Beranda > Uncategorized > La La Land

La La Land

Saya tak suka film musikal. Selama ini, saya tak bisa menikmati film musikal. Aneh rasanya melihat para aktor yang sebentar-sebentar menyanyi dan menari, membuat saya seringkali sulit merasakan kedalaman cerita sebuah film karena membuatnya terasa ‘tidak realistis.’ Tapi saya penasaran sama film ini karena bisa dibilang Movie of the Year yang dibicarakan dimana-mana, dipujapuji dimana-mana. Banyak aktor-aktris terkenal yang mempostingnya di IG. Agak mengherankan juga, karena saya selalu berpikir kalau film musikal itu sangat segmented. Ketika film ini ternyata tayang di bioskop, saya pun berniat untuk menonton. Oke, mungkin menonton film musikal di dalam gedung bioskop dengan sound yang canggih dan layar lebar akan menyenangkan. Sayangnya, ketika hari H saya punya waktu untuk menonton,filmnya sudah selesai diputar. Dan akhirnya ‘berlapang dada’ dengan versi dunlutan gratis di internet, hehe.
La La Land4 (1)
La La Land berkisah tentang dua orang, Mia dan Sebastian. Mia ( ) seorang gadis muda yang merantau ke New York untuk mengejar impiannya menjadi aktris. Sembari disibukkan dengan ikut casting di sana-sini,ia bekerja sebagai waitress di sebuah kafe.
La La Land
Sebastian () adalah seorang musisi jazz yang sangat idealis. Ia sangat mencintai jazz, tapi hanya mau memainkan jazz yang murni. Impiannya, adalah memiliki klub jazz yang memainkan pure jazz setiap malam. Kenyataannya, ia sekarang hanyalah seorang musisi miskin yang bermain di kafe-kafe dan sering dipecat karena terlalu idealis.
La La Land-1
Sebuah ‘kebetulan’ mempertemukan Mia dan Sebastian. Mia merasa terpukau mendengar mimpi-mimpi dan idealisme Sebastian. Dan kenyataan bahwa keduanya sedang sama-sama mengejar impian, kemudian menyatukan mereka. Lewat idealisme Sebastian, Mia merasa terinspirasi untuk terus mengejar impiannya sebagai aktris meski mengalami penolakan demi penolakan. Pendek cerita, keduanya saling mencintai dan berbagi mimpi yang sama.
La La Land3
Tapi hidup bersama seseorang tidaklah selalu mudah. Apalagi keduanya sama-sama ‘miskin.’ Sebagai lelaki, Sebastian merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang lebih layak. Apalagi kemudian ada Keith, temannya yang mengajaknya bergabung di band pop jazz miliknya yang sedang naik daun. Melupakan idealismenya, Sebastian menjadi musisi yang sukses dan populer bersama Keith. Tapi tentu saja, hal itu tak membuatnya bahagia. Ketika Mia akhirnya sukses meniti karir keartisannya, Sebastian memilih ‘undur diri’, kembali pada mimpi-mimpinya. Dan pada akhirnya, cinta keduanya pun harus mengambil jalan yang berbeda.
La La Land4 (2)
Well, yeah. Setelah menonton film ini, saya cukup paham kenapa film ini begitu ‘sukses’ secara komersil.  It’s about about love. It’s romance story.  And Everybody love romance story.  Setidaknya, bagi sebagian besar penduduk dunia, termasuk saya. Meski rumusnya bisa dibilang begitu-begitu saja, tapi cerita cinta memang selalu menarik. Demkian halnya dengan film ini. Cerita cintanya juga bisa dibilang ‘sangat standar’ tapi hal itu pula yang membuatnya begitu mudah dicerna. Dan meski dibalut dengan unsur musikal tapi juga bukan musikal yang sangat kental, karena porsi cerita ‘realistis’nya cukup besar dibanding bagian musikalnya. Pun dengan musikalnya sendiri, juga enak dinikmati. Dengan musik dan tarian yang membuat saya yang menonton jadi ingin ikut menari. Dan yah, jangan lupa, unsur jazz-nya. Seperti film sebelumnya, Whiplash, Damien sang sutradara memang agaknya punya obsesi tersendiri terhadap jazz, sehingga unsur jazz menjadi bagian yang penting di film ini. Hal yang kemudian memberi sentuhan sophisticated pada cerita selain kisah cinta yang ‘biasa.’ Recommended!

Cast:
– Sebastian Wilder
– Mia Dolan
John Legend – Keith
Rosemarie DeWitt –  Laura Wilder
Finn Wittrock – Greg Earnest
Jessica Rothe – Alexis
Sonoya Mizuno – Caitlin
Callie Hernandez – Tracy
J. K. Simmons – Bill
Tom Everett Scott – David
Meagen Fay – ibuna Mia
Damon Gupton – Harry
Jason Fuchs a- Carlo
Josh Pence – Josh

Sutradara/Penulis: Damien Chazelle
Produser: Fred Berger, Jordan Horowitz, Gary Gilbert, Marc Platt
Musik: Justin Hurwitz
Sinematografi: Linus Sandgren
Editing:     Tom Cross
Produksi: Summit Entertainment, Black Label Media, TIK Films, Impostor Pictures, Gilbert Films, Marc Platt Productions
Distributor: Summit Entertainment
Rilis: 31 Agustus 2016 (Venice Film Festival)
Durasi: 128 menit
Negara/Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
Academy Awards 2017:Best Director, Best Actress ( ), Best Cinematography, Best Original Score, Best Original Song (“City of Stars”) , Best Production Design
Nominasi: Best Picture, Best Actor (), Best Original Screenplay, Best Film Editing, Best Costume Design,  Best Original Song (“Audition”), Best Sound Editing and Best Sound Mixing

Golden Globe Awards 2017: Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Director, Best Actor – Comedy or Musical  ( ), Best Actress – Comedy or Musical ( ), Best Screenplay, Best Original Score and Best Original Song (“City of Stars”)
British Academy Film Awards, 2016: – Best Film, Best Director, Best Actress in a Leading Role  (), Best Cinematography and Best Film Music

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: