Theeb

Theeb (artinya” serigala”) adalah bocah lelaki anak seorang pemimpin suku yang sudah meninggal tapi tetap dihormati. Ia tinggal di gurun bersama kakak lelakinya, Hussein dan para lelaki kaumnya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000262135
Suatu hari, datang seorang tamu, Edwards, bule Inggris yang minta diantar ke tempat pembangunan jalur rel kereta api. Hussein yang dipercaya untuk mengantar. Sedih berpisah dengan kakaknya, Theeb diam-diam mengikuti. Meski awalnya keikutsertaannya menjadi kontroversi, tapi akhirnya ia diijinkan ikut. Dimulailah perjalanan melelahkan menyusuri gurun dan celah-celah tebing bebatuan.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000853271
Hingga di suatu pemberhentian, mereka bertemu dengan para bandit gurun. Karena kalah jumlah, satu per satu mereka tewas. Dan hanya tinggal Theeb yang selamat. Di tengah keadaan terdampar di tengah gurun, kemudian datang salah satu anggota bandit, Hassan, yang terluka parah. Karena saling membutuhkan, terjalinlah “persahabatan” di antara keduanya. Hassan bercerita, bahwa orang-orang saling membunuh  setelah dibukanya rel kereta api. Orang-orang yang dulu bekerja sebagai pemandu orang berzziarah ke gurun dengan menggunakan unta, sekarang kehilangan pekerjaan karena sudah diganti dengan kereta api.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_004797979
Hassan kemudian mengajak Theeb ke tempat tentara gerakan untuk menjual barang-barang hasil rampokannya. Theeb merasa marah, karena barang-barang itu adalah harga yang dibayar atas kematian orang-orang, terutama kakaknya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_005241840
Miris dan juga sedih, itulah perasaan saya ketika menonton film ini. Berlatar gurun yang panas dan kerontang, rasanya miris membayangkan bagaimana orang hidup di tempat ekstrem itu. Dan bagaimana kemudian kekerasan terbentuk sebagai upaya untuk mempertahankan diri di tengah perebutan sumberdaya yang terbatas. Meski begitu, kita juga merasa terharu, melihat bagaimana sebenarnya orang-orang gurun itu juga sebagai orang yang hangat (sangat menghargai tamu) dan bertanggungjawab. Namun kemudian bisa dipahami ketika mereka rela saling membunuh karena memang ‘dipaksa’ oleh kondisi. Sebuah film yang memberi kita pemahaman tentang sebentuk strategi survival di salah satu sudut dunia.

Quote: “The strong will eat the weak”

Cast:
Jacir Eid Al-Hwietat – Theeb
Hussein Salameh Al-Sweilhiyeen – Hussein
Hassan Mutlag Al-Maraiyeh – Hassan
Jack Fox – Edward

Judul: Theeb
Sutradara: Naji Abu Nowar
Produser: Diala Al Raie, Bassel Ghandour, Nasser Kalaj, Yanal Kassay, Rupert Lloyd, Laith Majali, Nadine Toukan
Penulis: Naji Abu Nowar, Bassel Ghandour
Musik: Jerry Lane
Sinematografi: Wolfgang Thaler
Editing: Rupert Lloyd
Produksi: Bayt Al Shawareb, Fertile Crescent Films, Immortal Entertainment, Noor Pictures
Distributor: MAD Solutions
Rilis: 4 September 2014 (Venice), 19 Maret 2015 (UAE), 19 Maret 2015 (Jordan), 14 Agustus 2015 (UK)
Durasi: 100 menit
Negara: Jordania, United Arab Emirates, Qatar, Inggris
Bahasa: Arab

Awards:
– Academy Awards 2014: Nominasi ” Best Foreign Language Film” (Jordania)
– British Academy Film Awards 2014: – Nominasi “Best Film Not in the English Language “,  Nominasi “Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer     (Naji Abu Nowar, Rupert Lloyd)”
– Venice International Film Festival 2014: – Best Director ,  Nominasi Best Film
and many mores…

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: