Au revoir les enfants

Perancis, tahun 1943. Julien, merasa sedih ketika harus kembali ke sekolah (berasrama) setelah liburannya. Ia yang anak mami, merasa berat harus berpisah dengan mamanya yang penyayang.

Julien yang anak mami

Julien yang anak mami

Di sekolah muncul murid baru, Jean Bonnet, yang menempati tempat tidur di sebelahnya. Sebagai kebanyakan anak laki-laki yang beranjak remaja, Julien suka sedikit nakal dan usil, melakukan bully kecil-kecilan pada Jean. Jean ternyata murid yang pandai, terutama dalam matematika dan Julien merasa iri sekaligus kagum. Selain itu ada beberapa hal agak aneh dari diri Jean yang membuat Julien gusar dan diam-diam mencari tahu siapa dirinya. Julien pun akhirnya mengetahui bahwa nama Jean sebenarnya adalah Jean Kippelstein, seorang Yahudi. Bapa Jean, Sang Pastor Kepala lah yang berbaik hati melindungi Jean dari kejaran tentara Nazi yang kejam.

Bersahabat dengan Jean, yang ternyata keturunan Yahudi

Bersahabat dengan Jean, yang ternyata keturunan Yahudi

Bagi Julien, tak ada alasan untuk membenci Jean, karena Jean tokh sama saja dengan anak-anak lain yang bukan Yahudi. Alih-alih, mereka justru segera menjadi sahabat akrab. Menjalani hari-hari di sekolah dan asrama dengan melakukan petualangan dan kenakalan-kenakalan kecil khas anak lelaki.

Namun, di luar dunia sekolah dan dunia anak-anak yang murni, ada perang bengis yang mengintai dan mengendap-endap. Setelah sebuah aksi pengkhianatan dari seorang karyawan yang sakit hati, akhirnya tentara Nazi datang untuk mencari anak-anak Yahudi yang ‘disembunyikan’ untuk kemudian diambil dan dikirim ke kamp. Demikian juga sang pastor baik hati yang dianggap melakukan pengkhianatan.

Guru piano yang jadi idola

Guru piano yang jadi idola

Ugh…sebuah kisah yang mengharukan sekaligus membuat miris. Kebesaran hati sang pastor dalam memberi perlindungan pada yang lemah, tanpa mempedulikan perbedaan agama serta ras dan bahkan berisiko dihukum jika ketahuan, adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh dan indah. Demikian juga dengan ‘kepolosan’ hati anak-anak seperti Julien, yang dihinggapi pertanyaan membingungkan: kenapa kita harus membenci Yahudi? Tapi bahwa sejarah benar-benar mencatat tentang kekejaman para tentara Nazi yang berusaha melakukan genosida terhadap orang-orang Yahudi, tentu adalah hal sangat mengerikan bagi kemanusiaan. Memang siapa manusia di dunia ini yang bisa meminta ingin dilahirkan dengan agama apa dan ras apa?

Ah, perang memang mengerikan

Ah, perang memang mengerikan

Well, film yang sangat ‘indah.’ Berlatar dunia anak-anak pra remaja di sebuah sekolah berasrama laki-laki dengan segala tingkah polah mereka, meski mengangkat tema yang sangat ‘besar’ film ini jauh dari kesan ambisius, dan justru hal itulah yang membuatnya terasa sangat bernyawa.

Note:

au9

Saya sangat suka adegan ini. Ini adalah adegan ketika acara nonton film bersama dan filmnya masih film bisu. Baru tahu kalau ternyata untuk ngisi suaranya, dimainkan alat musik secara live. Lucu, ya🙂
Cast:
Gaspard Manesse – Julien Quentin
RaphaĂ«l Fejtö – Jean Kippelstein, alias “Jean Bonnet”
Francine Racette – Mme Quentin (ibu Julien)
Stanislas CarrĂ© de Malberg – François Quentin (abangnya Julien)
Philippe Morier-Genoud – Father Jean/Père Jean
François BerlĂ©and – Father Michel/Père Michel
François NĂ©gret – Joseph
Peter Fitz – Muller
Pascal Rivet – Boulanger
BenoĂ®t Henriet – Ciron
Richard Leboeuf – Sagard
Xavier Legrand – Babinot
Arnaud Henriet – Negus

Judul: Au revoir les enfants/ “Goodbye, Children”
Sutradara/ Penulis/ Produser: Louis Malle
Sinematografi: Renato Berta
Editing: Emmanuelle Castro
Distributor: MK2 Diffusion (Perancis)
Rilis: 29 Agustus 1987 (premier di Venice Film Festival, Italia)
Durasi: 104 menit
Negara: Perancis, Jerman Barat
Bahasa: Perancis, Jerman

Awards:
Academy Awards, USA 1988:
– Nominasi: Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen,Best Foreign Language Film (Perancis)

Golden Globes, USA 1988:
– Nominasi Best Foreign Language Film (Perancis)

Venice Film Festival 1987:
– Golden Lion (Louis Malle), OCIC Award (Louis Malle), Sergio Trasatti Award (Louis Malle), Special Golden Ciak (Louis Malle),
UNICEF Award (Louis Malle)

BAFTA Awards 1989:
– Best Direction
– Nominasi: Best Film, Best Film not in the English Language, Best Screenplay (Original)

CĂ©sar Awards, France 1988:
– Best Film, Best Director, Best Screenplay, Best Cinematography, Best Production Design, Best Editing, Best Sound
– Nominasi: Most Promising Actor (François NĂ©gret),
Best Costume Design (Corinne Jorry)

and many mores, see imdb.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: