My Ahjussi Ost.

Seperti biasa, drama bagus seringkali berarti soundtrack yang bagus pula. Apalagi drama-dramanya tvN yang menurut saya memang cukup memuaskan untuk urusan ost-ost ini. Pun demikian dengan drama ini. Meski tidak bisa dibilang bagus banget dan juga nggak terlalu banyak, tapi cukup pas lah mengiringi adegan demi adegannya.

My Ahjussi (13)
Lagu berjudul “Adult” yang dinyanyikan sama Sondia mungkin adalah salah satu lagu yang paling sering diputar. Lagu ini biasanya mengiringi momen-momen kesendiriannya Lee Ji-an. Pas di dramanya, saya sebenarnya nggak terlalu sreg dengan pemutaran lagu ini yang menurut saya agak terlalu keseringan. Tapi pas didengarkan secara terpisah ternyata lagunya enak. Suara penyanyinya terdengar empuk dan merdu. Sayang, ketika saya browsing di internet, nggak ketemu profilnya dia dalam bahasa Inggris 😦

Jung Seung Hwan (credit photo-the korea time)

Jung Seung-hwan, yang meski masih imut tapi bersuara bagus

 

Lagu lainnya yang cukup sering muncul adalah “An Ordinary Day” yang juga seperti jadi theme songnya Park Dong-hoon. Lagunya melo banget dan suara si penyanyi, Jung Seung-hwan benar-benar soulful membawakannya. Apalagi pas di reffnya, rasanya ikut merinding dengernya. Lagu ini jadi lagu favorit saya di sini. Penyanyinya, Jung Seung Hwan ternyata masih terbilang muda banget (kelahiran 1996) dan merupakan runner up ajang K-pop Star Season 4. Dan ternyata dia juga udah pernah ngisi ost-nya drama , dengan lagunya “If It Is You”. Drama lain yang juga pernah diisi ost-nya sama dia adalah Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (2016) dengan lagunya “Wind” dan lagu “The Time I’ve Loved You” untuk drama (2015).

Lagu “One Million Roses” bernuansa folk dengan suara penyanyinya yang bariton habis, kayak lagu jaman kakek-kakek dulu. Nggak tahu,i ni lagu lama atau lagu baru karena saya juga kesulitan menemukan profil penyanyinya. Melo tapi lucu denger lagunya yang kedengaran jadul.

o-when

Lagu yang lain ada Dear Moon (Je Hwi), yang ternyata liriknya ditulis sama (salut memang untuk artis satu ini yang memang multitalented). Kemudian ada “There Is A Rainbow” yang dinyanyiin penyanyi O.When dan “My Image Reflected In My Heart” yang dinyanyiin Kwak Jin Ohn. Untuk O.When saya nemu sekilas profilnya, kalau ternyata itu stage name dari penyanyi yang aslinya bernama Shin Jin Wook (kelahiran tahun 1993). Yah, orang Korea ini memang kadang unik-unik kalau bikin nama panggung ya? Hehe. Tapi terlepas dari namanya yang agak aneh didengar, si O.When (baca: O Waen) ini ternyata musik dan suaranya enak di dengar. Bernuansa pop akustik yang easy listening gitu. Selain nyanyi di drama ini, dia juga cukup sering ngisi ost drama-drama Korea. Yang terbaru lainnya adalah drama , dengan lagunya “Feeling’ yang menurut saya juga enak di dengar. Lagu lainnya ” Youth Comfort” ( with Tearliner) untuk drama Argon (2017), “How Do I Say It?” (Suspicious Partner , 2017) dan “Common Days” (Fantastic, 2016).

Track Listing
1. Lee Hee Moon – That Man
2. Sondia – Adult
3. Je Hwi – Dear Moon
4. Vincent Blue (ft O.When) – There Is A Rainbow (Band Ver.)
5. Kwak Jin Ohn – My Image Reflected In My Heart
6. Jung Seung-hwan – An Ordinary Day
7. O.When – There Is A Rainbow (Acoustic Ver.)
8. Go Woo Rim – One Million Roses
9. Ji Sun – Forest

Sumber: dramawiki

 

Iklan

My Ahjussi

Setelah dua dramanya yang ngehits dan , nama seolah kemudian menjadi jaminan dengan produksi drama berkualitas dan cukup saya nantikan karyanya. Karenanya, ketika mendengar kabar tentang pembuatan drama ini, saya cukup antusias. Apalagi, di sini ia akan berkolaborasi dengan penulis drama yang juga  ngehits, dari drama . Bisa dibilang ini adalah paket combo.

My-Ahjussi

Meski begitu, di awal, cukup banyak yang meragukan drama ini.
Pertama, tentu dari segi ceritanya yang akan melibatkan hubungan antara lelaki paruh baya (ahjussi) dan gadis muda. Bayangan kalau drama ini akan melibatkan hubungan (kemungkinan besar romance) dengan gap usia yang jauh memang terdengar masih kurang sreg di telinga sebagian orang (padahal di kehidupan nyata banyak banget kisah cinta begitu). Apalagi, ketika hendak rilis drama ini, bertepatan dengan munculnya skandal pelecehan seksual oleh beberapa aktor senior Korea (termasuk Oh Dal-su yang terlibat di drama ini). Kedua, ketika castnya diumumkan. saya kira adalah pilihan yang sangat pas, tapi ? Banyak yang berpendapat kalau tampangnya terlalu imut-imut layaknya gadis belasan tahun dan karenanya akan semakin mempelihatkan gap usia dengan ahjussi-nya. Sebenarnya saya termasuk yang agak underestimate dengan dicastnya dia. Dari segi usia sih nggak masalah, karena toh kenyatannya dia sudah cukup dewasa (dia kelahiran 1993), tapi dari segi akting saya meragukannya. Dia cukup bisa berakting tapi juga tidak bisa dibilang impresif. Padahal saya yakin kalau karakter drama ini membutuhkan kemampuan akting yang bagus. Tapi lagi, sutradaranya kan yang selama ini terbukti tak pernah mengecewakan dengan pilihan castnya. Dan oke, saya pun kemudian berusaha percaya sepenuhnya pada sang sutradara.

My Ahjussi (4)

Park Dong-hoon,  Ahjussi yang sedang mengalami middle age man crisis

My Ahjussi (14)

Ahjussi di drama ini adalah Park Dong-hoon (), seorang lelaki 40an yang sedang mengalami titik kritis dalam hidupnya. Dong-hoon bekerja sebagai insinyur teknik rekayasa bangunan di sebuah perusahaan besar. Ia ahli di bidangnya dan mencintai pekerjaannya, hanya saja karena sikapnya yang selalu jujur dan tak ambisius, karirnya kurang bagus. Ia bahkan harus menjadi bawahan juniornya yang ambisius, Do Joon-young ( ). Hal yang menimbulkan olok-olok di antara rekan kerjanya karena ia dianggap tidak capable. Hal yang membuatnya merasa tidak lagi nyaman bekerja. Padahal, di rumah ia adalah kebanggaan keluarga, karena dianggap sebagai satu-satunya yang sukses. Abangnya, Park Sang-hoon (), adalah pengangguran karena dipensiunkan dini dari tempatnya bekerja.  Adiknya, Park Ki-hoon (), seorang sutradara film yang sudah menyerah pada dunia film, dan hanya bermalas-malasan di rumah. Tak ingin mengecewakan ibunya (), Dong-hoon pun berusaha bertahan dengan ketidaknyamanannya. Hubungannya dengan istrinya, juga tak bisa cair. Istrinya, Kang Yoon-hee ( ) adalah pengacara sukses, perempuan modern yang menginginkan kehidupan keluarga yang lebih individual, dan karenanya, merasa kesal dengan sikap Dong-hoon yang masih asangat terikat dengan keluarganya. Jenuh dengan hubungannya, diam-diam istrinya berselingkuh dan parahnya, selingkuhnya sama Joon-young pula.

My Ahjussi (1)

Lee Ji-an yang tumbuh di lingkungan yang pahit

My Ahjussi (8)

Lee Ji-an () adalah pegawai kontrak di tempat Dong-hoon. Karakternya dingin dan cenderung misterius. Ia nyaris tak pernah bicara pada siapapun. Kenyataannya, ia menyimpan rahasia kehidupan yang menyedihkan. Ia hanya tinggal dengan neneknya yang bisu dan harus menanggung hutang pada lintah darat yang setiap saat datang untuk menyiksanya. Diketahui kemudian, kalau di masalalu, Ji-an pernah membunuh orang, ayah Ki-yong karena memukuli neneknya. Tak sengaja, Ji-an mengetahui perselingkuhan istri Dong-hoong dengan Do-yoon dan juga tahu ambisi Do-yoon untuk menyingkirkan Dong-hoon. Berpikir bisa mendapatkan banyak uang, Ji-an kemudian menawarkan diri untuk membantu Do-yoon menyingkirkan Dong-hoon. Ia memasang alat penyadap di ponsel Dong-hoon dan mengetahui hampir semua halyang dilakukan Dong-hoon. Kesendirian, kesepian dan kebaik hati Dong-hoon justru membuat Ji-an tersentuh dan diam-diam menyukai Dong-hoon. Di sisi lain, Dong-hoon yang tanpa sengaja mulai mengetahui sisi gelap Ji-an, merasa jatuh simpati kepadanya. Dan begitulah, dua orang dengan luka ini menemukan penyembuhan dari kesedihan yang mereka alami.

My Ahjussi (3)

My Ahjussi (7)

Ketika membaca di awal kalau drama ini katanya akan menjadi semacam cerita healing, saya berpikir kalau ceritanya akan lebih seperti slice of life yang realistis ala . Tapi ternyata sejak episode pertama, ceritanya sudah terasa gelap dan intense banget. Terutama kehidupan Lee Ji-an yang seperti film gangster. Kehidupan di sekitar Park Dong-hoon dengan intrik-intrik perusahaannya juga terasa berat. Tapi yah, di sinilah saya rasa sang sutradara dan penulis cerita ini membuktikan diri kalau drama ini nggak cuma sekedar drama dengan cerita yang overdramatic seperti umumnya drama-drama yang sudah ada. Meski terasa gelap dan berat, tapi disajikan dengan begitu intense sehingga kita yang nonton mau nggak mau ikut dibawa menyelami emosi karakter-karakternya yang begitu dalam. Kesakitan, kesepian dan kesendirian mereka terasa begitu real. Dan meski ceritanya cukup berat, tapi tetap selalu ada sisi hangat dan seperti yang dijanjikan di awal, fokus drama ini memang tetap pada healingnya, yang menurut saya mampu dipadukan dengan keseluruhan cerita dengan pas. Karakter-karakternya begitu hidup dan solid membangun satu kesatuan cerita.

My Ahjussi (21)

My Ahjussi (17)

, tentu tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Belum lagi suara beratnya yang memang benar-benar bisa jadi healing, hehe (beneran, saya betah dengerin dia ngomong berlama-lama). Dan , ternyata bisa menjawab keraguan banyak orang, termasuk saya. Dia mampu menjelmakan diri jadi Lee Ji-an yang dingin, keras, tapi juga begitu rapuh dan menyedihkan. Cast lainnya juga solid karena memang melibatkan aktor-aktor ‘sungguhan’ (kebanyakan adalah aktor senior) mulai dari , , , , Oh Na-ra… Masing-masing karakternya juga mendapat eksplorasi yang memadai. Cerita yang cukup membuat saya sesak adalah kisah cinta Jung-hee dan kekasihnya yang jadi biksu. Saya merasa sedih melihat Jung-hee yang nggak bisa move on (mungkin lebih baik dikhianati atau ditinggal mati kekasih daripada ditinggal jadi biksu), dan juga sedih melihat keka yang diceritakan mennjadi biksu karena merasa lelah dengan kehidupan duniawi (sad :()…

My Ahjussi (15)

My Ahjussi (23)

Bukan drama dengan tema humanisme yang terasa universal seperti atau (atau juga ), karena cerita drama ini memang terasa lebih spesifik. Tapi sebagai sebuah tontonan, menurut saya drama ini cukup sempurna dan rasanya tak berlebihkan kalau menjadi salah satu drama terbaik tahun ini.

Cast:
– Park Dong-hoon
– Lee Ji-an
– Byeon Yo-soon (ibunya Dong-hoon)
– Park Sang-hoon
– Park Ki-hoon
– Kang Yoon-hee (istrinya Dong-hoon)

Oh Na-ra – Jung-hee
Park Hae-joon – Gyeomduk
Nara – Choi Yoo-ra
– Do Joon-young
Jang Ki-young – Lee Kwang-il
Ahn Seung-kyoon – Ki-beom (temannya Ji-an)
Son Sook – Lee Bong-ae (neneknya Ji-an)
Lee Young-suk – Choon-dae (kakek pengumpul sampah)
Shin Goo – CEO Jang
Jeon Kuk-hwan – Eksekutif Dir. Vang
Jung Hae-kyun – Park Dong-voon
Jung Jae-sung – Dir. Yoon
Seo Hyun-woo – Kepala seksi Song
Chae Dong-hyun – Asst. Manajer Kim
Kim Min-seok – Hyung-kyu
Ryu Sun-young – Jung Chae-ryung
Jung Young-joo – Jo Ae-ryun(istrinya sang-hoon)

Judul: My Mister/My Ahjussi/ Naui Ahjussi
Sutradara:
Penulis:
Tayang: tvN, 21 Maret – 17 Mei 2018
Episode: 16

You Who Forgot Poetry

Ketika mendengar tentang drama ini, yang pertama menarik perhatian saya adalah judulnya yang terdengar puitis dan memang melibatkan kata puisi: You Who Forget Poetry. Tapi ketika kemudian baca sinposisnya, saya agak underestimate. Harapan saya, drama ini akan menjadi drama bernuansa sastra dengan cerita yang ‘dalam’. Tapi tenyata, malah melibatkan latar rumah sakit terus ada penekanakan ke romancenya pula. Tapi setelah tayang, saya kemudian baca banyak ulasan positif terkait drama ini. Dan saya pun memutuskan untuk menonton.

A Poem A Day (2)

Episode pertama membuat saya ketagihan, demikian juga episode-episode berikutnya. Ceritanya memang nggak sepuitis yang saya harapkan, tapi juga nggak buruk ternyata. Ceritanya ringan, menghibur, tapi tetap punya bobot. Unsur puisinya juga cukup pas, nggak terkesan ambisius. Meski puisi populer, tapi tetap ada sisi puitisnya. Membuat kita berpikir kalau puisi itu bisa dinikmati siapa saja dan kapan saja.

A Poem A Day (6)

Karakter utama drama ini adalah Woo Bo-young (), fisioterapis yang masih jadi pekerja kontrak di sebuah rumah sakit. Ia berkarakter ceria, baik hati, pekerja keras dan menyukai puisi. Sejak muda, ia menyukai puisi dan sebenarnya ingin kuliah di jurusan sastra, hanya saja karena keluarganya miskin, ia kemudian memilih kuliah di jurusan yang lebih praktis agar mudah mendapat pekerjaan. Dan begitulah ia kemudian jadi fisioterapis. Ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati sembari tetap menikmati puisi. Sikapnya yang terlalu baik, seringkali dimanfaatkan rekan-rekan kerjanya yang lebih senior untuk ‘menindasnya’. Di atas kertas, karakter Bo-young ini mungkin tak jauh beda dengan karakter candy dalam drama Korea. Tapi di sini, karakternya terasa lebih realistis. Karena walaupun baik hati, tapi Bo-young digambarkan tetap memiliki kekurangan-kekurangan dan jauh dari sempurna.

A Poem A Day (3)

A Poem A Day (7)

Hidup Bo-young sedikit berubah, ketika muncul Ye Jae-wook ( ), seorang fisioterapis terkenal yang tampan dan pintar tapi berkarakter kaku. Meski kaku, tapi Ye adalah orang yang sportif. Ketika melihat kerja keras Bo-young dan sikap rekan-rekannya yang kadang keterlaluan, Ye berusaha membela Bo-young. Diam-diam, Bo-young pun kemudian jatuh cinta pada Dr Ye. Masalahnya, Dr Ye pernah punya hubungan traumatik dengan rekan kerjanya sehingga cenderung menutup diri.

A Poem A Day (12)

Di sisi lain, ada Min-ho, teman sekampus Bo-young yang sedang magang di tempatnya. Min-ho adalah cinta masalalunya Bo-young yang bertepuk sebelah tangan. Min-ho anak orang kaya yang agak kekanakan dan cenderung tidak pernah serius. Meski sebenarnya ia juga tertarik pada Bo-young, tapi ia tak pernah mau mengakuinya karena gengsi. Dan karena hal itu, hubungan mereka hingga saat ini kurang baik. Tapi seiring kebersamaan mereka, Min-ho kemudian mulai melihat Bo-young dari sisi yang berbeda dan mulai menyadari perasaannya. Tapi ya…sudah terlambat 😦

A Poem A Day (9)

Yah, sekilas memang ceritanya menjadi tentang cinta segitiga yang biasa dan tentu bukan hal yang baru dalam drama Korea. Tapi bagusnya drama ini, karena penceritaan dan eksekusi-eksekusinya yang cenderung berbeda. Meski kisah cinta tetap menjadi fokus, tapi juga tidak lantas mengambil porsi terbesar cerita karena mampu menggabungkannya dengan proporsional cerita slice of life keseharian di ruang fisioterapi, persahabatan, dan juga puisi yang terasa menyejukkan. Meski Bo-young, Dr Ye dan Min-ho adalah karakter utama, karakter-karakter lain tetap mendapat eksplorasi cerita yang lengkap dan memiliki chemistry yang bagus satu sama lain. Mulai dari rekan-rekan kerja Bo-young di bagian fisioterapis, Pak Yang Myung-cheol, pimpinan yang meski kurang tegas tapi baik hati dan bertanggung jawab, Ketua Park yang agak penindas dan oportunis tapi sebenarnya baik dan punya beban hidupnya sendiri, Yoon-joo , eonni teman sekamar Bo-young yang tulus dan menyimpan kesedihan cintanya. Lalu ada Nam-woo, teman baiknya Min-ho dan Bo-young yang dulunya berasal dari keluarga kaya tapi kemudian bangkrut dan sekarang ia harus kerja keras. Kim De-bang, radiografer yang baik hati tapi sangat plin plan sehingga membuatnya dijauhi dan juga Jo-young, juniornya yang gengsian tapi sebenarnya looser.

A Poem A Day (4)

A Poem A Day (14)

Penyajian cerita dengan sentuhan komedik juga membuat drama ini terasa menyenangkan dan enak diikuti. Cerita-certia sedih disajikan dengan ringan tapi tetap menyentuh. Karakter-karakternya lovable. Terutama Bo-young yang dimainkan dengan sangat pas oleh aktris yang memang punya sisi charming. Karakter orang keduanya juga berbeda dengan karakter orang kedua di banyak drama Korea. Meski sejak awal sebenarnya sudah kebaca dengan siapa Bo-young akan bersama, tapi penulis cerita ini cukup pandai membuat yang nonton merasa kalau kedua male leadnya sama-sama cocok sama Bo-young. Ye Je-wook yang dewasa dan nyaris sempurna atau dengan Min-ho, yang meski kekanakan tapi ternyata juga baik hati dan karenanya ngebayangin bakal jadi pasangan yang cute dengan Bo-young.

A Poem A Day (8)

Sayang, seperti kebanyakan drama Korea, cerita drama ini jadi agak draggy ketika memasuki episode belasan. Cerita seperti menjadi agak bertele-tele, seolah diulur-ulur hanya untuk memenuhi 16 episode. Perkembangan karakter dari tokoh-tokohnya juga seperti berhenti dan nggantung begitu saja. Nggak tahu sih, mungkin juga karena ratingnya yang katanya cukup rendah (hanya sekitar 1 % dan bahkan pernah 0 koma), sehingga tim drama ini mungkin nggak terlalu semangat lagi menggarap ceritanya atau bagaimana. Yah, nggak tahu juga kenapa drama ini ratingnya rendah banget padahal ceritanya lumayan bagus. Bisa jadi karena castnya, yang memang nyaris nggak melibatkan nama besar. dan cukup terkenal, tapi juga belum bisa dibilang papan atas. Sementara cast lainnya memang nyaris nggak ada yang terkenal. Tapi nggak apa-apa lah, rating kan nggak selalu jaminan. Meski bukan drama yang sempurna, tapi menurut saya drama ini tetap recommended untuk ditonton. Ceritanya ringan, menghibur, tapi juga nggak kosong.

Cast:
– Wo Bo-young
– Ye Je-wook
Jang Dong-yoon – Shin Min-ho
Seo Hyun-cheol – Yang Myung-cheol (pimpinan)
Lee Chae-young – Kim Yoon-joo
Kim Jae-bum – Park Shi-won
Shin Jae-ha – Kim Nam-woo
Jeon Hye-won – Choi Yoon-hee
Park Han-sol – Lee Shi-eun
Yoo Dae-joon – Kim Dae-bang
Park Sun-hoo – Han Joo-young

Judul: A Poem A Day/ You Who Forgot Poetry
Sutradara: Han Sang-jae
Penulis: Myung Soo-hyun, Baek Sun-woo, Choi Bo-rim
Tayang: tvN, 6 Maret – 15 Mei 018
Episode: 16

The Net

Chul-woo () adalah seorang nelayan Korut yang hidup sederhana bersama istri dan anaknya. Sehari-hari, ia mencari ikan di daerah perbatasan antara Korut dan Korsel. Suatu hari, ketika tengah melaut, mendadak kapalnya rusak dan memasuki perairan Korsel. Ia pun kemudian ditangkap oleh penjaga perbatasan Korsel dan dikemudian diinterogasi karena disangka mata-mata.

the net

the net (4)

Investigasinya sendiri berjalan intimidatif, karena beberapa petugas punya kepentingan sendiri jika bisa menangkap mata-mata. Mereka tak ingin percaya bahwa Chul-woo betul-betul hanya nelayan biasa seperti pengakuannya. Tapi Chul-woo yang memang bukan mata-mata, bersikukuh dengan pengakuannya meski kadang harus menerima kekerasan. Oh Jin-woo (), salah seorang petugas yang ditugasi mengawasi Chul-woo, adalah satu-satunya orang yang percaya padanya.

the net (5)

Ketika akhirnya Chul-woo bebas dari tuduhan mata-mata, persoalan tak lantas selesai. Pihak Korsel enggan mengembalikannya ke Utara (kepentingan politik tentunya) dan membujuk Chul-woo agar mau mengajukan permohonan jadi warga Korsel, lengkap dengan iming-iming kemajuan dan kebebasan. Yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Chul-woo karena ia ingin kembali pada anak istrinya. Meski berbagai cara ditempuh agar ia berubah pikiran, tapi Chul-woo tetap keukeuh ingin kembali ke Utara. Namun ketika akhirnya pihak Korsel menyerah dan Chul-woo berhasil kembali ke Utara, persoalan tak lantas selesai. Pihak Karena baru kembali dari Korsel, pihak Korut mencurigai kalau Chul-woo sudah menjadi mata-mata Korsel.

the net (2)

Hmm… ribet ya. Begitulah kalau kepentingan politik sudah mengambil alih, orang-orang biasa yang awam dan tahu apa-apa, kemudian sering jadi korbannya. Dan menurut saya film ini memotret situasi itu dengan bagus sekali. Meski film ini adalah buatan Korsel, tapi menurut saya memotretnya dengan cukup berimbang. Berbeda dengan beberapa film Korsel bertema perseteruan dengan Korut yang seringkali agak-agak condong ke Korselnya. Dan karenanya, untuk ke sekian kalinya, saya salut sama , yang selalu konsisten menyajikan film-film yang cenderung out of the box. Film ini, sebagaimana khas film-filmnya, cenderung minimalis, tapi begitu intens.

the net (1)

Dan tentu juga itu didukung permiainan bagus castnya, di mana di sini cast utamanya adalah aktor yang memang sudah akrab dengan kemampuan akting bagusnya, (sayang bahwa belakangan dia membatasi diri berakting karena katanya dia merasa kehilangan makna) dan juga yang patut diacungi jempol adalah aktor muda yang jadi Oh Jin -woo. Aktingnya sih nggak bisa dibilang stellar, tapi beberapa waktu lalu saya baru lihat akting dia di film , dan menurut saya, di sini ia mampu menampilkan kemampuan aktingnya yang berbeda.

Cast:
– Chul-woo
– Oh Jin -woo
Kim Young-min – petugas investigasi
Lee Eun-woo – istrinya Chul-woo

Judul: The Net (Geumool)
Sutradara & Penulis:
Rilis: 31 Agustus 2016 (Venice FF)
Durasi: 114 menit
Distributor: Next Entertainment World
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

The Bacchus Lady

So-young () adalah perempuan tua yang hidup sendiri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai bacchus lady, yakni menjual minuman berenergi (merk Bacchus) sembari menjajakan diri. Pendeknya, ia adalah PSK. Langganannya adalah para lelaki tua yang kebanyakan juga hidup sendiri dan kesepian seperti dirinya. Pada orang-orang, ia mengaku kalau ia bekerja untuk membiayai anaknya yang kuliah di Amerika, tapi sebenarnya, ia tak punya siapa-siapa.

bclady (4)

Suatu hari, ketika sedang memeriksakan diri ke rumah sakit karena kena penyakit kelamin, ia bertemu dengan seorang bocah keturunan Filipina, Kang Min-ho, yang terpisah dari ibunya. Ibu Min-ho dipenjara karena menusuk seorang dokter yang sebenarnya adalah ayah biologisnya Min-ho. Jatuh iba, meski tak punya banyak uang, So-young merawat dan menjaga Min-ho dengan dibantu dua tetangga baiknya, Do-hoon (), seorang lelaki berkaki palsu dan Tina, seorang penyanyi klub.

bclady (3)

Di antara kesehariannya melayani para lelaki tua, tak urung So-young mendengar tentang cerita-cerita sedih mereka. Bagaimana mereka merasa kesepian dan tak berharga lagi untuk hidup dan karenanya, ingin mengakhiri hidupnya.

bclady (10)

Huu.. sedih sih ceritanya. Dan yang lebih sedih karena cerita film ini memang diinspirasi dari kisah nyata. Konon, di Korea, meski dikenal sebagai negara industri yang maju, tapi di sisi lain juga memiliki sisi ironis terkait kehidupan para lansia-nya. Anak-anak generasi industri seperti ‘tenggelam’ di dunia modern, sementara orang-orang tua yang tak lagi produktif seolah terbaikan dan harus menghidupi diri sendiri (ada yang merasa malu kalau harus membebani anak-anaknya) dan seperti di film ini, bisa saja jadi bacchus lady atau depresi karena kesepian.

bclady (13)

Dan sebenarnya nggak cuma di Korea sih, menua, sendirian dan kesepian sebenarnya adalah kisah yang terasa universal. Di belahan dunia mana saja, saya pikir cerita semacam ini bisa ditemukan. Dan bahwa film ini berusaha ‘mengusik’ kita dengan cerita semacam ini, merupakan hal yang patut diapresiasi. Apalagi di film ini, selain isu lansia, banyak isu humanisme lain yang diselipkan seperti isu migran (melalui kasus Min-ho dan ibunya) dan juga karakter orang-orang minoritas (Dong-hoon yang cacat dan Tina yang penyanyi klub). Bagusnya lagi, film ini meski ceritanya sedih, tapi nggak jatuh jadi cerita yang melodramatic. Dan meski juga mengangkat banyak isu, tapi tetap pas dan nggak terkesan ambisius.

Good movie!

Cast:
– So-young
Jeon Mu-song – Jae-voo
– Do-hoon

Judul: The Bacchus Lady/ Jookyeojooneun Yeoja
Sutradara & Penulis: Lee Je-young
Rilis: 12 Februari 2016 (Berlin FF)
Durasi: 111 menit
Distributor: CGV Arthouse
Negara/Bahasa: Korea Selatan/ Korea

 

Method

Jae-ha () adalah seorang aktor teater senior. Suatu hari, ia diminta untuk memainkan sebuah peran yang melibatkan romance dengan sesama jenis. Lawan mainnya adalah Young-woo, penyanyi idol yang sedang terpuruk setelah mengalami kecelakaan. Young-woo berkarakter sok dan agak menyebalkan. Hal yang membuat Jae-ha yang profesional merasa kesal.

Method

Ia pun kemudian berusaha mengajari Young-woo untuk berakting dan mendalami karakternya dengan baik. Melihat akting Jae-ha yang begitu dalam, Young-woo pun terpukau dan tanpa sadar, melihat Jae-ha sebagai karakter yang ia mainkan dan jatuh cinta.

Method (2)

Di luar dunia panggung, Jae-ha adalah seorang suami dari, Hee-won, perempuan cantik yang juga pelukis. Keduanya terlihat hidup bahagia dan saling mencintai. Kehadiran Young-woo dan kedekatannya dengan Jae-ha, tak urung membuat hubungan mereka meretak. Hee-won menyadari bahva ada yang berubah dari Jae-ha.

Method (3)

Ketika melihat akting seorang aktor yang kadang begitu real atau begitu berani, tak urung saya sering bertanya-tanya, bagaimana kehidupan nyatanya ya? Hebat banget kalau ia benar-benar bisa membedakan mana yang akting dan mana yang nyata. Hebat banget juga pasangan aslinya di kehidupan nyata.

 

Dan mungkin, film ini ingin memberi gambaran sedikit tentang kehidupan seorang aktor yang kemudian susah membedakan mana dirinya yang asli dan mana yang hanya karakternya ketika berakting. Mungkin memang beneran ada sih aktor yang seperti karakter di film ini, dan jika memang iya, kasihan banget ya. Terutama kalau sudah menyangkut romance, kayak sosok Hee-won yang kemudian harus menderita menghadapi suaminya yang tiba-tiba menjadi ‘orang lain’ ketika masuk ke karakter yang ia mainkan. Kalau saya yang jadi Hee-won sih kayaknya mending nggak deh, haha…

Method (1)

Dari segi akting, jajaran cast di film ini bermain dengan apik. adalah aktor yang bagus, tapi entah kenapa, selama ini lebih sering cuma jadi supporting actor. Dan di film ini, pertamakalinya saya melihat dia menjadi lead actor dan menurut saya, penampilannya bisa diacungi jempol. Ia terlihat karismatis sebagai Jae-ha, aktor panggung yang terlihat berpengalaman dan juga memiliki sisi atraktif yang membuatnya pantas disukai baik oleh Hee-won maupun Young-woo. Pemeran Young-woo, meski adalah aktor yang nggak terkenal (ini pertamakali saya lihat aktingnya), tapi juga bermain bagus sebagai si idol yang agak arogan, tapi juga masih hijau dan gegabah.

Method (4)

Aktris Yoon Seung-ah yang jadi Hee-won, juga terlihat meyakinkan sebagai seorang seniman yang terlihat keren dan cantik. Chemistrynya dengan Jae-ha sebagai suami istri juga bagus, sehingga saya ikut merasa was-was ketika hubungan mereka terusik. sayang, usai nonton film ini, ada pertanyaan yang terus mngganjal pikiran saya. Hingga film usai, saya bingung, apa sih sebenarnya pesan yang ingin disampaikan pembuat film ini? Kok saya justru merasa agak frustatif karena rasanya nggak ada penyelesaian apa-apa. Meski diperlihatkan Jae-ha dan Hee-won kembali bersama (sori kalau spoiler), tapi juga nggak ada jaminan kalau Jae-ha bakal sepenuhnya ‘normal.’ Ia diceritakan memiliki metode akting yang ‘terlalu mendalami sebuah peran hingga terbawa ke kehidupan nyata’ artinya setelah pertunjukannya kali ini selesai, ia kemungkinan masih akan berubah lagi dan lagi untuk perannya yang lain. Hmm, melelahkan sekali membayangkannya.

Menurut saya, mending ending ceritanya agak ekstrem aja sekalian. Hee-won pergi atau Jae-ha yang berhenti berakting.., haha…

Cast:
– Jae-ha
Yoon Seung-ah – Hee-won
Oh Seung-hoon – Young-woo

Judul: Method
Sutradara & Penulis: Pang Eun-jin
Rilis: 13 Oktober 2017 (Busan FF)
Durasi: 82 menit
Distributor: At9 Film
Negara/Bahasa: Korea Selatan/Korea

 

Over the Fence

Setelah berpisah dengan istrinya, Shiraiwa () meninggalkan Tokyo dan menjalani hidup sendirian di kota kecil. Karena merasa tak nyaman menganggur, ia mengambil kursus menjadi tukang kayu meski sebenarnya tak benar-benar ingin menjadi tukang kayu.

Over the Fence

Suatu hari, salah seorang temannya di tempat kursus, Daishimia, mengajaknya mmenghabiskan waktu di bar. Di sana, ia kemudian bertemu dengan seorang hostess kenalan Dai, Satoshi (). Satoshi sejak awal menunjukkan ketertarikan pada Shiraiwa, tapi Shiraiwa yang mengira kalau Satoshi hanya cewek gampangan biasa, tak terlalu peduli. Namun ternyata Satoshi adalah gadis berkarakter unik, yang kemudian bisa membantu Shiraiwa untuk membuka hatinya kembali.

Over the Fence (3)

Over the Fence (4)

Karena dua cast utamanya lah saya penasaran sama film ini. dan , dua aktor Jepang yang cukup saya favoritin. Dan saya juga penasaran karena baca sinopsisnya, genrenya adalah romance. Membayangkannya, dua cast ini pasti terlihat cocok sebagai pasangan kekasih. Dan yah, memang demikian. Meski romance-nya sendiri sebenarnya tak terlalu mengambil porsi paling besar, karena sebenarnya, fokus cerita lebih pada healing-nya, bagaimana seorang yang terpuruk kembali menemukan semangat hidupnya. Dan bagian ini juga digarap dengan baik.

Over the Fence (5)

Hanya saja, ada beberapa bagian yang mengganjal bagi saya usai menonton film ini. Karakter Satoshi yang histeris dan ‘agak gila’ tak mendapatkan penjelasan yang memadai kenapa ia seperti itu. Juga sosok Dai yang agak-agak misterius yang berakhir begitu saja. Overall, film yang cukup manis.

Cast:
– Yoshio Shiraiwa
– Satoshi Tamura
Shota Matsuda – Daishima
Yukiya Kitamura – Koichiro Hara
Shinnosuke Mitsushima – Yoshito Mori
Takumi Matsusawa – Akira Shimada
Tsunekichi Susuki – Kenichi Katsumada
Yuka – Yoko Ogata

Judul: Over the Fence / Oba Fensu
Sutradara: Nobuhiro Yamashita
Penulis : Yashushi Sato (novel), Ryo Takada
Rilis: 17 September 2016
Durasi: 112 menit
Distributor: Tokyo Theatres
Negara/Bahasa: Jepang

the talking cupboard

haunted by drama addicts' souls

gudangekspresi

say something

Budi SUFI

SUFI, Suka Film

Korean Lyric

get Korean and Japanese lyrics here!

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar