War Witch

Komona, berusia 12 tahun ketika gerombolan pemberontak yang disebut ‘Great Tiger‘ datang ke desanya, memporak-porandakan kampung dan merekrut anak-anak untuk dijadikan tentara, termasuk Komona. Setelah  menjalani hari-hari pelatihan yang berat dan penuh siksaan di dalam hutan, ia pun kemudian harus mulai ikut berperang. Membunuh orang tentu saja. Sosok-sosok yang kemudian ia gambarkan sebagai hantu-hantu.
war-witch
Karena kemampuan Komona yang cepat mendeteksi keberadaan lawan, ia kemudian dianggap memiliki kekuatan sebagai cenayang. Karenanya, ia kemudian mendapat kepercayaan dan perlindungan dari si Great Tiger. Namun itu artinya bahwa ia juga harus terus berperang dan membunuh.
war-witch3
Di antara para tentara, adalah Magicien yang kemudian menjadi kekasihnya. Sama-sama merasa muak dengan keadaan itu, keduanya kemudian melarikan diri dan menikah. Mereka menjalani hidup sederhana yang bahagia, tinggal di kampung bersama paman Magicien, Boucher, si penjual daging. Mereka berdua kemduian bekerja mengelola kebun sawit.
war-witch5

war-witch6
Hingga suatu hari, kelompok Great Tiger yang mencari keberadaan Komona datang untuk membawanya kembali, memisahkannya dengan Magicien. Dan ketika akhirnya ia bisa melarikan diri lagi, hidup tak sama lagi bagi Komona yang sudah terlalu banyak melihat darah dan kekerasan.
war-witch4
Hmm, menyesakkan. Sangat menyesakkan. Tentu film hanyalah sebuah film, tapi kita tahu bahwa di Afrika, cerita semacam ini memang jamak terjadi. Perang antar suku, perang antar kelompok, perekrutan tentara anak-anak, saling bunuh,  kekerasan dan kebiadaban yang seolah tiada ujungnya. Dan benar-benar menyesakkan memikirkan bahwa persoalan itu sangatlah kompleks.  Saya pikir, masalahnya bukan lagi hanya melibatkan kelompok tertentu dengan kelompok tertentu, tapi secara tidak langsung, banyak pihak yang terlibat. Seperti diperlihatkan dalam film, darimana pula para pemberontak itu memperoleh pasokan senjata yang seolah begitu berlimpah dan begitu mudahnya didapatkan? Yah, kita semua tentu tahu jawabannya.
war-witch2
Meski film ini cukup membuat sesak, tapi layak ditonton kok, menurut saya bagus karena bisa memberi kita pemahaman baru tentang hal-hal yang terjadi di sudut lain dunia ini. Dan meski filmnya membuat miris, tapi penceritaannya menarik. Dengan gaya penceritaan narasi off screen yang penuh perenungan, penyajian adegan-adegan kekerasan yang tidak vulgar, para pemain yang terlihat bermain sangat natural, dan juga selingan adegan yang tidak ‘perang’ melulu, membuat film ini ‘mudah’ untuk ditonton.

Cast:
Rachel Mwanza – Komona
Alain Lino Mic Eli Bastien – Commandant-rebelle
Serge Kanyinda – Magicien
Mizinga Mwinga – Grand Tigre Royal
Ralph Prosper – Boucher

Judul: War Witch/ Rebelle
Sutradara: Kim Nguyen
Produser: Pierre Even, Marie-Claude Poulin, Kim Nguyen
Penulis: Kim Nguyen
Sinematografi: Nicolas Bolduc
Rilis: 17 Februari 2012 (Berlin), Oktober 2012 (Canada)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Kanada/ Perancis-Lingala

Awards:
– Berlin International Film Festival  2012: Silver Bear for Best Actress (Rachel Mwanza )
– Tribeca Film Festival 2012: Best Actress  (Rachel Mwanza)
– Academy Awards 2012: Nominasi” Best Foreign Language Film” (Canada)
– Canadian Screen Awards 2012:  Best Picture, Best Director, Best Actress and Best Supporting Actor.
– NAACP Image Award 2012: Outstanding International Motion Picture

Iklan
  1. Maret 2, 2017 pukul 6:48 pm

    very good movie.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: