Arsip

Arsip Penulis

Low Life (Raging Years)

Oktober 15, 2017 Tinggalkan komentar

Sudah lama browsing ke sana kemari nyari film ini, eh, ujung-ujungnya nemu di Youtube. Untung juga ternyata subscene sudah nyediain subtitle Inggrisnya. Jadilah saya bisa nonton film ini.

Raging Years-1

Film dimulai dari masa sekolahnya Choi Tae-woong (), pemuda berangasan yang suka berantem. Dari cerita sekilas, diketahui kalau Tae-woong tumbuh dalam keluarga broken home. Ibunya selingkuh dan kabur dari rumah. Ayahnya tidak bertanggung jawab. Hal itu pula agaknya yang membentuk jiwa ‘keras’ dalam diri Tae-woong.

Raging Years-5

Raging Years-2

Setelah sebuah ‘insiden’ berantem yang menyebabkan kaki Tae-woong terluka, Tae-woong justru bersahabat baik dengan penikamnya, Oh Seung-moon. Tidak hanya itu, ia bahkan kemudian diangkat anak oleh ayah Sae-moon yang merupakan seorang politikus. Ia juga jatuh cinta dengan kakak Seung-moon, Hye-ok ( ) yang cantik.

Raging Years-8

Selepas lulus sekolah, Tae-woong bergabung dengan sekelompok gangster setelah tanpa sengaja memukul seorang dedengkot gangster. Ketika kondisi politik Korea berubah dan kelompok gangsternya pecah, Tae-woong kemudian menikahi Hye-ok dan memutuskan berhenti dari dunia gangster. Ia kemudian menekuni dunia perfilman dengan menjadi produser. Tapi tidak adanya pengetahuan mendalam soal bisnis film membuat usahanya bangkrut. Dalam keadaan bangkrut dan harus menghidupi anak istri, ia pun menemui rekan gansternya, Sang-pil, yang sudah sukses dengan perusahaan yang berafiliasi dengan CIA. Tae-woong pun kembali menggeluti dunia yang ‘keras.’

Raging Years-9

Perlahan, Tae-woong mendapatkan posisi yang bagus. Ketika Sang-pil menjadi invalid karena tertembak, ia pun mengambil alih posisi manajerial. Singkat cerita, semuanya berjalan mulus bagi Tae-woong. Tapi ya namanya bisnis abu-abu, limpahan harta dan kedudukan membuatnya mulai menjalani hidup berfoya-foya seperti main perempuan, yang tentu saja membuat istrinya berang. Di sisi lain, bisnisnya juga tak selamanya berjalan mulus karena melibatkan jaring-jaring politik.

Raging Years-10

Well, sejak awal, saya sebenarnya tak terlalu berekspektasi pada film ini. Hampir tidak adanya resensi dan sulitnya akses film ini, membuat saya berpikir bahwa film ini memang kurang bagus. Meski begitu, saya tetap ingin menontonnya karena tentu saja, pemainnya:. Selain itu, ternyata film ini juga disutradarai oleh , sutradara kawakan yang sebelumnya sudah kerja bareng Seung-woo di film . Jadi pikir saya, meski mungkin filmnya buruk, tapi karena melibatkan nama dua orang ini, saya yakin tak buruk-buruk amat. Dan memang demikian adanya. Bahkan menurut saya film ini cukup bagus. Ceritanya berbobot, penggarapannya juga terasa qualified dan matang, membuktikan bahwa sang sutradara memang sudah berpengalaman. Hanya saja, memang ada sesuatu yang membuat film ini terasa kurang ‘wah.’ Mungkin karena ceritanya yang lebih seperti ‘kisah personal’ kehidupan seorang anak manusia dalam menghadapi jatuh bangunnya kehidupan, dan lagi si tokoh digambarkan sebagai seorang berkarakter abu-abu yang menggeluti dunia abu-abu, sehingga mungkin terasa kurang dapat pesan moralnya.Apalagi endingnya juga terasa ‘begitu saja.’Tapi overall, menurut saya film ini bagus.

Raging Years-3

Cho Seung-woo yang selalu konsisten dengan aktingnya

Saya sendiri memang menonton film ini lebih karena ingin melihat aktingnya , dan cukup puas dengan penampilannya di sini. Ia bermain dengan apik sebagai Choi Tae-woong yang kasar tapi tetap memiliki sisi simpatik dan seorang family man yang bertanggung jawab. Dan melihat aktingnya, membuat saya merasa semakin kagum sama aktor satu ini. Dan well, saya pun paham bahwa memang ada aktor-aktor yang ‘terlahir’ untuk menjadi tokoh utama. Dan saya pikir, adalah salah satunya. Dan Seung-woo membuktikannya di sini. Di usia yang masih sangat muda (23 tahun) dan juga masih terbilang aktor ‘baru’ di kancah perfilman (debutnya dimulai di usia 19 tahun), tapi difilm ini, ia menunjukkan bahwa dirinya adalah aktor yang sudah sudah ‘matang.’ Dengan screen presence yang hampir 99%, tak sedikit pun ada moment ‘blank’ dalam aktingnya. Aktingnya konsisten dan karismatis. Ia menjelmakan dirinya sebagai sosok Choi Tae-woong sepenuhnya dengan segala karakter-karakternya yang terasa utuh. Love him more and more 🙂

Judul: Low Life / Raging Years/ Haryu Insaeng ( 하류인생)
Sutradara/ Penulis:
Rilis: 21 Mei 2004
Durasi: 105 menit
Negara/Bahasa:Korea Selatan/Korea

Cast:
– Choi Tae-woong
– Park Hye-ok
Kim Hak-jun – Oh Sang-pil
Yu Ha-Jun – Park Seung-mun
Koo Sung-Hwan – Choon-Sik

Iklan
Kategori:Uncategorized

Breath

Oktober 11, 2017 Tinggalkan komentar

Yeon, adalah seorang istri yang tak bahagia dengan kehidupannya yang membosankan. Ditambah lagi, ketahuan bahwa suaminya () selingkuh. Suatu hari ia melihat berita di TV tentang seorang narapidana hukuman mati yang gagal melakukan percobaan bunuh diri bernama Jang Jin (). Yeon merasa jatuh simpati pada Jang Jin. Dalam keadaan frustrasi, ia nekad menemui Jang Jin di penjara.

Breath-9

Breath-1

Yeon pernah merasakan ambang kematian dan kemudian menceritakan hal ini pada Jang Jin. Jang Jin tersentuh oleh cerita-cerita Yeon. Apalagi kemudian Yeon rutin datang dan menghiburnya. Di sisi lain, suami Yeon mulai curiga melihat tingkah Yeon yang aneh dan kemudian mengikuti Yeon. Ia merasa terkejut ketika tahu bahwa istrinya berselingkuh dengan seorang narapidana. Ia pun kemudian berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik bagi Yeon.

Breath-8

Salah satu film dengan ending yang menurut saya paling optimis dan hangat. Bagi yang suka dengan film-film ‘uniknya’ , tentunya film ini tak boleh dilewatkan 🙂

Cast:
– Jang Jin
Park Ji-a – Yeon
– Suami Yeon
Kang In-hyeong – narapidana muda (yang suka sama Jang Jin)
-kepala keamanan penjara

Judul: Breath/ Soom
Sutradara/Penulis/Produser:
Sinematografi: Sung Jong-moo
Rilis: 26 April 2007
Durasi: 84 menit
Distributor: Sponge Ent.
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
– Nominasi Palm d’Or Cannes Film Festival 2007

Kategori:Uncategorized

From Up On Poppy Hill

Oktober 9, 2017 Tinggalkan komentar

Baru berkesempatan nonton film ini, karena baru ngeh kalau ada nama Miyazaki dan Studio Ghibli di dalamnya. Sejak nonton , saya memang kemudian memfavoritkan karya-karya Pak Miyazaki dan selalu penasaran dengan film yang melibatkan namanya. Di film ini, Pak Miyazaki berperan sebagai screenwriternya, sementara untuk sutradaranya sendiri ternyata adalah anaknya beliau, Goro Miyazaki.

from up on popy hill-1

Cerita film ini sebenarnya bisa dibilang ‘sederhana’ saja. Umi adalah seorang gadis remaja yang tinggal di sebuah rumah di atas bukit, bersama nenek, adik dan beberapa orang yang ngekos di tempatnya. Ayahnya yang seorang pelaut, dalam sebuah misi ketika terjadi Perang Korea. Sementara ibunya seorang guru yang tinggal berjauhan. Karena neneknya sudah tua, sehari-hari, Umi lah yang mengurus semua hal-hal rumah tangga yang dilakukannya dengan tekun, meski ia harus berbagi dengan kesibukan sekolahnya. Belum bisa menghapuskan kesedihan atas kepergian ayahnya, setiap hari Umi menaikkan bendera pelayaran sebagai tanda jalan pulang bagi ayahnya.

Shun From Up on Poppy Hill

Shun adalah teman satu sekolahan Umi. Seorang cowok yang aktif terlibat di klub sekolah. Ketika klub sekolah yang sudah tua hendak dihancurkan, Shun menjadi salah satu yang paling aktif menentang. Ia dan teman-temannya sibuk melancarkan protes dan memasang berbagai selebaran. Selain itu, sehari-hari Shun juga sering menemani ayahnya yang membawa kapal di sekitar pelabuhan tempat mereka tinggal. Ketika berlayar, ia sering merasa penasaran dengan bendera yang di pasang Umi.

from up on popy hill-0

Melalui sebuah ‘kebetulan’ Umi dan Shun kemudian menjadi dekat. Umi yang merasa ikut berempati dengan gerakan Shun dan teman-temannya, kemudian menawarkan bantuan. Mulai dari membuat stensilan hingga membersihkan klub yang kotor dan berantakan. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara keduanya. Namun masalah muncul ketika Shun melihat potret ayah Umi yang ternyata adalah potret yang sama seperti yang dimilikinya. Apakah Umi dan Shun ternyata bersaudara?

poppy-2

Hehe, ceritanya memang agak-agak drama dan mungkin terkesan ‘remeh temeh’ sih. Tapi tenang saja, bagi yang sudah berpengalaman dengan film-film produksinya Ghibli apalagi melibatkan nama Hayao Miyazaki, tentu sudah tahu bagaimana kualitas film-film mereka. Dan film ini, meski temanya ‘ringan’ tapi tetap disajikan dengan kedalaman yang mengagumkan. Karakter-karakternya terasa begitu hidup dan khas film-film Miyazaki yang begitu positif. Ceritanya disusun sedemikian rupa, sehingga meski ringan tapi terasa solid dan berbobot. Meski ‘cuma’ animasi, tapi hebatnya karakter-karakternya memiliki emosi yang begitu hidup lho. Apakah karakternya sedih, gembira, kesepian… semuanya tergambar begitu jelas dan mampu mengaduk-aduk emosi . Bagaimana Shun dan Umi jatuh cinta dan kesedihan mereka, rasanya begitu real. Didukung pula dengan soundtrack yang terasa pas. Dan yah, tentu saja, yang khas dari Studio Gibli adalah animasinya yang merupakan negeri imajinasi yang indah permai. Truly recommended.

from up on popy hill-5

Note:
Goro Miyazaki adalah anaknya . Karena tak nyaman dengan bayang-bayang ayahnya, Goro sempat ‘menjauh’ dari dunia animasi dan menjalani profesi sebagai landscaper. Tapi yang namanya bakat dan passion, pada akhirnya harus disalurkan. Ia pun membuat film animasi berjudul pada tahun 2006. Tapi film ini tidak terlalu sukses. Untunglah, Goro tidak kapok karena 5 tahun kemudian, ia membuat film ini. Dan kali ini berkolaborasi dengan ayahnya pula. Padahal konon hubungan Goro dengan ayahnya sempat kurang baik. Dalam sebuah wawancara konon Goro pernah menyebut kalau ayahnya meski diluar dikenal sebagai ‘orang besar’ tapi di rumah bukanlah ayah yang baik karena jarang berhubungan dengan anak-anaknya. Hmm, cerita yang familiar dari orang-orang besar ya? Tapi sepertinya lewat film ini, hubungan mereka sudah membaik. Mungkin juga karena keduanya sudah sama-sama ‘dewasa.’ Meski mungkin bagi Goro akan tak nyaman selalu dikaitkan dengan nama besar ayahnya, tapi saya pikir tak masalah juga lah. Ya namanya juga anak, wajar saja kan kalau dia mewarisi bakat ayahnya. Alih-alih dibanding-bandingkan, saya sebagai penggemarnya film-film Miyazaki, justru berharap kalau Goro melanjutkan jejak ayahnya. Apalagi Pak Miyazaki yang sekarang sudah uzur, konon sudah menyatakan pensiun membuat film animasi. Semoga saja ke depan, Goro akan membuat film-film keren lagi.

Ost:
– Aoi Teshima – “Summer of Farewells — From Up on Poppy Hill” (「さよならの夏~コクリコ坂から~」 “Sayonara no Natsu ~Kokuriko-zaka kara~”)
– Kyu Sakamoto – ” Ue o Muite Arukō”)/ Sukiyaki (I Shall Walk Looking Up” (「上を向いて歩こう」

Cast:
– Umi Matsuzaki
Junichi Okada – Shun Kazama
Keiko Takeshita – Hana Matsuzaki (neneknya Umi)
Jun Fubuki – Ryoko Matsuzaki (ibunya Umi)
Haruka Shiraishi – Sora Matsuzaki (adiknya Umi)
Yuriko Ishida -Miki Hokuto (bu dokter)
Nao Ōmori – Akio Kazama (ayahnya Shun)
Takashi Naito – Yoshio Onodera (kapten kapal teman ayahnya Shun dan Umi)
Shunsuke Kazama – Shirō Mizunuma (temannya Shun)
Teruyuki Kagawa – Tokumaru (kepala sekolah yang tinggal di Tokyo)
Rumi Hiiragi – Sachiko Hirokouji (pelukis yang tinggal di tempat Umi)

Sutradara: Gorō Miyazaki
Produser: Toshio Suzuki
Screenplay: , Keiko Niwa (berdasarkan manga “Kokuriko-zaka kara” nya Chizuru Takahashi, Tetsurō Sayama)
Musik: Satoshi Takebe
Sinematografi: Atsushi Okui
Editing: Takeshi Seyama
Produksi: Studio Ghibli
Distributor: Toho
Rilis: 17 Juli 2011
Durasi: 92 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
– Toronto International Film Festival 2011: Nominasi People’s Choice Award for Best Drama Feature Film
– Japan Academy Prize 2012: Animation of the Year
– Tokyo Anime Award : Animation of the Year
– Asia Pacific Screen Awards 2012: Nominasi Best Animated Feature Film
etc,

One Million Yen Girl

September 15, 2017 Tinggalkan komentar

Suzuko Sato () mengalami ‘masalah’ ketika mulai ingin hidup mandiri. Karena kesalahan yang tak disengaja, ia kemudian sempat di penjara. Sekeluar dari penjara, ia terpaksa kembali ke rumahnya, tinggal bersama ayah-ibu dan adiknya. Namun ia tak lagi merasa bahagia. Orang tuanya merasa terbebani karena para tetangga bergosip tentang dirinya yang pernah dipenjara. Merasa tak nyaman, Suzuko pun memutuskan untuk keluar rumah setelah ia punya tabungan sebanyak sejuta yen. Tidak hanya itu, ia juga bertekad untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap kali berhasil mengumpulkan uang sejuta yen, karena dengan uang segitu, ia merasa cukup untuk hidup dan memulai mencari pekerjaan lain lagi.

one million yen girl

one million yen girl-3

Maka perjalanan ‘1 juta yen’ Suzuko pun dimulai. Ia pergi ke suatu tempat dan mencari pekerjaan-pekerjaan paruh waktu. Mulai menjadi tukang serut di pinggir pantai, pemetik buah plum di pedesaan hingga menjadi penjual bunga di sebuah kota kecil. Dalam perjalanannya, Suzuko menyadari bahwa bukan hanya karena kecukupan uang yang membuatnya ingin pindah, tapi juga perasaan tidak nyaman ketika ia sudah mulai ‘kenal’ dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga suatu hari, ia bertemu Ryohei (), mahasiswa paruh waktu yang membuatnya jatuh cinta. Gayung bersambut karena Ryohei juga menyukai Suzuko. Ketika sudah merasa ‘nyaman’ Suzuko pun dihadapkan pada pilihan dilematis, menepati prinsip hidupnya untuk pindah atau tinggal bersama Ryohei.

 

one million yen girl-9

one million yen girl-14

Saya menonton film ini karena . Dia adalah aktris yang saya kagumi. Selain wajahnya yang menurut saya sangat lovable, juga karena film-filmnya yang umumnya bagus-bagus. Film ini sendiri merupakan perpaduan antara coming age story dan road movie, yang mengetengahkan pergolakan psikologis Suzuko. Dan yah, para sineas Jepang agaknya memang lihai kalau mengetengahkan tema-tema semacam itu. Kesendirian, keterasingan… sebuah tema yang akrab dan ada dalam diri kita sehingga film ini terasa relatable ketika ditonton.

one million yen girl-13

Tapi tenang saja, karena meski temanya agak depresif, tapi film sendiri dikemas dengan cukup ‘light’ dipadu dengan warna-warna film yang cukup cerah dan tentu saja, wajah yang selalu terlihat fresh. Dan pemilihan sebagai cowok yang kemudian jadi kekasih Suzuko juga terasa pas. Mirai, seperti biasa terlihat keren dengan keunikan akting dan wajahnya. Ohya, ending film ini juga cukup optimis kok. Love this movie.

Cast:
– Suzuko Sato
– Ryohei Nakajima
Terunosuke Takezai – Yuuki
Ryusei Saito – Takuya Sato
Takashi Sasano – Siraishi
Sumei Sasaki – Fujii Kinu

Judul: One Million Yen Girl/ Hyakuman-en to NIgamushi Onna
Sutradara & Penulis: Yuki Tanada
Produser: Kumi Kobata, Koko Maeda
Rilis: 19 Juli 2008
Durasi: 121 menit
Distributor: Nikkatsu
Negara/Bahasa: Jepang

Film Festival:
Udine Far East Film 2009: My Movie Audience Award
Nippon Connection 2010

Kategori:Uncategorized

Still Walking

September 15, 2017 Tinggalkan komentar

Ryota harus pulang ke rumah orang tuanya, bersama istri dan anak tirinya untuk memperingati hari kematian kakaknya, Junpei. Itu bukan hal yang menggembirakan, karena ia memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya, Pak Yokoyama. Ayahnya adalah seorang dokter tua, dan begitu bangga dengan profesinya. Setelah kakaknya meninggal, Ryota adalah anak lelaki pertama dan satu-satunya di keluarganya. Ayahnya mengharapkan Ryota meneruskan dirinya untuk jadi dokter, tapi ternyata tidak dilakukan Ryota. Hal itu lah yang membuat sang ayah selalu memandang rendah Ryota. Ia dianggap sebentuk kegagalan. Di usianya yang 40 tahun, Ryota memang belum bisa dibilang sukses. Ia hanya seorang penulis dan sekarang bahkan sedang menganggur. Ia baru menikah dan istrinya seorang janda pula. Junpei yang mati muda, kemudian selalu menjadi perbandingan.

still walking

still walking-2

Di sisi lain, kematian Junpei juga meninggalkan duka yang tak pernah pupus bagi ayah dan ibu Ryota. Apalagi Junpe meninggal karena menyelamatkan orang yang tenggelam di laut. Dan kenyataan bahwa orang yang diselamatkan itu ternyata hidup dengan tidak begitu baik, membuat keduanya merasa jengkel.

still walking-14

Film keluarga adalah salah satu yang saya suka dari film-film Jepang. Para sineas Jepang umumnya sangat detail dan lihai dalam meracik film-film bergenre semacam ini. Dan begitupun dengan film ini. Saya sangat suka penggambarannya yang terasa sangat realistis. Meski bisa dibilang Ryotalah karakter utama film ini, tapi semua anggota keluarga mendapat eksplorasi karakter yang memadai sehingga menjadi satu kesatuan keluarga yang terlihat meyakinkan.

still walking-4

still walking-6

Sang ayah yang mengalami post power syndrome, seorang ibu yang tekun dan getih dengan hal-hal rumah tangga, saudara yang agak oportunis terkait warisan, hari tua, kematian…yah semuanya diramu dengan begitu bagusnya, saling jalin menjalin membangun sebuah cerita yang mengalir perlahan tapi solid. Dan satu hal yang saya suka dari film ini karena karakter-karakternya terasa sangat realistis. Mereka adalah orang-orang yang sangat umum kita jumpai di sekitar kita. Dan yah, setting rumah tua dan suasana musim panas juga memberi nuansa tersendiri pada film ini. Good movie. Recommended!

Cast:
Hiroshi Abe – Ryota Yokoyama
Yui Natsukawa – Yukari Yokoyama
Kirin Kiki – Toshiko Yokoyama
Yoshio Harada – Kyohei Yokoyama
Shohei Tanaka – Atsushi Yokoyama
You – Chinami Kataoka
Kazuya Takahashi – Nobuo Kataoka

Judul: Still Walking/ Even If You Walk and Walk/ Aruitemo Aruitemo
Sutradara/Penulis: Hirokazu Koreeda
Rilis: 28 Juni 2008
Durasi: 114 menit
Distributor: Cinequannon
Negara/Bahasa: Jepang

Awards:
Hochi Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Nikkan Sports Film Awards 2008: Best Supporting Actress (Yui Natsukawa)
Blue Ribbon Awards: Best Director, Best Supporting Actress (Kirin Kiki)
Asian Film Awards 2009: Best Director

Film Festival:
Toronto Film Festival 2008
Pusan International Film Festival 2008
Nippon Connection 2009
International film Festival Rotterdam 2008
etc

Kategori:Uncategorized

The Tale of Iya

September 9, 2017 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan seorang lelaki tua yang melihat sebuah kecelakaan mobil di tengah badai salju. Di dekat lokasi tabrakan, ada seorang bayi yang bisa disimpulkan bahwa ia adalah korban selamat dari kecelakaan tersebut. Cerita kemudian beralih dengan sosok seorang gadis muda yang baru bangun tidur dan kemudian sibuk menyalakan api di dapur yang sangat tradisional. Diketahui kemudian, gadis itu adalah si bayi yang selamat. Namanya Haruna dan ia memanggil si lelaki penolongnya sebagai ‘Kakek.’ Mereka hanya hidup berdua, tinggal di pondok kecil di tengah hutan. Tanpa listrik, tanpa fasilitas modern apapun. Memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dari bercocok tanam dan hasil hutan.

tale of iya-1

tale of iya-2

Setiap hari, Haruna harus berjalan kaki memebelah hutan dan menuruni gunung untuk bersekolah. Di penghujung hutan adalah sebuah perkampungan yang sepi, Iya. Di sana dan terdapat sebuah rumah yang dihuni nenek tua yang tinggal hanya bersama boneka-boneka kain. Tanah-tanah pertanian di kampung itu terbengkelai karena tak ada yang mau menggarap. Sementara itu, di kampung juga sedang dilangsungkan pembangunan terowongan yang sepertinya akan menjadi pemecah keterpencilan Iya. Pekerja terowongan itu adalah para penduduk kampung, yang sepertinya sangat antusias dengan pembangunan terowongan itu.

tale of iya-12

Di sisi lain, seorang lelaki asing, Michael, membangun gerakan untuk ‘Save Iya’ dengan menentang pembangunan terowongan. Ia bersama rekan-rekannya yang adalah orang-orang dari kota, membangun komunitas kecil yang mengembangkan pertanian untuk membangun kedekatan dengan alam. Mereka berusaha mempengaruhi masyarakat agar menolak pembangunan terowongan, tapi tentu saja, itu usaha yang sia-sia. Ajakan dari orang yang bahkan ‘bukan orang Iya’ sama sekali tak mampu mengundang simpati masyarakat, alih-alih diremehkan.

tale of iya-3

Kudo, seorang lelaki paruh baya yang baru datang dari Tokyo. Tak diceritakan seperti apa latar belakang Kudo, tapi dari ekspresi wajahnya, kita tahu bahwa ia tak bahagia dan sedang berusaha mencari ‘surga’ sebagai pelarian dari kehidupan kota besar. Meski tinggal di tempat Michael, tapi Kudo sepertinya tak terlalu tertarik dengan gerakan mereka. Barulah setelah bertemu Haruna dan kakeknya, Kudo seperti menemukan sebentuk pencerahan. Ia pun kemudian bertekad mengikuti jejak sang kakek, dan mulai hidup dari pertanian.

tale of iya-16

Haruna sudah hampir lulus sekolah dan ia dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk tetap tinggal bersama kakeknya di tengah hutan atau mengejar masa depan di kota. Di sisi lain, sang kakek yang sudah semakin tua mulai pikun dan sakit-sakitan. Ketika sang kakek akhirnya meninggal, Haruna pun memulai babak baru dalam kehidupannya dengan bekerja di kota. Meski begitu, ia tak menemukan kebahagiaan di sana.

tale of iya-10

Satu hal yang saya sukai dari film-film Jepang adalah seringnya mereka mengangkat isu tentang hubungan manusia dan alam, dan bagaimana mereka menyajikannya dengan begitu liris dan kontemplatif. Dan film ini adalah salah satunya. Dari pengalaman saya menonton film, kadang cukup mudah untuk mengetahui apakah sebuah film cukup worthed untuk ditonton atau tidak dari menit-menit awal film. Dan film ini adalah salah satunya. Dingin hamparan salju, gemuruh angin dipadu gambar yang tenang, langsung membuat saya merasa ikut terserap dalam cerita film. Dan menit-menit selanjutnya, film ini benar-benar membawa saya masuk ke dunia yang dibangun oleh si pembuat film. Gunung-gunung yang hijau permai, gemerisik dedaunan, gemericik air sungai, embusan angin, pendar matahari… semuanya terasa begitu menghanyutkan. Karakter-karakternya, meski bisa dibilang tidak ada yang menjadi ‘tokoh utama’ dan tidak ada terlalu banyak eksplorasi karakter tapi rasanya cukup mudah memahami karakterk-karakter yang ada di film ini. Haruna, Kudo, Akira, Michael, rasanya adalah sosok-sosok yang akrab atau mungkin juga bagian dari kita dengan kerisauan-kerisauannya. Dengan alur yang bisa dibilang lambat dan durasi film yang hampir tiga jam, anehnya film ini jauh dari membosankan. Semuanya terasa solid dan sophisticated. Good movie!

Judul: The Tale of Iya/ Iya Monogatari – Oku no Hito -( 祖谷物語 -おくのひと-)
Sutradara: Tetsuichiro Tsuta
Penulis: Tetsuichiro Tsuta, Masayuki Ueda
Produser: Tetsuichiro Tsuta
Sinematografi: Yutaka Aoki
Tayang: Oktober, 2013 (Tokyo International Film Festival) (Rilis: 15 Februari 2014)
Durasi: 169 menit
Negara/Bahasa: Jepang

Cast:
Rina Takeda -Haruna
Shima Ohnishi – Kudo
Min Tanaka – Kakek
Hitoshi Murakami – Akira
Sachi Ishimaru – Kotomi
Christopher Pellegrini – Michael
Keisuke Yamamoto – Tamura
Takahiro Ono
Reika Miwa
Ryu Morioka – Syuji
Naomi Kawase -Dr. Amamiya
Ren Kido – boss
Shigeru Kimura Allan ]
Tomie Nishi – Nenek

Film Festival:
– Tokyo International Film Festival 2013 – Asian Future *World Premiere
– Jeonju International Film Festival 2014 – World Cinemascape: Spectrum
– Nippon Connection 2014 – Nippon Visions *European Premiere

Awards:
– Tokyo International Film Festival 2013 : Asian Future, Special Mention –

Kategori:Uncategorized

The Harmonium in My Memory

September 7, 2017 Tinggalkan komentar

Berlatar tahun ’60-an. Su-ha () adalah seorang pemuda kota yang ditugaskan untuk menjadi guru di sebuah desa di pedalaman Korea. Salah satu muridnya adalah Hong-yeon (), seorang remaja 17 tahun yang sebagaimana umumnya remaja pedesaan kala itu, sikapnya masih kekanakan.

harmonium in my memory-2

harmonium in my memory-5

Jeon Do-yeon yang begitu meyakinkan berakting sebagai gadis desa belia. Padahal usia aslinya sudah 27 tahun lho

Tapi kedatangan Su-ha ternyata membuat Hong-yeon yang mulai puber, diam-diam jatuh cinta. Su-ha tentu saja, tak menyadari hal itu dan menganggap Hong-yeon muridnya semata. Di sisi lain ia justru jatuh cinta dengan guru baru yang lain, Eun-hee, yang cantik, dewasa, dan memiliki ketertarikan pada musik yang sama seperti dirinya.

harmonium in my memory-6

Ketika kemudian diketahui bahwa Eun-hee ternyata sudah punya tunangan, di tengah kondisi patah hati Su-ha, Hong-yeon dengan segala kepolosannya, memberi penghiburan pada Su-ha.

harmonium in my memory-9

Sudah lama ingin nonton film ini, karena sering disebut-sebut dalam ulasan tentang film Korea sebagai salah satu film yang dianggap klasik. Dan setelah menonton film ini saya pun paham. Ceritanya sendiri bisa dibilang ‘sederhana’ apalagi memang diangkat dari novel semioutobiografi. Tapi setting dan latar film ini benar-benar terasa klasik, mengetengahkan kehidupan pedesaan Korea, terutama kehidupan sekolah yang begitu apa-adanya khas orang-orang desa yang polos dan lugu, seperti seoklah sambil bawa adik, sekolah tanpa mandi… hihi, terasa lucu dan nostalgis.

harmonium in my memory-11

Dan untuk akting, jangan ditanya. Bahwa sekarang disebut-sebut sebagai aktris terbaik Korea saya rasa benar adanya. Dan ia sudah menunjukkan kemampuan aktingnya sejak masih muda, terutama di film ini. Bayangkan saja, usianya 27 tahun (ia lahir tahun 1973. dan di tahun yang sama ia bahkan main film dewasa, Happy End), kala membintangi film ini, tapi ia begitu pas membawakan sosok Hong-yeon, remaja 17 tahun yang polos dengan begitu meyakinkan. Two thumbs up deh dengan aktris satu iini. Di sisi lain, juga bermain apik sebagai si guru kota yang tampan dan baik hati. Film yang terasa hangat dan nostalgis.

Cast:
– Hong-yeon
– Kang Su-ha
Lee Mi-yeon – Yang Eun-hee

Seo Hye-rin – Guru Yu
Cho Eun-sook- Shin Chun-ha
Song Ok-suk – ibunya Hong-yeon
Kim Jae-in – Nanhee

Judul: The Harmonium in My Memory/ Nae maeumui pungguem
Sutradara: Lee Young-jae
Penulis: Lee Young Jae, Ha Keum-chan (novel), Oh Eun-hee
Rilis: 27 Maret 1999
Durasi: 143 menit
Negara/Bahasa; Korea Selatan/Korea

Awards:
Blue Dragon Film Award 1999: Best Actress (n)
Grand Bell Awards 1999: Director’s Cut ()

 

Kategori:Uncategorized
the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar