ketidak pastian, adalah hal yang sangat manusiawi ketika setiap orang kemudian menjadi ‘egois’, dalam artian, ingin menjalani kehidupan yang baik untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang ia sayangi. Dan tema itu lah yang kemudian menjiwai seluruh karakter pokok dalam film ini. Meski di siini tokoh utamanya adalah Omar, tapi sebenarnya, semua karakter di sini digambarkan memiliki preferensi ‘egois’ dan ‘berkhianat’ semacam itu.

Omar-5

Di antara film-film tentang berlatar konflik Palestina-Israel, film ini adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Saya menyukai film ini, karena menyajikan ‘drama’ dan konflik politik dengan pas sehingga terkesan lebih ‘hangat’ dan ‘lembut.’ Tapi juga tidak jatuh ke dalam sesuatu yang terlalu ‘cengeng.’ Meski mungkin cerita cintanya terkesan ‘klise’ tapi salutnya hal itu dibalut dengan konflik yang lebih ‘dalam’ dengan sangat baik, dan hal itu pula yang mungkin menjadikan film ini banyak menuai pujian. (Film ini masuk nominasi Best Foreign Language di Academy Awards dan juga seleksi kompetisi di Cannes). Recommended!

Cast:
Adam Bakri – Omar
Eyad Hourani – Tarek
Samer Bisharat – Amjad
Waleed Zuaiter – Agent Rami
Leem Lubany – Nadia

Sutradara/Penulis: Hany Abu-Assad
Produser: Hany Abu-Assad, Waleed Zuaiter, David Gerson
Sinematofrafi: Ehab Assal
Editing: Martin Brinkler, Eyas Salman
Rilis: 21 Mei 2013 (Cannes)
Durasi: 96 menit
Negara/Bahasa: Palestina/Arab

Awards:
Award/Festival Category Winner/Nominee Won
Academy Awards 2013:
– Nominas Best Foreign Language Film
Festival Film Cannes 2013:
– Un Certain Regard (Special Jury Pirzed)
Toronto Film Festival 2013:
– The Norwegian Peace Film Award

etc.

Where Is the Friend’s Home?

Januari 25, 2017 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan di sebuah ruang kelas. Seorang guru lelaki berwajah galak memarahi muridnya, Reda, yang tak menyelesaikan PR. Reda yang berwajah memelas menangis karena dimarahi. Meski begitu, tokoh utama film ini sebenarnya adalah anak lelaki yang lain, Ahmed.
where-is-the-friends-home-1
Usai pulang sekolah, Ahmed yang sepertinya adalah anak yang rajin, bersiap mengerjakan PRnya. Tapi ia kemudian mendapati bahwa buku milik Reda, yang sampulnya mirip dengan kepunyaannya, tak sengaja terbawa. Karena khawatir bahwa Reda tak bisa mengerjakan PR-nya, Ahmed kemudian berniat untuk mengantarkan buku itu ke rumah Reda. Tapi ibunya, yang mengira bahwa Ahmed hanya mencari-cari alasan agar tak mengerjakan PR, melarangnya pergi. Di sisi lain, rumah Reda juga jauh. Meski begitu, Ahmed tetap bersikeras untuk mengantarkan buku itu, dan akhirnya terpaksa berbohong kepada ibunya.
where-is-the-friends-home-3
Seorang diri, ia pergi ke rumah Reda. Masalah muncul karena ia tak tahu dimana tepatnya rumah Reda dan seperti umumnya anak kecil hanya tahu nama Reda belaka. Ia pun kemudian harus bertanya kesana kemari pada orang-orang sekampung. Meski begitu, ia tak menyerah. Hingga malam menjelang, ia kemudian bertemu dengan seorang lelaki tua tukang kayu, yang mengenal Reda dan akan mengantarnya.
where-is-the-friends-home-4
Saya selalu menyukai film-film Timur Tengah, terutama Iran, yang menyampaikan hal-hal besar melalui cerita yang terlihat sederhana. Seperti juga film-film Kairasotami sebelumnya, lagi-lagi di sini ia menggunakan tokoh anak-anak. Melalui sosok seorang Ahmed, kita diajak untuk melihat artinya kebaikan dan tanggung jawab, yang bahkan kadang, tak dipahami oleh orang-orang dewasa. Dan meski film ini dibuat sudah cukup lama (tahun 1987) tapi ceritanya tetap terasa tak lekang oleh waktu. Recommended!

Note: Merupakan bagian pertama dari trilogi yang mengambil latar di wilayah Koker, Iran. Film berikutnya adalah  “Life, and Nothing More…” dan “Through the Olive Trees”.  

Cast:
Babek Ahmedpour – Ahmed
Ahmed Hamedpour – Mohamed Reda Nematzadeh
Kheda Barech  Defair – Pak Guru
Iran Outari – Ibu
Ayat Ansari – Ayah
Rafia Difai – Kakek
Mohammad Hossein Rouhi – Tukang Kayu

Judul: Where Is the Friend’s Home?/ Khane-ye doust kodjast
Sutradara/Penulis:
Produser: Ali Reza Zarrin
Sinematografi: Farhad Saba
Editing: Abbas Kiarostami
Rilis: 1987
Durasi: 83 menit
Negara: Iran

Awards:
–  Locarno Film Festival. 1989 : Bronze Leopard
–  Fajr Film Festival: Golden Plate

Taxi (Iran)

Januari 25, 2017 Tinggalkan komentar

berperan sebagai dirinya sendiri, sutradara film yang menyamar sebagai sopir taksi. Sambil menaikturunkan penumpang, diam-diam ia memasang kamera di dashboard mobilnya dan merekam pembicaraan para penumpang.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_000619823
Penumpang pertama adalah seorang laki-laki dan perempuan yang memperdebatkan tentang hukuman mati di Iran. Si lelaki keukeuh setuju dengan adanya hukuman mati meskipun kesalahannya kecil saja, agar si penjahat kapok, sementara si perempuan berargumen bahwa hukuman mati tidak adil dan tidak menyelesaikan persoalan.

Kedua, seorang lelaki penjual CD film bajakan yang bergerilya menjajakan film-film luar negeri yang tidak boleh ditayangkan di bioskop-bioskop di Iran. Di tengah jalan, mereka dicegat seorang lelaki korban kecelakaan bersama istrinya yang terus menerus menangis. Karena berpikir akan segera mati si lelaki kemudian minta direkamkan video wasiat terakhirnya untuk sang istri. Dan alih-alih sibuk memikirkan suaminya, si istri justru sibuk mengkhawatirkan wasiat itu.

Penumpang berikutnya, dua perempuan yang terburu-buru ingin mengujungi mata air suci demi melepaskan ikan sebelum tengah hari demi bisa membuang sial.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_002404992
Terakhir, Jafar menjemput keponakan perempuannya yang baru pulang sekolah, Hana. Hana gadis kecil yang pintar dan mirip dengan Jafar dan terlihat sangat memuja pamannya. Kemana-mana ia membawa kamera pocket dan merekam adegan-adegan di sekelilingnya berlagak membuat film.  Lewat celoteh polosnya, Hana menyebutkan aturan-aturan dalam membuat film yang ditetapkan di sekolahnya seperti penggunaan hijab di film, hingga bagaimana imej orang baik harus ditampilkan.

Hana kemudian diajak Jafar menemui temannya, seorang lelaki yang menceritakan adegan kekerasan yang dialaminya ketika dirampok. Temannya merasa bingung, karena ia kenal siapa perampoknya dan merasa kasihan karena tahu bagaimana kehidupannya.

Penumpang terakhir adalah seorang perempuan cantik yang terlihat sangat akrab dengan Jafar. Si perempuan ini seorang aktivis (diperankan oleh  Nasrin Sotoudeh, yang kono memang aktivis hak asasi beneran) yang tengah menangani kasus penangkapan perempuan  seperti dalam film Panahi, Offside (remaja perempuan yang dilarang menonton bola). Ia dan Jafar kemudian terlibat obrolan tentang  masa-masa dipenjara.
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_003763271
Di penghujung cerita, Jafar mencari perempuan pembawa ikan di mata air yang meninggalkan dompetnya di mobil. Ketika ia dan keponakannya meninggalkan mobilnya di tempat parkir, tampak dua orang lelaki bersepeda motor datang dan menjarah mobilnya.

Sebuah film dengan konsep ‘sederhana’ , dikemas dalam bentuk ala dokumenter, tapi mengetengahkan isu yang jauh dari sederhana. Hanya dari pembicaraan para penumpang taksi, penonton diajak ke dalam diskusi beragam isu politik di Iran mulai dari hukuman mati, aturan ketat tentang  perfilman, bagaimana masih kuatnya kepercayaan-kepercayaan takhayul ditengah aturan agama Islam yang konvensional, tentang kebebasan perempuan Iran.. yah, sebuah tema yang ‘berat’ tapi tenang saja karena disajikan lewat adegan yang sangat realistis dan sehari-hari sehingga terkesan jauh dari ambisius.
Good movie!
taxi-teheran-2015-french-dvdrip-x264-meme-mkv_003517391
Catatan:
Film ini, seperti juga film Panahi sebelumnya ( This Is Not a Film,  Closed Curtain) adalah film ‘illegal.” , sutradara film ini,  dilarang membuat film selama 20 tahun oleh pemerintah Iran yang memang terkenal otoriter dan kolot karena karya-karyanya yang seringkali penuh kritik. Meski begitu, Panahi tetap ‘keras kepala’ membuat film meski secara diam-diam. Dan itulah, kenapa film ini dibuat menyerupai film dokumenter dengan setting yang ‘sederhana’. Hmm, sedih juga sih melihat sutradara sehebat dia, bukannya didukung, justru dihalang-halangi kreatifitasnya. Seharusnya sih pemerintah Iran justru bangga ya, punya filmmaker keren dan berbakat begitu 😦

Quote:
Penumpang 1:
L: Hukum dan Syariah telah berbicara.
Jika sekarang masalahnya belum terselesaikan, mereka belum menerapkannya dengan benar.Jadi tenanglah, Nona!
P: Jadi menerapkan Syariah memecahkan semua masalah kita.. dengan meningkatkan jumlah eksekusi mati?
———–
L: Apa pekerjaanmu?
P: Apakah semua hal harus dihubungkan dengan pekerjaan?
L: Ada hubungannya. Ketika kau membela sebuah ide, apakah kau mempercayainya… ataupun kau punya kepentingan di dalamnya.

Jafar dengan mahasiswa film (M):
M: Aku melihat banyak film, membaca banyak buku,tetapi tidak dapat menemukansubjek yang bagus.
J: Dengar, film-film itu sudah dibuat, buku-buku itu sudah ditulis.Kau harus mencari di tempat lain. Itu tidak akan datang dengan sendirinya.
M: Apa yang harus kulakukan? Di mana aku harus memulainya?
J: Itu adalah bagian tersulit.Tidak ada yang bisa memberitahu dirimu. Kau harus menemukannya sendiri.

Jafar dan temannya yang dirampok (T):
J: Aku ingin tahu pencuri terlihat seperti apa.
T: Seperti aku, seperti kau, seperti semua orang di sekitar kita.

Jafar dengan perempuan pembawa bunga (PB):
PB: Ketika kau akhirnya dibebaskan, dunia luar menjadi
penjara yang lebih besar. Mereka membuat teman-teman terbaikmu
menjadi musuh terburukmu! Membuatmu ingin kabur dari negara ini, atau berharap untuk kembali ke penjara.

Cast:

Hana Saeidi
Nasrin Sotoudeh

Judul: Taxi/Taxi Tehran
Sutradara/Produser/Penulis:
Produksi: Jafar Panahi Film Productions
Rilis: 6 Februari 2015 (Berlin)
Durasi: 82 menit
Negara/Bahasa: Iran/Persia

Awards:
Berlin International Film Festival 2015: – Golden Bear , FIPRESCI Prize.

Winter Sleep

Januari 21, 2017 Tinggalkan komentar

Pada suatu musim dingin di sebuah desa wisata di salah satu sudut Turki. Aydin adalah seorang lelaki tua, mantan aktor teater yang menghabiskan hari-harinya di rumahnya—yang merangkap hotel–yang nyaman sembari menulis. Di rumahnya, ia tinggal bersama adik perempuannya yang janda, Necla dan istrinya yang masih muda dan cantik, Nihal. Selain itu ia juga ada dua orang pembantunya,  Fatma dan Hidayat.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_000110741
Aydin adalah semacam tuan tanah di tempatnya. Ia dihormati karena memiliki banyak harta dan sebagai umumnya orang kaya, ia memiliki sedikit keangkuhan. Insiden kecil terjadi ketika salah satu anak penyewanya, Ismail, iseng melemparkan batu ke kaca mobilnya. Aydin menganggap kejadian itu tak penting, tapi keluarga si anak menganggap itu hal yang penting. Ketika si keluarga berkeras untuk membayar, Aydin justru berkesan meremehkan.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_003150088
Masalah lain muncul seputar hubungannya dengan Nihal, istrinya. Sang istri yang masih muda, merasa kosong karena tak bekerja. ia kemudian membentuk semacam LSM untuk sekolah di daerah terpencil. Lagi-lagi hal ini menimbulkan kerumitan ketika Aydin yang merasa memiliki banyak uang, ingin ikut campur, sementara Nihal ingin melakukannya dengan usahanya sendiri.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_003713539
Emm yah, sebenarnya sulit bagi saya untuk membuat sinopsis film ini. Seperti banyak film-film festival, tidak ada konflik cerita yang gamblang. Alur juga bergerak perlahan-lahan, mengupas sedikit demi sedikit permasalahan di seputar kehidupan Aydin yang disajikan dengan begitu rapi dan alami. Tak heran kalau kemudian durasi film ini bahkan membutuhkan waktu tiga jam. Sehingga butuh kesabaran untuk mengikutinya.
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_006944191
Mungkin juga sedikit membosankan.Tapi jika kita benar-benar tekun mengikutinya, akan banyak hal yang menyisakan perenungan setelah menontonnya.  Segala sesuatunya berjalan begitu alami disekeliling kehidupan Aydin. Karakter-karakternya juga terasa sangat natural dan realistis, dengan berbagai ambiguitas dan hipokrisi sifat manusia. Didukung gambar-gambar bernuansa musim dingin yang sinematik. Karena meski banyak gambar diambil di tempat yang itu-itu saja, anehnya jauh dari membosankan. Good movie!
winter-sleep-2014-bluray-720p-x264-ganool-mkv_000212064
Cast:
Haluk Bilginer-  Aydın,
Demet Akbağ  – Necla
Melisa Sözen – Nihal
Ayberk Pekcan (tr) – Hidayet
Tamer Levent (tr) – Suavi (teman Aydin)
Nejat İşler –  İsmail
Serhat Kılıç (tr) –  Hamdi (imam, kakak Ismail)
Nadir Sarıbacak (tr) – Levent (guru, teman Nihal)
Mehmet Ali Nuroğlu (tr) – Timur (tamu hotel)
Emirhan Doruktutan – Ilyas (anak Ismail)

Judul: Winter Sleep (Kış Uykusu))
Sutradara:
Produser: Zeynep Özbatur Atakan
Penulis: , Ebru Ceylan
Sinematografi: Gökhan Tiryaki
Editing: , Bora Göksingöl
Produksi: NBC Film, Bredok Filmproduction, Memento Films Production, Zeynofilm
Distributor: New Wave Films (UK), Adopt Films (US)
Rilis: 16 Mei 2014 (Cannes), 13 Juni 2014 (Turki)
Durasi: 196 menit
Negara/Bahasa: Turki

Awards:
Cannes Film Festival     2014:
– Palme d’Or
– FIPRESCI Prize

Once Upon A Time in Anatolia

Januari 21, 2017 Tinggalkan komentar

Suatu malam yang gelap dan berangin, serombongan mobil yang terdiri dari para polisi, seorang dokter, seorang jaksa, penggali kubur dan dua orang tersangka pembunuhan, pergi ke pinggiran Kota Anatolia untuk mencari mayat korban. Namun kegelapan malam, membuat Kenan disorientasi sehingga kesulitan menunjukkan lokasinya. Hal yang membuat kesal para polisi.
once-upon-a-time-in-anatolia-2011-dvdrip-xvid-ltrg-avi_002874512
Di antara waktu menunggu, di antara desau angin dan malam yang hening, para petugas memeriksa lokasi, terjadi berbagai percakapan tentang banyak hal antara Dr Cemal, Arap-sopir, dan Naci si Jaksa. Mulai dari yogurt, daging kambing, pekerjaan,keluarga, bunuh diri, hingga tentang dosa warisan para orang tua kepada anak-anaknya. Si Jaksa kemudian bahkan bercerita tentang istri seorang temannya yang kelihatan baik-baik saja, tapi tiba-tiba bunuh diri.  Dari percakapan, kemudian terungkap kalau si istri mungkin sakit hati karena pernah mendapati suaminya selingkuh. Tercetus pertanyaan kemudian bahwa, apakah bunuh diri merupakan cara si mati untuk menyakiti orang yang ditinggalkannya?
once-upon-a-time-in-anatolia-2011-dvdrip-xvid-ltrg-avi_002331746

once-upon-a-time-in-anatolia-2011-dvdrip-xvid-ltrg-avi_002458800
Setelah memeriksa beberapa tempat, mayat korban akhirnya ditemukan. Dan karena hari sudah terlalu malam, mereka memutuskan untuk makan malam dan menginap di di rumah mayor kota terdekat. Usai makan malam, tiba-tiba listrik padam. Dan ketika semua orang terkantuk-kantuk kelelahan, dalam temaram lilin, muncul seorang gadis cantik, putri sang mayor. Kecantikan itu terlihat sureal sehingga membuat beberapa orang terpana. Bahkan Kenan si tersangka kemudian menangis dan berhalusinasi bertemu dengan korbannya, Diketahui kemudian kalau ia dan si korban terlibat pertengkaran ketika si korban ia beritahu dirinya adalah ayah biologis putranya.
once-upon-a-time-in-anatolia-2011-dvdrip-xvid-ltrg-avi_000658540
Keesokan harinya mereka kembali ke kota untuk melakukan otopsi mayat. Untuk itu, istri dan putra korban didatangkan. Ketika melihat Kenan, putra korban (yang adalah putra Kenan), melempari Kenan dengan batu, hal yang membuat Kenan menangis. Sebelum melakukan otopsi, Jaksa Naci kemudian melanjutkan cerita pada Dr Cemal, tentang si perempuan bunuh diri yang ternyata adalah istrinya sendiri. Hal yang sepertinya meninggalkan duka mendalam baginya.

Ketika otopsi dimulai oleh Dr Cemal dan asistennya, ditemukan tanda-tanda kalau kemungkinan si korban dikubur hidup-hidup, Meski begitu, Dr Cemal kemudian mengatakan agar tak menuliskannya dalam deskripsi kematian. Film ditutup dengan adegan Dr Cemal yang memandang keluar jendela, dan dari kejauhan tampak istri korban berjalan dengan putranya. Si anak, sebagai umumnya anak-anak, tak sepenuhnya memahami kematian dan kesedihan, mengejar bola yang terlempar dari beberapa anak yang bermain bola.
once-upon-a-time-in-anatolia-2011-dvdrip-xvid-ltrg-avi_001842567
Hmm yah, mungkin sekilas terkesan sebagai film crime biasa. Tapi tentu saja, ini bukan film crime biasa. Meski melibatkan cerita tentang kriminalitas, tapi film ini sendiri bukan semata tentang kriminalitas. Alih-alih, ini adalah tentang pertanyaaan-pertanyaan filosofis  di seputar kematian dan kejadian kriminal (pembunuhan, bunuh diri). Dikemas dengan gaya khas Nuri Bilge Ceylan yang terasa liris dan puitis, dan sebuah ending yang terbuka, film ini menyisakan banyak perenungan dan pertanyaan setelah menontonnya. Good movie!

Cast:
Muhammet Uzuner – Doctor Cemal
Yılmaz Erdoğan – Commissar Naci
Taner Birsel – Prosecutor Nusret
Ahmet Mümtaz Taylan – Arap Ali (Sopir )
Fırat Tanış (tr) –  Kenan (Tersangka)
Ercan Kesal (tr) – Mukhtar
Cansu Demirci (tr) – Purtinya Mukhtar
Erol Erarslan (tr) – Yaşar(Korban)
Uğur Arslanoğlu – Tevfik
Murat Kılıç (tr) – İzzet (polisi)
Şafak Karali a- Abidin
Emre Şen – Sersan Önder
Burhan Yıldız – Ramazan (Tersangka)
Nihan Okutucu – Gülnaz (istri korban)

Sutradara: Nuri Bilge Ceylan
Produser: Zeynep Özbatur Atakan
Penulis : Nuri Bilge Ceylan, Ercan Kesal, Ebru Ceylan
Siematografi: Gökhan Tiryaki
Editing: Bora Gökşingöl, Nuri Bilge Ceylan
Produksi: Zeyno Film
Distributor: The Cinema Guild
Rilis:  21 Mei 2011 (Cannes Film Festival)
Durasi: 157 menit
Negara/Bahasa: Turki

Awards:
– Asia Pacific Screen Award 2011: Achievement in Cinematography, Achievement in Directing,
Nominasi, Best Feature,  Nominasi Best Screenplay, Jury Grand Prize

– Cannes Film Festival 2011: Grand Prix (bersama “The Kid with a Bike”) , Nominasi Palme d’Or

– Chicago Film Critics Association 2012: Nominasi Best Foreign Language Film

– European Film Awards  2012: Nominasi:     Best Cinematographer, Best Director
– Independent Spirit Awards 2013: Nominasi Best Foreign Film
etc,

Theeb

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Theeb (artinya” serigala”) adalah bocah lelaki anak seorang pemimpin suku yang sudah meninggal tapi tetap dihormati. Ia tinggal di gurun bersama kakak lelakinya, Hussein dan para lelaki kaumnya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000262135
Suatu hari, datang seorang tamu, Edwards, bule Inggris yang minta diantar ke tempat pembangunan jalur rel kereta api. Hussein yang dipercaya untuk mengantar. Sedih berpisah dengan kakaknya, Theeb diam-diam mengikuti. Meski awalnya keikutsertaannya menjadi kontroversi, tapi akhirnya ia diijinkan ikut. Dimulailah perjalanan melelahkan menyusuri gurun dan celah-celah tebing bebatuan.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000853271
Hingga di suatu pemberhentian, mereka bertemu dengan para bandit gurun. Karena kalah jumlah, satu per satu mereka tewas. Dan hanya tinggal Theeb yang selamat. Di tengah keadaan terdampar di tengah gurun, kemudian datang salah satu anggota bandit, Hassan, yang terluka parah. Karena saling membutuhkan, terjalinlah “persahabatan” di antara keduanya. Hassan bercerita, bahwa orang-orang saling membunuh  setelah dibukanya rel kereta api. Orang-orang yang dulu bekerja sebagai pemandu orang berzziarah ke gurun dengan menggunakan unta, sekarang kehilangan pekerjaan karena sudah diganti dengan kereta api.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_004797979
Hassan kemudian mengajak Theeb ke tempat tentara gerakan untuk menjual barang-barang hasil rampokannya. Theeb merasa marah, karena barang-barang itu adalah harga yang dibayar atas kematian orang-orang, terutama kakaknya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_005241840
Miris dan juga sedih, itulah perasaan saya ketika menonton film ini. Berlatar gurun yang panas dan kerontang, rasanya miris membayangkan bagaimana orang hidup di tempat ekstrem itu. Dan bagaimana kemudian kekerasan terbentuk sebagai upaya untuk mempertahankan diri di tengah perebutan sumberdaya yang terbatas. Meski begitu, kita juga merasa terharu, melihat bagaimana sebenarnya orang-orang gurun itu juga sebagai orang yang hangat (sangat menghargai tamu) dan bertanggungjawab. Namun kemudian bisa dipahami ketika mereka rela saling membunuh karena memang ‘dipaksa’ oleh kondisi. Sebuah film yang memberi kita pemahaman tentang sebentuk strategi survival di salah satu sudut dunia.

Quote: “The strong will eat the weak”

Cast:
Jacir Eid Al-Hwietat – Theeb
Hussein Salameh Al-Sweilhiyeen – Hussein
Hassan Mutlag Al-Maraiyeh – Hassan
Jack Fox – Edward

Judul: Theeb
Sutradara: Naji Abu Nowar
Produser: Diala Al Raie, Bassel Ghandour, Nasser Kalaj, Yanal Kassay, Rupert Lloyd, Laith Majali, Nadine Toukan
Penulis: Naji Abu Nowar, Bassel Ghandour
Musik: Jerry Lane
Sinematografi: Wolfgang Thaler
Editing: Rupert Lloyd
Produksi: Bayt Al Shawareb, Fertile Crescent Films, Immortal Entertainment, Noor Pictures
Distributor: MAD Solutions
Rilis: 4 September 2014 (Venice), 19 Maret 2015 (UAE), 19 Maret 2015 (Jordan), 14 Agustus 2015 (UK)
Durasi: 100 menit
Negara: Jordania, United Arab Emirates, Qatar, Inggris
Bahasa: Arab

Awards:
– Academy Awards 2014: Nominasi ” Best Foreign Language Film” (Jordania)
– British Academy Film Awards 2014: – Nominasi “Best Film Not in the English Language “,  Nominasi “Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer     (Naji Abu Nowar, Rupert Lloyd)”
– Venice International Film Festival 2014: – Best Director ,  Nominasi Best Film
and many mores…

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar