Beranda > Film Korea > Samaritan Girl

Samaritan Girl

Awalnya, saya ‘agak’ hati2 ketika hendak nonton film ini. Posternya, agak provokatif. Sinopsis sekilas yang saya baca juga begitu. Tapi yang membuat penasaran tentulah bahwa di belakang semua itu adalah , salah satu sutradara Korea yang film2nya mendapat apresiasi bagus di kancah perfilman internasional. Pun film ini berhasil menyabet penghargaan di Berlin Intl FF.

Dan nontonlah saya film ini “Samaritan Girl”. Kisah dibuka dengan dua cewek remaja sekolahan yang melakukan semacam ‘transaksi’ via internet. Yeo-jin  dan Jae-young , selalu terlihat bersama. Saya tak tahu, apa mereka cuma teman biasa atau memposisikan diri sebagai semacam ‘kekasih.’ Tapi mereka sepertinya saling mengisi di tengah kesepian mereka.

Yeo-jin dan Jae-young yang tak terpisahkan

Yeo-jin dan Jae-young yang tak terpisahkan

Impian mereka adalah pergi ke Eropa. Demi mengejar mimpi itu, mereka mengumpulkan uang dengan cara yang cukup ekstrim: jual diri! Yeo-jin  yang bertindak sebagai penghubung (semacam mucikari-mucikarian begitulah) sementara Jae-young lah yang merelakan tubuhnya untuk ‘dijual.

Tapi well, sedikit spoiler, film ini tak hanya akan berkisah tentang prostitusi di kalangan remaja. Tidak. Karena fokus utama cerita kemudian adalah pada hubungan ayah dan anak perempuannya. Yeo-jin  tinggal hanya bersama ayahnya, seorang polisi yang amat menyayangi Yeo-jin . Ibu Yeo-jin  sudah meninggal, entah sejak kapan. Sepertinya sudah cukup lama.

SamaritanGirl_28

Di tengah kesibukannya bekerja, ayah Yeo-jin  berusaha menjadi ayah yang baik dengan meluangkan waktunya untuk Yeo-jin , seperti menyiapkan sarapan, mengantarkannya ke sekolah dan bercerita tentang kota-kota di Eropa (mungkin hal ini pula yang membuat Yeo-jin  ingin ke Eropa), meski sepertinya mereka tak pernah benar-benar berkomunikasi dengan baik. Dan hal itu, sepertinya itu semua tak cukup menutupi kekosongan hati Yeo-jin  yang pemurung. Bisa dipahami jika kemudian ia begitu terikat dengan Seo Yoon yang mungkin bisa sedikit menutupi kekosongan itu.

Suatu hari, setelah sebuah kejadian tragis yang menimpa Jae-young , untuk menebus rasa bersalahnya karena telah ‘mempkerjakan’ Jae-young, Yeo-jin berniat menebus kesalahannya dengan melakukan apa yang dilakukan Jae-young serta mengembalikan uang-uang yang diterimanya. Saat seperti itulah, ayah Yeo-jin tak sengaja melihat anaknya sedang bermesraan dengan om-om,  mendidih darahnya. Yah, bisa dibayangkan kan bagaimana seorang ayah melihat anak perempuannya diperlakukan tidak senonoh oleh pria-pria sebaya dirinya, yang mungkin di rumah juga adalah seorang ayah? Sssh…!!

SamaritanGirl2

Ayah-anak ini kemudian akan memendam kemarahan dan kesedihannya masing-masing, membuat sebuah suasana benar-benar terasa menekan. Dan saya rasa, di sinilah letak kekuatan film ini. Melihat hubungan Yeo-jin  dan ayahnya, benar-benar terasa menyesakkan. Kenapa mereka tak membicarakannya saja? Tapi bagaimana membicarakan hal semacam itu? Argh…pada titik ini saya benar-benar merasa ingin ikut menangis. Betapa menyedihkannya menjadi ayah Yeo-jin  yang pasti akan merasa not good enough sebagai Ayah meski dia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Dan Yeo-jin ? Saya bisa memahami kesedihan yang menggelantung di wajahnya. Ada hal-hal menyangkut perasaan yang tak bisa selalu kita kontrol meski itu akan menyakiti orang lain dan itulah saya pikir yang membuat Yeo-jin sedih ketika bersama ayahnya.

Good film! Hal yang membuat saya semakin ingin menonton film-film  yang lain.

Judul Lain: Samaria
Sutradara: 
Astrada: Jang Cheol-Su
Penulis:
Produser: , Min Bae-Jeong, Kim Yoon-Ho, Jung-Hyun
Sinematografi: Sun Sang-Jae
Rilis: 5 Maret 2004
Durasi: 95 min

Cast:
Kwak Ji-Min – Yeo-jin
 – Jae-young
Lee Eol – Young-Ki (ayah Yeo-jin)
Oh Yong – Si Musisi

Awards:
Berlin International Film Festival 2004:
–  Silver Berlin Bear ( Best Director – )

Note:
Saya nggak tahu persis tentang judul film ini. Tapi dari hasil browsing-browsing, Samaritan merupakan sebuah kelompok agama di Israel yang mirip-mirip sama Yahudi dan pemeluknya mengaku kalau Samaritan sebenarnya agama yang lebih asli dibanding Yahudi. Ada juga istilah ‘good samaritan’ konon mengacu bahwa orang-orang samaritan dikenal bukan sebagai orang yang baik. Jadi apa hubungannya judul film ini dengan istilah ‘samaritan’? Saya juga kurang paham. Mungkin karena di bagian kedua film ini, yang dikasih judul ‘Samaria’ di mana Yeo-jin ‘tanpa pamrih’ memberikan dirinya pada para lelaki hidung belang. Entah 😦

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: