Beranda > Film Inspiratif, Film Korea > Secret Sunshine

Secret Sunshine

Setelah kematian suaminya, Shin-ae () bersama putranya yang masih kecil, Jun, memutuskan untuk pindah ke Miryang, kampung halaman almarhum suaminya. Miryang artinya adalah “Secret Sunshine” tempat ia akan memulai hidupnya yang baru. Meski terlihat tabah, tapi Shin-ae tak bisa menyembunyikan kesedihannya, apalagi ternyata suaminya meninggal setelah berselingkuh.

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Jeon De-yeon yang main bagus sebagai Shin-ae

Di Miryang, ia membuka tempat les piano dan berkenalan dengan para tetangga. Ada Jong-chan (), lelaki pemilik sebuah bengkel kecil yang masih melajang di usianya yang 39 tahun dan dianggap looser oleh ibunya. Ada Kim, sopir sekolah Jun, lelaki dengan seorang putri remaja. Ada perempuan pemilik toko pakaian, suami istri pemilik apotik yang rajin ke gereja… Kenyataan bahwa Shin-ae seorang janda mengundang simpati sekaligus gosip di belakang punggungnya. Shin-ae yang tak ingin terlihat menyedihkan, mengatakan bahwa ia akan membeli lahan di Miryang dan berinvestasi.

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan :)

Song Kang-ho sebagai si bujang lapuk, Jong-chan🙂

Omongan yang kemudian justru mengundang malapetaka. Dikira kaya raya, anaknya diculik untuk memerasnya. Penculikan yang berujung pada…kematian anaknya. Ufth! Sampai pada titik ini saya menarik napas. Apakah ini film tragedi dengan tokoh utama yang mengalami penderitaan bertubi-tubi yang menguras air mata ala sinetron? Well, untunglah, sejak awal saya tahu bahwa ini adalah sebuah film garapan sineas besar Korea, dan bahkan sudah mendapatkan pengharggan di salah satu ajang film paling bergengsi di dunia: Cannes Film Festival. Dan karenanya, saya yakin tidak akan jatuh jadi sebuah film yang hanya mengumbar kecengengan.

Benar, ini adalah  film tentang tragedi. Tapi ceritanya tidak akan menceritakan hal-hal yang “dramatis.” Tragedi hanyalah sebagai titik mula. Karena cerita kemudian akan lebih fokus pada reaksi terhadap tragedi. Yah, bisa dibilang ini adalah film psikologis.  Film kemudian akan coba mengeksplore, bagaimana seorang manusia berusaha bersikap ketika berhadapan dengan hal paling menyakitkan dalam hidupnya.
ssn3
Melalui sosok Shin-ae yang ditimpa tragedi bertubi-tubi, diperlihatkan bagaimana seorang manusia berusaha mencari jawab dari rasa sakit dan juga berusaha membebaskan diri dari rasa sakit itu. Hal yang selalu diharapkan adalah “keadilan” dan “keadilan” seringkali dimaknai sebagai “balas dendam” atau harapan agar orang yang membuat sakit merasakan sakit yang sama atau mendapat balasan yang setimpal. Karena batasan kemampuan manusia untuk melakukan pembalasan yang setimpal itu, pelarian yang paling memungkinkan adalah pada “Ia Yang Berkuasa.” Dalam hal ini, ketuhanan. Shin-ae yang semula tak percaya pada Tuhan, kemudian memutuskan untuk lari pada “Tuhan” demi berharap bahwa Tuhan memberi keadilan.

Tapi “keadilan” Tuhan mungkin memang tak selalu bisa dipahami manusia. Shin-ae pada akhirnya merasa kecewa ketika Tuhan ternyata juga milik si pendosa, yang merasa “Tuhan telah mengampuninya.” Shin-ae pun kemudian sampai pada titik rasa sakit yang tak tertahankan, rasa sakit yang paling absurd dan membuatnya ‘melewati batas’, hal yang justru akan semakin menghancurkannya.
ssnj
Tapi tenanglah, film ini tak hendak bermain-main dengan nihilisme. Pada akhirnya, hanya manusia sendirilah yang bisa membebaskan dirinya dari rasa sakit. Bukan dengan berharap adanya sebuah “pembalasan yang adil” pada orang yang menyebabkan rasa sakit tersebut, tapi lebih pada “menerima” dan “merelakan” . Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi dan yang kita, manusia, bisa lakukan hanyalah melanjutkan hidup. Kita punya pilihan, membiarkan diri terperangkap dalam rasa sakit demi berharap adanya “pembalasan yang setimpal” atau terus bergerak ke depan, meninggalkan semua kepahitan menyongsong masa depan dengan segala kemungkinan.

Well, sebuah film yang terasa sangat “berat.” Tapi juga terasa sangat solid. Dan meskipun menyesakkan,  tapi tidak jatuh menjadi sesuatu yang depresif. Alih-alih, film ini merupakan perenungan yang mendalam dengan ending yang terasa optimis.
ssnm
Soal akting?  mampu masuk ke dalam karakter Shin-ae yang “penuh luka” dengan sangat baik, dan sepertinya memang layak membuatnya diganjar sebagai aktris terbaik di Cannes. Lalu sosok Jong-chan yang dimainkan  dengan peran “badut”nya, saya pikir adalah pilihan yang pas sebagai “pemecah” dan “penyeimbang” karakter muram Shin-ae. Juga para aktor pendukung dengan segala kerealistisannya.
It’s great story !  

Cast:
 – Shin-ae
 – Jong-chan
Jo Young-jin – Park Do-seop
Kim Young-jae – Min-ki (adik Shin-ae)
Seong Jeong-yeop – Jun
Song Mi-rim – Jung-a (anak Do-seop)
Kim Mi-hyang – Kim
Kim Mi Kyung-pemilik toko
Oh Man seok – pastor

Judul: Secret Sunshine/ Milyang (밀양)
Sutradara/ Penulis:
Asisten: Lee Jung-Hwa
Produser:
Sinematografer: Cho Yong-Kyu
Rilis: 23 Mei 2007
Durasi: 142 menit
Distributor: Cinema Service
Negara/ Bahasa: Korea/ Korea Selatan

Awards;
Asia Pacific Screen Awards 2007
– Best Film
– Best Performance by an Actress ()
– Nominasi: Best Screenplay,

Asian Film Awards 2008
– Best Actress ()
– Best Director
– Best Film
– Nominasi: Best Actor ()

Baek Sang Art Awards 2008
– Best Director

Blue Dragon Awards 2007
– Best Actress ()

Cannes Film Festival 2007
– Best Actress ()
– Nominasi: Palme d’Or

Grand Bell Awards, South Korea 2007
– Special Award  ()

etc (sumber: Imdb)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: