Beranda > Film Asia Lain, Film Queer > The Love of Siam

The Love of Siam

Saya memutuskan beli film ini lagi-lagi gara-gara label penghargaan yang tertera di cover-nya: official selection cannes. Wow! pikir saya. Seperti apa film Asia Tenggara yang masuk cannes? Satu lagi, sepertinya saya juga cukup familiar dengan judulnya.

Selain label penghargaan, saya sama sekali blank tentang film ini. Sinopsis yang ditulis di cover juga nggak banyak memberi informasi cerita film. Tapi dari awal saya sudah menduga, what kind of love story is this. Yups. (sorry, sedikit spoiler): it’s gay story! Tak urung hal ini membuat saya bertanya-tanya:  kenapa ya Thailand sering banget bikin film tentang homoseksualitas (terakhir saya nonton )? Dan hal yang bikin saya lebih penasaran adalah: kenapa homoseksualitas begitu marak di Thailand? Saya ingat beberapa tahun lalu saya menemani beberapa mahasiswa Thailand di kampus, 3 di antaranya cowok dan ketiganya ‘melambai.’ Tidak hanya itu karena kemudian temannya yang cewek cerita ke saya, kalau para cowok ini memang gay. Hoo..(padahal saya sudah niat tebar pesona, hihi).

PDVD_059

Kembali ke film.
Meski saya sudah menduga bahwa ceritanya akan seperti itu, tapi saya sempat hampir terkecoh karena untuk sampai pada cerita itu perlu waktu yang cukup lama. Cerita akan dimulai dari masa kecil dua tokoh utama: Mew dan Tong. Mereka tinggal tetanggaan. Mew kecil hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua tapi amat menyayanginya. Mew diledeki seperti anak perempuan oleh teman-teman di sekolahnya karena dianggap terlalu lembek sebagai anak cowok. Hobinya main musik dan melukis.

Mew

Mew

Sebaliknya, Tong sepertinya anak yang populer dan kuat. Tong hidup bahagia bersama keluarganya yang beragama Kristen: ayah, ibu dan kakak perempuan yang cantik, Tang.

Mew dan Tong tak saling kenal hingga sebuah insiden Mew dikerjai teman-temannya dan Tong menolongnya. Sejak itu, mereka pun menjadi sahabat karib dan menikmati waktu menyenangkan bersama. Hingga sebuah kejadian naas di hari natal terjadi. Tang, kakak Tong hilang ketika liburan ke hutan bersama teman-temannya. Duka pun menyelubungi keluarga Tong. Ayahnya yang tak bisa menerima kepergian Tang, menjadi alkoholic. Keluarga Tong pun kemudian memutuskan pindah ke Chiangmai.

Tong

Tong

Cerita kemudian melompat ke beberapa tahun kemudian. Mew dan Tong sudah menjadi remaja. Mew membentuk band sekolah yang cukup populer, August band dimana dia jadi vokalis sekaligus penulis lagu. Kini, ia tinggal sendirian karena neneknya sudah meninggal. Di sebelah tempat tinggalnya, ada Ying, gadis keturunan Tionghoa yang diam-diam naksir berat sama Mew.

Di sisi lain,Tong ternyata sudah pindah ke kota itu lagi bersama keluarganya, yang sekarang sangat tak bahagia. Ayahnya tetap jadi alkoholik dan selalu berpikir bahwa Tang masih hidup. Ibunya lah yang kemudian harus bekerja menghidupi keluarga itu. Setelah kepergian Tang, ibu Tong juga jadi sangat protektid terhadap Tong. Tong tumbuh jadi ‘anak mami’ yang pemurung. Di sekolah, ia mengencani cewek cantik yang ditaksir banyak cowok, Donut.

Hingga suatu hari, Tong dan Mew kembali bertemu dan melanjutkan jalinan persahabatan yang telah lama kosong. Sampai pada titik ini, saya hampir berpikir: ah, it’s not gay story. Hubungan Mew dan Tong terlihat sangat wajar sebagai sahabat berjenis kelamin sama. Tapi cerita terus mengalir dan yah, akan sampai pada titik itu (menurut saya, film ini plotnya bagus karena membuat penasaran untuk terus mengikuti hingga akhir).

Hmm...

Hmm…

Selama ngikutin film ini, saya terus bertanya-tanya: beneran ini masuk official selection Cannes? Ceritanya sih bagus, tapi saya yang sudah beberapa kali nonton film yang masuk Cannes, cerita film ini kayaknya not kind of Cannes films deh.Dan memang setelah saya cek di internet usai nonton, nggak ada disebut soal FF Cannes. Wah, ketipu saya. Tapi nggak apa-apa lah, karena filmnya sendiri cukup qualified dan karenanya cukup banyak menyabet penghargaan lokal dan seleksi Foreign Film di Academy Awards.

Ying

Ying

Ini adalah sebuah coming age story dunia remaja yang nggak mudah dan digarap dengan sangat lembut. Kita bisa ikut merasa galau melihat bagaimana kegelisahan para remaja yang sedang dalam konflik pencarian jati diri, tapi juga terharu bagaimana mereka menghadapi semua itu dengan  begitu ‘mature & wise.’ Cerita keluarga yang melatarinya juga memperkuat cerita, meski di ujung-ujung, menurut saya diekspos agak berlebihan sehingga cerita yang sudah solid jadi agak terpecah (kehadiran June di keluarga Tong). Dan about gay story, tidak harus setuju, tapi mungkin film ini akan memberi sedikit pemahaman tentang preferensi seseorang.
Well, it’s recommended!

PDVD_127

Quotes:
Ini adalah dialog waktu Tong bermalam di rumah Mew dan Mew curhat ke Tong:

if we love someone so much, how can we bear or that one day we will be seperated by death? (….) Is it possible Tong, that we love someone and were not afraid of losing them? At the same time I was wondering is it possible that we can live without loving anyone at all?”

Cast:
 – Mew
 – Tong
 – Ying
Aticha Pongsilpipat – Donut
 – Tang/June
Sinjai Plengpanich – Sunee, Tong’s mother
Songsit  Rungnopakunsri – Korn, Tong’s father
 – Tong Kecil
Arthit Niyomkul -Mew Kecil
Pongnarin Ulice  – Aod
Pimpan Buranapim – Nenek Mew

Sutradara: Chookiat Sakveerakul
Produser: Prachya Pinkaew, Sukanya Vongsthapat
Penulis: Chookiat Sakveerakul
Musik: Kitti Kuremanee
Sinematografi: Chitti Urnorakankij
Editing: Lee Chatametikool, Chukiat Sakweerakul
Rilis: November 22, 2007 (Thailand)
Durasi: 150 min., 178 min. (Director’s cut)
Bahasa: Thai
Judul Lain: Rak Haeng Sayam/รักแห่งสยาม pronounced [rák hɛ̀ŋ sà.jǎːm])

Awards:
Thailand National Film Association Awards 2008:
– Best Picture
– Best Director (Chookiat Sakveerakul)
– Best Supporting Actress (Chermarn Boonyasak)
Nominasi:
– Best Actor (Witwisit Hiranyawongkul)
– Best Actress (Sinjai Plengpanit)
– Best Art Direction (Phisut Pariwattanakij)
– Best Cinematography (Chitti Urnorakankij)
– Best Costume Design (Ekasith Meeprasertsakul)
– Best Editing (Chukiat Sakveerakul, Lee Chatametikool)
– Best Original Song (“Kan Lae Kan”)
– Best Original Song (“Kuen Un Pen Nirund”)
– Best Score (Kitti Kuremanee)
– Best Screenplay (Chukiat Sakveerakul)
– Best Sound (Ramindra Sound Recording Studios).
– Best Supporting Actor (Songsit Roongnophakunsri)
– Best Supporting Actress (Kanya Rattapetch)

Asian Film Awards 2008:
– Nominasi: Best Composer (Kitti Kuremanee),  Best Supporting Actor (Mario Maurer)

Cinemanila International Film Festival 2008:
– Best Actor award in Southeast Asian film (Mario Maurier)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: