Arsip

Archive for the ‘Animasi’ Category

Only Yesterday

April 24, 2018 1 komentar

Taeko, seorang gadis kota berumur 27 tahun dan masih sendiri. Karena dianggap sudah memasuki usia yang matang (cerita film ini berlatar tahun 80an), ia dicecar tentang pertanyaan untuk segera menikah oleh orang sekitar. Tapi Taeko sendiri masih sering bingung dengan dirinya sendiri. Ia selalu merasa dirinya tidak cukup baik dan sering terjebak dalam kenangan-kenangan masa kecilnya yang tidak terlalu bahagia. Ketika hari libur dari tempatnya bekerja, Taeko pergi ke desa untuk jadi bekerja paruh waktu di ladang pertanian milik kakak iparnya. Taeko lahir dan besar di kota dan sejak kecil, keluarga besarnya, termasuk neneknya, tinggal bersama di kota. Karenanya, ia selalu merasa iri ketika liburan sekolah, teman-temannya banyak yang pergi ke desa untuk mengunjungi kakek nenek mereka.

Omohide Poro Poro_8

Dalam perjalanan dan hari-harinya di desa, kenangan-kenangan masa kecil Taeko berhamburan. Posisinya sebagai anak terkecil di rumah membuatnya sering menjadi obyek bully kakak-kakaknya, logika berpikir yang berbeda, hal yang sering membuat ibunya habis kesabaran menghadapinya, tapi juga banyak kenangan manis di keluarganya… hari-harinya di sekolah ketika ada Hirota, bocah lelaki bintang baseball yang menyukainya…

Omohide Poro Poro9

Omohide Poro Poro17

Taeko sangat menikmati hari-harinya di desa. Selama di desa, ia ditemani Toshio, sepupu iparnya, cowok ramah dan bersahaja yang menikmati pekerjaan menjadi petani organik, alih-alih pergi ke kota besar. Toshio membuat Taeko nyaman. Dengan Toshio ia bisa bercerita tentang apa saja. Tapi ketika kemudian muncul tawaran untuk ia menikah dengan Toshio dan tinggal di desa, ia sadar bahwa selama ini, dirinya berpikir sangat naif. Ia sering berpikir bahwa tinggal dan hidup di desa adalah sesuatu yang menyenangkan, karena selama ini ia hanya tinggal sehari dua hari saja. Tapi menghabiskan seluruh hidupnya di desa? Pikiran-pikiran itu menohok Taeko dan kembali menyadarkan bahwa sebenarnya selama ini ia tidak cukup baik, tapi sering merasa sudah menjadi orang yang baik. Termasuk kenangan akan masa kecilnya bersama seorang bocah lelaki dekil dan miskin yang menjadi teman sebangkunya.

Omohide Poro Poro3

Omohide Poro Poro_9

 

Saya penasaran dengan film ini bukan karena ceritanya, tapi lebih karena melihat bahwa ini adalah besutannya , yang memang seolah menjadi jaminan animasi yang keren dan menarik. Dan yah, demikian juga dengan film ini. Ceritanya sangat unik demikian juga dengan plotnya yang tak terduga. Di awal, saya merasa agak bingung karena plot dan ceritanya yang seolah melompat berhamburan kesana kemari tanpa garis cerita yang jelas. Tapi semakin kesini, benang merahnya mulai terasa, membentuk jalinan cerita yang sangat subtle tapi juga begitu solid. Dan yah, I love this movie so much.

Omohide Poro Poro_7

Ruh film ini mirip-mirip sama film yang sudah saya tonton sebelumnya, yang juga sangat saya sukai. Gambar-gambarnya begitu permai, dan ceritanya terasa sangat manis dan hangat dengan penyajian yang begitu subtle tapi emosi dan nyawa ceritanya dapet banget. Karakter-karakternya juga sangat menarik. Dan inilah salah satu hal yang selalu membuat saya kagum dengan film-filmnya . Karenanya meskipun disajikan dalam bentuk animasi, tapi rasanya, tokoh-tokohnya begitu hidup dan nyata. Pada beberapa bagian, saya bahkan tak kuasa untuk menahan air mata karena ikut terhanyut dengan emosi tokoh utamanya. Sosok Taeko yang manis dan agak naif dengan segala kesepian dan ketidakbahagiaannya benar-benar terasa begitu relatable. Recommended!!!

Dubbing Cast:
Miki Imai – Taeko Okajima
Toshiro Yanagiba – Toshio
Yoko Honna – Taeko (kecil)

Judul: Omoide Poro Poro (Only Yesterday/Memories Come Tumbling Down)
Sutradara/Penulis: Isao Takahata
Produser: Toshio Suzuki
Buku: Omoide poro poro (Hotaru Okamoto, Yuko Tone)
Musik: Katz Hoshi
Sinematografi: Hisao Shiraishi
Produksi:
Distributor: Toho
Rilis: 20 Juli 1991
Durasi: 118 menit
Bahasa/Negara: Jepang

 

Iklan

From Up On Poppy Hill

Oktober 9, 2017 Tinggalkan komentar

Baru berkesempatan nonton film ini, karena baru ngeh kalau ada nama Miyazaki dan Studio Ghibli di dalamnya. Sejak nonton , saya memang kemudian memfavoritkan karya-karya Pak Miyazaki dan selalu penasaran dengan film yang melibatkan namanya. Di film ini, Pak Miyazaki berperan sebagai screenwriternya, sementara untuk sutradaranya sendiri ternyata adalah anaknya beliau, Goro Miyazaki.

from up on popy hill-1

Cerita film ini sebenarnya bisa dibilang ‘sederhana’ saja. Umi adalah seorang gadis remaja yang tinggal di sebuah rumah di atas bukit, bersama nenek, adik dan beberapa orang yang ngekos di tempatnya. Ayahnya yang seorang pelaut, dalam sebuah misi ketika terjadi Perang Korea. Sementara ibunya seorang guru yang tinggal berjauhan. Karena neneknya sudah tua, sehari-hari, Umi lah yang mengurus semua hal-hal rumah tangga yang dilakukannya dengan tekun, meski ia harus berbagi dengan kesibukan sekolahnya. Belum bisa menghapuskan kesedihan atas kepergian ayahnya, setiap hari Umi menaikkan bendera pelayaran sebagai tanda jalan pulang bagi ayahnya.

Shun From Up on Poppy Hill

Shun adalah teman satu sekolahan Umi. Seorang cowok yang aktif terlibat di klub sekolah. Ketika klub sekolah yang sudah tua hendak dihancurkan, Shun menjadi salah satu yang paling aktif menentang. Ia dan teman-temannya sibuk melancarkan protes dan memasang berbagai selebaran. Selain itu, sehari-hari Shun juga sering menemani ayahnya yang membawa kapal di sekitar pelabuhan tempat mereka tinggal. Ketika berlayar, ia sering merasa penasaran dengan bendera yang di pasang Umi.

from up on popy hill-0

Melalui sebuah ‘kebetulan’ Umi dan Shun kemudian menjadi dekat. Umi yang merasa ikut berempati dengan gerakan Shun dan teman-temannya, kemudian menawarkan bantuan. Mulai dari membuat stensilan hingga membersihkan klub yang kotor dan berantakan. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara keduanya. Namun masalah muncul ketika Shun melihat potret ayah Umi yang ternyata adalah potret yang sama seperti yang dimilikinya. Apakah Umi dan Shun ternyata bersaudara?

poppy-2

Hehe, ceritanya memang agak-agak drama dan mungkin terkesan ‘remeh temeh’ sih. Tapi tenang saja, bagi yang sudah berpengalaman dengan film-film produksinya Ghibli apalagi melibatkan nama Hayao Miyazaki, tentu sudah tahu bagaimana kualitas film-film mereka. Dan film ini, meski temanya ‘ringan’ tapi tetap disajikan dengan kedalaman yang mengagumkan. Karakter-karakternya terasa begitu hidup dan khas film-film Miyazaki yang begitu positif. Ceritanya disusun sedemikian rupa, sehingga meski ringan tapi terasa solid dan berbobot. Meski ‘cuma’ animasi, tapi hebatnya karakter-karakternya memiliki emosi yang begitu hidup lho. Apakah karakternya sedih, gembira, kesepian… semuanya tergambar begitu jelas dan mampu mengaduk-aduk emosi . Bagaimana Shun dan Umi jatuh cinta dan kesedihan mereka, rasanya begitu real. Didukung pula dengan soundtrack yang terasa pas. Dan yah, tentu saja, yang khas dari Studio Gibli adalah animasinya yang merupakan negeri imajinasi yang indah permai. Truly recommended.

from up on popy hill-5

Note:
Goro Miyazaki adalah anaknya . Karena tak nyaman dengan bayang-bayang ayahnya, Goro sempat ‘menjauh’ dari dunia animasi dan menjalani profesi sebagai landscaper. Tapi yang namanya bakat dan passion, pada akhirnya harus disalurkan. Ia pun membuat film animasi berjudul pada tahun 2006. Tapi film ini tidak terlalu sukses. Untunglah, Goro tidak kapok karena 5 tahun kemudian, ia membuat film ini. Dan kali ini berkolaborasi dengan ayahnya pula. Padahal konon hubungan Goro dengan ayahnya sempat kurang baik. Dalam sebuah wawancara konon Goro pernah menyebut kalau ayahnya meski diluar dikenal sebagai ‘orang besar’ tapi di rumah bukanlah ayah yang baik karena jarang berhubungan dengan anak-anaknya. Hmm, cerita yang familiar dari orang-orang besar ya? Tapi sepertinya lewat film ini, hubungan mereka sudah membaik. Mungkin juga karena keduanya sudah sama-sama ‘dewasa.’ Meski mungkin bagi Goro akan tak nyaman selalu dikaitkan dengan nama besar ayahnya, tapi saya pikir tak masalah juga lah. Ya namanya juga anak, wajar saja kan kalau dia mewarisi bakat ayahnya. Alih-alih dibanding-bandingkan, saya sebagai penggemarnya film-film Miyazaki, justru berharap kalau Goro melanjutkan jejak ayahnya. Apalagi Pak Miyazaki yang sekarang sudah uzur, konon sudah menyatakan pensiun membuat film animasi. Semoga saja ke depan, Goro akan membuat film-film keren lagi.

Ost:
– Aoi Teshima – “Summer of Farewells — From Up on Poppy Hill” (「さよならの夏~コクリコ坂から~」 “Sayonara no Natsu ~Kokuriko-zaka kara~”)
– Kyu Sakamoto – ” Ue o Muite Arukō”)/ Sukiyaki (I Shall Walk Looking Up” (「上を向いて歩こう」

Cast:
– Umi Matsuzaki
Junichi Okada – Shun Kazama
Keiko Takeshita – Hana Matsuzaki (neneknya Umi)
Jun Fubuki – Ryoko Matsuzaki (ibunya Umi)
Haruka Shiraishi – Sora Matsuzaki (adiknya Umi)
Yuriko Ishida -Miki Hokuto (bu dokter)
Nao Ōmori – Akio Kazama (ayahnya Shun)
Takashi Naito – Yoshio Onodera (kapten kapal teman ayahnya Shun dan Umi)
Shunsuke Kazama – Shirō Mizunuma (temannya Shun)
Teruyuki Kagawa – Tokumaru (kepala sekolah yang tinggal di Tokyo)
Rumi Hiiragi – Sachiko Hirokouji (pelukis yang tinggal di tempat Umi)

Sutradara: Gorō Miyazaki
Produser: Toshio Suzuki
Screenplay: , Keiko Niwa (berdasarkan manga “Kokuriko-zaka kara” nya Chizuru Takahashi, Tetsurō Sayama)
Musik: Satoshi Takebe
Sinematografi: Atsushi Okui
Editing: Takeshi Seyama
Produksi: Studio Ghibli
Distributor: Toho
Rilis: 17 Juli 2011
Durasi: 92 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
– Toronto International Film Festival 2011: Nominasi People’s Choice Award for Best Drama Feature Film
– Japan Academy Prize 2012: Animation of the Year
– Tokyo Anime Award : Animation of the Year
– Asia Pacific Screen Awards 2012: Nominasi Best Animated Feature Film
etc,

Stand By Me Doraemon

April 21, 2015 Tinggalkan komentar

Saya menyukai Doraemon meski tidak sampai pada tahap fans fanatik. Sejak kecil hingga sekarang, sesekali waktu saya mengikuti serinya yang tayang di TV dan cukup menikmatinya. Karenanya, ketika mendengar bahwa akan dibuat film layar lebarnya saya cukup penasaran. Apalagi saya baca di sinopsis kalau di sini, Doraemon akan meninggalkan Nobita. Selama ini, saya sering mendengar kritik tentang tayangan ini yang dianggap kurang mendidik karena Nobita menjadi selalu mengandalkan Doraemon. Dan membaca sinopsis film ini saya berpikir bahwa itu adalah jawaban atau tanggapan dari kritik itu.  Saya juga ingin melihat bagaimana Nobita bisa mengandalkan diri sendiri tanpa selalu harus dibantu Doraemon.
drmn2
Film sendiri dimulai dari kedatangan Doraemon dari masa depan ke abad ini. Jadi bagi yang tidak pernah menonton Doraemon pun bisa mengikuti cerita ini. Diceritakan, ia datang bersama Sobi, cicitnya Nobita yang menunjukkan gambaran masa depan Nobita. Bahwa hidupnya akan kacau dan ia bahkan akan menikah dengan Jaiko, adiknya Giant. Tentu saja, Nobita sangat sedih mendengarnya. Tapi untuk itulah Doraemon datang: membantu Nobita merubah masa depan.
drmnbh
Maka, dengan dibantu Doraemon menggunakan alat-alat “ajaibnya”, Nobita pun berusaha untuk memperbaiki diri. Terutama, agar ia bisa mengambil hati Shizuka dan di masa depan bisa menikahinya.
drmnoi
Hmm, jujur, filmnya agak tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Kenapa hubungan Nobita-Shizuka yang kemudian menjadi fokus cerita? Alih-alih jadi film anak-anak yang manis, film justru akan banyak mengulas hal-hal romantis. Ya, cukup menyenangkan sih mengetahui bahwa akhirnya Nobita dan Shizuka akhirnya bersama, tapi rasanya kok kurang pas ya kalau jadi fokus cerita apalagi ini adalah film anak-anak. Bahwa Nobita bertekad untuk berubah demi Shizuka, cukup masuk akal sih. Tapi saya pikir ada banyak hal yang lebih penting dari itu. Saya mengharapkan lebih banyak usaha keras Nobita dan bagaimana ia berhasil dengan usahanya sendiri tanpa bangtuan Doraemon. Juga bagaimana ia bisa menghadapi bully-an Giant dan Suneo.
drmnh
Walaupun begitu, cukup menghibur kok. Apalagi animasinya juga berformat 3D yang jernih. Tapi ya itu tadi, ceritanya agak di luar ekspektasi. Selain itu bagi saya pribadi, sedikit terganggu dengan pengisi suara Doraemon. Saya terbiasa dengan dubbingan versi Indonesia yang terasa lebih “cowok” sementara di film, suara dan ekspresinya kok terlalu imut-imut ya. Hihi. Whatever, bagi penggemar Doraemon, wajib tonton lah 🙂

Cast (dubbing):
Doraemon     – Wasabi Mizuta
Nobita Nobi – Megumi Ohara/ Satoshi Tsumabuki (dewasa)

Shizuka Minamoto – Yumi Kakazu
Suneo Honekawa – Tomokazu Seki
Takeshi “Giant” Goda – Subaru Kimura  
Sewashi / Soby – Sachi Matsumoto
Jaiko – Vanilla Yamazaki
Hidetoshi Dekisugi – Shihoko Hagino
Pak Guru – Wataru Takagi
Tamako Nobi – Kotono Mitsuishi
Nobisuke Nobi – Yasunori Matsumoto
Ibu Giant – Miyako Takeuchi
Yoshio Minamoto – Aruno Tahara

Judul: Stand By Me Doraemon
Sutradara: Takashi Yamazaki, Ryuichi Yagi
Penulis: Takashi Yamazaki (berdasar “Doraemon” nya Fujiko F. Fujio)
Musik: Naoki Sato
Produksi: Shirogumi, Robot Communications, Shin-Ei Animation Bang Zoom! Entertainment (US)
Distributor: Toho
Rilis: 8 Agustus 2014
Durasi: 95 menit
Negara/ Bahasa: Jepang

Awards:
Nikkan Sports Award 2014:
– Direction Award – Takashi Yamazaki
Japan Media Arts Festival-Animation 2014:
– Award of Examiners
Lumiere Japan Awards Grand Prix (2014)
Japan Academy Prize 2014:
– Outstanding Animation
Tokyo Anime Award Festival 2015
– Animation of the Year

(sumber: wikipedia.org)

The King of Pigs

Februari 23, 2015 Tinggalkan komentar

 

Kyung-min, usahanya mengalami kebangkrutan. Setelah membunuh istrinya, ia kemudian menghubungi teman masa SMAnya yang sudah 15 tahun tak bertemu, Jong-suk. Jong-suk sekarang menjadi penulis anonim dan juga terlihat tak bahagia.
king of pig7
Pada pertemuan dua sahabat lama ini, kemudian diceritakan kisah masalalu mereka. Di sekolah mereka terdapat dua kelompok, para preman sekolah yang disebut sebagai “anjing/dogs” mereka adalah anak-anak orang kaya, sedangkan golongan kedua adalah “babi/pigs” yang kebanyakan adalah anak-anak miskin yang menjadi bulan-bulanan bully para geng “dogs“. Termasuk di dalamnya adalah Jong-suk dan Kyung-min. Jong-suk karena berasal dari keluarga  miskin, sedangkan Kyung-min meski keluarganya cukup kaya, tapi berperilaku penakut dan dijuluki banci.
King of Pig6
Mereka menerima saja segala cemoohan dari para preman sekolah, hingga suatu hari, tiba-tiba Chul, sosok yang selama ini seolah terlupakan berani melawan para preman. Ia memukuli salah satu preman hingga babak belur. Chul sendiri adalah anak yang selalu bermasalah. Ayahnya kabur meninggalkan ia dan ibunya. Ibunya kemudian kerja di tempat karaoke untuk bertahan hidup.

Kyung-min dan Jong-suk pun kemudian berteman baik dengan Chul, merasa mendapat perlindungan dari sosoknya yang tak kenal takut. Ia pun dijuluki “King of Pig”. Meski begitu, para preman ini bukannya jera justru makin menjadi melakukan bully. Merasa geram, Chul dihinggapi ide gila untuk membuat para preman itu memiliki kenangan buruk di masa depan.
king of pig5
Tema bully-bullyan adalah tema yang cukup akrab pada film-film Korea. Hal yang menjadikan film ini unik tentulah bentuknya yang berupa animasi. Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar animasi, karena rasanya tidak bisa menikmati akting yang sesungguhnya. Meski begitu, saya mengapresiasi film ini karena konon, pembuatan film animasi justru jauh lebih sulit dan mahal dibanding film biasa.
kp
Di sisi lain, tema film ini yang sangat serius, juga merupakan nilai tersendiri karena selama ini, film animasi cenderung pada film anak-anak. Dan ternyata, meski tidak bisa menikmati akting langsung, tapi nyawa film ini tereksplore dengan baik lho. Salut untuk sang sutradara lah. Untuk beberapa bagian cerita, ada yang terkesan terlalu ambisius, tapi menurut saya tidak terlalu menganggu lah. Apalagi twist menjelang endingnya cukup memberi kejutan.

Cast (dubber):
– Jong-suk (dewasa)
– Jong-suk (anak-anak)
Oh Jung-Se – Kyung-min (dewasa)
Park Hee-Von – Kyung-min (anak-anak)
Kim Hye-Na – Chul

Judul: The King of Pigs/ Dwaejiui Wang (돼지의 왕)
Sutradara/ Penulis: Yeon Sang-Ho
Rilis: Oktober, 2011 (Busan International Film Festival)
Durasi: 97 menit
Distributor: KT&G Sangsangmadang
Bahasa/ Negara: Korea/ Korea Selatan

 Film Festival:
– Busan International Film Festival 2011 – Korean Cinema Today: Vision
– Cannes Film Festival 2012 – Director’s Fortnight
– New York Asian Film Festival 2012 *New York Premiere
– Fantasia Film Festival 2012 *Canadian Premiere
– Korean Film Festival in Australia 2012 – Animation
– Osian’s-Cinefan Film Festival of Indian, Asian and Arab 2012 – Filmcraft-Animation
– Karlovy Vary International Film Festival 2012 – Another View
– Melbourne International Film Festival 2012 – Next Gen
– Fantastic Fest 2012
– Sitges Film Festival 2012 – Anima’t
– Hawaii International Film Festival 2012 – Spotlight on Korea *Hawaii Premiere
– San Diego Asian Film Festival 2012 *Discoveries

Awards:
– Busan International Film Festival 2011: NETPAC Award, Movie Collage Award, DGK Award – Director
– Fantasia Film Festival 2012: Special Mention (New Flesh Award for Best First Feature), Satoshi Kon Award for Achievement in Animation

Leafie

Februari 20, 2014 Tinggalkan komentar

Pertama, sebenarnya saya baca bukunya “Leafie, a Hen Into the Wild” yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ceritanya bagus dan saya pun penasaran pengin nonton animasinya yang konon dapat beberapa penghargaan di festival film.

Leafie 1

Ceritanya sendiri persis sama dengan yang dibuku. Tentang Leafie, seekor ayam petelur yang ingin keluar dari kandang dan hidup bebas. Ketika kesempatan itu datang, ternyata hidup di alam bebas bukan hal yang mudah. Binatang-binatang lain di luar tak menyukainya, belum lagi ada musang kelaparan yang berusaha memangsanya.

Leafie 5
Meski begitu, Leafie menikmati pengalaman menakjubkan di alam bebas. Ia bertemu Bebek Pengembara yang kemudian meninggalkan sebutir telor yang bisa Leafie erami. Tidak hanya itu, karena Leafie juga berkesempatan menetaskan dan membesarkan si anak bebek di tengah perjuangannya menghindari serangan musang.

Leafie 3
Sebuah kisah yang mengharukan dan sangat indah. Animasinya juga bagus banget. Jauh dari klise animasi ala Hollywood, deh. Recommended!

Cast (dubbing):
– Leafie (Ip-Ssak)
– Greenie (Cho-rok, si anak bebek)
– Pengelana
berang-berang (Dal-soo)

Judul: Leafie / Leafie, a Hen Into the Wild (Madangeul Naon Amtak/마당을 나온 암탉)
Sutradara:
Penulis: Hwang Sun-Mi, Na Hyun, Kim Eun-Jung
Produser: Lee-Eun, Shim Jae-Myung
Sinematografi: Lee Jong-Hyuk
Rilis: 28 Juli 2011
Durasi: 93 menit
Bahasa/Negara: Korea/ Korea Selatan

Award & Film Festival:

– Film Festivals
Busan International Film Festival 2011 – Open Cinema
Sitges Film Festival 2011 – Sitges Family
Korean Film Festival In Paris 2011 – Classic *French Premiere
The London Korean Film Festival 2011 – Animation
Korean Film Festival in Australia 2012 – Animation

– Awards
KOFRA Film Awards Ceremony 2012 – Film Figure Award (Sim Jae-Myung)
Critics Choice Awards 2011 – Special Prize
Sitges Film Festival 2011 –     Best Sitges Family Film Diploma

Ponyo

Oktober 31, 2011 Tinggalkan komentar

Lagi-lagi karena ,. Waktu itu, begitu denger kalau dia bikin film baru lagi setelah sekian lama, langsung nyari-nyari di rental. Nggak ada! Nyari di lapak, nggak ada! 😦  Baru setelah dua tahun saya berhasil menemukannya di sebuah lapak CD di sebuah desa yang namanya tak tertera dalam peta, haha. Itu pun dalam versi combo dan kondisinya sudah lecek berdebu  sehingga saya sempat khawatir nggak bisa diputar. Untunglah, ternyata kualitasnya masih bagus.

Sosuke yang menemukan Ponyo yang terdampar

Sosuke yang menemukan Ponyo yang terdampar

Seperti film Miyazaki yang lain, juga berkisah tentang dunia anak-anak yang riang. Kali ini, latarnya adalah lautan. Ponyo sendiri adalah nama seekor anak ikan yang ingin menjadi bocah perempuan (nama pemberian ayahnya adalah Brunhilde). Ponyo tinggal di istana bawah air milik ayahnya, Fujimoto. Ketika diajak jalan-jalan di lautan luas sama ayahnya bersama saudara-saudaranya, Ponyo dilanda keingintahuan yang besar untuk melihat dunia yang lebih luas.

Ponyo yang ingin jadi anak manusia

Ponyo yang ingin jadi anak manusia

Ponyo kemudian terdampar di pinggir laut dan ditemukan oleh Sosuke, seorang bocah lelaki yang tinggal bareng ibunya di sebuah ruma pinggir laut (tempatnya terkesan asyik banget : ) ). Ketika Sosuke terluka, Ponyo mengobatinya. Dan mereka pun bersahabat. Sosuke lah yang kemudian memberi nama Ponyo.  Namun, Fujimoto yang berpikir kalau Ponyo diculik manusia, mendatangkan roh ombak besar untuk mengambil Ponyo.

Baik Ponyo maupun Sosuke merasa sedih dengan perpisahan itu. Ponyo berusaha berontak sama ayahnya dan mengungkapkan keinginannya untuk jadi manusia (dia sudah nelan darah manusia waktu nolong Sosuke). Hal yang kemudian menimbulkan kekacauan di lautan.

ponyo21

Hmm, jujur saja, di antara film-filmnya Miyazaki yang sudah saya tonton, jika diurutkan saya akan memasukkan Ponyo di list kesekian-sekian. Tak ada yang perlu diperdebatkan dengan kualitas filmnya. Gambar-gambarnya indah seperti biasa, ceritanya juga terasa orisinil seperti film Miyazaki yang lain. Tapi saya nggak tahu kenapa saya kurang suka dengan ide Ponyo yang ngotot ingin jadi manusia karena dia jatuh cinta sama Sosuke. Sulit bagi saya menerima ide jatuh cinta bocah umur 5 tahun, meski cinta adalah hal yang universal. Whatever, it’s worthed to be watched!

Note:
Konon tempat yang jadi latar Ponyo diinspirasikan dari sebuah tempat bernama Tomonoura, kota di Taman Nasional Setonaikai Jepang,tempat Miyazaki pernah tinggal. Beberapa latar dan ceritanya juga terinspirasi dari opera Wagner, Die Walküre. Sementara karakter Sosuke, konon didasarkan pada karakter putranya Miyazaki, Goro, ketika ia berumur 5 tahun. Sedangkan nama kapal tempat kerjanya ayah Sosuke adalah Koganeimaru, adalah lokasinya (studio yang memproduksi film ini dan film-film Miyazaki yang lain), Koganei di Tokyo.
(Sumber: wikipedia.org)

Cast (Voice):
Yuria Nara, Ponyo
Hiroki Doi, Sosuke
Tomoko Yamaguchi, Risa (ibu Sosuke)
Kazushige Nagashima, Koichi
Yuki Amami, Granmamare
Joji Tokoro, Fujimoto

Sutradara: 
Produser: Toshio Suzuki, Executive: Koji Hoshino
Screenplay: 
Cerita: 
Musik: 
Sinematografi: Atsushi Okui
Editing: Takeshi Seyama
Rilis: Jepang, July 19, 2008
Durasi: 101 menit
Bahasa: Jepang

Awards:
Annie Awards 2010:
– Nominasi Annie Award for Directing in a Feature Production (Hayao Miyazaki) dan Music in a Feature Production (Joe Hisaishi)
Asian Film Awards 2009:
– Penghargaan Best Composer (Joe Hisaishi)
– Nominasi Best Director & Best Film (Hayao Miyazaki)
Awards of the Japanese Academy 2009:
-Penghargaan Best Animation Film & Best Film Score
Hong Kong Film Awards 2010:
– Nominasi Best Asian Film
Mainichi Film Concours 2009:
– Penghargaan Ofuji Noburo Award
Venice Film Festival 2008:
– Penghargaan Future Film Festival Digital Award-Special Mention (Hayao Miyazaki), Penghargaan Mimmo Rotella Foundation Award (Hayao Miyazaki)
– Nominasi Golden Lion
etc.

Kiki’s Delivery Service

Oktober 30, 2011 Tinggalkan komentar

Saya nonton Kiki setelah nonton yang menurut saya, luar biasa. Dan kemudian membuat saya penasaran sama film-filmnya . Untunglah, di CD rental saya menemukan Kiki’s Delivery Service.

Kiki & si cerewet, Jiji. Asyiknya bisa terbang :)

Kiki & si cerewet, Jiji. Asyiknya bisa terbang 🙂

Berbeda dengan Spirited Away yang membawa kita bertualang ke negeri para roh, di Kiki’s, kita akan diajak ke dunia penyihir. Yups, Kiki, tokoh utama kita berasal dari negeri para penyihir. Di usianya yang menginjak 13 tahun, Kiki akan meninggalkan desanya untuk menimba pengalaman di kota. Ya, semacam merantau gitu ketika usia seseorang sudah dianggap cukup (hmm, 13 tahun sih masih terlalu kecil ya?  Tapi tak apalah, Kiki kan penyihir 🙂 ).

Kiki di Guchokipanya Bakery

Kiki di Guchokipanya Bakery

Dengan sapu terbangnya, radio transistor dan kucing kesayangannya yang cerewet, Jiji, pergilah Kiki ke kota Koriko yang indah dengan penuh semangat (konon, kota Koriko ini terinspirasi dari Kota Visby, di Gotland, Swedia sementara bangunan dan toko-tokonya adalah Stockhlom atau kota tua di Eropa Tengah semisal Munich). Namun, pengalaman pertama tiba di kota bukanlah hal yang menyenangkan bagi Kiki yang kemampuannya masih terbatas. Hingga ia kemudian bertemu Osono, si tukang roti. Akhirnya, dengan kemampuan terbangnya, Kiki membuka jasa antaran, Kiki’s Delivery Service dan berteman dengan seorang bocah lelaki, Tombo yang senang pada dunia penerbangan. Berbagai hal tak menyenangkan masih terus menimpa Kiki, namun Kiki tak pernah menyerah dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Sebuah coming age story yang menarik bukan? 🙂

Kiki dan Tombo yang menyukai dunia aviasi

Kiki dan Tombo yang menyukai dunia aviasi

Note:
Nama toko tempat Osono dan Kiki adalah Guchokipanya Bakery. Konon nama ini berasal dari Guchokipa, istilah lain untuk jankenpon: batu, gunting, kertas. Untuk versi bahasa Inggrisnya, nama toko ini adalah Good Baking Pan Bakery.

Kiki’s Delivery Service (魔女の宅急便 Majo no Takkyūbin? ) diproduksi tahun 1989 dan merupakan film ke-4 yang dirilis sama Studio Ghibli. Dan merupakan kerjasama pertama Studio Ghibli sama Disney. Disney merilis versi Bahasa Inggrisnya tahun 1997. (Kiki versi bahasa Inggris di dubbing sama Kirsten Dunst).

Cast (voice):
Minami Takayama, Kiki & Ursula
Rei Sakuma, Jiji
Kappei Yamaguchi, Tombo
Keiko Toda, Osono

Sutradara: 
Produser: , Toru Hara
Penulis: (based on ‘Kiki’s Delivery Service by Eiko Kadono)
Musik: 
Sinematografi: Shigeo Sugimura
Editing: Takeshi Seyama
Rilis: Jepang, July 22, 1989
Durasi: 102 menit
Bahasa: Jepang

Awards:
Mainichi Film Competition 1990: Best Animated Film
Kinema Junpo (Prestigious Japanese film magazine) 1990: Readers’ Choice Award
Japan Academy Award 1990: Popularity Award
Annual Golden Gross: Award Gold, Japanese Film
The Movie’s Day Special Achievement Award
The Erandole Award: Special Award
Japan Cinema Association Award: Best Film and Best Director
Japanese Agency of Cultural Affairs (a government agency under the Ministry of Education):  Excellent Movie
Annual Anime Grand Prix: Best Anime

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar