Beranda > Film Barat > Into the Wild

Into the Wild

Into the Wild. Sudah beberapa lama lewat sejak saya menonton film ini. Saya tertarik untuk nonton setelah saya lihat ulasan dan wawancara crew-nya di Oprah. Karena waktu itu cd-nya belum beredar di rentalan, saya beruntung mendapatkan pinjaman dvd dari temannya  teman. Tapi saya baru kepikiran nulis tentang film itu usai mendengar (untuk ke sekian kalinya) lagu “Long Nights“-nya Eddie Vedder, salah satu soundtrack dalam film itu yang entah kenapa (untuk ke sekian kalinya pula) tiba-tiba membuat mata saya berkaca-kaca. Saya teringat Chris, tokoh utama dalam film itu, dengan kegelisahan, kesepian dan kemuakannya pada kemunafikan di sekelilingnya.

into the wild 2

Chris, Christopher McCandless, baru saja lulus dari Emory. Usai perayaan kelulusan bersama orang tua dan saudara perempuannya, Carine, Chris yang sudah lama memendam kemuakan pada sekelilingnya  memutuskan untuk meninggalkan ‘segalanya.’ Kemuakan Chris berawal dari kedua orangtuanya. Ia dan kakaknya, lahir di tengah keluarga berada yang selalu berusaha terlihat harmonis di depan umum tapi sebenarnya tidak (bahkan ayahnya tak mau mengakui anaknya dari istri lain). Chris menganggap hidup orangtuanya penuh kepalsuan.

Bertemu Rainey dan Jan yang nyentrik

Bertemu Rainey dan Jan yang nyentrik

Chris menyumbangkan seluruh tabungannya ke Oxfam, ia bakar kartu identitasnya, ia hanyutkan mobilnya di tengah banjir lalu dengan nama baru -ia menamai dirinya sendiri Alexander Supertramp, ia memulai petualangannya. Tujuan utamanya: Alaska, tempat yang tak dihuni manusia dengan segala keekstremannya. Alaska ia bayangkan laiknya surga, tempat ia akan hidup tenang, menyatu dengan alam tanpa ada manusia lain yang akan mengganggunya. Tanpa ada kemunafikan.

Bersama Pak tua Ron yang jatuh hati padanya

Bersama Pak tua Ron yang jatuh hati padanya

Dalam perjalanannya menuju Alaska, sungguh ironis karena Chris justru bertemu banyak orang baik hati yang jatuh sayang padanya, di antaranya adalah sepasang suami istri hippie, Rainey dan Jan yang bertualang dengan mobil van-nya. Jan yang memahami kegelisahan Chris (sepertinya Chris ini mengingatkan Jan pada anaknya) jatuh sayang dan simpati padanya dan menyarankan Chris kembali pada keluarganya. Tapi tekad Chris telah bulat: Alaska.

Chris rela menghabiskan musim panas sebagai tenaga pemanen di kebun gandum dan bertemu si bengal baik hati, Wayne. Lalu ada Tracy, gadis gipsi belia yang jatuh hati padanya. Tak ada yang mampu meluluhkan kekerasan hati Chris, termasuk, Ron, lelaki tua sebatang kara pensiunan tentara yang ingin sekali mengangkatnya sebagai anak.

Bersama si Belia Tracy

Bersama si Belia Tracy

Chris akhirnya tiba di Alaska dan seperti sebuah keajaiban, ia menemukan sebuah van tua yang teronggok di sana. Van itu lah yang kemudian menjadi tempat tinggalnya di mana ia torehkan namanya : ALexander Supertramp. Ia habiskan hari-hari dengan membaca, berburu, berenang…ia telah menemukan surganya.

Hari-hari berlalu, dan dalam kesendiriannya, Chris akhirnya memahami arti kesepian. Happines only real when shared, tulis Tolstoy dalam novel yang dibacanya. Dan kata itu terngiang di kepalanya. Ketika pagi menjelang, Chris mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pulang. Tapi alam sedang tak berpihak kepadanya, sungai sedang meluap dan tak mungkin ia seberangi. Tak ada pilihan lain, Chris kembali ke van. Menunggu alam berbaik hati padanya, sementara persediaan makanannya perlahan habis. Didera lapar, dengan bermodalkan buku catatan botani Alaska, ia mencari tumbuh-tumbuhan untuk bertahan hidup. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Chris keliru mengidentifikasi tanaman dan menderita keracunan yang pada akhirnya mengantarkannya pada kematian.

Surga itu bernama Alaska!

Surga itu bernama Alaska!

Dada saya sesak dengan akhir kisah itu dan terus bertanya-tanya: kenapa harus berakhir kematian? it’s too tragic  for Chris to die in that  way…  Tapi begitulah kenyataannya dan Chris adalah kisah nyata. Tidakkah alam begitu kejam? Chris hanya seorang ‘pencari’ dan di saat ia nyaris sampai pada ‘penemuannya’ kenapa semesta tak berpihak padanya? Atau alam sedang ingin menggejek kesombongan manusia? Entahlah…

Mungkin segala sesuatu dalam film ini yang membuat film ini terasa begitu menghanyutkan. Ya penyutradaraannya (ternyata Sean Penn nggak cuma piawai akting), ya aktingnya (salut untuk !) latarnya dan musiknya yang luar biasa garapan vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder. Sedikit menganggu adalah akting kedua orangtua Chris yang terasa kurang dapat, tapi karena peran mereka nggak terlalu menonjol, saya bisa memaafkannya. One of my favourite movie! 🙂

Note:

Film ini memang benar-benar berdasarkan kisah nyata. Christopher Johnson McCandless (February 11, 1968 – August 1992).  Ia sampai di Alaska pada bulan April 1992. Dan hampir 4 bulan kemudian, keganasan alam Alaska merenggut nyawanya karena keracunan makanan (berat badannya tinggal 30 kg). RIP Chris McCandless 😦

Cast:
, Christopher “Alexander Supertramp” McCandless
Marcia Gay Harden, Billie McCandless
William Hurt, Walt McCandless
,  Carine McCandless
, Jan Burres
Brian H. Dierker, Rainey
, Wayne Westerberg
Zach Galifianakis, Kevin
, Tracy Tatro
Hal Holbrook, Ron Franz

Sutradara:
Produser: ,, Art Linson, William Pohlad
Penulis:  (Based on Into the Wild by Jon Krakauer)
Narasi: , Sharon Olds, Carine McCandless
Musik: Michael Brook, Kaki King, Eddie Vedder, Canned Heat
Sinematografi: Eric Gautier
Editing: Jay Cassidy
Rilis: US, September 21, 2007
Durasi: 148 menit
Bahasa: Inggris

Awards:
65th Golden Globe Awards:
– Best Original Song – Motion Picture
(“Guaranteed”)
– Nominasi: Best Original Score – Motion Picture (Michael Brook, Kaki King, Eddie Vedder)
– Gotham Awards: Best Feature Film
– Mill Valley Film Festival: Best Actor ()
National Board of Review:
– Breakthrough Performance – Male ()
São Paulo International Film Festival:
– Best Foreign Language Film ()

80th Academy Awards:
– Nominasi Best Supporting Actor (Hal Holbrook)
– Nominasi Best Film Editing (Jay Cassidy)

and many more…

Iklan
  1. purnama
    Januari 23, 2013 pukul 5:03 am

    aq cuma baca sinopsis yg u bikin aja uda kerasa gmn sedihnya ending film ini..
    aq mau nangis..
    aq pasti cari film ini..
    hiks..hiks.. ;-(

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: