Stand By Me

Film dengan tokoh anak-anak bagi saya selalu menarik. Ceritanya seolah tanpa tendensi tapi bisa sangat menyentuh dengan cara yang begitu alami.

Stand by Me merupakan kisah flashblack yang diceritakan oleh sang narator. Pada awal cerita, sang narator menyebutkan tentang ketika pertama kali ia melihat jasad orang mati di usia 12 tahun. Dan kita pun tahu, bahwa ini tidak akan menjadi cerita tentang dunia anak-anak yang riang gembira.

Gordie dan teman-temannya

Gordie dan teman-temannya

Gordie Lanchance, baru berusia 12 tahun. Pada suatu musim liburan musim panas, berlatar daerah pinggiran negara bagian Oregon. Ia menghabiskan hari-hari bersama ke-3 temannya: Chris, Teddy dan Vern. Ke-3 nya  berasal dari keluarga yang sudah terlanjur di cap buruk oleh masyarakat. Chris, sahabat paling dekat Gordie, sekaligus pemimpin gang berasal dari keluarga kriminal dan karenanya, selalu mendapat stigma buruk. Teddy, berkarakter agak nekad dan impulsif. Ayahnya yang mengalami gangguan mental pernah nyaris membakar telinganya. Sedangkan Vern adalah si gendut yang agak telmi, sedikit annoying dengan omongan-omongannya yang ‘nggak nyambung’ dan karenanya seringkali menjadi obyek bully.

Bertualang dengan harapan mendapatkan popularitas :D

Bertualang dengan harapan mendapatkan popularitas😀

Bisa dibilang Gordie satu-satunya anak yang berasal dari keluarga ‘normal’. Namun, setelah kematian abangnya yang merupakan putra kebanggan ayahnya, keluarganya di rundung duka. Ayahnya selalu membanding-bandingnya dirinya dengan sang abang dan menganggap dirinya bukan anak yang bisa dibanggakan. Dan kenyataan bahwa ia berteman dengan ‘anak-anak nakal’ semakin membuat ayahnya berang.

Setelah mencuri dengar pembicaraan geng yang lebih senior yang berisi kakak-kakak Chris dan Vern, tentang ditemukannya jenazah Ray Brower, seorang anak yang dikabarkan hilang namun ternyata meninggal di gilas kereta api, dan jasadnya disembunyikan di hutan, Gordie dan teman-temannya pun kemudian terobsesi untuk menjadi ‘penemu’ jasad itu. Harapannya, itu akan menjadi berita besar dan mereka akan dianggap pahlawan sehingga bisa masuk TV!
stb3
Dengan penuh semangat mereka melakukan perjalanan ke lokasi. Dan demi tak mengurangi heroisme, mereka bahkan ogah mencari tumpangan melainkan jalan kaki, melewati jalan pintas dengan menelusuri rel kereta api dan membelah hutan. Padahal, jaraknya cukup jauh dan padahal juga, mereka tak membawa cukup uang apalagi bekal makanan. Sementara itu, di saat bersamaan, kelompok para kakak, dengan bermobil, juga menuju tempat yang sama dengana tujuan yang sama.
stb5

Love this scene. Ketika Gordie bercerita dan teman-temannya mendengarkan dengan takjub

Love this scene. Ketika Gordie bercerita dan teman-temannya mendengarkan dengan takjub

Sebuah petualangan yang sedikit konyol? Tentu saja, tapi menjadi terasa tidak konyol karena ini dilakukan oleh anak-anak berusia 12 tahun. Film sendiri kemudian lebih banyak akan mengambil cerita selama perjalanan tersebut. Karakter masing-masing anak akan diperlihatkan disini. Diisi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil karena saling ejek, bualan-bualan khas para anak lelaki, ketakutan pada hantu dan lintah, juga curhat teman sebaya tentang kegelisahan akan masa depan. Bagaimana anak-anak dengan tabiat yang berbeda ini bisa saling mengisi dan memahami.

Love their friendship

Love their friendship

Sebuah persahabatan khas anak-anak yang terasa manis tapi juga rapuh. Melihat mereka, kita tahu bahwa itu bukanlah sesuatu yang akan berlangsung selamanya. Mereka akan segera tumbuh besar, dengan jalan hidup masing-masing dan merasa miris bagaimana masa depan itu seolah sudah terbayangkan seperti dalam narasi si narator: bahwa karena Chris adalah anak seorang kriminil, sudah dibayangkan bahwa kelak, dia juga akan jadi kriminil…hmmm..it’s sad..:(

Overall, ini adalah film yang sangat menarik. Ceritanya terasa begitu alami, tak muluk-muluk tapi terasa sangat bernyawa. Dan meski usianya sudah lebih dari dua dekade, rasanya tetap kekinian karena temanya yang memang terasa ‘abadi.’ Salah satu film terbaik!

Quote:
Gordie: Do you think I’m weird?
Chris: Definitely.
Gordie: No, seriously.Am I weird?
Chris: Yes, but so what? Everybody’s weird.

Gordie: “I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?”
Yah, apakah kita akan memiliki persahabatan seperti kita masih kanak-kanak yang murni?

Note:

River Phoenix yang main bagus sebagai Chris

River Phoenix yang main bagus sebagai Chris

River Phoenix yang main bagus sebagai Chris adalah abangnya aktor Rain dan Joaquin Phoenix. Selain Stand By Me, ia juga membintangi beberapa film yang notable seperti Running on Empty (1988) yang dapat nominasi di Academy Awards sebagai Best Supporting Actor dan juga sebuah film queer, My Own Private Idaho  (1991) yang mendapat banyak penghargaa. Dia meninggal pada tanggal 31 Oktober 1993 dalam usia 23 tahun karena over dosis. Sayang banget, ya : (

Cast:
Wil Wheaton – Gordie Lachance
River Phoenix – Chris Chambers
Corey Feldman – Teddy Duchamp
Jerry O’Connell – Vern Tessio

Kiefer Sutherland – “Ace” Merrill
Bradley Gregg – “Eyeball” Chambers
Casey Siemaszko – Billy Tessio
John Cusack – Dennis “Denny” Lachance
Richard Dreyfuss – Gordie Lachance (dewasa)
Gary Riley – Charlie Hogan
Marshall Bell – Mr. Lachance
Frances Lee McCain – Mrs. Lachance
Andy Lindberg – David “Lard Ass” Hogan
Bruce Kirby – Mr. Quidacioluo
Jason Oliver – Vince Desjardins
William Bronder – Milo Pressman
Kent W. Luttrell – Ray Brower (the body)

Sutradara: Rob Reiner
Produser: Bruce A. Evans, Andrew Scheinman
Screenplay: Bruce A. Evans, Raynold Gideon (berdasarkan novel “The BodyStephen King)
Narasi: Richard Dreyfuss
Musik: Jack Nitzsche
Sinematografi: Thomas Del Ruth
Editing: Robert Leighton
Produksi:Act III Productions
Distributor: Columbia Pictures
Rilis: 8 Agustus 1986
Durasi; 88 menit
Negara/ Bahasa: AS/ Inggris

Awards:
Academy Awards, USA 1987:
– Nominasi Best Writing, Screenplay Based on Material from Another Medium (Raynold Gideon, Bruce A. Evans)
Golden Globes, USA 1987:
– Nominasi: Best Motion Picture – Drama, Best Director – Motion Picture (Rob Reiner)
Awards of the Japanese Academy 1988:
– Nominasi Best Foreign Language Film
BMI Film & TV Awards 1988
– Most Performed Song from a Film (Ben E. King, “Stand By Me”)
Directors Guild of America, USA 1987:
– Nominasi Outstanding Directorial Achievement in Motion Pictures (Rob Reiner)
Independent Spirit Awards 1987:
– Nominasi: Best Feature, Best Director, Best Screenplay
Kinema Junpo Awards 1988:
– Best Foreign Language Film (Rob Reiner)
Young Artist Awards 1987:
– Jackie Coogan Award (Wil Wheaton, River Phoenix, Corey Feldman, Jerry O’Connell)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: