My Little Brother

Oh Soo-kyung, Oh Sung-ho dan Oh Joo-mi adalah tiga kakak beradik, tapi tidak akur satu sama lain. Soo-kyung bekerja sebagai reporter dan secara ekonomi paling mapan, merasa terbebani dengan keluarganya dan memilih hidup individualis. Karakternya jutek dan pahit. Sung-ho, si abang tertua adalah mantan atlet yang bekerja sebagai sopir angkutan anak sekolah dan menjadi bulan-bulanan istrinya karena tak cukup menghasilkan uang. Sementara si bungsu Joo-mi, bekerja serabutan untuk membiayai hidupnya sendiri.

Little Brother

Little Brother (2)

Suatu hari, mereka terpaksa berkumpul karena ayah mereka tiba-tiba meninggal karena kecelakaan. Hubungan mereka dengan sang ayah juga tak bagus dan sudah lama saling tak berkomunikasi. Di masalalu, sang ayah ini lah yang merusak karir atletnya Sung-ho dan juga tak henti menyusahkan Soo-kyung. Karenanya, kematian sang ayah tak meninggalkan kesedihan atau duka lara.

Little Brother (5)

Little Brother (6)

Tapi bersamaan dengan itu muncul bocah berumur 10 tahun, Oh Nak, yang mengaku sebagai adik kandung mereka. Oh Nak yang tak punya siapa-siapa, ingin menggantungkan hidup pada kakak-kakaknya. Tapi ketiga kakak beradik ini merasa kalau keberadaan Oh Nak hanya akan menjadi beban dan saling lempar tanggung jawab. Hingga kemudian Soo-kyung mengalami masalah di kantornya terkait peliputan dan Oh Nak, ternyata bisa membantunya. Perlahan, hubungan kakak beradik ini pun kembali terbangun.

Little Brother (7)

Yah, film yang mengangkat tema keluarga, hubungan kakak-beradik, cukup sering ditampilkan Dan meski sudah berulang, tapi tetap bisa menjadi cerita yang menarik selama disajikan dengan baik. Hal yang menurut saya gagal di film ini. Jika biasanya cerita keluarga menghadirkan perasaan hangat usai menontonnya, nggak tahu kenapa saya justru jengkel dengan film ini. ‘Kehangatan’nya sebenarnya tetap ada, hanya saja, mungkin karena saya sudah terlalu annoying dengan karakter film ini, yakni Soo-kyung yang dimainkan sama aktris yang sebenarnya cukup talented dan populer, Lee Yo-won. Nggak tahu apa karena akting Lee Yo-won yang jutek atau memang karakter Soo-kyung yang memang demikian, menurut saya karakter Soo-kyung ini super menyebalkan. Jutek, pahit, egois… dan rasanya nggak cocok sebagai seorang reporter berita. Karakter lainnya lebih mending dan ‘masuk akal’ dan Oh Nak cukup lovabel.

Little Brother (1)

Di sisi lain, cerita film ini menurut saya juga agak-agak ‘maksa’. Masa iya segitu bencinya sama ayah kandung sendiri sampai bahkan kematiannya pun begitu nggak berarti? Mungkin benar si ayah pernah membuat kesalahan yang menyakitkan, tapi tentu ada kenangan-kenangan manis ketika mereka kecil, misalnya. Terus perlakuan mereka sama Oh Nak, masa ya iya segitu teganya sama adik kandung sendiri, masih bocah pula, sampai nggak mau ngurusin? Kemudian tambahan konflik dunia kerjanya Soo-kyung, menurut saya juga seperti terlalu dibuat-buat dan kurang meyakinkan. Masa iya reporter handal nyari informasi dengan cara yang nggak sesuai kode etik jurnalistik begitu? Film yang bikin saya dongkol usai menontonnya. Sayang rasanya karena sebenarnya cast film ini cukup potensial: Lee Yeo-won, Jeong Man-sik, Esom dan juga aktor muda Jung Joon-won.

Nggak tahu sih, ini penilaian subyektif saya. Saya baca beberapa komen di internet cukup positif, jadi mungkin tergantung selera masing-masing lah.

Cast:
Lee Yo-won – Oh Soo-kyung
Jeong Man-sik – Oh Sung-ho
Esom – Oh Joo-mi
Jung Joon-won – Oh Nak
Kim Hye-eun – Soon-im (sistrinya Sung-ho)
Choi Il-hwa – CEO Moon
Yang Mi-kyung – Goon-nyeo
Kim Ha-yoo – Sae-byul

Judul: My Little Brother/ Yes, Family/ Geurae, Gajok
Sutradara: Ma Dae-yoon
Penulis: Jung Mi-jin, Yoon Pil-joon
Rilis: 15 Februari 2017
Durasi: 106 menit
Distributor: Walt Disney Company Korea
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Iklan

Luck-Key

Hyung-wook () adalah seorang pembunuh bayaran kelas wahid. Suatu hari, ia pergi ke tempat pemandian umum dan jatuh terpeleset hingga kepalanya terbentur lantai. Jae-sung () adalah pengangguran yang bermimpi jadi aktor. Merasa putus asa dengan hidupnya yang melarat, ia berniat untuk bunuh diri. Ia berada di pemandian yang sama ketika insiden yang menimpa Hyung-wook, dan tanpa sengaja melihat jam mahal Hyung-wook yang membuatnya berpikir kalau Hyung-wook adalah orang kaya.

Luck Key (3)

Tergoda untuk menikmati hidup sebelum mati, diam-diam Jae-sung menukar kunci loker Hyung-wook dengan kuncinya dan benar saja, ternyata loker Hyung-wook berisi banyak sekali uang. Jae-sung pun menjadi kaya mendadak. Ketika merasa terusik karena sudah mengambil yang bukan miliknya dan berniat mengembalikan pada Hyung-wook, ternyata diketahui kalau Hyung-wook mengalami amnesia dan tak ingat siapa dirinya. Alih-alih, ia dikenal sebagai Jae-sung, sesuai dengan identitas yang tertinggal di loker.

Luck Key

Lagi-lagi, Jae-sung tergoda untuk memanfaatkan keadaan ini. Ia pun berpura-pura jadi Hyung-wook, termasuk tinggal di apartemennya. Di sisi lain, Hyung-wook yang kemudian tinggal di kosan kumuh Jae-sung karena mengira dirinya adalah Jae-sung. Untunglah, ada petugas medis rumah sakit, Ri-na (), yang kemudian membantunya. Tanpa ingatan yang tersisa, Hyung-wook mempelajari hal-hal yang menjadi catatan Jae-sung dan kemudian tahu kalau impiannya adalah jadi aktor dan secara rutin, ikut sebagai figuran di berbagai kegiatan syuting. Selain itu, ia juga memiliki keahlian bawaan menggunakan pisau, yang kemudian membuatnya dikagumi ketika bekerja di restoran milik keluarga Ri-na.

Luck Key (2)

Di sisi lain, Jae-sung yang menjalani hidup sebagai Hyung-wook, merasa bingung ketika mendapati apartemen mewah Hyung-wook yang penuh CCTV dan perlengkapaan-perlengkapan aneh. Dari salah satu CCTV, ia kemudian mengenal Eun-joo ( ), tetangga apartemennya yang selalu dalam pengawasan. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jae-sung pun menjalin komunikasi dengan Eun-joo.

Luck Key (5)

Hehe, cerita yang cukup unik, mengetengahkan tukar identitas yang agak tak biasa. Apalagi, film ini memang disajikan dalam genre komedi. Karakter-karakternya lovable dan castnya juga solid. , meski lebih sering jadi 2nd lead, tapi ternyata cukup karismatis kok jadi pemeran utama. juga cukup patut diacungi jempol. Karena nggak baca sinopsisnya, saya sempat pangling lho kalau ternyata dia yang memerankan sosok Jae-sung yang looser dan shabby. Aktris juga bermain bagus sebagai Ri-na yang charming dan bisa membangun chemistry yang baik dengan Yu. Sementara cukup pas lah. Selain itu juga ada aktris dan Lee Dong-hwi, yang meski cuma jadi semacam karakter dari cerita lapis dua, tapi menurut saya keberadaannya notable dan signifikan dalam membangun cerita.

Luck Key (4)

Ada beberapa bagian yang menurut saya agak ‘bolong’ secara logika, seperti bagian Jae-sung yang rasanya terlalu ‘lugu’ sehingga butuh waktu lama untuk mulai curiga sama Hyung-wook padahal kondisi rumahnya saja sudah aneh. Dan menurut saya, dia juga ‘jahat’ karena nggak pernah terlihat memantau keadaan Hyung-wook.Tapi overall, film ini cukup well made dan ceritanya menyenangkan.

Catatan: merupakan remake dari film Jepang “Key of Life” (2012)

Cast:
– Hyung-wook
– Jae-sung
– Ri-na
– Eun-joo
– aktris
– aktor
Jo Han-chul – Il-sung
Choi Dae-sung – sutradara

Judul: Luck-Key/ Lukki
Sutradara: Lee Gye-byeok
Penulis: Kenji Uchida, Jang Yoon-mi
Rilis: 13 Oktober 2016
Durasi: 112 menit
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Dheepan

Shidavasan adalah seorang tentara Harimau Tamil. Setelah perang reda dan ia telah kehilangan anak istrinya, ia memutuskan untuk ikut mencari suaka ke luar negeri. Untuk itu, ia harus menggunakan identitas palsu seorang lelaki bernama Dheepan. Dan untuk itu, ia harus memiliki seorang istri dan anak perempuan. Yalini adalah perempuan single yang juga ingin mencari suaka dan bersedia pergi bersama Shidavasan. Yalini juga berhasil menemukan seorang bocah yatim piatu Illayal yang mau pergi bersama mereka.

Dheepan (1)

Keluarga palsu ini kemudian sampai di Perancis. Setelah melalui proses administrasi sebagai pencari suaka, mereka kemudian mendapat tempat tinggal dan juga pekerjaan yang layak di sebuah daerah pinggiran Perancis. Shidavasan bekerja sebagai tukang bersih-bersih apartemen, sementara ‘istri’nya menjadi pembantu untuk seorang lelaki jompo. Tapi ketika mereka perlahan mulai bisa beradaptasi, masalah muncul.

Dheepan (4)

Lingkungan tempat tinggal mereka adalah lingkungan yang dihuni para migran (Arab), dan seperti umumnya lingkungan para migran, penuh dengan kekerasan dan geng-gengan. Hampir setiap hari mereka melihat keributan dan bahkan baku tembak. Yalini dilanda ketakutan dan berpikir untuk meninggalkan keluarga palsunya, pergi ke Inggris tempat saudaranya. Tapi tentu saja, itu adalah hal yang egois dan Shidavasan tak mau melepaskannya.

Dheepan (2)

Yah, sebuah mikro histori tentang sebuah keluarga migran dengan segala suka duka dan juga upayanya untuk bisa survive di tengah ‘dunia baru’ yang tak selalu ramah. Gambaran tentang lingkungan migran yang penuh kekerasan, mungkin menjadi semacam kritik bagi negara-negara penerima suaka, dalam film ini, adalah Perancis, yang sepertinya memiliki masalah dengan para migran di negaranya. Di sini digambarkan bagaimana sebenarnya kekerasan bertumbuh di lingkungan seperti itu karena ya mereka memang seperti dibiarkan membangun dunia sendiri di antara sesama orang-orang migran, yang mungkin seperti Shidavasan, berasal dari negeri yang penuh kekerasan, dan kemudian seolah saling ingin ‘unjuk diri’ tentang siapa yang paling berkuasa. Dan yah, hasilnya mungkin bisa dilihat sekarang, dimana kehadiran orang-orang migran ini kemudian ternyata menjadi masalah karena seringkali dianggap mengancam ketertiban masyarakat. Sedih ya 😦

Tapi sebagai sebuah film, ini film yang bagus & memberi perspektif yang berbeda tentang para migran. Penokohannya juga unik, karena mengambil tokoh dari Sri Lanka, yang jarang sekali terekspos. Para pemainnya juga berakting dengan baik dan terlihat alami, dengan latar Sri Lanka (bahasa, kebiasaan) yang terlihat meyakinkan.
Recommended.

Cast:
Anthonythasan Jesuthasan – Sidhavasan (Dheepan)
Kalieaswari Srinivasan – Yalini
Claudine Vinasithamby – Illayaal
Vincent Rottiers – Brahim
Marc Zinga – Youssouf
Faouzi Bensaidi – Mr Habib

Judul: Dheepan
Sutradara: Jacques Audiard
Screenplay: Jacques Audiard, Thomas Bidegain, Noe Debre
Musik: Nicolas Jaar
Produksi: Canal+, Cine+, France 2 Cinema, France Television, PAge 114, Why Not Productions
Distributor: UGC Distribution
Rilis: 21 Mei 2015 (Cannes FF)
Durasi: 115 menit
Negara/Bahasa: Perancis/ Tamil, Perancis

Awards:
– Cannes Film Festival 2015: Palme d’Or
– Toronto International FF 2015
– Cesar Awards: Nominasi: Best Film, Best Actor, Best Supporting Actor, Best Original Screenplay, Best Cinematography

 

Nostalgia for Countryland

Nham, seorang pemuda 17 tahun. Ia sudah putus sekolah ketika berumur 15 tahun karena harus membantu keluarganya mengolah sawah. Ia satu-satunya lelaki di rumah. Ayahnya sudah meninggal ketika perang Vietnam, dan abangnya pergi merantau entah dimana.

nostalgia for countryland

Di rumah, ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, kakak iparnya Thuy, yang sehari-hari bekerja keras bersamanya, serta adik bungsunya, Minh yang masih sekolah. Nham pemuda yang rajin dan patuh. Kesukaannya adalah menulis puisi. Ia menjalani hari-harinya tanpa mengeluh.

nostalgia for countryland (4)

Lalu suatu hari, muncul Quyen, perempuan kota yang merupakan keponakan salah seorang kerabatnya. Quy perempuan yang cantik dan modern, hal yang membuat Nham diam-diam jatuh cinta kepadanya. Tapi tentu saja, ia cuma berani memperhatikan Quyen dengan sembunyi-sembunyi. Di sisi lain, kakak iparnya sedang dirundung duka. Abangnya yang pergi merantau dikabarkan menikah lagi. Tapi Thuy tak punya pilihan lain selain menjalani hari-harinya dengan bekerja keras di desa.

nostalgia for countryland (3)

nostalgia for countryland (5)

Nggak sengaja menemukan film ini ketika browsing-browsing dan langsung tertarik dengan judul serta posternya. Dan meski sudah dua abad lebih (film ini dibuat tahun 1996) tapi cerita dalam film ini masih terasa relatable. Latar belakang kehidupan pedesaan Vietnam yang nggak jauh berbeda dengan di Indonesia. Orang-orang desa yang getih bekerja keras mengolah sawah dan ladang nyaris siang malam tapi selalu menjadi barisan kelompok terbawah dalam struktur ekonomi. Pesan film ini cukup tendensius, tapi karena disajikan melalui sudut pandang seorang pemuda lugu, jadi terasa natural dan apa adanya. Gambaran pedesaannya, seperti judulnya juga terasa nostalgik dengan hamparan sawah, rumah-rumah sederhana dan suasana pedesaan yang terlihat aman tenteram tapi sesungguhnya menyimpan banyak percik konflik. Dan satu hal yang semakin membuat saya merasa relatable dengan film ini karena latar pedesaannya mirip banget dengan desa-desa di Jawa. Bentuk rumah, jalan-jalan tanah yang dirindangi rumpun bambu… juga keramahan orang-orang desa berikut wajah-wajahnya. Ya bagaimanapun, kita memang satu nenek moyang sih ya, hehe.
Good movie!

Judul: Nostalgia for Countryland
Sutradara: Dang Nhat Minh
Rilis: 1995
Negara/ Bahasa: Vietnam – Jepang/ Vietnam

Award:
– Rotterdam International FF (1996) : Netpac Award
– Friburg International FF (1997): Audience Award
– Nantew Three Continents FF (1996): Audience Award

You Drive Me Crazy

Tertarik nonton drama ini karena baca beberapa posting di internet yang mengatakan kalau dramanya bagus. Dan yah, cerita romance yang melibatkan temen jadi kencan adalah hal yang cukup saya sukai. Ditambah lagi, durasi drama ini juga pendek saja, cuma episode (dibagi 4 bagian karena satu episode di bagi dua bagian).

YDMC (1)

YDMC (5)

Drama ini mengisahkan hubungan Han Eun-sung ( ) dan Kim Rae-wan , yang bersahabat sejak jaman kuliah 8 tahun lalu. Mereka dekat dan merasa nyaman satu sama lain. Sekarang, Eun-sung bekerja sebagai penerjemah bahasa Perancis, sementara Rae-wan menjadi pelukis. Eun-sung sering menginap di rumah Sun-ho yang bagus dan besar. Hingga dua bulan lalu, ‘insiden’ tidur bareng terjadi karena mabuk.

YDMC (2)

Dan sejak kejadian itu, perasaan mereka berdua tak sama lagi. Meski begitu, karena persahabatan mereka selama ini sudah begitu baik, mereka berusaha mengabaikannya dan tetap bersikap wajar satu sama lain. Yang menarik dari cerita semacam ini, tentunya adalah bagaimana melihat tokoh utamanya saling berjuang keras mengendalikan diri yang melibatkan momen-moment awkward dan mendebarkan. Dan menurut saya, drama ini cukup mampu menyajikan momen-momen itu dengan baik. Persahabatan dan romance yang muncul antara dua tokoh utamanya terasa real dan ikut membuat kita yang nonton merasa deg-degan. Tentu juga hal ini tak lepas dari chemistry kedua cast utamanya, dan Kim Sun-ho. meski bisa dibilang pendatang baru, kemampuan aktingnya sudah diakui lewat penampilannya di film , dimana ia sempat menyabet sebagai penghargaan Best New Actress. Sementara Kim Sun-ho, meski ini pertamakalinya saya lihat akting dia, ternyata juga sudah sering main di drama-daram yang cukup ngehits.

YDMC (4)

Sebenarnya drama ini ‘biasa’ saja sih. Ceritanya standar banget, termasuk kemunculan orang kedua. Tapi secara keseluruhan, cukup enjoyable untuk ditonton. Ringan, menghibur dan durasinya juga pendek.

Cast:
– Han Eun-sung
Kim Sun-ho – Kim Rae-wan

Sung Joo – Yoon Hee-nam
Kwon Doh-woon – Moon Seo-jung
Ryoo Hye-rin – Ji-in
Park Hyo-joo – Hyun-ji

Judul: You Drive Me Crazy (Michigeotda, Neoddaeme!)
Sutradara: Hyun Sol-ip
PenuliS: Park Mi-ryeong
Tayang: MBC, 7-8 Mei 2018

 

The Sheriff in Town

Choi Dae-ho () adalah seorang detektif yang menangani narkoba. Suatu hari, ketika sedang hendak menangkap seorang pengedar narkoba di bawah seorang bandar bernama Popeye , rekannya mengalami luka parah. Si bandar pengedar melarikan diri dan yang tertangkap di lokasi adalah seorang bernama Dong-jin () , yang kemudian terbukti sebagai kurir yang tak tahu apa-apa. Dae-ho merasa prihatin, apalagi Kangjoo mengaku kalau melakukan pekerjaannya karena desakan ekonomi. Dae-ho pun membantu Kangjoo agar mendapat keringanan hukuman, sementara dia sendiri kemudian dipecat dari kepolisian karena dianggap lalai karena sudah menyebabkan temannya terluka.

The Sherrif in Town (2)

Setelah keluar dari kepolisian, ia pulang ke kampung halamannya di Busan da membuka usaha restoran ayam bersama adiknya, Deok-man (). Meski sudah tak lagi menjadi polisi, tapi karena reputasinya, Dae-ho menjadi orang yang disegani, bahkan oleh kepolisian setempat.

 

The Sherrif in Town (3)

The Sherrif in Town (4)

Suatu hari, Dong-jin yang sudah keluar dari penjara tiba-tiba muncul di kotanya. Tidak hanya itu, karena Kangjoo ternyata sudah menjadi seorang pengusaha sukses dan berniat berinvestasi di kota itu. Dae-ho merasa curiga dengan kehadiran Dong-jin yang tiba-tiba jadi orang kaya dalam waktu singkat. Naluri detektifnya pun tergerak. Ia berusaha menyelidiki Dong-jin dan mencari dukungan dari oran-g-orang di sekitarnya. Tapi Dong-jin adalah orang yang sangat licin dan pintar mengambil hati orang. Alih-alih mendapat dukungan, Dae-ho justru kehilangan kepercayaan dari orang-orang.

The Sherrif in Town (5)

Yah, lagi-lagi film dengan tema dunia polisi. Dan yah, sebagaimana film sejenis, tema besar ceritanya sebenarnya nyaris sama saja sih, polisi vs penjahat. Cuma yang agak berbeda dari film ini karena diceritakan kalau polisinya sudah dipecat dan jadi orang biasa. Dan dari segi cerita juga tetap punya orisinalitasnya sendiri. Hingga pertengahan film, siapa penjahat sebenarnya masih jadi teka-teki. Saya penasaran sama film ini karena jajaran castnya yang merupakan aktor-aktor senior yang walaupun nggak ‘top-top’ amat, tapi terkenal solid dengan kamampuan aktingnya: , , … dan yah, kalau soal akting memang tak ada yang perlu diragukan lagi dari mereka yang bisa memerankan karakter apa saja. Dan di film ini, lagi-lagi mereka membuktikannya. Semuanya terlihat effortless dengan perannya masing-masing. Hanya saja, mungkin lebih karena scriptnya membuat saya agak merasa annoying dengan karakter Dae-ho yang diperankan ketika digambarkan ia terus-terusan ngotot dan cenderung gegabah dengan apa yang dilakukannya. Dan yah, meski endingnya cukup memuaskan, tapi saya juga merasa ada sesuatu yang terasa kurang. Nggak tahu apa. Tapi overall, film yang cukup layak tonton.

Cast:
– Choi Dae-ho
– Dong-jin
– Deok-man

Kim Jong-soo – Young-hwan
Jo Woo-jin -Sun-chul
Lim Hyun-sung – Kang-gon
Bae Jeong-nam – Choon-mo
Kim Hye-eun – Mi-sun (istrinya Dae-ho)
Kim Byung-ok – Kepala Kang
Kim Kwang-gyu – Kepala Seksi Park
Nam Moon-chul – Detektif
Joo Jin-mo – tukang kapal
Son Yeo-eun – Hee-sun

Judul: The Sheriff in Town / Sheriff/ Boangwan
Sutradara & Penulis: Kim Hyung-joo
Rilis: 3 Mei 2017
Durasi: 115 menit
Distributor: Lotte Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

1987: When The Day Comes

Berlatar tahun 1987, ketika gerakan pro demokrasi sedang gencar memprotes pemerintahan otoriter yang sedang berkuasa. Salah seorang aktivis mahasiswa, Park Jong-chul (), meninggal setelah mengalami integorasi dan penyiksaan oleh militer. Demi menyelamatkan muka pemerintah, kematian Jong-chul pun direkayasa. Ia dinyatakan tewas karena serangan jantung. Park Cheo-won () adalah pejabat tinggi yang ditugasi mengurus kasus ini. Selain itu, juga ada pengacara Choi Hwan ( ) yang diminta bantuan. Sebenarnya, Choi adalah orang yang menjunjung tinggi profesi, hanya saja tak bisa berbuat banyak karena tekanan orang-orang di sekelilingnya.

1987

1987 (2)

Namun begitu, kematian Jong-chul menyisakan banyak keganjilan yang menimbulkan kecurigaan. Kalau sudah begini, tentu para jurnalis yang kemudian ambil bagian. Yoon Sang-nam adalah seorang reporter handal yang kemudian berhasil mendapat informasi terkait kematian Jong-chul. Tentu saja, ketika media sudah bicara, para elit pun kelabakan. Berbagai cara ditempuh untuk mengamankan posisi mereka.

 

1987 (3)

Di sisi lain, diam-diam gerakan pro demokrasi semakin menguat. Ada Han Byeong-yong (), seorang sipir penjara yang membantu perjuangan dengan diam-diam menjadi kurir antara aktivis yang dipenjara dan tokoh aktivis yang sedang dicari-cari pemerintah, Kim Jung-nam (). Dalam pekerjaannya, Han sering meminta tolong keponakannya, Yeon-hee (), yang seorang mahasiswi baru. Yeon-hee awalnya apatis dengan aktivisme, tapi kemudian terusik setelah bertemu dengan Lee Han-yeol (), seorang aktivis mahasiswa di kampusnya.

1987 (4)

1987 (8)

Lagi, sebuah film yang menjajikan salah satu fase penuh gejolak dalam sejarah pemerintahan Korea (film sejenis adalah May, ). Bagus sih menurut saya, karena dengan film-film semacam ini, artinya ada upaya menolak lupa orang Korea tentang sejarah kelam negrinya. Hal yang mungkin bisa ditiru para sineas Indonesia, karena seingat saya, film tentang sejarah yang digarap dengan bagus dan kritis, sejauh ini kok kayaknya belum ada. Film ini sendiri disajikan dengan apik, sinematografi yang meyakinkan (saya sampai merinding melihat aksi demonya), plot yang cukup smooth dan rapi serta ensemble cast yang solid. Sepadan dengan nama-nama besar jajaran castnya, bahkan yang sekedar cameo pun punya peran penting dalam membangun cerita di film ini. Mulai dari , , , , , , …dan juga aktris muda yang menurut saya, penampilannya cukup stellar di sini. Dan tentu saja, cerita film ini sendiri memang cukup penting bagi orang Korea. Layaklah kalau kemudian film ini diganjar Daesang (penghargaan tertinggi) di Baeksang beberapa waktu lalu.

Cast:
– Park Cheo-won
– Choi Hwan
– Han Byeong-yong
– Yeon-hee
– Det. Jo Han-kyung
– Reporter Yoon Sang-nam
Kim Eui-sung – Lee Boo-young
Kim Jong-soo – Park Jung-ki
Oh Dal-su – jurnalis
Ko Chang-seok – jurnalis
Moon Sung-geun – Jang Se-dong
Woo Hyeon – Kang Min-chang
Jo Woo-jin – Pamannya Jong-chul
– Kim Jung-nam

Cameo:
– ibunya Yeon-hee
– Lee Han-yeol
– Park Jong-chul

Judul: 1987: When The Day Comes
Sutradara:
Penulis: Kim Kyung-chan
Rilis: 27 Desember 2017
Durasi: 129 menit
Distributor: CJ Entertainment
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

Award:
Baeksang Art Awards 2018:
– Grand Prize (Daesang)
– Best Screenplay
– Best Actor ()
– Best Supporting Actor ()

 

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar