Beranda > Film Korea > Pain

Pain

Nam-soon () seorang preman yang bekerja untuk seorang lintah darat. Kerjanya menagihi uang para pedagang kaki lima.

Nam-soon punya cara unik agar orang mau membayar. Alih-alih memukuli orang yang ditagih, ia malah memukuli diri sendiri hingga berdarah-darah. Nam-soon tak lagi bisa merasakan sakit. Ia mati rasa. Sebuah kejadian tragis di masa lalu membuatnya demikian.

PDVD_029 (3)
Salah satu ‘client’nya adalah Dong-hyun (), yang sehari-hari bekerja jualan aksesori di pinggir jalan. Kebalikan dari Nam-soon, Dong-hyun sangat takut teluka karena ia mengidap hemophilia.

Sebenarnya, tak ada cerita khusus terkait ‘rasa dan mati rasa’ itu yang mendekatkan mereka di awal. Karena mereka bertemu lebih seperti kebetulan. Karena dipaksa melunasi hutang sementara tak lagi punya uang, rumah sewanya jadi bayaran. Ia kemudian bermalam di tempat pemandian umum. Ketika diganggu preman, Nam-soon menolongnya (aargh…agak menyebalkan kebetulan semacam ini) yang kemudian berujung pada tawaran Nam-soon agar Dong-hyun tinggal di rumahnya.

PDVD_022

As usual, salah satu ide romantis dalam film Korea adalah dimulai dari tinggal satu rumah. Dan itulah yang kemudian akan terjadi. Kehadiran Dong-hyun pun membuat Nam-soon mulai bisa merasakan sakit.

Pain)

Secara umum, sebenarnya cerita film ini biasa saja kecuali melibatkan ‘sakit dan tidak sakit’ yang menurut saya menjadi ide cerita yang cukup unik. Sebelum nonton film ini, sejujurnya saya berharap ini akan menjadi film yang lebih liris dan ‘dalam’ (semacam film2nya Wong Kar-wai, begitu) tapi ternyata ini adalah film yang cukup ‘cair’ yang membuat saya malah kurang bisa merasakan ‘kesakitan’ film ini. Satu hal lain yang cukup menarik tentu akting  yang menurut saya cukup berbeda dari karakter-karakter yang pernah dia mainkan sebelumnya. Ia mampu memerankan sosok Nam-soon yang ‘blank’ (ingat, dia mati rasa), dengan baik. Dan ? Always nice to see her, tapi karakternya terasa terlalu di permukaan.

Meski begitu, menurut saya film ini tetap layak tonton. Mengangkat cerita kehidupan kelas bawah Korea dengan setting kota pelabuhan membuat kita diajak melihat sisi lain Korea selain tempat-tempat ‘bersih dan wangi’ seperti yang biasa dipaparkan di drama-drama Korea. Ada satu hal yang menggelitik saya ketika nonton film ini: premanisme yang digambarkan cukup intens. Dan saya pun bertanya-tanya, apa beneran di Korea ada premanisme semacam itu? Hmm…

Cast:
– Nam-Soon
– Dong-Hyun
Ma Dong-seok –  Bum-No

Judul Lain: Pained, Tong Jeung (통증)
Sutradara: 
Penulis: Pool Kang
Produser: Lee Ji-Seung
Sinematografi: Hwang Ki-Seok
Rilis: 7 September 2011
Durasi: 104 menit

  1. aditya
    Juli 5, 2012 pukul 11:31 am

    ceritanya agak mirip filmnya bruce willis ‘unbrekable’

    • Juli 5, 2012 pukul 4:27 pm

      hmm, blm nonton yg itu…baguskah?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: