Beranda > Film Korea, Film Queer, Film Romantis > A Frozen Flower

A Frozen Flower

Sebagai seorang calon raja, Goryeo () boleh mengangkat para pengawal utamanya sejak kecil. Di antara mereka adalah Hong-lim (), anak muda yang menyatakan kesetiaannya sejak masih sangat belia. Hong-lim pun tidak hanya menjadi pengawal, tapi juga sebagai sahabat dekat si putra mahkota dan bahkan kemudian, ketika dewasa dan putra mahkota menjadi raja sungguhan, Hong-lim menjadi kekasihnya. Yup, raja adalah seorang gay.

frozen flower4

Di bawah tekanan Kerajaan Yuan (dimana permaisuri berasal), Raja diharuskan mempunyai keturunan, kalau tidak maka tahtanya terancam. Karena tak bisa berhubungan dengan permasurinya, maka Raja pun meminta kekasihnya, Hong-lim untuk melakukan untuknya. Harapan Raja, karena ia ingin penerusnya nanti adalah orang baik seperti Hong-lim.

frozen flower3

Hong-lim, tentu saja tak bisa menolak kehendak raja. Maka dimulailah hubungan Hong-lim dan sang permaisuri. Hubungan yang justru akan menjadi bumerang bagi raja sendiri karena ternyata Hong-lim dan permaisuri menjadi sepasang kekasih sungguhan. Raja yang kemudian dibakar cemburu, berusaha melakukan segala cara untuk ‘menormalkan’ suasana yang rumit itu, namun bola sudah menggelinding bukan?

Hmm, kisah yang menyakitkan. Jika ada yang mengatakan bahwa jatuhnya kekuasaan seseorang, salah satu pemicu terbesarnya adalah karena perempuan, mungkin harus diralat: karena cinta! Cinta memang sesuatu yang absurd,dia bisa menjadi kekuatan positif maupun sesuatu yang menghancurkan. Dan kisah itu diangkat dengan baik melalui film ini, terutama melalui karakter Raja Goryeo yang dimainkan dengan sangat baik sama .

frozen flower5

Awalnya, saya agak sebel sama Raja  ketika dia berubah dari sosok lembut penuh cinta, menjadi begitu bengis. Tapi kemudian cerita mengalir dan saya dibawa paham kenapa dia bisa jadi seperti itu: perasaan ditinggalkan dan tidak dicintai! Juga Hong-lim sebagai ‘orang bawahan’ yang sebelumnya selalu dalam kendali Raja, lalu juga Permaisuri yang begitu kesepian. Aish, pahit lah pokoknya😦

frozen flower1

Menonton film ini, entah bagaimana mengingatkan saya sama Golden Flowers-nya Zhang Yimou, yang juga sama-sama mengangkat kisah cinta menyakitkan di istana. Menurut saya sih dua-duanya sama-sama keren, meski saya lebih suka Golden Flowers.

Full of flowers. Sayang peran mereka nggak terlalu berarti :(

Full of flowers. Sayang peran mereka nggak terlalu berarti😦

Satu hal yang agak mengganggu dari Frozen Flower menurut saya bed scenes-nya yang terasa berlebihan yang membuatnya jadi terasa menjengahkan. Saya pikir, ada pilihan scenes yang lebih ‘elegan’ untuk menggambarkan adegan semacam itu. Tapi well, overall, it’s good movie!

Cast: 
  – Raja Goryeo
 – Hong Lim
 – Permaisuri Goryeo

 – Song-ki
 – Han-baek
 – No-tak
 – Min-woo

Judul Lain: Ssanghwajeom
Sutradara: 
Penulis:
Produser: Tae-heon Lee, Kyeong-ho Shin, David Cho
Sinematografi: Hyeon-ki Choi
Rilis: December 30, 2008
Durasi: 133 min.
Bahasa: Korea
Negara: Korea Selatan

Film Festival:
Deauville Asian Film Festival 2009 – The Panorama -International Premiere
Udine Far East Film 2009 – Italian Premiere
Hawaii International Film Festival 2009 – Spotlight on Korea
Fantasia Film Festival 2010 – Canadian Premiere
Asian Film Festival of Dallas 2010 – Southwest Premiere
New York Korean Film Festival 2011

Awards:
PaekSang Arts Awards 2009 – Best Actor ()
Daejong Film Awards 2009 –  Best Music, Best Art Design

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: