To Live

Januari 12, 2017 Tinggalkan komentar

Xu Fugui adalah seorang putra tuan tanah. Ia mewarisi kekayaan ayahnya yang kaya raya. Sayangnya, Fugui sangat gila judi dan selalu kalah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh saingannya untuk menjerat Fugui dengan hutang hingga seluruh kekayaan Fugui  ludes. Tidak hanya jatuh miskin, ayah Fugui  meninggal karena syok dan istrinya Jiazhen (), meninggalkannya.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_000639629

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001193197
Fugui pun kemudian menjadi rakyat biasa yang harus bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Untunglah, istri dan anaknya, Fengxia, yang bisa menerima keadaan Fugui, kemudian datang dan kembali hidup bersama.

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001570467

Jadi, wayang itu sebenarnya bukan asli Indonesia lho, tapi sepertinya banyak pengaruh China-nya 🙂

Untuk menghidupi keluarganya, Fugui kemudian bekerja sebagai pemain wayang. Fugui berkerja keras demi anak dan istrinya. Dan meski hidup pas-pasan, ia dan keluarganya bahagia. Sayangnya, perang China pecah. Fugui  yang tak tahu apa-apa, terseret di medan perang bersama temannya, Chunsheng. Dengan menggunakan taktik survival, keduanya berhasil selamat. Bahkan diminta untuk mempertunjukkan wayang demi menghibur tentara di medan perang.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_001903935

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_002467320
Ketika perang berakhir, Fugui berhasil kembali ke rumah. Istri dan anaknya masih hidup, tapi sang anak menjadi  bisu karena terserang demam ketika perang. Fugui  dan Jiazhen kembali lagi bahu membahu bekerja dan hidup harmonis. Tapi kondisi politik sudah berubah. Revolusi Mao dimulai. Para tuan tanah dihukum karena dianggap kapitalis, termasuk pemilik rumah Fugui. Fugui justru dianggap berjasa karena sudah membantu tentara revolusi.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005749121
Dimulailah era baru revolusi dengan kehidupan komunal, anti kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada Ketua Mao. Fugui dan Jiazhen mengikuti arus saja, yang terpenting mereka hidup aman dan nyaman, membesarkan anak-anak mereka. Fugui kembali bermain wayang yang kemudian digunakan sebagai media propaganda.

Namun pasang surut kondisi politik, tak urung mempengaruhi kehidupan mereka. Mendatangkan duka demi duka dalam kehidupan mereka. Meski ebgitu, Fugui dan Jiazhen selalu menjalani hidup dengan optimisme dan kebersahajaan.
to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005451328
Diangkat dari novel karya Yu Hua saya sendiri belum baca novelnya, tapi menurut saya versi filmnya yang digrap sutradara yang saya kagumi, , adalah film yang sangat bagus.  Dengan selipan kritik-kiritk sosial yang rapi. Gaya penceritaan, latar dan plotnya terasa sophisticated.  

to-live-1994-720p-dvdrip-mkv_005699695
Yah, seperti judulnya, film ini memang mengetengahkan cerita tentang ‘hidup.’ Ya, hidup. Melalui sosok Fugui dan Jiazhen, digambarkan bagaimana manusia, yang pernah terpuruk, melakukan kesalahan kemudian berusaha bangkit, tak kenal menyerah,  selalu optimis menjalani hidup dan menjadi manusia yang lebih baik. Sebbuah kisah yang terasa sangat humanis. Dan meski bukan bergenre romance, tapi menurut saya film ini juga sangat romantis. Hubungan Fugui dan Jiazhen entah kenapa mengingatkan saya pada pasangan-pasangan sederhana yang sering saya temui di desa-desa. Mereka hidup bersahaja, saling melengkapi dan mencintai tanpa banyak kata-kata atau ungakpan gombal. Mereka selalu bersama, saling mendukung satu sama lain. Sangat mengharukan. Dan akting kedua pemeran utamanya memang patut diacungi jempol. dan Ge You yang bermain sangat apik. Very recommended.

Cast:
Ge You – Xu Fugui
– Jiazhen

Ben Niu – Walikota
Wu Jiang     – Wan Erxi
Deng Fei – Xu Youqing
Tao Guo – Chunsheng
Tianchi Liu- Xu Fengxia (dewasa)
Zongluo Huang – Ayahnya Fu Gui
Yanjin Liu – ibunya Fu Gui
Dahong Ni – Long’er
Lian-Yi Li – Sgt. Lao Quan
Xiao Cong – Xu Fengxia (remaja)
Zhang Lu     – Fengxia (kecil)

Judul: To Live (Huózhe)
Sutradara:
Produser: Fu-Sheng Chiu, Funhong Kow, Christophe Tseng
Penulis: Lu Wei (berdasar novel ” To Live” karya Yu Hua)
Musik: Zhao Jiping
Sinematografi: Lü Yue
Distributor: The Samuel Goldwyn Company
Rilis: 18 Mei 1994 (Cannes)
Durasi: 132 menit
Negara/bahasa: China/Mandarin

Awards:
Cannes Film Festival 1994:
– Grand Prix, Prize of the Ecumenical Jury, Best Actor (Ge You)
– Nominasi Palme d’Or

Golden Globe Award  1994:
– Nominasi Best Foreign Language Film

National Board of Review 1994:
– Best Foreign Language Film

National Society of Film Critics Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Language Film

BAFTA Award 1995:
– Best Film Not in the English Language

Chlotrudis Award 1995 :
– Nominasi Best Actress ()

Dallas-Fort Worth Film Critics Association Award 1995:
– Nominasi Best Foreign Film

The Soong Sisters

Januari 10, 2017 Tinggalkan komentar

Charlie Soong seorang pengusaha yang mendukung gerakan kemerdekaan China. Ia bersahabat karib dengan si penggerak kemerdekaan, Dr. Sun Yat Sen. Charlie berpikiran moderat. Ia pun mengirim ketiga putrinya yang masih kecil-kecil sekolah ke Amerika: Ai Ling (), Ching Ling dan Mei Ling. Setelah dewasa, ketiga putrinya ini kembali ke China.
soong-sisters-avi_001130037
Ai Ling si sulung kemudian menikah dengan pengusaha kaya, K’ung. Sementara Ching Ling bekerja sebagai asisten Sun Yat Sen. Sikap simpatik dan karismatik Sun kemudian membuat Ching Ling jatuh cinta.  Sun yang teman dan berumur sebaya ayah Ching Ling, membuat Soong menentang hubungan itu. Namun karena saling mencintai, keduanya tetap menikah. Hal yang membuat hubbungan mereka berjarak dengan sang ayah.

soong-sisters-avi_001962653
Si bungsu Mei Ling juga pulang, dan kemudian jatuh cinta dengan tangan kanan Sun, seorang militer yang  tegas dan keras kepala serta playboy, Chiang Kai Shek.
soong-sisters-avi_002955600
Sun Yat Sen wafat sebelum perjuangan menyatukan China terwujud. Meski begitu, ia meninggal sebagai legenda. Ching Ling meneruskan perjuangan suaminya melalui Partai Komunis.  Chiang Kai Shek kemudian membelot dengan bergabung dengan Partai Nasionalis . Ideologi yang berseberangan membuat mereka bermusuhan. Kaum nasionalis berkeras untuk berusaha menumpas komunisme. Di sisi lain, Jepang datang untuk menjajah. Maka masing-masing pihak pun  kemudian dihadapkan pada  dilema, saling bermusuhan karena perbedaan ideolgi atau bersatu untuk mengusir penjajah.
soong-sisters-avi_002716228

soong-sisters-avi_004759116
Hmm, sebuah film yang memberi saya ‘pencerahan’ sejarah China. Idenya unik, karena jika selama ini film tentang sejarah China biasanya mengangkat kisah para hero laki-laki, di sini adalah para perempuan yang pastilah tidak sepopuler Sun Yat Sen atau Chiang Kai Shek tapi ternyata memiliki peran yang penting dalam sejarah China. Digambarkan dengan rapi dan cukup detail, sehingga membuat saya yang awam sejarah China jadi paham konflik yang berlangsung. Mungkin karena cerita film ini yang mengambil rentang beberapa waktu dan peristiwa sehingga ada kesan seperti dokumenter sejarah yang membuat eksplorasi karakter tokoh-tokohnya agak kurang terlihat. Meski begitu, sangat layak untuk ditonton.

Cast:
Maggie Cheung – Soong Ching-ling
– Soong Ai-ling
Vivian Wu – Soong Mei-ling

Winston Chao – Sun Yat-sen
Wu Hsing-kuo – Chiang Kai-shek
Jiang Wen – Charlie Soong
Elaine Jin – Ni Kwei-tsen (Mrs Soong)
Niu Zhenhua – K’ung Hsiang-hsi
Liu Jin – Zhang Xueliang

Judul: The Soong Sisters/ Sòng Jiā Huáng Cháo
Sutradara: Mabel Cheung
Produser: Raymond Chow, Ng See-yuen
Penulis: Alex Law
Musik: Kitarō, Randy Miller
Sinematografi: Arthur Wong
Editing: Mei Feng
Produksi: Golden Harvest, More Team
Distributor: Golden Harvest, Fuji Television Network, Pony Canyon, Mei Ah Entertainment, More Team International Ltd. Production
Rilis: 21 Mei 1997
Durasi: 140 menit
Negara/Bahasa: Hong Kong/ Kanton, Mandarin

Awards:
Golden Horse Awards[ 1997:
– Best Art Direction (Eddie Ma), Best Original Score (Kitarō and Randy Miller), Best Sound Effects (Zeng Jingxiang)

Hong Kong Film Awards 1998:
– Best Actress (Maggie Cheung), Best Supporting Actor (Jiang Wen), Best Art Direction (Eddie Ma), Best Cinematography, Best Original Score (Kitarō and Randy Miller), Best Costume and Makeup Design, Best Sound Effects
– Nominasi: Best Director (Mabel Cheung), Best Supporting Actress (Michelle Yeoh), Best Supporting Actress (Elaine Jin), Best Screenplay ,   Best Picture

After the Wedding

Januari 10, 2017 Tinggalkan komentar

Jacob adalah seorang pekerja sosial yang mengelola sebuah panti asuhan di daerah kumuh India. Ia begitu mencintai anak-anak asuhnya. Hingga suatu hari, ia mendengar bahwa panti asuhannya terancam tutup karena kekurangan dana. Ia diminta pulang ke negaranya, Denmark, untuk menemui seorang pengusaha yang sedianya akan mennjadi donornya.
after-the-wedding-2006

after-the-wedding-20061
Pengusaha itu bernama Jorgen. Lelaki kaya yang terlihat hidup harmonis bersama istri dan 3 anaknya. Anak tertuanya Anna akan segera menikah. Dan ketika bertemu Jacob, ia mengundang Jacob hadir ke acara pernikahan itu. Jacob meski tak terlalu menyukai sikap Jorgen yang agak angkuh, karena tak punya alasan menolak, datang ke acara pernikahan itu. Alangkah terkejutnya ia karena di sana ia bertemu istri Jorgen, Helene, yang tak lain adalah bekas kekasihnya dulu. Tidak hanya itu, karena kemudian terungkap kalau Anna adalah putrinya bersama Helene. Dan ia pun semakin gusar, karena merasa bahwa Jorgen lah yang telah mengatur semuanya.
after-the-wedding-20062
Saya selalu tertarik untuk menonton film dari berbagai negara, termasuk film ini. Apalagi, film ini masuk nominasi penghargaan Best Foreign Language di Academy Awards. Ceritanya sih cukup menarik dengan drama dan twist-nya. Saya tak paham-paham soal film dan sinematografi segala macam, tapi menurut penilaian awam saya setelah melihat film ini, kesan saya kok tidak terlalu shopisticated. Sehingga membuat saya heran juga, kok bisa ya masuk Oscar?  Ceritanya sih menarik, tapi juga cenderung mainstream. Plotnya terasa kurang ‘smooth’ dan akting beberapa aktornya juga tidak terlalu natural. Dan saya juga kurang suka dengan pengambilan gambar yang sering mengambil close up beberapa bagian wajah, terutama mata. Mungkin maksud si sutradara sih pengin mengambil angle yang berbeda dan yah, harus diakui, mata memang adalah bagian yang paling ekspresif. Tapi kok saya malah merasa agak annoying ya dengan gambar yang sebentar-sebentar close up begitu. Tapi, yeah, it’s just my humble oponion. Mungkin bagi yang suka bagus, dan buktinya bahkan film ini masuk nominasi ajang penghargaan bergengsi segala.

Cast:

Mads Mikkelsen – Jacob Petersen
Rolf Lassgård – Jørgen Lennart Hansson
Sidse Babett Knudsen – Helene Hansson
Fischer Christensen – Anna Louisa Hansson
Christian Tafdrup – Christian
Mona Malm – Mrs. Hansson
Meenal Patel – Mrs. Shaw
Neeral Mulchandani – Pramod

Judul: After the Wedding
Sutradara/Penulis: Susanne Bier
Produser: Sisse Graum Olsen
Musik: Johan Söderqvist
Sinematografi: Morten Søborg
Editing: Pernille Bech Christensen, Morten Højbjerg
Distributor: Nordisk Film (DK),Soda Pictures (UK), IFC Films (US)
Rilis: 24 Februari 2006
Durasi: 120 mennit
Negara: Denmark
Bahasa: Danish, Swedia, Hindi, Inggris

Award:
Academy Awards:
– Nominasi Best Foreign Language Film

Bodil Awards
– Best Supporting Actress (Fischer Christensen)
– Nominasi: Best Film, Best Actor (Lassgård), Best Actress (Knudsen)

European Film Awards:
– Nominasi: Best Actor (Mikkelsen), Best Director

etc see wikipedia.org

The Kid with a Bike

Januari 8, 2017 Tinggalkan komentar

Cyril seorang bocah lelaki yang tinggal terpisah dari ayahnya. Suatu hari, ia kalang kabut ketika tahu ayahnya tiba-tiba pergi dari apartemen biasa ia tinggal. Apalagi sepeda kesayangannya juga tak ada. Cyril pun kemudian pergi kesana kemari, mengumpulkan satu per satu informasi tentang keberadaan sang ayah dan juga sepedanya. Hingga ia kemudian bertemu dengan Samantha, seorang perempuan penyayang pemilik salon. Samantha kemudian menemukan sepeda milik Cyril, yang ternyata sudah dijual sang ayah. Ia kemudian membeli sepeda itu dan diberikan kepada Cyril. Meski begitu, sebenarnya bukan sepeda itu yang penting bagi Cyrill. Ia menginginkan ayahnya.
kid-with-a-bike

kid-with-a-bike1
Kenyataannya, sang ayah adalah seorang looser, yang sibuk dengan dirinya sendiri. Keberadaan Cyril baginya hanyalah beban, karenanya ia berusaha untuk melepas tanggung jawabnya seabgai ayah dengan cara memisahkan diri darinya. Ketika mengetahui hal ini, Cyril sangat terpukul. Untunglah, Samantha yang baik kemudian selalu ada untuknya. Meski begitu, tentu saja kadang itu tak cukup bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan begitu kekurangan kasih sayang. Hingga ia kemudian bertemu dengan. Wesker, seorang preman ingusan yang pura-pura menawarkan pertemanan, padahal hanya ingin memperalat Cyril. Tapi Samantha yang tak pernah menyerah untuk melimpahinya kasih sayang dan perhatian, akhirnya membuat Cyril sadar bahwa tak ada yang lebih bisa ia percayai selain Samantha.
kid-with-a-bike6

kid-with-a-bike4
Sebuah film yang menguras emosi. Satu hal yang selalu saya suka dari film-film sekelas penghargaan festival adalah karena selalu menyajikan sesuatu yang terasa orisinil. Kadang hanya sebuah cerita ‘sederhana’ tapi disajikan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang terasa sangat dalam dan kompleks. Seperti halnya film ini. Dari judulnya saja terkesan ‘remeh temeh’ tapi juga menarik. Dan sejak awal film dimulai, saya sudah merasa emosional  melihat Cyril, dengan tingkah lasaknya yang terasa sangat alami. Tanpa perlu banyak melibatkan dialog panjang lebar atau adegan-adegan yang eksplisit, kita bisa memahami apa yang dirasakan dan digelisahkan oleh Cyril.
kid-with-a-bike8
Dan satu hal yang saya suka dari film ini adalah karena eksekusi endingnya yang terasa sangat optimis. Satu hal yang tidak selalu saya temukan dalam film-film kelas festival, yang lebih sering diakhiri dengan hal-hal yang absurd atau muram. Dan meski cerita film ini terasa ‘sederhana’ tapi juga meninggalkan pesan moral yang kuat. Lewat sosok Samantha, seolah kita diajak untuk ikut bersikap pada anak-anak kurang kasih sayang seperti Cyril. Kepedulian dan tak kenal menyerah untuk selalu memberi perhatian dan kasih sayang lah yang akan menyelamatkan anak-anak seperti ini dari kemungkinan-kemungkinan untuk  tumbuh menjadi orang yang penuh kebencian dan amarah. Pemilihan sosok Samantha, menurut saya juga sangat tepat. Ia digambarkan bukan siapa-siapa, hanya perempuan biasa saja, tidak kaya raya, tidak hidup sangat bahagia, tapi ia melakukannya, memberi kasih sayang tanpa pamrih. Dan bahwa kita yang orang-orang biasa, seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama dengan Samantha. Very-very recommended!

Cast:
Thomas Doret – Cyril Catoul
Cécile de France – Samantha
Jérémie Renier – Guy Catoul (ayah Cyril)
Egon Di Mateo (fr)- Wesker

Judul: The Kid with a Bike/ Le gamin au velo
Sutradara:Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Produser: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne, Denis Freyd
Penulis: Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne
Sinematografi: Alain Marcoen
Editing: Marie-Hélène Dozo
Produksi: Les Films du Fleuve
Distributor: Diaphana Films (France)
Rilis: 15 Mei 2011 (Cannes), 18 Mei 2011 (Perancis)
Durasi: 87 menit
Negara: Belgia, Perancis, Italia
Bahasa:Perancis

Awards:
– Cannes Film Festival 2011: – Palm d’Or (bersama Once Upon a Time in Anatolia)
– Golden Globe Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Satellite Awards 2011: Nominasi Best Foreign Language Film
– Independent Spirit Awards : Nominasi Best International Film
and many mores..

Theeb

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Theeb (artinya” serigala”) adalah bocah lelaki anak seorang pemimpin suku yang sudah meninggal tapi tetap dihormati. Ia tinggal di gurun bersama kakak lelakinya, Hussein dan para lelaki kaumnya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000262135
Suatu hari, datang seorang tamu, Edwards, bule Inggris yang minta diantar ke tempat pembangunan jalur rel kereta api. Hussein yang dipercaya untuk mengantar. Sedih berpisah dengan kakaknya, Theeb diam-diam mengikuti. Meski awalnya keikutsertaannya menjadi kontroversi, tapi akhirnya ia diijinkan ikut. Dimulailah perjalanan melelahkan menyusuri gurun dan celah-celah tebing bebatuan.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_000853271
Hingga di suatu pemberhentian, mereka bertemu dengan para bandit gurun. Karena kalah jumlah, satu per satu mereka tewas. Dan hanya tinggal Theeb yang selamat. Di tengah keadaan terdampar di tengah gurun, kemudian datang salah satu anggota bandit, Hassan, yang terluka parah. Karena saling membutuhkan, terjalinlah “persahabatan” di antara keduanya. Hassan bercerita, bahwa orang-orang saling membunuh  setelah dibukanya rel kereta api. Orang-orang yang dulu bekerja sebagai pemandu orang berzziarah ke gurun dengan menggunakan unta, sekarang kehilangan pekerjaan karena sudah diganti dengan kereta api.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_004797979
Hassan kemudian mengajak Theeb ke tempat tentara gerakan untuk menjual barang-barang hasil rampokannya. Theeb merasa marah, karena barang-barang itu adalah harga yang dibayar atas kematian orang-orang, terutama kakaknya.
theeb-2014-festival-dvdrip-x264-taste-mkv_005241840
Miris dan juga sedih, itulah perasaan saya ketika menonton film ini. Berlatar gurun yang panas dan kerontang, rasanya miris membayangkan bagaimana orang hidup di tempat ekstrem itu. Dan bagaimana kemudian kekerasan terbentuk sebagai upaya untuk mempertahankan diri di tengah perebutan sumberdaya yang terbatas. Meski begitu, kita juga merasa terharu, melihat bagaimana sebenarnya orang-orang gurun itu juga sebagai orang yang hangat (sangat menghargai tamu) dan bertanggungjawab. Namun kemudian bisa dipahami ketika mereka rela saling membunuh karena memang ‘dipaksa’ oleh kondisi. Sebuah film yang memberi kita pemahaman tentang sebentuk strategi survival di salah satu sudut dunia.

Quote: “The strong will eat the weak”

Cast:
Jacir Eid Al-Hwietat – Theeb
Hussein Salameh Al-Sweilhiyeen – Hussein
Hassan Mutlag Al-Maraiyeh – Hassan
Jack Fox – Edward

Judul: Theeb
Sutradara: Naji Abu Nowar
Produser: Diala Al Raie, Bassel Ghandour, Nasser Kalaj, Yanal Kassay, Rupert Lloyd, Laith Majali, Nadine Toukan
Penulis: Naji Abu Nowar, Bassel Ghandour
Musik: Jerry Lane
Sinematografi: Wolfgang Thaler
Editing: Rupert Lloyd
Produksi: Bayt Al Shawareb, Fertile Crescent Films, Immortal Entertainment, Noor Pictures
Distributor: MAD Solutions
Rilis: 4 September 2014 (Venice), 19 Maret 2015 (UAE), 19 Maret 2015 (Jordan), 14 Agustus 2015 (UK)
Durasi: 100 menit
Negara: Jordania, United Arab Emirates, Qatar, Inggris
Bahasa: Arab

Awards:
– Academy Awards 2014: Nominasi ” Best Foreign Language Film” (Jordania)
– British Academy Film Awards 2014: – Nominasi “Best Film Not in the English Language “,  Nominasi “Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer     (Naji Abu Nowar, Rupert Lloyd)”
– Venice International Film Festival 2014: – Best Director ,  Nominasi Best Film
and many mores…

War Witch

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Komona, berusia 12 tahun ketika gerombolan pemberontak yang disebut ‘Great Tiger‘ datang ke desanya, memporak-porandakan kampung dan merekrut anak-anak untuk dijadikan tentara, termasuk Komona. Setelah  menjalani hari-hari pelatihan yang berat dan penuh siksaan di dalam hutan, ia pun kemudian harus mulai ikut berperang. Membunuh orang tentu saja. Sosok-sosok yang kemudian ia gambarkan sebagai hantu-hantu.
war-witch
Karena kemampuan Komona yang cepat mendeteksi keberadaan lawan, ia kemudian dianggap memiliki kekuatan sebagai cenayang. Karenanya, ia kemudian mendapat kepercayaan dan perlindungan dari si Great Tiger. Namun itu artinya bahwa ia juga harus terus berperang dan membunuh.
war-witch3
Di antara para tentara, adalah Magicien yang kemudian menjadi kekasihnya. Sama-sama merasa muak dengan keadaan itu, keduanya kemudian melarikan diri dan menikah. Mereka menjalani hidup sederhana yang bahagia, tinggal di kampung bersama paman Magicien, Boucher, si penjual daging. Mereka berdua kemduian bekerja mengelola kebun sawit.
war-witch5

war-witch6
Hingga suatu hari, kelompok Great Tiger yang mencari keberadaan Komona datang untuk membawanya kembali, memisahkannya dengan Magicien. Dan ketika akhirnya ia bisa melarikan diri lagi, hidup tak sama lagi bagi Komona yang sudah terlalu banyak melihat darah dan kekerasan.
war-witch4
Hmm, menyesakkan. Sangat menyesakkan. Tentu film hanyalah sebuah film, tapi kita tahu bahwa di Afrika, cerita semacam ini memang jamak terjadi. Perang antar suku, perang antar kelompok, perekrutan tentara anak-anak, saling bunuh,  kekerasan dan kebiadaban yang seolah tiada ujungnya. Dan benar-benar menyesakkan memikirkan bahwa persoalan itu sangatlah kompleks.  Saya pikir, masalahnya bukan lagi hanya melibatkan kelompok tertentu dengan kelompok tertentu, tapi secara tidak langsung, banyak pihak yang terlibat. Seperti diperlihatkan dalam film, darimana pula para pemberontak itu memperoleh pasokan senjata yang seolah begitu berlimpah dan begitu mudahnya didapatkan? Yah, kita semua tentu tahu jawabannya.
war-witch2
Meski film ini cukup membuat sesak, tapi layak ditonton kok, menurut saya bagus karena bisa memberi kita pemahaman baru tentang hal-hal yang terjadi di sudut lain dunia ini. Dan meski filmnya membuat miris, tapi penceritaannya menarik. Dengan gaya penceritaan narasi off screen yang penuh perenungan, penyajian adegan-adegan kekerasan yang tidak vulgar, para pemain yang terlihat bermain sangat natural, dan juga selingan adegan yang tidak ‘perang’ melulu, membuat film ini ‘mudah’ untuk ditonton.

Cast:
Rachel Mwanza – Komona
Alain Lino Mic Eli Bastien – Commandant-rebelle
Serge Kanyinda – Magicien
Mizinga Mwinga – Grand Tigre Royal
Ralph Prosper – Boucher

Judul: War Witch/ Rebelle
Sutradara: Kim Nguyen
Produser: Pierre Even, Marie-Claude Poulin, Kim Nguyen
Penulis: Kim Nguyen
Sinematografi: Nicolas Bolduc
Rilis: 17 Februari 2012 (Berlin), Oktober 2012 (Canada)
Durasi: 90 menit
Negara/Bahasa: Kanada/ Perancis-Lingala

Awards:
– Berlin International Film Festival  2012: Silver Bear for Best Actress (Rachel Mwanza )
– Tribeca Film Festival 2012: Best Actress  (Rachel Mwanza)
– Academy Awards 2012: Nominasi” Best Foreign Language Film” (Canada)
– Canadian Screen Awards 2012:  Best Picture, Best Director, Best Actress and Best Supporting Actor.
– NAACP Image Award 2012: Outstanding International Motion Picture

Film-Film Yang Kurang Berkesan

Januari 3, 2017 Tinggalkan komentar

Sering saya penasaran dengan film-film lama yang dibintangi aktor/aktris yang sekarang sudah jadi bintang papan atas, karenanya kemudian saya tonton. Tapi ternyata beberapa film-filmnya tidak terlalu mengesankan, sehingga saya agak malas mengulasnya, jadi saya rangkum saja di sini.

1. The Legend of Seven Cutter ( Korea Selatan, 2006).  Penasaran sama film ini karena nama . Sejak melihatnya di , sebagai si tomboy Eun-chan, saya berkesimpulan bahwa Yoon adalah aktris yang tidak hanya cantik, tapi juga berbakat. Sayang, belakangan karirnya cenderung meredup, dan drama-drama yang dibintanginya juga banyak yang kurang bagus. Yoon memang lebih dikenal sebagai pemain drama, tapi ada  juga beberapa filmnya, salah satunya film ini, dimana ia berperan sebagai Han Min-joo (), cewek tomboy (lagi!) di sekolah yang kemudian jatuh cinta sama cowok culun, Jung Han-soo. Dan sebenarnya, tokoh utama di film ini adalah Han-soo (diperankan oleh aktor Ahn Jae-mo).

the-legend-of-7-cutter

the_legend_of_seven_cutter-avi_000971663

Han-soo ini murid pindahan dan rumor beredar bahwa Han-soo ini adalah si legendaris ‘seven cutter’ preman sekolah yang meninggalkan 7 sayatan cutter ke korbannya. Desas-desus ini pun menimbulkan rasa penasaran dan gentar di kalangan murid-murid lain, termasuk si preman sekolah, Baek Seung-gi dan juga pemimpin geng cewek, Han Min-joo. Dan hal yang aneh adalah bahwa sehari-hari, Han-soo adalah cowok yang selalu terlihat culun. Dan rumor-rumor tentang dirinya, kemudian menyelamatkan dirinya untuk ‘survive’ di lngkungan baru, termasuk mendapat pacar, tentunya. Ehm, sejujurnya saya tak bisa mengikuti film ini secara penuh, beberapa adegan saya skip karena terasa membosankan. Garis besar ceritanya lumayan, tapi plotnya terkesan tidak konsisten. Yoon bermain bagus sebagai si tomboy Min-joo, tapi saya tidak bisa menyukai karakter Jung Han-soo, yang menurut saya terlalu ‘beruntung’. Karakter-karakter lain juga terasa tidak terlalu berarti.

2. Last Present (Korea Selatan, 2001)
Dua pemainnya adalah bintang favorit saya, dan . saat ini adalah salah satu  nama besar di dunia perfilman Korea. Film-filmnya nyaris selalu ngehits. Sementara , meski tidak terlalu produktif, tapi juga film maupun dramanya juga bagus-bagus. Tapi film ini dibuat ketika keduanya masih cukup muda, dan belum setenar sekarang.

the-last-present-2001-dvdrip-xvid-avi_002743675

Cerita film ini adalah tentang suami istri Yong-gi ( ) dan Jung-yeon (). Hubungan mereka buruk setelah kematian anak mereka. Yong-gi yang bekerja sebagai komedian, karirnya sedang terseok-seok. Di sisi lain, Jung-yeon ternyata mengidap penyakit mematikan. Dan demi cintanya pada Yong-gi merahasiakan sakitnya dan atas nama cinta juga, selalu marah-marah pada Yong-gi. Oke, well. Pada titik ini, saya mulai skip-skip. Di awal-awal saya cukup bisa menerima pertengkaran antara Yong-gi dan Jung-yeon, karena berpikir bahwa mereka depresi setelah kematian anaknya. Tapi semakin kesini, menjadi terlalu melelahkan dan alasan kemarahan Jung-yeon pada Yong-gi menjadi terasa bodoh. Demi cinta, pura-pura benci, terus marah-marah, dan merahasiakan bahwa dirinya sekarat? Bagi saya, hal seperti itu benar-benar terasa bodoh. Bukannya kalau cinta justru harus saling berbagi ya? Tidak ada yang salah dengan akting dua Lee, tapi ya itu, ceritanya terkesan bodoh dengan ending yang juga bisa ditebak.

3. The Letter (Korea Selatan, 1997).

the-letter-1997-dvdrip-xvid-avi_000485384

Tak sengaja nemu film ini dari koleksi lama. Ketika lihat ada nama , memutuskan untuk menonton. Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan Park, tapi selama ini cukup familiar dengan namanya. The Letter berkisah tentang seorang laki-laki  (diperankan oleh Park, saya lupa siapa namanya di sini) yang jatuh cinta dengan seorang dosen muda (Choi Jin-sil). Setelah beberapa kejadian romantis, mereka akhirnya menikah. Tapi kemudian si suami divonis sakit parah dan umurnya tak lama lagi. Dan sebagai umumnya film bergenre melodrama romantis, si istri kemudian akan merawat si suami dengan penuh cinta hingga meninggal. Filmnya sendiri sebenarnya tidak buruk dengan adegan-adegan mannis yang terasa klasik dan romantis. Tapi karena cerita utamanya adalah cerita yang sudah ada dalam 1001 film/drama Korea, saya pun ogah-ogahan menonton film ini.

4. ESP Couple (Korea Selatan, 2008).

Belakangan, saya memfavoritkan aktris . Menurut saya dia adalah salah satu aktris muda Korea yang sangat berbakat dan hebat. Sejak usianya masih sangat muda, ia sudah wara-wiri jadi tokoh utama di film. Dan di usianya yang masih muda sekarang, ia sudah menyejajarkan diri dengan bintang-bintang besar dalam perfilman Korea. Ia seolah tak pernah ‘gentar’ beradu akting dan selalu berhasil membangun chemistry dengan aktor-aktor besar yang bahkan usianya seringkali terpaut jauh dengannya. Harus saya, akui, tak semua film-film yang dibintangi Park bagus, tapi tetap saja saya penasaran dengna fim ini. Apalagi di film ini, lawan mainnya adalah , yang saya ketahui, juga aktor yang bagus.

sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_000724235
Filmnya berkisah tentang Su-min (), mahasiswa kuper yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang. Tapi karena takut dianggap aneh, ia tak pernah menggunakan kemampuannya ini. Suatu hari, ketika ada kasus kriminal, tibatiba ia didatangi cewek SMA ceriwis, Hyun-jin () yang selalu  mengikutinya kemana-mana. Tidak hanya itu, karena Hyun-jin juga memintanya untuk kembali mengasah kemampuannya membaca pikiran orang.
sensitive-couple-2008-dvdrip-xvid-bifos-avi_001149232
Premis ceritanya sebenarnya lumayan, tapi plotnya terasa membosankan dan digarap ogah-ogahan. Bagaimana tidak, kalau 80% bagian film ini isinya cuma latihan membaca pikiran dan nyaris tak ada kejadian penting apa-apa. Latarnya juga minimalis. Menurut saya,  satu-satunya hal yang membuat film ini agak bernyawa adalah akting , sebagai si gadis SMA yang enerjik dan yah, juga lumayan meski karakternya memang sedemikian rupa. Setelah menonton film ini, saya pun paham kenapa film ini seperti terlupakan.

5.  Don’t Click (Korea Selatan, 2012)
Lagi-lagi karena saya penasaran sama film ini. Mengabaikan ketidaksukaan saya sama film horror. Film ini bercerita tentang Se-hee (), seorang pramuniaga toko yang tinggal bersama adiknya yang masih SMA, Jeon-mi. Se-hee punya pacar seorang mahasiswa komputer, Joon-hyuk (,). Se-hee selalu merasa dirinya diawasi, dan membuatnya tak nyaman. Di sisi lain, Jeon-mi sangat suka membuat video pribadi dan menguploadnya ke youtube. Ia juga sangat senang menonton video-video di internet. Suatu hari, ia minta Joon-hyuk untuk memberinya kopian film-film yang diblokir internet. Ia mendapat kopian berisi rekaman kekerasan dan ternyata video itu… berhantu. Jadi kalau selama ini film hantu biasanya mengetengahkan hantu yangkemampuannya menghilang atau terbang-terbang, di sini hantunya bisa internetan dan upload video. Canggih kan?

 

dont-click-4
Well, oke. Sudah. Cukup sampai di situ saya menyerah.  Sekuat apapun saya memaksakan diri untuk melanjutkan menonton, saya benar-benar tak bisa menikmatinya. Logikanya nggak masuk ke kepala saya. Memang sih, dalam film hantu, semua kemungkinan bisa saja terjadi, tapi saya tetsp sulit menerima kemungkinan itu. Saya sendiri tak habis pikir kenapa aktris sekelas dan juga ,, mau main di film seperti ini. Ehm, tapi itu subyektif saya yang nggak suka film horor sih, bagi yang suka mungkin punya pendapat lain.

Film lainnya…

The Stolen Years (2013, China). Film ini berkisah tentang seroang perempuan cantik Hei Man (diperankan oleh Bai Baihe), yang baru tersadar dari komanya selama sebulan karena kecelakaan. Namun ia mengalami amnesia. Ia hanya mampu mengingat kejadian lima tahun yang lalu, ketika ia berbulan madu bersama suaminya (diperankan oleh ). Kenyataannya, sekarang ia dan suaminya sudah bercerai. Karena perasaannya masih perasaan 5 tahun lalu yang sangat mencintai suaminya, ia pun kemudian menelusuri kembali kejadian-kejadian lima tahun yang terlupakan, termasuk alasan perceraiannya dengan sang suami.
the-stolen-years-2013-hdtv-720p-x264-aac-phd-mp4_000310182
Sebenarnya, tak berekspektasi apa-apa ketika memutuskan untuk nonton film ini. Dan semata karena melihat posternya yang menarik dan ingin membuat variasi tontonan saja. Dan seperti posternya, pada bagian-bagian awal, ceritanya terasa segar dan membuat penasaran didukung gambar yang begitu resik. Tapi ternyata semakin ke belakang, ceritanya menjadi semakin mellow. Spoiler: ini adalah tentang penyakit alzheimer. Tidak buruk, tapi saya sudah cukup banyak menonton film dengan tema alzheimer, karenanya, saya jadi tak bisa menikmati film ini.

Girl in Pinafore (.Singapura, 2015) Saya tak terlalu familiar dengan film-film Asia Tenggara, kecuali Thailand, yang tak terlalu saya gemari. Saya iseng saja sih nonton film ini, ingin coba melongok perfilman negara tetangga. Film ini berkisah tentang  geng remaja SMA cowok.

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_000358961

that-girl-in-pinafore-2013-dvdrip-x264-zrl-mkv_001994314

Mereka adalah murid-murid sekolah yang biasa saja, berasal dari keluarga biasa saja. Lalu suatu hari mereka ikut audisi band, lalu ketemu sama cewek yang pintar main musik dan nyanyi dan band mereka sukses… Yah, ceritanya sangat khas film remaja dan sayangnya tak ada yang baru. Ceritanya terasa sangat standar. Tentang geng murid-murid culun, lalu jadi keren karena main band, terus dapat cewek… terlalu mirip dengan film yang sudah-sudah, seperti campuran , American Pie, dan entah apa lagi 😦

gudangekspresi

say something

Membaca Filem

Meresensi film yang kami tonton

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar