Bedevilled

Februari 13, 2018 Tinggalkan komentar

Karena judul dan posternya yang agak syerem, cukup lama saya membiarkan file film ini tersimpan di hard disk saya tanpa terlalu berminat untuk menontonnya. Sebenarnya satu-satunya hal yang membuat saya agak penasaran adalah bahwa saya baca kalau film ini banyak dapat award. Baru belakangan, ketika stok film yang ingin ditonton terbatas, saya akhirnya memutuskan untuk menonton.

Bedevilled

Film dibuka dengan adegan berlatar Seoul. Hye-won, adalah seorang perempuan karier yang bekerja di bank. Ia berkarakter egois dan wajahnya terlihat lebih sering cemberut. Suatu hari, ia diminta polisi untuk jadi saksi sebuah aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh sekelompok preman. Tak ingin repot-repot berurusan dengan polisi dan si preman yang mengintimidasinya, ia memilih tak ambil peduli. Meski begitu, hal seperti itu sebenarnya membuatnya tak bahagia. Keegoisannya justru membuatnya kesal pada diri sendiri.

Bedevilled3

Setelah membuat masalah di tempat kerjanya, ia diberi jatah liburan. Hye-won memutuskan untuk pergi ke pulau, tempat dulu kakeknya tinggal. Pulau itu kecil dan terpencil dan hanya dihuni beberapa orang saja. Di sana, sudah menunggu sahabat masa kecilnya, Bok-nam. Bok-nam adalah perempuan desa sederhana yang harus bekerja keras setiap hari. Suaminya seorang lelaki kasar yang seenaknya main pukul dan berselingkuh dengan pelacur di depan matanya. Tidak hanya itu, Bok-nam juga kadang harus melayani nafsu adik iparnya yang juga sama kasar dan bejatnya dengan suaminya. Meski kekerasan itu begitu jelas, tapi tak ada yang membela Bok-nam. Mertuanya dan para perempuan yang merupakan bibi-bibinya, alih-alih membela Bok-nam, justru sering menyalahkannya. Putrinya, Yeon-hee, bahkan tak boleh didaftarkan ke sekolah karena katanya, anak perempuan tak ada gunanya sekolah.

Bedevilled5

Kedatangan Hye-won memberikan kebahagiaan kecil bagi Bok-nam. Ia berharap Hye-won mau membawanya ke Seoul. Kenyataannya, Hye-won terlalu egois dan pengecut. Ia justru mencoba menutup mata melihat tragedi yang menimpa Bok-nam. Karenanya, ketika keadaan kemudian menjadi tak tertahankan lagi, Hye-won pun ‘menggila.’

Bedevilled7

Saya menonton film ini benar-benar dengan kepala ‘kosong’ dan tanpa ekspektasi apa-apa. Satu-satunya yang saya tahu dari film ini bahwa genrenya thriller, sehingga saya harus siap-siap tutup mata kalau ada adegan ‘mengerikan.’ Sejak film dibuka, sudah mulai merasa bahwa film ini berbeda. Bahkan pemainnya saja bukan pemain film terkenal (satu-satunya yang saya familiar bagi saya cuma Bae Seung-woo, itu pun di sini perannya cuma supporting role). Tadinya saya pikir ini film akan berlatar dunia kekerasan di kota, tapi ketika kemudian beralih ke pulau, saya benar-benar mulai sulit memprediksinya. Apalagi ketika kemudian tokoh utamanya berlaih dari sosok Hye-won ke Bok-nam.

Bedevilled8

Kekerasan terhadap perempuan. Bisa dibilang, itulah tema besar film ini. Tema yang menurut saya, cukup jarang diangkat dalam film Korea, dan karenanya, menjadi nilai tersendiri dari film ini. Latar film yang mengambil kehidupan di pulau plus pola hidup (berpikir) yang cenderung masih kolot, juga membuat film ini terasa berbeda. Kebanyakan film-film Korea berlatar kota besar, atau kalau pedeseaan pun, biasanya sudah cukup modern. Dan karenanya, gambaran semacam itulah yang saya pahami tentang Korea. Modern. Dan menonton film ini membuat saya berpikir kalau situasi seperti gambaran di film ini, walaupun nggak seekstrem itu, mungkin memang masih ada. Karenanya, menonton film ini, meski beberapa –tentunya karena memang adalah sebuah film bergenre thriller-dibuat overdramatic, tapi tema besarnya tetap terasa sangat relevan. Dan saya pun paham kenapa film ini kemudian tercatat mendapat banyak award. Ada banyak kesan usai menontonnya. Kekerasan terhadap perempuan, nggak di kota besar yang modern seperti Seoul atau di pulau terpencil, tetap ada. Dan bahwa kekerasan semacam itu kadang ‘didukung’ oleh para perempuan sendiri (mertua dan bibi-bibi Boknam serta Hye-won). Hal lainnya, adalah keegoisan Hye-won yang terasa familiar. Sikapnya menyebalkan, tapi tidakkah kita kadang juga bersikap seperti dirinya? Nggak ingin repot dan mencari aman untuk diri sendiri? Dan bagaimana hal-hal semacam itu, justru memicu ‘kegilaan’ pada orang-orang seperti Bok-nam. Ia ‘menggila’ karena diabaikan oleh sekelilingnya. Di sekitar kita, mungkin ada orang-orang seperti Bok-nam dan mungkin kita seringkali bersikap seperti Hye-won dan karenanya, mengambil peran dalam proses kegilaan itu.

Bedevilled6

Film yang bagus. Meski ceritanya cukup ‘keras’ tapi sinematografinya enak dilihat dengan suasana kehidupan pulau yang cukup terlihat permai (apakah ada maksud juga sang sutradara mengambil latar yang terasa kontras dengan cerita film in?). Aktor-aktornya meski bukan aktor terkenal, tapi bermain dengan bagus, terutama aktris Seo Young-hee yang jadi Bok-nam. Plotnya tak terduga dan ceritanya berkualitas. Satu-satunya hal yang membuat saya agak kurang mengerti adalah kenapa sikap si Nenek mertua dan para bibi yang sama sekali tak punya solidaritas pada Bok-nam seabgai sesama perempuan. Selain itu, pada sekitar 1/3 bagian menjelang akhir, saya harus berkali-kali menutup mata karena adegan-adegan kekerasannya diperlihatkan dengan frontal. Overall, tetap bagus.

Cast:
Seo Young-hee – Kim Bok-nam
Hwang Geum-hee – Hye-won
Park Jung-shik – Man-jong (suaminya Bok-nam)
Baek Soo-ryun- Nenek
Lee Ji-eun – Yeon-hee
Je-min – pelacur
– Chul-jong
Jo Duk-je – polisi
Yoo Soon-chul – kakek tua

Judul: Bedevilled/ Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal
Sutradara: Jang Cheol-soo
Penulis: Choi Kwang-young
Sinematografi: Ki Ki-tae
Rilis: Cannes , Mei 2010
Durasi: 115 menit
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Film Festival:
– Cannes FF 2010 : International Critics Week, World Premiere
– Puchon International Fantastic FF 2010
– Sitges FF 2010
– Udine Far East FF 2011
etc

Awards:

– Puchon International Fantastic FF 2010: Best Actress (Seo Yeong-hee), Best of Puchon, Fujifilm Eterna Award
– Daejong Film Awards 2010: Best New Director
– Critics Choice Awards 2010: Best Actress, Best New Director
– Korean FIlm Awards 2010: Best Actress, Best New Director
– Director’s Cut Awards 2010: Best Actress, Best New Director
– KOFRA Film Awards 2010: Best Actress,
etc

Iklan
Kategori:Uncategorized

Deranged

Februari 12, 2018 Tinggalkan komentar

Jae-hyuk () bekerja di sebuah perusahaan obat. Meski sebenarnya memiliki kemampuan, tapi ia hanya pegawai biasa dengan kehidupan yang pas-pasan. Adiknya, Jae-pil adalah seorang detektif di kepolisian. Jae-pil kecanduan bermain saham, hal yang nyaris membuatnya bangkrut. Akibat hal ini, hubungannya dengan sang abang memburuk. Kekasihnya Yeon-joo () adalah junior Jae-hyuk, sama-sama bekerja sebagai ahli obat.

Deranged

 

Suatu hari, tiba-tiba terjadi kejadian yang menghebohkan: orang-orang meninggal disebabkan penyakit misterius. Usut punya usut, ternyata penyakit itu disebabkan oleh parasit belalang yang dikenal dengan nama Yeongashi. Karena kejadian seperti itu adalah hal yang langka, penyelidikan pun dilakukan. Dan ternyata, penyakit itu memang sengaja dibuat. Tujuannya: bisnis obat!

Deranged4

 

Sebuah film dengan tema yang cukup menarik. Meski isunya sendiri bukan hal yang baru, tapi sepengetahuan saya, belum banyak diangkat dalam cerita film. Saya sendiri cukup familiar mendengar teori konspirasi kalau sebuah penyakit kadang sengaja diciptakan karena politik obat. Saya nggak tahu, apa memang halhal seperti itu benar-benar terjadi. Tapi kemungkinan besar memang ada. Dan sungguh biadab orang-orang yang melakukan konspirasi semacam itu hanya demi uang.

Deranged3

Film sendiri dikemas dengan cukup baik. Di awal-awal, karena saya nonton tanpa baca sinopsis terlebih dahulu, alurnya cukup tak terduga. Tadinya saya pikir ini film tentang kelurga, karena penggambaran latar belakang tokoh ceritanya yang tidak to the point ke cerita utama. Hanya saja, setelah mulai masuk ke bagian ‘insiden’ nya, saya merasa kalau ceritanya justru sangat predictable sehingga rasanya tak ada kejutan lagi. Dan meski film ini memiliki tokoh utama, tapi kok saya merasa peran mereka nggak penting-penting amat ya dalam membangun cerita? Karena temanya agak mirip, saya jadi teringat film The Host yang menurut saya, jauh lebih solid dan greget terutama dari segi pengkarakteran. Karenanya, saya agak heran juga ketika baca di internet kalau film ini sempat jadi box office di Korea sono. Yah, seru sih, tapi rasanya juga nggak seru-seru amat.

Cast:
– Jae-hyuk
Moon Jeong-Hee – Gyung-Soon
Kim Dong-Wan – Jae-Pil
– Yeon-Joo
Kang Shin-Il – Doctor Hwang
Jo Deok-Hyeon – Tae-Won
Jung In-Gi – manajer sales office
Lee Hyeong-Cheol – Jason Kim

JuduL Deranged / Yeongashi (연가시)
Sutradara: Park Jung-Woo
Penulis: Park Jung-Woo, Kim Kyoung-Hoon, Jo Dong-In
Produser: Kim Sang-Oh, Oh Sung-Il, Baek Kyung-Sook, Kang Moon-Hwan
Sinematografi: Ki Se-Hoon
Rilis: 5 Juli 2012
Durasi: 109 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
Blue Dragon Film Awards 2012:
– Best Supporting Actress (Moon Jeong-Hee)

BaekSang Arts Awards 2013:
– Most Popular Actor (Kim Dong-Wan)

Land of Mine

Januari 29, 2018 Tinggalkan komentar

Denmark pasca berakhirnya perang. Jerman kalah, dan tentara mereka ditarik mundur. Pihak Denmark yang merasa gembira dengan kekalahan Jerman, melampiaskan kebenciannya pada tentara Jerman yang masih tersisa. Beberapa dari sisa pasukan ini, kemudian ditugaskan untuk membersihkan ranjau yang ditanam oleh pihak Jerman sebelumnya. Salah satu pasukan dipimpin oleh Rasmussen. Pasukan ini berisi beberapa tentara Jerman yang masih sangat belia. Mereka ditugaskan membersihkan ranjau di sebuah pedesaan sunyi di tepi pantai. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang minim, para tentara belia ini harus melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya.

Land of Mine1

Land of Mine2

Sebagai tentara musuh, pasukan ini diperlakukan semena-mena. Bekerja keras dan tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. Tidur di gubuk seadanya dan dibiarkan kelaparan. Rasmussen awalnya, karena kebenciannya, berkeras hati membiarkan bocah-bocah belia ini menderita. Tapi semakin ke sini, nuraninya mulai terketuk. Tentara-tentara belia itu, tak lebih dari bocah-bocah lugu yang dipaksa oleh keadaan untuk terjun ke medan perang. Rasmussen pun mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Tapi tentu saja, sikapnya ini justru mendapat hujatan dari rekan-rekannya. Selain itu, hubungan yang melibatkan emosi juga mulai mengusiknya. Ketika ia melihat bocah-bocah ini satu per satu menjadi korban ketika menjinakkan ranjau, Rasmussen juga ikut menderita.

Land of Mine4

Land of Mine3

Menurut saya, ini film dengan cerita yang sangat bagus dan orisinal. Film tentang masa-masa perang, sudah banyak dibuat, tapi yang menyajikan cerita semacam ini, ya rasanya baru film ini. Pemilihan judulnya sendiri, menurut saya juga sangat brilian. “Land of Mine” yang selain mewakili latar cerita film yang memang mengetengahkan tentang ‘mine’ (ranjau) juga bisa dimaknai sebagai klaim kepemilikan yang kemudian menjadi ruh cerita film ini. Yah, karena klaim kepemilikan semacam itulah sebenarnya kejahatan kemanusiaan dan perang muncul. Kekalahan satu pihak dan berakhirnya perang, kenyataannya tak menjadikan dunia lebih baik. Orang saling membenci dan membunuh hanya karena merasa yang paling berhak menjadi pemilik. Sad.
Untunglah, film ini disajikan dengan begitu hangat. Recommended!

Cast:
Roland Møller as Sgt. Carl Leopold Rasmussen
Mikkel Boe Følsgaard – Lieutenant Ebbe Jensen
Laura Bro – Karin
Louis Hofmann – Sebastian Schumann
Joel Basman – Helmut Morbach
Oskar Bökelmann – Ludwig Haffke
Emil Belton – Ernst Lessner
Oskar Belton – Werner Lessner
Leon Seidel – Wilhelm LeBern
Karl Alexander Seider – Manfred
Maximilian Beck – August Kluger
August Carter – Rodolf Selke
Tim Bülow – Hermann Marklein
Alexander Rasch – Friedrich Schnurr
Julius Kochinke – Johann Wolff
Zoe Zandvliet – Elizabeth

Sutradara/Screenplay: Martin Zandvliet
Produser: Malte Grunert, Mikael Chr. Rieks
Musik: Sune Martin
Sinematografi: Camilla Hjelm Knudsen
Editor: Per Sandholt, Molly Malene Stensgaard
Distributor: Nordisk Film
Rilis: 10 September 2015 (TIFF)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Demark/Denmark-Jerman

Awards:
– Gijón International Film Festival 2015 : Audience Award
– Hamburg Film Festival 2015: Nominasi Art Cinema Award
– Tokyo International Film Festival 2015: NominasiTokyo Grand Prix , Best Actor Award (Roland Møller & Louis Hofmann )
– Toronto International Film Festival 2015: Nominasi Platform Prize
– European Film Awards 2016: Best Cinematographer, Best Costume Design, Best Hair and Make-up
– Hong Kong International Film Festival 2016: SIGNIS Awards
– Rotterdam International Film Festival 2016: Warsteiner Audience Award
– Academy Awards 2017: Nominasi Best Foreign Language Film

Kategori:Uncategorized

The Salesman

Januari 24, 2018 Tinggalkan komentar

Film dibuka dengan adegan kechaosan yang terjadi di sebuah rumah hunian karena si pemilik hendak meruntuhkannya. Para penghuni pun mau tak mau harus segera Sepasang suami istri muda, Emad dan Rana adalah salah satunya. Emad adalah guru seni yang hangat dan dicintai murid-muridnya. Di malam hari, ia bermain teater bersama Rana. Tanpa terlalu banyak mengumbar adegan sok romantis, kita tahu bahwa keduanya adalah pasangan harmonis yang saling mencintai satu sama lain.

The Salesman-4

Berdasarkan rekomendasi seorang temannya di teater, Emad dan Rana kemudian pindah di sebuah apartemen sederhana yang baru saja ditinggal pergi penghuni sebelumnya. Penghuni sebelumnya ini, masih meninggalkan barang-barangnya di apartemen dan susah sekali dihubungi. Lalu suatu hari, ketika Rana sedang di rumah sendirian, seseorang masuk dan memukulnya hingga kepalanya terluka cukup parah. Usut punya usut, diketahui kalau penghuni sebelumnya adalah seorang perempuan ‘nggak bener’ dan kemungkinan orang yang menyerang Rana adalah salah satu orang langganannya. Mengira bahwa Rana adalah si penghuni lama.

The Salesman-1

Emad merasa sangat marah mengetahui hal ini. Apalagi kemudian, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Rana. Rana yang mandiri dan ceria berubah menjadi sosok penakut dan pemurung. Harga diri Emad sebagai seorang suami terluka. Apalagi kemudian Rana menolak untuk melaporkan kejadian itu ke polisi karena enggan mengikuti prosedurnya yang ribet belum lagi kinerja kepolisian yang meragukan (terdengar familiar!). Emad pun kemudian diam-diam berusaha mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penyerangan itu. Tapi ketika akhirnya pun ia berhasil menemukannya, ia tak lantas mudah membalaskan dendamnya. Alih-alih, keadaan justru menjadi rumit.

The Salesman-5

Saya selalu suka dengan film-film non Hollywood, karena punya orisinalitas ceritanya sendiri. Dan salah satu genre film yang saya sukai adalah film-film Timur Tengah, termasuk Iran. Apalagi bisa dibilang, untuk film-film Timur Tengah, sinema Iran memang yang paling menonjol bahkan untuk kancah internasional pun, menurut saya mereka adalah salah satu negara dengan tradisi perfilman terbaik. Di tengah ideologi negara mereka yang terkenal puritan, mereka tetap produktif menelurkan film-film berkualitas yang terus wara-wiri di kancah festival film atau ajang penghargaan internasional. Bagi penggemar film, siapa yang tak kenal nama seperti Majid Majidi, Bahman Gobadi, Jafar Panahi…

The Salesman-3

Kekuatan film-film Iran menurut saya terletak pada cerita dan penyajian film yang sangat realistis dengan plot-plot yang nyaris tak terduga dan kemudian akan meninggalkan kesan mendalam serta perenungan setelah menontonnya. Pun dengan film ini. Semuanya disajikan dengan sangat realisitis dan bisa dibilang ‘sederhana’ tapi terasa begitu dalam dan mengena. Dialognya, adegannya, eksekusi-eksekusinya…. Sangat pantas kalau film ini kemudian mendapatkan penghargaan sebagai Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2017. Bahkan menurut saya jauh lebih bagus daripada film pemenang Oscar-nya sendiri (yang tahun ini jatuh pada film Moonlight, yang menurut saya biasa-biasa saja). Good movie!

Cast:
Shahab Hosseini – Emad
Taraneh Alidoosti – Rana
Babak Karimi – Babak
Farid Sajadhosseini – The Man
Mina Sadati – Sanam
Maral Bani Adam – Kati
Mehdi Koushki – Siavash
Emad Emami – Ali
Shirin Aghakashi – Esmat
Mojtaba Pirzadeh – Majid
Sahra Asadollahi – Mojgan
Ehteram Boroumand – Mrs. Shahnazari
Sam Valipour – Sadra

Sutradara/Penulis: Asghar Farhadi
Produser: Alexandre Mallet-Guy, Asghar Farhadi
Musik: Sattar Oraki
Sinematografi: Hossein Jafarian
Editor: Hayedeh Safiyari
Produksi: Memento Films Production, Asghar Farhadi Production, Arte France Cinéma
Distributor: Filmiran (Iran), Memento Films Distribution (Perancis)
Rilis: 21 Mei 2016 (Cannes)
Durasi: 125 menit
Negara/Bahasa: Iran/ Persia

Awards:

Academy Awards 2017 : Best Foreign Language Film
Asian Film Awards 2017: Best Screenplay
Cannes Film Festival 2016 : Best Screenplay , Best Actor (Shahab Hosseini)
Chicago International Film Festival 2016: Silver Hugo Special Jury Prize (Asghar Farhadi )
Critics’ Choice Movie Awards 2016 : Nominasi Best Foreign Language Film
Golden Globe Awards 2017 : Nominasi Best Foreign Language Film
etc,

Kategori:Uncategorized

Drama-Drama Korea Yang Tak Sanggup Saya Selesaikan

Januari 21, 2018 Tinggalkan komentar

Belakangan, saya cenderung menjadi begitu pemilih ketika hendak menonton drama Korea. Dulu-dulu, biasanya saya memutuskan untuk mengikuti drama karena pemainnya saya suka atau karena popularitasnya. Tapi Setelah munculnya drama-drama berkualitas ala , , , Secret Forest atau drama-drama romcom bagus TvN seperti , Serial Reply, .. agaknya standar saya dalam menilai bagus tidaknya sebuah drama benar-benar berubah. Saya jadi malas menonton drama yang ceritanya terlalu klise, plotnya terlalu mudah ditebak atau ceritanya ‘nggak penting’. Sayangnya,munculnya drama-drama bagus ini hanya sesekali saja. Dan ketika saya merasa ‘rindu’ ingin nonton drama Korea, saya jadi agak bingung untuk memutuskan drama mana yang akan saya tonton. Setiap kali ada kabar drama yang akan segera rilis dengan jajaran cast yang menjanjikan dan premise cerita yang terdengar menarik, saya menjadi antusias dan berpikir, bahwa drama tersebut akan jadi watch list saya. Tapi ternyata ketika dramanya sendiri benar-benar mulai tayang dan ternyata respons netizen cenderung negatif, antusiasme saya langsung luruh dan malas mengikuti lagi. Beberapa drama, saya tontoon karena saya baca reviewnya yang positif, tapi ternyata setelah saya coba tonton, tak memenuhi krirteria menarik bagi saya. Berikut adalah beberapa drama yang coba saya tonton, tapi kemudian saya membuat saya ‘menyerah’ di tengah jalan:

1. You’re All Surrounded

ure all surrounded
Drama ini dipenuhi jajaran cast yang cukup menjanjikan: , , , , . Berdasarkan ulasan-ulasan yang ada, drama ini juga mendapat banyak apresiasi. Saya mengikuti episode-episode awal dan yah langsung bisa menebak jalan ceritanya yang memang mudah ditebak. Meski mengambil latar dunia kepolisian, tapi main story-nya tak jauh-jauh dari cinta.  Karakter-karakternya juga just so-so. Dan saya pun memutuskan berhenti menonton.

2. Let’s Fight Ghost

LFG4
Sejak awal, sebenarnya tak berminat mengikuti drama ini. Saya tak terlalu suka cerita fantasi. Cast-nya juga tak saya sukai. memang cakep, tapi kemampuan aktingnya, begitu-begitu saja. Dia sebagai aktor pendukung, saya bisa menerima, tapi sebagai lead actor, nanti dulu. Di tambah pasangannya adalah . Saya akui dia adalah aktris muda berbakat, tapi saya juga merasa dia terlalu ‘muda’ untuk jadi lead sebuah drama 16 episode, ditambah lagi bahwa di sini dia akan terlibat romance dengan cowok yang sudah dewasa. Aneh saja.

LFG3

Satu-satunya yang membuat saya pensaran justru adalah cast pendukungnya, , yang katanya main bagus di sini. Tapi yah, bagaimanapun cast pendukung tetaplah cast pendukung. Di drama, tak terlalu banyak yang diharapkan. Sebagus apapun akting mereka, peran mereka dalam membangun cerita tak terlalu penting. Di samping itu, cerita drama ini sendiri tidak jelas arahnya. Tidak ada klimaksnya. Dari episode ke episode ceritanya seolah tak kemana-mana. Menghabiskan waktu dengan menonton 16 episode benar-benar seperti hanya buang waktu dan energi.

3. Moon Lovers

Moon Lovers3
Ketika awal-awal pembuatan drama ini, melihat jajaran castnya yang terdiri dari 7 cowok-cowok tampan, saya pun mencatatnya dalam daftar untuk ditonton. Meski kemudian saya sedikit underestimate ketika membaca bahwa cast utama ceweknya adalah . cukup cantik dan bisa berakting, tapi tidak selalu ‘berhasil’ dan rasanya juga kurang karismatis sebagai seorang putri yang dikeliling begitu banyak cowok cakep. Meski begitu, saya tetap berekspektasi bahwa ini akan jadi drama yang neghits, apalagi promonya juga cukup santer. Sayangnya, begitu drama ini mulai tayang, saya langsung kehilangan selera ketika membaca ulasan tentang drama ini yang dianggap mengecewakan.

Meski begitu, demi mengobati rasa penasaran (terutama karena ), saya tetap coba-coba nonton dan langsung menyerah di episode pertama. Secara umum, akting cast utamanya tidak buruk-buruk amat (apalagi dan ), hanya saja seara keseluruhan, drama ini seperti digarap dengan asal-asalan. Mungkin bermaksud ‘fans service’ karena mengetengahkan aktor-aktor berwajah pretty boy populer, pengambilan gambar dalam drama ini sibuk dengan close up-close up yang justru membuat drama ini terasa murahan. Demikian juga dengan kualiatas gambarnya.

4. The Best Hits

TBH4
Meski tak bisa dibilang ngefans sama , tapi saya cukup memfavoritkan aktor satu ini. Wajahnya lovable dan aktingnya juga cukup solid. Selain itu, ada juga nama besar seperti dan juga aktris muda yang aktingnya tak perlu diragukan lagi (pertama kali saya nonton akting ketika dia masih aktris cilik di film dimana dia main dengan bagus). Ditambah lagi, kemudian saya membaca reviewnya yang  umumnya positif. Meski ceritanya dianggap just so-so, tapi drama ini disebut-sebut sangat menghibur karena memang genrenya yang komedi. Saya pun tambah penasaran. Di awal-awal episode, saya cukup menikmati drama ini. main bagus seperti biasa. Demikian juga , dan (juga aktor yang jadi roomatenya ). Unsur komediknya, meski tak sampai membuat terkekeh-kekeh, tapi cukup dapat.

Sayang, semakin ke sini, drama ini kemudian jadi lebih fokus pada cerita romance-nya yang sangat-sangat biasa. Saya juga merasa bahwa secara keseluruhan drama ini alurnya sangat lambat. yang ‘terjebak’ dalam cinta sejatinya pada Bo-ra yang menurut saya annoying, yang terlalu naif dengan mimpinya dan perjalanan waktu yang rasanya tak bermakna apa-apa. Dan saya pun menyerah.

5. Go Back Spouse


Mirip seperti ,   adalah juga aktris lovable dan hampir selalu berakting bagus. Pasangannya, , juga cukup potensial. Review drama ini juga cenderung positif meski ratingnya konon tak terlalu mengesankan (di bawa 10%). Tapi ketika saya mencoba episode pertamanya, entah kenapa saya tak terlalu tertarik untuk melanjutkan menonton lagi. Secara umum dramanya bagus.   dan bermain bagus. Ceritianya meski agak berbau fantasi tapi juga cukup realistis. Tapi jalan ceritanya sejak awal sudah terasa predictable dan karakter Sohn Ho-jun di awal-awal membuat saya kurang simpatik.

6. Six Flying Dragons
Saya membaca bahwa drama ini memiliki banyak hal bagus. Castnya sangat solid (, , , , , ) dan ceritanya juga disebut sangat bagus. Saya sudah berhasil mendapat kopian dramanya dan tersimpan di hard disk saya. Berkali-kali saya berpikir untuk menontonnya, tapi setiap kali saya putar episode pertama, setelah beberapa menit berlalu, saya memutuskan untuk menyerah. Membayangkan bahwa saya harus menghabiskan waktu mengikuti 50 episode langsung membuat saya merasa enggan.

Dan meski jajaran cast-nya adalah aktor yang cukup saya favoritin (terutama , dan ), tapi bintang utamanya bukanlah aktor favorit saya: dan .  adalah aktor yang bagus dan dulu sebenarnya saya cukup ‘suka’ sama dia, tapi nggak tahu kenapa, belakangan saya justru malas melihat aktingnya. Sementara , saya selalu kecewa dengan aktignya dan meski di drama ini konon dia sudah mulai menunjukkan akting yang bagus, saya tetap sulit untuk menyukainya.

7. Healer

healer
Sama seperti SFD, saya juga menndengar banyak hal bagus tentang drama ini. Bahkan di situs dramabeans yang biasa mengulas drama-drama Korea, reviewnya sangat positif. Tapi sama juga seperti SFD, saya berkali-kali berusaha untuk mulai menontonnya dan selalu tak berhasil ‘mengikat’ hati saya untuk meneruskan menonton. Saya suka , tapi saya lebih memilih menonton ketika ia main film daripada drama. Di sisi lain, saya tak terlalu suka . Saya dengar dia aktor yang cukup bagus, dan juga banyak dipuja-puji karena wajahnya yang memang ganteng. Tapi drama-drama yang dibintanginya secara kualitas biasa-biasa saja dan saya tak pernah tertarik untuk menonton. Dan , meski aktingnya lumayan, tapi juga tak bukan aktris favorit.

8. W
Sempat berpikir untuk menonton karena dan ketika membaca premis ceritanya yang terdengar unik: tokoh yang keluar dari komik. Tapi kemudian saya membaca review yang beragam. Banyak yang mengkritik aktingnya yang katanya overacting. Saya agak gusar juga. Masa sih? kan aktris yang sudah cukup matang dengan film-film berkualitas. Dan ia juga salah satu alasan yang membuat saya ingin menonton drama ini. Sementara , meski aktingnya cukup bagus, tapi saya tidak pernah bisa menyukainya lebih karena alasan subyektif: saya nggak suka wajahnya yang terlalu cantik.

w2

Meski begitu, saya tetap menyempatkan diri menonton. Kali saja saya berubah pikiran dan jatuh cinta pada karakternya. Tapi ternyata, benar komentar netizen tentang akting . Aktingnya terlihat tidak natural dan terlalu dipaksakan. Sementara , karena dia keluar dari komik, digambarkan sangat sempurna. Dan saya selalu benci dengan karakter yang terlalu sempurna. Dan begitulah saya pun menjadi tak berminat menontonnya.

9. Angry Mom


Saya penasaran sama drama ini ketika baca sinopsisnya yang menyebutkan tentang hubungan ibu-anak, alih-alih tentang romance seperti kebanyakan drama Korea. Reviewnya juga bagus dan castnya juga menarik: Kim Hee-sun, , . Saya pun mencoba menonton episode pertamanya. Satu hal yang sering saya keluhkan ketika nonton drama Korea adalah make upnya yang kadang terlihat tidak alami atau terlalu cantik untuk karakter yang seharusnya orang biasa saja. Dan itu juga yang saya rasakan ketika melihat sosok ‘Ibu’ yang diperankan Kim Hee-sun. Ia digambarkan sebagai perempuan ibu rumah tangga biasanya yang bahkan harus bekerja serabutan kesana kemari. Dan meski make upnya dibuat sedemikian rupa, tapi menurut saya justru terlihat tidak alami. Karakternya juga agak terlalu sinetron sehingga terasa melelahkan: istri, menantu dan ibu yang tertindas!

10. Mrs. Temper NamjungTki

mrs temper namjumki
Saya suka . Akting dan pilihan dramanya lumayan. Ditambahkan kemudian review yang bagus tentang drama ini. Kedengarannya sih ceritanya nggak mainstream. Selain itu, cast cowoknya, , juga lumayan. Saya coba nonton dua episode pertama dan tak sanggup lagi meneruskan. Ceritanya sih sebenarnya kelihatannya bagus, karakter-karakternya juga cukup berbeda dengan drama Korea kebanyakan. Hanya saja ada sesuatu dari drama ini yang membuat saya merasa ‘lelah’ mengikutinya. Entah plot atau cara pengambilan gambarnya.

11. The Good Wife
Saya setuju kalau adalah aktris terbaik dalam perfilman Korea saat ini. Dan seperti kebanyakan aktris/aktor yang mapan di film, jarang dari mereka yang kemudian main di drama. Karenanya, ketika mendengar kalau dia bakal comeback ke drama, saya cukup berekspektasi. Meski saya sebenarnya tak terlalu suka drama bergenre hukum, tapi karena yang main adalah , saya jadi penasaran. Apalagi selain , ada dua nama besar lagi: dan . Sayang, ketika drama ini mulai tayang, ternyata banyak kritik dan ratingnya juga biasa-biasa saja.

the good wife

Karena drama ini adalah remake-nya drama Amerika, alih-alih membuatnya dengan sentuhan yang lebih khas, tapi justru nyaris plek dengan versi aslinya. Saya sendiri belum nonton versi ASnya, tapi demi baca itu, saya jadi ogah-ogahan. Salah satu alasan saya nonton drama Korea karena keunikan yang mereka miliki, yang berbeda dari drama-drama Barat. Menurut saya, drama Korea itu lebih ‘soft’ dan heartwarming dan tentu juga, lebih punya kedekatan secara budaya karena sama-sama Asia. Karenanya, ketika kemudian ada drama Korea yang terlalu mirip sama drama Barat, saya jadi tak tertarik. Meski begitu, saya menyempatkan nonton episode pertama dan beberapa episode berikutnya dengan cara fast forward. Dan yah, menurut saya memang dramanya terkesan kering dan membosankan.

12. Lucky Romance
Setelah dibuat termehek-mehek lewat karakter Jung-hwan di , saya penasaran mengikuti next projetnya . Apalagi, saya tahu kemudian kalau dia itu aktor pendatang baru yang memang bener-bener masih baru. Karenanya, ketika mendengar kalau dia bakal main drama dan tak tanggung-tanggung langsung jadi lead-nya pula, saya penasaran. Tapi ketika mulai diris berita tentang siapa pasangan mainnya dan bakal ditayangkan dimana, saya mulai agak pesimis. , pasangannya di sini, bukanlah aktris yang buruk dan saya sempat menikmati akting dia di beberapa dramanya (yang menurut saya bagus seperti  di bareng ). Tapi belakangan saya mulai merasa bahwa karakter yang dia mainkan tipikal dan aktingnya menjadi terasa annoying. Herannya, hampir semua drama-dramanya selalu jadi hits. Dan yah, mungkin hal ini pula yang menjadi pertimbangan kenapa dipasangkan dengan Ryu si pendatang baru.

Lucky Romance

Sebenarnya, drama ini punya potensi untuk tidak terlalu mainstream karena konon diadaptasi dari webtoon dengan karakter yang realistis tapi konon lagi, pihak produksi drama ini mengubah ceritanya ala karakter mainstream drama Korea: direktur perusahaan. Sementara karakter si cewek ya tak jauh-jauh dari karakter yang sudah ada, si gadis biasa, miskin, pekerja keras… hmmh… sudahlah. Demi mengobati penasaran, saya tetap mencoba untuk menonton drama ini . Tapi minat saya untuk mengikuti hilang setelah melihat 2-3 episode awal. Jalan ceritanya sudah ketebak. bermain bagus sebagai Jo Se-ho, si warkoholic, tapi saya selalu berpikir bahwa dia lebih cocok main di film atau drama-drama bernuansa indie saja (saya percaya bahwa kemampuan akting lebih utama daripada wajah, hanya saja, wajah yang ‘enak dilihat’ juga menjadi nilai tambahan. Bukannyasaya bilang wajah Ryu jelek, hanya saja, ‘terlalu biasa’ untuk aktor drama. Kecuali cerita dan karakternya yang sangat menarik seperti di Reply, rasanya sulit menikmati akting (dan wajah) Ryu di drama yang sampai belasan episode). Sementara seperti yang saya prediksikan, tak jauh beda dengan karakter yang pernah dia mainkan sebelumnya dengan gaya pakaian yang mirip-mirip juga, dan bagi saya tetap terasa annoying (maaf ya bagi penggemar Hwang Jung-eum). Cast pendukung dan cukup memberi warna, tapi ya bagaimanapun cerita 2nd lead di drama mainstream akan begitu-begitu saja.

13. Doctor Stranger

dr stranger
Saya nonton drama ini sebenarnya sebelum saya terlalu ‘pemilih’ dan cenderung nonton ‘apa saja’ asal castnya terkenal dan cukup saya ‘suka’. Dan di drama ini, ada nama . Meski saya nggak pernah menyukainya secara fisik, tapi saya cukup mengapresiasi aktingnya bareng   di . Saya sendiri tak nonton drama ini dengan blank, tanpa baca sinopsis atau review terlebih dahulu. Di episode-episode pertama, yang mengetengahkan kisah cinta di Korea Utara, rasanya masih menarik untuk diikuti. Tapi ketika kemudian tragedi demi tragedi terjadi, dan beralih ke dunia spionase pula, saya mulai garuk-garuk kepala dan kehilangan minat. Ditambah lagi, yang jadi aktris utama di sini, baik karakter maupun aktingnya kurang menarik. Justru , yang justru lebih terlihat mencuri screen plus punya chemistry yang bagus sama si tokoh utama.

13. Empire of Gold

Empire-of-Gold
adalah salah satu aktor yang punya soft spot di hati saya. Menurut saya dia cakep, dan aktingnya juga bagus. yang jadi pasangannya juga terkenal bagus. Di tambah lagi, review drama ini bagus karena konon ceritanya berbobot. Saya sudah mendapatkan full copy dramanya dan siap saya tonton. Tapi setiap kali saya nonton, saya tak pernah bisa melewatkannya lebih dari 10 menit sebelum kemudian menyerah karena merasa kelelahan. Saya nggak suka dengan penyajian dan cara pengambilan gambar drama ini yang terlalu banyak close up dan terlalu banyak omongan panjang lebar.

Confidental Assignment

Januari 14, 2018 Tinggalkan komentar

Im Chul-ryung () dan Cha Ki-sung () adalah anggota tentara pasukan khusus Korea Utara. Suatu hari, Ki-sung serakah tiba-tiba menembaki orang-orang dan melarikan diri ke Korea Selatan untuk membangun bisnis narkoba. Chul-ryung yang istrinya yang juga tentara dan ikut dibunuh Ki-sung, ditugaskan untuk mencari dan menangkap Ki-sung. Untuk misinya ini, ia harus bekerja sama dengan kepolisian Korsel. Detektif yang ditugaskan untuk menjadi partner Chul-ryung adalah Kang Jin-tae ().

Confidental Assignment

Confidental Assignment1

Jin-tae adalah polisi yang tak terlalu punya reputasi, tapi seorang yang bertanggung jawab dan merupakan ayah serta suami yang baik. Di rumahnya, ia juga tinggal bersam adik iparnya, Min-young yang pengangguran. Meski menjadi partner Chul-ryung dan Jin-tae sebenarnya ditugaskan untuk menjadi mata-mata satu sama lain, mengingat hubungan kedua negara yang memang penuh curiga. Namun, semakin ke sini, yang namanya sama-sama orang baik, justru mereka mulai bersimpati satu sama lain. Berdua, mereka pun bahu membahu Ki-sung, si public enemy.

Confidental Assignment4

 

Saya penasaran sama film ini karena beberapa waktu lalu, film ini mendapat penghargaan di acara award di Korea sono untuk kategori Best Supporting Actor (Kim Ju-hyeok). Sementara untuk ceritanya sendiri, sebenarnya saya sudah agak underestimate di awal. Sekilas baca sinopsisnya, tentang agen-agenan yang melibatkan Korut dan Korsel, rasanya menjadi tema yang terlalu sering diangkat dalam perfilman Korea. Selain itu, saya juga nggak terlalu suka dengan . Well, dia aktor dengan akting yang cukup bagus dan pilihan proyeknya juga lumayan. Di masalalu, bahkan saya sempet begitu terpesona dengan penampilannya di drama dan World Within. Hanya saja, belakangan, saya merasa bosan saja melihat dia . Entah karena kemampuan akting dia yang memang seperti itu, atau memang karakter yang dimainkannya cenderung mirip-mirip, tapi rasanya tidak ada sesuatu yang ‘wah’ dalam aktingnya. Pun di film ini. Tak heran jika kemudian yang jadi si jahat Ki-sung justru lebih mencuri scene. Termasuk juga , yang memang selalu impresif dengan karakter antiheronya. Ahya, ada juga yang jadi anggota gangster dan aktingnya cukup membuat saya agak pangling.

Confidental Assignment3

Dari segi cerita, seperti dugaan saya, juga nggak ada yang terlalu baru. Cenderung mengulang dari film dengan tema yang sama. Bahkan menurut saya kualitas ceritanya hanyalah sekelas cerita ‘drama seri’ , dengan penokohan yang cenderung ‘one man show’, dimana tokoh utamanya nyaris ‘sempurna’: cakep, dingin, jago berantem, nggak kenal takut, pembela kebenaran, disukai cewek cantik… Kehadiran sosok Jin-tae bersama keluarganya sedikit memberi warna, tapi juga rasanya terlalu umum. Demikian juga penambahan sosok Min-young (), yang dimainkan sama Yoona, yang menurut saya lebih sebagai pemanis saja. Yah, akting lumayan, tapi menurut saya juga nggak istimewa. Tapi mungkin karena memang popularitasnya sebagai idol, bisa dipahami lah kalau ia tetap dipuja-puji. Sosok Ki-sung juga digambarkan terlalu dua dimensi, tanpa ada latar belakang yang jelas, jahatnya minta ampun. Untunglah, mampu memberi ‘nyawa’ pada karakternya sehingga tetap terasa ‘manusiawi’ lewat ekspresi-ekspresinya.
Bukan film yang mengesankan.

Note:
Aktor meninggal dunia pada 30 Oktober 2017 lalu,  karena kecelakaan mobil, selang beberapa hari setelah ia mendapat penghargaan di film ini. Selain sedang berada di salah satu puncak karirnya, ia juga sedang dalam proses hendak menikahi kekasihnya, aktris.. Lee Yo-young. Hmm, sedih ya… Hidup manusia meman tak ada yang tahu…

Cast:
– Im Chul-ryung
– Kang Jin-tae
– Cha Ki-sung
– istrinya Jin-tae
– Park Min-young
Park Min-ha – Kang Yeon-a (anakanya Jin-tae)
Lee Hae-young – Detektif Pyo
– Park Myung-ho

Judul: Confidental Assignment/ Cooperation/ Gongjo
Sutradara: Kim Sung-hoon
Penulis: Yoon Hyun-ho, Hwang Jo-yoon
Rilis: 18 Januari 2017
Durasi: 125 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/bahasa; Korea Selatan

Award:
The Seoul Awards 2017 :
– Best Supporting Actor ()
– Best Popular Actress ()

Baeksang Art Awards 2017:
– Most Popular Actress ()

The Outlaws

Januari 4, 2018 Tinggalkan komentar

Ma Suk-do () adalah seorang dektektif yang bertugas di sebuah daerah pecinan, yang terkenal sebagai daerah ‘gelap’. Meski begitu, Suk-do adalah detektif terprcaya yang disegani dan mampu pendekatan yang baik dengan tokoh-tokoh yang berkuasa di sana, salah satunya adalah Hwang. Hingga suatu hari, muncul sekelompok gangster yang baru datang dari China di bawah pimpinan Jang Chen () yang brutal.

the outlaws2

Jang Chen, selain brutal juga sulit ditangkap karena tak jelas basisnya. Selain itu, kedatangannya juga membuat risau Hwang. Maka dengan segala daya upaya, Suk-do bersama timnya dan juga mengerahkan bantuan dari masyarakat, berusaha untuk meringkus Jang. Dan ya, untuk endingnya tentu saja bisa ditebak. Tapi yang menjadi seru, karena konon cerita film ini diangkat dari kisah nyata.

the outlaws3

Sebanarnya, saya sudah cukup ‘bosan’ dengan tema gangster pada film Korea. Meski begitu, kadang saya tetap saja penasaran menonton karena kebanyakan film-film seperti ini , meski temanya cukup klise tapi digarap dengan sangat baik. Termasuk film ini. Dan yang membuat saya lebih penasaran karena konon, film ini adalah film dengan produksi yang bisa dibilang jauh dari wah, tapi ternyata kemudian menjadi box office banget (konon film ini menjadi nomor 1 box office Korea selama beberapa minggu, dan bahkan mengalahkan film-film ‘besar’ seperti Ansi Fortress). Sutradaranya bukan sutradara besar dan jajaran pemainnya juga bisa dibilang bukan aktor papan atas dalam perfilman Korea. , , Jo Jae-yun, Jin Seon-kyu… meski cukup populer, tapi bisa dibilang bukan ‘bintang utama’ seperti halnya Song Kang-ho, Sol Kyung-gyu, Hwang Jung-min… Karenanya, ketika kemudian film ini ternyata sukses secara komersil, tentulah karena memang penonton menyukainya.

the outlaws4

the outlaws5

Sekilas, sebenarnya tak ada yang terlalu baru dari film ini. Ceritanya mirip belaka dengan film-film gangster yang sudah-sudah. Bahkan menurut saya, garis besar cerita film ini cukup mirip dengan film Veteran yang dibintangi dan itu: detektif yang tanpa kenal takut dan mengandalkan kerjasama tim berusaha menangkap public enemy. Meski begitu, latar dan penokohan film ini cukup membuatnya berbeda. Pada bagian-bagian awal, saya sempat agak underestimate dan merasa alurnya sedikit membosankan, tapi ternyata semakin ke sini, ceritanya menjadi semakin seru. Plotnya juga terasa utuh dan akting para pemainnya juga terasa solid. Mungkin, sebab itu pulalah film ini kemudian menjadi film yang sukses. Dan mungkin karena memang sejak awal memang film ini dibuat tanpa terlalu berekspektasi, kesannya juga tidak ambisius, tapi justru disitulah film ini menjadi menarik.

Note:
Film ini didasarkan pada kisah nyata, “Heuksapa Incident” yang terjadi pada tahun 2007, dimana para detektif berhasil menangkap 32 orang kriminal yagn merupakan keturunan Korea yang datang dari Yanbian, China.

Cast:
– Ma Suk-do
– Jang Chen
Jo Jae-yun – Hwang
Choi Gwi-hwa – Jeon
Park Ji-hwan – Chang Yi-soo
Ha-joon – Kang Hong-suk
Hong Ki-joon – Park Byung-sik
Heo Dong-won – Oh Dong-gyoon
Jin Seon-kyu – Wei Sung-rak
Kim Sung-kyu – Yang-tae
Cho Jin-woong – cameo Kepala Polisi Regional

Judul: The Outlaws/ Criminal City/ Bum Jeodoshi
Sutradara: Kang Yoon-sung
Penulis: Kang Yoon-sung, Lee Seok-geun
Sinematografi: Joo Sung-rim
Rilis: 3 Oktober 2017
Durasi: 121 menit
Distributor: Megabox Plus M, Kiwi Media Grup
Negara/Bagasa: Korea Selatan/Korea

Awards:
Blue Dragon Awards 2017: Best Supporting Actor (Jin Seon-kyu)

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar