Beranda > Film Korea > A Potrait of Beauty

A Potrait of Beauty

Shin Han-pyong, pelukis utama di Dohwaseo akan segera pensiun. Yang digadang menjadi penggantinya adalah pelukis muda berbakat, Kim Hong-do. Han-pyong menginginkan bahwa putranya yang seharusnya jadi pengganti, Shin Yun-bok. Namun putranya ini tak cukup berbakat dan akhirnya bunuh diri. Han-pyong menyalahkan putrinya, Yun-jeong, sebagai sebab kematian Yun-bok. Yun-jeong yang memang berbakat melukis, kemudian dipaksa untuk menyamar sebagai laki-laki–pada jaman itu, perempuan dilarang melukis–dan belajar melukis di istana bersama Kim Hong-do. Ia pun kemudian dikenal sebagai Hye-won, nama pena dari Shin Yun-bok. Yun-bok adalah murid kesayangan Hong-do karena bakatnya yang mengagumkan.

Shin Yun-jeong yang menyamar sebagai Shin Yun-beok, demi memenuhi ambisi ayahnya untuk jadi pelukis istana

Shin Yun-jeong yang menyamar sebagai Shin Yun-beok, demi memenuhi ambisi ayahnya untuk jadi pelukis istana

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian muncul Kang-mu, seorang penjual cermin. Karena ada tugas melukis ‘kehidupan rakyat biasa’, Yun-bok minta ditemani Kang-mu untuk melihat kehidupan rakyat biasa, yang memang kehidupan sehari-hari Kang-mu.  Mulai dari tukang pandai besi, perempuan penenun, pesta rakyat…tapi yang paling membuat Yun-bok terinspirasi adalah para perempuan yang sedang mandi sambil bersenda gurau di sungai.

Kim Hong-do dan Yun-bok

Kim Hong-do dan Yun-bok

Melukis para perempuan dengan segala sensualitasnya, ia seolah menemukan penyaluran dari jiwa femininnya yang selama ini tersembunyi rapat. Jika selama ini ia melukis lebih banyak dipengaruhi gaya gurunya, setelah kejadian itu ia segera menemukan gayanya sendiri. Ia melihat dua perempuan terkikik-kikik melihat anjing bercinta dan melukisnya, ia pergi ke rumah melihat suasana tarian telanjang yang erotis dan melukisnya…ia menuangkan seksualitas dalam lukisan. Dan tentu saja, hal ini membuat berang para pelukis konservatif hipokrit yang menuduhnya telah membuat gambar-gambar cabul yang merendahkan istana.

Pemandangan yang menginspirasi lukisan Yun-bok

Pemandangan yang menginspirasi lukisan Yun-bok

Kim Hong-do sendiri, yang paham benar nilai seni dalam lukisan muridnya, tak mampu menahan cemburu melihat kedekatan Yun-bok dan Kang-mu. Apalagi ketika kemudian ia tahu kalau Yun-bok ternyata perempuan. Ia pun berusaha untuk memisahkan mereka.

Well, film bertema ‘seni erotis (dan karenanya) kontroversial’ tentu saja bukan tema baru. Saya ingat ada Quills, yang mengangkat kisah tentang penulis ‘cabul’ Marquis de Sade. Cabul atau tidaknya suatu karya seni memang masih menjadi perdebatan, bahkan hingga sekarang (ingat bagaimana bebarapa waktu lalu kita heboh soal definisi pornografi dalam seni). Porno tidak, cabul tidak, memang terkadang sangat relatif. (Tapi saya setuju ketika ada yang mengatakan kalau kecabulan itu seringkali lebih pada otak manusia daripada suatu karya, kalau memang otaknya sudah ngeres, cabul, ya karya biasa saja bisa dicap cabul).

 

Dari segi akting dan alur cerita, film ini sebenarnya biasa saja. Meski antara Yun-bok dan Hong-do terjalin hubungan yang (seharusnya) kuat antara guru dan murid, tapi saya tak melihat hubungan yang kuat itu di antara keduanya. Juga sosok Kang-mu, dia adalah sosok pemuda pecicilan yang biasa didapati di banyak film-film tentang cinta antara ‘rakyat jelata’ dan kaum bangsawan. Tapi dari segi visual, saya cukup dimanjakan dengan gambar-gambarnya yang indah dan warna-warni (adegan erotisnya menurut saya juga lebih bernilai ‘art’ daripada cabul). Saya pikir, judul ‘potrait of beauty’ cukup cocok untuk film ini.

Hubungan romantis Yun-bok & Kang-mu yang membuat Kim Hong-do cemburu

Hubungan romantis Yun-bok & Kang-mu yang membuat Kim Hong-do cemburu

Note:
Film ini juga pernah dibuat versi drama dengan judul ‘The Painter of Wind (2008), yang dibintangi Mon Geun-yeong sebagai Yun-bok dan Park Shi-yeon sebagai Kim Hong-do.

/ Kim Min-sun, Shin Yun-Bok / Shin Yun-Jeong
,  Kim Hong-Do
,  Kang-Mu
,  Sul-Hwa

Sutradara:
Penulis: Han Su-Ryeon, Kee Jung-myeong (novel)
Produser: David Cho
Sinematografi: Park Hee-Ju
Rilis: November, 2008
Durasi: 108 min.
Distributor: CJ Entertainment
Judul Asli: Miindo

Awards:
-Pemutaran di Fantasia Film Festival 2009
– Best Cinematography – 2009 (46th) Daejong Film Awards

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: