Beranda > Film Asia Lain, Film Inspiratif > In the Name of God

In the Name of God

Mansoor dan Sarmad adalah kakak adik. Mereka besar dalam sebuah keluarga Muslim yang cukup berada dan moderat di Lahore, Pakistan. Keduanya sama-sama tertarik dengan musik dan menjadi musikus yang cukup terkenal.

Mansoor memutuskan untuk belajar lebih banyak tentang musik ke Amerika. Sementara Sarmad mulai diliputi keraguan karena mendengar berbagai propaganda yang menyatakan bahwa musik adalah haram. Ia pun berkonsultasi dengan seorang ulama garis keras dan fanatik, Maulana. Maulana berusaha menanamkan doktrin-doktrin fanatik pada Sarmad yang labil. Dan Sarmad pun akhirnya terpengaruh.

Di London, Mary adalah seorang gadis muslim keturunan Pakistan. Ia menjalin hubungan dengan Dave yang bule dan non muslim. Ayah Mary yang sekarang hidup tanpa pernikahan dengan perempuan non muslim juga, sering diteror teman-temannya yang fanatik sebagai pendosa. Ia pun termakan hasutan dan merasa diliputi dosa. Untuk menebusnya, ia berpikir adalah dengan cara mengembalikan Mary ke ‘jalan yang benar.’ Caranya adalah memisahkannya dengan Dave dan kemudian menikahkannya dengan orang Pakistan muslim.

in the name  of god2

Tanpa sepengetahuan Mary, ia mengajak Mary ke Pakistan, bertemu dengan saudaranya, ayah Mansoor. Ia membujuk agar mereka mau menikahkan Mansoor dengan Mary. Tapi mereka yang berpikir moderat, menolaknya. Ayah Mary pun menawarkan pada Sarmad. Sarmad diyakinkan oleh Maulana bahwa itu adalah hal yang baik, membawa seorang gadis yang tersesat.

Karena pernikahan tak dimungkinkan di Lahore, Mary pun dibawa ke sebuah desa kecil nan tandus di perbatasan Afghanistan. Mary terkejut ketika tahu bahwa ia dipaksa menikah. Tapi ia tak bisa melarikan diri.

Sementara itu, Mansoor di Amerika jatuh cinta dengan gadis bule dan non muslim, Janie. Si gadis ingin ia menikahinya. Awalnya Mansoor menolak karena merasa berdosa, tapi kemudian ia sadar bahwa pemikiran semacam itu terlalu sempit. Ia pun menikahi Janie. Di saat yang sama, Amerika sedang dilanda paranoia setelah WTC diledakkan teroris. Mansoor pun menjadi pelampiasan karena dia Muslim. Ia ditangkap dan dipaksa mengaku tentang hubungannya dengan Al qaeda dan Osama bin Laden. Tentu saja ia tak tahu apa-apa. Tapi para Amerika yang terlanjur diliputi kebencian membabi buta, tak ingin menerima kenyataan itu dan menyiksanya.

Well, sebuah film yang mencoba memotret tentang fanatisme yang menjadi persoalan serius akhir-akhir ini. Muslim yang sering diidentikkan dengan terorisme. Film ini berusaha untuk mengurai kesalahpahaman itu dengan menyajikan dialog-dialog tentang toleransi dalam Islam. Film yang indah sekaligus miris.

Cast:
Shaan – Mansoor
Fawad Afzal Khan – Sarmad
Iman Ali – Maryam/Mary
Naseeruddin Shah – Maulana Wali
Austin Marie Sayre – Janie
Rasheed Naz – Maulana Tahiri
Simi Raheal – Ibu Mansoor dan Sarmad
Hameed Skeikh – Sher Shah

Sutradara: Shoaib Mansoor
Produser: Shoman Productions
Penulis: Shoaib Mansoor
Musik: Rohail Hyatt
Sinematografi: David Lemay, Ali Mohammad, Neil Lisk, Ken Seng
Editing: Ali Javed, Aamir Khan
Distributor: Geo Films, Percept Picture Company (India)
Rilis: 20 Juli 2007 (Pakistan)
Durasi: 167 menit
Negara: Pakistan
Bahasa: Inggris, Pasthun, Urdu

Awards:
Asian First Film Festival 2008 : Best Cinematography
Fukuoka International Film Festival 2008 : Audience Award
Palm Spring International Film Festival 2008: Nominasi New Voices/ New Visions Grand Jury Prize

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: