Beranda > Film Korea > Love, Lies

Love, Lies

Korea Selatan, berlatar tahun ’40an, ketika Jepang masih berkuasa. Jung Soo-yool () adalah putri dari seorang gisaeng terkenal dan bertekad untuk menjadi penyanyi joengak terkenal. Di rumah pelatihan gisaeng tempatnya tumbuh, ia bertemu dengan Seo Yeon-hee) (, seorang anak yang dijual oleh orang tuanya untuk menjadi gisaeng. Keduanya kemudian tumbuh bersama dan menjadi sahabat hingga dewasa.
ll24
Menjelang akhir penjajahan Jepang, jaman mulai berubah. Lagu-lagu pop mulai populer menggantikan lagu-lagu tradisional.
llj
Kim Yon-woo () adalah seorang penulis lagu pop terkenal yang baru pulang dari Jepang. Ia adalah teman masa kecil So-yool dan kemudian menjadi kekasihnya. Yon-woo memiliki semangat revolusioner, untuk menciptakan lagu pop karena menurutnya lagu pop lebih membumi, bisa didengar oleh semua lapisan masyarakat, sementara lagu tradisional hanya sebagai hiburan oleh orang-orang berduit. Ketika mengetahui bahwa Yeon-hee memiliki karakter vokal untuk menyanyikan lagu-lagu pop, Yon-woo pun menawari Yeon-hee untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dan kemudian membuat rekaman.
ll22
Tentu saja, hal itu membuat So-yool cemburu berat. Ia mulai dihinggapi cemburu  pada Yeon-hee. Apalagi kemudian Yon-woo ternyata mulai jatuh cinta pada Yeon-hee dan sebaliknya. Di tengah iri hati dan dendam  karena merasa dikhianati, So-yool kemudian ‘menjual’ diri pada seorang komandan Jepang yang bersedia membantunya mewujudkan ambisinya.
llo
Tiga cast utamanya, , dan adalah faktor utama yang membuat saya penasaran sama film ini. Bagaimana tidak, ketiganya adalah aktor muda berbakat dan berimej high class di dunia sinema Korea. Di atas kertas, ketiganya juga terlihat sangat cocok jika dipasangkan. Premis ceritanya juga terdengar cukup menarik, tentang cinta dan pengkhianatan yang dilatari dunia musik tahun ’40an. Sayangnya, ekspektasi saya tak sepenuhnya terpenuhi.
ll23
Di awal, sebenarnya cerita terlihat cukup solid tapi semakin ke belakang, menjadi agak membingungkan. Rasanya agak aneh ketika tiba-tiba Yoon-woo meninggalkan So-yool dan justru jatuh cinta pada Yeon-hee. Pun agak aneh karena Yeon-hee yang demikian dekat dengan So-yool seolah tanpa rasa bersalah ketika bersama Yoon-woo. Saya sendiri tak keberatan dengan cerita cinta segitiga, dan juga tak keberatan ketika akhirnya Yoon-woo pindah ke lain hati pada Yeon-hee. Tapi sayangnya, cerita pada bagian ini tidak ekplorasi dengan lebih mendalam.
ll90
Alangkah akan lebih masuk akal misalnya, jika diceritakan bagaimana momen-momen kebersamaan Yeon-hee dan Yoon-woo bukan hanya sekadar kerjasama dalam membuat musik, tapi bahwa mereka memiliki kesamaan pemikiran. Hal ini juga terkait dengan kurang dieksplorenya karakter Yeon-hee dewasa. Padahal, menurut saya karakternya bisa menjadi lebih menarik. Diceritakan di awal bahwa Yeon-hee kecil berasal dari keluarga miskin, ia dijual ayahnya dan ia adalah anak yang berwatak keras.  Seharusnya, latar belakang semacam itu bisa menjadi latar pembentuk watak Yeon-hee dewasa dan hal itu bisa menjadi ‘penghubung’ kecocokan pemikiran dengan Yoon-woo yang cenderung revolusioner. Tapi sayangnya, ekplorasi karakter Yeon-hee di sini sedikit sekali. Padahal lagi, menurut saya aktris , si pemeran Yeon-hee juga cukup potensial untuk memainkan karakter yang lebih kompleks.  Seharusnya,menurut saya film ini adalah tentang tiga tokoh utama, tapi yang kemudian mendapat eksplorasi karakter lengkap hanya tokoh Jung So-yool. Sungguh sangat disayangkan.


Hal kedua, yang juga agak mengusik kenikmatan saya menonton film ini adalah musiknya. Seperti yang sudah sering saya tulis, saya selalu menyukai film tentang musik, apalagi musik tradisional. Tapi sayangnya juga, musik yang diperdengarkan di sini tidak terlalu wah. Mungkin hal ini juga terkait dengan para pemainnya yang memang tidak memiliki kemampuan musikal yang memadai. Untuk hal ini, karena memiliki tema mirip yang baru juga baru rilis beberapa waktu lalu, saya jadi membandingkan dengan film yang lain, , yang menurut saya, musiknya digarap dengan bagus dan dimainkan oleh para aktornya dengan bagus pula (para aktornya kebanyakan berlatar musikal). Sementara di film ini, para aktor tertuama dan , selama ini bisa dibilang pure aktor. Karenanya, ketika menyanyi, meski cukup bagus, tapi rasanya tidak sampai luar biasa sehingga rasanya tidak cukup menjadi alasan orang begitu kagum padanya seperti cerita di film. Saya tak keberatan dengan pemilihan sebagai pemeran Seo Yeon-hee di sini, tapi mungkin akan lebih menarik jika castnya adalah aktris yang benar-benar memiliki suara bagus (berlatar belakang penyanyi mungkin?) atau jika tidak, menggunakan pengisi vokal yang memang benar-benar bersuara bagus.
ll55
Tapi di atas semua kekurangan film ini, film ini tetap layak tonton. Sinematografinya digarap dengan apik dengan warna-warni cerah dan suasana oldies yang menyegarkan mata.

Cast:
– Jung So-yool
– Kim Yoon-woo
– Seo Yeon-hee

Park Sung-Woong – Komandan Jepang
– San-wol (ibu gisaeng)
Lee Han-wi – Manajer Gisaeng
– Kim Ok-hyang
Cha Ji-yeon – Lee Nan-young

Judul: Love, Lies/ Haeuhhwa (해어화)
Sutradara:
Penulis: Ha Young-Joon, Jeon Yun-Su, Song Hye-Jin
Produser: Park Sun-Jin
Sinematografi: : Jo Eun-Soo
Rilis: 13 April 2016
Durasi: 120 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

  1. September 24, 2016 pukul 7:24 am

    Sependapat banget sama reviewnya. Bukannya mereka itu cuma lipsync gitu ya ? Belum tau sih Chun Woo Hee sama Han Hyo Joo bisa nyanyi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: