Boy

Saya baru nonton film ini semalam dan beberapa adegan di film ini terus terngiang di benak saya.

Boy merupakan film New Zealand (saya tidak terlalu familiar dengan film New Zealand, kecuali The Piano-nya Jane Champion) dan bagi saya, itu adalah salah satu hal yang membuat saya tertarik untuk nonton film ini. Lebih dari itu, tokoh-tokoh film ini adalah orang-orang Maori, suku asli di negeri itu yang saya pikir jarang diekspos dalam film. (The Piano, meski berlatar New Zealand tapi menceritakan tentang orang-orang kulit putih).

boy

Film ini bersetting di sebuah kota kecil di New Zealand, Waihau Bay tahun 1984. Adalah Boy, seorang bocah lelaki 11 tahun yang menjadi tokoh sentral di film ini. Dimulai dengan ketika ia maju ke depan kelas dan disuruh menceritakan siapa dirinya. Dan penonton pun diajak mengenal lebih jauh siapa Boy. Bahwa ia mengidolakan Michael Jackson. Bahwa ia tinggal bersama neneknya, kambingnya yang bernama Leaf, empat orang sepupu dan seorang adik lelaki bernama Rocky, yang merasa dirinya punya kekuatan gaib. Ia juga punya beberapa teman. Sementara ibunya sudah meninggal dan ayahnya, Alamein, pergi entah kemana dan ia imajinasikan sebagai seorang yang hebat. Padahal, dalam kenyataan ayahnya adalah seorang berandalan.

boy6

Ketika neneknya pergi ke kota karena ada kerabat yang meninggal, Boy, sebagai anak tertua di rumah, bertanggung jawab untuk mengurus adik dan sepupu-sepupunya, termasuk membuatkan makan malam. Semuanya baik-baik saja sampai suatu malam muncul ayahnya bersama dua teman berandalnya. Boy senang bukan main atas kedatangan ayahnya, meski ia tidak mengenalnya dengan baik. Ia bisa memamerkan ayahnya pada teman-temannya.

boy9

Tapi ayahnya memang hanya seorang berandalan. Ia datang bukan untuk menengok anaknya, tapi karena butuh uang yang akan dimintanya dari sang Nenek. Ia pernah menyimpan uang di lapangan rumput dan berusaha menggalinya.

Di antara waktu-waktu menunggu itulah Boy dan Rocky menghabiskan waktu bersama ayahnya. Dan akhirnya Boy sadar, ayahnya bukanlah lelaki hebat seperti yang ia bayangkan.

Rocky, my fave character :)

Rocky, my fave character🙂

Ini adalah film yang membuat saya tertawa sekaligus tak kuasa menahan air mata. Karena diceritakan dari sudut padang seorang bocah yang beranjak dewasa, beberapa adegan benar-benar sangat lucu, tapi juga mengharukan.

Two thumbs up untuk castingnya. James Rolleston yang jadi Boy bisa memainkan karakter bocah 11 tahun yang sedang dalam masa pencarian jati diri, butuh perhatian, tapi juga ditempa keadaan yang membuatnya dewasa. Dan karakter Rocky? Hahaha, saya senang sekali dengan karakter bocah ini. Di samping itu, musiknya juga begitu riang dan enak didengar.

Well, one of great movie i’ve ever seen🙂

Cast:
James Rolleston, Boy
Te Aho Aho Eketone-Whitu, Rocky
Taika Waititi, Alamein

Sutradara: Taika Waititi
Penulis : Taika Waititi
Musik : The Phoenix Foundation
Sinematografi : Adam Clark
Rilis: New Zealand, Maret 2010
Durasi : 88 menit

Awards:
Nominasi untuk kategori World Cinema-Dramatic di Sundance FF 2010
Berlin International FF untuk kategori Best Featur Film Generation K Plus 2010

Notes:

Adegan yang membuat saya terbahak adalah ketika Boy dan ayahnya bermobil dan bertemu Rocky di jalan. Lalu ayahnya mengajaknya jalan tapi Rocky cuma menggendikan bahu dan ayahnya menggumam tak tahu bagaimana bicara dengan Rocky. Lalu Boy yang mengajak dengan logatnya yang lucu dan Rocky baru bereaksi😀

Rocky yang menggemaskan

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

%d blogger menyukai ini: