Beranda > Film Barat, Film Inspiratif > Cinema Paradiso

Cinema Paradiso

Salvatore (Toto), seorang bocah lelaki yang menaruh minat pada film. Ia besahabat dengan Alfredo, lelaki yang menjadi pemutar film di bioskop Cinema Paradiso, bioskop di kota kecil tempat tinggalnya yang selalu disesaki pengunjung. Toto hanya tinggal dengan ibu dan adiknya dan ayahnya tewas dalam perang.

Toto kecil yang tergila-gial sama film. Ekspresinya menggemaskan banget ya :D

Toto kecil yang tergila-gial sama film. Ekspresinya menggemaskan banget ya 😀

Alfredo tidak hanya menjadi sahabat, tapi juga seperti sosok ayah baginya. Bagi Alfredo yang tidak mempunyai anak dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruang pemutaran seorang diri, kehadiran Toto menjadi pelibur jenuh dan sepinya. Pun ketika Toto kemudian minta diajari cara memutar film, Alfredo tak bisa menolak. Ketika terjadi sebuah kecelakaan yang membuat Alfredo buta, Toto kecil kemudian menjadi penggantinya menjadi pemutar film.

Meski begitu, ia selalu berpesan pada Toto, agar jangan sampai menghabiskan hidupnya menjadi pemutar film seperti dirinya kelak. Ia selalu mengatakan, agar Toto mengejar hal-hal yang lebih besar di luar sana.

Belajar menjadi pemutar film pada Alfredo

Belajar menjadi pemutar film pada Alfredo

Film tentang para pelaku dunia perfilman sudah banyak sekali dibuat, tapi film yang bercerita tentang orang yang menonton film, saya pikir jarang dibuat. Dan Cinema Paradiso adalah salah satunya. Berlatar sebuah kota kecil di Italia pada masa setelah masa Perang Dunia ke-2, ini adalah sebuah film ‘sederhana’ yang indah dan mengharukan.

Film ini menggambarkan, bagaimana sebuah kegiatan menonton film, pada masa-masa awal dulu, adalah sebuah kegiatan sosial yang begitu meriah. Menyatukan semua lapisan masyarakat, tak pandang usia. Bagaimana orang duduk bersama, tergelak-gelak, terlongo-longo, memaki dan menangis ketika menonton sebuah film lengkap dengan beragam polah yang mengiringinya (bercumbu, meneteki anak…) Lalu bagaimana di balik semua itu, ada seorang yang hidup penuh dedikasi, terisolasi dalam ruang sempit pemutar film, terpaksa menonton film yang sama berkali-kali, siap untuk dicaci dan diteriaki para penonton: sang pemutar film.

Hidup harus punya impian yang besar,bukan?

Hidup harus punya impian yang besar,bukan?

Yah, film ini memang seakan menjadi sebuah nostalgia romantis tentang kegiatan menonton film pada masa-masa dimana industri dan teknologi belum secanggih sekarang. Tentu sangat mengasyikkan menikmati film seperti yang digambarkan dalam film ini, tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa perkembangan saat ini juga membuat semakin mudah dan murahnya orang mengakses film. Orang tak perlu lagi repot-repot ke bioskop hanya untuk menonton film.
cinema13
Hmm, melihat segala kemajuan itu, nggak tahu apa harus merasa sedih atau gembira. Saya sendiri nggak pernah mengalami kegiatan menonton seperti yang digambarkan di film ini, tapi membayangkannya, memang terasa mengasyikkan. Tapi yah, setiap zaman pasti ada masanya tersendiri dan tak ada yang bisa mencegah terjadinya perubahan. Meski begitu, saya pikir satu hal yang tak pernah berubah: film adalah salah satu penemuan paling menakjubkan di semesta ini.

Cast:
Philippe Noiret – Alfredo
Salvatore Cascio – Salvatore Di Vita (kecil)
Marco Leonardi – Salvatore Di Vita (remaja)
Jacques Perrin – Salvatore Di Vita (dewasa)
Antonella Attili – Maria (muda)
Enzo Cannavale – Spaccafico
Isa Danieli – Anna
Pupella Maggio – Maria (tua)
Agnese Nano – Elena Mendola (remaja)
Leopoldo Trieste – Bapak Adelfio
Nino Terzo – ayahnya Peppino
Giovanni Giancono – Mayor
Brigitte Fossey (Extended cut) – Elena Mendola (tua)

Sutradara: Giuseppe Tornatore
Produser: Franco Cristaldi, Giovanna Romagnoli
Penulis: Giuseppe Tornatore
Musik: Ennio Morricone, Andrea Morricone
Sinematografi: Blasco Giurato
Editing: Mario Morra
Produksi: Les Films Ariane
Distributor: Miramax Films (AS), Umbrella Entertainment
Rilis: 17 November 1988
Durasi: 155 menit, 124 menit (International cut)
Negara: Italia
Bahasa: Italia, Inggris, Portugis, Sisilia

Awards
Cannes Film Festival 1989:
– Grand Prix du Jury (tied with Trop belle pour toi)
Golden Globe Awards 1989:
– Best Foreign Language Film
Academy Awards 1989:
– Best Foreign Language Film
BAFTA Awards 1991:
– Best Film (Not in the English Language)
– Best Actor: Philippe Noiret
– Best Actor in a Supporting Role: Salvatore Cascio
– Best Original Screenplay: Giuseppe Tornatore
– Best Film Music: Ennio Morricone and Andrea Morricone

1st Annual 20/20 Awards 2010:
– Best Foreign Language Picture
– Best Cinematography

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: