Beranda > Etcetera > Tempat Nonton: BBY

Tempat Nonton: BBY

Saya ingat masa-masa nonton film di BBY, Bentara Budaya Yogyakarta yang terletak di Kota Baru. Pada sore hari, di penghujung  bulan selama 2-3 hari, BBY mengadakan pemutaran film gratis. Dalam sehari biasanya dilakukan dua kali pemutaran. Sesi pertama, jam 16.00-18.00 dan sesi kedua jam 19.00 – 21.00.

Untuk masa-masa kuliah, hal-hal yang berbau gratisan selalu menarik. Apalagi film-film yang diputar di sana bukan sembarang film. Film yang diputar biasanya bertema tertentu; film Eropa Timur, Film Iran, Film yang menang Cannes, Film sutradara A, sutradara B…kapan lagi coba bisa nonton film-film semacam itu? Sampai dunia runtuh pun nggak bakal diputar di bioskop komersil di negri ini (:P). Jadinya saya selalu berusaha bela-belain nonton di BBY. Saya beruntung karena letak kosan saya cukup dekat dengan BBY. Sekitar lima belas menit jalan kaki dan sekitar 5 menit naik sepeda. Saya lebih sering datang sendiri, karena saya sering gerah kalau ngajak teman dan usai nonton si teman akan mengeluh, ‘aduh, film apaan sih tadi?’

Eat Drink Man Woman, salah satu film yang pertama-tama saya tonton di BBY

Para penonton memang biasanya nggak banyak. Antara 10-15 orang saja dan seingat saya, itu-itu saja. Karena gratisan ya fasilitasnya alakadarnya. Proyektor, dinding putih dan hamparan tikar. Kalau mau capek duduk tanpa sandaran, bisa nonton sambil baring-baring di lantai. Saya ingat ada sepasang penonton setia (entah suami istri atau kekasih yang selalu datang, yang lelaki adalah lelaki bule dan perempuan orang Indonesia), kalau nonton membawa bantal kecil. Begitu film mau diputar, si cowok akan segera ambil posisi di dekat tiang, pasang bantal dan nonton dengan nyaman di sana kayak di rumah sendiri.

Dr Zhivago, salah satu film 'melelahkan' yang saya bela-belain nonton hingga larut malam

Kadang saya nonton satu sesi saja, karena biasanya film yang sama akan diputar di hari lain dengan jam yang berbeda. Tapi kalau banyak film yang diputar, kadang satu film hanya diputar sekali. Kalau filmnya benar-benar membuat penasaran, saya bela-belain nonton sampai malam. Pernah saya nekad sampai jam 11 malam waktu nonton Dr. Zhivago lalu dilanjutkan sama War & Peace yang masing-masing film durasinya lebih dari dua jam. Melelahkan sekali.

Belakangan, saya semakin jarang nonton di BBY. Karena kesibukan ini itu, juga karena BBY nggak rutin lagi ngadain pemutaran film, entah kenapa. Semakin lama, entah kenapa, saya juga makin merasa nggak nyaman bepergian sendiri. Sampai kemudian saya meninggalkan Jogja. Tentu saja, no place like BBY lagi. Di tempat baru, saya tetap pecandu film. Dan beruntung karena banyak fasilitas untuk akses film-film sekelas yang diputar di BBY (free dunlut, lapak cd bajakan..yang sayangnya ilegal :(), tapi saya tetap sering mengenangkan BBY sebagai salah satu tempat ternyaman buat nonton film bagus.

Kategori:Etcetera Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: