Film-Film Yang Kurang Berkesan

Sering saya penasaran dengan film-film lama yang dibintangi aktor/aktris yang sekarang sudah jadi bintang papan atas, karenanya kemudian saya tonton. Tapi ternyata beberapa film-filmnya tidak terlalu mengesankan, sehingga saya agak malas mengulasnya, jadi saya rangkum saja di sini.

1. The Legend of Seven Cutter ( Korea Selatan, 2006).  Penasaran sama film ini karena nama . Sejak melihatnya di , sebagai si tomboy Eun-chan, saya berkesimpulan bahwa Yoon adalah aktris yang tidak hanya cantik, tapi juga berbakat. Sayang, belakangan karirnya cenderung meredup, dan drama-drama yang dibintanginya juga banyak yang kurang bagus. Yoon memang lebih dikenal sebagai pemain drama, tapi ada  juga beberapa filmnya, salah satunya film ini, dimana ia berperan sebagai Han Min-joo (), cewek tomboy (lagi!) di sekolah yang kemudian jatuh cinta sama cowok culun, Jung Han-soo. Dan sebenarnya, tokoh utama di film ini adalah Han-soo (diperankan oleh aktor Ahn Jae-mo).

the-legend-of-7-cutter

the_legend_of_seven_cutter-avi_000971663

Han-soo ini murid pindahan dan rumor beredar bahwa Han-soo ini adalah si legendaris ‘seven cutter’ preman sekolah yang meninggalkan 7 sayatan cutter ke korbannya. Desas-desus ini pun menimbulkan rasa penasaran dan gentar di kalangan murid-murid lain, termasuk si preman sekolah, Baek Seung-gi dan juga pemimpin geng cewek, Han Min-joo. Dan hal yang aneh adalah bahwa sehari-hari, Han-soo adalah cowok yang selalu terlihat culun. Dan rumor-rumor tentang dirinya, kemudian menyelamatkan dirinya untuk ‘survive’ di lngkungan baru, termasuk mendapat pacar, tentunya. Ehm, sejujurnya saya tak bisa mengikuti film ini secara penuh, beberapa adegan saya skip karena terasa membosankan. Garis besar ceritanya lumayan, tapi plotnya terkesan tidak konsisten. Yoon bermain bagus sebagai si tomboy Min-joo, tapi saya tidak bisa menyukai karakter Jung Han-soo, yang menurut saya terlalu ‘beruntung’. Karakter-karakter lain juga terasa tidak terlalu berarti.

2. Last Present (Korea Selatan, 2001)
Dua pemainnya adalah bintang favorit saya, dan . saat ini adalah salah satu  nama besar di dunia perfilman Korea. Film-filmnya nyaris selalu ngehits. Sementara , meski tidak terlalu produktif, tapi juga film maupun dramanya juga bagus-bagus. Tapi film ini dibuat ketika keduanya masih cukup muda, dan belum setenar sekarang.

the-last-present-2001-dvdrip-xvid-avi_002743675

Cerita film ini adalah tentang suami istri Yong-gi ( ) dan Jung-yeon (). Hubungan mereka buruk setelah kematian anak mereka. Yong-gi yang bekerja sebagai komedian, karirnya sedang terseok-seok. Di sisi lain, Jung-yeon ternyata mengidap penyakit mematikan. Dan demi cintanya pada Yong-gi merahasiakan sakitnya dan atas nama cinta juga, selalu marah-marah pada Yong-gi. Oke, well. Pada titik ini, saya mulai skip-skip. Di awal-awal saya cukup bisa menerima pertengkaran antara Yong-gi dan Jung-yeon, karena berpikir bahwa mereka depresi setelah kematian anaknya. Tapi semakin kesini, menjadi terlalu melelahkan dan alasan kemarahan Jung-yeon pada Yong-gi menjadi terasa bodoh. Demi cinta, pura-pura benci, terus marah-marah, dan merahasiakan bahwa dirinya sekarat? Bagi saya, hal seperti itu benar-benar terasa bodoh. Bukannya kalau cinta justru harus saling berbagi ya? Tidak ada yang salah dengan akting dua Lee, tapi ya itu, ceritanya terkesan bodoh dengan ending yang juga bisa ditebak.

3. The Letter (Korea Selatan, 1997).

the-letter-1997-dvdrip-xvid-avi_000485384

Tak sengaja nemu film ini dari koleksi lama. Ketika lihat ada nama , memutuskan untuk menonton. Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan Park, tapi selama ini cukup familiar dengan namanya. The Letter berkisah tentang seorang laki-laki  (diperankan oleh Park, saya lupa siapa namanya di sini) yang jatuh cinta dengan seorang dosen muda (Choi Jin-sil). Setelah beberapa kejadian romantis, mereka akhirnya menikah. Tapi kemudian si suami divonis sakit parah dan umurnya tak lama lagi. Dan sebagai umumnya film bergenre melodrama romantis, si istri kemudian akan merawat si suami dengan penuh cinta hingga meninggal. Filmnya sendiri sebenarnya tidak buruk dengan adegan-adegan mannis yang terasa klasik dan romantis. Tapi karena cerita utamanya adalah cerita yang sudah ada dalam 1001 film/drama Korea, saya pun ogah-ogahan menonton film ini.

4. ESP Couple (Korea Selatan, 2008).

Belakangan, saya memfavoritkan aktris . Menurut saya dia adalah salah satu aktris muda Korea yang sangat berbakat dan hebat. Sejak usianya masih sangat muda, ia sudah wara-wiri jadi tokoh utama di film. Dan di usianya yang masih muda sekarang, ia sudah menyejajarkan diri dengan bintang-bintang besar dalam perfilman Korea. Ia seolah tak pernah ‘gentar’ beradu akting dan selalu berhasil membangun chemistry dengan aktor-aktor besar yang bahkan usianya seringkali terpaut jauh dengannya. Harus saya, akui, tak semua film-film yang dibintangi Park bagus, tapi tetap saja saya penasaran dengna fim ini. Apalagi di film ini, lawan mainnya adalah , yang saya ketahui, juga aktor yang bagus.

sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_000724235
Filmnya berkisah tentang Su-min (), mahasiswa kuper yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang. Tapi karena takut dianggap aneh, ia tak pernah menggunakan kemampuannya ini. Suatu hari, ketika ada kasus kriminal, tibatiba ia didatangi cewek SMA ceriwis, Hyun-jin () yang selalu  mengikutinya kemana-mana. Tidak hanya itu, karena Hyun-jin juga memintanya untuk kembali mengasah kemampuannya membaca pikiran orang.
sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_001149232
Premis ceritanya sebenarnya lumayan, tapi plotnya terasa membosankan dan digarap ogah-ogahan. Bagaimana tidak, kalau 80% bagian film ini isinya cuma latihan membaca pikiran dan nyaris tak ada kejadian penting apa-apa. Latarnya juga minimalis. Menurut saya,  satu-satunya hal yang membuat film ini agak bernyawa adalah akting , sebagai si gadis SMA yang enerjik dan yah, juga lumayan meski karakternya memang sedemikian rupa. Setelah menonton film ini, saya pun paham kenapa film ini seperti terlupakan.

5.  Don’t Click (Korea Selatan, 2012)
Lagi-lagi karena saya penasaran sama film ini. Mengabaikan ketidaksukaan saya sama film horror. Film ini bercerita tentang Se-hee (), seorang pramuniaga toko yang tinggal bersama adiknya yang masih SMA, Jeon-mi. Se-hee punya pacar seorang mahasiswa komputer, Joon-hyuk (,). Se-hee selalu merasa dirinya diawasi, dan membuatnya tak nyaman. Di sisi lain, Jeon-mi sangat suka membuat video pribadi dan menguploadnya ke youtube. Ia juga sangat senang menonton video-video di internet. Suatu hari, ia minta Joon-hyuk untuk memberinya kopian film-film yang diblokir internet. Ia mendapat kopian berisi rekaman kekerasan dan ternyata video itu… berhantu. Jadi kalau selama ini film hantu biasanya mengetengahkan hantu yangkemampuannya menghilang atau terbang-terbang, di sini hantunya bisa internetan dan upload video. Canggih kan?

 

dont-click-4
Well, oke. Sudah. Cukup sampai di situ saya menyerah.  Sekuat apapun saya memaksakan diri untuk melanjutkan menonton, saya benar-benar tak bisa menikmatinya. Logikanya nggak masuk ke kepala saya. Memang sih, dalam film hantu, semua kemungkinan bisa saja terjadi, tapi saya tetsp sulit menerima kemungkinan itu. Saya sendiri tak habis pikir kenapa aktris sekelas dan juga ,, mau main di film seperti ini. Ehm, tapi itu subyektif saya yang nggak suka film horor sih, bagi yang suka mungkin punya pendapat lain.

Film lainnya…

The Stolen Years (2013, China). Film ini berkisah tentang seroang perempuan cantik Hei Man (diperankan oleh Bai Baihe), yang baru tersadar dari komanya selama sebulan karena kecelakaan. Namun ia mengalami amnesia. Ia hanya mampu mengingat kejadian lima tahun yang lalu, ketika ia berbulan madu bersama suaminya (diperankan oleh ). Kenyataannya, sekarang ia dan suaminya sudah bercerai. Karena perasaannya masih perasaan 5 tahun lalu yang sangat mencintai suaminya, ia pun kemudian menelusuri kembali kejadian-kejadian lima tahun yang terlupakan, termasuk alasan perceraiannya dengan sang suami.
the-stolen-years-2013-hdtv-720p-x264-aac-phd-mp4_000310182
Sebenarnya, tak berekspektasi apa-apa ketika memutuskan untuk nonton film ini. Dan semata karena melihat posternya yang menarik dan ingin membuat variasi tontonan saja. Dan seperti posternya, pada bagian-bagian awal, ceritanya terasa segar dan membuat penasaran didukung gambar yang begitu resik. Tapi ternyata semakin ke belakang, ceritanya menjadi semakin mellow. Spoiler: ini adalah tentang penyakit alzheimer. Tidak buruk, tapi saya sudah cukup banyak menonton film dengan tema alzheimer, karenanya, saya jadi tak bisa menikmati film ini.

Girl in Pinafore (.Singapura, 2015) Saya tak terlalu familiar dengan film-film Asia Tenggara, kecuali Thailand, yang tak terlalu saya gemari. Saya iseng saja sih nonton film ini, ingin coba melongok perfilman negara tetangga. Film ini berkisah tentang  geng remaja SMA cowok.

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_000358961

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_001994314

Mereka adalah murid-murid sekolah yang biasa saja, berasal dari keluarga biasa saja. Lalu suatu hari mereka ikut audisi band, lalu ketemu sama cewek yang pintar main musik dan nyanyi dan band mereka sukses… Yah, ceritanya sangat khas film remaja dan sayangnya tak ada yang baru. Ceritanya terasa sangat standar. Tentang geng murid-murid culun, lalu jadi keren karena main band, terus dapat cewek… terlalu mirip dengan film yang sudah-sudah, seperti campuran , American Pie, dan entah apa lagi 😦

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: